BAJI DAKKA  ~ Internet Pages Theological Seminary of Eastern Indonesia Makassar

Masalah Sosial Kemanusiaan
sebagai Pokok Kajian dalam Penulisan Skripsi Teologi

oleh  Pdt. Dr. Zakaria J. Ngelow

index
Kampus Baji Dakka,
25 Maret 2000

1. Hakekat:
Suatu skripsi sarjana teologi
 merupakan karya ilmiah teologis yang memberi sumbangan bagi:

* kepekaan intelektual
 terhadap problema sosial-kemanusiaan

* pengembangan wawasan teologi,
 yang mengaitkan
 ketajaman analisis ilmiah, praksis sosial, dan refleksi teologis;

* pemahaman dan pelaksanaan
 panggilan pelayanan gereja.
 

2. Sifat:

Penulisan suatu Skripsi
mengungkapkan:

* kepekaan spiritual
 terhadap problema aktual sosial - kemanusiaan,
* kemampuan ilmiah menganalisis secara
 multi-prespektif faktor-faktor penyebabnya,

* kejelian dan kreatifitas merumuskan solusinya, dan

* kedalaman wawasan teologi
 dalam merefleksikan
 baik bingkai teologis persoalannya,
 maupun norma dan panggilan etis di dalamnya

 Jadi, 3 langkah saja:

   analisis masalah
   usulan solusi
   refleksi teologi

3. Setting

Problema sosial-kemanusiaan
ditemukan dalam perjuangan umat manusia
 untuk mewujudkan kehidupan yang utuh: merdeka, adil, damai, sejahtera dan lestari;
atau dalam
 pergumulan pelayanan gereja untuk menampakkan tanda-tanda kerjaan Allah.

4. Analisis multi-perspektif
adalah menguraikan dinamika dan kaitan faktor-faktor penyebab dan atau penunjang muncul dan meluasnya suatu masalah
dari beberapa sudut pandang untuk mengidentifikasi
apa-siapa-kapan-dimana-mengapa-bagaimana
kompleksitas bangunan suatu masaalah sosial-kemanusiaan.

5. Faktor-faktor
agama, alam, ekonomi, iptek, kebudayaan, politik, sejarah, dan sumber daya manusia berperan serentak dan saling kait dalam suatu masalah sosial-kemanusiaan. Maka penting meninjaunya dari setiap sudut pandang itu.

6. Pemecahan
Analisis yang berhasil mengidentifikasi faktor-faktor penyebab suatu persoalan mengarahkan pada titik-titik pemecahannya. Pemecahan suatu masalah meliputi: prinsip-prinsipnya, sasaran berjangka, bentuk tindakan, dan (para) pelakunya. Jika telah ada dijalankan, perlu dievaluasi secara kritis-obyektif sebab-sebab kegagalan dan hasil-hasil yang dicapai suatu penanganan terhadap masaalah yang dibahas.

7. Aktifitas gereja
Sebagai karya ilmiah-teologis, pemecahan difokuskan pada aktifitas gereja, baik pada lingkup pemahaman teoritis (teologi) maupun penanganan operasional, yang dapat mengambil bentuk tindakan pendidikan, pastoral, profetik-missioner, maupun diakoni sosial, dengan memperhatikan pendekatan pendampingan (advocacy) dan pemberdayaan (empowerment), serta jaringan kemitraan (partnership networking).

8. Ciri
Skripsi sarjana teologi
pada level S-1 bersifat studi teologi secara umum yang menggabungkan semua aspek dalam ensiklopedi teologi. Maka seharusnya nyata dalam skripsi adanya penguasaan aspek-aspek teologi –sejauh disinggung dalam uraian-- baik pada dataran sumber (teks Kitab Suci ) dan ajaran maupun pada praksis gereja (pendidikan, pastoral, aksi profetik dan diakonia).
 

8. Fokus
Suatu bidang studi teologi
seperti Dogmatika, Etika, Misiologi, Pastoral, PAK, Sejarah Gereja, dst. berfungsi sebagai fokus atau perspektif pembahasan pada bagian refleksi teologis. Rujukan Biblika suatu keniscayaan dalam setiap refleksi teologis.

9. Refleksi teologis
adalah menempatkan pemahaman suatu pokok persoalan dalam kerangka karya Allah dalam Kristus terhadap manusia dan seluruh ciptaan, untuk menyaksikan tindakan kasih dan penebusan Allah dalam sejarah yang memanggil manusia sekaligus sebagai obyek dan subyek dalam tindakan Ilahi itu. Dan karena adanya panggilan itu, maka refleksi teologis mengandung pula panggilan keterlibatan (imperatif) dan penilaian secara normatif atas bentuk, cara dan tujuan aktifitas manusia.

10. Teks Biblika.
Pada level S-1 teologi studi teks Alkitab sebaiknya bersifat terapan, dalam arti menempatkan permasaalahan sosial-kemanusiaan masa kini dalam teks pilihan. Tentu perlu dihindari kecenderungan eisegesis. Yang dapat dicakup dalam studi seperti ini adalah menemukan ide pokok yang dapat menjadi dasar, norma atau bingkai bagi suatu refleksi teologis.

11. Pokok Sejarah (Gereja).
Sesuai sifat dasarnya, pengetahuan sejarah memberi suatu peta yang dapat menjadi pegangan dalam perjalanan panggilan gereja, atau pelajaran berharga mengenai masalah-masalah yang dihadapi gereja (dan masyarakat) pada masa lalu di berbagai tempat dan jawaban-jawaban yang mereka berikan dalam memenuhi panggilan kemitraan Allah.

12. Panggilan kita para (calon) teolog, bukanlah untuk menyelesaikan masalaah-masalah sosial kemanusiaan, melainkan mengikuti jejak para nabi: menyuarakan kebenaran yang mengarahkan perjalanan umat manusia di belantara kehidupan.

* * *

index