FORLOG MEMBANGUN
BUDAYA DAMAI
Sejarah dan
Gagasan-gagasan FORLOG Berdasarkan Pengalaman Individu dalam Keterlibatan di
Forum
Yuberlian Padele
Pembuka Kata
Apa yang hendak saya
kemukakan dalam tulisan ini, bukanlah suatu uraian fakta saja tetapi sekaligus
juga memaknai pengalaman individu dalam keterlibatan selama mengelola - kalau
dapat saya sebutkan demikian - di forum. Uraian fakta melulu, sudah dituangkan
dalam suatu tulisan yang sekarang di muat pada homepage Forlog. Jenjang waktu
pengalaman penulis pun merupakan fakta yang mempengaruhi pemaknaan arah tulisan
ini. Oleh sebab itu, sangat terbuka kemungkinan bahwa beberapa orang boleh
menulis hal yang sama dengan gaya bahasa yang berbeda, berdasarkan
pengalamannya di forum, sehingga pembahasan akan menjadi lebih dinamis.
Tema utama
yang mendominasi pembicaraan publik di Indonesia pada tahun 1990-an, berhubungan dengan: dialog, perdamaian,
kekerasan, demokrasi. Tema-tema ini kemudian diikuti dengan munculnya
kelompok-kelompok yang bertujuan untuk mengkaji agama dalam kaitannya dengan
seluruh dimensi kehidupan: politik, sosial, kebudayaan, hubungan antar atau
inter agama dan seterusnya. Kajian
agama bagi kalangan yang mempunyai
minat sebagaimana hasrat yang tak dapat dijinakan, justru semakin cepat
merambat, menancapkan akar yang kokoh
sambil terus menggemakan suara kicau idealisme segar, terutama ketika bangsa
ini diperhadapkan dengan masalah politik yang semakin rumit. Kondisi obyektif
bangsa, menjelang putaran Pemilihan Umum 1999, yang justru menjadi gong
keterpilihan kembali sekaligus tanda usainya suatu periode penguasa terlama di
dalam negeri tercinta ini, merupakan pupuk yang menyuburkan bertumbuhnya jamur
kelompok-kelompok kajian tema yang sudah disebutkan sebelumnya. Penyebaran dan
perasaan kebutuhan kelompok kajian seperti ini kelihatannya datang secara
hampir bersamaan[1]di seluruh
daratan pulau-pulau yang membentangkan tubuh wilayah Kesatuan Republik
Indonesia.
Sejarah dan Makna Forum Dialog di Makassar,
Sulawesi Selatan.
Salah satu
forum kajian di antara sekian banyak yang sedang berupaya merangkak kemudian
dapat tegak berdiri dipenghujung tahun yang mengakhiri abad 20 ini, yakni Forum
Dialog (FORLOG) Antarkita Sulawesi Selatan yang berkedudukan di Makassar. Pada
hakekatnya, pembentukan forum ini, dapat dilihat dari dua lempengan unsur
utama: lempengan atasnya, yakni peristiwa SEMILOKA dengan Tema “Antisipasi
Konflik SARA Menghadapi Pemilu Tanggal 5-7 April 1999 di Hotel Delia Ujung
Pandang” yang terselenggara atas kerja sama Intitute for Inter-Faith Dialogue
in Indonesia (Dian/Interfidei) dengan The Asia Foundation. Pada
lempengan yang lebih mendasar,
merupakan hasil pembuahan antara niat suci insan peserta SEMILOKA
tersebut dengan keterpenjarahan insan pada nilai
yang dihayati secara mendalam dan dihormati oleh keberagaman latarbelakang. Komitmen ini kiranya yang menjadi air
ketuban yang melicinkan kelahiran Forum
Dialog.
