Bedah Buku: Keberagamaan yang saling menyapa. Perspektif Filasafat Perenial
Penulis: Mohammad Sabri

IAIN Alauddin Makassar, 4 Desember 1999


Pengantar: Sekilas untaian sejarah perjumpaan antar agama-agama

Membahas masalah perjumpaan antar agama-agama merupakan kajian studi yang masih sangat dibutuhkan meskipun bukan hal yang baru dimulai. Berangkat dari kenyataan disekitar kita baik itu skope nasional maupun secara global di dunia, ketegangan-ketegangan bahkan yang lebih jauh lagi yakni peperangan telah dan tengah terjadi yang mengatasnamakan perbedaan agama atau aliran dalam satu agama: Peristiwa Irlandia, kosovo, timur tengah, india demikian halnya Ambon, Halmahera dan lain sebagainya masih terus berkelanjutan. Mendengar sepintas alasan rentetan peristiwa-peristiwa tersebut diatas yang mengatasnamakan perbedaan kepercayaan timbul pertanyaan pada kita, apakah sudah sejauh itu peran agama ditengah-tengah masyarakat?, bukankan setiap agama mengajarkan perdamaian, kebaikan dan kebajikan?, sejauhmana peran para tokoh-tokoh agama - agama dalam hal ini? dan pertanyaan lainnya yang nadanya mungkin cukup pesimis.

Sejarah berbicara pula kepada kita, bagaimana perbedaan - perbedaan khususnya perbedaan keyakinan menjadi alasan sebuah tragedi besar-besaran yang menelan ribuan jiwa manusia. Kita mulai dengan sejarah gereja, ketika orang-orang kristen pada abad ke 3 Masehi -masa pemerintahan kaisar Decius (249 - 251) dikejar-kejar untuk dibunuh akibat ketidaktaan mereka untuk menyembah kaisar dan dijadikan kambing hitam untuk pelampiasan nafsu politik golongan tertentu; Pada abad pertengahan ketika agama Kristen menjadi agama para penguasa/raja-raja, sejarah mencatat peristiwa inkuisisi besar-besaran di Eropa akibat perbedaan theologi sehingga ratusan korban dihukuman mati karena mereka terdakwa sebagai kaum heresi; kemudian peristiwa berdarah lainnya yang kadang-kadang masih menjadi trauma dalam perjumpaan agama Kristen dan Islam ialah Perang Salib selama kurang lebih 3 abad (1096 - 1270) lamanya secara 7 tahap; kemudian peristiwa Holocoust di Jerman dimana titik acuannya adalah alasan politik semata-mata namun perbedaan ras dan agama dijadikan kambing hitam untuk membantai ras yahudi di Eropa serta peristiwa-peristiwa keji lainnya yang masih panjang mencatat sejarah yang mengatasnamakan perbedaan.

Berangkat dari kenyataan sejarah diatas adalah benar dan tepat kalau Hans Küng, seorang Theolog Jerman, meneriakkan semboyan perdamaian dunia lewat perdamaian agama dengan cara dialog dan pengetahuan akan nilai - nilai dasar agama-agama:

No peace among the nations without peace among the religions
No peace among the religions without dialogue among the religions
No dialogue between religions without investigating the foundation of the religions

(Tak ada perdamaian antar bangsa - bangsa tanpa perdamaian antar agama-agama; tak ada perdamaian anta agama-agama tanpa dialog antar agama; tak ada dialog antar agama tanpa mempelajari fondasi agama-agama)

Upaya pemahaman agama-agama sebenarnya telah dimulai sejak adanya perjumpaan antara agama-agama itu sendiri meskipun disana-sini kadang terjadi penyelewengan dalam upaya pemahaman iman kepercayaan agama lain sehingga bukan nanti ketika seorang ilmuwan berkebangsaan jerman Friedrich Max Müller pada tahun 1857 menulis rentetan karya-karya ilmiahnya menyangkut agama-agama dan memulai suatu disiplin ilmu yakni: allgemeine Religionswissenschaft (Ilmu Umum tentang Agama-agama) sebagaimana dikenal oleh kaum cendekiawan barat dan mentahbiskannya sebagai bapak ilmu agama-agama (Religionswissenschaft). Muh. Sabri mencantumkan pula sarjana Muslim yang lebih awal berkecimpung dalam bidang ini seperti Ali bin Hazm pada awal abad ke 10 Masehi dan Muhammad Abd al-Karim al-Syahrastani pada awal abad ke 11.

