Ibadah Dalam Agama Suku

oleh Pdt. Marthen Manggeng M.Th.

  1. Pendahuluan.

Penganut agama suku di Indonesia sudah sangat sedikit. Statistik lembaga-lembaga resmi seperti pemerintah dan gereja melaporkan demikian. Penduduk Indonesia pada umumnya telah menjadi penganut formal salah satu dari lima agama resmi yang diakui pemerintah. Lembaga-lembaga keagamaan patut bersyukur atas kenyataan itu. Namun nampaknya belum bisa berbangga. Perpindahan penganut agama suku ke salah satu agama resmi itu banyak yang tidak murni. Sejarah mencatat bahwa tidak jarang terjadi peralihan sebab terpaksa. Pemaksaan terjadi melalui "perselingkuhan" antara lembaga agama dengan lembaga kekuasaan. Keduanya mempunyai kepentingan. Pemerintah butuh ketentraman sedangkan lembaga agama membutuhkan penganut atau pengikut.

Kerjasama (atau lebih tepat disebut saling memanfaatkan) itu terjadi sejak dahulu kala. Para penyiar agama sering membonceng pada suatu kekuasaan (kebetulan menjadi penganut agama tersebut) yang mengadakan invansi ke daerah lain. Penduduk daerah atau negara yang baru ditaklukkan itu dipaksa (suka atau tidak suka) menjadi penganut agama penguasa baru. Kasus-kasus itu tidak hanya terjadi di Indonesia atau Asia dan Afrika pada umumnya tetapi juga terjadi di Eropa pada saat agama monoteis mulai diperkenalkan. Di Indonesia "tradisi" saling memanfaatkan berlanjut pada zaman orde Baru.Pemerintah orde baru tidak mengenal penganut di luar lima agama resmi. Inilah pemaksaan tahap kedua. Penganut di luar lima agama resmi, termasuk penganut agama suku, terpaksa memilih salah satu dari lima agama resmi versi pemerintah. Namun ternyata masalah belum selesai. Kenyataannya banyak orang yang menjadi penganut suatu agama tetapi hanya sebagai formalitas belaka. Dampak keadaan demikian terhadap kehidupan keberagaan di Indonesia sangat besar. Para penganut yang formalitas itu, dalam kehidupan kesehariannya lebih banyak mempraktekkan ajaran agam suku, yang dianut sebelumnya, daripada agama barunya. Pra rohaniwan agama monoteis, umumnya mempunyai sikap bersebrangan dengan prak keagamaan demikian. Lagi pula pengangut agama suku umumnya telah dicap sebagai kekafiran. Berbagai cara telah dilakukan supaya praktek agama suku ditinggalkan, misalnya pemberlakukan siasat/disiplin gerejawi. Namun nampaknya tidak terlalu efektif. Upacara-upacara yang bernuansa agama suku bukannya semakin berkurang tetapi kelihatannya semakin marak di mana-mana terutama di desa-desa. Demi pariwisata yang mendatangkan banyak uang bagi para pelaku pariwisata, maka upacara-upacara adat yang nota bene adalah upacara agama suku mulai dihidupkan di daerah-daerah. Upacara-upacara agama sukuyang selama ini ditekan dan dimarjinalisasikan tumbuh sangat subur bagaikan tumbuhan yang mendapat siraman air dan pupuk yang segar. Anehnya sebab bukan hanya orang yang masih tinggal di kampung yang menyambut angin segar itu dengan antusias tetapi ternyata orang yang lama tinggal di kotapun menyambutnya dengan semangat membara. Bahkan di kota-kotapun sering ditemukan praktek hidup yang sebenarnya berakar dalam agama suku. Misalnya pemilihan hari-hari tertentu yang diklaim sebagai hari baik untuk melaksanakan suatu upacara. Hal ini semakin menarik sebab mereka itu pada umumnya merupakan pemeluk yang " fanatik" dari salah satu agama monoteis bahkan pejabat atau pimpinan agama bersangkutan.

Bertolak dari realitas demikian, maka muncul banyak pertanyaan yang menarik untuk dikaji. Apakah yang menjadi penyebab semua itu? Apakah semata-mata karena perpindahan mereka adalah karena keterpaksaan yang tidak diikuti dengan pembinaan yang memadai? Atau ada faktor lain yang menjadi penyebabnya? Masalahnya ialah sebab banyak di antara mereka yang masih melakukan praktek-praktek agama suku sudah tidak mengalami perpindahan dari agama suku tetapi sejak lahir berada dalam lingkungan agama yang dianutnya. Lalu dapatkah kenyataan seperti itu disebut sebagai hasil dari upaya kontekstualisasi ataukah justru merupakan sinkretisme? Tidaklah mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Karena itu, tulisan ini berupaya menyajikan salah satu aspek dalam agama suku, yakni ibadah. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi pendorong untuk mengadakan studi yang lebih mendalam tentang ibadah dalam agama suku, tetapi sekaligus diharapkan menjadi sumbangan sederhana bagi upaya kontekstualilsasi dalam kehidupan beragama.