Pada akhir
SEMILOKA yang disebutkan di atas, peserta diperhadapkan dengan pilihan
bagaimana mewujudkan karya untuk menyebarkan virus nilai-nilai tertinggi
sehingga dapat menjadi "penyakit" bersama dalam masyarakat. Karya
sebagai individu-individu tidak usah diragukan tetapi bagaimana memungkinkan
kerja secara bersama-sama? Kepercayaan
kepada tujuh orang yang bertemu di Jalan Baji Daka No 7, untuk membidani FORLOG
berhasil membantu kelahiran FORLOG dengan mulus. Ketika ia lahir langsung di
beri nama, Forum Dialog (FORLOG) Antar Kita Sulawesi Selatan. Bagian-bagian
tubuh FORLOG menjelaskan seluruh identitas dirinya. Forum, lebih menjelaskan warna kulit keberagaman anggota yang
berasal dari berbagai latar belakang organisasi profesional yang berbeda. Dialog, sebagai alat kerja untuk
mengelola keberagaman sedangkan Antar
Kita lebih menegaskan dimensi-dimensi bidang garapan yang bukan sekedar
melihat keberagaman dari latar agama saja tetapu juga meliputi keberagaman
budaya, idiologi sampai keberagaman yang menyentuh hal-hal yang sangat tehnis
dalam realita kehidupan yang lebih luas. Sulawesi
Selatan menunjuk bagian bumi yang mengakar pada budaya lokal sebagai
"piring" tempat /wilayah forum ada. Demikianlah nama itu, telah
memikul 4 beban sekaligus: keberagaman
sebagai warna kulit, dialog sebagai alat kerja, gaya bahasa lokal sebagai ciri
khas konteks dan terakhir wilayah tempat forum ada.
Pertemuan yang singkat tetapi kompak pada sore hari di
tanggal 9 April 1999 itu, masih
dihangatkan oleh dinamika persahabatan, persaudaraan yang berhasil kami bangun
bersama selama SEMILOKA yang baru
berakhir beberapa hari sebelumnya Kesehatian yang didasarkan pada kepercayaan
merupakan jaminan di antara anggota pada pertemuan awal itu. Kepercayaan tersebut sangat terasa ketika
mekanisme kontrol kerja tidak dipercakapkan secara serius. Kami agak
mengabaikan struktur organisasi sebab yang kami utamakan yakni bagaimana forum
yang yang masih orok itu, dapat bertumbuh, bergaul, dan menanamkan identitasnya ke dalam tubuhnya sendiri serta
menjangkitkan nilai-nilai hidup bersama sebagai alternatif penyembuh bagi
masyarakat yang sedang merasa demam malaria. Kami pun tak mulai dengan
anggaran-anggaran biaya[2]
dan aturan main organisasi[3]
sebab kami sudah menggenggam nilai kehidupan manusia sebagai prinsip karya
kami. Satu hal yang menjadi prinsip utama yang ditegaskan sebagai suatu
pengarah bahwa FORLOG adalah sebuah
forum independen yang di arahkan sebagai sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM) yang non-politis dan non-agamis yang lebih menekankan karya-karya pendidikan
bagi pertumbuhan masyarakat yang lebih dialogis dalam mengelola keberagaman
latarbelakang.
Dasar utama
yang disemaikan dalam pertemuan yang singkat penuh makna itu, menjadi guru
utama dalam mengelola forum. Kesediaan bekerja untuk berkorban menjadi
keuntungan pengerja dan semua yang membesarkan FORLOG. Tak ada yang menghitung
keringat Abidin Wakano, tak ada yang mengukur panjangnya jalan yang di
laluinya, dan ... tak ada yang menagih diri sendiri. Semua tulus tak
terukirkan, memberi tanpa pamrih. Ia sungguh-sungguh menjadi milik pecinta nilainya.
Karya tidak selamanya di bayar dengan
kertas penukar jasa tetapi dibayar oleh kepuasan sebagai abdi.
Apa yang Sudah Dilakukan oleh
FORLOG?
