Khotbah HUT 50 tahun PGI

Matius 6: 25 - 34

 

Sdr/i ykks dalam kristus,

50 tahun merupakan usia yang matang bagi seseorang. Kematanganya berangkat dari pengalaman – pengalaman yang membentuk hidupnya. Kehadiran PGI (persekutuan Gereja – Gereja di Indonesia) selama kurun waktu 50 tahun ini tentu saja menghasilkan deretan peristiwa yang cukup mewarnai dan menempa perjalanan dan kehadirannya. Oleh sebab itu bukan hanya nyanyian syukur yang hendak diangkat di usia 50 tahun ini melainkan juga sejenak berhenti untuk bertanya bagaimana perjalanan 50 tahun yang lalu untuk diprojeksikan kedepan: bagaimana selanjutnya, apa yang harus dilakukan, dan lain sebagainya.

 

Perikop yang saya pilih sebagai landasan ucapan syukur kita bersama atas segala keberadaan PGI selama ini adalah bagian dari khotbah Tuhan Yesus di bukit. Perikop ini sering dihubungkan dengan hal kekuatiran akan kekurangan materi sebenarnya perkataan Tuhan Yesus yang pertama dalam ayat 25 adalah „janganlah kamu kuatir akan hidupmu“  dan kemudian menuyusul kata „jangan“ lainnya. Sehingga yang hendak saya tekankan kali ini adalah „kuatir akan hidup“.  Hidup yang tidak hanya terdiri dari pemenuhan kebutuhan material.

 

Adalah suatu yang kurang biasa terjadi, ketika kita bersuka cita merayakan Hut emas PGI, seharusnya yang nyaring terdengar adalah ungkapan – ungkapan yang manis serta puji – pujian atas keberhasilan atau kemegahan lainnya yang telah dicapai selama kurun waktu 50 tahun kehadiran PGI. Tetapi kali ini firman Allah hadir dengan pesan yang bernada lain: „jangan kuatir akan hidup“. Seakan – akan ada kekuatiran yang menonjol dan memang kenyataannya bahwa PGI merayakan Hari ulangtahun yang istimewa di tengah – tengah krisis dalam berbagai dimensi yang melanda negara kita, oleh sebab itu dituntut suatu keprihatinan yang khusus.

 

Kita tidak dapat menutup mata untuk menyaksikan kekerasan dan kebrutalan dimana – mana, ketika manusia tidak lagi menghargai hidup itu sendiri pesan Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit sepintas mempunyai kesan seakan – akan melegitimasi kenyataan ini, seakan – akan Tuhan Yesus hendak berkata:  „apa sih artinya hidup itu, sehingga kamu kuatir“. Namun membaca keseluruhan perikop Injil Matius 6 ayat 25 ini secara lebih dalam kita akan menemukan bahwa yang dimaksud Tuhan Yesus dengan hidup yang tidak perlu dikuatirkan adalah kehidupan yang terbatas pada pemenuhan kebutuhan materi. Apa yang hendak ditekankan oleh Tuhan Yesus disini adalah Hidup yang lebih dari soal makanan dan pakaian atau dapat dikatakan kehidupan gereja yang lebih dari soal gedung gereja dan simbol – simbol lainnya. Hidup yang berarti bagi Tuhan Yesus sebagaimana terdapat pada ayat 33 adalah hidup yang menghadirkan tanda – tanda „Kerajaan Allah“ di muka bumi yakni keadilan, perdamaian dan persaudaraan manusia dalam cinta kasih serta keutuhan ciptaan. Inilah bentuk kehidupan yang berharkat dan perlu dikuatirkan kalau eksistensinya sudah mulai terancam. Demi kehidupan yang demikian pulalah Tuhan Yesus bersedia untuk memperjuangkannya sampai di kayu salib.

 

Merespons situasi politik akhir – akhir ini secara khusus di Makassar sebagai imbas dari kerusuhan di daerah lain seperti Ambon, Halmahera dan Poso, paling tidak muncul kekuatiran baik itu secara pribadi maupun kita semua sebagai satu persekutuan. Kita tidak dapat leluasa lagi untuk bepergian karena takut terjerat dalam pemeriksaan KTP, atau kita kuatir apakah gedung gereja kita akan selamat dari amukan masa, kuatir akan kemungkinan pecahnya kerusuhan disini seperti di tempat – tempat lain. Dan sejumlah kekuatiran lainnya yang sering melumpuhkan dan bahkan melahirkan ketakutan. Munculnya pertanyaan seperti: „Apa yang harus kita buat?“ „apa yang dapat dilakukan oleh gereja, oleh orang – orang Kristen“ dalam situasi seperti ini?. Pertanyaan ini kalau sebatas pertanyaan dia bernada pesimis dan bahkan pasiv.

 

Didalam pernyataan Tuhan Yesus „jangan kuatir“ yang lebih ditekankan disini bukan larangan untuk tidak boleh kuatir melainkan undangan untuk mengatasi kekuatiran. Sehingga kita tidak berhenti pada kekuatiran atau ketakutan melainkan kita diajak untuk keluar dari rasa kuatir dan takut sebab dengan demikian hidup itu akan lebih berarti. Ketika Tuhan Yesus mengatakan: „jangan kuatir...“. Ia tidak saja menasehati dengan kata „jangan“ melainkan Ia pun memberi pedoman untuk bertindak secara aktiv mengatasi kuatir yakni ketika Ia berkata: „carilah dahulu Kerajaan Allah“. Ayat ini sering disalah mengerti sebagai pelarian dari tuntutan hidup kekinian di bumi dan menjadi upaya untuk mengejar surga di alam sana dan nanti. „Carilah“ merupakan perintah untuk bergerak dengan aktif mengatasi kekuatiran. Dan Kerajaan Allah menjadi Tujuan yang hendak dicapai.

 

Kerajaan Allah digambarkan oleh nabi Yesaya (11: 6 – 8) sebagai keadaan dimana yang berkuasa adalah Keadilan, Kasih sayang dan Perdamaian antarmahluk (bukan hanya sebatas manusia dengan manusia apalagi antara sesama Kristen melainkan manusia seluruhnya dengan ciptaan lainnya). Dalam penggambaran Yesaya kerajaan Allah itu ketika serigala akan tinggal bersama dengan domba dan anak manusia akan bermain dekat liang ular tedung. Kerajaan Allah disini tidak berbicara pada kehidupan setelah mati melainkan keadaan kekinian. Dan kalau Tuhan Yesus mengatakan: „carilah dahulu kerajaan Allah, dan jangan kamu kuatir akan hidup“ itu berarti ada perintah untuk mendahulukan upaya – upaya pemulihan syalom, dimana tidak ada lagi penindasan manusia, tidak ada lagi kematian yang sia – sia akibat kebencian dan dendam, tidak ada lagi kelaparan sebagian besar mahluk akibat keserakahan yang lain, dimana keadilan dan perdamaian serta ikatan  persaudaraan yang mesra dan intens antarmahluk hidup menjadi warna yang dominan. Dengan kata lain Tuhan Yesus hendak menggugah gereja – gereja untuk peduli dan turut aktiv dalam memperjuangkan nilai – nilai kemanusiaan yang Ia sendiri telah perjuangkan di kayu Salib. Dengan demikian hidup atau kehadiran gereja – gereja mendapat makna. Menyatakan Syaloom  Allah di dunia, ditempat kita berada menjadi tujuan kehadiran kita, tujuan kehadiran gereja – gereja di dunia dan dengan demikian tujuan kehadiran PGI.

 

Mungkin ada yang berpikir,  hal ini utopis belaka, bagaimana mungkin gereja – gereja khususnya gereja – gereja di Indonesia dalam kapasitasnya sebagai minoritas mampu  menyatakan Syalom Allah di bumi Indonesia. Kali ini Tuhan Yesus mengajak kita untuk belajar dari burung – burung dilangit: (ayat 26): „pandanglah burung – burung dilangit yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang disorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung – burung itu.“

 

„Pandanglah burung – burung di langit“. Ayat ini mengingatkan saya pada suatu kejadian alam di Jerman yang sangat menarik. Menjelang musim salju (dingin) ada sekelompok burung yang jumlahnya kurang lebih 100 ekor terbang bersama - sama dalam formasi bentuk V menuju ke selatan yakni ke negara – negara laut tengah yang suhunya lebih panas. Mereka meninggalkan tempat yang dingin menuju tempat yang hangat. Dan kalau musim dingin telah berlalu mereka kembali ketempatnya semula. Suatu pemandangan yang sangat menarik dan pertanda bahwa musim dingin akan segera datang.

 

Disamping menarik pemandangan tersebut, banyak hal yang dapat dijadikan bahan refleksi secara khusus pada hari ulang tahun PGI yang ke-50 ini. Sekelompok burung dengan jumlah yang besar mampu melakukan perjalanan yang cukup jauh karena beberapa faktor penunjang. Pertama adalah kebutuhan yang sama akan suasana yang lebih hangat dan lebih aman dan tentu saja tujuan yang sama. Sebab tanpa tujuan yang sama maka formasi V burung – burung tersebut akan kacau. Saya pun yakni bahwa kehadiran kita sebagai gereja di Indonesia berangkat dari tujuan dan kebutuhan yang sama akan hadirnya Syalom Allah masa kini dan disini. Olen sebab itu kehadiran kita yang saya lebih senang mengatakan dengan  „gerakan“ kita (yang didalamnya kesaksian, pelayanan, perjuangan dll), gerakan gereja – gereja di Indonesia memiliki arah yang sama yakni untuk menghadirkan Syalom Allah. Dan ini menjadi komitmen bersama.

 

Faktor penunjang kedua adalah cara terbang dalam bentuk formasi V. Cara ini menuntut tekhik yang khusus. Yang paling penting disini adalah kerja sama yang baik, karena setiap burung menyumbangkan kekuatan pada kelompok sehingga lebih memudahkan  ketimbang jika seekor burung terbang sendirian. Dalam formasi tersebut setiap burung mempunyai tugas dan tanggung jawab. Tugas yang paling berat dalam cara formasi V tersebut terletak pada burung yang berada pada bagian depan karena dialah yang lebih banyak mengeluarkan tenaga untuk menahan angin namun ketika ia lelah, ia akan menuju ke belakang dan burung lainnya secara otomatis akan mengambil alih tugasnya demikian juga kalau ia lelah yang lain akan maju ke depan dan seterusnya. Kepemimpinan suatu gerakan seperti dalam PGI adalah penting namun yang tidak kalah pentingnya adalah peran serta yang aktiv dan bertanggungjawab dari anggota – anggota lainnya. Disini yang dituntut adalah kerjasama yang baik dan kesadaran akan tanggungjawab masing – masing.

 

Dalam perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan tentu saja ada burung – burung yang lemah dan sakit, suatu mekanisme yang menarik bahwa dalam situasi yang demikian dua ekor burung akan memapah yang sakit dari bawah dan membawanya bersama – sama terbang dengan yang lain dalam barisan formasi sehingga tidak ada yang tertinggal atau ditinggalkan begitu saja. Pendampingan dan saling menguatkan dibutuhkan dalam perjalanan gereja – gereja untuk tetap bersama – sama dalam barisan dan tidak meninggalkan yang lain ketika yang lain lemah atau sakit. Komitmen untuk bersama – sama mencapai tujuan yakni bersama – sama menghadirkan Syaloom Allah menjadi motivasi yang kuat untuk merangkul yang lain dan saling menguatkan (bukan hanya saling mengakui dan menerima seperti dalam LDK). Sebagaimana burung – burung yang terbang bersama –sama merasa lebih ringan dalam menantang angin ketimbang terbang sendiri, demikian halnya gereja – gereja yang bergerak bersama akan lebih mudah mengatasi kekuatiran dan menghadapi tantangan ketimbang bergerak sendiri.

 

Di usia yang ke-50 ini, gereja – gereja di Indonesia kembali dihadapkan dengan sejumlah pertanyaan, sudah sejauh mana dan dimana arah terbang kita?. Apakah kita sudah membentuk formasi V dalam perjalanan pergerakan kita selama ini atau kah masing – masing gereja terbang sendiri – sendiri?. Apakah Syalom Allah telah menjadi orientasi pergerakan kita ataukah kita masih kuatir pada kebutuhan materi, pada gedung – gedung dan simbol –simbol lainnya?.

 

„Pandanglah burung – burung dilangit yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang disorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung – burung itu.“  Bukankah gereja – gereja di Indonesia  jauh melebihi burung – burung itu. Selamat Ulang Tahun dan selamat menghadirkan Syalom Allah!. Tuhan memberkati. Syalom!

 

Makassar, 25 Mei 2000

Pdt. Aguswati Hildebrandt Rambe.