Perang Salib: Tinjauan Historis dari Prespektif Kristen[1]

 

Pendahuluan

Menggambarkan perjumpaan Islam dan Kristen dalam sejarah dapat diberi dua warna yang mencolok yakni warna kelam yang meliputi pertentangan, kecurigaan, permusuhan bahkan perang. Warna yang kedua warna cerah yang meliputi kehidupan bersama dalam hubungan yang damai, saling percaya dan memperkaya. Kedua warna ini lahir sebagai konsekwensi dari interaksi yang tak terhindarkan dan sadar atau tidak dialami oleh kedua belah pihak. Perjumpaan Islam dan Kristen bukan dimulai sejak perang salib. Jauh sebelumnya bahkan pada masa Nabi Muhammad s.a.w telah dicatat perjumpaan tersebut. Perluasan kekuasaan islam dengan cara militer (perang) sampai ke daerah-daerah kristen seperti pendudukan Spanyol bagian selatan dan daerah-daerah di Italia, a.l Sisilia atau Perancis bagian selatan menimbulkan konsekwensi-konsekwensi tertentu, misalnya saja tersingkirnya kekuasaan lama oleh penguasa baru. Di Spanyol bangsawan Visighot terpaksa melarikan diri setelah pendudukan Dinasti Islam atas Spanyol. Namun dipihak lain sebuah kehidupan antarbudaya dan antaragama tidak dapat dielakkan. Montgomery watt mencatat bahwa masa sebelum Perang Salib, kaum Muslim, Kristen dan Jahudi di Spanyol dapat hidup berdampingan secara damai, hal ini disebabkan oleh pemahaman bahwa penaklukan Spanyol oleh dinasti Islam tidak dilatarbelakangi oleh semangat keagamaan bahkan sebaliknya menurut Watt gagasan-gagasan yang dominan pada waktu itu bukanlah gagasan keagamaan dalam hal ini Islami melainkan gagasan Arab sekular[2].

 

Perang Salib merupakan salah satu peristiwa pemberi warna kelam dalam perjalanan sejarah perjumpaan Islam dan Kristen, warna kelam ini tidak jarang mempengaruhi hubungan Islam Kristen hingga dewasa ini. Oleh sebab itu sangat penting untuk melihat dan mengambil pelajaran yang berarti dalam peristiwa ini untuk membangun suatu kehidupan bersama yang lebih damai dan jujur.

 

  1. Motivasi pelaksanaan Perang Salib (1096-1270/abad ke-11-13):

Peristiwa perang salib yang berlangsung kurang lebih 3 abad lamanya dan dalam bentuk 7 tahap dilatarbelakangi oleh motivasi yang berbeda-beda. Yang melatarbelakangi perang salib pertama sampai pada perang salib yang ke-3 paling tidak ada 2 faktor yang bagi para penguasa dan elit agama di Eropa dalam hal ini Paus (pimpinan gereja katolik) perlu untuk mengangkat pedang untuk menyatakan perang terhadap kekuatan Islam. Kedua faktor tersebut adalah:

    1. faktor internal yakni konflik internal Eropa: Sampai pada abad pertengahan, kekristenan (Gereja) bergandengan tangan dan menjalin hubungan yang mesra namun manipulatif dengan kekuasaan politik atau kekaisaran. Hubungan yang demikian praktis melahirkan konsekwensi tersendiri: agama dijadikan alat penglegitimasian kekuasaan dan demikian halnya sebaliknya politik dijadikan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan seperti otoritas keagamaan; interes politik menjadi interes agama dan sebaliknya; agama me- dan di- manipulasi oleh politik dan sebaliknya. Kekuatan politik dipakai untuk menghadapi lawan-lawan gereja seperti kelompok yang diklaim sebagai kafir dan kelompok sekte atau heresi.