Kata emas
yang melatari sekaligus mendasari karya
forum yakni, hidup bersama dalam
keberagaman, membangun kultur perdamaian, demokrasi dan tanpa kekerasan
Awal karya
forum, ketika ia menjuntai kata bijak damai dari kitab suci masing-masing
agama: Islam, Kristen, Hindu, Budha dengan tinta berwarna pelangi di atas
lembaran putih yang licin. Berjalan ke semua tempat tinggal pecinta beratnya,
pun yang masih belum pernah melihat rupanya. Ia ada di simpang-simpang jalan,
ketika barisan pemakai sarung daerah Sulawesi Selatan,[4]
memperagakan busana damai di suatu senja,
kemudian menyebar di simpang-simpang kota ini. Lembaran licin itu, di
sertakan bersama sekuntum bunga yang dibagikan oleh segerombolan laki-laki dan
perempuan pencegat pete-pete, yang melongokan wajah sambil tersenyum menawarkan
butir-butir kedamaian bagi dunia yang sedang garang.
Tidak hanya
jalanan, udarapun dipenuhi oleh getaran merdu sang pesolek damai melalui berita
di radio-radio swasta. Suara itu membahanakan budaya damai, memasuki
rumah-rumah penduduk di seantero gema suara yang menangkap siarannya. Pun yang
sedang tidur dibangunkannya. Suara lantang pak Qasim Mathar, getaran selaput suara pak Ishak Ngeljaratan,
senandung kidung pak Zakaria Ngelow dan sederet pecinta damai yang membahanakan
ajakan rujuk masal untuk melepaskan penyakit dendam asmara.[5]
Pun karya itu hanya diikuti dengan ungkapan tulus dari wajah merah batu bata
sambil tersipu membunyikan kata: "terima kasih". Waktu itu, forum
mencoba mengembangkan gagasan bahwa kehidupan yang damai di dalam rajutan
keberagaman merupakan bagian terdalam dari kebutuhan bersama. Oleh sebab itu,
aktivitas forlog adalah aktivitas yang diabdikan bagi masyarakat luas dan
karena itu kita semua dilibatkan untuk membayar biaya yang diakibatkannya.
Warna dalam
karya tetap tak pudar. Ia terbuka untuk membagi pikiran yang berbeda dalam
pagelaran ilmiahnya. Ia menarik generasi muda pun yang tua tetapi pemikir yang
tak pernah lempem untuk mencoba beradu nalar dalam perbedaan yang dihargai dan
dihormati.
Tak hanya
kata-kata bijak yang disemaikan, tetapi
forumpun membagi kehangatan sentuhan rasa. Ia memberi, ketika hati tak
lagi sanggup menuangkan kata oleh teriakan
darah anak manusia yang tertumpah akibat kobaran api yang menyambar
sinyal perasaan agama dan suku, menumpahkan darah insan ke perut suci di tanah
Ambon, Aceh, Halmahera dan Poso, serta Timor Timur, Irian dan Kalimantan. Ia
turut merawatnya melalui sentuhan-sentuhan nyata. Sekali lagi, forum tidak
memiliki apa-apa kecuali hasrat untuk menjadi "peer" penggerak bagi
tangan yang tidak dapat dihentar oleh kaki, untuk menyentuh mata yang tak pernah
kering, memagari luasnya terawang ingatan kacau, mengurut dada yang sesak
pedih, menjadi kuping yang tak berhenti mendengar, membalut luka menahan darah
yang tumpah. Ia juga mencoba melihat ke depan, dengan berupaya menawar racun
dendam akibat konflik. Kata seorang perempuan penganjur agama dari daerah
konflik, "Sebelum kami hidup bersama beberapa hari dalam perjumpaan di
Tanjung Bira, saya mencurigai penganut agama lain, tetapi ternyata kuatnya rasa
dugaan awal ditepis oleh hidup bersama, bahwa tak ada yang perlu dicurigai
sebab aku dan dia bersiteru hanya dihantui dugaan tak beralasan." Perasaan
curiga seperti ini, juga terjadi pada perjumpaan pertama yang kini telah
menjadi anggota-anggotanya di Hotel
Delia. Perasaan kecurigaan seperti ini,
justru memberitahukan kepada kita bahwa
kita perlu belajar hidup bersama sebagai komunitas, duduk mendengar dan
mengharga perbedaan dengna ketulusan. Demikianlah pada akhirnya mendialogkan
perbedaan-perbedaan merupakan langkah awal untuk mengatasi terjadinya tingkat
berikut dari kecurigaan yakni tindakan kekerasan. Demikian Elyas Samsuddin[6]
mengatakan bahwa "media dialog merupakan alternatif terbaik untuk
menyelesaikan masalah, terlebih jika kita hendak mengantisipasi meluasnya
konflik-konflik yang berkepanjangan dan menumpahkan darah. Dialog dapat
dilakukan baik dengan antarsesama maupun dengan kepelbagaian suku, agama, golongan dengan latar belakang
sosial budaya yang berbeda pula".[7]
Demikianlah
Forum Diloag antar Kita Sulawesi Selatan, berkarya untuk menabur benih damai, merangkai
hidup bersama dalam rangkulan hangat persaudaraan sejati.
