Analisis SWOT
Pejelasan singat
Corrie van der Ven, 2005
a) kekuatan2 intern dengan peluang2 dan ancaman2 ekstern
b) kelemahan2 intern dengan peluang2 dan ancaman2 ekstern.
· Pertanyaan2 seperti yang berikut bisa diajukan:
Apakah kekuatan bisa semakin diperkuat dengan faktor2 ekstern?
Apakah ancaman2 bisa dihadapi oleh kekuatan2 intern?
Apakah kelemahan2 intern bisa diatasi dengan peluang2 ekstern?
Apakah kelemahan2 bisa diperlemah oleh ancaman2 ekstern (sampai lingkaran setan...)?
Catatan 1: tidak semua faktor bisa digabungkan. Proses menggabungkan seharusnya proses kreatif yang dimanfaatkan untuk mendiskusikan beberapa hal. Apakah ini-ini kekuatan atau kelemahan? Apakah keadaan ini memang keadaan berbahaya? Dsb.
Catatan 2: Pada umumnya faktor ekstern lebih susah dirubah daripada faktor intern (jadi menrubah SDA atau pemerintah lebih sulit daripada menghidupkan liturgi monoton).
Catatan 3: Setelah peserta ‘bermain’ dengan matrix, aksi-aksi atau strategi secara lebih konkret perlu dirumuskan.
CONTOH berdasarkan data-data satu mahasiswa STT-Intim (PJ 2003) yang menerapkan SWOT kepada satu jemaat protestan.
|
Strong Weak Opportunity Threat
ANALYSIS
|
peluang
|
ancaman
|
|
|
SDM keahlian hukum, medis Keanekaragaman budaya
|
Aliran kharismatik Keanekaragaman budaya |
||
|
Kekuatan |
Rajin beribadah Banyak orang terlibat dlm ibadah |
1. |
4. |
|
Kelemahan |
Partisipasi pemuda kurang Pendeta lemah Rajin beribadah
|
3.
2. |
5.
6. |
Penjelasan
1 + 2 Kelihatannya mahasiswa mengidentifisir ‘rajin beribadah’ tidak hanya sebagai kekuatan tetapi juga sebagai kelemahan. Kelemahan karena anggota2 jemaat begitu sibuk dengan ibadah sehingga mereka kurang memperhatikan kebutuhan2 lain dalam dan diluar jemaat. Kekuatan adalah bahwa ada komitmen dari anggota jemaat (banyak rajin). Peluang adalah bahwa cukup anggota jemaat berpendidikan tinggi, mempunyai keahlian/ketrampilan yang bisa dimanfaatkan dalam pelayanan di dalam dan diluar jemaat. Konkret: orang kurang mampu (didalam dan diluar jemaat) yang sakit bisa dilayani oleh anggota jemaat dengan keahlian medis.
3 Kelihatannya partisipasi pemuda merupakan masalah dalam jemaat ini. Keanekaragaman budaya adalah ancaman, tetapi juga peluang. Seandainya “budaya pemuda” cukup dimengerti dan diperhitungkan dalam liturgi (termasuk liturgi hari Minggu), maka ada kemungkinan bahwa partisipasi pemuda naik.
4 Kelihatannya ibadah merupakan peluang besar untuk menyinggung masalah-masalah seperti keanekaragaman budaya. Masalah itu bisa disoroti dari perspektif alkitabiah.
5 Seandainya “budaya pemuda” atau kebutuhan pemuda diabaikan, maka ada kemungkinan bahwa semakin banyak pemuda lari ke aliran kharismatik di mana kebutuhan pemuda lebih diperhitungkan (musik yang bergembira, kreativitas, emosi, dsb.). Catatan: aliran kharismatik juga bisa dianggap sebagai peluang: jemaat yang bersangkutan bisa belajar dari aliran kharismatik. Mengapa pemuda tertarik pada aliran seperti itu? Apakah hidup jemaat kita perlu revisi?
6 Keanekaragaman budaya merupakan peluang, tetapi juga ancaman. Ada ketegangan antara para pribumi dan para pendatang, ada ketegangan antara orang dewasa dan orang pemuda, dsb. Dengan pendeta lemah yang tidak mengantisipasi konflik, keadaan ini semakin berbahaya. ‘Lapangan’ di mana kelemahan bertemu dengan ancaman adalah lapangan yang paling berbahaya. Awas!