„Doa adalah bentuk Iman yang aktiv“

Khotbah: Lukas 11: 5 – 13

Ibadah GMKI cab. Ujung Pandang, 12 April 2000

 

Sdr/i yang kekasih

 

Pendahuluan:

 

Tuhan Yesus dalam menerangkan sesuatu ia sering menggunakan contoh dalam kehidupan sehari – hari. Kali ini adalah tentang seseorang yang mencari  bantuan kepada sahabat pada tengah malam. Suatu kisah yang sebenarnya tidak spektakuler, kisah ini banyak dialami oleh orang dalam kehidupan sehari – hari demikian halnya dengan kisah seorang anak yang meminta sesuatu kepada Bapaknya, disana tidak ada yang istimewa. Dari kisah yang biasa ini diangkat oleh Yesus untuk menjelaskan hal yang luar biasa yakni apa arti „mencari, memohon dan mengetuk“ dalam kehidupan beriman seseorang.

 

Dikisahkan bahwa orang tersebut membutuhkan sesuatu tengah malam. Mungkin saja toko – toko sudah tutup untuk membeli makanan buat tamu yang datang tiba – tiba.  Tindakannya yang biasa itu diartikan khusus oleh Yesus bahwa disitu ada makna yang penting bagi iman seseorang yakni keaktifan, inisiatif dan gerakan dari seseorang untuk mengusahakan sesuatu, untuk melayani tamunya: ia bergerak menuju rumah sahabatnya, mencari rumah tersebut dan ketika ia mendapatkannya ia pun mengetuk dan memohon. Rentetan aksi ini berarti suatu kesadaran diri akan keterbatasan atau kesadaran diri akan ketidakmampuan pada hal – hal tertentu sehingga muncul kemauan untuk mendapatkan sesuatu. Aksi ini juga berarti keaktifan (gerakan). Upaya ini diberi jawaban yang positif oleh Tuhan Yesus dengan pengabulan permintaan oleh sang sahabat. Penekanan yang lebih penting disini adalah hubungan antara kedua sahabat tersebut yang memungkinkan ia tidak malu dan tidak takut untuk mengetuk rumah sahabatnya tengah malam dan meminta sesuatu. Hubungan yang terjalin diantara keduanya membuahkan kepercayaan (trust) bahwa sahabatnya akan menolong dia atau paling tidak sahabatnya tidak akan mempermalukan dan tidak akan mengusir dia.

 

Tuhan Yesus mengadakan perbandingan antara kemauan seorang sahabat untuk membantu dan mengabulkan permintaan sahabatnya dengan tindakan Allah untuk memberikan yang terbaik. Ada aspek lain yang juga tidak kalah pentingnya dalam kisah sang sahabat tadi adalah upaya atau jerih payahnya mencari, mengetuk pintu rumah sahabatnya tengah malam dan memohon sesuatu yang ditujukan bukan untuk dirinya sendiri melainkan agar supaya tamunya yang juga adalah sahabatnya memperoleh makanan dan agar supaya  sahabatnya tidak harus tidur dengan perut yang kosong.

 

Sehingga ada unsur keprihatinan (kepekaan) dan tanggung jawab yang muncul dalam kisah ini. Tuan rumah dan sekaligus sahabat yang mengerti keadaan tamunya tidak peduli akan larutnya malam, ia pun bergerak menuju pintu rumah sahabatnya untuk mengatasi keadaan lapar sahabatnya pada malam itu.

 

Kisah ini dikaitkan dengan permintaan murid – murid Tuhan Yesus untuk diajar bagaimana berdoa: „Tuhan ajarilah kami berdoa...“ Mungkin hal yang aneh kalau murid – murid Tuhan Yesus yang sudah lama mengikuti Dia dan selalu mengikuti kemana Ia pergi meminta untuk diajari berdoa. Ada kesan seakan – akan mereka tidak tahu bagaimana cara berdoa atau bagaimana berdoa yang benar. Yang menarik dari kisah ini adalah inisiatif untuk belajar berdoa itu muncul dari murid – murid Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus meresponsnya dengan mengajar mereka.