Visi forum
tidak dapat dilepaskan dengan seluruh kehadirannya dalam masyarakat, yakni:
1.
Membangun
kesadaran masyarakat luas terhadap realitas keberagaman masyarakat Indonesia
yang tak dapat di tolak.
2.
Membangun
gagasan dialog sebagai sarana untuk mengelola keberagaman.
3.
Turut
serta bersama kelompok-kelompok lain untuk menyembuhkan luka-luka bathin akibat
konflik.
4.
Membangun
kerja sama dengan kelompok-kelompok masyarakat lainya sekalipun yang berbeda
visi.
Akhir Kata
Tak hanya
bicara yang diharapkan darimu, sebab dunia kejam membutuhkan sentuhan cinta
yang tulus untuk membangun kehidupan yang menghargai persaudaraan sejati. Tak
hanya menyentuh dna mengenyangkan kegersangan intelektualmu melulu tetapi
dipadukan dengan bukti kehadiranmu sebagai abdi, menyentuh sampai pada lapisan
insan-insan yang tak terjamahkan karena sengaja dianggap tak terlalu penting.
Apapun adanya merekapun insan, yang justru kerap di manfaatkan secara kurang beruntung.
Membangun dunia tak bertepi sebab dunia bulat, mencipta
hidup bahagia insan, sebab semua yang dicipta oleh Dia seluruhnya berharga.
Bangunlah dunia dengan membangun insan yang mencintai nilai-nilai tertinggi
bagi kehidupan bersama.
[1] Belum ada penelitian
obyektif berhubungan dengan variasi kelompok-kelompok yang mengkaji tema-tema
yang dimaksudkan yang tersebar di Indonesia.
[2] Biaya kegiatan itu sepenuhnya bersumber dari kantong
masing-masing peserta, bukan karena bantuan dari suatu lembaga atau funding. Alhasil, dana awal yang
terkumpul saat itu sebesar Rp 1.350.000,- dari 27 peserta semiloka (@ Rp
50.000,-). Tak ada tujuan lain dari pengumpulan dana ini, kecuali lahir dari
komitmen bersama untuk melakukan kegiatan bersama agar saling memahami masing-masing perbedaan
untuk memperkokoh persaudaraan
[3] Tiga tahun
kemudian dasar organisasi menjadidi tuntutan bersama. Perkembangan ke arah ini,
barangkali akan lebih baik jikalau di tulis oleh orang lain.
[4] FORLOG turut
bekerjasama dengan Forum Perempuan Sulawesi Selatan mengadakan pawai dalam
peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan.
[5] Rentan waktu selama tiga bulan
antara April hingga Agustus 1999, FORLOG Sulsel telah melakukan berbagai
kegiatan, antara lain (1) Dialog Interaktif di Radio Barata FM setiap hari Rabu
atau Jumat siang sebanyak 15 kali, (2) Pencetakan dan pendistribusian stiker
yang berisi kutipan ayat-ayat tentang seruan persaudaraan antarsesama manusia
dan anti kekerasan, serta (3) Aksi damai anti kekerasan.
[6] Sekretaris Forlog pada awal pembentukan yang
kemudian mengundurkan diri karena pindah kerja ke darah lain .
[7] Seperti yang di tulis Elyas Syamsuddin dalam draft I
Profile Forlog yang tidak diterbitkan.