Khotbah di Kapel STT Intim Makassar, 14
Oktober 2002
" Transformasi
budaya simbolistik kearah essensialisme: kemunafikan vs. tanggungjawab
pribadi"
Markus 7:1-23
Ayat.15:
" Apapun dari luar yang masuk
kedalam seseorang tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari
seseorang itulah yang menajiskannya".
Sdr-sdr
ykks,
Orang Farisi dan beberapa ahli taurat memprotes
cara-cara hidup murid-murid Yesus yang tidak menjalankan aturan-aturan hidup
sebagaimana biasanya sebagai orang yahudi pada waktu itu. Ada suatu tradisi
yang sudah menjadi hukum kemasyarakatan bahkan telah mejadi hukum keagamaan
orang Yahudi pada masa itu yakni mencuci tangan sebelum makan. Apa yang aneh
atau istimewa dari tradisi ini dan apa yang khusus sehingga orang Farisi dan
ahli taurat mempersoalkan sesuatu yang kita lihat sebagai hal yang sepele sebab
sebenarnya praktek mencuci tangan sebelum makan bisa kita lihat sebagai
konsekwensi logis dari sebuah tindakan untuk menjaga kebersihan/kesehatan diri
dimana semua orang dengan sadar dapat melakukannya dan tidak perlu dijadikan
sebuah peraturan yang khusus ataupun dipersoalkan. Persoalan yang kelihatannya
sepele ini ternyata penting bagi orang Farisi dan ahli taurat karena ukuran
keimanan seseorang dalam artian orang menjadi najis atau tidak tergantung dari
melakukan atau tidak aturan tersebut (didepan umum, supaya diketahui orang).
Dengan menekankan peraturan ritual semacam ini orang Farisi dan ahli-ahli
Taurat hendak menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih bermoral,
lebih bersih atau kelompok yang berbeda dari yang lain.
Namun
Yesus dan murid-muridNya
memberlakukan aturan baru atau melanggar aturan yang berlaku: tidak cuci tangan sebelum makan atau mungkin mereka tidak mencuci tangan
didepan umum supaya diketahi orang, sebelum mereka makan. Sebenarnya yang
dikritisi oleh Yesus bukan tradisi mencuci tangan sebelum makan melainkan
pemahaman dan cara orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang menjadikan tradisi
tersebut sebagai ukuran untuk menilai diri mereka dan orang lain (ukuran
kesucian terhadap diri sendiri dan kenajisan bagi orang lain) sehingga aturan
semacam itu menurut Yesus pada akhirnya akan menjadikan seseorang menjadi
munafik, karena yang ditekankan hanyalah kebersihan luar seseorang atau cara
beragama/ cara beretika simbolis. Demikian halnya aturan tersebut mementingkan
aspek "agar dilihat orang lain". Aturan-aturan ini tidak menyetuh
hakekat keberagamaan seseorang yakni tanggungjawab seseorang terhadap
sesamanya, terhadap lingkungannya dan terhadap Tuhannya, sebab tradisi semacam
ini ia hanya menekankan aspek luarnya saja, hanya simbolik belaka. Bukan
substansial atau inti/hakekat nilai aturan tersebut yang dikedepankan melainkan
praktek pemolesan belaka.
Pemahaman
dan pelaksanaan tradisi ala orang Farisi dan ahli-ahli Taurat semacam ini tidak
dapat dipertahankan lagi untuk dijadikan orientasi dan sistim kontrol bagi
masyarakat pada umumnya, sebab ia hanya melahirkan masyarakat generasi munafik.
Oleh sebab itu Yesus menawarkan orientasi hidup yang lebih relevan yakni
orientasi dan sistim kontrol yang didasari oleh kesadaran dan tanggung jawab
masing-masing individu terhadap dirinya, sesamanya dan terhadap Tuhannya.
