Yohanes 3: 22 - 30:

Khotbah Adven III, GKSS Makio Baji, 15 Desember 2002

"Gereja harus makin kecil"

 

"Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil".

Sdr-sdr ykks,

Di minggu Adven ke-III ini kita mendengar kisah tentang pengalaman seseorang yang bersaksi tentang Tuhan Yesus. Seorang yang luar biasa, yang dipilih oleh Allah dan mendapat tugas yang besar untuk menjadi saksi yang mempersiapkan kedatangan Allah kedunia melalui Yesus Kristus. Tokoh kita kali ini ialah Yohanes yang dikenal dengan nama Yohanes Pembapstis. Ketika Yohanes tengah menjalankan tugas dan pelayanannya antara lain membaptis, pada saat yang bersamaan namun ditempat yang berbeda Yesus melakukan hal yang sama, membaptis orang-orang yang datang kepadaNya. Hal ini menjadikan para murid Yohanes kuatir, mungkin juga kuatir akan persaingan dengan si Pembaptis baru yakni Yesus. Sepertinya, jauh sebelum peristiwa ini, Yohaneslah satu-satunya orang yang membaptis di sungai Yordan oleh sebab itu ia dikenal juga dengan julukan Yohanes pembaptis. Biasanya orang ramai datang ke Yohanes untuk mendengarkan pengajarannya dan ingin dibaptis olehnya. Namun pada suatu ketika orang-orang banyak tidak lagi berduyun-duyun datang ke Yohanes melainkan mereka pergi ke Yesus untuk dibaptis. Kenyataan ini menjadi pemikiran bagi para murid Yohanes, mungkin mereka bertanya-tanya, siapa si Pembaptis lainnya itu yang  tentangnya guru mereka telah sering bersaksi, apakah dia lebih besar ketimbang guru kami Yohanes?, mengapa begitu banyak orang yang datang kepadaNya?. Para murid melapor kejadian ini pada sang guru: "Guru, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Jordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepadanya."  Laporan para murid ini mendapat kesan akan adanya ketakutan untuk bersaing dengan pengikut-pengikut Yesus. Mungkin mereka berpikir: jangan-jangan tidak ada lagi orang yang datang ke kelompok kami. Kegelisahan ini dapat dimengerti, karena selama ini sebagai  murid dari seorang guru yang tekenal seperti Yohanes mungkin mereka mendapat previleg dalam masyarakat yang tentunya tidak diinginkan kalau hal itu hilang.

 

Kegelisahaan para murid semakin nampak dalam perdebatan mereka dengan seorang wakil orang Yahudi tentang penyucian:  Apakah penyucian melalui baptisan Yesus lebih berkhasiat dari pada baptisan Yohanes? Para murid membutuhkan penjelasan dari Yohanes tentang si Pembaptis lainnya di sebrang sungai Yordan yakni Yesus yang juga melakukan pelayanan yang sama. Menarik untuk menyimak lebih dalam penjelasan Yohanes tentang si Pembaptis lainnya di seberang sungai Yordan itu . Dalam penjelasannya, Yohanes  sama sekali berbeda dengan para muridnya: Dengan santai ia menjelaskan siapa orang yang mungkin dianggap oleh para murid "saingan" mereka itu. Dalam penjelasan Yohanes tidak terdapat kecemburuan bahwa ada orang lain yang melakukan pelayanan yang sama seperti dia; juga tidak ada kesan memperkecil/mengerdilkan peran si Pembaptis lain itu demi untuk mempertahankan pengikut-pengikut atau murid-muridnya; juga tidak ada kesan bahwa Yohanes merasa takut akan kehilangan wibawa sebagai seorang yang telah diberi kepercayaan dan kuasa tertentu menjadi pemimpin spiritual suatu kelompok; bahkan dalam penjelasan  Yohanes tidak ditemukan persaingan dengan Yesus, sang Pembaptis di sebrang sungai Yordan itu. Ia juga tidak melakukan manuver-manuver untuk mengembalikan para pengikutnya yang meninggalkannya.

 

Sebaliknya, Yohanes sadar akan keterpilihannya sebagai orang yang mempersiapkan kedatangan sang Juruselamat, dan sadar bahwa ia bukan sang Juruselamat itu sendiri. Ia menempatkan diri pada posisi sebagai seseorang yang mendahului Yesus untuk mempersiapkan dunia ini agar mau menerima Yesus Kristus yang adalah Mesias yang dinanti-nantikan. "Aku bukan Mesias" : Pernyataan tegas dan berulang-ulang dari Yohanes pembaptis yang kita temukan juga dalam ayat dan pasal-pasal sebelumnya mengandung makna yang sangat dalam. Pernyataan tegas ini dilandasi oleh kesadaran yang penuh atas panggilannya dan tugas yang diembannya di dunia. Yohanes  bukan Mesias namun menjalankan pelayanan kemanusiaan dan keadilan dengan harga yang sangat mahal yakni nyawanya sendiri. "Aku bukan Mesias" , peryataan ini hendak memberi ketegasan kepada manusia bahwa ada jarak pemisah antara yang diberi tanggung jawab oleh Allah untuk memberi kesaksian dengan isi/ inti kesaksian atau yang disaksikan itu sendiri yaitu Yesus Kristus. Yohanes sadar akan peran dan tugasnya "hanya" sebagai yang memberi kesaksian tentang Injil dan bukan inti berita/injil itu sendiri.

