Khotbah GMKI, 2 Juni 2000
Bacaan: Matius 19: 16 – 26
sdr – sdr ykks,
Apa relevansi Firman Allah kali ini dengan situasi kita saat ini. Ketika saya mempersiapkan renungan ini, pertanyaan ini muncul di benak saya, bagaimana saya harus berkhotbah dalam situasi politik yang semakin mencekam ini. Sepertinya sulit untuk melihat relevansinya tetapi ketika saya membaca berkali - kali perikop ini, saya menemukan ada pesan yang akan menguatkan kita bersama dalam menghadapi situasi yang demikian.
Seorang muda datang kepada Yesus untuk menanyakan tentang syarat dan prasyarat untuk hidup yang kekal atau hidup yang berkenan kepada Allah. Tuhan Yesus mengungkapkan syarat – syarat tersebut. Sepertinya dengan syarat – syarat itu, sang Pemuda telah lolos dalam babak penyisihan. Ada syarat yang khusus untuk babak final yang agak sulit dipenuhi oleh pemuda tersebut yakni menyerahkan segala yang ia punyai untuk pelayanan dan solidaritas kepada mereka yang membutuhkan. Ini merupakan syarat yang bagi orang lain mungkin tidak terlalu sulit tetapi bagi sang Pemuda agaknya merupakan kunci atau kartu As yang mustahil ia tanggalkan. Kegagalannya untuk menjadi murid Yesus karena masih ada kartu As yang ia pegang yang ia tidak ingin korbankan.
sdr – sdr ykks,
Ada 2 hal yang saya dapat tangkap dari perikop ini dan hendak ditekankan yakni:
1. Tuntutan Yesus akan pentingnya aksi pelayanan dan bukan saja bantuan moril melalui sifat - sifat yang terpuji. Yesus hendak katakan tidak cukup jika engkau suci melainkan kekudusanmu akan lengkap jika engkau terlibat aktif dalam pelayanan kepada mereka yang membutuhkan.
2. Kartu As. Kartu As bagi kita mempunyai banyak bentuk; kalau pemuda dalam perikop kita menjadikan kekayaan atau harta bendanya menjadi Kartu As yang ia tidak mau tanggalkan untuk pelayanan yang utuh atau untuk menjadi pengikut Yesus yang setia, maka ada bentuk – bentuk lain dari kartu As yang kita miliki yaitu sesuatu yang menjadi berharga, mungkin bukan komputer kita di rumah atau motor atau jenis harta benda yang kita punyai, tetapi kartu As bisa dalam bentuk jabatan. Sehingga ada ketakutan akan kehilangan jabatan untuk membela kebenaran untuk melayani mereka yang tersisih dan mereka yang tertindas. Kartu As bisa berwujud nilai di kampus: kita ketakutan akan mendapat nilai jelek dari dosen atau prof oleh sebab itu kita tidak berani untuk mengkritik kalau ada pelecehan nilai – nilai kemanusiaan di kampus.
Sejumlah kartu As yang kita punyai yang menjadi penghalang utama untuk terlibat aktif dalam pelayanan kemanusiaan, untuk pembelaan nilai – nilai kebenaran, untuk perjuangan perdamaian, ini yang hendak diangkat oleh Tuhan Yesus sebagai prasyarat utama untuk sampai kepada babak final suatu keputusan untuk benar – benar sempurna menjadi pengikutNya.
Bagaimana dengan situasi saat ini, ketika kita sebagai umat kristen tidak lagi aman untuk keluar rumah. Tuhan Yesus mengatakan kepada pemuda yang kaya tadi untuk : „pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang – orang miskin, maka engkau akan memperoleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah aku.“ Ada kata perintah disana berarti ada tuntutan untuk bergerak atau aktif yang kalau kita terjemahkan sesuai dengan situasi kita saat ini: „pergilah, tanggalkanlah kartu As mu dan layanilah orang – orang yang membutuhkan, maka engkau akan memperoleh harta di sorga...“
Tuhan Yesus menyuruh kita untuk peduli kepada orang – orang miskin. Saya lebih cenderung menterjemahkannya dengan situasi kita sekarang ini menjadi „orang – orang yang menderita atau yang membutuhkan bantuan,karena kita bukan orang kaya harta tetapi kita diberi kekuatan dan kesehatan itulah harta kita, sekali lagi kepedulian kita kepada orang – orang tanpa embel – embel, dia itu beragama atau suku apa.
Apa artinya perintah Yesus untuk peduli kepada orang – orang yang menderita dalam konteks kita saat ini. Menderita bukan saja karena mereka tidak cukup makan tetapi menderita dalam arti yang luas. Menderita akibat tekanan psikis/jiwa misalnya, akibat situasi yang mencekam saat-saat ini, tugas kita adalah peduli kepada mereka (mungkin juga kita sendiri yang di cekam rasa takut sehingga kita sendiri yang menderita) dengan cara menguatkan memberi pengharapan satu dengan yang lain. Bentuk kepekaan kepedulian seperti inilah yang hendak ditekankan oleh Yesus