Jurnal Intim Ed. 3

Renungan II Raja-raja 12:1-16

Dana Renovasi Rumah Tuhan yang Dikorupsi

oleh Aguswati Hildebrandt Rambe

 

Saudara-saudari yang kekasih,

Untuk memahami teks II Raja-Raja 12 ayat 11 - 20, kita seharusnya membaca seluruh perikop pasal 12. Perikop ini menceritakan kisah seorang raja muda bernama Yoas. Ketika Yoas diangkat menjadi raja, ia masih berusia 7 tahun. Program utama yang dicanangkan olehnya adalah pembangunan/ renovasi rumah Tuhan. Yoas mempercayakan panitia renovasi tersebut kepada para Imam. Mulai saat itu dikumpullah dana untuk renovasi rumah Tuhan (ay. 4)

23 tahun lamanya panitia mengumpulkan dana namun tak satupun kerja panitia pembangu-nan yang kelihatan, tak satupun bagian dari rumah Tuhan yang direnovasi. Dengan kata lain uang – uang yang terkumpul habis begitu saja dan tidak diketahui untuk apa pemakaiannya. Yoas akhirnya mempertanyakan pertanggungjawaban panitia atas kepercayaan yang diberikannya selama ini. Keputusan yang tegas diambil oleh Yoas yakni memecat mereka dari kepanitiaan dan menarik hak – hak mereka untuk mengumpulkan dana lagi dan bekerja sebagai panitia. Ketegasan sikap Yoas disusul dengan usaha pembaharuan dalam mengumpulkan dana. Selama 23 tahun para imam menerima uang dari kenalan mereka masing – masing dan menggunakan uang tersebut dimana dan kapan saja menurut apa yang mereka rasa perlu. Praktek nepotisme yang lalu itu tidak lagi diperbolehkan oleh Yoas dan sebagai gantinya diberlakukanlah kotak persembahan yang diletakkan di dekat mezbah di dalam rumah Tuhan. Dengan demikian setiap orang diberi kesempatan untuk memberikan secara langsung ke kotak yang telah disediakan untuk renovasi rumah Tuhan.

Reformasi yang dilakukan oleh Yoas terjadi juga dalam hal pengaturan dan pemanfaatan uang yang terkumpul. Yoas memberlakukan perhitungan uang secara transparan (bersama – sama). Setiap kali kalau kotak persembahan itu telah penuh, kotak persembahan itu dibuka dan dihitung bersama-sama. Disamping itu ia pun mengatur upah para tukang secara adil dan menentukan uang persembahan yang mana untuk para imam (ay. 16). Disini Yoas memberlakukan aturan yang jelas tentang penggunaan uang.

Saudara-saudari yang kekasih,

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah para leluhur iman kita seperti kisah raja Yoas. Satu hal yang paling menonjol yang dibicarakan dalam perikop pembacaan kita adalah masalah uang dan tanggung jawab pemakaiannya untuk pelayanan -dalam konteks perikop kita yakni untuk perbaikan rumah Tuhan. Uang merupakan suatu hal yang penting dalam menunjang pelayanan namun sering menjadi tabu untuk dibicarakan dalam kebaktian (khotbah). Mentabukan masalah uang itu berarti secara tidak langsung juga kita mengarah kepada upaya melanggengkan praktek – praktek yang tidak benar dan yang tidak bertanggungjawab dalam pemakaian uang.

Hal mentabukan tema pembicaraan tentang uang dalam khotbah, mungkin didasari oleh pemahaman bahwa di dalam gereja yang dibicarakan hanyalah masalah iman dan iman tidak berhubungan dengan uang. Atau ada juga yang mengatakan bahwa yang dapat dibicarakan dalam gereja atau dalam khotbah – khotbah adalah masalah rohani dan uang tidak termasuk didalamnya, uang termasuk dalam kategori duniawi yang cenderung kita bicarakan setelah kebaktian atau hanya pada rapat – rapat majelis atau panitia pembangunan saja.

