Milenium Ke-tiga dan Tantangan Agama-agama

 


Olaf Schumann



Judul yang diberikan kepada saya untuk ceramah ini mengandung beberapa masalah yang perlu dijelaskan lebih dahulu. Persoalan yang pertama adalah makna yang terkandung dalam istilah "milenium". Secara harfiyah artinya ialah "periode seribu tahun".

Pemahaman tentang sebuah "periode seribu tahun", yakni milenium, dalam tradisi Kristiani diambil dari Kitab Wahyu Pasal 20, di mana Kerajaan Seribu Tahun dilukiskan sebagai suatu periode di mana Iblis sedang ditahan. Setelah periode itu akan dimulai suatu periode baru yang, meskipun pendek, akan melihat Iblis itu bebas lagi sehingga periode itu menjadi penuh penderitaan dan percobaan, yang akan diakhiri dengan penghakiman atas manusia. Kedatangan periode itu sebenarnya telah dipercaya datang pada peralihan milenium pertama ke milenium yang ke-dua, seribu tahun yang lalu. Karena tidak terjadi, maka Joachim dari Fiore menyelang berakhirnya abad pertengahan menyusun semacam uraian dan sejarah Kerajaan milenium itu yang sangat berpengaruh di kemudian waktu, meskipun para reformator mengatakan bahwa sebenarnya peralihan zaman dan penghakiman tak perlu ditunggu pada suatu zaman tertentu karena sebenarnya ia terjadi senantiasa. Namun ada gerakan-gerakan ataupun sekte-sekte yang berulang kali berusaha kembali mengembangkan suatu penjadwalan pada kedatangan berakhirnya kerajaan seribu tahun itu, dan khususnya di masa-masa kekacauan maka ramalan tentang dibebaskannya Iblis untuk masa yang pendek yang digunakannya untuk membawa penderitaan dahsyat terhadap manusia dianggap telah dipenuhi. Tidak mengherankan bahwa peralihan dari milenium ke-dua ke milenium ke-tiga menurut perhitungan waktu kristiani mengundang lagi spekulasi-spekulasi tentang tanda-tanda zaman, yaitu apakah mereka sudah memperlihatkan tanda-tanda sebagaimana ia dilukiskan dalam Kitab Wahyu. Bagi banyak orang, ketegangan-ketegangan sosial yang semakin memuncak diidentikkan dengan tanda-tanda itu.

Periode ke-tiga seribu tahun yang akan dimulai empat tahun mendatang memang mengikuti perhitungan kristiani, jadi periode ke-tiga seribu tahun setelah lahirnya Almasih. Bagi orang Islam yang mengikuti penanggalan menurut tahun Hijriah maka kita baru berada di abad yang ke-15, sedangkan bagi umat Budhis adalah abad 25 setelah Sang Budha. Jadi perlu dipertanyakan apakah kita membatasi pembicaraan kita hanya pada umat kristiani jika "milenium ke-tiga" menjadi pokok pembicaraan, ataukah seluruh umat manusia akan mengalami suatu perubahan yang sangat besar dalam waktu beberapa tahun yang akan datang sehingga lepas dari angka tahunan yang kita gunakan, periode yang kita hadapi akan membawa umat manusia ke dalam suatu periode yang baru dalam perjalanan sejarahnya.

Saya sendiri yakin bahwa memang dalam waktu yang dekat umat manusia akan mengalami suatu perubahan yang sangat berarti dalam kehidupannya. Sehingga dapat dibenarkan bahwa suatu periode atau era yang sangat baru sedang disongsong kehadirannya dalam waktu yang dekat. Dalam bidang ilmu pengetahuan manipulasi kadar genetik yang terkandung dalam semua makhluk akan membuka pengertian yang baru tentang sakral tidaknya hukum hidup sebagaimana ia tertuang dalam ciptaan. Jika manusia menggunakan pengetahuannya tentang rahasia hukum-hukum yang tersembunyi dalam semua makhluk dan dapat mengubahnya sesuai dengan kemauannya, maka pemahaman dan sikap terhadap ciptaan ini akan berubah secara fundamental. Yang sampai sekarang dipandang sakral, yakni sepenuhnya berada di luar kemampuan manusia untuk campur tangan dan memanipulasikannya, akan juga diletakkan di bawah kekuasaan manusia. Jika kita melihat bagaimana manusia sudah memperlakukan semua yang telah ia kuasai sesuai dengan kemauannya dan hawa nafsuya sendiri, maka betapa mengerikan bayangan masa depan itu. Apa yang akan menjadi ukuran bagi manusia ketika ia mulai mempengaruhi kejadian makhluk-makhluk sebelum mereka lahir dengan cara yang kemudian akan menentukan sifat, bentuk dan kemampuannya? Siapa manusia itu sendiri yang memberanikan diri untuk campur tangan dalam ciptaan? Belum lama pernah di televisi Jerman diperlihatkan seekor tikus yang diubah kadar genetiknya sedemikian rupa sehingga pada punggungnya tumbuh sebuah telinga sebesar telinga manusia. Apa guna permainan itu? Contoh ini memperlihatkan bahwa penghormatan terhadap sesuatu makhluk sudah hilang. Dan ini baru permulaannya. Bagaimana perkembangan selanjutnya?

Ini hanya sebuah contoh dari ilmu pengetahuan yang telah mulai berkembang dan akan terus berkembang. Pertanyaannya adalah ke arah manakah?

