"Kain, Habel dan TUHAN"
Beberapa pertimbangan praktis-teologis tentang kekerasan
(Bahan ceramah umum Pdt.B.F.Drewes M.Th, pada tgl. 9 dan 11 Oktober di STT-INTIM, Makassar)
 

0. Pendahuluan

Relevansi:

Kekerasan melanda beberapa daerah di Indonesia secara dahsyat. Tetapi kita melihat bahwa kekerasan tidak hanya masalah di tanah air, melainkan juga di daerah-daerah yang lain. Maka kami berpendapat bahwa dari segi kontekstual dan dari segi ekumenis masalah 'kekerasan' ini mendesak. Memang, dalam ceramah ini kami tidak akan menawarkan penyelesaian-penyelesaian atas soal ini. Kami hanya ingin mengemukakan beberapa pertimbangan, yang barangkali membuka wawasan kita bagi pikiran dan tindakan lebih lanjut.

Dengan 'ekumenis' saya maksudkan bahwa perhatian bagi 'kekerasan' tidak hanya ada di Indonesia, melainkan ada di dunia secara menyeluruh. Perhatikanlah misalnya:

* Pada tahun 1993 Parlemen Agama-agama Dunia menerima suatu Deklarasi Etika Global dengan beberapa prinsip etis untuk mengatasi krisis yang sedang membayang-bayangi generasi berikutnya, dengan mendukung kultur anti-kekerasan dan sikap hormat terhadap semua kehidupan (Sunardi, 179 - nama diri dan nomer halaman mengacu kepada bahan baca pada akhir karangan ini).

* Dewan Gereja-gereja seDunia menluncurkan Decade to Overcome Violence (DOV = Dasawarsa Untuk Mengatasi Kekarasan) 2001-2010.!!

* Juga Organisasi Konferensi Islam telah menuntut diakhirinya aneka bentuk kekerasan atas nama agama. (Harian Kedaulatan Rakyat, 09-09-00).

* Di kota Belanda, di mana saya tinggal ada kelompok diskusi di sekitar soal Kekerasan.
 

Judul:

Saya memakai judul Kain, Habel dan Tuhan. Maksudnya bukan untuk menafsirkan cerita Kain dan Habel secara mendalam, melainkan cerita ini merupakan titik tolak saja untuk mengacukan kepada pokok-pokok yang mau dibicarakan, yaitu kekerasan menusia terhadap sesama (jadi bukan kekerasan terhadap binatang dan alam), dalam terang Firman Tuhan.

Inspirasi saya terima juga dari buku Daniel K.Listijabudi: Tragedi Kekerasan, Menulusuri Akar serta Dampaknya dari Balada Kain dan Habel (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 1997).
 

Garis besar ceramah ini adalah sebagai berikut:

1. Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuhnya

1.1. 'Pemukulan' di mana-mana dan bentuknya aneka ragam

1.2. Mengapa ada 'pemukulan'?
 

2. Engkau, Kain, harus berkuasa atas roh kekerasan

2.1. Keterangan judul

2.2. Apa peranan kekerasan dalam Alkitab?

2.3. Beberapa nas lain yang penting

2.4. Bagaimana menanggapi sebab-sebab pemukulan (bd. 1.2.)

2.5. Jadi.... Beberapa kesimpulan
 

3. TUHAN menaruh tanda pada Kain - Beberapa pertimbangan praktis
 

4. Bahan studi lanjut
 

------------------------------------------
 

1. Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuhnya
 

1.1. 'Pemukulan' di mana-mana dan bentuknya aneka-ragam
 

Tadi sudah dikatakan bahwa makin dirasakan bahwa kekerasan merupakan masalah dalam seluruh dunia. (Saya mengutamakan di sini kekerasan fisik, walaupun memang juga ada kekerasan psikhis.)

Kekerasan ada gejala tidak hanya di Indonesia, melainkan di mana-mana.

- di Indonesia; perkelahian antar-sekolah ( kadang-kadang tanpa mengerti sebabnya), antar desa; Poso; Ambon; Aceh; Papua.

"Kekerasan yang terjadi sudah menjadi patologi sosial, bukan lagi merupakan kekerasan individual" pendapat ahli Dr.Budiono Santosa dalam diskusi ilmiah tentang kekerasan baru-baru ini [Kedaulatan Rakyat 09-09-00];

- di Afrika: banyak perempuan yang mengungsi - misalnya dari Burundi, diperkosa pada waktu mereka melakukan pekerjaan sehari-hari, seperti mencari kayu untuk masak [Jakarta Post, 26-09-00]; ribuan anak yang membesar sebagai serdadu...;

- di Jerman: tempat tinggal orang asing dibakar; orang India yang sudah lama menetap di Jerman pada suatu malam dipukuli sampai mati, hanya "sebab ia orang asing';

- di Belanda: pemukulan di jalan umum, kadang kadang dengan alasan yang sepele; konduktur kereta api sering diserang pada waktu mereka mengontrol karcis penumpang.

