Manusia dalam prespektif agama
Kristen
Pendahuluan
Tema ini cukup dogmatis sehingga
bagi seorang yang bukan ahli dogma, saya merasa mendapat tugas yang tidak
ringan namun cukup menantang. Saya yakin bahwa tema manusia dalam prespektif
Kristen dijadikan bahan diskursus dalam wacana HMI pada saat ini berangkat dari
kesedian diri untuk terbuka dalam upaya-upaya memperkaya diri dan wawasan
berpikir yang dialogis. Untuk itu saya sangat menghargai upaya tersebut.
Manusia dalam relational.
Tema tentang manusia dan
kemanusiaan telah ditempatkan oleh agama-agama sebagai tema sentral disamping
ajaran tentang Allah dalam dogmatika masing-masing. Demikian halnya agama
Kristen, hal ini nampak dalam permulaan kitab pertama dari Alkitab PL yakni
kitab Kejadian yang menempatkan kisah mengenai penciptaan (termasuk didalamnya
kisah penciptaan manusia). Fenomena yang kedua yang menunjuk pada tema manusia
dan kemanusiaan sebagai tema yang sentral adalah awal dari kitab-kitab PB yakni
keempat Injil yang menekankan mengenai kisah penyelamatan manusia atau kisah
pemanusiaan manusia. Dengan kata lain: PL diawali oleh kisah penciptaan manusia
dan PB diawali oleh kisah penyelamatan (pemanusiaan) manusia.
Kitab Kejadian yang memuat kisah
Penciptaan menekankan bagaimana Allah menempatkan manusia sebagai ciptaanNya
yang khusus. Manusia disebut sebagai imago Dei, gambar Allah yang
mewakili Allah di dunia (khalifatullah fil-ard), dengan kata lain
keberadaan manusia menunjuk bahwa Allah itu ada. Kenyataan diatas
menunjuk pula bahwa manusia menjadi begitu sangat penting dan berarti dalam
wilayah iman Kristen. Pertanyaan yang muncul, manusia bagaimanakah yang
dibahasakan dalam iman Kristen? Baik PL maupun PB, manusia dibicarakan
(dibahasakan) dalam makna relasional yakni dalam hubungannya yang utuh dan
benar dengan Allah, dengan sesamanya manusia, dengan alam sekitarnya
(lingkungan hidup) dan dengan dirinya sendiri.
- Hubungan yang utuh dan benar dengan Allah: Manusia
dibahasakan sebagai salah satu ciptaan dalam relasinya dengan Allah
yang adalah satu-satunya Sang
Pencipta. Inilah identitas dan eksistensi yang utuh dan benar pada waktu
penciptaan. Dalam relasi yang demikian, manusia menikmati hidup yang penuh
harmoni, keseimbangan, kebebasan dan damai sejahtera serta kasih. Ini yang
dikenal dengan suasana surgawi "taman Eden". Namun eksistensi dan identitas yang
demikian ini telah dirusakkan oleh manusia itu sendiri dengan keinginannya
untuk menjadikan dirinya sebagai Pencipta, sebagai yang berkuasa atas
dirinya dan atas yang lain, sebagai yang superior dalam hubungannya dengan
sesama dan dengan lingkungannya sendiri. Relasi yang utuh telah dipatahkan
oleh manusia ketika manusia tidak lagi membutuhkan Sang Penciptanya.
Manusia telah menjadi pencipta bagi dirinya sendiri, ia berkuasa atas dirinya
dan yang lain. Tindakan dan sikap sebagai penguasa atas yang lain inilah
mengakibatkan rusaknya identitas atau dapat dikatakan krisis identitas.
C.S Song menyebut krisis ini sebagai "dehumanisasi"
manusia: manusia tidak lagi menjadi manusia sebagaimana citra dan
fitrahnya sebagai ciptaan, sebagai imago Dei, gambar Alah tetapi
bukan Allah, melainkan manusia ingin menjadi "big Boss" dari
yang lain, ingin menindas yang lain: Adam menuduh Hawa sebagai sumber dosa
(pelanggaran) yang juga berarti manusia secara tidak bertanggungjawab
telah menjadikan sesamanya objek kepuasan dirinya. Dehumanisasi manusia
menjadikan manusia tidak membutuhkan Allah, Pencipta karena manusia
mengira ia mampu untuk menjadi pencipta bagi dirinya sendiri.
- Dehumanisasi manusia yang bermuara pada rusaknya
hubungan relasional yang utuh dan benar dengan Allah ini mengakibatkan
pula rusaknya hubungan yang utuh dan benar dengan sesamanya manusia.
Keseimbangan dan kesetaraan antarmanusia yang menjadi warna yang paling
jelas dalam relasi manusia dengan sesamanya di "Taman Eden"
telah rusak oleh keinginan manusia untuk menjadi superior dari yang lain.
