Menyambut Milenium Baru
Zakaria J. Ngelow
.Kekacauan yang lebih dahsyat diramalkan para penganut agama yang menjadikan pergantian milenium sebagai ajang spekulasi yang dikaitkan dengan penggenapan nubuatan-nubuatan kitab suci mengenai hari kiamat. Tahun 2000 mereka yakini sebagai awal masa perwujudan nubuatan mnengenai kerajaan seribu tahun, sebagaimana dinubuatkan dalam Wahyu fasal 20. Menjelang tanggal 9 September lalu (perhatikan angka 9-9-1999; adakah hubungannya dengan angka 666 dalam Wahyu 13:18?) disebarkan isu bahwa itulah tanggal hari kiamat yang diterima banyak orang tanpa akal sehat. Majalah Newsweek, edisi 15 November 1999, melaporkan adanya "millennial madness" dan "Jerusalem syndrome" yang terkait dengan tindakan-tindakan orang-orang yang datang ke Yerusalem memprovokasi kerusuhan yang mereka lakukan untuk mempercepat kedatangan Kristus pada awal milenium ke-3 yang segera akan tiba.
Kiamat, sebagaimana dinubuatkan dalam kitab suci, didahului berbagai bencana alam, kelaparan, peperangan dan penderitaan serta pemberitaan nabi-nabi palsu, lalu kedatangan Tuhan dalam kemuliaan-Nya. Kiamat bisa diramalkan, namun bukan karena bilangan angka waktu secara spekulatif seperti itu, dan datangnya bukan pula dari luar, dari dunia supernatural. Kiamat dapat terjadi berupa kebinasaan kehidupan secara perlahan-lahan karena kerusakan ekologi yang tak terbendung, atau karena wabah penyakit seperti HIV/AIDS yang tak tersembuhkan; dapat pula dengan sangat cepat karena perang nuklir. Kiamat dalam persepsi teologi yang sehat pertama-tama menunjuk pada life time ciptaan: ada awal dan ada akhir. Dan dalam kaitan itu orang hidup dalam orientasi ke masa depan, yakni kehidupan abadi setelah ciptaan yang fana ini berakhir, yang ditandai dengan kedatangan Tuhan untuk mengadili dan memberi upah kepada setiap orang sesuai perbuatannya (lihat Matius 25 band. 7:21-23). Kiamat, karena itu, menjadi horizon dari samudra kehidupan yang dilayari dengan penyerahan dan pengharapan kepada Tuhan dalam tindakan-tindakan yang dimotivasi dan dipertanggungjawabkan secara religius.
Dalam perspektif itu, kehidupan duniawi ini sendiri --bukan kehidupan abadi mendatang– yang sungguh bermakna. Pertama-tama karena dalam kehidupan ini manusia memperoleh kesempatan untuk dengan bebas dan kreatif menjalani hidupnya yang diberikan Tuhan. Juga, karena dalam horizon masa hidup pribadi itu seseorang terpanggil berpartisipasi dalam rentang sejarah umat manusia untuk saling melayani dan bersama-sama membangun kehidupan kemanusiaan yang bermartabat, yaitu yang berlangsung dalam keadilan, perdamaian dan keutuhan alam ciptaan. Dan kehidupan lebih bermakna lagi karena panggilan membangun kehidupan itu ternyata berhadapan dengan kuasa-kuasa yang ingin membinasakannya, yang memang cukup menggoda atau mempesona manusia. Dengan kata lain, kedalaman makna kehidupan dibentuk oleh kenyataan bahwa manusia diperhadapkan pada pilihan menyelamatkan kehidupan atau membinasakannya. Salah satu dasar teologis di balik pemahaman ini adalah kasih karunia Allah sendiri yang merentang sejarah dan memberi manusia berperan di dalamnya.
Pada millenium pertama agama Kristen, yang muncul dan berkembang di pusat peradaban Mediterranian, mula-mula ditolak dan ditindas, namun perlahan-lahan masuk ke jantung kekuasaan dunia dan bahkan berusaha merebut kekuasaan dari tangan kaisar. Pada hari Natal, 25 Desember tahun 800, Sri Paus memahkotai Karel Agung selaku pertanda supremasi gereja atas negara, yang ternyata tetap menimbulkan konflik sampai akhir abad-abad pertengahan. Sejak abad ke-6 kelompok bangsa-bangsa terpenting di Eropa dikristenkan, tetapi di fihak lain perkembangan Islam yang muncul pada abad ke-6 makin serius menyapu lenyap pusat-pusat Kekristenan di Timur Tengah dan Afrika Utara. Pada aspek rohaninya, Injil meretas jalannya ke dalam pemikiran metafisik Hellenisme dan mengintegrasikan berbagai simbol non-Kristen ke dalam bangunan keagamaannya.