Pada abad-abad pertama lahirnya Islam, seorang Arab kristen yang bernama Johannes dari Damaskus (w. 749) menjadi sumber pertama tentang pemahaman agama Islam bagi gereja pada saat itu dalam bukunya: "Sumber Pengetahuan" yang ditulis pada tahun 742/3 sayangnya pemahamannya sangat subyektif dan keliru tentang agama Islam. Pada masa perang Salib ada upaya sebagian kalangan gereja (katolik) untuk belajar mengenai agama Islam yang pada intinya hendak menemukan kelemahan-kelemahan untuk diserang dan ditaklukkan, antara lain seorang kepala biara di Cluny: Pertrus Venerabilis pada tahun 1142 menyuruh 2 orang spanyol yang ahli bahasa Arab (Robert von Ketton dan Hermann von Dalmatien untuk menterjemahkan AL-Quràn kedalam bahasa Latin. Tujuan dari upaya ini adalah untuk memerangi kaum muslim tidak dengan senjata tetapi dengan argumentasi dogma-dogma, dengan kata lain perang argumentasi. Sangat disayangkan bahwa hasil terjemahan terdapat banyak kesalahan yang fatal sehingga mendiskreditkan agama Islam dan lebih fatal lagi hasil terjemahan ini dipergunakan cukup lama pada abad pertengahan untuk menyerang kaum muslim di dunia. Masih banyak lagi upaya dari kalangan orang-orang kristen pada abad pertengahan untuk "meneliti" (!) ajaran-ajaran agama-agama lain secara khusus Islam dan Yahudi yang intinya adalam mencari titik kelemahan pihak lain dengan begitu menonjolkan keangkuhan diri sendiri dan bukan untuk mencari pengertian yang sungguh-sungguh dan jujur untuk kehidupan bersama yang sejuk dan damai. Pola semacam ini sangat disayangkan cukup lama menjadi cara-cara kalangan tertentu sampai saat ini dalam berhadapan dan berjumpa dengan agama yang berbeda.

Disamping sejarah yang memprihatinkan seperti diatas, sejarah mencatat juga sisi positif dari upaya-upaya segelintir orang dalam menciptakan perdamaian dunia lewat perdamaian dan saling pengertian yang indah antar agama yang berbeda, misalnya saya ambil contoh pada awal abad ke 18 di Eropa, pada saat thema Islam dan Yahudi atau agama-agama non-Kristen masih diwarnai oleh pemahaman abad pertengahan tadi, muncul seorang sastrawan (dramawan) muda dari Jerman yaitu Gotthold Ephraim Lessing (dikenal dengan Lessing saja dengan karya sastranya a.l: Nathan yang bijak) yang mengkritik masyarakat Eropa pada saat itu yang arogan terhadap kepercayaan mereka dengan mengetengahkan agama Islam dan Yahudi secara objektif berangkat dari studinya yang sungguh-sungguh terhadap kedua agama tersebut dengan maksud perdamaian dan persaudaraan antar agama khususnya ketiga agama abrahamitis. Dibawah ini saya mengutip dramanya yang terkenal itu (Nathan yang bijak) yakni satu percakapan seorang Sufi (derwis) tua pada sebuah makam seorang Sufi meister (guru) dari Bhit Shah:

"Agama muncul kemudian; untuk setiap insan seharunya ada kebebasan. Seperti yang tertulis dalam Qur'an, tidak ada paksaan dalam agama. Manusi dilahirkan dari cinta sudah sejak Adam. Pada mulanya kita bersaudara dan kemudian muncullah sekte-sekte dan agama-agama namun pada dasarnya kita berasal dari satu Agama dan mempunyai satu nama yaitu Manusia. Orang-orang suci kami mengajarkan kepada kami (tentang hal ini) untuk diingat selalu bahwa kita (semua) berasal dari Adam." Idee Lessing dalam karya sastranya ini dapat dikategorikan dengan idee seorang Perennialis yang menekankan kesatuan dari kebelbagaian bentuk agama yang ada karena berasal dari satu Sumber yang Esa seperti yang dipaparkan oleh Muhammad Sabri dalam bukunya tentang Filsafat Perennial.