Sifat-sifat semacam ini melahirkan suatu kehidupan yang berorientasi pada
supremasi diri, golongan (suku, agama dan ras) dan melihat manusia atau
kelompok yang lain lebih rendah. Manusia Kain (dalam kisah Kain dan Habel)
tidak mampu menerima kelebihan sesamanya (Habel), ia merasa berada pada
subordinasi Habel oleh sebab itu ia mengambil keputusan untuk mengakhiri
hak kemanusiaan saudaranya untuk hidup, ia lalu membunuh Habel. Kehidupan
yang berdasar pada ketidakseimbangan inilah yang melahirkan kebencian,
permusuhan bahkan pembunuhan manusia oleh manusia. Dengan kata lain
dehumanisasi manusia menjadikan manusia tidak menghargai manusia dan
kemanusiaan sebagai karya cipta Allah yang mulia.
- Akibat lain dari dehumanisasi manusia adalah
rusaknya hubungan manusia dengan alam lingkungan sekitar: "manusia
tidak lagi bersahabat dengan alam" dan sebaliknya. Mulai saat itu
manusia mempergunakan (menyalahgunakan) alam untuk kepuasaan dirinya. Alam
dikorbankan demi untuk memenuhi kepuasan kebutuhan manusia, alam
dieksploitasi dan dijadikan objek kehidupan luxurius. Dehumanisasi manusia
menjadikan manusia tidak menghargai ciptaan Allah lainnya. dengan demikian
pula manusia menjadi "big boss" atas ciptaan lainnya secara
tidak bertanggungjawab, akhirnya ia terasing dengan lingkungan dimana ia
berada.
- Dehumanisasi manusia mengakibatkan pula
keterasingan diri manusia itu sendiri, menjadikan manusia asing terhadap
dirinya sendiri. Dalam kitab
kejadian dikisahkan bagaimana manusia setelah didapati melanggar tatanan
surgawi, manusia malu dan telanjang (kej. 3: 7) ini pertanda bahwa ketika
manusia menjadi asing dihadapan Allah melalui tindakan dehumanisasinya,
maka manusia menjadi asing bagi dirinya sendiri. Manusia kehilangan
hakekatnya sebagai gambar Allah, ia kehilangan gambar yang hendak
direpresentatifkan, ia malu dan telanjang!.
Dehumanisasi manusia dipulihkan dengan Humanisasi
Allah
Lalu bagaimana dengan nasib manusia
yang telah kehilangan hakekat kemanusiaannya? Apakah manusia mampu untuk keluar
dari lingkaran dehumanisasi tadi?. Iman Kristen melihat kecenderungan manusia
untuk terus menerus berada lingkaran dehumanisasi, manusia memiliki
kecenderungan untuk menyalahgunakan "gambar Alah" atau fungsinya
sebagai wakil Allah di bumi. Oleh sebab itu dalam upaya pemulihan dehumanisasi
manusia (rekonsiliasi atara Allah dan manusia), manusia dengan keberadaannya
yang demikian itu tidak dapat keluar dari wilayah dehumanisasi sehingga yang
dapat mengambil inisiatif disini atau
yang mempunyai hak dan kemampuan untuk memperbaiki ciptaanNya atau memulihkan
dehumanisasi manusia adalah Allah sendiri sebagai sang Pencipta. Ia Yang Maha
Agung, Yang Tak Terhampiri itu menghampiri manusia untuk memprakarsai tindakan
pemulihan, agar manusia kembali menjadi manusia yang hidup dalam relasi yang
benar dan utuh dengan Penciptanya, dengan sesamanya, dengan alam lingkungannya
dan dengan dirinya sendiri.
Tindakan pemulihan dehumanisasi manusia
oleh Allah ini dilakukan dengan menghampiri manusia. Supaya Ia, Yang Tak
Terhampiri itu, dikenal oleh manusia
maka Ia menjadi manusia (humanisasi Allah) dalam manusia sempurna Yesus
Kristus. Agar supaya manusia kembali mengenal hakekatnya sebagai gambar Allah,
maka Allah sendirilah yang harus hadir. Ia hadir dalam "bahasa atau
bentuk" yang dikenal oleh manusia: Allah menjadi manusia. Inilah substansi
dari ajaran Inkarnasi dalam iman Kristen: bukan manusia menjadi Allah tetapi
Allah yang menjadi manusia! agar supaya manusia kembali pada posisnya semula
sebagai manusia. Dengan kata lain tindakan pemulihan dehumanisasi manusia oleh
Allah adalah tindakan pemanusiaan manusia yang bebas dari keterasingan,
persaingan akibat kebencian, dan yang bebas dari kematian yang sia-sia .
Simpul Akhir
- Manusia yang diciptakan sebagai imago Dei
sebagai khalifatullah diciptakan untuk suatu maksud yang mulia
yakni agar manusia menjadi manusia yang hidupnya merepresentasikan Allah
Sang Pencipta. Maksud ini terwujud dalam hubungan relasional yang utuh dan
benar terhadap Allah, sesamanya manusia, terhadap lingkungan dan dirinya
sendiri.
- Namun dalam kenyataannya manusia telah
mendehumanisasikan dirinya sendiri yang mengakibatkan lahirnya kehidupan
yang tidak merepresentasikan kehendak Allah.
- Satu-satunya cara untuk memulihkan keadaan
dehumanisasi manusia ini, menurut iman Kristen adalah Humanisasi
Allah.
Bahan Acuan:
- Choan-Seng Song, Christian Mission In
Reconstruction An Asian Attempt, 1975
- Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner. Dalam
Konteks Indonesia, BPK-Kanisius, 1997