 

Tuhan Yesus sebenarnya memakai gambar ini untuk mengajar murid – muridNya tentang pengabulan doa, bahwa kalau manusia mampu berbuat baik kepada seseorang maka Allah akan melakukan yang lebih baik. Tetapi malam ini saya mau menekankan sisi lain dari kisah ini dan bertanya apa arti gambaran Tuhan Yesus tentang sahabat ini bagi kita malam ini dan gerakan ini?. Sejarah mencatat bahwa GMKI lahir dari kelompok – kelompok doa dan bibel studi dengan kata lain dimulai dengan suatu komitmen dan kesadaran bersama akan iman percaya selaku pengikut Kristus. Disana juga terdapat inisiatif dari para pelopor gerakan ini untuk bergerak. Tradisi awal ini menunjukkan landasan spiritual gerakan ini  yang juga merupakan „identitas dan citra diri“, dalam perjalanan sejarah gerakan ini sendiri mulai bergeser pada peringkat yang kesekian. Hal itu juga sangat disadari oleh kita semua dan menjadi keprihatinan kita bersama.

 

Situasi GMKI sekarang mungkin dapat kita bandingkan dengan situasi sang Sahabat yang meminta sesuatu tengah malam.  Ada kebutuhan yang mendesak yang disadari oleh gerakan ini dalam rangka pelayanannya yang utuh ditengah – tengah masyarakat. Yang kita belajar dari kisah tadi adalah kemauan untuk melayani sesama berangkat dari kepekaan sosial. Kemauan ini menjadi motivasi untuk bergerak dan melakukan sesuatu aksi. Ada satu hal yang sangat penting dari proses ini adalah campur tangan pihak lain (dalam kisah tadi yakni campur tangan sahabatNya: dia melibatkan sahabatnya dalam pelayananya). Ia meminta sesuatu kepada sahabatnya. Dengan demikian kita melihat bahwa campur tangan Sahabat kita Yang Agung akan memampukan kita untuk menyatakan pelayanan kita ditengah – tengah masyarakat.

 

Kita ditantang untuk senantiasa mencari, mengetuk dan memohon kepada Sahabat Yang Agung itu lewat permohonan doa. Doa senantiasa diartikan terlalu kering dan formal bahkan banyak orang yang sudah malas dan tidak tahu lagi bagaimana cara berdoa (saya tidak tahu bagaimana di cabang ini) karena doa diartikan hanya sebagai rumusan – rumusan yang formal dan menjadi ritual belaka. Kisah malam ini sedikit menolong kita untuk memahami arti dan hakekat doa yakni doa sebagai bentuk iman yang aktif. Disana ada inisiatif yang lahir dari kesadaran dan kepekaan akan situasi masa kini. Doa juga merupakan bentuk tanggung jawab dan pelayanan terhadap orang lain, masyarakat dan dunia di mana kita berada. Dengan demikian doa – doa kita tidak lagi menjadi kering dan formal atau berdoa bukan lagi menjadi tradisi belaka melainkan menjadi hidup karena dengannya kita senantiasa aktiv dan tertantang untuk bergerak (sesuai dengan nama gerakan ini, bukan forum atau sejenisnya).  Sehingga aktivitas dari gerakan ini yang mengundang campur tangan Allah adalah bentuk doa yang hidup. Dan sebaliknya juga campur tangan Allah dalam setiap aktivitas gerakan ini akan membawa kehidupan baik bagi gerakan ini maupun bagi masyarakat dimana gerakan ini hadir.

 

Itu berarti bahwa doa atau hal –hal kerohanian sebenarnya adalah bukan lah tanggung jawab orang – orang tertentu saja (pendeta atau mhs STT) melainkan tanggung jawab semua orang percaya dalam mengejahwantahkan imannya sebagai orang percaya karena doa adalah bentuk iman yang aktif dan bukan bentuk iman golongan tertentu. Dengan kata lain hal – hal kerohanian di gerakan ini adalah tanggung jawab kita bersama yang berangkat dari kepekaan dan tanggung jawab kita terhadap sesama yang kita jabarkan lewat program – program yang ada.

 

Semoga kita senantiasa peka dan tertantang untuk berinisiatif: mencari, mengetuk dan memohon kepada Dia yang empunya gerakan ini demi pelayananNya kepada dunia ini. Tuha menolong kita, Amin