Khotbah Pelantikan Ketua STT INTIM Makassar,

Kapel  Kebangkitan, 13 Januari 2001

Bacaan: Matius 8:23-27

 

„Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya. Sekonyang-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangungkan Dia, katanya: „Tuhan, tolonglah, kita binasa.“ Ia berkata kepada mereka „Mengapa kamu takut, kamu kurang percaya?“ Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Dan heranlah orang-orang itu, katanya: „Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?“

 

Sdr-sdr ykks,

Nats ini memberi inspirasi kepada saya untuk mengunakan sebuah simbol dalam khotbah ini yakni simbol Perahu – mungkin untuk lebih kontekstualnya kita gunakan  perahu pininsi  sebagai simbol perjalanan kerja dan pelayanan kita di lembaga ini. Untuk itu pertama - tama kita harus melihat: di mana perahu itu sedang berada, bagaimana kondisi perahu itu, bagaimana kondisi awak kapal, dst.

 

Di dalam perjalanan tepatnya pelayaran perahu pelayanan dan kerja kita di lembaga ini, kita terkadang merasa bahwa kita sedang berada di tengah laut lepas, dan sering kita merasa angin dan ombak yang semakin keras dan tantangan-tantangan lainnya yang semakin menyulitkan situasi bahkan tidak jarang menjadi bahaya. Dalam situasi yang demikian kita pun merasa bahwa sepertinya perahu itu kurang bergerak, kalaupun bergerak arah dan tujuannya yang kurang jelas, seolah-olah hanya dibawa oleh ombak (terombang ambing dilautan lepas). Bahkan sudah ada yang kuatir kalau – kalau perahu itu akan tengelam. Mungkin nasib perahu pinisi kita ini tidak sedrastis nasib kapal titanic yang megah, tetapi paling tidak banyak dari kita yang mengalami atau merasakan kondisi kritis perahu ini. Kesadaran akan kondisi inilah yang menjadi alasan bagi saya untuk mengangkat tema khotbah ini pada pelantikan Ketua STT Intim Makassar. Mungkin adalah suatu hal yang kurang lazim bahwa pada momen syukuran pelantikan seperti saat ini, kita diperhadapkan dengan nada khotbah yang kedengarannya pesimis, namun kesadaran yang demikian hendaknya mengundang kita semua untuk menjadikannya isu dalam wacana berpikir kita demi kemajuan lembaga ini dan kemuliaan namaNya.

 

Berangkat dari kondisi pelayaran diatas lalu kita kemudian bertanya bagaimana solusinya/jalan keluar?:

Ada yang bilang: yang harus bertanggung jawab secara keseluruhan adalah sang kapten. dan memang kita baru saja memilih kembali kapten kita untuk periode kedua. Beliau punya peranan yang penting seperti membaca peta laut, mengendali perahu, mengkordinasi awak kapal dsb...; Dialah pemegang roda kemudi, tetapi Dia bukan segala-galanya.  Dia bisa saja mengemudikan perahu tersebut dengan sebaik-baiknya namun kalau tidak ada yang mendayung atau tidak ada yang mengembangkan layar dengan tepat maka perahu itu tidak akan bergerak, apa lagi keluar dari krisis. Dan kalaupun memang ada awak kapal yang bekerja keras atau yang setengah mati mendayung tetapi kalau yang satu mendayung maju dan yang lain mundur atau  yang satu mendayung ke kiri dan yang lain kanan maka perahu itu hanya akan berputar – putar pada radius yang sama.

 

Ada juga yang bilang bahwa solusi untuk keluar dari kondisi krisis adalah kita harus memperbaiki kondisi fisik perahu terlebih dahulu. Dan memang ide demikian sudah dilakukan: Beberapa bagian dari perahu baru saja selesai direnovasi – paling tidak dicet cantik bagian luarnya; sekarang bahkan ada beberapa kamar kapal yang ber-AC; Bahkan satu kamar penuh dengan buku yang baru dan kontekstual tentang „bagaimana mengendalikan perahu di tengah-tengah laut...“. Tetapi sepertinya tidak ada yang baca atau tidak ada yang mau mentransformasikan teori itu ke dalam praktek. Memang kondisi fisik kapal itu sudah kelihatan cukup „fit“ untuk sebuah pelayaran, tetapi sepertinya konsep dan kerjasama antara awak kapal belum seperti itu.

 

Pendapat yang lain mengatakan: Jalan keluar adalah kita perlu Computer yang dapat mengendalikan perahu kita, dan yang bahkan dapat menjaringkan kita dengan semua perahu di semua laut  sehingga kita bisa membagi pengalaman, dan koordinasi bisa dioptimalkan. Dan memang kemajuan komunikasi di perahu kita sudah cukup maju untuk menghadapi tantangan-tantangan modern. Tetapi jelas bahwa computer dan internet hanya salah satu ALAT untuk memberdayakan sumber daya manusia. Untuk itu, awak kapal bahkan harus punya komitmen yang lebih tinggi untuk kerja sama yang baik.

