Inspirasi Spiritual



Renungan Matius 12: (1-8) 9-14

Spiritualitas Keberagamaan yang Melayani

oleh Pdt. Dr. Zakaria J. Ngelow
 
 

Dalam perhitungan kalender Masehi yang lebih akurat oleh para ahli sejarah Gereja -- di mana kelahiran Yesus Kristus menjadi patokan perhitungan-- maka tahun 2000 seharusnya sudah terjadi antara 6 sampai 4 tahun lalu, yaitu antara tahun 1994-1996.

Dan jika kelahiran Gereja, yaitu persekutuan orang yang beriman kepada Yesus Kristus selaku Tuhan dan Juruselamat, dihitung mulai pada hari Pentakosta di Yerusalem, yaitu 50 hari setelah hari Paskah, maka Gereja akan berumur 2000 tahun pada hari Pentakosta pada salah satu dari tahun 2027, 2028, atau 2029. Jadi, dalam 3 dekade lagi maka agama Kristen akan genap 2000 tahun hadir dalam sejarah dunia.

Jika dikaitkan dengan agama Israel, sebagaimana yang tercantum dalam Alkitab Perjanjian Lama, yang dimulai denga Nabi Musa, maka rangkaian sejarah umat Allah telah lebih 3000 tahun.

Dalam kelembagaannya sebagai agama, Gereja menampilkan diri dalam ke-3 unsur dasar dari setiap agama, yakni:

Bagian Alkitab, Injil Matius 12: 1-14, yang terdiri atas 2 perikop, mengemukakan adanya pertentangan antara 2 macam sikap beragama. Orang-orang Farisi, yaitu para pemuka agama pada zaman Yesus, sangat menekankan aturan-aturan dan bentuk-bentuk upacara peribadahan. Kesetiaan untuk menaati kekudusan hari Sabat mereka mutlakkan, yaitu larangan untuk bekerja pada hari itu sesuai hukum ke-4 dalam ke-10 Firman. Itulah keberagamaan yang formal dan ritualistik, yang terikat secara kaku pada aturan-aturan agama. Di fihak lain, Yesus Kristus mengungkapkan isi atau substansi keberagamaan dengan mengutip dalam ayat 7 nubuatan Nabi Hosea: Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran (Hos 6:6) Sikap moral-etik atau substansi spiritualitas dalam pelayanan kepada sesama manusia yang berakar pada pengenalan dan kesetiaan kepada Tuhan adalah cara beragama yang benar. Aturan dan upacara agama tidak bermakna tanpa penghayatan spiritualitas itu. Kitab Suci mengisahkan mengenai Raja Saul, yang tidak menaati Firman Tuhan yang disampaikan kepadanya oleh Semuel (1 Sam 15). Raja Saul ketika itu menyangka bahwa lebih baik mempersembahkan kepada Tuhan lembu, kambing, domba mush-musuhnya daripada manaati kehendak Tuhan supaya semuanya dibinasakan. Maka Firman Tuhan melalui Semuel kepadanya: Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim (1 Sam 15: 22-23). Peringatan dan kecaman yang sama disampaikan Tuhan Yesus kepada para pemuka agama zaman-Nya: Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan (Mat 23:23).
 
 
Yesus Kristus, Tuhan kita mengarahkan kita umat tebusan-Nya untuk beragama secara benar, melampaui bentuk-bentuk formal dan upacara-upacara liturgis. Sabda-Nya kepada para murid-Nya berlaku pula, yakni jangan sampai keberagamaan kita hanya seperti kebenaran para pemuka agama zaman itu, kebenaran palsu dan munafik karena tidak ada substansi moral-etiknya: Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mt 5:20) Sebab itu debat mengenai Hari Sabat dalam pembacaan Injil hari ini merupakan sekaligus kritik dan arahan. Gereja dikritik oleh Firman Tuhan kalau-kalau selama hampir 2000 tahun gereja hanya menjadi lembaga ritual keagamaan dan tidak menghidupkan spiritualitas Kristiani sejati, yaitu kasih yang dikonkritkan dalam program-program pelayanan untuk menegakkan keadilan bagi kaum lemah, membawa damai dan persaudaraan di tengah-tengah konflik dan kekerasan, serta turut membangun kesejahteraan bagi semua orang dalam masyarakat. Apakah dalam struktur organisasi, personalia dan anggaran di jemaat ini tergambar bahwa gereja bukan sekadar aktif beragama secara ritual dalam kebaktian-kebaktian?