Tetapi dalam perkembangan sosial umat manusia mungkin pula akan terjadi perubahan-perubahan yang dahsyat yang akan mengubah pemahaman tentang diri manusia. Sesudah perang dunia ke-dua dan dihancurkannya regim totaliter Nazis di Jerman dan fascis di Italia, dunia yang terpelajar dan intelektual dikejutkan dengan buku "1984" karya George Orwell. Ia menggariskan suatu masyarakat masa depan yang secara total dikontrol dan digerakkan oleh "Saudara Besar" yang tidak kelihatan, tetapi yang melihat segala yang terjadi melalui suatu sistem pengontrolan yang menyeluruh yang tidak memberikan tempat lagi bagi kehidupan pribadi dan intim. Memang tahun 1984 telah lewat, dan sistem-sistem politis-ideologis yang totaliter yang hidup waktu itu, telah siap untuk runtuh, seperti beberapa regim di Amerika Selatan dan negara-negara komunis. Namun sementara ini, berkat perkembangan ilmu elektronik yang pesat telah ditemukan alat-alat yang lebih dahsyat dan sempurna untuk mengontrol manusia seperti yang telah dibayangkan oleh George Orwell. Dan cukup jelas diketahui bahwa di banyak negara di dunia ini alat-alat elektronis telah digunakan oleh sementara pemerintah dan regim-regim yang berkuasa untuk memonitori rakyatnya. Bukan alat-alat itu sendiri yang mengerikan, akan tetetapi penggunaannya oleh manusia yang tak bertanggung jawab dan haus akan kekuasaan. Timbul pertanyaan apakah memang demikian bentuk masyarakat dan manusia di masa depan, di mana dalam kerja sama antara manipulasi kadar genetik dan industri elektronik akan diciptakan suatu sistem kekuasaan, di mana semua nilai-nilai budaya, filsafat dan agama akan ditinggalkan dan diganti dengan filsafat yang baru yang mengukur manusia hanya menurut kegunaannya untuk hal-hal tertentu saja yang ditetapkan oleh yang berkuasa.

Memang diharapkan bahwa skenario semacam yang dilukiskan di atas akan tetap berupa bayangan saja. Namun melihat perkembangan di beberapa pelosok di bumi ini ada kekhawatiran juga bahwa skenario itu dapat juga menjadi kenyataan. Jika itu terjadi, maka benar suatu era yang baru akan mulai yang sebelumnya belum dialami oleh umat manusia, dan seyogianya era itu pun tidak disebut "modern" melainkan "pascamodern" atau entah bagaimana. Dalam hal ini perlu tetap diingat apa yang - menurut definisi umum - merupakan ciri khas "modernitas" ini, yakni usaha membawa manusia dari keadaan di mana ia diperbudak atau dengan cara lain dinafikan haknya untuk hidup secara berbahagia dan terhormat ke martabat yang sesuai dengan martabatnya sebagai manusia. Jadi emansipasi dan partisipasi manusia adalah tanda mengenal kemodernan, kesempatan bagi manusia untuk hidup sesuai dengan martabatnya di mana ia sepenuhnya berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam skenario yang dilukiskan di atas, penemuan zaman modern itu akan dihapuskan kembali. Oleh karena itu tidak layak zaman itu disebut "modern" meskipun ia kaya dengan peralatan mutakhir yang dihasilkan oleh teknik dan ilmu pengetahuan yang dianggap maju. "Modernitas" tidak diukur dengan perkembangan teknik dan ilmu melainkan menurut posisi manusia di dalam masyarakatnya.

Cukuplah barangkali mengemukakan beberapa catatan umum ini untuk mengatakan bahwa umat manusia dalam keseluruhannya dalam waktu yang dekat akan mengalami suatu perubahan yang sangat berarti bagi kehidupannya. Kebetulan umat Kristen dapat mengaitkannya dengan bermulanya milenium baru, dan umat-umat yang lain terserah bagaimana mereka hendak menamakan periode yang baru ini.

Setelah ditunjuk pada beberapa masalah yang muncul ketika istilah "milenium" dipakai, maka tinggal meninjau sisa judul yang diberikan kepada ceramah ini. "Tantangan Agama-agama" dapat dipahami dengan dua cara: entah agama-agama yang menghadapi dan akan menghadapi tantangan-tantangan itu, atau agama-agama sendiri merupakan tantangan-tantangan yang dirasakan oleh pihak yang menganggap diri ditantang oleh agama-agama. Dalam kedua hal itu agama-agama dianggap sebagai sesuatu yang cukup penting untuk diperhatikan, meskipun tentu dari sudut yang berbeda.

Sebelum kita mencoba memperdalam dua segi pandangan itu ingin saya terlebih dahulu mengemukakan dan merenungkan suatu pertanyaan yang lain. Judul kita memberikan kesan seolah-olah agama-agama tetap akan berada dan turut menentukan masa depan umat manusia serta nilai-nilai sosial maupun individual dan spiritualitas sebagaimana mereka pernah menentukannya dalam masa yang lampau. Saya ingin bertanya: atas dasar manakah sanggahan atau mungkin juga pengharapan ini berdiri?