Muh Sabri dalam bukunya yang kita bahas hari mengetengahkan juga ahli-ahli ilmu agama-agama masa kini yang berupaya lewat karya mereka untuk pengertian yang ilmiah tentang agama-agama lain lewat berbagai macam pendekatan baik itu fenomenologi maupun historical approach. Dan dari kalangan muslim sederet nama-nama seperti Seyyed Hossein Nasr yang ide-idenya diacu banyak oleh Mohammad Sabri dalam buku ini kemudian Fazlur Rahman, Hasan Askari, Ismail R Faruqi, dan tokoh-tokoh pluralis indonesia seperti Ali, Nurcholis Madjid, Johan Effendi dan tentunya tokoh kita hari ini sdr (seangkatan!) Muhammad Sabri serta tokoh-tokoh lainnya dimana karya mereka memberikan kesejukkan tersendiri didalam bersosialisasi ditengah-tengah perbedaan bahkan ketegangan yang ada.

Masih terdapat daftar nama yang cukup panjang baik itu theolog maupun ilmuwan lainnya yang bersungguh-sungguh lewat karya-karya mereka memberikan sumbangan yang cukup besar bagi saling pengertian dan hidup bersama secara damai dalam kepelbagaian latarbelakang khususnya kepelbagaian keyakinan.

Filsafat Perennial sebagai kunci pemahaman agama-agama

Ada 3 Masalah pokok yang hendak dikemukakan Muhammad Sabri dalam bukunya ini yakni: Landasan konseptual filsafat Perenial yang diakuinya sebagai kunci untuk memahami ajaran agama-agama yang sangat kompleks dan penuh misteri. Masalah pokok yang kedua adalah letak signifikasi filsafat perennial ini bagi study agama-agama pada masa yang akan datang dan masalah yang terakhir adalah relevansi filsafat perennial ini bagi kehidupan beragama yang beragam di Indonesia.

Pertanyaan pertama mengenai landasan konseptual filsafat perennial ini dijawabnya dengan mengetengahkan 3 konsep utama yang sering dipakai dalam cara atau pendekatan study agama-agama lainnya seperti fenomenologi agama-agama, historical approach dll. 3 Konsep tersebut menyangkut konsep Agama dan Tradisi; konsep Manusia; Alam dan Tuhan menurut Filsafat Perennial.

Suatu hal yang menarik untuk dikaji dalam paparan Muhammad Sabri tentang konsep-konsep tersebut adalah hampir keseluruhan ide-ide diatas banyak dipengaruhi oleh pemikiran sang Sufi, Muhyi ad-Din ibn al- Arabi lewat ajarannya wahdat al-wujud (kesatuan eksistensi) yang berbau neoplatonisme yang diacunya lewat karya tokoh pluralis Seyyed Hossein Nasr. Ide mengenai Agama (bentuk tunggal) dalam Filsafat perennial dibicarakan dengan apa yang disebut dengan Tradisi Tunggal yang universal. Dari Tradisi yang Tunggal itu kemudian menjadi agama-agama (bentuk plural) yang menggunakan perwujudan dan simbol-simbol yang beragam. Agama dipilah dalam 2 kategori esoterik atau hakekat (substansi) agama-agama yang menyangkut hubungan horisontal dan mementingkan essensi serta bersifat transendence, kedua adalah eksoterik atau perwujudan agama-agama yang menekankan manifestasi bentuk, simbol, ide-ide atau dogma. Agama-agama secara esoterik atau pada hakekatnya adalah sama karena bersumber dari Tradisi yang Tunggal atau merupakan manifestasi dari Yang Tunggal dan Mutlak itu, sedangkan yang berbeda adalah secara eksoterik atau perwujudan (bentuk-bentuk) lewat simbol-simbol dan dogma yang berbeda. Disini kita dapat pula mencium pengaruh ajaran sufi "kesatuan eksistensi" (wahdat al-wujud)-nya Ibn al-Arabi dimana bentuk-bentuk yang ada adalah hasil pancaran dari Yang Tunggal.

Konsep mengenai manusia menurut filsafat Perennial digambarkan dalam 2 prespektiv secara hitam putih yaitu prespektiv tradisional dan modern. Idealnya adalah ide manusia dalam prespektiv tradisional yaitu sebagai "perantara antara dunia langit dan dunia bumi" atau didalam agama Islam dikenal dengan istilah khalifatullah fi'l-Ard. Manusia ini disebut juga sebagai manusia perenial yang dalam bahasa sufi dikenal sebagai al-Insan al-Kamil (manusia sempurna).