- dan seterusnya....
 

Bentuknya anekaragam:

* Secara internasional:

- dalam Perang Dunia II 60 juta orang dibunuh (Käsmann, 2).
 

* Dalam negeri, di jalan umum:

- pembunuhan antar kelompok etnis (Kalimantan Barat);

- pembunuhan antar kelompok religius;

- pemukulan antar kelompok (antar sekolah; pada pertandingan sepak bola!) - sering sesudah minum minuman keras.
 

* Di tempat kerja/studi:

- perempuan yang terpaksa merendahkan diri, demi ....

Dari suatu laporan dari Yayasan Anisa Swasti (Yasanti): Perlakuan kekerasan terhadap buruh perempuan banyak terjadi di sektor industri. Buruh perempuan sangat rentan manghadapi pelesahan seks, penganiayaan dan pemerkosaan. Ada laporan kasus: dalam sebuah bus yang membawa sekelompok buruh perempuan pulang pada malam hari, dua orang laki-laki yang bertugas menjaga keamanan, justru dengan bebas menggangu wanita itu dalam bus yang sengaja dibawa dengan pelan-pelan oleh sopirnya. Para buruh menjerit tetapi tidak ada orang mendengar (Murniati, 25).
 

* Dalam konteks gereja pun!

"Berbagai macam kekerasan terjadi dalam gereja... Korban kekerasan adalah perempuan anggota gereja, aktivis umat, anggota koor, istri yang setia, anak perempuan dari keluarga kkristen yang baik, bahkan biarawati. Pelakunya adalah para tokoh umat, pimpinan gereja, serta anggota gereja yang terpandang. Para pelaku hampir semua adalah orang-orang yang dihormati, yang dipercaya, yang di mata orang banyak dipandang sebagai tokoh baik dan suci, yang bertugas melindungi umat, bahkan yang diangkat sebagai pembimbing rohani. Apabila pengalaman ini tidak diangkat dan dipersoalkan, kita semua akan menganggap persitiwa tersebut sebagai hal yang "biasa". Para pelaku akan meneruskan perilakunya karena berpendapat bahwa korban tidak akan "membuka rahasianya" sebab takut malu." (Murniati, 27,28).
 

* Dalam rumah:

- pemukulan dan bahkan pembunuhan akan perempuan oleh laki-laki (Murniati, 23);

- idem terhadap anak-anak

- kekerasan dalam rumah di Belanda k.l. 70% oleh laki-laki; 30% oleh perempuan.
 

Perhatikanlah:

- Kebanyakan pelaku kekerasan adalah laki-laki.

- Kekerasan biasanya dilakukan terhadap pihak yang dianggap lebih rendah atau lebih lemah dalam hal umur, kedudukan sosial, posisi ekonomi. Bandingkanlah Kain yang memukul Habel, adiknya.

Beberapa definisi:

kemarahan adalah perasaan yang menolak, yang ingin meniadakan, entah terarah kepada situasi atau orang atau kelompok tertentu.

'Kemarahan' berhubungan secara erat dengan agresi, yaitu naluri untuk menyerang.

(Lorenz menganggap bahwa nalari agresi dimiliki manusia di samping tiga naluri yang lain: naluri lapar, sek, dan rasa takut, Sunardi, 162).

Memang naluri agresi adalah umum, tidak dapat dihilangkan, melainkan kita bisa belajar bagaimana 'menerapkannya" tanpa menjadi kekerasan yang melukai orang lain! (Seperti kita juga harus belajar bagaimana 'menerapkan' naluri lapar, seks dan rasa takut tanpa merugikan orang lain.)
 

kekerasan (violence) adalah tindakan fisik yang bermaksud untuk melukai (sampai membunuh) sesama atau merusak (sampai memusnahkan) miliknya.

(Dalam rangka ini kita dapat memperbedakan antara kekerasan individual dan struktural. Kekerasan struktural misalnya: tiap tahun k.l. 7.000.000 anak meninggal dunia karena kelaparan atau kekurangan gizi! Dalam ceramah ini kekerasan struktural tidak akan dibahas secara khusus.)

Saya tidak setuju bahwa 'agresi' dan 'kekerasan' sama saja, seperti kadang dianggap. Lebih baik untuk memperbedakan antara kedua hal itu: 'agresi' sebagai suatu naluri alamiah, sedangkan 'kekerasan' adalah tindakan atau penyaluran tertentu dari naluri agresi itu. Kita bertanggung jawab secara moral berhubungan dengan kekerasan itu.
 