Beberapa ideologi yang tetap berkuasa, entah secara terbuka atau secara terselubung bukan saja pernah memproklamirkan kematian Tuhan Allah, tetapi mereka juga menyerukan manusia agar ia mengurus cara dan lingkup hidupnya sesuai dengan keinginan-keinginan manusia, atau paling sedikit sesuai dengan angan-angan mereka yang berkuasa atas manusia. Dengan demikian manusia menjadi ukuran segala-galanya. Tetapi bukan dalam arti sang filosof Yunani yang pertama kali mengucapkan perkataan ini, melainkan dalam suatu arti bahwa semua yang ada di luar manusia, atau apapun yang disebutkan sebagai di luar dari yang manusiawi, kehilangan martabat dan harga. Dengan demikian manusia menjadi penindas (tyrant) utama di dunia ini, dan untuk melanjutkan penindasan ini maka Tuhan Allah perlu dinyatakan tiada. Sebab andaikata Ia berada, maka manusia mungkin perlu di satu ketika melihat keterbatasan dan merenungkan tanggung jawabnya.

Ideologi yang menyatakan ketiadaan, atau kematian Allah memang tidak hanya terdapat di kalangan komunis, melainkan juga nampak dalam tenaga yang serba kuat para pemuja modal, monopoli ekonomi, penentu tafsiran (atau manipulasi) hukum yang diberlakukan dan seterusnya, yang turut juga menyatakan ketiadaan Tuhan di alam ini ketika cita-cita yang hadir dari hawa nafsu mereka menjadi daya yang mereka pertuhankan.

Di sini kita menyaksikan pengusiran Allah dan agama dari tengah-tengah kehidupan manusia, entah dengan perantaraan suatu ideologi atau dalam praktik kehidupan. Bahwa Allah kadang kala masih dipuja juga dengan mulut tidak dapat menutup kenyataan bahwa ia sebenarnya sudah diganti dengan dewa lain berupa buatan, atau khayalan manusia.

Pengusiran Allah oleh manusia yang kuat langsung berakibat ke golongan manusia yang lemah. Di masa lampau manusia itu dapat mencari hiburan rohani di aliran-aliran agama yang lebih bersifat mistis atau kharismatis - dan dalam aliran ini sebenarnya teologi dan kerohanian (spirituality) pembebasan harus digolongkan pula. Mistik atau kerohanian itu dapat memberikan motivasi hidup baru yang berarti bagi mereka. Namun jalan keluar dari ketegangan dan tekanan ini akhir-akhir inipun rasanya ditutup karena aliran kharismatik yang bermunculan sekarang sudah dikuasai pula oleh mereka-mereka yang berada yang, di satu pihak, semakin berkiblat pada sukses ekonomis dan di lain pihak mencari "keseimbangan rohani" dalam gerakan karismatik itu. Mereka, tentu, tidak berminat untuk memperbaiki kehidupan manusia yang lemah kedudukannya dalam masyarakat atau dalam ekonomi, sehingga dari mereka itu tak dapat pula diharapkan kesadaran tanggung jawab sosial atau solidaritas terhadap golongan yang di bawah. Mereka justru maju karena tekanan yang dilakukan terhadap yang lemah. Jadi yang lemah itu tak bisa lari lagi ke aliran karismatik seperti dulu, jalan ini sudah tertutup pula, dan aliran karismatik kehilangan daya reformatoris atau spiritual itu yang dulu menjadi ciri khas dari aliran mistik atau karismatik itu.

Dengan demikian golongan bawah dan lemah menghadapi dilema. Jika tingkat pendidikan masyarakat sekitar mereka mengizinkan, mereka didorong untuk secara terbuka mengatur kehidupannya tanpa Allah karena agama dipandang dimiliki dan dikuasai oleh mereka yang berada. Jika situasi masyarakat tidak mengizinkan maka mereka terpaksa menyelubungi kenyataan dan menjadi munafik seperti para ateis yang terselubung di kalangan yang berada dan berkuasa yang secara lahir memperlihatkan ketakwaan dan keikutsertaan dalam ritus-ritus keagamaan, namun sebenarnya mereka hidup tanpa Allah dan tanpa agama yang dapat menjadi bimbingan yang hakiki bagi mereka. Ritus-ritus keagamaan bagi mereka sebenarnya hanya merupakan sandiwara, sebab sebenarnya mereka pun mengatur kehidupannya tanpa Allah, atau selaku ateis praktis. Hanya ada perbedaan teoretis, atau khayalan, antara mereka. Sebenarnya mereka berdua ateis. Hanya mereka yang ateis secara terbuka boleh dipandang lebih jujur ketimbang yang ateis yang terselubung atau ateis praktis yang tidak mau mengakui diri sebagai ateis dan olehnya menjadi munafik. Namun manusia yang lemah tetap menjadi korban dari dua-duanya: Baik tuan-tuan yang memegang ideologi komunis maupun mereka yang memegang ekonomi atau ideologi kapitalis menindasnya. Dengan demikian dua-duanya (baik yang memegang ideologi komunis maupun yang memegang kekuasaan ekonomi/kapitalis) tidak dipercayai. Karena itu banyak rakyat kecil lari ke kelompok-kelompok agama yang informal.

Akhir-akhir ini kita menyaksikan bahwa agama-agama, atau paling sedikit sementara pemuka agama, menyatakan runtuhnya sistem ateis-komunis sebagai kemenangan politis dan sosial mereka yang menghargai pemikiran keagamaan. Dan diharapkan agar masa yang lebih cerah akan lekas dapat dialami, dengan ditingkatkan peran agama yang selalu menuntut penghargaan dan implementasi ajarannya, secara khusus ajaran yang menyangkut penghormatan terhadap manusia dan martabatnya.

