Karisma ada padamu!
Renungan terinspirasi oleh 1 Timotius 4:14a
oleh Markus Hildebrandt Rambe
dari: Jurnal Intim No. 4 - Semester Genap 2003
Kapan terakhir kali ada yang mengatakan kepada Anda bahwa Anda mempunyai bakat
atau talenta tertentu, atau prestasi Anda dipuji dengan tulis hati? Anda tidak
langsung ingat? Padahal itu yang seharusnya lebih sering kita alami dalam persekutuan
orang percaya. Kapan terakhir kali Anda dikritik atau – secara langsung autau
tidak langsung – diingatkan pada kekurangan-kekurangan Anda? Begitu banyak contoh
yang muncul dalam ingatan Anda? Apakah memang membuat orang merasa bersalah
adalah metode yang paling layak di antara orang Kristen?
Pendekatan Paulus berbeda. Ia, meski-pun sering mengoreksi dan mengkritik dengan
tajam, namun ia mendekati orang lain dengan membangun mereka, dengan mencari
benih positif dalam seseorang dan memotivasi serta memberdayakannya untuk menjadi
pelayan Injil. Timotius diingatkannya: “Jangan lalai dalam mempergunakan karunia
(bahasa Yunani: karisma, plural: karismata) yang ada padamu” (1 Tim 4:14). Jemaat
di Korintus , meskipun terpecah-belah dan dalam banyak hal tidak mencerminkan
kasih Allah dalam kehidupan persekutuannya, pertama-tama membuat Paulus bersyukur
kepada Allah “atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam
Yeus Kristus. Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal…”.
Bahkan orang Atena yang kotanya penuh dengan patung-patung berhala tidak
begitu saja dinilai sebagai “kafir” tetapi didekati oleh Paulus sebagai orang
yang juga adalah “keturunan Allah” yang telah mereka “sembah tanpa mengenalNya”(Kis
17:16-34).
Mungkin sikap Paulus ini dapat membantu kita untuk keluar dari jalan buntu yang
telah kita tempuh: kita terlalu kuat untuk mempersalahkan, menghakimi, menjatuhkan
semangat dan terlalu lemah dalam menguatkan, membangkitkan motivasi, mendorong
penggunaan karunia. Kita terbiasa memandang dunia, orang lain dan kita sendiri
dengan paradigma “gelas yang setengah kosong”: Jika melihat sebuah gelas yang
hanya diisi sampai setengahnya, kita lebih cenderung mengeluhkan bagian yang
kosong dari pada optimis mengedepankan bahwa ini adalah “gelas yang setengan
penuh”.
Bagaimana tidak? Setiap hari minggu kita diajar: Kita bersalah, berdosa dan
tidak layak dalam segala hal (dalam bagian ini khotbah sangat kongkrit dan “kontekstual”).
Semua kebaikan hanya karena anugerah Allah semata (dalam hal ini khotbah sangat
abstrak tanpa membuat saya mengalami atau memahami manestifasi anugerah Allah
dalam hidupku), dan oleh karnna itu, kita harus ini… tidak boleh itu… (bersifat
perintah atau larangan, bukan undangan atau penguatan). Kabar seperti ini membuat
saya semakin kecil, dan tidak merasakan Injil (“kabar baik”!) di dalamnya.
Sepanjang proses pendidikan di rumah, di sekolah, di pengguruan tinggi, tidak
pernah ada yang mengata-kan: “Aku bangga padamu”, “kerjaanmu ini bagus sekali”,
“aku senang melihat talentamu”. Hanya: “Kenapa kamu masih ranking 3?”, “saya
sudah bilang bahwa kamu tidak mampu melakukan tugas ini”, “ini salahmu”. Ya,
“sudah bagus, T E T A P I …”.
Apakah bahkan renungan ini sudah mulai menggunakan metode yang sama dengan menambah
saja satu kesalahan, yaitu hanya tahu mencari kesalahan, kekurangan dan kegagalan?
Mudah-mudahan bukan itu yang menjadi pesan inti, melainkan: Karunia ada padamu.
Dan ada pada orang lain disekitarmu. Kamu tinggal menemukannya, mengembangkannya,
mempergunakannya dengan baik. Ini adalah pengalaman yang sangat menguatkanmu,
dan mungkin saja kamu akan menyebutnya sebagai “anugerah Roh Kudus”.
Ada beberapa pengalaman saya di STT Intim selama ini yang menguatkan motivasi
saya bahkan membuat beberapa kekecewaan saya tidak menjadi dominan. Misalnya
dalam pelaksanaan ibadah kampus, sering orang katakan bahwa mahasiswa malas
beribadah, tidak tahu berkhotbah dan membuat liturgi, tidak kreatif lagi. Tetapi
ternyata, jika diberi kesempatan, diberi kepercayaan dan kebebasan untuk mengembangkan
kreativitas, muncul begitu banyak talenta-talenta yang tersembunyi. Tinggal
memberi pengarahan yang mendukung. Hasilnya kehidupan beribadah sudah mulai
lebih hidup lagi dengan lebih banyak peserta. Tentu saja tidak semua dan tidak
selalu sempurna, tetapi sesuatu mulai berubah dan bertumbuh. Dan itu dimulai
dengan menyadari bahwa kapel kita bukan setengah kosong, tetapi setengah penuh!