1.2. Mengapa ada pemukulan?
 

Pertanyaan yang harus muncul pada kaum intelektual! Jangan terlalu cepat kaum teolog 'lari' kepada kehendak Allah, sebagai sebabnya. Harus ada analisis.

Kami menyebut beberapa sebab munculnya kekerasan - catatan in memang tidak lengkap!
 

* Orang yang dididik dengan kekerasan sering menjadi orang yang memakai kekerasan!

Bandingkanlah Lamekh (namanya barangkali berarti 'seorang pemuda yang kuat'), turunan Kain, di Kej.4:23:

"Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku...".
 

* Marasa dipermalukan, harga diri diserang - khusus berlaku bagi mereka yang menganggap diri sendiri penting dan besar, melainkan secara tersembunyi merasa 'minder'. Di Belanda a.l. kekerasan oleh laki-laki yang terpelajar yang istrinya naik lebih dari dia sendiri dalam masyarakat.
 

* Ketakutan, kekhawatiran akan hari depan, apalagi dalam masyarakat yang berubah dengan cepat:

kepastian lama (misalnya hasil dari ladang; gotong royong; cara mengatur perkawinan anak-anak) tidak berlaku lagi; individualisme mendorong orang untuk mengabil keputusan sendiri, sedangkan dulu adat-istiadat masyarakat dituruti.

Orang yang memakai kekerasan biasanya orang yang takut secara tersembunyi, mereka ingin memberi kesan bahwa mereka berani (misalnya melalui teriakan dengan suara keras).
 

* Masalah kekerasan berkembang sejajar dengan masalah-masalah ekonomi. Sering berlaku: makin besar soal ekonomi dalam suatu keluarga dan masyarakat, makin banyak kekerasan (Kässmann, 51).

Jangan lupa orang/kelompok yang marah, sering mencari alamat kemarahan dan kekerasan, sedangkan 'alamat' itu sama sekali tidak berhubungan dengan sebab kemarahan itu. Sebagai 'alamat'/sasaran sering pihak yang lemah dipilih (bd. Listijabudi, 68; Murnati 23)
 

* Kepastian hukum tidak ada

Prof. Suhartono berpendapat bahwa perang desa yang berkembang sekarang ini disebabkan terabaikannya konsep adil, hak dan bijak. Tindakan destruktif yang dilakukan sekarang merupakan senjata tradisional untuk melampiaskan kekecewaan dan ketidakpuasan. Jika sekiranya mereka melakukan destruksi tidak merasa kehilangan dan seandainya mendapat sesuatu mereka tidak tambah apa-apa. Karena itu mereka dengan tenang mengatakan sama-sama tidak makan (Kedaulatan Rakyat, 09-09-00).
 

* Pandangan sejarah serta informasi yang membenarkan kekerasan:

Di Yugoslavia peranan penting bagi kesadaran orang: pada tahun 1389(!) orang Servia dikalahkan tentara Turki (Moslim) dalam tempuran pada Kosovo; simbol bagi penderitaan orang Servia ini harus dibalas (menurut orang Servia) (Kässmann, 63).
 

* Ideologi yang membenarkan kekerasan;

Misalnya: pemuda yang melakukan kekerasan merasa kuat dan terhormat, tidak merasa melakukan kesalahan - menurut 'ideologi' dalam kelompok sebaya mereka.

Penguasa sering membenarkan kekerasan. Untuk mengamankan 'pembangunan', 'stabilitas nasional', 'integrasi nasional'.
 

* Teologi

Terlalu cepat Sunardi mencatat: Semua agama menolak kekerasan per se (hlm. 167). Lebih baik catatannya bahwa 'agama berkaitan dengan kekerasan dalam fungsi sebagai aparatus pembangunan. Sehingga ada 'agamanisasi' kekerasan (Sunardi, 169).

Memang ada contoh dalam sejarah agama-agama bahwa agama dipakai sebagai dukungan bagi kekerasan.
 

* - NB informasi dan ideologi tadi sering membawa orang kepada membalas dendam. Tetapi "Setiap pembalasan mengundang pembalasan yang lain lagi. Bentuk tindakan kejahatan dalam rangka membalas dendam itu cenderung sama dengan kejahatan yang pernah terjadi sebelumnya" (Girard dalam Listijabudi, 79).
 

* Ideologi kekerasan sering diedarkan melalui film dan t.v. di mana perbedaan pendapat dan perbedaan kepentingan diselesaikan dengan kekarsan!