Sementara manusia dalam prespektiv modern adalah "ciptaan dunia bumi ini" atau "manusia dunia" demikian menurut Seyyed Hossein Nasr yang ditandai dengan pengaruh-pengaruh negativ seperti kejatuhan manusia kedalam dosa, dekadensi moral, ketidakpuasan dan keputusasaan. Manusia dalam pandangan modern menempatkan dirinya sebagai pusat segala sesuatu sehingga hal yang bersifat spritual terabaikan. Muhammad Sabri mengutip uraian Seyyed Hossein Nasr yang mengambil contoh manusia di barat sebagai manusia modern yang disebabkan oleh 3 hal yakni gerakan renaisains, perkembangan Iptek dan sekularisasi sejak abad ke 17.

Pada dasarnya manusia -menurut pemahaman perennial- mempunyai kemampuan untuk menerima nilai-nilai yang sakral dengan kata lain manusia itu mahluk religius (homo religi?) karena didalam batin setiap insan terdapat apa yang dinamakan "wahyu batiniah" atau agama asli yang mengarahkan kepada hal-hal yang baik. Sehingga seseorang yang mengenal dirinya (suara hati nuraninya/batinnya) itu juga mengenal suara Tuhan seperti pengertian para sufi man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu.

Proses penciptaan manusia digambarkan secara bertahap yang mengingatkan saya pada tahapan-tahapan dalam ajaran wahdat al-wujud-nya Arabi atau ajaran martabat tujuh. Demikian halnya denga konsep dunia atau Alam yang benar-benar mengambil alih ajaran wahdat al-wujud tadi atau ajaran Emanasinya Neoplatonisme yakni: Alam dilihat sebagai tajalli atau penampakan diri Allah didunia atau tempat Allah bertajalli atau menampakkan diri. Dalam Filsafat perennial alam dilihat sebagai yang terefleksi dari sesuatu yang Esa atau Tunggal oleh sebab itu ditekankan keserasian alam karena ia adalah pantulan dari Sumber Cahaya Yang Tunggal dan Sempurna.

Konsep filsafat Perennial mengenai Tuhan yaitu Monotheisme (Ketuhanan Yang Maha Esa).

Sudah menjadi konsekwensi dari pemahaman Perennial yang menekannkan Keesaan Yang Mutlak itu sebagai Sumber dari yang beragam sehingga otomatis pengakuan akan Monotheisme ini menjadi sentral pemahaman Perennial dan juga menjadi bahan acuan atau parameter untuk menilai suatu agama yang benar/otentik atau tidak:

"Ketuhanan Yang Maha Esa adalah inti semua agama yang benar dan Otentik (hal. 66)." Dari pemahaman semacam ini timbul pertanyaan: bagaimana dengan agama-agama yang tidak menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai inti ajaran keagamaan mereka, apakah agama-agama tersebut yang misalnya menekannkan kehidupan duniawi lewat ajaran-ajaran moral dan komitmen sosial yang tinggi kita langsung mencap sebagai agama yang tidak benar dan tidak otentik?, bukankan bentuk eksoteris agama -sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya dalam batasan tentang agama- adalah beragam tetapi hakekatnya satu. Hal ini menurut pemahaman saya, kita kembali membuat barier (batasan-batasan) ketika kita memulai menciptakan kriteria-kriteria tertentu sebagai parameter untuk menilai seperti yang dilakukan oleh ahli-ahli Fenomenologi agama seperti F. Heiler dan juga dikritik sendiri oleh Muhammad Sabri ketika mereka hendak menciptakan "Keimanan yang Universal". Pertanyaan yang berikutnya adalah dengan dasar manakah kita mengambil kriteria yang universal untuk semua?

Konsep Tuhan menurut Filsafat ini dipengaruhi juga oleh ajaran Arabi yaitu Konsep Tuhan sebagai Yang Esa sekaligus Plural dalam TajalliNya (penampakanNya) sehingga Tuhan dan Alam sebagai kesatuan ontologis yang saling melengkapi. Karena Alam adalah tempat Tuhan -yang pada hakekatnya/segi zatnya tersembunyi dan tidak dapat diketahui itu- menampakkan diri (mazhar), maka alam merupakan salah satu sifat/Atribut Tuhan yang nampak. Kesimpulan: Allah adalah transenden dalam zatnya dan imanen dalam sifatnya (bahasa sufi).