 

Bagaimana meningkatkan motivasi kinerja awak kapal itu? Ada yang bilang bahwa motivasi yang paling efektif adalah uang. Jadi untuk setiap kali menggerakan dayung atau mengembangkan  layar akan dibayar honor ; dan untuk koordinasi yang lebih baik akan dibentuk panitia sebanyak-banyaknya, dan anggotanya juga dimotivasi dengan sedikit modal... Tetapi akhirnya hasilnya juga tidak seperti yang diinginkan. Bahkan ada yang khawatir bahwa kepentingan dan tujuan bersama untuk mengendalikan kapal itu semakin berkurang. Mungkin karena didasari oleh motivasi tersebut. Bahkan muncul kecurigaan dan katanya sudah ada yang berrencana menjadi calo tiket kapal nanti supaya lebih efektif lagi.

 

Dan masih banyak ide-ide lain untuk menggerakan perahu ini untuk keluar dari krisis. Ada yang mau membuat perahu ini menjadi kapal yang bermotor, dan bahan bakarnya kalau perlu akan diimpor saja dari zending-zending di luar negeri, sehingga tidak perlu lagi setengah mati berusaha dengan kekuatan manusia kita yang terbatas itu. Tetapi tiba-tiba ada yang teringat akan teks yang baru saja kita dengarkan tadi yaitu dari Injil Matius dan mengatakan: „Coba cari apakah Yesus masih ada di bagian belakang perahu pinisi kita ini, dan kalau Dia tidur, cepat bangungkan dia dan mohon agar Dia membantu kita“. Kita sudah lupa bahwa hanya Tuhan Yesus adalah keselamatan kita!!! Dan benar, Yesus masih ditemukan di perahu pinisi kita. Maka awak kapal membangungkan Dia, katanya: „Tuhan, tolonglah, kita binasa.“ Dan seperti biasa Tuhan Yesus  berkata kepada mereka „Mengapa kamu takut, kamu kurang percaya?“ Tetapi kali ini Tuhan Yesus tidak bangun dan menghardik angin dan ombak sehingga menjadi teduh seperti yang dilakukan pada murid – muridNya di danau Galilea, tetapi TY mungkin akan berkata kepada kita semua: „Cobalah kembali bekerja bersama, kamu semua baik kapten dan awak kapal punya dan telah diberikan kemampuan untuk mengendalikan perahu ini untuk mewujudkan misiNya secara baik dan bersama. Saya adalah layarmu dan Roh Khudus adalah anginmu“

 

Kali ini Tuhan Yesus tidak bertindak selaku „Superman“ yang secara otomatis akan mengatasi situasi di perahu kita kalau kita berseru kepadaNya, sebaliknya Ia yang telah memilih kita Ia pun yang telah memberi kepada kita bekal kemampuan untuk berlayar bersama – sama denganNya. Oleh sebab itu Ia mengajak kita untuk memberdayakan seluruh bekal itu demi pekerjaanNya. Mari kita kembali ke tempat kerja kita masing-masing, dan dengan semangat baru mencoba bekerja bersama sebagai satu team, dan jangan hanya melempar tanggung jawab kepada kapten, computer, kondisi finansial, kondisi laut atau lain-lain. Dan mari kita kembali mengingat akan tujuan dan misi keberadaan perahu ini (untuk apa perahu ini berada, apa misinya). Dan hampir kita lupa, bahwa di samping kapten (Ketua dan Yayasan) dan awak kapal (Pegawai dan Dosen) ada juga penumpang dan barang yang mau ditransport. Penumpang perahu STT Intim adalah mahasiswa yang mau dipersiapkan untuk berlabuh dengan baik sesudah perjalanan mereka di perahu ini, dan barangnya adalah teologi yang mau dikembangkan secara kontekstual. Mungkin misi dan tujuan bersama inilah yang akan mempersatukan kita untuk bekerja bersama - sama dengan lebih baik. Dan saya kira bahwa para penumpang – mahasiswa dan mahasiswi kita – pun harus dilibatkan secara aktif dalam proses ini. Mereka harus belajar bersama-sama dengan kita bagaimana mengendalikan dan mengemudikan sebuah perahu, karena suatu hari mereka pun akan berangkat dengan jemaat mereka masing-masing ke perjalanan di tengah laut. Jadi jangan kita melihat mereka sebagai penumpang saja dan berpikir yang penting mereka diangkut dan pada saatnya diturunkan lagi di pelabuhan mereka masing – masing  atau  jangan seperti PELNI, yang menjual tiket kapal lebih dari kapasitasnya hanya karena uang, tidak peduli terhadap bahaya kapal terancam tengelam dan pelampung tidak cukup. Tetapi melibatkan mereka dalam pelayaran ini  berarti kita juga secara tidak langsung meningkatkan potensi dan partisipasi mahasiswa di perahu kampus ini.

 

Sdr – sdr ykks,

Di awal kerja kita di tahun yang baru ini juga mengawali kinerja team dalam perahu ini sedikitnya ada 2 pemikiran yang mungkin dapat kita renungkan bersama, yakni pertama: Kesadaran yang sungguh – sungguh akan kerja dan pelayanan dalam satu team, sehingga kesuksesan atau kegagalan bukanlah akibat dari satu orang atau satupihak saja. Dan hal yang kedua adalah kesadaran yang sungguh – sungguh bahwa  keselamatan dari lembaga ini bersumber dari Dia yang punya lembaga ini dan yang telah  memberikan kepercayaan kepada kita untuk mengelolahnya. Mungkin ini bukan hal yang baru namun saya yakin dengan memiliki kesadaran yang demikian kita baru akan „fit“ untuk berlayar bersama ke dalam millenium baru ini. Terpujilan Kristus sang Nakhoda kehidupan, amin.