Namun harapan ini sering mengecewakan, seperti di Indonesia setelah gagalnya G-30-S PKI. Ketika sila pertama Pancasila semakin ditingkatkan, maka persamaan waktu nilai-nilai agama yang tertuang dalam sila ke-lima semakin digeser. Yang tinggal dari Ketuhanan ialah ritualisme dan formalisme agama yang kosong dari nilai-nilainya, sehingga 20 tahun kemudian, di GBHN, perlu agama-agama diminta kembali untuk meletakkan landasan moral, etika dan spiritual dalam kehidupan sosial. Sementara itu eksodus dari agama sekarang meliputi semakin banyak orang dari kalangan lemah pula. Oleh karena itu belum tentu bahwa milenium ke-tiga yang kita hadapi akan masih memberikan tempat kepada agama-agama atau pun malah pemikiran keagamaan. Agama-agama pada masa lampau terlalu sering mengecewakan harapan manusia, sehingga semakin banyak orang telah mengambil keputusan untuk hidup tanpa agama. Jika "trend" atau kecenderungan ini berlangsung, maka agama-agama di masa depan tidak akan lagi memainkan peranan yang dapat mempengaruhi kehidupan bermasyarakat atau kehidupan manusia. Jadi baik tantangan yang dihadapi agama maupun yang dihadapkan pada agama menjadi impian nostalgis terhadap suatu masa di mana agama-agama masih dihormati.

Catatan ini secara khusus berlaku bagi pemahaman agama yang terorganisir dalam bentuk gereja, umat dan lain-lain. Dapat disaksikan pula bahwa cukup banyak manusia sebenarnya tetap berminat pada agama, tetapi tidak percaya pada para pengurus agama dan olehnya meninggalkan organisasi keagamaan. Mereka berkumpul dalam kelompok yang bebas, bebas bukan saja dari bentuk organisasi yang hierarkis melainkan pula bebas dari dogmatika yang ketat. Menurut pendapat sementara orang maka inilah wajah agama di masa depan, dan tentu hidup keagamaan seperti itu akan lebih mudah mempertemukan orang-orang yang dulu menjadi anggota umat beragama yang berbeda, tetapi yang mengalami nasib yang sama seperti manusia yang direndahkan.

Dengan demikian belum tentu apakah agama-agama yang dikenal sekarang masih akan dibutuhkan atau dianggap relevan bagi mereka yang mencari jawaban atas masalah-masalah kehidupan mereka. Untuk mempertajam persoalan ini boleh saya menceritakan suatu pengalaman sebagai mahasiswa ketika saya menghadiri SR LWF (Sidang Raya Gereja-gereja Lutheran Sedunia [Lutheran World Federation]) di Helsinki tahun 1963. Teologi Lutheran senantiasa berkisar pada pertanyaan Luther yang pokok: Bagaimanakah saya memperoleh Allah yang penuh kasih? Pada satu ketika seorang peserta bangkit bertanya: apakah pertanyaan Luther itu masih merupakan pertanyaan orang sekarang? Persoalan manusia kini bukanlah berkisar pada kasih Allah melainkan pada Allah dan kehadiran-Nya sendiri. Kita para teolog harus membuka mata dan pemikiran kita untuk dapat mengamati apa yang sedang digumuli oleh masyarakat. Agenda kita para teolog memang adalah teologi dan agama. Tetapi di tengah-tengah masyarakat agenda mereka mungkin sudah jauh berlainan. Paling-paling pertanyaan kita dapat berbunyi: apakah teologi dan agama, atau para teolog dan agamawan, mampu untuk memasukkan kembali agama menjadi agenda manusia?

Dengan pertanyaan ini saya hendak berpaling kepada dua pertanyaan yang semula saya kemukakan: apakah agama menjadi sumber tantangan pada manusia, atau apakah agama sendiri yang ditantang?

Dengan menyambung pada pertimbangan tadi saya mulai dengan pertanyaan ke-dua: apakah tantangan-tantangan yang akan ditujukan terhadap agama-agama?

Pertanyaan ini dikemukakan berhubung dengan peranan agama-agama pada masa lampau. Saya sedikitpun tidak bermaksud mengurangi jasa agama-agama yang tak terhingga harganya dalam mendorong dan mengarahkan perkembangan umat manusia dan kesadaran spiritual dan moralnya. Tanpa mengurangi pula peranan dan pemikiran para filosof dalam bidang etika, harus dicatat bahwa usaha menanamkan suatu rasa tanggung jawab terhadap dunia dan makhluk sekitarnya diajarkan pada manusia oleh agama-agama dengan menekankan bahwa Allah adalah di luar jangkauan manusia, bahwa Allah tidak dapat dimanipulir oleh manusia, dan bahwa Allah minta pertanggungjawaban dari manusia tentang perbuatan dan pemikirannya.