Perhatikanlah: Di dunia Utara pemuda yang berumur 18 tahun berada di sekolah selama 15.000 jam; menonton t.v. selama 18.000 jam. Selama 18.000 jam itu ia melihat 40.000 pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan serta kasus kekerasan lain (jadi lebih dari dua kasus per jam). Yang mereka belajar, ialah bagi laki-laki kekerasan merupakan jalan keluar dari soal-soal (Kässmann, 53).
 
 
 

2. Engkau, Kain, harus berkuasa atas roh kekerasan (ay.7.)

- Beberapa pertimbangan teologis
 

2.1. Keterangan judul butir 2 ini

Di Kej.4:7 kita baca:

"Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu;

ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."

Terjemahan Listijabudi:

"Jika kamu tidak berbuat baik, dosa adalah roh jahat di pintu

dan ia begitu berhasrat padamu, namun engkau harus berkuasa atasnya."
 

Kemarahan/agresi memang ada pada kita semua, tetapi 'roh jahat yang berbentuk kemarahan/agresi jangan menguasai manusia, sehingga berbuah kekerasan!

(Lihat Listijabudi, 104-106).
 

Bagaimana menguasai kecendrungan untuk melakukan kekerasan? Dalam rangka ini beberapa pertimbangan teologis dulu.
 

2.2. Apa peranan kekerasan dalam Alkitab?

2.2.1 Alkitab - kabar tentang damai sejahtera - memuat bayak kekerasan, khusus dalam PL
 

Alkitab, secara khusus PL mengenal banyak kisah yang penuh kekerasan.

Suatu contoh saja:

Kel.17: di padang gurun ada perang antara Israel dengan orang Amalek, Israel menang dan Tuhan berfirman kepada Musa (ay.14):

"Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan,

dan ingatkanlah ke telinga Yosua,

bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolomg langit."

Kemudian ada perintah kepada raja Saul (1Sam 15:2,3) tentang Amelek:

"Beginilah firman TUHAN semesta alam:

Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amelek kepada orang Israel karena Amelek menghalang-halangi mereka,

ketika orang Isael pergi dari Mesir.

Jadi pergilah sekarang,

kalahkanlah orang Amelek,

tumpaslah segala yang ada padanya,

dan janganlah ada belas kasihan kepadanya.

Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak- anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai."

Nas seperti ini merupakan suatu bahaya bagi kita semua, jika tidak dimengerti dengan baik.

Miusalnya: Pada abad ke-17, nas ini dikutip seorang teolog protestan, yang bernama Gouge, yang menerapkan nas ini kepada orang Katolik. (Interpretation, 392).
 

Dalam nas seperti ini sangat pentinglah soal metode penafsiran dan penerapan (atau hermeneutik).
 

Bagaimana menanggapi nas-nas seperti ini?

a) Jangan 'membuang' PL sebagai 'kolot', tidak berlaku lagi! (Marcion)

Nas-nas seperti ini harus dibaca secara yang tepat.

Artinya: b) tepat dalam konteks PL dan c) tepat dalam konteks Alkitab secara menyeluruh.
 

Ad b): tepat dalam konteks PL secara menyeluruh:

- Maksud tujuan utama dari kabar PL ialah damai-sejahtera (syalom) di bumi. Inilah maksud tujuan Perjanjian antara TUHAN dengan Israel. Ini demi berkat bagi dunia secara menyeluruh (Kej.12:1-3), dan berkat TUHAN membawa damai-sejahtera (Bil 6:22-26). Bahkan dapat dikatakan nama TUHAN (yaitu hakekatnya, kepribadiannya) berarti syalom, Hak 6:24 (TB: TUHAN itu keselamatan; lebih baik: TUHAN itu damai sejahtera. Istlah syalom dipakai).

(Bd. Juga Yeh. 37:26; Yes. 54:10).

Damai sejahtera adalah buah dari keadilan/kebenaran dan sebaliknya (Mzm 85:11) (peace with justice).

Lantas: secara umum dalam PL ada orang yang mendukung syalom (yaitu orang tsadik, orang benar/adil) dan ada orang yang merusak syalom. (yaitu orang rasya', orang fasik)

Dalam cerita-cerita Alkitab mereka sering muncul secara 'hitam-putih', seorang adalah orang benar/adil atau orang fasik (lih. misalnya Mzm 1!)

Amelek digambarkan sebagai orang yang merusak damai sejahtera, bacalah: Ul 25:17-19, khusus 17,18; lih. juga 20:16,17: bangsa berdosa). Maka Amelek tidak mempunyai hari depan dan jangan bercampur dengan mereka....