Kisah raja Yoas mematahkan praktek mentabukan masalah uang dalam khotbah – khotbah dan sekaligus membantu gereja – gereja masa kini untuk belajar secara bertanggung jawab dan transparan dalam hal pemakaian uang dalam pelayanan. Kisah raja Yoas ini juga mengajar kepada gereja – gereja masa kini, dan kepada kita semua bahwa persoalan pemakaian uang adalah bagian dari iman karena ia berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap Allah dan sesamanya. Oleh sebab itu perlu dan wajar untuk dijadikan tema dalam terang Firman Allah.

Saudara-saudari yang kekasih,

Ditengah – tengah krisis kepercayaan yang melanda bangsa kita secara khusus isu yang tengah hangat saat ini seperti Bulog Gate dan sejumlah „gate-gate" lainnya serta kasus suap di lembaga-lembaga perwakilan rakyat yang sarat dengan muatan politik, mungkin kita terpanggil untuk kembali merenungkan sejauh mana kepercayaan dan kejujuran dalam pelayanan gereja selama ini dan apa kontribusi gereja dalam rangka pemulihan krisis kepercayaan yang melanda bangsa kita. Krisis kepercayaan sayangnya tidak saja melanda perpolitikan kita dewasa ini tetapi hampir seluruh aspek kehidupan termasuk di dalam kinerja dan pelayanan gereja – gereja dewasa ini. Korupsi dan nepotisme tidak saja terdapat dalam kinerja pemerintahan melainkan juga mau atau tidak kita harus mengakui bahwa KKN juga terjadi dalam kinerja dan pelayanan gereja – gereja. Yang lebih parah adalah praktek tersebut dibungkus dengan prinsip kasih dan saling percaya sebagai satu saudara dalam iman yang telah disalahgunakan dan dieksploitasi maknanya. Bungkusan ini cukup tebal sehingga memperparah keadaan sehingga sulit untuk di terobos. Firman Allah kali ini mencoba untuk membobol bungkusan ini dan mengajak kepada gereja – gereja untuk bekerja secara jujur dan transparan.

Mari kita melihat bagaimana Yoas dalam empat puluh tahun masa pemerintahannya mengatasi krisis kepercayaan yang melanda negrinya pada waktu itu ketika para imam tidak menjalankan tugas yang ia berikan untuk merenovasi rumah Tuhan. Pertama – tama yang dilakukan oleh Yoas adalah membaharui cara kerja para imam. Praktek KKN yang dijalankan oleh para imam selama itu dirubahnya menjadi praktek transparansi. Kalau dulunya para imam dengan leluasa menggunakan uang jemaat tanpa kontrol, maka Yoas memberlakukan sistim kontrol bersama. Hanya dengan demikian maka pekerjaan merenovasi rumah Tuhan berjalan secara baik dan bertanggung jawab. Dari sini kita belajar bahwa pelayanan bukan hanya masalah kasih yang tidak memerlukan ketegasan dan kontrol. Namun sebaliknya dalam rangka tanggung jawab kepada Dia yang memberikan pekerjaan dan untuk Dia pekerjaan itu dan dalam rangka tanggung jawab kepada sesama maka Yoas melihat urgensi ketegasan dan kontrol dalam pekerjaan tersebut. Yoas bahkan tidak segan-segan memecat para imam dari kepanitiaan mereka sebagai yang bertanggung jawab dalam pembangunan rumah Tuhan.