Tentang relevansi filsafat perennial terhadap kehidupan beragama di Indonesia dipaparkan oleh Mohammad Sabri melalui dialog antar umat beragama dan studi agama-agama yang mengarah pada usaha pencarian kemungkinan adanya apa yang disebut trancendent unity of religions" (kesatuan transenden agama-agama). Dari model-model dialog yang dipaparkan ada satu bentuk yang menjadi ciri pendekatan perenial yakni dialog Theologis. Disini para perennialis seperti Mohammad Sabri mengeritik lagi ahli fenomenologi agama seperti Rudolf Otto, Joachim Wach yang berhenti pada ide seperti yang kudus (das Heilige: Numinous) melainkan dialog dengan cara perennialistik adalah mengajak kita untuk lebih jauh menyelami sendiri pengalaman keagamaan (religious experience) berupa penyatuan diri dengan Tuhan. Mungkin yang dimaksud oleh Mohammad Sabri dengan hal ini yakni membagi pengalaman keagamaan lewat doa-doa bersama (doa oikumenis). Hal ini ditekankan oleh Moh. Sabri berangkat dari kenyataan kehidupan beragama di Indonesia dewasa ini, dimana dialog-dialog yang terjalin belum menyentuh hal yang azali dan masih bersifat formalistis. Diharapkan dari dialog theologis ala perennialis adalah mencari apa yang disebut sebelumnya yaitu: kesatuan transeden agama-agama sehingga dari padanya terungkap keEsaan Tuhan sebagai Sumber semua agama-agama.

Filsafat Perenial sebagai penyempurna metode studi agama-agama

Moh. Sabri dengan penuh keyakinan bahwa study agama-agama dengan menggunakan pendekatan perennial merupakan "kunci" dari study agama-agama masa depan. Saya -mungkin karena latarbelakang study yang menggunakan historical approach- merasa cara pendekatan perennial ini adalah suatu langkah yang berani menembus batas-batas yang memilah keberagaman yang ada, ia melangkah sangat jauh dibanding dengan pendekatan Fenomenologi yang mematok "daerah terlarang" seperti apa yang dimaksudkan oleh dengan das Heilige: Yang kudus, yang tidak boleh dijamah oleh orang yang tidak "berwewenang" artinya pertanyaan theologis yang mendasar dari suatu agama tidak boleh dijamah oleh orang yang tidak meyakininya secara mendasar karena itu tugas para theolog agama masing-masing dan disitulah letak perbedaan ahli ilmu agama-agama (Religionswissenschaftler/In) dengan para theolog. Bagi saya pendekatan perennial, dengan tidak mengecilkan peranan "aliran lain" (?) adalah yang menyempurnakan cara kerja studi agama-agama.

Terlepas dari upaya para perennial yang sungguh-sungguh untuk kehidupan yang sejuk ditengah-tengah situasi yang majemuk dan beranekaragam, saya masih menekankan (kentara orang historika-nya) masih pentingnya pendekatan historis. Mungkin saya berangkat dari pengalaman pribadi saja, ketika saya belajar ilmu agama-agama khususnya agama Islam, bagaimana historical approach misalnya menolong saya untuk memahami kenabian Nabi Muhammad s.a.w dengan melihat kenyataan sejarah bangsa Arab pada awal abad ke-7 M yang membutuhkan seorang tokoh pembaharu. Kalau nabi Musa mengantar bangsanya, bangsa Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir maka Nabi Muhammad s.a.w. menghantar bangsanya keluar dari perbudakan kebodohan dan zaman kegelapan (jahiliyya). Historical approach juga penting sebagai bahan kajian refleksi dan rekonsiliasi (belajar dari sejarah) dalam rangka mengatasi beban sejarah, contohnya bagaimana orang-orang jerman mengatasi beban sejarah mereka yang berkenaan dengan peristiwa Holocaust dengan cara kemauan untuk kembali mengungkap sejarah dengan jujur dan belajar dari padanya, dengan kata lain ada upaya rekonsiliasi dengan masa lalu. Berkenaan dengan perjumpaan agama-agama seperti yang saya ketengahkan pada awal, bahwa telah dan tengah terjadi kebencian, permusuhan, perpecahan bahkan kematian, diharapkan dari sejarah itulah kita bisa berkaca diri untuk menatap masa depan yang lebih baik. Oleh sebab itu sudah sangat mendesak untuk mengembangkan pendekatan-pendekatan studi agama-agama yang lebih sejuk dan dapat memberi sumbangan yang besar untuk perdamaian dunia, salah satunya adalah studi agama-agama dengan pendekatan perennial.

Bahan Acuan:

Karl-Josef Kuschel, Vom Streit zum Wettstreit der Religionen. Lessing und die Herausforderung des Islam. Patmos-Dusseldorf, 1998

Makassar, Desember 1999
Pdt. A. Hildebrandt Rambe