Apakah hal ini berarti bahwa sekarang begitu saja orang tertentu boleh dilukai dan dibunuh dalam nama Tuhan Allah - oleh kelompok religius? Memang tidak, a.l. sebab kita tidak hidup dalam kenyataan hitam-putih!
 

Catatan tambahan:

Memang ada banyak kekerasan di PL, tetapi lihat juga dalam PL pembatasan kekerasan:

- Pembalasan terhadap Kain ditolak dengan tanda dari Allah, Kej. 4:15;

- kritikan nabi-nabi terhadap raja (misalnya Hos.10:13-15; Yes.30:1-5; 31:1-3)

- Mzm 46: TUHAN menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi.
 

Ad c)

PB merupakan 'penggenapan' PL. Artinya: maksud tujuan definitif dari PL menjadi nyata dalam Yesus Kristus (memang kita membaca PL dalam terang PB dan PB dalam terang PL)

Randall memeriksa hal 'perang' dan 'damai' dalam PL, PB dan Al Quran:

Berhubungan dengan PL dan PB hasilnya a.l. sebagai berikut (saya mengadakan koreksi/perobahan sedikit terhadap bahan Randall):
 
PL PB (1/3 dari PL)
Perang politis 

Perang eskatologis 

190 atau lebih

100 atau lebih

2 atau kurang; (perb. 6) 

20; (perb. 60)

Damai politis 80 atau lebih 30 atau lebih; (perb. 90) 
Damai spiritual/individ.

Damai eskatologis/jemaat/dlm Kristus

50 atau lebih

40 atau lebih

50 atau lebih; (perb.150)

30 atau lebihl; (perb.90) 

(Keterangan: jika kita membandingkan jumlah munculnya pengertian tertentu dalam PL dan PB, perlu kita ingat bahwa panjangnya PB kira-kira sepertiga kebanding PL; jadi untuk membandingkan secara langsung jumlah munculnya pengertian tertentu harus dijadikan tiga kali lipat.)
 

Jadi: hal damai yang begitu penting dalam PL menjadi lebih penting lagi dalam PB. - tetapi tidak dicapai melalui kekerasan oleh manusia.

Memang konteks politis PL dan PB sangat berbeda - tetapi perbedaan pokok bahwa damai sejahtera dicapai melalui salib/kebangkitan (lih. 2.2.3).

Damai sejahtera adalah maksud tujuan utama kabar baik PB dan PL. Damai sejahtera sekali lagi berarti peace with justice (!!!).
 

2.2.2. Kekerasan diserahkan kepada pemerintah (yang syah) dan kepada Allah

Perhatikanlah: dalam Alkitab, kekerasan, sejauh diterima adalah kekerasan yang dilakukan pemerintah, baik dalam PL (hakim-hakim; raja-raja Israel) maupun dalam PB (Rm 13) - sedangkan terus juga ada pandangan kritis terhadap pemerintah duniawi (misalnya 1Sam 8:10-18 [misypat - 'hak raja', ironis!]; Why 13; Mrk 10:42
 

Dan ada gambaran dalam sastra apokaliptis tentang kekerasan/perang eskatologis yang dilakukan Allah.

Dalam PB 'pembalasan' adalah urusan Allah: Rom 12:19-21 - nb. dalam keadaan penganiayaan.
 

2.2.3 Salib dan kebangkitan

Tetapi damai sejahtera Allah tidak dicapai melalui melakukan kekerasan, melainkan melalui menderita kekerasan. Waktu Yesus, anak Allah, disalibkan, Allah tidak bertindak dengan kekerasan, melainkan dengan membangkitkan Yesus dan mencurahkan Roh Kudus! Inilah sutau masalah pokok bagi kita dalam kabar Alkitab!!

Dalam rangka kekerasan makna salib perlu direnungkan secara mendalam. Jangan hanya makna 'penebusan' diperhatikan, juga ada makna 'mengikuti, lihat mis. Mrk.8:31-9:1; 9:30-37; 10:32-45)
 
 
 

2.3. Beberapa nas yang penting
 

1. - sikap Yesus terhadap kaum Zelot.

Walaupun sangat mungkin ada orang Zelot di antara para murid (Mrk 3:18 - Simon Kananaios; TB Zelot; //Luk 6:15 Zelotes) Yesus sendiri bukan seorang Zelot. Lih. misalnya Mat.26:52!
 

2. - Yesus membersihkan halaman Bait Allah (Mrk11:15-19; Mat.21:12,13; Luk.19:45-48; Yoh 2:13-17)

Kata-kata mana dipakai?

Dalam Injil-injil sinoptis: ekballein (mengeluarkan; mengusir) dan katestrepsen(membalikkan);

Luk hanya ekballein. Jadi bukan perkataan kekerasan menurut definisi kami di butir 1.

Yoh. 2:15: poiesas fragellion ek skhoinioon (membuat cambuk dari tali atau dari jerami);

exekheen to kerma (menghamburkan uang)

anetrepsen (membalikkan)

Kita tidak membaca tentang luka dlsb. Yesus tidak pakai kekerasan menurut definisi kita.
 

3. Mat. 10:34 (//Luk 12:51) "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang". "Pedang" dengan arti kiasan - lihat konteks nas ini (dan Lukas 12:51 memakai "pertentangan'). Di sini lebih dirumuskan hasil kedatangan Yesus dari pada maksud tujuan kedatangan-Nya.
 

4. Juga di Luk 22:35-37 'pedang' dalam arti kiasan, mengacu kepada sikap siap menghadapi konflik. Lihat jawaban Yesus: 'sudah cukup', artinya 'sudahlah', tidak mau melanjutkan pembicaraan ini, seakan-akan ini mengenai pedang yang sungguh-sungguh. Maka sikap Yesus waktu pedang dipakai juga: "sudahlah itu" (22:51; memang dalam bahasa Yunani perkataan ini tidak identik dengan perkataan di 22:37).
 

5. Mat.5:38-42: '... siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya bibi kirimu"

-- terutama tentang konflik antar individu;

-- cara penamparan untuk menghina; ini bukan pukulan dengan tangan kanan ke pipi kiri, melainkan suatu penamparan dengan 'bagian luar' tangan kanan kepada pipi kiri.

-- memberi bibi kiri, menurut beberapa ahli tafsir, supaya lawan menjadi sadar. Memang jika lawan tidak menjadi sadar, sikapmu bisa lain.
 

2.4. Bagaimana menanggapi sebab-sebab pemukulan (bd. 1.2.)

Beberapa catatan berhubungan dengan sebab-sebab kekerasan seperti dikemukakan dalam butir 1.2.
 

* Orang yang dididik dengan kekerasan sering menjadi orang yang memakai kekerasan!

Dalam banyak konteks/kebudayaan ada kebiasaan untuk memukul anak-anak yang tidak menuruti orang tua. Secara teologis orang mengacu misalnya kepada Amsal 13:1, 24; 20:30 dlsb. untuk membela kekerasan seperti ini. Mari kita tinjau Amsal 13:1, 24; 20:30.

13:24 "Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya;

tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya"

Bd. Ibr.12:5,6.

Tetapi perhatikanlah:

a) hal ini tidak dilakukan dalam suasana benci, kemarahan yang meluap, melainkan dalam suasana kasih (bd. istilah Ibr bagi tongkat, yaitu syebet juga dipakai bagi tongkat gembala - Mzm.23:4 - yang juga tidak mau merusak kawanan domba)

b) penggunaan tongkat sesudah dan dalam rangka 'pengajaran Tora', 'pengarahan kehidupan sesuai dengan kehendak Allah'; bd. Ams. 6:20 dyb.

c) kebudayaan di sekitar Israel dan juga Israel sedniri memakai kekerasan fisik tertentu dalam mendidik anak-anak; dan bisa saja bahwa kami sekarang ini lebih mengerti pengaruh kekerasan fisik pada anak-anak dari orang dalam kebudayaan dulu.
 

* Masalah kekerasan berkembang sejajar dengan masalah-masalah ekonomi. Sering berlaku: makin besar soal ekonomi dalam suatu keluarga dan masyarakat, makin banyak kekerasan.

Hal ini perlu mendorong kita untuk memperkuat lagi perang melawan kemiskinan. Dan secara pastoral perlu bahwa orang mulai mengerti latar belakang agresinya, melihat bahwa seluruh keluarga/lapisan masyarakat dalam situasi miskin yang sama.Sikap saling mendukung lebih menolong dari pada saling mengancam.
 

* Ketakutan, kekhawatiran akan hari depan, apalagi dalam masyarakat yang berubah dengan cepat:

kepastian lama (misalnya hasil dari ladang; gotong royong; cara mengatur perkawinan anak-anak).

Dalam rangka ini sangat penting merenungkan dan menghayati bahwa hal yang pokok dalam Kabar Baik adalah: jangan takut! (Mrk 4:35-41: angin ribu di laut- sebagai pesan bagi pendeta dan seluruh jemaat!).

* Marasa dipermalukan, harga diri diserang.

Inilah faktum sosial yang penting. Secara teologis dan secara pastoral barangkali belum cukup diperhatikan bahwa kita jangan bermegah dalam kekayaan kita, pendidikan kita dst., "melainkan siapa yang bermegah, bermegahlah dalam Tuhan". Di dalam Dia kita tidak jadi malu. Hormat kita tersembunyi pada Dia dan akan menjadi nyata bersama Dia! (Bd. Kol.3:3,4). Inilah pegangan kita.

Dengan begitu kita tidak terlalu cepat berpendapat bahwa demi hormat diri saya, gereja-ku, suku-ku kita perlu membalas dendam.
 

* pandangan sejarah serta informasi yang membenarkan kekerasan:

Ketahuilah sejarah - terimalah ketidakadilan yang terjadi - misalnya mengenai perang salib dan pada pihak-pihak lain. Coba berdiri sebagai 'intelektual murni' walaupun kita harus sadar bahwa dalam suatu konflik orang tidak mencari kebenaran, melainkan ingin membenarkan diri sendiri. Kumpulkanlah informasi yang seobyektip mungkin.

Dan jangan lupa: "kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk/demi kebenaran" (2Kor 13:8).
 

* Ideologi/teologi yang membenarkan kekerasan:

Sangat berbahaya! Perang salib ("Inilah kehendak Allah"). "Gott mit uns" ("Allah pada pihak kita") pada seragam tentara Jerman perang dunia ke-2..

Tiap ideologi dan teologi harus diukur dengan tolok ukur 'damai sejahtera' dan 'kasih'.

Rm 12:21: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan". Inilah sebagai tolok ukur, memang dalam praktek sering sulit.
 

* Ideologi kekerasan sering diedarkan melalui film dan t.v. di mana perbedaan pendapat dan perbedaan kepentingan diselesaikan dengan kekerasan!

Berlatih dan latihkanlah orang lain untuk menonton dengan kritis! Inilah kegiatan di antara pemuda yang barangkali menarik.
 
 
 

2.5. Jadi.... Beberapa catatan penutup
 

- Jangan memakai begitu saja nas-nas dari PL untuk membenarkan kekerasan. PL perlu dibaca dalam terang PB; dan... keseluruhan Alkitab terarah kepada damai sejahtera dengan keadilan/kebenaran, serta kasih (Mzm. 85:11!).
 

- Mari kita coba mengikuti Yesus Kristus, juga dalam penderitaan-Nya. Kita hendak mengikuti Dia yang disalibkan dan bangkit!

1Petr. 3:14,15 dyb.
 

- Baiklah memegang prinsip: kekerasan hanya dapat dilakukan oleh pemerintah resmi (dengan batas dan norma tertentu) dan oleh Allah. Individueel geweld, groepsgeweld afgekeurd (om versch. redenen,'Zeloten'!). Memang soal yang kita hadapi sekarang bahwa pemerintah tidak beperanan seperti semestinya.
 

- Memang tradisi non-violence sangat kuat dalam Alkitab; orang kristen yang tidak mau membela dengan kekerasan harus dihormati;

tetapi a) 'non-kekerasan' tidak berarti 'non-perlawanan' ('non-resitance');

dan b) orang kristen boleh membela hak-haknya (bd. Yesus di Yoh 18:23; Pls di Filipi, Kis 16:37). Pembelaan fisik, walaupun tidak terjadi dalam PB, diterima dan disetujui banyak teolog (lihatlah Interpretation 38/4).
 

- Perspektip Mazmur 46 baiklah direnungkan:

Bacalah keseluruhannya, di sini saya hanya memberi beberapa catatan saja:

Ay.2-4 bagian pertama Mazmur ini. "Kita" jangan dibaca secara eksklusif; perjanjian Allah mempunyai maksud universal!

Gunung-gunung dipandang sebagai tiang yang membuat dunia berdiri dengan stabil. "Gunung-gunung goncang" berarti seluruh dunia menjadi kacau balau!

Ay.5-8 bagian kedua Mazmur: walaupun dunia goncang, perjanjian Allah tidak akan goncang!

Sekalipun air/laut (kekuatan kekacauan dan maut!) ribut (ay.4) - dan bangsa-bangsa ribut pula (ay.7) - TUHAN setialah (ay.8).

'Hancur' (ay.7) berarti 'bergoyang' (istilah yang sama misalnya di Am.9:5), mencairkan. Kedatangan TUHAN berarti kejutan besar bagi bumi (Bukan begitu saja kehancurannya).

Ay.9-12 bagian penutup:

'Pemusnahan' ay. 9 berarti apa? Berarti bahwa peperangan dihentikan dan senjata dimusnahkan (ay.10).

'Diamlah' juga dapat diterjemahkan dengan 'stop!', dengan arti 'tinggalkanlah senjata-senjatamu!'.

Maksud tujuan karya Allah di sini apa? Ayat 10!! - jadi tidak lain dari pada damai sejahtera, melalui 'menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi'!
 