Namun selain mengarahkan kesadaran spiritual, moral dan etis, agama-agama di masa lampau pernah memainkan - dan masih memainkan sampai sekarang - suatu peranan yang lain. Sejak zaman purba agama-agama pun dipahami sebagai dasar yang memberikan legitimasi kepada para raja dan dinasti. Jadi agama-agama dikaitkan erat dengan kekuasaan pemerintahan. Apakah ikatan itu disebut "mandat surgawi" (Cina) atau Sang Raja sebagai dewa atau anak ilahi (dalam banyak budaya), apakah "kaisar dari anugerah Allah" (Eropa) atau Sultan sebagai "zill Allâh fi l-'âlam" (naungan Allah di bumi, Islam), apakah Maharaja sebagai avatara (penjelmaan) dewa Wishnu atau penjelmaan salah satu bodhisattva (Budhisme) dan seterusnya: semua paham itu menunjukkan betapa eratnya fungsi agama dengan soal kekuasaan di dalam dunia ini. Seorang raja tanpa legitimasi keagamaan hampir tidak dapat dibayangkan, dan pola ini masih diteruskan sampai masa kini di mana malah dalam sistem komunis atau maois, para penguasa harus lolos dari ujian tentang kemurnian keyakinan, sehingga bukan negara melainkan partai sebagai penentu ortodoksi ajaran ideologis menetapkan apakah mereka dapat dipercayai menjalankan urusan negara sesuai dengan keyakinan ideologis yang resmi.

Dengan demikian, baik kerajaan keagamaan maupun pemerintahan ideologis mempunyai satu ciri khas bersama: bahwa mereka sangat curiga dan kadangkala malah kejam terhadap semua penyelewengan dalam soal menetapkan tafsiran terhadap ajaran atau ideologi, dengan secara khusus bertindak bilamana kesyahan pemerintahan mereka dipersoalkan. Di belakang sikap ini adalah keyakinan bahwa apa saja yang mereka pahami dan lakukan adalah sesuai dengan kehendak Ilahi atau ajaran ideologi. Dan yang menentangnya sebenarnya berontak terhadap yang Ilahi dan harus dimusnahkan. Tidak jarang terjadi juga bahwa mereka yang dipandang sebagai pembangkang diberlakukan bukan lagi sebagai manusia seolah-olah sifat kemanusiaan telah mereka hilangkan, sehingga segala macam penganiayaan dan perilaku biadab terhadap mereka malah dibenarkan melalui agama atau ideologi kekuasaan.

Berdasarkan perpaduan antara agama dan kekuasaan ini, agama sering dipandang sebagai hamba sahaya dari penguasa. Tidak mengherankan adanya gap antara agama yang resmi dan agama yang dihayati oleh rakyat, sebagaimana telah kami singgung di atas. Jika penguasa memandang kekuatan ilahi sebagai yang paling sentral dalam agama dan menggunakannya sebagai jaminan bagi keamanan, maka rakyat atau manusia bisa berpegang pada nilai-nilai seperti keadilan dan kebenaran dalam agama sebagaimana ia biasanya ditekankan oleh para nabi atau pengajar agama. Jadi ada di satu pihak pemahaman agama yang melihatnya sebagai legitimator dan ahli ritus pada penguasa, dan di pihak lain pemahaman terhadap agama sebagai sumber nilai-nilai.

Keterikatan antara agama dan penguasa memang bukan soal masa lampau. Ia masih juga merupakan sesuatu yang sangat kini. Malah di AS, para presiden tidak boleh memberikan kesan bahwa mereka anti-agama, meskipun AS merupakan pula suatu negara di mana secara konstitusional agama dan negara dipisahkan dengan ketat. Namun ketika Presiden Bush umpamanya mempersiapkan rakyat AS secara psikologis untuk menyetujui pada Perang Teluk (yang ke-dua), ia tidak enggan mengundang evangelis termashur Billy Graham untuk suatu kebaktian di Gedung Putih sambil meminta kepadanya suatu kebaktian yang hendak menyatakan berkat agama (Kristen) untuk Perang itu.

Dalam banyak negara maka agama diberikan kedudukan ofisial/resmi dalam konstitusi dan dengan demikian turut menentukan sifat negara itu serta menuntut keikutsertaan rakyat dalam upacara-upacara tertentu yang melibatkan diri sang raja atau penguasa. Di Muangthai umpamanya selama tahun ini kita menyaksikan suatu deretan upacara agama Budha memperingati penobatan raja Bhumipol 50 tahun yang lalu. Dan sebagai contoh terakhir cukuplah barangkali jika saya menyebutkan aliran-aliran kebangunan tertentu dalam beberapa agama di mana ada juga yang menuntut suatu keterikatan erat antara agama dan pemegang kuasa seperti beberapa aliran politis dalam Islam dan Hinduisme.

Saya tidak bermaksud menganalisa arus-arus pemikiran itu secara mendetail. Barangkali selama seminar ini (yakni SAA ke-XVI) akan ada kesempatan untuk usaha itu. Saya hanya mau menekankan bahwa hampir setiap umat beragama tidak saja mengenal ajaran dan pemahaman yang melihat perpaduan antara agama dan kekuasaan sebagai suatu hal yang wajar, melainkan membenarkannya pula sebagai ekspresi atau penampakan akan hakikat agama itu, sebagai pelaksanaan tugas utama agama bersangkutan untuk menentukan sebagai unsur utama aturan, ajaran dan upacara yang menjamin kebahagiaan sang penguasa, dan dengan demikian sebagai sesuatu yang sebenarnya identik, kebahagiaan masyarakatnya dan kelestarian alam sekitar. Jika raja senang maka rakyat (harus) juga senang.