 

Yohannes menyebut dirinya sebagai Sahabat mempelai laki-laki yang suka citanya menjadi sempurna ketika berada didekat sang mempelai yaitu sang Mesias dan mendengar suaranya. Dalam tradisi Yahudi seorang sahabat mempelai laki-laki berfungsi sebagai wakil dalam pelamaran sebuah rencana pernikahan, yang mengutarakan maksud sahabatnya kepada keluarga perempuan. Itu berarti sang sahabat ini harus tampil terlebih dahulu menjelaskan keinginan pelamaran sahabatnya kepada keluarga perempuan, sehingga ketika calon mempelai diterima dan akhirnya duduk bersanding, maka yang turut merasakan kebahagian yang besar adalah sang sahabat itu tadi, karena misinya telah terpenuhi. Demikianlah Yohanes memahami perannya dan amanat yang diberikan Allah kepadanya: bukan sebagai mempelai melainkan sebagai sang sahabat yang mempersiapkan jalan calon mempelai. Dengan tugas yang Allah berikan kepadanya, menjadikan Yohanes tidak angkuh dan menepuk dada,  meskipun ketika orang banyak mulai mengikuti dia.

 

Dari pemahaman diri semacam ini lahir kesadaran diri yang kuat bahwa Yesus lah yang menjadi inti atau pusat dari renacana Agung Allah bagi dunia. Dari kesadaran diri seperti inilah memampukan Yohanes untuk mengatakan "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil": Sang Mesias lah yang harus diagungkan dan bukan dia.

 

Sdr-sdr ykks,

Sebagai gereja (baik sebagai individu dan secara kelompok) kita memperoleh amanat dari Allah untuk turut serta dalam rencana penyelamatanNya, kita dipanggil untuk menyatakan tanda-tanda syaloom Allah, itu berarti kita dipanggil untuk bersaksi tentang Kristus Yesus, sang Mesias. Apa yang kita dapat belajar dari sikap Yohanes sebagai saksi Yesus Kristus di tengah-tengah dunia, sebagai orang yang mempersiapkan kedatangan Yesus sang Juruselamat:

1.       sikap rendah hati dan kejujuran dari Yohanes:

Kenyataan bahwa dunia ini diwarnai oleh persaingan yang sering membawa kepada suatu kehidupan yang semakin keras, tidak damai bahkan tidak jarang kebencian. Ketidak mampuan kita untuk menerima keberhasilan orang lain, atau ketidakmampuan kita untuk mengakui kebaikan orang lain, apalagi orang yang kita rasa adalah saingan atau yang membahayakan posisi kita. Persaingan yang tidak sehat seperti ini ada dimana-mana, dari ruang lingkup yang paling kecil sampai yang besar: dalam keluarga, tetangga, di kantor, antar kelompok. Hubungan antarumat Kristen, antardenominasi tidak luput dari warna persaingan seperti ini. Merasa diri lebih baik dari yang lain (dalam pengalaman berjemaat saya bahkan tidak jarang ada orang yang mulai sinis menanggapi si A ketika si A sudah tidak berhari minggu lagi di jemaat X meskipun gereja yang sama, seakan-akan Roh Kudus hanya ada di jemaat tertentu -bukan saja gereja tertentu apalagi agama tertentu). Mungkin ini kritikan Yohanes juga terhadap kondisi gereja-gereja di Indonesia juga di dunia yang bermimpi tentang oikumene: gereja yang esa sementara sikap masing-masing gereja sangat eksklusif dan masih primordial.

Hubungan antarumat beragama di Indonesia pun di warnai oleh kondisi persaingan seperti ini: satu kelompok beragama akan merasa kuatir, takut bahkan mungkin marah apabila seseorang anggotanya pindah keagama lain. Kuantitas yang dikejar bukan substansi seseorang menjadi orang beragama. Hasilnya adalah rentetan tragedi kemanusiaan disana-sini, saling baku hantam dan saling membunuh atas nama agama.

 

Yohanes mengajar kita selaku gereja, selaku orang yang dipanggil Allah dalam rencana penyelamatan Dunia ini akan tugas sebagai saksi tentang Yesus Kristus, tentang Syalom Allah, tentang damai sejahtera di tengah-tengah dunia. Itu berarti segala sesuatu yang mendatangkan damai sejahtera, kebaikan dan kebajikan di dunia ini bukanlah saingan kita, siapa pun dia dan dari mana pun dia asalnya. Yohanes mengatakan kepada murid-muridnya: "tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga". Artinya Segala sesuatu yang mendatangkan damai sejahtera bagi manusia dan dunia adalah karunia Allah dari Surga, bukanlah dari manusia. Oleh sebab itu Yohanes tidak meragukan pelayanan kemanusiaan dan keadilan yang dikerjakan oleh Yesus sebab Yohanes tahu bahwa pekerjaan yang demikian mendatngkan damai sejahtera bagi manusia dan itu adalah karya Allah.