Konteks STT:
Sebelum
kita hadir di kampus ini, kita juga telah dibentuk oleh sejumlah tradisi atau
aturan-aturan ditempat kita masing-masing, baik itu dalam tradisi dari kelompok
yang lebih luas seperti aturan-aturan yang berlaku di daerah atau kampung
maupun aturan-aturan dalam lingkungan yang lebih kecil yakni dalam bentuk
didikan dan tempaan dari rumah/orangtua. Tradisi atau aturan-aturan ini telah
menjadi orientasi kita selama berada didaerah kita masing-masing. Tradisi dan
aturan-aturan tersebut sekaligus telah menjadi sistim kontrol dalam masyarakat
dimana kita berasal. Dengan kata lain tradisi atau aturan-aturan hidup itu
bukan saja menjadi arahan kita bertingkah laku melainkan aturan tersebut pula
lah yang mengontrol tingkah laku kita, sekaligus menilai seluruh kehidupan
kita. Tidak jarang didaerah-daerah tertentu tradisi atau aturan-aturan hidupnya
sangat ketat mengontrol pola dan tingkah laku masyarakatnya sementara didaerah
lain sedikit lebih fleksibel. Namun ketika kita berada di daerah yang jauh dari
kampung kita, seperti di kampus ini dengan sendirinya kita berada jauh dari
orientasi dan sistim kontrol yang ada di daerah kita masing-masing. Atau dapat
kita katakan tradisi dan aturan-aturan yang ada di daerah dimana kita berasal
tidak dapat lagi menjadi orientasi hidup kita disini apa lagi menjadi sistim
kontrol yang mengawasi tingkah laku dan hidup kita disini. Kita diperhadapan
dengan situasi yang baru yang tidak jarang menjadikan disorientasi bagi kita,
artinya disatu pihak (sadar atau tidak) kita telah "meninggalkan"
aturan-aturan dari daerah kita masing-masing dipihak lain aturan-aturan yang
ada disini belum (kalau tidak mau dikatakan tidak) bisa menjadi orientasi dan
sistim kontrol yang baru. Contoh disorientasi yang paling jelas dalam hal
pergaulan antar perempuan dan laki-laki. Ada aturan-aturan yang ketat dirumah, misalnya pada saat-saat mana saja dan dimana
saja seorang laki-laki boleh berkunjung kerumah teman perempuannya atau jam
berapa seseorang harus kembali kerumah, dengan siapa saja seseorang boleh
berada dalam suatu ruangan, dll. Nah ketika
kita berada disini aturan-aturan tersebut sepertinya tidak berlaku lagi. Atau
nilai kontrol dari aturan-aturan tersebut tidak ada lagi. Kita dapat berbuat
apa saja, karena aturan-aturan yang diberlakukan disini tidak dapat
menggantikannya sebagai orientasi dan sistim kontrol kita. Alhasil kita
tiba-tiba diperhadapkan dengan kebebasan yang luar biasa: saya dan bukan
aturan-aturan itu lagi yang menentukan kapan dan dimana saya mau (buskan boleh
lagi) bertemu dengan teman saya. Saya dan bukan aturan-aturan itu yang
menentukan jam berapa saya harus kembali ketempat kos atau asrama (sekarang
sudah ada jam tutup asrama, tetapi masih dapat menghubungi mentor atau
mentris). Saya dan bukan aturan-aturan dirumah/didaerah lagi yang menentukan
dengan siapa saya hidup serumah (se-kos). Meskipun demikian kebebasan seperti
ini sama sekali tidak membebaskan bahkan terkadang membingungkan, karena itu
tadi, meskipun telah ditinggalkan namun tempaan dan didikan dari rumah (daerah)
masih tetap menjadi sistim nilai didalam diri: Sehingga tidak jarang seseorang
akan melakukan sesuatu hal meskipun melanggar suara hatinya.
Situasi
bebas tanpa orientasi dan kontrol semacam ini dapat menjadikan seseorang liar
dan tidak bertanggungjawab baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang
lain. Kebohogan dan kemunafikan menjadi alternatif sementara untuk menutupi
tindakan atau perbuatan yang melanggar hati nurani tersebut (di STT Intim
terkenal dengan kebohongan kasus "kecelakaan di kilometer 9" dengan
menemukan sejumlah penyakit, dari usus buntu sampai ginjal). Konsekwensi lain
juga adalah "takut kedapatan", sehingga melakukan sesuatu secara
sembunyi-sembuyi dan bersikap munafik.
