GMIT MENGHADAPI KELOMPOK DOA
Oleh J. A. Telnoni

dari: Jurnal Intim No. 4 - Semester Genap 2003


1. Pengantar
Pergumulan gereja-gereja di Indonesia dalam dekade 1970-an antara lain ditandai dengan upaya menghadapi kelompok-kelompok doa. GMIT dalam pergumulan seperti itu menghadapi pertumbuhan gerakan yang lebih dikenal dengan Gerakan Roh di Timor.1 Gerakan ini kemudian berkembang ke seluruh wilayah pelayanan GMIT. Hingga sekarang, mayoritas kelompok doa yang hidup dan aktif adalah peninggalan dari gerakan ini.
Pada tahun-tahun awal dari gerakan ini, dikuatirkan bahwa sebagai dampaknya GMIT akan terpecah menjadi beberapa geraja. Akan tetapi melalui pendekatan dan berbagai kiat tertentu akhirnya terlihat juga sumbangan-sumbangan gerakan ini bagi pertumbuhan gereja dan iman anggota-anggotan. Dengan demikian perpecahan yang dikuatirkan pada awalnya tidak sampai terjadi.
2. Sekilas catatan historis
Gerakan Roh di Timor, bukan gerakan baru sama sekali. Di zaman pendudukan tentara Jepang di Indonesia, sebenarnya gerakan yang serupa sudah pernah terjadi di jemaat Nunkolo, satu desa terpencil yang terletak sekitar 185 km dari Kupang. Pada tahun-tahun penuh krisis seperti itu anggota anggota jemaat berkumpul untuk berdoa, untuk memohon pertolongan Tuhan. Beberapa orang diantara mereka mengaku bahwa mereka mendapat gerakan roh untuk menyampaikan pesan-pesan atau penglihatan-penglihatan tertentu.
Selanjutnya pada tahun 1964, muncul gerakan penyembuhan ilahi,2 oleh seorang guru bernama J. A. Ratuwalu. Gerakannya tidak berkembang luas sehingga tidak ada pengaruhnya yang berarti. Pada akhir Agustus1965, jemaat di So’e mendapat kunjunga dari satu Tim Pekabar Injil. Tim itu terdiri dari beberapa dosen dan mahasiswa/I, Institut Injil Indonesia(III) Di Batu - Jawa Timur yang mengelilingi berbagai daerah di Indonesia dalam rangka promosi lembaga pendidikan Injil itu.
Kedatangan tim tersebut mendapat sambutan baik dari pihak jemaat. Akan tetapi sebelum tim itu datang , sebenarnya seorang anggota jemaat dari So’e3 telah mengikuti aktivitas mereka di Kupang dalan bulan Juli 1965, pelayanan yang diterimanya dari tim ini di Kupang cukup menarik perhatiannya sehingga di So’e ia menerima pelayanan lanjutan. Karena itu setelah tim ini meninggalkan So’e pada akhir bulan Agustus 1965, ia sendiri melanjutkan pelayanan yang serupa kepada anggota-anggota jemaat setempat, terutama kepada para pemuda dan siswa-siswi asuhannya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, aktivitas ini meningkat menjadi kesaksian-kesaksian yang bernuansa kebangunan rohani. Akhirnya anggota jemaat ini memutuskan untuk meninggalkan tugas pokoknya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil dan mengikuti pendidikan di III Batu.4
Gerakan yang telah dimulai ini berkembang dalam waktu yang sangat singkat. Pada akhir September 1965, mulai muncul tim-tim pemberita Injil5 dari berbagai jemaat sampai mencapai jumlah lebih dari 40 buah. Oleh karena pertumbuhan yang begitu cepat dan melibatkan begitu banyak orang, aktivitas pelayan seperti kesaksian-kesaksian jemaat di So’e begitu padat terutama sejak akhir September 1965 hingga tahun 1966. Ibadah-ibadah hari Minggu bisa diisi dengan kesaksian-kesaksian tentang berbagai penglihatan, pengalaman penyembuhan dari berbagai penyakit, dll.