 

Kekaisaran Byzantinum dalam ancaman penguasa Islam berbangsa Turki Seljuk dan Byzantinum mengalami kekalahan dalam peperangan tersebut. Akibat dari kekalahan ini, penguasa Byzantinum memohon bantuan militer kepada Paus Urbanus II. Permohonan bantuan ini dilihat sebagai momentum untuk mengatasi konflik antara kedua pusat kekristenan, yakni gereja Katolik dengan pusatnya Roma dengan gereja Orthodox Timur Byzantinum dengan pusatnya Konstantinopel[3]. Dengan kata lain dibalik perang terhadap penguasa Islam ada terselip maksud pemersatuan gereja barat dan timur. Maksud tersebut hingga dewasa ini tidak tercapai, sampai saat ini kedua pusat kekristenan: Gereja Katolik Roma dan Gereja Orthodox Timur masih terpisah.

 

    1. Faktor eksternal: Islam sebagai kekuatan yang mengancam Eropa.

Peradaban Islam pada abad ke 11 tengah mengalami kemajuan yang sangat pesat di hampir dalam segala bidang. Bukan saja arsitektur yang megah melalui bangunan-bangunan mesjid yang luarbiasa indahnya menjadi simbol bangkitnya peradaban Islam dewasa itu, namun di bidang Ilmu Pengetahuan, Astronomi, Filsafat dan Medis pun Islam pernah menjadi parameter dunia. Munculnya nama-nama besar seperti Avveroes (Ibn Rush) sang Filosof yang karya terjemahan dan komentarya terhadap karya Filosof Yunani Aristoteles dipakai oleh para teolog Barat seperti Thomas Aquino, atau sang Dokter ternama Ibn Sinna (Avicienna) yang karyanya digunakan cukup lama di sekolah-sekolah kedokteran Eropa. Bangkitnya peradaban dibarengi dengan perluasan kekuasaan Islam. Hingga Abad ke-11 Islam telah menguasai wilayah-wilayah kekaisaran Byzantinum seperti Suria, Mesir bahkan seluruh daerah Afrika Utara (sampai Marroko). Perluasan kekuasaan ini kearah barat sampai ke Spanyol Selatan dan kearah timur, Islam menguasai wilayah-wilayah seperti Rusia bagian selatan (Transoxania) bahkan telah menguasai Asia Tengah sampai ke Afganistan.

 

Bagi Eropa kenyataan ini melahirkan kekaguman disatu pihak dan ketakutan dipihak lain. Ada pemahaman bahwa Islam telah menguasai separuh dunia. Penguasa dan pimpinan agama Kristen di Eropa hampir kehilangan nyali menghadapi kekuatan Islam yang bangkit pada masa itu. Islam dilihat sebagai bahaya yang mengancam eksistensi Eropa secara budaya maupun religi. Keberhasilan penguasa eropa untuk merebut kembali wilayah-wilayah Spanyol selatan seperti Toledo tahun 1085 dan Sisilia tahun 1091 melahirkan kepercayaan diri yang baru akan kekuatan Eropa untuk menghadapi kekuatan Islam[4].

 

Faktor lainnya adalah keberadaan Yerusalem. Sebelum perang salib yang pertama (sampai awal abad ke-11), Yerusalem berada dibawah kekuasaan Islam dalam hal ini dinasti Fatimiyya. Meskipun demikian Yerusalem masih menjadi tempat Ziarah yang paling populer bagi umat Kristen Eropa secara khusus pada abad ke-11. Pelaksanaan ziarah ke Yerusalem diberitakan mengalami gangguan dari pihak-pihak perampok. Dengan kata lain keamanan pelaksanaan ziarah ke kota suci tidak dapat lagi dijamin. Hal ini dilihat oleh pimpinan Gereja Katolik Roma untuk bentindak memberi keamanan kepada para peziarah bukan dengan cara damai melainkan dengan kekerasan yakni perang untuk merebut kota suci tersebut.

 

Motivasi perang salib ke-4 sampai ketujuh adalah merebut kembali Konstantinopel dan mempertahankan Yerusalem sebagai kota suci umat Kristen. Upaya ini gagal: Islam berhasil merebut kembali Yerusalem pada tahun 1244 dan mulai saat itu Yerusalem berada dibawah pemerintahan Islam sampai pembentukan negara Israel 1948 (dan sampai saat ini keberadaan Yerusalem menjadi persoalan yang serius antara palestina dan Israel); kemudian Konstantinopel jatuh ketangan dinasti Usmaniyya dan menjadi bagian dari Negara Turki sampai dewasa ini.