Dalam
situasi disorientasi semacam ini lalu aturan mana yang masih dapat menjadi
orientasi dan sistim kontrol bagi hidup kita disini? Yesus menawarkan orientasi
dan sistim kontrol yang berdasarkan kesadaran dan tanggungjawab pribadi, dalam
ayatnya yang ke-15 Yesus mengatakan: "
Apapun dari luar yang masuk kedalam seseorang tidak dapat menajiskannya, tetapi
apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya". Disini yang
ditawarkan bukan peraturan yang menakut-nakuti melainkan suatu peraturan yang
menyadarkan bahwa dalam diri masing-masing kita ada potensi yang dapat
menentukan "najis tidaknya" perbuatan kita. Allah telah
memperlengkapi kita dengan akal dan nurani untuk menentukan dan memutuskan apa
yang patut dan tidak kita katakan dan lakukan. Suatu tawaran orientasi dan
sistim kontrol yang mendewasakan iman kita
Hal ini tidak berarti bahwa kita atau
manusialah yang menjadi orientasi sistim kontrol bagi dirinya sendiri sebab
kalau demikian maka akan kacau karena masing-masing akan secara liar memahami
dirinya sendiri dan masing-masing orang akan mementingkan dirinya sendiri
bahkan menindas yang lain.
Yesus
juga menekankan suatu orientasi hidup yang berdasarkan tanggung jawab seseorang
bukan hanya terhadap dirinya sendiri melainkan terhadap sesamanya dan Tuhannya.
Apa artinya tanggung jawab seperti ini? Ketika saya melakukan sesuatu yang
mengakibatkan saya di DO dari sekolah misalnya, itu berarti saya tidak
bertanggungjawab atas diri saya karena saya merugikan diri sendiri yakni saya
menghambat diri untuk meraih apa yang saya cita-citakan misalnya. Dengan
demikian pula saya juga tidak bertanggungjawab terhadap sesama atau partner
saya karena saya merugikan dia (mungkin juga dia di DO), saya juga tidak
bertanggungjawab terhadap orangtua yang telah membiayai saya selama ini
(kerugian materi dan moril: kerinduan mereka yang saya sia-siakan, misalnya)
dan terhadap gereja yang telah mengutus saya kesini.
Orientasi
Yesus yang menekankan tanggung jawab pribadi berbeda dengan kebiasaan kita yang
lebih cenderung berorientasi pada "takut mengecewakan orang lain (ortu dan
gereja): "jaga nama baik keluarga, jaga nama baik almamater, dll".
Orientasi takut seperti ini tidak mendewasakan seseorang dalam mengambil
keputusan dalam situasi manapun, sehingga tidak jarang ketika ketakutan
tersebut hilang akibat dari sistim kontrol yang lemah seseorang dapat melakukan
sesuatu secara tidak bertanggungjawab atau sesuatu yang merugikan dirinya
sendiri dan orang lain.
sdr-sdr
ykks,
Kita
tengah berada pada posisi yang membingungkan atau disorientasi sebagai akibat
dari benturan tradisi yakni disatu pihak ada aturan-aturan dari daerah asal
(rumah) yang kehilangan nilai kontrolnya dipihak lain disini (jauh dari rumah)
kita diperhadapkan dengan seribu satu macam kemungkinan (kebebasan bergaul,
kebebasan mengakses segala macam teknologi dari VCD sampai situs-situs bebas di
Internet, dsb). Dalam situasi semacam ini Injil Markus hendak mengingatkan kita
akan aturan-aturan Yesus yang dapat memberi orientasi kepada kita yakni suatu
aturan yang mendewasakan kita menghadapi situasi yang kompleks dan
membingungkan ini. Supaya kita tidak ikut-ikutan atau munafik, Yesus menggugah
kesadaran dan tanggungjawab kita masing-masing:"sebab dari dalam, diri hati orang timbul segala pikiran jahat
(...) semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang".
Amin