Lukas
10: 1 – 12 [1]
Sdr-sdr ykks,
Di minggu ke-2 setelah Paskah ini, GPIB mengangkat perikop ini sebagai bahan khotbah: Kisah mengenai pengutusan 70 orang murid Yesus ke daerah – daerah atau tempat – tempat yang akan dikunjungi oleh Yesus. Pengutusan ini semacam persiapan atas kedatangannya. Pada Perikop sebelumnya yaitu pada Lukas 9: 1 – 6 dikisahkan tentang pengutusan 12 murid Yesus. Menarik untuk disimak bahwa kedua kisah pengutusan ini baik dalam pasal 10 sebagaimana telah kita dengarkan tadi maupun dalam pasalnya yang ke-9 memiliki kesamaan penekanan yakni apa tujuan pengutusan itu sendiri, bagaimana perilaku atau sikap sebagai utusan dalam menjalankan misi Allah dan bagaimana sikap menghadapi resiko penolakan. Ketiga aspek inilah yang hendak saya tekankan dalam mengantar kita semua untuk memahami kehendak Allah dalam kesaksian Lukas tersebut.
Dikisahkan dalam pembacaan kita tadi bahwa Tuhan Yesus mengutus ke-70 orang muridNya untuk mendahului Dia. Dalam persiapan (pembekalan) pengutusan tersebut, Tuhan Yesus memberi wejangan atau nasehat dan arahan kepada utusan – utusanNya (para misionar). Salah satu arahan TY adalah peringatan bahwa tugas yang diemban bukanlah hal yang tidak mengandung resiko. Resiko sebagai “anak domba yang berada di tengah – tengah serigala”. Resikonya mungkin bukan saja penolakan melainkan juga lebih dari itu, mungkin pula ancaman yang besar oleh sebab itu diperlukan kesiapan dan kesadaran akan adanya tantangan dalam perjalanan mereka.
Selain itu TuhanYesus pun memberi sejumlah peringatan dengan menggunakan kata tiga kali “jangan”, a.l: “jangan membawa bekal apapun, jangan memberi salam diperjalanan dan jangan berpindah – pindah rumah. Tugas utama mereka adalah menyatakan Damai sejahtera dan pelayanan kasih berupa penyembuhan penyakit. Dalam mengemban tugas ini Tuhan Yesus mengajar mereka bagaimana seharusnya bersikap sebagai utusan Allah. Salah satu sikap yang diajarkan Yesus kepada mereka adalah kesediaan untuk menerima pelayanan atau “berkat” yang disediakan oleh tuan rumah dimana mereka berada sehingga sebagai utusan yang diberi tugas untuk melayani mereka pun bersedia untuk menerima pelayanan dari orang lain.
Sdr-sdr ykks,
Tuhan Yesus menunjuk 70 murid. “Tujuh puluh orang murid”: Angka ini tidak terlalu populer dibanding dengan jumlah “12” murid yang sering ditekankan dalam pemberitaan ke-4 Injil. Angka 12 dihubungkan dengan 12 suku bangsa Israel sehingga pemilihan 12 murid Yesus sering bernuansa eksklusif, tertutup dan terkonsentrasi pada dunia yang sempit yakni dunia Israel semata - mata. Seakan – akan kehadiran Yesus hanyalah untuk bangsa Israel dan dengan demikian juga maka keselamatan hanya untuk mereka saja. Kesan yang eksklusif ini tidak dapat dipertahankan lagi dengan pemberitaan Lukas 10:1-12 ini bahwa Tuhan Yesus mempersiapkan dan mengutus murid – muridNya yang lain dalam jumlah yang cukup besar disamping Ia mengutus ke-12 muridNya. Kisah pengutusan 70 murid Yesus dapat dilihat sebagai salah satu petunjuk karakter Injil yang universal, dengan kata lain kisah ini menunjuk pula pada makna kehadiran Yesus yakni keselamatan yang universal, keselamatan bagi semua bangsa termasuk didalamnya keselamatan kita disini dan saat ini.
Pengutusan murid - murid Yesus dalam jumlah yang relatif besar seakan – akan membuka horison baru dalam memaknai peran para murid sebagai utusan Allah. Utusan Allah tidak saja terbatas pada kaum elit (kelompok 12 murid) yang telah dikenal “hanya” sebagai murid Yesus, namun pengutusan ke-70 ini juga berarti Tuhan Yesus berkenan untuk memperluas skope utusan Allah, bukan saja kepada kelompok tertentu (mungkin saja dalam konteks kita dewasa ini, utusan Allah bukan saja terbatas pada kaum elit agama dalam hal ini pendeta dan fungsionaris gerejawi) melainkan kepada murid – murid Yesus lainnya. Dengan kata lain semua murid Yesus memperoleh dan mengemban tugas yang sama yakni telah ditunjuk sebagai utusanNya.