3. Beberapa ciri gerakan roh di Timor
Dalam berbagai kesaksian dan pemberitaan Firman Allah yang disampaikan oleh tim-tim pemberita Injil, terdengar seruan untuk bertobat, ajakan untuk hidup baru, kesiapan untuk menunggu kedatangan Yesus kembali. Sehubungan dengan praktik penyembuhan penyakit yang lebih dikenal dengan penyembuhan ilahi, muncul juga tekanan tentang mujizat dan upaya untuk memperoleh karuinia-karunia. Ciri-ciri gerakan roh di Timor secara ringkas adalah sbb:
3. 1. Penglihatan
Seseorang yang akan muncul sebagai ketua tim mula-mula mendapat penglihatan. Biasanya penglihatan itu berhubungan dengan suruhan untuk pergi bersaksi di suatu tempat. Penglihatan-penglihatan yang diperoleh dapat berupa penyingkapan dari suatu dosa para leluhur atau orang tua. Kalau penglihatan ini yang diperoleh, maka nanti ia harus memberi kesaksian pertobatan. Ada juga penglihatan yang menunjukkan sesuatu yang akan terjadi, baik berupa bencana, penghukuman maupun suatu karunia tertentu.
3. 2. Kesaksian.
 Oleh karena penglihatan akan bermuara pada kesaksian, maka banyak pelihat juga mengetahui apa yang harus mereka saksikan pada penglihatan yang diperoleh. Isi kesaksiannya dapat berupa panggilan untuk bertobat, atau sesuatu yang harus diperbuat. Meskipun demikian, sebagian dari kesaksian-kesaksian yang mereka sampaikan, lebih merupakan kisah tentang pengalaman perjalanan dari pada kesaksian. Patut dicatat bahwa semua kesaksian, baik yang berhubungan dengan kehidupan pribadi seseorang maupun dengan kehidupan persekutuan jemaat, hanya berkaitan dengan kehidupan spiritual jemaat. Arah pemberitaan mereka untuk keselamatan selalu bermuara pada keselamatan jiwa.
3. 3. Eksorsisme
Praktek Eksorsisme atau pengusiran setan tidak hanya dilakukan pada orang yang dirasuk setan. Tim-tim Pekabar Injil yang muncul dari gerakan ini mengusir setan juga dari tempat-tempat yang dipandang keramat. Tempat-tempat termasuk adalah tempat penyembuhan biasa agama lama dan suku yang juga dipandang sebagai tempat kediaman dan kekuasaan roh-roh jahat. Karena itu perlu dilakukan doa untuk mengusir roh-roh jahat dari situ. Dalam beberapa praktik, satu atau beberapa tim pergi ke tempat yang dianggap keramat, berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani. Dalam doa-doa mereka ditempat itu, mereka mengusir roh-roh jahat dalam nama Yesus. Mereka juga menyanyikan lagu-lagu yang mengisahkan atau menyatakan kemenangan Tuhan atas kuasa-kuasa jahat.
3. 4. Pertobatan dan hidup baru
Pertobatan selalu ditekankan dalam kesaksian atau kebangunan rohani yang diselenggarakan oleh tim-tim pemberita Injil. Isi pemberitaan yang demikian sesuai dengan kondisi masyarakat pada masa itu yang sarat dengan perjudian, mabuk-mabukan, pencurian, dll. Dalam hubungan dengan pertobatan, ditekankan juga bahwa berbagai penyakit dan kegagulan disebabkan oleh dosa. Apabila orang yang mendengarkan kesaksian seperti itu tidak bertobat, maka ia akan tetap dalam keadaan sakit atau gagal terus menerus dalam kehidupannya.
3. 5. Parousia
Salah satu topik kesaksian dan pemberitaan tim-tim ini adalah kedatangan Yesus kembali sebagai Hakim dan Raja. Menurut para pemberita ini, kedatangan Yesus sangat dekat dan sama seperti pencuri. Karena itu orang-orang saleh harus berjaga dan berdoa terus-menerus agar tidak menjadi seperti lima gadis bodoh yang ketinggalan dan tidak dapat mengambil bagian bersama Tuhan.
