Khotbah: Markus 14: 12 – 31[1]

Minggu Sengsara VI

 

Sdr-sdr ykks,

Kita masuk dalam minggu sengsara Yesus yang keenam, lalu apa artinya kita memperingati kesengsaraan Tuhan Yesus. Apa arti peristiwa 2000 tahun yang lampau untuk kehidupan kita, baik sebagai gereja maupun pribadi sekarang ini?

 

Keempat penginjil termasuk penginjil Markus mengisahkan bagaimana perjalanan Tuhan Yesus dan murid-muridNya menghadapi saat-saat kematian Yesus. Kisah yang baru saja kita dengarkan merupakan bagian dari rentetan keseluruhan perjalanan Yesus sampai ke Kayu Salib. Pada hari terakhir sebelum Tuhan Yesus ditangkap, diadili, disangkali dan dikhianati oleh muridnya sendiri dan sampai disalibkan, Tuhan Yesus mengundang murid-muridNya untuk berada disekelilingnya dan merayakan paskah bersama dengan makan bersama. Persekutuan di meja makan atau makan bersama mempunyai arti yang sangat penting dalam tradisi Yahudi. Makan bersama bukan saja mengakrabkan orang-orang yang duduk bersama dalam satu meja melainkan lebih dari itu, dalam tradisi yahudi makan bersama dipakai juga sebagai tanda perdamaian keduabelah pihak yang pernah bertikai, sebagai tanda bahwa kedua belah pihak yang pernah bertikai sepakat untuk berdamai. Saya kira tradisi semacam ini ada juga dalam budaya masyarakat Mamasa. Kalau ada pihak-pihak yang bertikai maka upaya pendamaian biasanya diakhiri dengan simbol makan bersama (saya tidak tahu persis dalam adat Mamasa, namun dalam masyarakat Kalumpang misalnya tradisi semacam ini dikenal dengan "mattunu"). Disana kepercayaan dan persaudaraan yang telah tercabik-cabik oleh kesalahan masing-masing pihak kembali dijalin. Dalam tradisi semacam ini juga ada terkandung makna bahwa kedua belah pihak sepakat dan berjanji untuk tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan masa lalu. Dengan kata lain melalui makan bersama,  jalinan dan hubungan antarsesama yang tengah bertikai kembali dikuatkan.

 

Tradisi makan bersama ini dipakai Tuhan Yesus juga untuk menguatkan hubungan murid-muridNya dengan dirinya, terlebih-lebih Tuhan Yesus hendak menguatkan kepercayaan murid-muridNya dalam menghadapi tantangan dan pergumulan yang besar yang akan mereka hadapi sendirian tanpa dirinya kelak. Persekutuan yang terjalin disekitar meja makan menjadi menjadi dasar yang kokoh agar supaya murid-murid Yesus mampu bertahan untuk tetap mencintai Yesus justru pada saat-saat sulit dan kritis seperti pada masa penganiyayaan. Makan bersama menjadi persiapan para murid untuk menghadapi resiko mereka menjadi murid Yesus, resiko untuk ditolak, resiko untuk dianiyaya bahkan resiko untuk mengorbankan hidup mereka demi menjalankan apa yang Tuhan Yesus sang Guru yang Agung telah ajarkan kepada mereka selama ini.

 

Tuhan Yesus telah mengetahui bahwa penderitaan bahkan yang lebih dari pada itu akan dihadapinya sebagai resiko pelayananNy dalam membela kemanusiaan, keadilan dan perdamaian. Tuhan Yesus ingin agar para  murid juga kuat untuk menghadapi resiko pelayanan dan perjuangan seperti ini. Tuhan Yesus ingin agar para murid tidak lemah, tidak menyangkal Dia bahkan tidak  melupakan amanah yang Ia berikan karena penderitaan demi penderitaan yang mereka akan hadapi dikemudian hari.