Aktualitas pemahaman bahwa agama merupakan salah satu faktor penentu dalam sistem kekuasaan dan budaya yang diciptakannya sebenarnya melatarbelakangi pula ulasan Samuel Huntington dalam karangannya yang mengundang perdebatan yang luas, yang pernah dimuat dalam majalah "Foreign Affairs", dengan judul "A Clash of Civilizations?" . Setelah runtuhnya ideologi marxis dan negara-negara komunis maka segera terlihat suatu kecenderungan yang kuat untuk memperhatikan kembali peranan agama sebagai salah satu faktor kuat yang turut menentukan rasa identitas sesuatu bangsa atau lingkaran budaya yang dipegang oleh beberapa bangsa. Yang paling menentukan sekarang, menurut Huntington, kekuasaan ekonomilah yang akan membentukkan aliansi-aliansi regional di masa depan, sesuai dengan dinamika kapitalisme. Namun setiap blok ekonomis akan memerlukan pula suatu dimensi keagamaan yang mempererat ikatan dan ketahanan di antara bangsa-bangsa yang membentuknya, dan memberikan pada mereka semacam perasaan identitas bersama. Dengan demikian akan muncul suatu blok yang kuat berakar dalam konfusianisme (Cina, Taiwan, Hong Kong, Singapura dan Korea), dalam Shinto (Jepang sebagai kesatuan sendiri yang semakin bereorientasi pada agama nasional itu), dalam Islam Turkemen (Albania hingga Turki dan Turkmenistan di Asia Tengah), Kristen Latin di Eropa Barat (hingga Polandia, negara-negara Baltikum, Kroatia dan lain-lain), dalam Kristen ortodoks Yunani/Slavic (Rusia, Ukraina Timur, Serbia, Bulgaria dan lain-lain) dan seterusnya. Mengikuti jalan pikiran Huntington maka agama-agama akan lagi main peranan legitimatif pada pusat-pusat kekuasaan-kekuasaan yang akan lekas berkembang. Dan bahwa hubungan di antara lingkaran-lingkaran atau blok-blok ekonomis yang beridentitas tradisi keagamaan yang sama dengan mereka yang berlainan tidak senantiasa bersifat damai dapat dilihat dalam perang-perang yang lekas meletus setelah blok komunis hancur: Perang Teluk ke-dua antara Kristen Latin dan Islam Timur Tengah, dan Perang Bosnia antara Kristen Ortodox dengan Islam Turkemen ke mana orang Bosnia digolongkan (hal mana memang tidak benar karena bangsa Bosnia adalah satu-satunya bangsa asli Eropa yang memeluk agama Islam).

Jadi melihat skenario ini maka pada hakikatnya agama-agama hanya melanjutkan saja peranan mereka yang terdahulu di mana mereka dikaitkan dengan kekuasaan penguasa, yakni sebagai legitimator penguasa dan, bilamana penguasa itu memutuskan perang, agama harus melegitimir itu pula. Mungkin ada perpaduan agama dan kekuasaan yang menunjuk kepada beberapa contoh di mana penguasa yang saleh dalam agamanya menjadi berkat bagi kaumnya dan tetangganya pula. Contoh-contoh itu tak perlu dibantah. Namun dalam garis umum harus dicatat berdasarkan berita dan pengalaman sejarah, amat terlalu banyak penindasan, kekejaman dan kejahatan dilakukan yang sekaligus dibenarkan oleh agama yang dianutnya, dan khususnya oleh para pemuka agama itu yang bertugas membenarkan sang penguasa dan pemahamannya serta perbuatannya atas nama agama. Kekejaman yang dilakukan atas nama agama (ataupun ideologi) biasanya yang paling biadab, karena korbannya biasanya bukan saja dianggap melawan raja melainkan dinamakan pula sebagai musuh Allah, dan oleh karena itu pertimbangan kemanusiaan terhadap mereka tak perlu lagi (lih. inkwisisi di abad pertengahan di Eropa, atau kekejaman regim Iran sesudah revolusi yang jauh melebihi kekejaman Savak, atau terhadap ìmusuh-musuhî ideologi maois di Cina sampai kini, dan lain-lain).

Pemahaman tentang perpaduan antara agama dan kuasa biasanya dikembangkan di kalangan para penguasa dengan dukungan para pemuka agama yang dengan demikian mengharapkan kedudukan yang lumayan bagi mereka pula. Pemahaman itu bisa juga dikemukakan oleh mereka yang belum berkuasa tetapi yang ingin berkuasa. Bagi mereka biasanya yang sedang berkuasa telah kehilangan legitimasi keagamaannya, dan mereka menawarkan pergantian penguasa (orang atau dinasti), dengan sekaligus menawarkan jasa baik mereka sendiri, tentu!

Pergantian itu sebenarnya ialah arti kata Arab daula yang digunakan sementara pemuka pemikir revivalis Islam untuk mengekspresikan istilah state, atau negara, bilamana mereka hendak menekankan kesatuan agama dan negara, dîn wa-daula, sebagai hakikat dari Islam. Mereka biasanya kurang menyadari bahwa justru dalam kaitan ini, dîn wa-daula, paham dinasti atau kerajaan tetap bertahan sehingga apa yang dikatakan sebenarnya ialah bahwa suatu dinasti berpegang pada Islam. Dalam keterikatan dengan paham dinasti, maka dîn atau agama memang dipahami lagi sebagai faktor legitimator pada penguasaan yang bersifat personal atau pribadi. Dan karena masalah ini kurang dipecahkan maka tidak mengherankan bahwa apa yang amat sering dihasilkan dalam suasana modern ialah diangkatnya presiden-presiden yang ingin bertahan seumur hidup yang sebenarnya hanya melanjutkan saja pola kekuasaan kerajaan yang pra-modern.