Oleh karena tekanan seperti itu untuk beberapa waktu dalam masa gerakan ini, banyak orang meninggalkan tempat kerja dan menjadi pemberita Injil. Banyak diantara mereka yang hidup dari pekerjaan sehari-hari, tetapi tidak bekerja secara penuh sepanjang minggu bahkan ada juga yang meninggalkan pekerjaan tetapnya sebagai PNS dan menjadi Pekabar Injil.
3. 6. Pandangan tentang keselamatan
Bagi kalangan gerakan roh di Timor, keselamatan jiwa adalah hal terpenting. Tubuh manusia adalah hal fana dan tidak termasuk dalam keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena pandangan seperti ini, maka perhatian terhadap kesehatan jasmani sama sekali nihil. Kalau ada orang yang sakit, dia harus didoakan supaya Tuhan sembuhkan. Upaya perawatan medis dipandang sebagai tindakan yang menyangkal kuasa Tuhan dalam penyembuhan penyakit.
Konsekuensi dari pandangan ini ialah segala urusan sosial dianggap tidak penting. Yang terpenting adalah bersaksi, memenagkan banyak jiwa dan memuji Tuhan. Siapa setia dalam hal seperti ini, segala kebutuhannya akan dipenuhi oleh Tuhan sendiri. Karena itulah banyak orang meninggalkan tugas pokoknya untuk pergi bersaksi sampai berbulan-bulan.
4. Gerakan Roh dan Lembaga lain
Sejak awal munculnya gerakan roh di Timor, langsung atau tidak langsung ada kaitannya dengan Institut Injil Indonesia di Batu-Jawa Timur. Hal itu diawali dengan kedatangan Tim Dosen dan Mahasiswa III Batu itu. Secara formal juga dilakukan kerjasama antara GMIT, dan III Batu itu. Berdasarkan ikatan maka sejumlah pemuda GMIT yang merasa terpanggil untuk menjadi pekerja gerejawi di lingkungan GMIT juga pergi belajar di III Batu. Pada umumnya mereka pergi dengan rekomendasi dari jemaat asal masing-masing. Ikatan yang semakin kuat ini secara alamiah diwujudkan dan ditingkatkan dalam kegiatan saling mengunjungi. Dalam ikatan itu jemaat So’e berulang kali dikunjungi dan “dibina” oleh para dosen dari lembaga pendidikan injili ini. Banyak kali para dosen mengunjungi jemaat ini, memberikan kesaksian dan berkotbah. Pertumbuhan dan perkembangan gerakan roh ini juga menunjukkan kebutuhan-kebutuhan yang semakin besar. Dalam perkembangan ini dirasakan pula kebutuhan penanganan yang semakin sistematis dan terarah. Oleh karena kebutuhan yang cukup besar untuk membina kelompok-kelompok doa dan menampung minat mereka yang ingin belajar tentang Injil Yesus Kristus, maka dibukalah satu Lembaga Penginjilan6 di So’e dengan masa studi empat tahun. Melalui lembaga ini kalangan kelompok doa dididik untuk menjadi penginjil. Tidak tertutup kemungkinan juga bahwa orang yang mau mempelajari Alkitab dapat diterima di sini.
5. Dampak gerakan roh bagi gereja
Tidak dapat disangkal bahwa ada dampak dari gerakan roh di Timor terhadap kehidupan GMIT. Seperti yang disebutkan diatas (lih. butir 3), ada pengaruh dan akibat langsung dari berbagai ciri gerakan ini. Ketekunan membaca Alkitab dan lain-lain adalah aspek-aspek positif yang bisa dilihat dari gerakan ini.