Abad pertama milenium kedua diakhiri dengan agresi militer dunia Barat Kristen ke Palestina, untuk membebaskan tempat-tempat suci di Palestina dari kekuasaan Islam. Perang Salib, sebagaimana rangkaian agresi itu dikenal, berlangsung beberapa kali pada abad ke-12 dan ke-13, yang lebih merupakan eksploitasi agama untuk kepentingan-kepentingan politik daripada kepentingan agama yang sebenarnya. Para ahli sejarah menemukan aspek-aspek positif bentuk negatif perjumpaan Barat Kristen dan Islam itu di bidang kebudayaan dan ekonomi, selain permusuhan yang diwariskannya. Di bidang teologi sejumlah tokoh pemikir Kristen abad-abad pertengahan, seperti Anselmus dan Thomas Aquino, memajukan teologi Kristen. Tetapi gereja terbawa dalam arus keberagamaan ritual dengan tatanan pemikiran dan organisasi yang kaku, yang akhirnya menampilkan reaksi pembaharuan (Reformasi) dari dalam, dan proses sekularisasi dari dunia ilmu pengetahuan dan ketatanegaraan. Visi Agustinus mengenai sejarah dunia yang lama mewarnai sejarah Barat meredup, sejarah dunia bukan lagi perkembangan kota ilahi di dunia yang kokoh menjadi patokan semua aspek peradaban. Maka parohan kedua milenium kedua menyaksikan perkembangan Kekristenan yang pada satu fihak makin kehilangan dominasinya atas berbagai aspek kehidupan sosial, namun menyebar ke seluruh dunia bersamaan dengan ekspansi dunia Barat.
Sejarah dunia mengakhiri milenium ke-2 dengan memasuki era globalisasi, yang pada tahapnya dewasa ini berjalan timpang sebagai dominasi bangsa-bangsa yang maju atas yang masih terbelakang. Sementara itu, kesadaran dan desakan untuk suatu tata dunia yang adil dan demokratis, dan tantangan-tantangan yang muncul dari ledakan penduduk, krisis ekonomi, dsb menampilkan kenyataan dunia yang makin rawan. Kita menyaksikan kemajuan pesat ilmu dan teknologi dalam beberapa abad terakhir, namun membawa dalam dirinya sekaligus berkat dan bencana bagi umat manusia. Ilmu dan teknologi menjadi senjata pamungkas di tangan segelintir kecil orang bermodal untuk mengeksploitasi bagian terbesarnya, sebagaimana bangsa-bangsa maju terhadap yang belum maju. Milenium ketiga mungkin akan makin membeberkan kecanggihan akal manusia, namun tidak menjamin makin membaiknya juga martabat manusia.
Dalam masyarakat kita dewasa ini kita prihatin atas krisis ekonomi yang mempersulit kehidupan banyak orang, atas krisis moral yang meluas di perkotaan sampai pedesaan, dan krisis politik yang mengorbankan rakyat kecil. Makin meluasnya pecandu narkoba, minuman keras, dan tindak kekerasan adalah tanda-tanda kebingungan banyak orang mengalami krisis makna kehidupan.
Agama-agama yang tumbuh dan berkembang dalam dua milenia lebih sering berhadap-hadapan sebagai rival, dan kini diperhadapkan pada kenyataan sejarah umat manusia yang mendesakkan peran agama-agama selaku pembina nilai-nilai persaudaraan, pelayanan, pengorbanan serta pengharapan kepada Tuhan. Sebab itu agama-agama didesak memasuki era dialog. Dialog perlu berlangsung secara mendasar dan jujur antarumat berbeda agama, antara umat beragama dengan para pengembang dan penentu aplikasi teknologi, dan terutama dengan para penentu kebijakan yang meliputi banyak orang dan dengan dampak jangka panjang di bidang ekonomi, politik dan sosial. Juga pengembangan dan aplikasi substansi agama-agama wajib mendialog secara kritis perkembangan dalam masyarakat, yang makin cenderung memenangkan kekuatan-kekuatan anti kehidupan. Mungkin saja dialog itu akan mengubah wajah agama-agama dan memberinya substansi yang cocok mendampingi manusia milenium ke-3. Tanpa reformasi agama akan tersisih.
Ajakan moral seperti ini, --untuk mendorong atau memotivasi para pemimpin dan penganut agama-agama untuk bertindak pro-aktif menghadapi tantangan kehidupan-- bukanlah suatu optimisme semu yang didasarkan pada potensi keberagamaan manusia, sebagaimana optimisme semu pada potensi keilmuannya. Agama justru bicara tentang kerapuhan manusia, tentang ketakberdayaan dan kemalangannya. Ada kuasa dosa yang memperbudak manusia. Maka agama menekankan supaya manusia berpaling dari dirinya dan berharap pada Tuhan semata. Harapan itulah yang menjadikan tindakan dan upaya-upaya manusia bermakna, yakni karena Tuhan berkenan mendukung kehidupan dan bahkan memberinya dimensi keabadian, melampaui semua bencana dan kebinasaan yang dapat dibayangkan orang akan terjadi pada hari kiamat. Inkarnasi Ilahi dalam kelahiran Yesus Kristus yang kita rayakan hari-hari ini adalah maklumat dukungan Allah terhadap kehidupan: Immanuel, Allah beserta kita ...
Dimuat dalam Harian SUARA PEMBARUAN, 31 DESEMBER 1999