Deklarasi Pendirian
Makassar, 7 Februari 2005
TUHAN akan menuntun engkau senantiasa
dan
akan memuaskan hatimu di tanah yang kering,
dan akan membaharui
kekuatanmu;
engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik
dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.
(Yes 58:11)
I. Motivasi Pendirian
Teologi sebagai disiplin keilmuan yang melayani manusia
selalu harus kontekstual. Teologi yang tidak kontekstual akan selalu menjadi
ancaman terhadap harkat dan martabat manusia. Memang seringkali ancaman ini
cenderung tidak dirasakan lagi karena sejumlah pemikiran teologis yang dirumuskan
dalam konteks tertentu diinternaslisasi sedemikian rupa seolah-olah pemikiran-pemikiran
teologis itu bersifat netral. Orang tidak lagi mempersoalkan arti iman kepada
Allah dalam Yesus Kristus yang dirumuskan dalam konteks tertentu. Orang juga
tidak lagi bertanya secara kritis mengenai iman kepada Allah sebagai Bapa dan
Roh Kudus. Juga orang tidak lagi menghayati secara baru arti praksis hidup menggereja
sebagai komunitas iman para murid Yesus. Karena dianggap segala sesuatu yang
terkait dengan pokok-pokok iman itu sebagai bagian dari penghayatan iman itu
sendiri tidak perlu lagi dipertanyakannya. Yang penting bagi mereka ialah berkomitmen
secara total dengan penghayatan iman itu. Memang harus diakui dalam hal beriman
komitmen yang total itu sangat diperlukan. Namun komitmen iman yang total tidaklah
sama dengan mengikuti begitu saja pokok-pokok ajaran Gereja dan pemikiran-pemikiran
teologis yang dirumuskan dalam konteks tertentu yang boleh jadi mulai kehilangan
daya transformatifnya untuk konteks yang berbeda.
Teologi kontekstual sebagai disiplin keilmuan yang melayani
manusia pada umumnya dan umat/warga jemaat pada khususnya akan selalu kritis
terhadap praksis hidup menggereja dari komunitas iman para murid Yesus. Ia selalu
mencurigai model-model penghayatan iman dan praktik hidup menggereja dengan
selalu bertanya: apakah model-model penghayatan iman dan praksis hidup menggereja
itu sungguh-sungguh mendukung harkat dan martabat manusia yang mencerminkan
kemuliaan Allah? Ataukah model-model penghayatan iman dan praktik hidup menggereja
itu justru memelihara status quo kekuasaan baik secara sosial budaya, ekonomi dan politik
maupun religius di mana harkat dan martabat manusia direndahkan? Atau dengan
contoh yang konkret kita bertanya: apakah suasana liturgis Gereja-gereja di
Indonesia (khusus Gereja-gereja Protestan Arus Utama) yang lahir dari pemikiran
teologis tertentu cukup mendorong kesadaran hidup yang memberdayakan ataukah justru suasana liturgis itu hanyalah memperdayakan umat? Pertanyaan-pertanyaan ini memberi indikasi bahwa
teologi kontekstual adalah teologi yang akan selalu mencerminkan pergumulan
teologis aktual manusia dan umat/warga jemaat dan ingin mendorong suatu proses
tranformasi penghayatan hidup seseorang untuk menjalani kehidupannya di dalam
dunia dengan bermodalkan iman kepada Allah dalam Yesus Kristus itu. Di sini
jelas bahwa teologi kontekstual adalah teologi yang tidak statis dan tidak netral
terhadap konteks-konteks temporal. Karena itu perlu ada pengkajian yang terus
menerus terhadap teologi dan praksis hidup menggereja.
Teologi kontekstual yang mendorong praksis pelayanan
transformatif tidak lahir dari idealisme seorang teolog semata. Juga teologi
kontekstual seperti ini tidak dapat dikerjakan oleh seorang teolog dalam kesunyian
intelektual dalam ruangan perpustakaan kampus saja. Teologi kontekstual ini
lahir dan dilahirkan dari dan bersama kebutuhan masyarakat dan kebutuhan jemaat-jemaat Kristen
yang sedang bergumul dengan tugas-tugas misionernya dan oleh mereka sendiri.