5. 1. Pertumbuhan anggota gereja
Disamping hal-hal yang dikatakan di atas, ada lagi akibat lain yaitu pertambahan anggota gereja. Dalam kesaksian dari berbagai tim pekabar Injil, penduduk yang beragama asli atau agama suku diinjili sehingga mereka meninggalkan kepercayaan lama dan menjadi pengikut Kristus. Meskipun demikan, patut dicatat secara jujur bahwa pada waktu yang bersamaan, muncul gerakan 30 September, yaitu penghianatan Partai Komunis di Indonesia yang menelan korban para jenderal.7 Kedua peristiwa itu terjadi bersamaan, tetapi pelayanan dari pihak gereja dan kalangan gerakan ini juga adalah satu nilai tersendiri. Dengan pelayanan yang baik kepada orang-orang yang terlibat atau terintimidasi secara tidak langsung banyak orang menyatakan diri menjadi pengikut Kristus dan sekaligus anggota GMIT.
5.2. Tidak dapat disangkal pula bahwa ada berbagai dampak negatif. Dapat dicatat di sini beberapa dampak negatif: Ada sebagian orang yang dulunya alkoholik, dan didoakan dan menyatakan diri sebagai yang putus hubungan dengan alkohol. Keputusan ini berdampak pada perayaan perjamuan kudus. Kalau doa putus telah dilakukan, muncullah sikap bahwa alkohol adalah sumber dosa kemabukan. Karena itu mereka yang telah melakukan doa seperti itu menuntut agar dalam perayaan perjamuan Kudus, minuman seperti anggur harus disingkirkan. Jika tidak mereka akan tergoda dan menjadi peminum atau pemabuk lagi. Oleh karena itu untuk beberapa waktu, ada jemaat tertentu yang hares berdoa dan berpuasa agar ada mujizat, yaitu supaya air berubah menjadi anggur dan dipakai dalam Perjamuan Kudus. Sikap seperti itu memang membebaskan manusia dengan segala keinginan hatinya. Akan tetapi sebaliknya alkohollah yang datang sebagai akar dosa dan kejahatan. GMIT harus berjuang cukup lama untuk memberi pengertian bagi jemaat-jemaat yang demikian. Kalau pikiran ini diteruskan maka perayaan Perjamuan Kudus yang membebaskan manusia dan membebankan dosa pada alkohol telah membuat Yesus “mati konyol” di salib. Yesus mati hanya untuk botol-botol berisi alkohol yang tidak tahu menahu tentang apa dan bagaimana cairan alkohol yang terisi di dalamnya.
5. 3. Ikatan organisatoris yang longgar
Gerakan roh di Timor yang berkelanjutan di dalam kelompok-kelompok doa adalah suatu gerakan interdenominasional. Kegiatan-kegiatannya dapat menembus tembok-tembok pemisah antar denominasi. Akan tetapi kerugiannya ialah sifat antar denominasi itu sampai terbawa ke dalam organisasi-organisasi jemaat. Di dalam tata organisasi yang menampung gerakan ini, banyak kali anggota-anggotanya berkehendak supaya anggota denominasi lain duduk dalam kepengurusan organisasi jemaat.
Gejala ini menunjukkan bahwa aspek organisme dan organisasi kehidupan gereja tidak dibedakan secara baik, melainkan dicampuradukkan begitu saja kecendrungan ini tentu saja tidak menolong oleh karena tata organisasi dan tata pelayanan dan denominasi yang satu tidak sama saja dengan denominasi lain. Kalu hal ini dibiarkan, tentu saja akan merugikan sifat interdenominasional dari gerakan ini, yang sebenarnya merupakan satu sumbangan berharga bagi gerakan oikumene.