Di kelas saya, pernah ada seorang mahasiswa yang sudah beberapa kali tidak lulus.
Sebenarnya orangnya tidak bodoh, tetapi malas dan juga tidak pernah aktif dalam
kelas. Waktu ia menghadap saya untuk meminta kebijakan dalam bentuk “tugas saja”,
saya menolak tetapi menggunakan kesempatan untuk sedikit “menasehati” dia. Sebenarnya
saya hanya mengatakan bahwa saya tahu penyakitnya (kemalasanya) tetapi yakin
bahwa ia mampu dan cukup pintar untuk mencapai hasil yang lebih baik. Selain
itu, sebagai kakak yang sudah pernah ikut dalam kuliah, ia dapat memberi masukan
yang penting untuk diskusi dalam kelas. Akhirnya saya sendiri heran, pada semester
depan ia ikut kuliah dengan cukup semangat dan aktif; mungkin ia tidak berubah
180º, tetapi akhirnya dalam ujian ia mencapai hasil yang sangat baik. Ini
membuat saya bertanya pada diriku sendiri, apakah memang selama ini saya sudah
cukup berusaha untuk menemukan dan mendukung potensi dalam setiap mahasiswa.
Yang jelas, sikap yang menganggap menunjukkan bahwa mahasiswa-mahasiswi tertentu
terlalu malas, bodoh dan tidak mampu itu hanya akan membenarkan diri dan
mematikan sisa semangat dan percaya diri untuk belajar.
Masih banyak contoh yang dapat saya ceritakan. Kesimpulanya sederhana: Bakat,
talenta, karunia, karisma ada padamu!
Memang yang dimaksud Paulus dengan karunia (karisma) lebih dari sekedar bakat
atau talenta “alami” yang dimiliki atau diwariskan kepada setiap pribadi, melainkan
sebuah potensi yang diberikan oleh sebuah kuasa “supranatural”, yaitu Roh Kudus,
kepada kita. Karisma itu membuat kita menggunakan bakat atau talenta kita demi
membangun persekutuan “vertika” dan “horisontal” – dengan Tuhan dan dengan sesama
manusia. Karisma adalah potensi dalam diri kita untuk menghadirkan syalom dan
berpartisipasi dalam membangun kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Paulus
(1 Kor 12:4-11) menyebut sembilan karunia Roh Kudus, namun ini bukan daftar
yang final atau eksklusif (dan yang disebut dalam perikop tersebut juga hanya
merupakan karisma, jika digunakan untuk membangun jemaat, bdk. 1 Kor 14:12+26).
Masih banyak karismata lain. Karya Roh Kudus tidak dapat dibatasi oleh manusia,
baik bentuknya (bahwa hanya cara beribadah tertentu merupakan manifestasi karunia
Roh Kudus) maupun jangkauannya (bahwa hanya orang dengan status rohani atau
keanggotaan aliran tertentu akan dianugerahkan karunia Roh Kudus), dan jangan
terlalu cepat menganggap bahwa di luar gereja tidak ada karunia Roh Kudus!
Mungkin salah satu karisma atau karunia Roh Kudus yang sangat kita butuhkan
saat ini adalah karunia “sensitifitas”. Yang pertama, menjadi sensitif terhadap
karunia-karunia Roh Kudus yang ada di sekeliling kita, dalam persekutuan kita
atau dalam diri kita sendiri. Jangan sampai kita terlalu cepat mengambil kesimpulan
bahwa saya atau dia atau mereka tidak mau atau tidak mampu menyumbangkan sesuatu
yang berharga kepada persekutuan, padahal kita belum pernah memberi kepercayaan
dan kesempatan untuk mengembangkan dan mempergunakan karunia-karunia yang ada.
Yang kedua, menjadi sensitif terhadap kebutuhan manusia di sekeliling kita dan
anggota persekutuan kita, khususnya kebutuhan spiritual mereka. Jangan sampai
kita hanya mengkhotbai mereka dengan cara yang menjawab pertanyaan yang bukan
pergumulan mereka, dari pada membuat mereka memahami, merasakan dan mengalami
injil yang membangkitkan. Yang ketiga, sensitif terhadap karya Roh Kudus, yang
seperti angin “bertiup di mana ia mau” (Yoh 3:8) dan hadir di mana kita tidak
menyangkanya, bukan dalam peristiwa-peristiwa yang besar dan spektakuler, tetapi
mau ditemukan dalam hal-hal kecil, dalam “bunyi angin sepoi-sepoi biasa” (bdk.
1 Raj 19:11-12). Amin.
Pdt. Markus Hildebrandt Rambe M.Th adalah dosen bidang Misiologi STT Intim Makassar