Apa yang ingin ditekankan di sini ialah teologi kontekstual lahir dari kebutuhan
pelayanan jemaat. Akan tetapi jawaban atas kebutuhan itu tidak mungkin hanya
didatangkan begitu saja dalam bentuk teologi siap pakai dalam logika teologi terapan model pendidikan --- yang oleh Paulo Freire --- disebut:
pendidikan model banking yang bersifat indokrinatif. Kami berpendapat bahwa
kebutuhan-kebutuhan warga jemaat dan pelayanan dalam jemaat harus dipenuhi dengan
memberdayakan potensi yang dimiliki dan yang hidup dalam diri warga jemaat
dengan model pendidikan orang dewasa (androgogi) yang menekankan metode pembelajaran partisipatoris dalam
suasana pembelajaran yang demokratis! Jadi, melalui model pendidikan partisipatoris
dan demokratis itu, ketrampilan dan refleksi teologis warga jemaat diberdayakan berdasarkan filosofi pendidikan belajar seumur
hidup (life-long-learning) dan belajar secara interdisipliner dan holistis (holistic-learning) yang mendorong kecerdasaan intelektual, kecerdasaan
emosional, kecerdasaan spiritual dan kecerdasaan sosial yang handal dalam menjalani
kehidupan ini.
Pertimbangan-pertimbangan di atas inilah mendorong sebagian dosen
STT INTIM Makassar yang menghendaki perubahan ke arah penggembangan mutu pendidikan
teologi kontekstual di Indonesia Timur, mendirikan lembaga ini sebagai suatu bentuk kegiatan yang mandiri dari struktur
& program kurikulum formal STT INTIM Makassar sehingga dapat menjadi “oase
teologis” yang ingin selalu menawarkan model-model penghayatan iman dan praktik
hidup menggereja yang memberdayakan umat dan Gereja-gereja di Indonesia sehingga
mampu melaksanakan panggilan misionernya sebagai komunitas iman para murid Yesus
Kristus. Idealisme lembaga ini lahir antara lain dari aspirasi Gereja-gereja
Pendukung STT INTIM dan tuntutan penyelenggaraan pendidikan tinggi --- termasuk
pendidikan teologi --- yang menekankan kurikulum yang berbasis kompetensi sebagaimana
diatur dalam Sistem Pendidikan Nasional dan arah pengembangan teologi kontekstual
yang diperjuangkan oleh PERSETIA (Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia).
Impian dan inspirasi tentang lembaga seperti ini telah bertumbuh dan
dipikirkan sejak lama oleh para pendiri baik secara individu maupun dalam diskusi-diskusi,
dan menjadi semakin nyata dalam dialog di tengah-tengah civitas academica STT
INTIM maupun dengan pelayan-pelayan gereja dan masyarakat. Saat pendirian di
tengah-tengah berbagai krisis pendidikan teologi di Indonesia Timur ini dirasakan
sebagai saat yang tepat (kairos) untuk mengakkumulasi aspirasi-aspirasi tersebut dan
menyalurkan semangat dan kreativitas dengan cara yang konstruktif. Kerja sama
ini diyakini sebagai wujud konkrit kesetian kepada panggilan Tuhan, kepada prinsip-prinsip
injil Yesus Kristus, dan kepada komitmen bersama sebagai bagian dari civitas
akademika STT INTIM Makassar, gereja-gereja dan gerakan-gerakan masyarakat sipil
di Indonesia Timur.
Lembaga ini ingin mendorong
interaksi yang hidup antara pelayan-pelayan gereja dan masyarakat, civitas academica STT INTIM Makassar
dan perguruan tinggi teologi lain di Indonesia Timur, serta gerakan-gerakan
lain yang mendorong pendidikan yang memberdayakan. Karena itu lembaga ini merupakan
“jembatan” antara “dunia akademis” dan “praksis pelayanan Gereja” yang selama
ini --- demikian menurut pengamatan kami --- sangat diabaikan oleh pendidikan
teologi formal. Perlu kami tekankan di sini --- seperti nyata dari uraian di
atas --- bahwa jembatan ini adalah jembatan dua arah yang menggarisbawahi semangat belajar bersama (mutual-learning) untuk saling memperkaya satu dengan yang lain (bottom-up-approach,
berangkat
dari potensi-potensi peserta) dengan menjujung tinggi sikap kritis dan konstruktif.
Sekaligus lembaga ini ingin menjawab kebutuhan yang semakin besar di antara pelayan-pelayan
gereja dan masyarakat untuk mendapatkan kesegaran baru sebagai sumber kreativitas
intelektual dan spiritual di tengah-tengah kesibukan dan pelayanan sehari-hari
serta kesempatan sharing pengalaman dan refleksi teologis berangkat dari pergumulan
konteks pelayanan (seperti pembaharuan liturgi dan pendekatan pastoral, diakonia
transformatif, interaksi interkultural dan antaragama, transformasi konflik,
pemberdayaan masyarakat sipil dsb.).
II. Tujuan Pendirian
Lembaga ini mempunyai 3 (tiga) tujuan utama, yaitu:
(a) sebagai pusat penelitian mengenai hubungan teologi dengan
kehidupan jemaat dan masyarakat sebagai pewujudan berteologi dalam konteks Indonesia
Timur.
(b) sebagai pusat pengembangan ilmu teologi dan pendidikan
teologi yang kontekstual, secara khusus dalam konteks Indonesia Timur.