Sdr-sdr, ini yang menjadikan kisah pengutusan 70 murid relevan dengan situasi kita saat ini dan disini. Sebagai murid – murid Kristus masa kini ada peran yang kita emban bersama yaitu kita juga adalah utusan – utusan Allah untuk menyatakan Damai sejahteraNya ditengah – tengah dunia yang terkadang tidak ramah bahkan cenderung untuk bermusuhan dengan perdamaian dan cinta kekerasan. Dalam mengemban tugas sebagai utusan Allah seakan – akan Kristus kembali hadir pada hari ini didalam gedung gereja ini melalui kesaksian Lukas untuk kembali mengingatkan kepada kita semua, mungkin bukan dalam rangka pembekalan pertama kita, melainkan sekedar mengingatkan kembali hakekat penugasan tersebut, sebelum kita melanjutkan kembali perjalanan pengutusan ini dalam kehidupan kita sehari – hari. Mungkin ini semacam pembekalan ulang. Dalam pembekalan ulang ini ada 3 hal yang hendak kita lihat secara bersama – sama, bagaimana Lukas menjelaskan pembekalan perjalanan para utusan tersebut, yakni tugas, sikap dan resiko.
Yang pertama ialah menjelaskan ulang apa tugas pengutusan. Alasan yang dikemukakan oleh Yesus dalam mengutus murid – muridNya adalah agar para murid mempersiapkan kedatangan Tuhan. Alasan ini berkaitan dengan 2 tugas utama yakni para murid ditugaskan untuk menyatakan damai sejahtera dan melakukan kebajikan dengan melayani orang yang membutuhkan pelayanan. Tuhan Yesus tidak menugaskan para murid untuk menjadikan orang-orang yang ditemui mereka menjadi anggota persekutuan mereka, dengan kata lain dalam pernyataan Tuhan Yesus tidak terkandung makna bahwa misi sebagai tindakan mengkristenkan manusia melainkan misi utama kita, para murid Yesus adalah menyatakan damai dan melakukan kebajikan. Keadaan di negara kita belakangan ini lebih banyak diwarnai oleh kekejaman, kebencian dan permusuhan antarmanusia yang berbeda budaya dan agama, kerakusan para elit politik yang mengakibatkan kematian sia-sia dari sejumlah besar manusia dan sejumlah bentuk kekerasan lainnya. Lukas benar kalau mengatakan bahwa kita diutus ditengah-tengah serigala. Serigala disini bukanlah manusia yang berbeda budaya atau agama dengan kita melainkan serigala yang tengah kelaparan dan menunjukkan giginya disini adalah kondisi dan keadaan seperti digambarkan tadi yakni dunia dimana kita berada yang penuh dengan kekejaman dan kekerasan. Ditengah-tengah situasi yang demikian inilah Allah mengutus kita dan tugas kita yang utama adalah untuk menyatakan damai sejahteraNya dengan kata lain untuk menyatakan hal yang bertolakbelakang dengan keadaan “serigala” diatas. Para utusan dituntut untuk memainkan peran aktif dalam upaya-upaya perdamaian, dalam menyejukkan suasana yang tegang melalui perkataan dan perbuatan sehari-hari baik dirumah, ditempat kerja maupun dalam hidup bertetangga. Para utusan dituntut pula untuk terlibat aktif bahkan memprakarsai upaya-upaya keadilan, pembelaan kepada mereka yang kehilangan hak hidup mereka sebagai manusia, kepada mereka yang termarjinalisasi akibat kondisi sosial. Inilah tuntutan atau bentuk tugas yang relevan dalam dunia kita dewasa ini dan disini, yakni tuntutan untukmenyatakan damai dan melakukan kebajikan.
Aspek yang kedua dalam pembekalan ulang ini adalah bagaimana sikap dan gaya hidup para utusan. Tanpa pundi-pundi atau bekal bahkan kasut para murid diutus kedunia “serigala”. Yang dituntut disini agalah sebuah gaya hidup yang sederhana karena didalam kesederhanaan nampak kekuatan dan kuasa Yang mengutus mereka. Di dunia dan era yang cenderung mengarah kepada konsumerisme dan materialisme sehingga penilaian kemanusiaan terletak pada materi (hanya orang-orang yang berduit yang mendapatkan tempat yang layak di masyarakat), maka gaya hidup sederhanaan merupakan gaya hidup alternatif yang dapat mengembalikan nilai kemanusiaan agar supaya manusia melihat sesamanya bukan pada ukuran materi melainkan pada ukuran bahwa setiap manusia adalah ciptaan Allah yang oleh karenanya, sekecil apapun dia, semiskin apapun dia Yesus telah bersedia disalibkan.
Selain kesederhanaan Tuhan Yesus pun menasehati para murid untuk memelihara sopan santun dalam berhubungan (bersosialisasi) dengan semua orang yang ditemui dalam perjalanan: “jangan memberi salam dalam perjalanan nanti kalau sudah tiba di dalam rumah”. Nasehat ini kedengarannya tidak sopan namun yang hendak dikatakan oleh Tuhan Yesus disini supaya para murid tidak menunjukkan kehebatan atau kekhususan mereka atau tidak menunjukan kekuatan yang ada: show of force). Hal ini juga berarti bahwa para murid dalam menjalankan tugas pengutusan mereka sebaiknya low profile dan tidak vulgar. Dan nanti setelah mereka memasuki rumah barulah mereka boleh mengatakan: assalamu alaikum yang artinya sama dengan bahasa Ibrani syalom alaichem yaitu: damai sejahtera bagi kamu.