Hal lain yang menjadi bagian dari reformasi Yoas adalah prinsip keadilan dalam pelayanan. Kalau selama 23 tahun Yoas membiarkan sentralisasi pekerjaan hanya pada para imam: para imam yang diberikan kepercayaan menerima dan mengelola keuangan, maka pada era reformasi Yoas membagi pekerjaan renovasi rumah Tuhan dan upah kerja secara adil. Perubahan ini didasari oleh kenyataan bahwa sentralisasi dapat mengakibatkan arogansi pada kelompok tertentu yang merasa dialah yang terpenting dalam seluruh pekerjaan (pelayanan) ini juga berarti sentralisasi mengecilkan peran para pekerja lainnya dan masyarakat (jemaat) secara umum yang pro aktif dalam pelayanan. Upaya Yoas ini secara tidak langsung mematahkan struktur – struktur yang kaku dalam masyarakat (jemaat) dan mengembalikan peran masing – masing elemen dalam masyarakat (jemaat). Upaya Yoas ini bahkan memberi makna yang baru bagi semua peran (sekecil apa pun dia): „masing – masing memperoleh upah sesuai dengan karya dan kerjanya".

Aspek lainnya yang ditekankan dalam reformasi Yoas ini adalah aspek kejujuran. Dalam ayatnya yang ke 15 disana dijelaskan bahwa para tukang bekerja dengan jujur, sehingga tidak diperlukan pemeriksaan atau perhitungan terhadap mereka. Prinsip kerja dan pelayanan yang transparan menuntut kejujuran dan kejujuran itu berkaitan dengan hati nurani.

Dalam merenovasi rumah Tuhan aspek yang ditekankan oleh Yoas dalam hal ini adalah aspek kesederhanaan: „Tak ada perkakas emas atau perak" demikian dijelaskan dalam ayat 13. Sejenak kita melihat bagaimana keberadaan gereja – gereja di Indonesia yang cenderung untuk menjadikan pembangunan gereja sebagai ajang perlombaan dan ajang pertunjukkan kehebatan dan kemampuan yang dimiliki tiap – tiap gereja (jemaat). Pemborosan dan kemewahan yang nampak dalam bangunan – bangunan gereja tidak jarang memicu kecemburuan sosial dikalangan saudara – saudara yang berkeyakinan lain. Kecemburuan ini mengarah kepada kebencian dan pada akhirnya tidak jarang membuahkan tindakan – tindakan yang brutal berupa pengrusakkan gedung gereja. Firman Allah melalui kisah pengalaman iman seorang Raja yang bernama Yoas menawarkan bentuk beriman lainnya yakni kesederhanaan. Kesederhanaan ini tidak saja diwujudnyatakan melalui kehadiran gereja – gereja yang hidup yakni kita semua melainkan juga melalui kehadiran gedung – gedung gereja.

Disaat bangsa kita dilanda krisis ekonomi yang berkepanjangan, disaat jurang antara kaya dan miskin semakin besar, bentuk kehadiran yang sederhana ini sepertinya merupakan alternatif yang dapat menyejukkan. Dengan demikian Yoas bukan saja mematahkan prinsip pemborosan dan kemegahan demi untuk pelayanan-pelayanan fisik seperti pembangunan rumah Tuhan, melainkan juga mematahkan cara beriman simbolistik.

Saudara-saudari yang kekasih,

Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari pengalaman iman para leluhur iman kita seperti Yoas kali ini:

1. Dalam kinerja dan pelayanannya, gereja dituntut tanggung jawab yang menyeluruh yakni tanggung jawab kepada Allah dan tanggung jawab kepada sesama. Olehnya itu di setiap aspek pelayanan prinsip – prinsip yang mendasari kerja dan pelayanan kita harus bermuara pada prinsip keadilan, kejujuran dan kasih yang bertanggungjawab serta kesederhanaan.

2. Gereja – gereja harus berani dan tegas memprakarsai pembaharuan dalam masyarakat yang dimulai dengan pembaharuan kedalam, pembaharuan sistim pelayanan yang bermuara pada prinsip keadilan, kejujuran dan kasih yang bertanggungjawab serta kesederhanaan.

Pdt. Aguswati Hildebrandt Rambe M.A.

adalah dosen STT Intim dalam bidang Agama Islam dan Dialog dengan Budaya & Agama-agama