Masalah Sosial Kemanusiaan
sebagai Pokok Kajian dalam Penulisan Skripsi
Teologi
oleh Pdt. Dr. Zakaria J. Ngelow
Kampus Baji Dakka,1. Hakekat:
Suatu skripsi sarjana teologi
merupakan karya ilmiah teologis
yang memberi sumbangan bagi:
* kepekaan intelektual
terhadap problema sosial-kemanusiaan
* pengembangan wawasan teologi,
yang mengaitkan
ketajaman analisis ilmiah, praksis
sosial, dan refleksi teologis;
* pemahaman dan pelaksanaan
panggilan pelayanan gereja.
2. Sifat:
Penulisan suatu Skripsi
mengungkapkan:
* kepekaan spiritual
terhadap problema aktual sosial
- kemanusiaan,
* kemampuan ilmiah menganalisis secara
multi-prespektif faktor-faktor penyebabnya,
* kejelian dan kreatifitas merumuskan solusinya, dan
* kedalaman wawasan teologi
dalam merefleksikan
baik bingkai teologis persoalannya,
maupun norma dan panggilan etis
di dalamnya
Jadi, 3 langkah saja:
analisis masalah
usulan solusi
refleksi teologi
3. Setting
Problema sosial-kemanusiaan
ditemukan dalam perjuangan umat manusia
untuk mewujudkan kehidupan yang
utuh: merdeka, adil, damai, sejahtera dan lestari;
atau dalam
pergumulan pelayanan gereja untuk
menampakkan tanda-tanda kerjaan Allah.
4. Analisis multi-perspektif
adalah menguraikan dinamika dan kaitan
faktor-faktor penyebab dan atau penunjang muncul dan meluasnya suatu masalah
dari beberapa sudut pandang untuk mengidentifikasi
apa-siapa-kapan-dimana-mengapa-bagaimana
kompleksitas bangunan suatu masaalah sosial-kemanusiaan.
5. Faktor-faktor
agama, alam, ekonomi, iptek, kebudayaan,
politik, sejarah, dan sumber daya manusia berperan serentak dan saling
kait dalam suatu masalah sosial-kemanusiaan. Maka penting meninjaunya dari
setiap sudut pandang itu.
6. Pemecahan
Analisis yang berhasil mengidentifikasi
faktor-faktor penyebab suatu persoalan mengarahkan pada titik-titik pemecahannya.
Pemecahan suatu masalah meliputi: prinsip-prinsipnya, sasaran berjangka,
bentuk tindakan, dan (para) pelakunya. Jika telah ada dijalankan, perlu
dievaluasi secara kritis-obyektif sebab-sebab kegagalan dan hasil-hasil
yang dicapai suatu penanganan terhadap masaalah yang dibahas.
7. Aktifitas gereja
Sebagai karya ilmiah-teologis, pemecahan
difokuskan pada aktifitas gereja, baik pada lingkup pemahaman teoritis
(teologi) maupun penanganan operasional, yang dapat mengambil bentuk tindakan
pendidikan, pastoral, profetik-missioner, maupun diakoni sosial, dengan
memperhatikan pendekatan pendampingan (advocacy) dan pemberdayaan (empowerment),
serta jaringan kemitraan (partnership networking).
8. Ciri
Skripsi sarjana teologi
pada level S-1 bersifat studi teologi
secara umum yang menggabungkan semua aspek dalam ensiklopedi teologi. Maka
seharusnya nyata dalam skripsi adanya penguasaan aspek-aspek teologi –sejauh
disinggung dalam uraian-- baik pada dataran sumber (teks Kitab Suci ) dan
ajaran maupun pada praksis gereja (pendidikan, pastoral, aksi profetik
dan diakonia).
8. Fokus
Suatu bidang studi teologi
seperti Dogmatika, Etika, Misiologi, Pastoral,
PAK, Sejarah Gereja, dst. berfungsi sebagai fokus atau perspektif pembahasan
pada bagian refleksi teologis. Rujukan Biblika suatu keniscayaan dalam
setiap refleksi teologis.
9. Refleksi teologis
adalah menempatkan pemahaman suatu pokok
persoalan dalam kerangka karya Allah dalam Kristus terhadap manusia dan
seluruh ciptaan, untuk menyaksikan tindakan kasih dan penebusan Allah dalam
sejarah yang memanggil manusia sekaligus sebagai obyek dan subyek dalam
tindakan Ilahi itu. Dan karena adanya panggilan itu, maka refleksi teologis
mengandung pula panggilan keterlibatan (imperatif) dan penilaian secara
normatif atas bentuk, cara dan tujuan aktifitas manusia.
10. Teks Biblika.
Pada level S-1 teologi studi teks Alkitab
sebaiknya bersifat terapan, dalam arti menempatkan permasaalahan sosial-kemanusiaan
masa kini dalam teks pilihan. Tentu perlu dihindari kecenderungan eisegesis.
Yang dapat dicakup dalam studi seperti ini adalah menemukan ide pokok yang
dapat menjadi dasar, norma atau bingkai bagi suatu refleksi teologis.
11. Pokok Sejarah (Gereja).
Sesuai sifat dasarnya, pengetahuan sejarah
memberi suatu peta yang dapat menjadi pegangan dalam perjalanan panggilan
gereja, atau pelajaran berharga mengenai masalah-masalah yang dihadapi
gereja (dan masyarakat) pada masa lalu di berbagai tempat dan jawaban-jawaban
yang mereka berikan dalam memenuhi panggilan kemitraan Allah.
12. Panggilan kita para (calon) teolog, bukanlah untuk menyelesaikan masalaah-masalah sosial kemanusiaan, melainkan mengikuti jejak para nabi: menyuarakan kebenaran yang mengarahkan perjalanan umat manusia di belantara kehidupan.
* * *