 

  1. Perang Salib: dari Yerusalem ke Konstantinopel

Ekspedisi militer tentara Salib yang pertama tiba dipantai Levant tahun 1096 dan menduduki Yerusalem dan beberapa daerah-daerah sekitar. Perang salib I ini berlangsung 3 tahun lamanya (1096-1099). Tahun 1144 salah satu daerah yang diduduki oleh tentara salib yakni Edessa direbut kembali oleh penguasa Islam yakni Atabeg dari Mosul. Perebutan ini menjadi alasan bagi pecahnya perang salib yang kedua 3 tahun kemudian yakni tahun 1147. Tentara salib mengalami kekalahan pada perang salib ke-dua. Tampilnya pemimpin kharismatik Islam sultan Salahuddin al-Ayyubi (sultan Saladin) yang berhasil mempersatukan Mesir dan Syria dibawah kekuasaannya berhasil pula memukul telak tentara salib dan merebut kembali kota suci Yerusalem pada tahun 1187.

 

Perebutan kembali Yerusalem oleh Sultan Saladdin dilihat oleh penguasa kristen barat sebagai malapetaka yang harus dijawab dengan perang salib berikutnya (PS III). Perang salib ke-3 tidak membuahkan kemajuan yang berarti sehingga pada akhirnya penguasa barat mengalihkan perhatian mereka ke Konstantinopel. Perang salib yang ke-4 dalam rangka merebut kembali Konstantinopel yang diduduki oleh penguasa Turki Seljuk. Peperangan yang brutal diakhiri dengan penguasaan tentara salib atas Konstantinopel tahun 1204. Sementara itupun upaya untuk mengambil alih Yerusalem tetap dilaksanakan setelah masa Sultan Saladin, tentara Salib pernah menduduki Yerusalem namun sangat singkat dan pada akhirnya Yerusalem kembali jatuh ditangan penguasa Islam.

 

Ketiga phase perang salib yang terakhir mencatat kekalahan dipihak tentara-tentara Kristen barat. Berakhirnya perang salib ditandai dengan keberhasilan penguasa Mamluk mengambilalih sisa-sisa daerah-daerah yang masih diduduki oleh tentara salib. Secara garis besar perang salib yang berlangsung 3 abad lamanya telah mencatat kegagalan dipihak barat melawan kekuatan Islam.

 

  1. Akibat: Ketegangan dan saling memperkaya

Tidak dapat disangkal bahwa warna kelam dari peristiwa tragedi kemanusiaan yang berkepanjangan ini telah memberi kontribusi yang cukup dominan dalam kelanjutan hubungan dan perjumpaan pengikut kedua agama besar ini di dunia. Goseran sejarah ini pun pernah bahkan bagi sebagian orang di Indonesia masih mewarnai hubungan umat Islam dan Kristen, meskipun secara tidak langsung masyarakat Indonesia tidak terlibat didalamnya, namun kedua agama yang dibawa ke Indonesia telah memiliki catatan sejarah yang kelam.

 

Namun tidak dapat disangkal pula bahwa perang salib telah melahirkan paradigma baru dalam hubungan Islam-Kristen. Bersamaan dengan hadirnya tentara-tentara salib didaerah-daerah Islam, berlangsung pula hubungan dagang antara wilayah-wilayah Kristen Eropa dengan pedagang Islam Arab. Hubungan ini anehnya tidak terputus akibat perang salib, malahan berjalan beriringan. Disamping itu fenomena yang lebih menarik lagi adalah kenyataan akan hubungan Islam dan Barat dalam bidang Ilmu Pengetahuan. Pada masa-masa perang salib inilah terjadi peningkatan penerjemahan karya-karya Arab seperti karya-karya agung dari Averoes dan Ibn Sinna kedalam bahasa latin. Pada masa inipun semangat dari pihak barat untuk mempelajari karya-karya ilmiah Arab semakin meningkat.

 

Pada masa ini pula untuk pertama kalinya al-Qur'an diterjemahkan kedalam bahasa Latin untuk lebih memahami apa sebenarnya agama Islam itu. Penerjemahan buku-buku teologi Islam kedalam bahasa latin menjadi dasar dan landasan terbentuknya studi khusus tentang Orientalisme.