 

Dalam makan bersama untuk terakhir kalinya itu sebelum Ia disalibkan dan mati, Tuhan Yesus sudah menyatakan bahwa salah seorang muridNya yang dekat dengannya akan menghianati Dia (ay.18: Aku berkata kepadamu sesungguhnya seorang diantara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku". Ay. 20 "orang itu ialah…dia yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku "). Menarik untuk melihat bagaimana reaksi para murid. Masing-masing murid termasuk Yudas dan Petrus membenarkan diri dengan berkata :"bukan aku, ya Tuhan". Pembenaran diri ini kemudian lebih ditegaskan lagi oleh Petrus, ketika mereka selesai makan bersama dan berada di Bukit Zaitun. Tuhan Yesus memperingati  murid-muridnya tentang kejadian yang akan dialami oleh para murid setelah mengetahui peristiwa menyedihkan yang akan dialami Yesus. Iman mereka akan goyah, namun dengan bangganya kembali Petrus  memukul dadanya sambil berkata: "semuanya bisa tergoncang imannya namun aku tidak".

 

Petrus sang pemberani, Petrus yang selalu mau mempunyai tempat yang paling istimewa disisi Yesus, justru dialah yang paling awal tergoncang imannya: ia menyangkali Gurunya yang ia cintai. Petrus menyangkali Yesus. Justru Petrus, seorang murid Yesus yang paling dekat dengan Yesus, yang sangat mencintai Yesus dan salah satu murid yang Yesus sangat kasihi, dan bukan murid-murid lainnya yang biasa-biasa saja yang tidak terlalu sering diceritakan di dalam Alkitab yang menghianati Yesus. Justru orang pertama yang Yesus panggil menjadi muridNya yang menghianatiNya. Katakanlah kadar cinta Petrus terhadap Yesus tidak bisa diragukan lagi sebab Ia merupakan salah satu nelayan yang mula-mula dipanggil untuk menjadi murid Yesus. Dengan kata lain kebersamaan Petrus dengan Tuhan Yesus jauh lebih lama dibandingkan dengan murid-murid Yesus lainnya. Petruspun terpilih untuk menyertai Yesus dalam pergumulannya yang berat di Taman Getsemani sebelum ia ditangkap dan diadili. Justru Petrus, seorang pemberani yang dengan gagahnya selalu mau melindungi Yesus dengan pedangnya, Petrus sang pemberani yang dengan kesombongannya pula memotong telinga hamba Imam Besar yang mau menangkap Yesus demi untuk membela sang Guru yang ia cintai; justru Petrus seorang yang sering diberikan tanggungjawab yang besar oleh Yesus; justru dia yang menghianati Yesus "hanya" karena seorang perempuan biasa yang tidak punya arti apa-apa dalam masyarakat pada waktu itu, perempuan itu bukanlah seorang putri atau ratu yang cantik atau berkuasa melainkan seorang hamba, hanya seorang pelayan biasa. Sehingga sebenarnya pada saat itu Petrus tidak berada pada kondisi yang mengancam jiwanya secara langsung, perempuan tersebut tidak menodongkan pedang ketika menegurnya, pelayan tersebut tidak mengadilinya atau memvonisnya didepan pengadilan. Ia cuma menegur Petrus, mengatakan hal yang sebenarnya yang ia ketahui; seorang pelayan perempuan dengan tangan kosong hanya menegur Petrus sang pemberani yang pernah memotong telinga pengawal imam besar. Sebenarnya secara logika tidak ada alasan yang kuat bagi Petrus untuk menghianati Yesus. Namun Petrus telah melakukannya dan penghianatan ini telah mengungkap potret manusia pada umumnya dan gereja secara khusus.

 

