Sumber: http://www.oaseonline.org/
PEDOMAN PENGGUNAAN METODE STUDI KASUS
oleh John Campbell-Nelson/komentar tambahan oleh Corrie van der Ven
METODE STUDI KASUS adalah suatu pola dasar yang membimbing proses pemikiran pastoral-theologis tentang masalah-masalah dan keadaan-keadaan yang dihadapi dalam konteks pelayanan. Metode yang diuraikan di sini dapat bermanfaat bagi para ahli theologia pastoral, pastor dan pendeta, dan orang-orang lain yang terlibat dalam pelayanan pastoral.
METODE STUDI KASUS dapat dipakai untuk mempelajari Tradisi Kristen dalam kaitannya dengan kehidupan dan pergumulan gereja masa kini. Para pelayan dapat memakai metode ini untuk mengamati, menilai, dan merencanakan usaha-usaha pelayanan mereka. Kelompok-kelompok gerejawi juga dapat memanfaatkannya untuk membuka dan menghidupkan diskusi-diskusi yang lebih terarah dan berhasilguna. Semua orang yang memakai Metode Studi Kasus dapat meningkatkan kemampuan kritis mereka dalam bidang theologia pastoral.
METODE STUDI KASUS juga sering dipakai oleh LSM-LSM untuk membahas masalah-masalah sosial yang sementara dihadapi kelompok-kelompok dampingan mereka. Kalau baik orang Kristen maupun orang Islam (Hindu, dsb.) terlibat dalam Metode Studi Kasus, maka baik tradisi Kristen maupun tradisi Islam (Hindu, dsb.) digunakan, kadang-kadang ditambah dengan perspektif HAM sebagai batu ujian yang non-religius.
Jadi, METODE STUDI KASUS memakai pendekatan induktif, yaitu pendekatan yang berdasarkan persoalan (problem-based), dengan kata lain diarahkan oleh kebutuhan atau soal-soal yang muncul setempat (needs-led, issue-oriented).
Pendekatan induktif berbeda dari pendekatan deduktif di mana ayat-ayat kitab suci tertentu atau dogma tertentu menjadi titik tolak dalam pemahaman kenyataan.
Dalam Metode Studi Kasus kitab suci tetap adalah sebagai batu ujian untuk berteologi dan beraksi, akan tetapi bukan dalam arti bahwa satu bagian tertentu menjadi batu ujian melainkan inti kitab suci secara keseluruhan.
Apakah Kasus Itu?
Kasus adalah suatu kejadian atau situasi yang ada dalam kehidupan yang sesungguhnya, yang diangkat sebagai masalah yang harus ditangani atau sebagai alat untuk belajar. Dalam proses studi kasus, istilah "kasus" juga dipakai untuk deskripsi (laporan, ceritera) tentang peristiwa atau situasi yang sementara dibahas. Tentu perlu kita ingat bahwa dalam kenyataan suatu peristiwa selalu melebihi deskripsinya.
Sebuah kasus dapat saja disampaikan secara lisan, tetapi lebih mudah dipelajari bersama apabila kasus itu dirumuskan secara tertulis. Ada beberapa syarat kalau kita ingin menuliskan sebuah kasus:
1. Singkat (tidak memuat informasi yang tidak relevan)
2. Jelas dan teliti (supaya orang lain dapat "masuk ke dalam" dan memahami situasi kasus)
3. Obyektif (sesuai dengan kenyataan, menghindari prasangka atau tafsiran pribadi penulis)
Perlu diperhatikan juga bahwa kalau kasus dapat menyinggung pribadi orang dimuka umum, seharusnya semua nama orang dan tempat diberi nama samaran.
Langkah-langkah dalam Pembahasan Kasus
Setiap langkah dalam pembahasan kasus perlu diikuti secara berurutan untuk menghindari kita dari menempuh "jalan pintas" dalam menghadapi kasus-kasus pelayanan. Yang dimaksud dengan jalan pintas ialah kecenderungan untuk melompat langsung pada "jalan keluar" sebelum kita memahami situasi yang dihadapi dengan baik, ataupun sebelum kita menghayati segi theologisnya. Percuma kita memberi jalan keluar kalau belum tahu mau ke mana! Kecenderungan lain yang dihindari adalah untuk melompat pada theologi sebelum menganalisir dan memahami. Kecenderungan ini mirip dengan pastor yang langsung menasehati atau menghibur tanpa mendengarkan dan memahami pergumulan orang.