B. Konsep dan Sikap terhadap Yang Ilahi.

Tiap agama mempunyai konsep tentang Tuhan atau dewa. Konsep itu pada umumnya berbeda dengan agama yang lain. Keunikan pemahaman tiap agama merupakan penghayatan atas perjumpaan dengan Allah yang ilahi. Penghayatan tentang hakekat Yang Ilahi melahirkan sejumlah hukum dan ketentuan. Ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum menjadi sumber seluruh pengajaran agama yang bersangkutan.

Penganut agama suku menghayati adanya yang ilahi melalui pengalaman sehari-hari. Mereka memahami bahwa ada kuasa yang berada di luar kekuasaan mereka. Kuasa itu melampaui kuasa dan kemampuan manusia. Itulah yang disapa sebagai Yang Ilahi. Tiap-tiap suku memberi nama atau sebutan kepada Yang Ilahi. Orang Toraja menyebutnya Puang Matua ; Pue Mpalaburu dalam suku Pamona, Uis Neno dalam Suku Atoni Meto di Timor, Dibata dalam suku Batak Karo, Sangia dalam suku Tolaki, dan lain-lain. Yang Ilahi itu memberikan perlindungan kepada manusia dalam hidupnya. Karena itu, manusia menyapanya baik pada saat berada dalam keadaan bersukacita maupun pada saat berdukacita. Manusia menyapa Yang Ilahi dengan maksud memohon perlindungan dari berbagai ancaman. Itulah sikap mereka yang menggambarkan pemahaman tentang rasa ketuhanan.

Agama suku merupakan agama yang bercorak deisme (deisme berasal dalam bahasa Latin yaitu deus yang berarti Tuhan) sekaligus bercorak teistis (theos, bahasa Yunani, yang artinya Tuhan). Dalam paham yang bercorak deisme dipercaya bahwa Tuhan yang adalah pencipta segala sesuatu yang di alam semesta tetapi jauh dari manusia. Sesudah menciptakan segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini, maka Ia mengundurkan diri.Ia tidak campur tangan dalam urusan duniawi. Tuhan atau dewa demikian tidak mungkin diketahui hakekatnya. Karena itu tabu untuk menyebut namanya. Segala sesuatu yang terjadi dalam alam semesta ini diurus oleh dewa-dewa yang lebih rendah. Dewa-dewa itu mempunyai fungsi dan tugas masing-masing. Para dewa yang "menjadi pelaksana tugas" itulah yang disembah oleh manusia. Atau paling tidak melalui dewa-dewa "bawahan" itulah manusia menyembah dewa yang tertinggi. Contoh konkret tentang paham ini adalah dalam agama Marapu di Sumba. Marapu adalah nenek moyang yang telah menjadi semacam dewa. Melalui Marapu manusia menyembah kepada Tuhan (dewa tertinggi) sebab Ia tidak terhampiri dan tabu menyebut namanya.

Paham yang kedua adalah paham teistis. Dalam paham teistis diyakini bahwa Tuhan adalah asal mula dan pemilik alam semesta. Tuhan atau dewa yang menciptakan dan memiliki alam semesta tetap terlibat dalam mengurus dan membimbing alam semesta ini dengan segala isinya. Ia tidak berdiam diri di tempat kediamannya yang tak terjangkau manusia. Ia tetap aktif mengurus ciptannya. Dalam paham ini memang masih dikenal dewa-dewa tetapi dewa-dewa tersebut hanya mengurusi hal-hal yang sangat terbatas dan pada umumnya dibawah kekuasaan dewa yang tertinggi. Paham ini sangat berbeda dengan paham deisme.

C. Ritus-ritus dalam Agama Suku.

Ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselarasan hidup, baik terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat maupun terhadap alam semesta. Dalam bahasa Ibrani dipakai kata avoda dan latreia dalam bahasa Yunani. Kata avoda dan latreia sering diterjemahkan pelayanan dalam bahasa Indonesia. Kedua kata itu pada mulanya dipakai untuk menyatakan pekerjaan seorang budak atau hamba upahan kepada tuannya. Tetapi kemudian dipakai dalam dunia keagamaan yang mempunyai makna pelayanan dan penyembahan kepada Allah.

Pemahaman dan pemakaian secara praktis tentang ibadah berarti perjumpaan dengan yang Ilahi yaitu Tuhan atau dewa. Yang Ilahi bertindak baik berupa perintah maupun berupa tuntuntan dan larangan dan manusia atau umat memberikan respons. Respons umat atau manusia terwujud melalui kata-kata, gerakan tubuh tetapi juga melalui pemberian sesuatu benda atau materi yang lainnya.