Penghianatan seringkali terjadi justru dalam hubungan yang dekat. Gereja sebagai institusi yang merasa lebih banyak tahu tentang ajaran-ajaran Kristus dan merasa mengenal lebih dekat dengan Kristus selaku Kepala gereja, justru disanalah penghianatan dan penyangkalan terhadap Kristus sering dilakukan. Mungkin gereja tidak pernah menyangkali Yesus dalam perkataan dengan mulut namun dalam kehadirannya, gereja sering kali tidak mengakui kehendak Yesus, malah sebaliknya mengakui dan mengikuti kehendaknya sendiri.  Harga yang sangat mahal yakni hidup dan nyawaNya sendiri yang dipertaruhkan oleh Yesus dalam seluruh kehidupannya adalah konsekwensi dari kehadiranNya yang selalu kontroversial yang bertentangan dengan kehendak manusia, kehendak sang penguasa. Yesus hadir menyatakan Kerajaan Allah, Syaloom Allah. Apa artinya: Kerajaaan Allah bukanlah sebuah istana yang dibangun Yesus dengan segala macam kenyamanan dan sistim keamanan yang canggih namun Kerajaan Allah yang dibangun oleh Yesus adalah sebuah kerajaan, sebuah dunia yang didalamnya manusia merasakan hidup yang layak dan berkecukupan (jasmani dan rohani), tidak ada penidasan, tidak ada penderitaan, tidak ada kesewenang-wenangan, tidak ada perampasan hak-hak. Oleh sebab itu Tuhan Yesus hadir memberi makan orang-orang yang membutuhkan makanan pada waktu itu, ia menyembuhkan mereka yang sakit, menghibur orang yang berduka, membela hak-hak orang yang tertindas dan kehilangan hak hidup mereka, Ia selalu berada ditengah-tengah orang yang miskin dan lemah serta Yesus pun hadir ditengah orang-orang yang divonis oleh masyarakat sebagai orang yang berdosa. Yesus hadir untuk mengembalikan harkat dan martabat manusia. Bentuk kehadiran Yesus yang demikianlah menjadi momok bagi mereka yang senang akan ketidakadilan, penindasan dan permusuhan.

 

Gereja seharusnya hadir memperkenalkan Kristus yang demikian, menyampaikan Kabar Baik, Injil tentang Syaloom Allah, tentang Kerajaan Allah yang membebaskan orang dari semua bentuk penindasan. Penyangkalan gereja terhadap kehadiran Yesus yang demikian pada saat gereja hendak membangun kerajaan-kerajaan kecil dengan raja-raja kecilnya yang diperlengkapi dengan struktur yang nyaman dan aman. Ketika pelayanan gereja tidak lagi berorientasi pada pelayanan Kristus yang demikian, disanalah mulai penyangkalan-penyangkalan terhadap Kristus. Sadar atau tidak justru didalam gereja sering kita dapati struktur atau pribadi-pribadi yang tidak membebaskan bahkan sebaliknya yang lebih senang menghakimi orang-orang yang dianggap telah bersalah atau berdosa. Gereja yang seharusnya menyatakan tanda-tanda kerajaan Allah yakni Syaloom, damai ditengah dunia ini, justru didalam Gereja didalam tubuh Kristus inilah perpecahan, pertengkaran, perseteruan bahkan permusuhan terjadi.

 

Sdr-sdr ykks,

Sebagai orang Kristen tidak jarang kita sama seperti Petrus, kita menjadi angkuh dan merasa berani untuk membela Kristus bahkan tidak jarang kita menghalalkan jalan kekerasan untuk mengatasnamakan tindakan pembelaan kita demi membela Kristus. Tindakan semacam ini telah tercacat dalam sejarah gereja bahkan sampai saat ini. Orang-orang Kristen di Ambon, Poso dan di tempat-tempat kerusuhan lainnya belakangan ini yang menghalalkan kekerasan bahkan perang demi untuk membela Kristus merupakan kenyataan yang dapat dijadikan contoh yang masih relevan. Keberanian semacam ini ditolak oleh Kristus: "sarungkanlah pedangmu" kata Yesus menyuruh Petrus memasukkan pedangnya, sebab Kristus tidak perlu di bela oleh manusia. Kristus lebih kuat dari segala sesuatu dan hanya orang lemahlah yang patut dibela, dengan kata lain yang hendak dikatakan oleh Yesus disini untuk kita adalah pembelaan kita seharusnya berlaku bagi orang-orang yang lemah, yang miskin, yang tertindas, orang-orang yang hak-hak hidupnya diinjak-injak oleh sang penguasa atau orang-orang yang lebih kuat. Pembelaan kita seharusnya tertuju kepada mereka ini.

