Manusia dalam prespektif agama Kristen[1]

 

Pendahuluan

Tema ini cukup dogmatis sehingga bagi seorang yang bukan ahli dogma, saya merasa mendapat tugas yang tidak ringan namun cukup menantang. Saya yakin bahwa tema manusia dalam prespektif Kristen dijadikan bahan diskursus dalam wacana HMI pada saat ini berangkat dari kesedian diri untuk terbuka dalam upaya-upaya memperkaya diri dan wawasan berpikir yang dialogis. Untuk itu saya sangat menghargai upaya tersebut.

 

Manusia dalam relational.

Tema tentang manusia dan kemanusiaan telah ditempatkan oleh agama-agama sebagai tema sentral disamping ajaran tentang Allah dalam dogmatika masing-masing. Demikian halnya agama Kristen, hal ini nampak dalam permulaan kitab pertama dari Alkitab PL yakni kitab Kejadian yang menempatkan kisah mengenai penciptaan (termasuk didalamnya kisah penciptaan manusia). Fenomena yang kedua yang menunjuk pada tema manusia dan kemanusiaan sebagai tema yang sentral adalah awal dari kitab-kitab PB yakni keempat Injil yang menekankan mengenai kisah penyelamatan manusia atau kisah pemanusiaan manusia. Dengan kata lain: PL diawali oleh kisah penciptaan manusia dan PB diawali oleh kisah penyelamatan (pemanusiaan) manusia.

 

Kitab Kejadian yang memuat kisah Penciptaan menekankan bagaimana Allah menempatkan manusia sebagai ciptaanNya yang khusus. Manusia disebut sebagai imago Dei, gambar Allah yang mewakili Allah di dunia (khalifatullah fil-ard), dengan kata lain keberadaan manusia menunjuk bahwa Allah itu ada. Kenyataan diatas menunjuk pula bahwa manusia menjadi begitu sangat penting dan berarti dalam wilayah iman Kristen. Pertanyaan yang muncul, manusia bagaimanakah yang dibahasakan dalam iman Kristen? Baik PL maupun PB, manusia dibicarakan (dibahasakan) dalam makna relasional yakni dalam hubungannya yang utuh dan benar dengan Allah, dengan sesamanya manusia, dengan alam sekitarnya (lingkungan hidup) dan dengan dirinya sendiri.

  1. Hubungan yang utuh dan benar dengan Allah: Manusia dibahasakan sebagai salah satu ciptaan dalam relasinya dengan Allah yang adalah  satu-satunya Sang Pencipta. Inilah identitas dan eksistensi yang utuh dan benar pada waktu penciptaan. Dalam relasi yang demikian, manusia menikmati hidup yang penuh harmoni, keseimbangan, kebebasan dan damai sejahtera serta kasih. Ini yang dikenal dengan suasana surgawi "taman Eden".  Namun eksistensi dan identitas yang demikian ini telah dirusakkan oleh manusia itu sendiri dengan keinginannya untuk menjadikan dirinya sebagai Pencipta, sebagai yang berkuasa atas dirinya dan atas yang lain, sebagai yang superior dalam hubungannya dengan sesama dan dengan lingkungannya sendiri. Relasi yang utuh telah dipatahkan oleh manusia ketika manusia tidak lagi membutuhkan Sang Penciptanya. Manusia telah menjadi pencipta bagi dirinya sendiri, ia berkuasa atas dirinya dan yang lain. Tindakan dan sikap sebagai penguasa atas yang lain inilah mengakibatkan rusaknya identitas atau dapat dikatakan krisis identitas. C.S Song menyebut krisis ini sebagai "dehumanisasi"[2] manusia: manusia tidak lagi menjadi manusia sebagaimana citra dan fitrahnya sebagai ciptaan, sebagai imago Dei, gambar Alah tetapi bukan Allah, melainkan manusia ingin menjadi "big Boss" dari yang lain, ingin menindas yang lain: Adam menuduh Hawa sebagai sumber dosa (pelanggaran) yang juga berarti manusia secara tidak bertanggungjawab telah menjadikan sesamanya objek kepuasan dirinya. Dehumanisasi manusia menjadikan manusia tidak membutuhkan Allah, Pencipta karena manusia mengira ia mampu untuk menjadi pencipta bagi dirinya sendiri[3].
  2. Dehumanisasi manusia yang bermuara pada rusaknya hubungan relasional yang utuh dan benar dengan Allah ini mengakibatkan pula rusaknya hubungan yang utuh dan benar dengan sesamanya manusia. Keseimbangan dan kesetaraan antarmanusia yang menjadi warna yang paling jelas dalam relasi manusia dengan sesamanya di "Taman Eden" telah rusak oleh keinginan manusia untuk menjadi superior dari yang lain. Sifat-sifat semacam ini melahirkan suatu kehidupan yang berorientasi pada supremasi diri, golongan (suku, agama dan ras) dan melihat manusia atau kelompok yang lain lebih rendah. Manusia Kain (dalam kisah Kain dan Habel) tidak mampu menerima kelebihan sesamanya (Habel), ia merasa berada pada subordinasi Habel oleh sebab itu ia mengambil keputusan untuk mengakhiri hak kemanusiaan saudaranya untuk hidup, ia lalu membunuh Habel. Kehidupan yang berdasar pada ketidakseimbangan inilah yang melahirkan kebencian, permusuhan bahkan pembunuhan manusia oleh manusia. Dengan kata lain dehumanisasi manusia menjadikan manusia tidak menghargai manusia dan kemanusiaan sebagai karya cipta Allah yang mulia.
  3. Akibat lain dari dehumanisasi manusia adalah rusaknya hubungan manusia dengan alam lingkungan sekitar: "manusia tidak lagi bersahabat dengan alam" dan sebaliknya. Mulai saat itu manusia mempergunakan (menyalahgunakan) alam untuk kepuasaan dirinya. Alam dikorbankan demi untuk memenuhi kepuasan kebutuhan manusia, alam dieksploitasi dan dijadikan objek kehidupan luxurius. Dehumanisasi manusia menjadikan manusia tidak menghargai ciptaan Allah lainnya. dengan demikian pula manusia menjadi "big boss" atas ciptaan lainnya secara tidak bertanggungjawab, akhirnya ia terasing dengan lingkungan dimana ia berada.
  4. Dehumanisasi manusia mengakibatkan pula keterasingan diri manusia itu sendiri, menjadikan manusia asing terhadap dirinya sendiri.  Dalam kitab kejadian dikisahkan bagaimana manusia setelah didapati melanggar tatanan surgawi, manusia malu dan telanjang (kej. 3: 7) ini pertanda bahwa ketika manusia menjadi asing dihadapan Allah melalui tindakan dehumanisasinya, maka manusia menjadi asing bagi dirinya sendiri. Manusia kehilangan hakekatnya sebagai gambar Allah, ia kehilangan gambar yang hendak direpresentatifkan, ia malu dan telanjang!.