Memandang ke milenium ke-tiga di hadapan kita, maka kita harus bertanya: Apa akibat perpaduan agama dan kekuasaan atas kehidupan orang banyak? Mereka orang banyak dulu dianggap dengan sendirinya menyetujuinya, tetapi tak ada seorang yang mempersoalkan apakah pendapat itu memang benar. Sebagaimana kita tahu bahwa banyak umat-umat dari agama-agama itu baik Kristen maupun Islam, Budhis, Konfusianis dan lain-lain yang dalam sejarahnya mengalami perpaduan itu, maka dengan tekad dan yakin sekarang menentangnya. Penentangan itu bukannya tanpa alasan. Yang diimpose atas diri mereka atau generasi-generasi pendahulu mereka memang membawa banyak penderitaan bagi manusia golongan bawah. Keadilan dan kebahagiaan yang dijanjikan oleh agama seolah-olah tak berlaku bagi mereka yang tetap miskin dan haus pada keadilan. Perpaduan antara agama dan kekuasaan adalah tuntutan mereka yang berkuasa (atau mereka yang hendak berkuasa). Namun yang dialami oleh manusia biasa ialah bahwa ajaran agama yang sebenarnya dimonopoli oleh penguasa dan dimanipulasi demi keuntungannya, dan para pemuka agama yang mendukungnya malah bersedia untuk mengkhianati kebenaran agamanya demi kesenangan sang penguasa itu. Dengan demikian, sambil mengingat sekaligus skenario yang digambarkan oleh S. Huntington dan yang telah menjadi kenyataan di pelbagai jurusan dunia ini, maka para penganut agama-agama sekarang dituntut untuk menyatakan bagaimana mereka sendiri hendak melihat peranan agama-agama di milenium ke-tiga yang sebentar lagi akan mulai. Pemahaman dan peranan agama di masa mendatang tidak boleh lagi ditentukan oleh para pemukanya saja yang cenderung berlindung pada penguasa, namun umat beragama sendiri harus turut menentukannya. Mengingat kemungkinan yang lain yang tadi kami sebutkan, bahwa sementara umat manusia yang jumlahnya cukup besar pula berpendapat bahwa berdasarkan pengalaman yang lalu, sebaiknya di masa depan agama-agama dicoret dari acara umat manusia, atau dikurung sedemikian rupa supaya ia tidak dapat lagi (turut) menimbulkan pemudaran dan kekacauan dalam hubungan antarmanusia. Jadi tantangan yang dihadapi agama-agama bisa juga merupakan permulaan dari tahap terakhir sejarah agama-agama, atau bahwa agama dijadikan pengganti ideologi-ideologi yang telah lapuk seperti komunisme dan kapitalisme, yakni: agama-agama menjadi ideologi-ideologi masa mendatang.

Akan tetapi ada kemungkinan ke-tiga: bahwa agama-agama berbalik, melepaskan diri dari ikatan-ikatan yang mengurung mereka ke dalam kepentingan penguasa, dan menentang sendiri mereka yang hendak memanipulasi agama-agama itu. Jadi agama-agama, atau tepatnya para penganut agama-agama perlu bertobat, agar supaya agama yang mereka anut dapat tampil dalam sarana baru yang tidak menolong menindas manusia, melainkan yang dapat dengan yakin menawarkan pesannya sebagai pedoman hidup bagi manusia banyak dan sebagai sumber nilai-nilainya baik dalam kehidupan sosial maupun individual.

Merupakan salah satu takhayul yang sangat digemari pada waktu ini yang mengatakan bahwa pemikiran Barat, atau kristiani, sangat menekankan kepentingan individu dan menomorduakan kepentingan- kepentingan kelompok atau masyarakat, sedangkan pemikiran Timur pertama-tama melihat kepentingan yang benar dari masyarakat dan baru kemudian memberikan perhatian yang wajar pula bagi individu. Tidak kebetulan bahwa pendapat ini paling suka dikemukakan oleh para politisi yang bahkan sering melanggar hak-hak asasi manusia dan memandang rendah martabat setiap individu. Jadi perlu dipertanyakan: apa yang mereka pahami dari ajaran agama yang mereka anut atau yang mereka pilih untuk menjadi alat pemeriksaan dalam rangka membenarkan pendapat mereka itu? Agama yang manakah yang bertolak dari kepentingan masyarakat dan yang menggeser perhatian pada individu?