6. Sikap GMIT terhadap gerakan roh di Timor
Pada mualnya timbul sedikit ketegangan dalam Gereja Masehi Injili di Timor terutama oleh karena perbedaan paham dalam berbagai pandangan teologis dan aspek kerja. Perbedaan itu terlihat dalam hal-hal berikut:
6. 1. Penyakit dan penyembuhan
Sudah jelas bahwa kalangan gerakan roh menekankan penyembuhan melalui doa. Akan tetapi di So’e sendiri pada masa itu perlu dicatat nama Pdt. B. Manuain yang secara konsekuen berdiri pada pandangan teologis yang alkitabiah. Melalui kotbah-kotbah dan pendekatan pastoralnya yang baik, anggota-anggota jemaat diyakinkan bahwa penyembuhan melalui pelayanan kesehatan yang tradisioanal maupun tindakan medis adalah karunia Allah. Dalam berbagai nasihatnya ia menekankan bahwa doa dan kerja adalah dua aspek dari satu kehidupan jemaat yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Karena itu di dalam penyembuhan orang sakit, doa tidak dapat dipacu berjalan sendiri, melainkan kerja dan upaya penyembuhan juga hares dilakukan untuk menunjukkan kesungguhan harapan yang telah dinaikkan dalam doa kepada Tuhan. Perlu dicatat di sini bahwa sikap dan pendekatan Pdt. B. Manuain terhadap gerakan roh tidak konfrontatif.
6. 2. Organisasi
Kalangan gerakan roh yang hendak pergi memberitakan Injil ke luar wilayah perlu dilengkapi dengan rekomendasi. Kalau kegiatan itu hanya berlaku di luar jemaat dan masih di dalam lingkungan pelayanan GMIT, maka rekomendasinya cukup diberikan oleh Majelis Jemaat setempat. Akan tetapi kalau kegiatannya akan ke luar wilayah pelayanan GMIT, maka rekomendasinya harus dikeluarkan oleh Majelis Sinode GMIT. Majelis Sinode sebagai pemberi rekomendasi perlu mengidentifikasi kemampuan tim yang hendak bepergian. Pikiran teologis, penyandang dana dan lain-lain selalu dipertanyakan. Di sinilah letak persilangan pendapat oleh karena cara kerja gerakan roh tidak didasarkan atas program, melainkan atas pimpinan roh. GMIT sendiri tidak berkehendak untuk menghalangi gerakan roh, tetapi dalam tanggung jawab organisatorisnya sebagai satu gereja, ia perlu mengetahui secara pasti apa yang hendak dilakukan oleh anggota-anggotanya.
Oleh karena perbedaan paham seperti ini, ada kalangan gerakan roh yang mendapat penglihatan bhwa rumah Ketua Majelis Sinode GMIT akan terbakar oleh karena pelayanannya yang tidak lancar kepada tim tertentu dari kalangan gerakan roh. Walaupun demikian, GMIT secara arif tidak mengekskomunikasikan anggota-anggotanya yang bersikap demikian. Melalui berbagai upaya pembinaan akhirnya kalangan gerakan roh menyadari tanggung jawab organisatoris mereka.
6. 3. Saluran Organisatoris
Secara perlahan-lahan, GMIT menerima satu karunia bagi persekutuan jemaat. Oleh karena gerakan ini melibatkan cukup banyak anggota gereja maka gerakan ini menerapkan hari lahirnya, yaitu hari pertama dari lahirnya tim pertama. Hari itu ialah 26 September yang dirayakan setiap tahun. Denagn ini terbentuklah satu organisasi dari tim-tim Pemberita Injil di GMIT. Ia tidak menjadi gereja di dalam gereja melainkan satu organisasi untuk mengkoordinasikan gerakan ini.8
6. 4. Pemantapan organisatoris
Pembukaan jalur organisatoris bagi gerakan roh bukan jalan terakhir. Kalu upaya GMIT hanya terhenti di situ, maka lambat laun akan terjadi friksi di tubuh GMIT yang secara legal diciptakan oleh GMIT sendiri. GMIT juga belajar menyadari nilai positif dari kehadiran gerakan ini. Dalam kenyataannya ada berbagai sumbangan gerakan ini terhadap pertumbuhan iman anggota-anggota GMIT. Akan tetapi dengan sikap positif yang dikembangkan GMIT, sikap kritisnya juga harus terus dipertajam agar sumbangan-sumbangan gerakan ini bagi GMIT sendiri dan bagi garakan oikumene dapat dialami secara sehat.