(c) sebagai pusat pelatihan untuk pemberdayaan para pelayan
gereja dan masyarakat sebagai komunitas iman yang transformatif.
Dari ketiga tujuan utama tersebut diharapkan lembaga ini dapat menjadi
“oase teologis” yang selalu memberi “air kehidupan teologis” yang menyegarkan
komitmen iman dan praksis hidup menggereja secara kontekstual. Hal ini akan
diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti penelitian lapangan, seminar
kajian, konsultasi, pelatihan, penerbitan dll.; sesuai dengan pendekatar dasar
oase intim, program-program tersebut akan dikembangkan bukan berangkat
dari sebuah pembidangan (deduktif/top-down), melainkan berangkat dari pergumulan-pergumulan konkrit
(isu-oriented).
III. Sifat Dasar
Sifat dasar yang melekat dalam lembaga ialah:
(a) Kritis-konstruktif; artinya, kerangka kesadaran epistemologis lembaga ini
ialah memiliki daya dekonstruktif dan rekonstruktif. Pilihan diambil karena teologi sebagai konstruksi filosofis-sosiologis-antropologis
selalu dirumuskan dalam konteks tertentu;
(b) Interdisipliner-dialogis; artinya, kerangka kerja lembaga ini ialah menempatkan
bidang-bidang ilmu teologi yang berbeda-beda itu dan ilmu-ilmu non-teologi sebagai
partner-dialog yang saling memperkaya dalam menghasilkan sebuah gagasan
teologis kontekstual. Pilihan sesuai dengan sifat teologi kontekstual itu sendiri
yang interdisipliner;
(c) Memberdayakan; artinya, lembaga ini selalu akan menciptakan suasana
lingkungan akademis dan praktik yang memberdayakan pontensi yang berbeda-beda
dalam menghasilkan teologi kontekstual yang mendorong transformasi praksis hidup
menggereja.
Ketiga sifat dasar yang melekat pada lembaga ini dimaksudkan untuk
melampaui pusat pendidikan keilmuan dan pendidikan kader yang masih diselenggarakan
hanya dengan meneruskan model pendidikan teologi di masa lampau, yaitu model
pendidikan yang lebih mencerminkan mentalitas masyarakat feodal dan tidak demokratis.
Tidak mungkin menghasilkan suatu teologi yang kontekstual dengan model "pendidikan
banking". Justru model pendidikan ini hanya akan memperkokoh dogmatisime
dan sikap moralisme umat Kristen dalam menghayati panggilan hidup sosial mereka.
Teologi kontekstual sebagai upaya berteologi dari dan dalam konteks selalu bersifat
eksperimental. Di sini model pendidikan demokratis dan partisipatoris dapat
memberi sumbangan yang signifikan terhadap pengembangan teologi kontekstual.
Teologi kontekstual adalah teologi yang berusaha melampaui pendidikan teologi
yang berparadigma "top down", otoritarisme dan bermentalitas anugerah yang murah.
IV. Struktur
Kelembagaan
Lembaga ini mempunyai struktur kelembagaan sbb:
(1) Badan Penanggungjawab dibentuk oleh 9 orang pendiri (rekrutmen/penggantian
akan diatur dalam AD/ART) dan berbentuk team-work. Tim tersebut terdiri dari:
Direktur, Wakil Direktur, Bendahara serta Anggota.
(2) Koordinator-Koordinator Program yang mengkoordinir tim kerja program masing-masing diangkat oleh dan bertanggungjawab kepada
Badan Penanggungjawab.
(3) Staf Administrasi, diangkat oleh dan
bertanggungjawab kepada Badan Penanggungjawab.
(4) Jaringan Kerja Sama (lembaga-lembaga pendidikan teologi, gereja-gereja dan
jemaat-jemaat setempat serta lembaga masyarakat sipil (ornop/LSM) dsb. yang
secara kontinu atau secara insidentil menjadi mitra kerja sama dalam program-program
oase intim)
(5) Jaringan Pendukung (individu/lembaga yang mendukung baik secara finansial
maupun pemikiran)
Struktur kelembagaan ini akan diatur lebih lanjut dalam AD/ART dan
terbuka untuk dikembangkan kemudian hari sesuai tingkat kelembagaan dan status
hukum yang relevan bagi kebutuhan pewujudan visi & misi oase intim.
V. Penutup
Itulah beberapa pertimbangan dan arah pembentukan lembaga ini sebagai “oase pendidikan teologis” INTIM. Semoga lembaga ini --- sesuai dengan fokusnya--- dapat menjadi lembaga pengembangan teologi dan pemberdayaan umat secara kontekstual.
WITH JOY YOU WILL DRAW WATER FROM THE WELLS OF SALVATION (Yes 12:3)