 

Dehumanisasi manusia dipulihkan dengan Humanisasi Allah

Lalu bagaimana dengan nasib manusia yang telah kehilangan hakekat kemanusiaannya? Apakah manusia mampu untuk keluar dari lingkaran dehumanisasi tadi?. Iman Kristen melihat kecenderungan manusia untuk terus menerus berada lingkaran dehumanisasi, manusia memiliki kecenderungan untuk menyalahgunakan "gambar Alah" atau fungsinya sebagai wakil Allah di bumi. Oleh sebab itu dalam upaya pemulihan dehumanisasi manusia (rekonsiliasi atara Allah dan manusia), manusia dengan keberadaannya yang demikian itu tidak dapat keluar dari wilayah dehumanisasi sehingga yang dapat mengambil inisiatif disini  atau yang mempunyai hak dan kemampuan untuk memperbaiki ciptaanNya atau memulihkan dehumanisasi manusia adalah Allah sendiri sebagai sang Pencipta. Ia Yang Maha Agung, Yang Tak Terhampiri itu menghampiri manusia untuk memprakarsai tindakan pemulihan, agar manusia kembali menjadi manusia yang hidup dalam relasi yang benar dan utuh dengan Penciptanya, dengan sesamanya, dengan alam lingkungannya dan dengan dirinya sendiri.

 

Tindakan pemulihan dehumanisasi manusia oleh Allah ini dilakukan dengan menghampiri manusia. Supaya Ia, Yang Tak Terhampiri itu, dikenal oleh manusia[4] maka Ia menjadi manusia (humanisasi Allah) dalam manusia sempurna Yesus Kristus. Agar supaya manusia kembali mengenal hakekatnya sebagai gambar Allah, maka Allah sendirilah yang harus hadir. Ia hadir dalam "bahasa atau bentuk" yang dikenal oleh manusia: Allah menjadi manusia. Inilah substansi dari ajaran Inkarnasi dalam iman Kristen: bukan manusia menjadi Allah tetapi Allah yang menjadi manusia! agar supaya manusia kembali pada posisnya semula sebagai manusia. Dengan kata lain tindakan pemulihan dehumanisasi manusia oleh Allah adalah tindakan pemanusiaan manusia yang bebas dari keterasingan, persaingan akibat kebencian, dan yang bebas dari kematian yang sia-sia .

 

Simpul Akhir

 

Bahan Acuan:

 

  1. Choan-Seng Song, Christian Mission In Reconstruction An Asian Attempt, 1975
  2. Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner. Dalam Konteks Indonesia, BPK-Kanisius, 1997


[1] Bahan ceramah HMI, 2 Mei 2001

[2] Choan-Seng Song, Christian Mission In Reconstruction An Asian Attempt, 1975, p. 208

[3] Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner. Dalam Konteks Indonesia, BPK-Kanisius, 1997, hal. 151

[4] Dalam ajaran Ibn Arabi tentang wahdat al-wujud: "Ia yang tidak dikenal memperkenalkan diri, supaya dikenal"