 

Kesimpulan

Yang menarik untuk dikaji adalah Yerusalem bagi bayak ahli sejarah dilihat sebagai faktor yang cukup dominan dalam penggagasan perang salib, namun kelihatanya cukup sepele dan sederhana kalau upaya pengamanan peziarah yang dikedepankan dalam menggagas perang salib tersebut terutama jika dibandingkan dengan pengorbanan daya dan dana yang dibutuhkan untuk ekspedisi militer pada waktu itu. Saya lebih melihat bahwa isu Yerusalem dijadikan pemicu semangat para tentara salib sementara faktor penentu dalam hal ini adalah murni politik yakni upaya pembentengan diri dari ancaman yang sudah semakin mendekati jantung kekuasaan Eropa disatu sisi dan disisi lain adalah interes internal politik gereja (katolik) untuk menyatukan negara-negara kristen katolik yang pada saat itu tengah berperang. Sehingga perang salib digunakan sebagai alat untuk menyatukan gereja kristen barat (Roma) dan timur (konstantinopel).

 

Isu agama yang kedua namun sentral adalah simbol salib. Salib dijadikan simbol utama yang mewarnai seluruh ekspedisi militer berdarah tersebut tidak lain untuk membangkitkan semangat tentara salib untuk menjalankan tugas yang hampir tidak masuk akal tersebut jika melihat kondisi infrastruktur dan jarak antara Eropa dan timur tengah dewasa itu demikian halnya jika memperhatikan kekuatan Islam pada waktu itu. Untuk membangkitkan semangat para tentara salib supaya banyak orang Kristen bersedia ikut dalam barisan militer salib, maka Paus mengeluarkan surat penghapusan dosa bagi para tentara yang ikut berperang dengan menjanjikan keselamatan bagi mereka jika mereka mati syahid dalam pertempuran salib.

 

Salib yang dalam pemahaman iman Kristen adalah simbol perdamaian, dimana melalui Salib Yesus Kristus telah mengorbankan diriNya untuk perdamaian dunia, Salib juga merupakan simbol kehidupan, dimana Yesus Kristus telah mati di Kayu Salib agar supaya manusia dapat memiliki hidup yang berharkat dan bermartabat. Simbol ini telah disalahgunakan bahkan dihianati oleh para pemimpin gereja Katolik . Salib telah dibalikkan menjadi simbol peperangan, penindasan manusia, kematian bahkan penghancuran kehidupan yang dibela oleh Kristus sendiri.

 

Secara keseluruhan saya melihat perang salib merupakan salah satu konsekwensi dari hubungan yang mesra dan manipulatif antara agama dan politik sehingga agama dalam kedekatannya dan keterikatannya dengan kekuatan politik tidak lagi mampu untuk keluar dari lingkaran yang menyesakkan untuk kembali memfungsikan diri sebagai kekuatan pendamai, kekuatan transformatif, kekuatan yang menghidupkan bahkan kekuatan yang memanusiakan. Dalam kondisi semacam itu agama menjadi atau dijadikan kekuatan yang manipulatif dan akibatnya adalah jatuhnya korban manusia yang tak terhitung jumlahnya dan kemanusiaan tercabik-cabik. Ini yang saya maksud dengan pelajaran yang dapat kita petik dari warna sejarah yang kelam untuk tidak lagi mengulangnya hari ini dan di kemudian hari.

 

 

Bahan Acuan:

 

Makassar,

24 November 2001 (direvisi tgl. 18 Nov 2002)



[1] Makalah untuk kuliah Misiologi III STT INTIM dan IAIN Alauddin Makassar: Misi/Dakwa Rekonsiliasi

[2] Montgomery Watt, Islam dan Peradaban Dunia. Pengaruh Islam atas eropa Abad Pertengahan, Gramedia 1995, hal. 68. Ingat bahwa interes para Dinasti Islam terletak pada gizya (pajak para Dhimmi) sebagai sumber pemasukan kas negara.

[3] Perpecahan didalam tubuh gereja menjadi gereja barat atau Gereja Katolik Roma dan Gereja Orthodox Timur terjadi tahun 1054 yang terkenal dengan Schisma besar

[4] Watt, h. 82