Seandainya mereka saja berminat, biarpun sedikit, pada ajaran agama-agama tentang manusia dan hubungannya baik dengan Yang Mutlak maupun dengan sesamanya, maka mereka cepat akan dapat belajar bahwa bukan saja dalam agama Kristen, melainkan pula dalam agama Islam, Budhis dan lain-lain titik tolak ajaran berkisar pada manusia sebagai individu dan soal penyelamatannya. Penyelamatan adalah sesuatu yang bersifat individual dan menyangkut hubungan setiap manusia dengan Yang Mutlak itu. Agama-agama itu mengajar mengenai keselamatan, dan itu adalah sesuatu yang sangat bersifat individual atau perseorangan. Agamalah yang menjadi sumber pada perilaku etika seseorang, dan etika berkaitan dengan watak dan iman seseorang. Baru bilamana segi itu diketengahkan maka individu itu dapat - dan tentu harus pula - mempunyai tanggung jawab sosial terhadap sesama makhluk pula . Keselamatan tidak saja berarti pulihnya kembali hubungan manusia dengan Yang Mutlak, melainkan pula pulihnya kembali hubungan antarsesama manusia. Jika semangat individu-individu tidak ada maka kehidupan beragama dengan cepat dapat menjadi sandiwara kemunafikan.

Jadi agama Kristen maupun Islam atau Budhis dan lain-lain tentu sangat memperhatikan kehidupan sosial atau kemasyarakatan, namun mereka sepenuhnya menyadari pula bahwa masyarakat itu bukan suatu kolektip anonim melainkan suatu persekutuan manusia di mana setiap individu sadar akan tanggung jawabnya terhadap yang lain, dan di mana persekutuan bersandar pada saling pengakuan harkat dan martabat sesamanya.

Pengakuan keunggulan martabat manusia adalah merupakan dasar ajaran setiap agama. Mempertentangkan individualisme dengan "sosialisme" atau kepentingan kelompok hanya dapat dilakukan oleh orang yang tidak tahu menahu tentang agama-agama apapun. Dan jika sewaktu-waktu muncul juga teolog-teolog atau ahli agama yang mengatakan hal itu maka perlu ditanyakan dari manakah dasar pemahaman mereka.

Saya tidak bermaksud menyangkal bahwa dalam masyarakat yang keadaan ekonominya lumayan, terjadi suatu individualisme yang berlebihan. Tetapi itupun suatu gejala yang diamati bukan di Barat saja. Ia pun diamati di Timur dan Selatan di mana individualisme yang berlebihan berkembang ketika ada golongan-golongan tertentu yang telah mencapai suatu tahap ekonomis yang lumayan. Mereka sama saja seperti di Barat semakin mengutamakan kepentingan sendiri dan semakin kehilangan solidaritas dengan masyarakat sekitar mereka. Individualisme yang berlebihan bukanlah masalah Timur - Barat, melainkan ialah masalah kaya - miskin.

Tanpa maksud mau menjadi nabi namun saya kira bahwa banyak pengamat perkembangan sekarang sependapat bahwa masalah pokok milenium ke-tiga akan berkisar pada soal bagaimanakah manusia sebagai makhluk yang khas akan berkembang. Apakah dia menjadi monyet berintelek tinggi yang dimanipulasi para scientis sebagaimana tadi telah digambarkan? Ataukah ia kembali menjadi budak di bawah sistem-sistem ideologis - biarpun itu sistem ideologis keagamaan - dan golongan elite yang berkuasa yang dihasilkannya yang hanya mementingkan kolektip masyarakat sebagai tenaga kerja yang anonim dan rela mengorbankan setiap unsur pembangkang seperti di masa lampau telah dilakukan oleh para raja?

Zaman modern tidak mulai dengan peralatan teknis yang modern dan pengetahuan sains yang maju. Zaman modern dimulai dengan emansipasi manusia dalam masyarakatnya di mana berkembang suatu humanisme yang pada prinsipnya memandang setiap orang sama martabatnya dengan yang lain, dan berusaha memberikan kesempatan kepadanya sesuai dengan keahliannya untuk turut menentukan kepentingan-kepentingan bersama dalam masyarakat. Untuk itu perlu pendidikan yang mengembangkan manusia menjadi dewasa, merdeka dan bertanggung jawab. Jadi kemodernan ditentukan oleh peranan yang diberikan pada manusia dan menjadi nyata dalam masyarakat partisipatif, ini bukan ditentukan oleh peralatan dan pengetahuan yang disebut modern karena ia maju. Menuntut agar manusia - setiap anggota umat manusia - dapat berpartisipasi dan memainkan peranannya sebagai individu yang dewasa, merdeka dan bertanggung jawab di tengah-tengah masyarakat adalah tugas utama agama-agama atau, lebih tepat, para penganut agama-agama yang cinta padanya dan menghargainya sebagai isi dan makna kehidupannya, di masa depan. Hanya dengan demikian mereka dapat membuktikan bahwa mereka belajar dari kesesatan masa lampau di mana agama-agama terlalu sering diperalat oleh para penguasa demi kepentingan sendiri. Jika usaha-usaha itu diulangi maka para penganut agama-agama seyogianya menantang dan menentangnya secara jelas dan benar. Agama yang benar hendak menyampaikan suatu pesan Ilahi kepada manusia. Di hadapan Allah ataupun di hadapan Hakikat Sang Budha dalam agama Budha tidak ada perbedaan pokok antara manusia, semua dipandang sama. Dengan demikian para penganut yang sejati dan saleh pada agamanya harus menjadi contoh hidup untuk dapat meyakinkan bahwa memang itulah kebenaran keagamaan yang terdalam. Jika mereka tidak berhasil meyakinkan manusia-manusia yang di masa lampau tertindas juga atas nama agama, maka agama-agama dapat mempersiapkan diri untuk menutup usia mereka.

s16-olaf.saa/?/24-2-98