Di Puncak Sepi-Mu
Paskah 2003 - oleh Ishak Ngeljaratan

dari: Jurnal Intim No. 4 - Semester Genap 2003

Nyala semangat hidup itu kian mengobar
dalam teriakan Elli, Elli, lama sabachtani,
Tuhan, Tuhan, mengapa Kautinggalkan Daku.
Teriakan sukma-Mu, teriakan sepi,
menggema di puncak Golgotha,
menggetarkan udara, menyentuh langit,
membentur tebing-tebing bukit Zion,
menebar sepi ke dedaunan zaitun dan palma,
menerpa hati para gembala di padang Efrata,                                        
menepis air mata para ibu dan anak
di Yudea dan Samaria.
Teriakan itu kian sayup dalam irama sendu                                      
dengan nada seribu makna,
senyap di lembah dan dataran Yordan,
terbawa angin senja  ke danau Tiberias.

Ada juga suara teriakan di hati ini,
namun, teriakan rindu pada sepi-Mu,
sepi yang menghidupkan,
sepi yang membangkitkan,
sepi yang mengalahkan maut, puncak segala sepi.

Di kaki bukit Golgotha,
kembali kupandang salib duka,
salib dosa penyebar maut abadi,
mautku, mautmu, maut kita, bani Adam.
Namun, salib duka Golgotha
sudah jelma menjadi salib kemenangan,
pemberi hidup abadi lewat darah domba Paskah
yang deras mengalir dari salib
yang terpancang sepi di puncak Golgotha.

Ya, anak domba Paskah,
kami masih di bumi yang sama,
tempat salib pertama terpancang di Golgotha,
tempat kami berpijak dan bertahan hidup
dalam kepungan sepi, duka, dan ancaman maut.
Di bumi yang sama, Kau kembali kami salibkan.
Kami salibkan kebenaran, keadilan, dan cinta yang Kautaburkan.
Kami teriakkan Elli, Elli, lama sabachtani sebagai doa Paskah
di kaki sejuta bukit Golgotha yang kami bangun di bumi.
Mane nobiscum, Yesu, tinggallah bersama kami, Tuhan,
Usirlah sepi kami.

Drs. Ishak Ngeljaratan M.A
a.l. adalah dosen filsafat STT Intim