 

2.       "Aku bukan Mesias" : 

Pernyataan Yohanes yang tegas ini seolah-olah mengkritik keberadaan kita selaku gereja yang cenderung untuk memonopoli hak-hak kemesiasan Kristus. Akibatnya timbul pertikaian antardenominasi gereja karena masing-masing merasa sebagai tujuan dari pelayanan dan bukan sebagai alat Tuhan dalam melayani dunia ini. Tidak jarang kita sebagai gereja menafsirkan diri sebagai Mesias sehingga misalnya perkataan Yesus dalam Yoh. 14 ayat 6  yang mengatakan: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang sampai kepada Bapa. kalau tidak melalui Aku" sering dipahami bahwa gerejalah bukan Yesuslah itupun gereja tertentu jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang masuk sorga tanpa melalui gereja (tertentu). Pemahaman eksklusif seperti ini menjadikan kita berpikir bahwa dengan menjadi kristen (menjadi anggota salah satu gereja) kita akan masuk sorga. Demikian halnya dengan perkataan Yesus dalam Matius 28 ayat 19: "...jadikanlah semua bangsa muridKu..." sering disalahartikan. Pemuridan Yesus sering diidentikkan dengan keanggotaan salah satu gereja: menjadi murid Yesus sama dengan menjadi anggota salah satu organisasi gereja.

 

"Gereja bukan Mesias"  Ini yang hendak dikatakan oleh Yohanes kepada kita. Gereja bukan Mesias ttp ia adalah sahabat Mesias, sahabat mempelai laki-laki yang mempropagandakan calon mempelai agar maksud kehadiran sang Mempelai dimengerti oleh dunia. Gereja adalah sahabat yang mempopagandakan kehadiran sang Juruselamat bagi Dunia dan bukan sang Juruselamat itu sendiri. Disini perbedaan mendasar yang hendak ditunjukkan oleh Yohanes dengan pernyataannya yang tegas dan berulang-ulang itu. Kesadaran akan perbedaan ini sangatlah penting dalam pelayanan gereja untuk tidak menepuk dada akan keberhasilan yang diperoleh tetapi juga tidak patah semangat ketika menghadapi kendala dalam pelayanan dan kesaksiannya. Yohanes tetap melayani manusia dan tetap menjalankan amanat Allah sampai akhirnya kenyataan tragis mendatanginya akibat kelicikan dan kebencian seorang perempuan muda.

 

Dengan kesadaran seperti ini maka gereja Tuhan diseluruh dunia akan mengalami suka cita yang sempurna ketika maksud sang Mempelai laki-laki, sang Mesias tercapai yakni suatu kehidupan di dunia yang diliputi dengan kedamaian dan keadilan, keselamatan dan kesejahteraan lahir dan batin. Gereja Tuhan tidak akan menayakan siapa dan dari mana atau dari kelompok mana mereka yang berjuang untuk kehidupan seperti ini, melainkan akan bersama-sama dalam arak-arakan perjuangan demi untuk kemanusiaan, perdamaian dan keadilan.

 

3.       "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil":

Hanya dengan berbekal kesadaran akan panggilan Tuhan sebagai saksi yang tidak mengambil hak-hak kemesiasan Allah itu sendiri, kita selaku gereja akan bersedia untuk menyaksikan karya Allah di dunia ini yang akan dianggungkan dan di puji dan memampukan kita untuk mengatakan pada diri kita sendiri: "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil": 

 

 

 

Sdr-sdr ykks,

Apa yang perlu kita siapkan dalam memperingati kehadiran sang Raja Damai di dunia ini. Mungkin sudah saatnya kita bercermin pada sikap Yohanes tadi. Kesibukan kita di minggu-minggu adven ini tidak jarang lebih mengarah pada upaya untuk membesarkan diri: kita sibuk dengan diri kita sendiri, jemaat kita sendiri, gereja kita sendiri. Sejumlah kegiatan-kegiatan yang arahnya hanya untuk memuaskan kepentingan sendiri. Tidak jarang kita meninggalkan Yesus sendiri dalam palungannya. Kita sibuk menghiasi rumah, mencat baru rumah atau gedung gereja, dan kesibukan lainnya.

Yohanes ingin mengajak kita untuk mendandani pelayanan kita agar lebih berarti bagi dunia ini, agar kehadiran Syalom Allah dirasakan oleh dunia di sekitar kita. Agar sang Mempelai dapat dimuliakan melalui pelayanan kita. Gereja harus makin kecil. Amin

 

 

 

 

.