 

Penghianatan Petrus mengungkap pula keberadaan kita dalam hubungan kita dengan sesama manusia. Sering terjadi bahwa kita justru menghianati orang-orang yang dekat dengan kita bahkan yang kita sayangi. Tanggungjawab berupa kepercayaan dalam hubungan kita dengan teman, sahabat ataupun keluarga –suami atau istri sering dirusakkan oleh kesenangan sesaat. Petrus ingin enaknya sendiri, ia berpikir bahwa ia bisa bebas dari tanggungjawab kalau ia menyangkali Yesus pada saat itu saja. Mungkin Petrus hanya ingin memenuhi kebutuhannya pada saat itu yakni keamanannya sehingga ia mungkin berpikir yang penting saya tidak ada hubungan dengan orang yang tengah bermasalah itu  untuk saat ini saja. Petrus mencoba-coba untuk melepaskan tanggung jawab sebentar saja demi keamanannya yang sesaat. Mungkin Petrus berpikir "Yang pentingkan saya tidak menyangkalinya untuk selamanya" atau "kali ini saja koq". Petrus mementingkan kesenangan atau rasa aman sesaat dan tanpa memikirkan resiko penyangkalannya bahkan tanpa mengingat janji kesetiaannya sendiri kepada Yesus bahwa Ia akan selalu setia bahkan sampai matipun  (ay. 31: "sekalipun aku harus mati bersama-sama dengan Engkau, aku tidak akan menyangkali Engkau"). Kesenangan sesaat dapat merusak hakekat hubungan antarsesama: antarteman, sahabat atau antarkeluarga. Untuk kesenangan dan rasa aman sesaat kita mampu membohongi teman, sahabat atau keluarga kita. Untuk kesenangan dan rasa aman sesaat kita pun mampu untuk menyalahgunakan kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun. Untuk kesenangan dan rasa aman sesaat kita terkadang menghianati diri kita sendiri dan menjadi asing dengan yang lain.

 

Sdr-sdr ykks,

Pertanyaan kita pada awal renungan ini: Apa artinya kita memperingati Dia yang telah disalibkan dan mati 2000 tahun yang lalu?. Peringatan ini adalah bentuk penguatan iman kita semua: bahwa Yesus yang mempersiapkan murid-muridnya dalam menghadapi resiko melalui persekutuan di meja perjamuan, Yesus juga yang memanggil kita dalam persekutuanNya seperti minggu ini, agar iman kita selalu dan terus menerus dikuatkan.

 

Hal yang kedua yang dapat kita petik dalam peringatan ini, bahwa cinta kasih Yesus terhadap Petrus yang telah menyangkali Dia tidak berhenti sampai disitu bahkan tidak berubah setelah penyangkalannya. Tuhan Yesus mau menerima Petrus yang menyesali perbuatannya. Tuhan Yesus bahkan kembali memberi Petrus kepercayaan dan tanggungjawab yang besar untuk menjadi saksi dan pekabar kabar keselamatan. Di minggu-minggu sengsara Yesus ini kita diajak untuk intronspeksi diri, dimana dan kapan saja saya telah menyangkali kehendak Yesus: dimana dan kapan saja kehadiran saya bukannya membebaskan sesama saya melainkan menjadikannya lebih menderita, dimana dan kapan saja saya menciptakan perseteruan bukan perdamaian, dimana dan kapan saja saya mengambil hak-hak orang lain, dimana dan kapan saja saya telah menyakiti hati teman, sahabat, keluarga, dimana dan kapan saja saya telah menghianati kepercayaan teman, sahabat dan keluarga untuk kesenangan dan rasa aman sesaat.

 

Satu hal yang pasti yang kita belajar dari peristiwa sebelum penyaliban ini adalah kasih Kristus yang luarbiasa tidak berhenti pada penghianatan orang-orang yang Ia cintai (Yudas dan Petrus).

Kiranya Roh Kudus akan memampukan kita untuk mengasihi sesama manusia sebagaimana Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu, amin.



[1] Khotbah di GTM Efrata, 17 Maret 2002