Ada empat langkah dalam pembahasan sebuah kasus:
1. DESKRIPSI:
Pertanyaan kunci: Apa yang terjadi?
Deskripsi artinya menggambarkan dengan jelas. Pada langkah ini kita melihat, mendengar, dan menggambarkan kasus itu apa adanya. Di sini semua fakta-fakta yang harus diketahui untuk memahami dan menanggapi situasi kasus dikemukakan. Hal-hal yang bersifat penafsiran atau kesimpulan penulis dihindari. Kalau informasi mengenai kasus sudah cukup jelas dan lengkap baru kita maju ke langkah yang berikut.
2. ANALISIS:
Pertanyaan kunci: Mengapa terjadi begitu?
Analisis berarti uraian. Pada langkah ini kita menguraikan kasus untuk memperdalam pemahaman kita tentang faktor-faktor dan sebab-sebab yang mempengaruhi kejadian atau situasi yang dihadapi. Siapa pelaku-pelaku (stakeholders) dalam kasus ini? Bagaimana pandangan, perasaan, dan motivasi dari pelaku-pelaku ini? Apakah ada pengaruh dari keadaan-keadaan ekonomis, sosial, atau adat-istiadat yang memainkan peranan? Di manakah terletaknya masalah atau pokok yang paling penting untuk diperhatikan oleh gereja atau pelayan?
3. INTERPRETASI:
Pertanyaan kunci: Apa artinya dari segi iman dan etika kita?
Interpretasi artinya penafsiran. Dalam langkah ini kita coba memberikan pendapat kita sendiri tentang kasus sesuai dengan iman dan pemahaman theologis atau etis yang ada pada kita. Kita membuka sebuah dialog di antara peristiwa-peristiwa dalam kasus dengan tradisi/iman/etika. Dengan kata lain kita menerapkan pengetahuan teologis (etis) kepada kenyataan lokal, tetapi kenyataan dan pengetahuan lokal juga mempengaruhi pola pemikiran teologis dan etis. Teologi dan kenyataan saling mempengaruhi. Jadi Metode Studi Kasus menghasilkan sebuah kontekstualisasi teologi.
Analisis kasus sering menimbulkan pertanyaan-pertanyaan teologis yang tak ada jawabannya yang siap-pakai. Dalam Metode Studi Kasus interpretasi berlangsung terus sampai kita menemukan suatu dasar teologis yang dapat dijadikan pegangan untuk menanggapi kasus itu.
Sumber-sumber pemahaman adalah kitab suci, sejarah dan ajaran iman kita, penggembalaan, etika, HAM, dll. Dalam proses menginterpretasi dua pertanyaan yang berikut bisa dipakai sebagai pedoman umum:
1) Apakah perbuatan/pemikiran yang bersangkutan merugikan orang lain atau tidak.
2) Apakah perbuatan/pemikiran yang bersangkutan membebaskan atau tidak.
4. PERENCANAAN AKSI:
Pertanyaan kunci: Apa yang bisa dibuat?
Berdasarkan tiga langkah sebelumnya, kita merencanakan aksi (tindakan) yang dapat melayani orang-orang, kelompok-kelompok, lembaga-lembaga, atau struktur-struktur masyarakat yang terlibat dalam kasus. Tugas perencanaan ini bukan saja menyangkut dengan tindakan-tindakan tertentu tetapi juga termasuk dasar, patokan, dan tujuan yang hendak dicapai. Dasar-dasar aksi ini bertolak dari pemahaman yang dihasilkan oleh analisis kita bersama bimbingan yang kita peroleh dalam langkah interpretasi. Berdasarkan semuanya itu, pendekatan yang bagaimana yang paling baik untuk menjawab permasalahan dalam kasus ini?
Ada baiknya untuk merumuskan aksi-aksi yang cukup realistis, yang bukan di luar kemampuan kita. Ada juga baiknya kalau kita memikirkan jangka pendek dan jangka panjang dalam merumuskan perencanaan.