7. Penutup
Gerakan roh di Timor yang berkelanjutan di dalam kelompok-kelompok doa di GMIT adalah gerakan yang tumbuh di dalam gereja. Perlu diakui bahwa sedikit atau banyak gerakan ini telah membawa manfaat bagi pertumbuhan geraja. Selanjutnya solusi akomodatif yang ditunjukkan oleh GMIT adalah jalan yang arif sehingga baik GMITmaupun gerakan ini belajar menempuh arah-arah baru dalam kehidupan, pelayan dan upaya berteologinya.
Satu hal yang masih perlu dikembangkan lebih lanjut ialah kesediaan banyak anggota gereja untuk menjalankan kesaksian tentang Injil Yesus Kristus. Kalau dalam gerakan ini kesediaan mereka ke arah ini masih terikat pada kesaksian verbalistik, maka di masa depan perlu diupayakan lagi arah yang lebih luas, yaitu kesiapan mereka untuk memberi perhatian pada berbagai masalah sosial. Bagaimanapun, permasalahan dan pergumulan anggota-anggota gereja banyak kali bertumpang-tindih dengan pergumulan kehidupan bermasyarakat. Gereja tidak hanya terarah ke depan dan ke surga yang di langit di atas, melainkan gereja ada di dunia dan di tengah masyarakat dunia ini.

Catatan Kaki:
1 Yang dimaksudkan dengan gerakan Roh di Timor ialah gerakan yang melibatkan anggota-anggota jemaat dan sebagian dari pejabat-pejabat gerejawi GMIT untuk memberitakan Injil Yesus Kristus. Salah satu aktivitas mereka adalah kelompok doa. Gerakan ini mulai pada pertengahan kedua tahun 1965 hingga akhir 1969(gerakan ini berpusat di So’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. )
2 Yang dimaksudkan dengan penyembuhan ilahi di sini ialah penyembuhan orang-orang sakit melalui doa dan penumpangan tangan dalam kebaktian-kebaktian terbuka.
3 Anggota jemaat tersebut adalah Nn. H. P. Tunliu, BA. Ia adalah Kepala SPG Kristen yang cukup giat dalam pelayanan di tengah jemaat.
4 Sebelum tim Pekabaran Injil itu meninggalkan So’e, pimpinannya yaitu Drs. P. Octovianus menyatakan bahwa mereka berangkat tetapi akan terjadi sesuatu di So’e pernyataan ini mungkin saja berhubungan dengan kesediaan Nn. H. P. Tunliu untuk menjadi seorang penginjil. Akan tetapi mungkin juga ada hubungannya dengan gerakan roh yang muncul tidak lama kemudian di So’e.
5 Nama yang lebih lumrah di kalangan gerakan ini sendiri adalah Tim Pekabar Injil.
6 Lembaga ini diselengarakan sebagai salah satu wujud kerjasama antara GMITdan III Batu. Dengan masa studi yang sekian lama, lembaga ini dipandang setingkat SLTA.
7 Dalam kesaksian dari beberapa tim Pekabar Injil para penganut agama suku diminta untuk meninggalkan agama lama itu agar tidak dianggap sebagai orang atheis. Selanjutnya kepada mereka ditawari pilihan untuk menjadi pengikut Kristus dan menjadi anggota GMIT. ”Kampanye” seperti itu juga sejalan dengan tekanan dari berbagai pihak yang melakukan penumpasan terhadap PKI dan ORMAS-ORMAS-nya. Jadi dalam realitasnya, pertambahan anggota gereja pada waktu itu terjadi karena penganut agama lama atau agama suku “digempur”dari dua pihak.
8 GMIT sendiri secara tetap melakukan pembinaan, baik secara sinodal maupun teritorial terhadap kalangan gerakan roh. Ada kalanya diselenggarakan seminar tentang berbagai topik yang berhubungan dengan gerakan ini.
Pdt. Dr. J. A. Telnoni adalah dosen Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang