Laporan hasil konfrensi intetnasional tentang Perdatnaian Dunia Dalam Terang Ajaran aI-qur’an:
Mengbadapi Tantangan (World Peace in Light of Quranic Teaching Meehng challenge,), yang diselenggarakan oleh lAIN Alauddin Makassar di Hotel Sahid Jaya, tanggal 1 — 3 Juni 2001

Perdamaian Dunia Dalam Terang Ajaran aI-Qur’an: Menjawab
Tantangan’
 

1. Pendahuluan

Paling tidak ada dua hal yang sekiranya dapat dijadikan alasan mengapa tema mi dibicarakan dalam sebuah konfrensi internasional baru-baru ini yang diselenggarakan oleh lAIN Alauddin Makassar: pertama-tama realitas ketidakadilan dunia yang muliti dimensi yang memicu lahirnya sejumlah kekerasan dalam berbagai bentuk dan yang kedua adalah gambaran yang negatif (Feindbild) terhadap Islam. Islam sering diidentikkan dengan agama yang melegitimasi kekerasan, terorisme, anti demokrasi, fundamentalisme, dan lain sebagainnya. Kedua pemikiran diatas mewarnai tiga han konfrensi internasional ini sehingga saya mendapat kesan bahwa melalui wacana eksplorasi ayat-ayat al-Qur~an semacam ini akan terbentuk kontribusi pemikiran dalam rangka menjawab kedua persoalan diatas.

2. Perdamaian dunia melalui keadilan dunia

Prof. Dr. John C. Raines memulai diskursus ini dengan mengaitkan tema perdamaiaan dengan keadilan. Untuk mencapai perdamaian maka yang hams dilakukan adalah perjuangan melawan semua praktek dan bentuk ketidakadilan. Realitas ketidakadilan yang menglobal dewasa ini yang diakibatkan oleh sistim ekonomi global yang memihak kepada negara-negara dunia pertama bermuara pada kekerasan baik itu secara horisontal (horizontal violence) maupun kekerasan vertikal (vertical violence). Raines mengambil contoh yang konkrit bagaimana ketidakadilan akibat dan permainan sistim ekonomi dunia misalnya akibat dan praktek spekulasi dan permainan valas di Wall Street New York pada tahun 1997 dapat membuahkan kekerasan di Indonesia. Sementara para spekulator di New York menikmati keuntungan jutaan dolar dan hasil permainan valas, keadaan ekonomi Indonesia menjadi kolaps, harga menjadi tak terjangkau oleh masyarakat pada umumnya dan banyak yang ingin mempertahankan hidup dengan menghalalkan banyak cara, jumlah kejahatan dan kekerasan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah kemiskinan dan penderitaan Iainnya. Sehingga bekerja untuk perdamaian dunia menjadi sesuatu yang mustahil tanpa membongkar sistim-sistim dunia yang nirkeadilan.

Karena ketidakadilan ini telah menjadi realitas yang mendunia dan memberi dampak yang sangat signifikan bagi kekerasan dan penderitaan manusia di negara-negara dunia ketiga maka upaya-upaya perdamaian atau upaya-upaya membongkar ketidakadilan menjadi pekerjaan bersama dan menjadi projek Iintas agama. Kontribusi umat beragama dalam hal mi umat Islam dalam projek mi antara lain adalah memberi basis yang kuat secara konseptual teologis terhadap kerja perdamaian. Landasan spiritual projek ini menjadi start point dan sekaligus sebagai pengarah kerja tersebut. Sejumlah pemikir Islam dunia yang hadir pada konfrensi mi seperti Oak Nur (Nurcholis Madjid), Ashgar AIi Engineer, Hasan Hanafi telah memberi kontribusi yang penting dan hasil eksplorasi iman mereka dalam kerangka pembentukan basis dan arah projek perdamaian dunia.

Simpul yang kedua adalah penggugatan akan Image negatif (Feindbild) terhadap Islam sebagai agama yang anti perdamaian, anti demokrasi dan lain sebagainya. Ada dua alur pemikiran yang berkembang dalam konfrensi tersebut. Yang pertama adalah pengakuan akan adanya absensi demokrasi dalam sistim pemerintahan kebanyakan negara-negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam. AIur pemikiran ini diwakili oleh Ashgar Au Engineer yang menurutnya hal ini diakibatkan oleh pengidentikan demokrasi sebagai hasil produksi dunia barat sehingga memunculkan reaksi anti barat yang bermuara pada anti demokrasi. AIur pemikiran kedua adalah pembelaan terhadap image negatif sebagai stereotype Islam di barat. Hal ini diakibatkan, demikian pemikiran Ghulam Farid Malik (Pakistan), oleh beberapa hal misalnya sejarah perjumpaan barat dan Islam yang diwamai oleh sejumlah konflik dan perang salib, pendudukan Spanyol oleh dinasti Islam, perebutan pusat kekristenan timur, konstantinopel sampai perang dingin. Disamping itu pula image negatif mi diakibatkan oleh penggeneralisasian terhadap tindakan kelompok-kelompok ekstrimis dan teroris sebagai wajah umat Islam secara keseluruhan. Selain itu disadari pula bahwa image mi dibentuk oleh misconception terhadap sejumlah fenomena-fenomena yang terdapat dalam masyarakat Islam. Sehingga ada tank menarik antara pengakuan terhadap adanya praktek pelanggaran kemanusiaan yang mengatasnamakan agama (Islam) di negara-negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam dan upaya pembelaan din dan stereo type barat terhadap Islam sebagai salah satu bentuk ketidakadilan yang menglobal terhadap agama Islam.

3. Penutup

Wacana yang digelar dalam konfrensi internasional mi sangat urgent untuk membentuk pola pikir yang lebih sejuk ditengah-tengah wajah dunia yang cenderung keras secara khusus di Indonesia dan terlebih lagi di Makassar. Hanya sangat disayangkan bahwa peserta yang berjumlah besar (kurang Iebih 250 peserta) tidak memiliki kesempatan dan kapabilitas yang cukup dalam mengeksplorasi pemikiran-pemikiran, hal mi disebabkan oleh padatnya waktu (2 han dengan 14 pemakalah) dan komunikasi dalam bahasa Arab dan Inggris tanpa bantuan simultan translator.
 

Makassar, 3 Juni 2001
A. Hildebrandt Rambe