Disamping kesopanan dan tata krama, Tuhan Yesus juga menasehati para utusanNya untuk mampu beradaptasi dan kesediaan untuk menerima berkat atau pelayanan dari orang lain. Tuhan Yesus mengatakan: ”tinggallah dalam rumah itu, makanlah dan minumlah apa yang diberikan kepada kamu…”(ay.7). Hal ini mengandung arti kesediaan untuk menempatkan diri sebagai yang membutuhkan sesuatu bukan saja sebagai yang mempunyai segalanya untuk diberikan kepada yang lain, bahwa keberadaan orang lain juga penting dan kita butuhkan dalam perjalanan kehidupan kita sebagai utusan Allah.
Aspek yang ketiga dalam pembekalan ulang para utusan Allah adalah pemberitaan resiko dalam menjalankan tugas sebagai misionar. Disadari bahwa kita diutus ketengah-tengah “dunia serigala” maka sejak awal kitapun disadarkan akan berbagai resiko yang akan kita hadapi antara lain penolakan. Sangat masuk diakal bahwa “dunia serigala” ini akan menolak semua yang berbau perdamaian, cinta kasih, keadilan karena semuanya ini menghambat kerakusan, menghambat kekerasan, menghambat permusuhan yang diperlukan untuk tetap hidup dalam “belantara serigala” tadi. Hal ini sangat nampak dalam kehidupan kesehari-harian kita, di tempat kerja misalnya, ketika kita melihat praktek ketidakadilan yang merajalela sehingga mengorbankan pihak-pihak yang berada pada posisi lemah, dalam dunia kerja semacam ini maka kata keadilan sering ditolak bahkan ditabukan. Keberadaan kita sebagai utusan Allah adalah menyerukan dan membuka sekat-sekat yang mentabukan keadilan ini. Tugas kita adalah mengungkap ketidakadilan tersebut, lalu bagaimana sikap kita jika seruan kita ditolak?.
Disadari bahwa begitu berat resiko yang akan dihadapi dalam menyatakan syalom Allah oleh sebab itu kitapun diberikan batasan sampai dimana kerja kita berakhir. Dalam ayatnya yang ke 10 dan 11 dikatakan: “Tetapi jikalau kamu masuk kedalam sebuah kota dan kamu tidak diterima disitu, pergilah kejalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu, tepai ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat”. Tradisi mengebaskan debu dikaki sebagai pertanda bahwa resiko penolakan bukanlah menjadi beban dengan kata lain, hal ini sudah diluar tanggungjawab sebagai utusan. Sebagai utusan, kita “hanya” mempunyai tugas untuk menyampaikan kabar baik, menyatakan damai sejahtera melalui perkataan dan perbuatan kita dan bukan memaksa seseorang untuk berubah seseorang menjadi sama seperti kita apalagi memasukkan dia kedalam persekutuan kita atau mengkristenkan. Kita terpilih “hanya” sebagai utusan itu berarti ada kuasa yang lebih dari kita yaitu kuasa Yang mengutus kita, kepadanyalah beban ini ditujukan. Konsekwensi dari penolakan syalom Allah bukan lagi menjadi urusan kita melainkan menjadi urusan Allah dengan manusia atau dunia yang menolak. Hal ini tentu saja meringankan beban kita dan sekaligus sebagai penguatan kita sebagai utusan Allah dalam menjalankan tugas kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian tidak perlu ada ketakutan untuk gagal menyerukan tanda-tanda kerajaan Allah, untuk menyatakan damai sejahtera Allah, untuk berbuat baik, untuk melayani sesama dimanapun kita berada, sebab kegagalan dalam bentuk penolakan bukan lagi menjadi beban kita dan bukan juga kegagalan kita. Kegagalan kita terletak pada ketidakmauan kita bukan pada ketidakmampuan kita menjalankan kehidupan ini selaku utusan Allah yang telah terpilih untuk diutus ketengah-tengah dunia ini.
Sdr-sdr ykks, sebelum kita berangkat untuk melanjutkan perjalanan sebagai utusan Allah, Ia kembali hadir untukmenyegarkan kembali ingatan kita bahwa ada tugas utama yang kita emban dalam perjalanan hidup, Ia kembali menyapa kita dengan nasehatnya untuk bergaya hidup yang sederhana, sopan dan rendah hati dan Ia kembali menguatkan kita bahwa penolakan dunia bukanlah kegagalan kita. Mari sdr-sdr kita lanjutkan perjalanan ini untuk mengunjungi semua tempat, untuk mempersiapkan kedatanganNya yang kedua kalinya sambil menyatakan Syalom Allah bagi semua. Sejenak telah kita beristirahat untuk mengisi bahan bakar yang diperlukan dalam perjalanan panjang. Kini saatnya untuk berjalan dalam penyertaan Allah. Amin.