3. TUHAN menaruh tanda pada Kain - Beberapa pertimbangan praktis
 

- Dalam situasi yang panas, intelektual Kristen (dan intelektual lain) senantiasa perlu memperhatikan akar-akar kekerasan (di Colombo kelompok aksi memakai 6 bulan untuk memeriksa sebab kekerasan antar-etnis dan antar-agama (Plou, 51).
 

- Dalam situasi kekerasan hal non-kekeran tidak dapat memberi solusi dengan tiba-tiba (Kässmann, 62); kita harus berusaha untuk mengembangkan cara hidup non-kekerasan.
 

- Dalam dan sesudah situasi kekererasan/luka-luka, sangat penting ada 'ruang pertemuan antar ke dua belah pihak' (in between zone). Sangat penting ruang ini berani dimasuki oleh orang tertentu, lebih baik lagi oleh kelompok tertentu. Tanpa 'ruang antar' tidak ada pendamaian.
 

- Membangun damai tidak hanya urusan pemerintah, melainkan juga urusan dan tangung jawab 'orang biasa'. ("...history has shown that the responsibility of ensuring a just and lasting peace cannot be left only to the state or the ruling political system" (Plou, 49).
 

- Pelajarilah metode 'perlawanan tanpa kekerasan', misalnya dengan memperhatikan metode Gandhi dan Martin Luther King jr.
 

- Penting lagi buku terbitan Duta Wacana University Press, Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi!! Yang sangat praktis dalam menerangkan metodenya.

Lihat juga bahan lain dalam butir 4, di bawah ini.
 
 
 
 
 
 
 
 
 

4. Bahan untuk studi lanjut
 

(Hampir segala buku ini ada dalam Perpustakaan STT-INTIM)
 

Duta Wacana University Press, Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi, Yogyakarta, 1999
 

Gnanadason, Aruna, No Longer a Secret, The Church and Violence against Women, Risk, WCC, 1993 (dengan bahan baca tersusun menurut benua)
 

Herr, R - J. Zimmermann-Herr (ed.), Transforming Violence, linking local and global peacemaking, Herald Press, 1998 (ISBN 0 8361 9098 X)

(bab-bab a.l.: 'Jesus' Third Way' 15 p.; 'Just Peacemaking' 15 p.)
 

Interpretation, A Journal of Bible and Theology, vol.XXXVIII/4 (October 1984)

(Karangan a.l.: P.D.Hanson, War and Peace in the Hebrew Bible,

V.P.Furnish, War and Peace in the New Testament,

L.S. Cahill, Nonresistance, Defense, Violence, and the Kingdom in Christian Tradition)
 

Kässmann,Margot Overcoming Violence, The challenge tot the Churches in All Places, WCC, 1998 (ISBN 2 8254 1228 7)

(bab-bab a.l.: Violence and Non-Violence in the Bible - 6 p.;

Further Challenges for Theological Reflection - 6 p;

Women, Youth and Children, 10 p.

Reflections on Complexities and Challenges, 15 p.)
 

Listijabudi, Daniel K., Tragedi Kekerasan, menulusuri akar serta dampaknya dari balada Kain dan Abel, Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 1997 (ISBN 979-8361-65-4)
 

Murniati, A.Nunuk Prasetyo, Gerakan Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan, Yogyakarta: Kanisius, 1998
 

PGI: Seminar Agama-agama XIX: Agama-agama, Kekerasan dan Perdamaian, Salatiga, 12-15 September 1999.
 

Plou, Dafne, Peace in the Troubled Cities, Creative Models of Building Community amidst Violence, Geneva: WCC, 1998 (ISBN 2-8254-1256-2), 133 p. (bab-bab a.l. mengenai ketegangan antar-agama di Colombo [Sri Lanka] dan Suva [Fiji])
 

Suseno, Franz Magnis (kata pengantar), Melawan Kekerasan Tanpa Kekerasan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000
 

Randall, Albert B., Theologies of War and Peace among Jews, Christian and Muslims, Lewiston: The Edwin Mellen Press, 1998 (ISBN 0-7734-8254-7), 476 p.
 

St. Sunardi, Keselamatan, Kapitalisme, Kekerasan, Yogyakarta: LKiS, 1996

(Khusus penting: Epilog, Agama dan Budaya Kekerasan, hl. 161-185)
 

Perhatikanlah:

Untuk keterangan lebih lanjut tentang DOV (Decade to Overcome Violence DGD) lih.http://wcc-coe.org/wcc/dov/index-e.html

a.l. bagi Peace to the City Programm; dapat dipakai juga untuk mengadakan kontak antara kelompok yang giat dalam memerangi kekerasan. 1