Kita, para pengikut Kristus, diarahkan Firman Tuhan mengenai spiritualitas keberagamaan yang mengutamakan substansi moral-etiknya supaya menguduskan setiap hari, yaitu setiap waktu yang dikaruniakan Tuhan dengan melibatkan diri –tenaga, pikiran, keahlian, dana– dalam upaya-upaya pelayanan kepada sesama manusia. Berbagai kenyataan buruk dan permasaalahan dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita dewasa ini justru menjadi peluang dan penguji kebenaran keberagamaan kita. Kita semua –mudah-mudahan saja– tidak berada pada jalan keagamaan para ahli Taurat dan orang Farisi, yang sibuk beragama memelihara hari Sabat, pada hal banyak orang yang perlu dilayani ...

Penulis adalah dosen historika/teologi agama-agama

dan Ketua STT Intim Makassar

(Renungan ini adalah revisi dari khotbah pada tgl 9 Januari 2000 di GPIB Bukut Zaitun Makassar)





Renungan Kis 20:7-12

"Mengatasi Kantuk

Dalam Ibadah-Ibadah Kita"

oleh Pdt. Markus Hildebrandt Rambe

Saudara-saudari yang kekasih,

untuk renungan ini saya memilih suatu episode yang cukup dramatis dari kisah para rasul tentang perjalanan di Makedonia dan Yunani, yaitu dari pasal 20, ayat 7-12. Cerita ini adalah salah satu kesaksian pertama tentang kebiasaan orang Kristen untuk berkumpul pada hari pertama setiap minggu untuk beribadah, dan oleh karena itu mungkin teks ini bisa membantu kita bila kita mau menghidupkan kembali kebaktian bersama dan kehidupan spiritual STT Intim pada hari pertama dalam setiap minggu belajar dan mengajar.

Kita mendengar pembacaan Alkitab dari Kisah Para Rasul 20, 7-12 dengan beberapa modifikasi/koreksi kecil sesuai dengan teks asli bahasa Yunani.

Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berkhotbah (dialegw) kepada saudara-saudara di situ. (Dan) karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya, pembicaraan (logoV) itu diperpanjang sampai tengah malam.

Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu. Seorang muda bernama Eútikhus duduk di jendela. Karena Paulus sangat lama berkhotbah (dialegw), orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah.

Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati. Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: "Jangan ribut, sebab nyawanya masih ada."

Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; habis makan masih lama ia berkomunikasi (omilew), sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. Sementara itu mereka mengantarkan orang muda itu hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur.

Saudara-Saudara Eútikhus yg kekasih,

cerita tentang kejadian di Troas ini pada pandangan pertama tidak punya relevansi yang terlalu luas. Seolah-olah episode ini hanya diceritakan, supaya kisah tentang perjalanan Paulus menjadi tidak terlalu kaku. Tetapi kalau kita memandang lebih teliti, kejadian ini banyak berhubungan dengan kenyataan yang kadang-kadang kita alami.

Paulus memimpin kebaktian di jemaat Troas sebelum ia harus berangkat ke Yunani besok harinya. Cuma satu minggu ia tinggal di Troas, tetapi masih banyak sekali hal yang mau dan harus ia sampaikan kepada jemaat yang masih muda itu. Jadi, Paulus punya alasan yang cukup penting untuk memperpanjang waktu khotbahnya sampai tengah malam. Siapa tahu, kapan lagi ada kesempatan untuk membicarakan semua aspek kehidupan beriman yang sangat penting ini kepada jemaat di Troas!? Demikian, jemaat pertama-tama menjadi pendengar dan tidak terlalu aktif terlibat dalam kebaktian ini. Kata "dialego" dalam Bahasa Yunani disini lebih berarti tafsiran dan uraian oleh Paulus sendiri yang bersifat monologis, daripada dialogis seperti diterjemahkan dalam Alkitab Bahasa Indonesia dengan "berbicara dengan saudara-saudara di situ". Paulus, yang "amat lama bicara", dan nampaknya, jemaat yang amat lama berdiam dan mendengar.

Kalau kita sebagai pendeta atau mahasiswa teologia berbicara atau berkhotbah, hal yang sama bisa terjadi. Memang kita tahu bahwa konsentrasi pendengar-pendengar kita terbatas dan bahwa suatu dialog - dimana kita sendiri menjadi pendengar juga - lebih hidup daripada suatu monolog. Namun akhirnya kita sering punya banyak alasan untuk memperpanjang khotbah kita, karena misalnya semua yang saya mau sampaikan kuanggap sangat penting - dan siapa tahu kapan lagi saya bisa bicara kepada semua jemaat yang hadir sekarang!

Namun nampaknya selain pendengar sabar selalu saja ada orang yang menjadi korban karena mereka punya kesulitan untuk menahan sikap tersebut, seperti orang muda dengan nama Eútikhus dalam kisah kita. Meskipun semua lampu terang, udara segar dekat jendela, dan isi pembicaraan Paulus pasti sangat penting dan menarik, ia tertidur. Mungkin ada juga alasan lain seperti pekerjaan Eútikhus sepanjang hari yang sangat melelahkan - tetapi nampaknya salah satu alasan adalah tidak adanya suatu aksi atau unsur-unsur partisipatoris yang bisa membantunya untuk mengatasi kantuknya dalam kebaktian tersebut. Beberapa kali kita sudah melupakan orang-orang letih dan capek di pinggir kebaktian kita?

Akibat-akibat untuk Eútikhus sangat mengkhawatirkan: Tiba-tiba khotbahnya Paulus terganggu bunyi keras karena Eútikhus, yang duduk di jendela, jatuh dari lantai tiga. Disitu kesadarannya tidak kembali sehingga ia dianggap mati oleh anggota-anggota jemaat yang mengangkatnya. Tentu saja gejala-gejala kebosanan terhadap kebaktian-kebaktian kita yang nonpartisipatoris tidak begitu dramatis. Namun kita alami semacam "kejatuhan" dan "kematian" juga: Tiba-tiba pengikut kebaktian berkurang atau kehidupan spiritual di jemaat atau di dalam kampus menjadi seperti mati atau tidak disadari lagi.

Bagaimana reaksi Paulus? Mungkin kita mengira bahwa ia akan pertama-tama marah karena terganggu oleh keindisiplineran Eútikhus. Untuk meneruskan khotbannya yang begitu penting mungkin ia bisa biarkan saja orang lain mengurus orang muda itu. Tetapi Paulus sendiri turun ke bawah dan mendekap Eútikhus, sambil menenangkan jemaat dan membesarkan hatinya: nyawanya masih ada, masih ada harapan, ia belum mati, ia masih hidup.

Jadi, mari kita juga jangan kehilangan harapan namun tetap turun dari mimbar kita dan mencari sisa nyawa dalam persekutuan terjatuh kita untuk menghidupkan kembali spiritualitas kita. Tidak ada gunanya mempersalahkan orang lain yang dengannya kita kehilangan hubungan spiritual. Kita tidak boleh menungu saja mereka kembali, tetapi harus mendekati, mengerti dan peduli mereka.

Akhirnya, Paulus dan jemaatnya kembali ke ruang kebaktian, dan disitu ibadah bahkan berlangsung sampai fajar menyingsing, dan bahkan Eútikhus tinggal sampai diantarkan ke rumahnya pada pagi harinya. Tetapi ada perubahan sedikit. Paulus tidak bermonolog lagi, tetapi mulai suatu proses komunikasi yang di dalam Bahasa Yunani dirumuskan dengan kata "homileo", jadi bukan hanya berbicara, tetapi berkomunikasi dan membahas dengan jemaat. Dan itu berlangsung sesudah mereka memecah-mecahkan roti, berarti mereka saling menguatkan, memperbarui persekutuan mereka dalam kehadiran Kristus dan menerima pengampunan dan rekonsiliasi Allah.

Mari kita mencoba dengan kreativitas baru dan partisipasi luas mengusir kantuk kehidupan spiritual kita. Supaya kita tidak mati seperti dalam anektode kecil yang berikut:
 
 

Seorang pendeta mengumumkan di surat kabar: "Dengan penuh dukacita saya memberitahukan kematian jemaat Stefanus. Kebaktian pemakaman akan diselenggarakan hari Minggu jam 9 pagi." Pada hari itu, gereja penuh orang. Dalam khotbahnya pendeta menguraikan: "Saya punya sedikit harapan untuk menghidupkan kembali jemaat ini. Tetapi saya mau mencoba satu tindakan terakhir. Tolong anda masing-masing melewati peti mayat yang ditempatkan di tengah gereja ini dan memandangi orang mati di dalamnya. Kemudian, keluar dari geraja lewat pintu belakang. Kalau anda berubah sikap, tolong anda masuk kembali lewat pintu depan; andaikata terjadi kita bisa membuat ibadah syukur." Pendeta membuka peti mayat, dan semua jemaat tegang, siapa sebenarnya orang mati tersebut di dalamnya. Dan jika melewati peti mayat masing-masing, di dalamnya mereka melihat – dalam cermin – wajah mereka sendiri.

Saya punya harapan yang cukup besar bahwa kematian seperti yang di dalam cerita Paulus dan cerita terakhir ini, kita bisa atasi bersama-sama - supaya kita bisa merasa sangat terhibur seperti pada akhirnya juga jemaat di Troas.

Saya tidak mau berbicara terlalu lama. Mungkin tidak semua asosiasi dan tafsiranku dapat disahkan oleh eksegese ilmiah, tetapi saya harap belum ada yang tertidur!
 
 


Penulis adalah dosen misiologi STT Intim dan utusan dari EMS,

Jerman sejak 2000

(Renungan ini adalah revisi dari

khotbah pada tgl 6 Maret 2000

di Kapel Kebangkitan STT Intim)