Mengenal Buku tentang Gerakan Karismatik:

 

 

 

Mempertimbangkan Gerakan Karismatik

 

Julianus Mojau

 

 

 

 

Judul                : Interpreting Charismatic Experience

Pengarang        : David Middlemiss

Penerbit            : SCM Press, Ltd (London, 1996)

Halaman           : xvii + 278 (temasuk Index)

 

Kemunculan Gerakan Karismatik di dalam Gereja telah membuat berbagai respons di kalangan para pemimpin Gereja dan teolog, baik itu di kalangan  Gereja Katolik maupun Gereja-gereja arus-utama di dalam Protestantisme. Kalau kita memperhatikan respon Gereja Katolik maka kita akan menjumpai respons yang bersifat akomodatif-transformatif dengan jalan mengintegrasikan gerakan karismatik ke dalam keseluruhan hidup menggereja dan kesadaran iman umat, baik itu secara liturgis maupun pendampingan-penyembuhan dalam bentuk pengembangan spiritualitas-transformatif yang mengubah pengamalan-pengamalan traumatic umat. Sebaliknya, di kalangan Gereja-gereja arus-utama Protestantisme, yang kita jumpai adalah respons yang bersifat reaksioner dan menghakimi. Kalau tokh ada beberapa pendeta tertarik dan menaruh simpatik kepada model pelayanan liturgis dan pendampingan Gerakan  Karismatik, tapi hal itu tidak mencerminkan sebuah pengolahan pemerkayaan tradisi spiritual yang digali dari tradisi spiritualitas Gerejanya sendiri. Itulah sebabnya, pendeta yang bersangkutan lantas kehilangan kesadaran atas tradisi spiritualitas Gerejanya.  Misalnya, pendeta yang bersangkutan secara tiba-tiba berubah gaya berkhotbah menjadi “model Bill Graham” dan isi-khotbahnya menjadi “nasi dan ikan hamis” yang diberikan kepada umat untuk dikomsumsinya sehingga membuat umat diare hidup di dalam dunia atau isi-khotbah tanpa daya bentuk bagi pertumbuhan spiritualitas transformatif-liberatif. Hal ini disebabkan oleh ketidakpahamannya tentang apa yang disebut dengan “Gerakan Karismatik” itu. Kiranya artikel-artikel dalam Jurnal INTIM No 4 ini dapat memberi pencerahan ke arah pemahaman dan penafsiran yang benar tentang “Gerakan Karismatik” itu.

 

Sehubungan dengan tema Jurnal INTIM kali ini baiklah tulisan-tulisan dalam Seri INTIM itu dilengkapi dengan  buku Interpreting Charismatic Experience karangan David Middlemiss. Dalam buku yang terdiri dari sembilan bab dan satu apendiksnya pembaca akan dibimbing memahami bahwa : (1) Gerakan Karismatik bukanlah sebuah Gerakan Baru di dalam sejarah Kekristenan (Bab 1); (2) Kesulitan-kesulitan Praktis dan Konseptual di dalam Menafsirkan Gerakan Karismatik (Bab 2 dan 3); bagaimana klaim terjadi bahwa Allah itu berbicara kepada kita----yang kemudian diperlihatkan bagaimana klaim tentang “pengalaman religius” itu dipahami secara empirik dan rasional dalam hubungannya dengan entusiasme dan dengan tradisi teologis tertentu seperti dikembangkan oleh Barth dan Bultmann (Bab 4-5) ; (4) paradigma untuk memahami “pengalaman religius”, terutama sekali pengalaman karismatik, di mana entusiasme merupakan sub-paradigma di dalam kepercayaan Kristen  serta criteria menafsirkan pengalaman karismatik itu (Bab 6-9); dan (5) fenomena entusiatik dan terknik-hipnotik (appendix). Kalau kita memperhatikan, selain Bab 1,  pokok-pokok bahasan dari Bab 1-9, maka kiranya jelas bahwa buku ini fokusnya buku ini bukanlah menjawab pertanyaan apa itu Gerakan Karismatik itu dan bagaimana memahami Gerakan Karismatik itu secara histories, sosiologis, antropologis dan psikologis?  Tetapi buku, seperti ditekankan oleh penulis sendiri, bahwa fokus buku ini ialah epistemolog-karismatik, yaitu: sebuah penyelidikan ke dalan struktur bangunan penegathuan tentang bagaimana seseorang dapat membenarkan sebuah klaim bahwa dia dapat mengetahui bahwa Allah terlibat di dalam pengalaman hidup sehari-harinya (hlm. Xv).

 

Untuk membaca buku ini pembaca perlu mempunyai pengetahuan yang luas dalam soal-soal epistemology, terutama filsafat ilmu  dan sejarah Gereja dan teologi yang memadai secara interdisipliner. Pembaca yang tidak mempunyai modal tentang filsafat ilmu, dan sejarah Gereja dan teologi serta kesadaran interdisipliner, pastilah membaca buku ini dengan banyak kesulitan.    Sekalipun demikian membaca buku pastilah akan memberi pencerahan keilmuan secara hermeneutis dalam menafsirkan Gerakan Karismatik sebagai pengamalan spiritualitas yang patut diperhatikan dan diintergrasikan ke dalam keseluruhan kesadaran pengalaman iman Kristiani yang dapat dihayatai dan dialami di dalam pengamalan liturgis dan pendampingan yang membebaskan dan memberdayakan untuk mampu hidup secara transformatif di dalam dunia ini, dan bukannya pengalaman karismatik itu dijadikan pengalaman spiritual menjadi pill-ecstasy yang menghilangkan rasa sakit sementar!!  Selamat membaca!!

 

 

Yogyakarta, 1 April 2003