Dalam kepercayaan agama suku ibadah atau ritus yang dilakukan berkembang sejalan dengan perkembangan taraf pemikiran agamani. A.C.Kruyt membagi tiga taraf pemikiran agamani. Menurutnya bahwa taraf pemikiran yang pertama merupakan sistem kepercayaan yang paling tua dan selanjutnya. Ketiga taraf perkembangan yang dimaksud adalah :

Ritus-ritus atau ibadah yang dilakukan, mula-mula bertumbuh pada taraf pemikiran kepercayaan dinamisme. Ritus-ritus atau upacara-upacara merupakan ungkapan keyakinan yang dapat diraba atau diindra oleh manusia. Cara pengungkapan keyakinan yang demikian sebenarnya umumnya terjadi dalam masyarakat yang lebih dipengaruhi oleh perasaan daripada pemikiran. Karena itu, semakin "primitif" manusia, maka semakin dominan dalam mengungkapkan keyakinannya lewat ritus-ritus atau upacara-upacara. Walaupun ritus-ritus atau upacara-upacara merupakan cara pengungkapan keyakinan manusia pada taraf pemikiran kepercayaan dinamisme tetapi ternyata aspek ritus-ritus masih tetap dipertahankan pada taraf kepercayaan berikutnya. Ritus-ritus atau upacara-upacara tersebut dilakukan dalam banyak aspek kehidupan manusia. Ada ritus-ritus yang dilaksanakan pada saat seseorang mengalami kesusahan tetapi ada juga yang dilaksanakan pada saat manusia mengalami suatu kesukaan atau kegembiraan.

Ibadah atau ritus yang dilakukan pada umumnya dimaksudkan untuk memulihkan tata alam semesta dan menempatkan manusia dan perbuatannya dalam tata alam semesta tersebut. Semua yang ada dalam alam semesta ini harus berada dalam posisi dan fungsinya secara baik sebagaimana ia diciptakan. Pada saat terjadi pergeseran, maka pada saat itu akan terjadi disharmoni. Disharmoni itu nampak melalui bencana alam seperti longsor, banjir, dan lain sebagainya. Pada saat terjadi disharmoni, maka harus dicara akar penyebabnya. Orang yang melanggar tata alam semesta yang menyebabkan munculnya disharmoni harus dihukum. Dalam agama suku penegakan terhadap peraturan ini sangatlah ketat. Tiap pelanggaran harus dihukum. Selain penghukuman terhadap yang melanggar, juga harus dilakukan ibadah untuk mengembalikan tata alam semesta itu. Biaya yang diperlukan dalam ibadah tersebut sepenuhnya ditanggung oleh yang bersalah, kecuali ia sama sekali tidak mampu maka biayanya akan ditanggung oleh adat. Ibadah itu ditujukan kepada penguasa alam semesta.

Selain untuk memelihara tata kehidupan alam semesta ini, ibadah juga dimaksudkan untuk meminta berkat kepada yang ilahi. Ibadah demikian biasanya dilakukan pada saat memulai suatu pekerjaan atau pada upacara-upacara kelahiran dan inisiasi. Upacara yang dilakukan pada saat kelahiran anak menegaskan sifat sakral dari hidup fisiologis. Setiap suku mempunyai ritus-ritus tersendiri dalam menyambut kelahiran seorang bayi. Misalnya placenta harus ditanam dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Pemberian nama juga merupakan bagian dari ritus-ritus kelahiran tersebut. Seseorang yang mencapai usia tertentu harus diupacarakan untuk beralih dari taraf kanak-kanak ke taraf yang lebih dewasa. Upacara peralihan ini yang disebut inisiasi. Ritus ini dilakukan sesuai perkembangan budi dan badan seseorang sebagai tanda untuk dapat mengatasi batas-batas hidup lama dengan hidup yang baru. Perkembangan badan dan budi ditingkatkan atau dikokohkan dengan ritus tertentu. Ritus ini intinya adalah pendewasaan seseorang.

Ibadah juga dimaksudkan untuk menolak bala atau memohon perlindungan dari Yang Ilahi. Dalam ibadah (ritus) kematian, ritus-ritus dilakukan dengan maksud untuk memutuskan hubungan dengan dunia kematian dan sekaligus mengantar arwah orang mati ke tempat kekal supaya arwahnya tidak mengganggu keluarga. Hal ini terjadi sebab umumnya suku-suku memahami bahwa kematian terjadi karena serangan kuasa-kuasa jahat terhadap orang yang meninggal itu.

D. Penutup

Ibadah dalam agama suku dilakukan sebagai upaya untuk memelihara tertib alam semesta. Manusia dan segala mahluk dalam alam semesta ini adalah satu kesatuan yang mempunyai fungsi masing-masing. Semuanya harus berjalan sesuai dengan fungsinya supaya tata tertib alam berjalan dengan harmonis. Namun ibadah juga dimaksudkan untuk mempengaruhi Yang Ilahi supaya memberikan perlindungan dari ancaman malapetaka dan sekaligus memohon berkat dalam sepanjang perjalan kehidupan di dunia ini.

 

Penulis adalah dosen Pendidikan Agama Kristen,

STT Intim Makassar