"Kamu adalah
garam dunia.
Jika garam itu
menjadi tawar, dengan apa ia diasinkan?
Tidak ada lagi
gunanya selain dibuang dan diinjak orang."
(Matius 5:13)
(Ibadah
Kapel STT Intim Makassar 22 Oktober 2001)
-
Membagi garam
Pengantar: sebelum kita mendengar Firman Allah untuk pagi ini, saya mengundang
saudara-saudari untuk suatu meditasi singkat, sambil memandang dan
meraba(-raba) garam yang ada dalam tangan kita masing-masing. Sementara
mendengar musik instrumental, saya mengundang saudara-saudari dalam saat teduh
ini untuk memikirkan satu hal, yaitu: di mana dalam kehidupan saya pribadi,
saya pernah merasa diriku sendirian, sekecil dan selemah seperti sebutir garam
(Pengalaman, situasi di mana saya merasa lemah, kecil, tidak berdaya, frustrasi
karena merasa sendiri dan tidak dapat berbuat apa-apa). Saat meditasi akan saya
akhiri sebentar dengan doa dan pembacaan Alkitab.
-
saat meditasi dengan musik
instrumental
Doa: Tuhan, kami sering merasa sendirian, lemah dan tidak berdaya. Kami
sering merasa kecil sekali di tengah-tengah universum ini dan ditengah-tengah
masalah yang besar. Kami sering merasa tidak berarti seperti sebutir garam saja
yang ada di dalam tangan kami. Kami mohon, Tuhan, kuatkan kami dengan
Firman-Mu, berdayakan kami dan tunjukkan kami di mana dan untuk apa Engkau
membutuhkan kami. Amin.
Pengantar pembacaan Alkitab: Kita akan membaca Firman Allah untuk pagi
ini dari Injil Matius pasal 5 ayat 13. Sebelum kita membaca bersama-sama, saya
mengundang saudara-saudari untuk mencoba dan merasakan lebih dahulu beberapa
butir dari garam yang ada di tangan kita masing-masing... dan tolong sisanya
jangan dibuang ke lantai, tetapi mungkin disampan di antara halaman pasal 5
Injil Matius dalam Alkitab kita masing-masing...
Pembacaan bersama: "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu
menjadi tawar, dengan apa ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang
dan diinjak orang."
Renungan
Saudara-saudari yang kekasih dalam Yesus Kristus,
saya terinspirasi untuk renungan ini dari refleksi bersama dalam kelas Misiologi
I tentang ayat yang kita dengar tadi, dan mudah-mudahan pagi ini kita dapat
bersama-sama tidak hanya memahami secara intelektual, tetapi juga merasakan apa
yang dimaksud Yesus dalam khotbahnya di bukit: "Kamu adalah garam
dunia".
1. Kalau saya bayangkan situasi para pengikut Yesus yang mendengar
khotbahnya pada waktu itu, saya yakin bahwa Yesus terutama ingin menguatkan pendengarnya. Bukan
sebuah perintah: "Kamu harus menjadi garam dunia", tetapi: "Kamu
ADALAH garam dunia". Garam pada waktu Yesus adalah sesuatu yang sangat
penting dan bahkan yang sangat mahal. Garam pernah disebut "emas
putih" karena menjadi alat pembayaran dalam perdagangan, dan dalam sejarah
dunia bahkan ada perang yang pernah terjadi karena garam. Mungkin kita sudah
lupa pentingnya garam itu, karena garam misalnya di pasar sentral cukup banyak
dan murah. Tetapi saya tahu bahwa di Indonesia masih ada beberapa daerah yang
masih ingat betapa penting dan berharga garam dalam kehidupan ekonomi dan
sehari-hari masyarakat. Dan para ilmuwan tahu bahwa: tanpa garam tidak ada
kehidupan, baik di laut maupun di darat.
"Kamu adalah garam dunia" - yang ingin dikatakan Yesus
terutama adalah: Kamu sangatlah berharga. Kamu sangat penting. Kamu merasa
bahwa sebutir garam itu tidak ada artinya dan tidak ada gunanya. Tetapi justru
sebaliknya: di dalam butir ini tergandung salah satu sumber kehidupan. Kamu
mungkin merasa tidak bisa berbuat apa-apa, karena kamu hanya sedikit, kamu
merasa sebagai minoritas yang tidak berdaya. Tetapi dalam dirimu ada sebuah
kekuatan yang bisa dirasakan dan bahkan dapat merubah dunia ini. Tanpa kamu,
dunia ini akan tawar.
Yesus menguatkan muridnya. Bukan untuk menjadi sombong. Bukan untuk
merasa bahwa hanya mereka yang dapat menyelamatkan dunia, dan hanya mereka yang
memberi sebuah rasa yang penting. Masih banyak rempah yang lain di dunia ini
yang juga sangat dibutuhkan. Namun identitas kami adalah menjadi garam dunia.
Bukan dari kekuatan diri kita sendiri, bukan karena usaha dan jasa kita
sendiri, namun karena kekuatan dan rasa yang diberikan kepada kita oleh Allah
sendiri. Kita mungkin kecil seperti sebutir garam. Namun bersama-sama dengan
butir-butir garam lain, kita dapat menjadi garam dunia, dan bukan kwantitas
garam itu yang menjadi penting, tetapi kwalitas dari pelayanan kita sebagai
garam dunia.
2. Ini membawa kita ke aspek kedua dari firman Yesus ini. Garam hanya ada gunanya jika dipakai!
Pada waktu Yesus, garam jarang terdapat dalam bentuk yang murni, tetapi ada
campuran dengan semacam kapur, yang membuat garam itu cepat rusak dan tawar
kalau disimpan terlalu lama. Dan di dapur kami pun, kalau garamnya sudah
terlalu lama, sudah menjadi basah atau keras dan tidak enak lagi dipakai.
Garam, kalau disimpan, sama saja dengan dibuang dan diinjak orang! Garam haraus
keluar dari tempat garam, harus dipakai untuk fungsinya, kalau tidak, untuk apa
garam itu?
Sama dengan gereja dan dengan kekristenan kita. Hanya ada gunanya,
kalau melakukan fungsinya dan misinya di dunia ini. Jika kekristenan kita hanya
untuk kehidupan rohani dan keselamatan pribadi kita masing-masing, apa gunanya?
Untuk apa kita "keenakan" dalam "tempat garam" kita
masing-masing, dalam jemaat atau gereja atau persekutuan Kristen, di mana kita
merasa aman dan kerasan. Seperti bungkus garam itu yang harus dibuka, gereja
juga butuhkan keterbukaan! Kita harus keluar dari tembok-tembok gereja itu.
Jika gereja hanya sibuk dengan mengurus dirinya sendiri, apa gunanya menjadi
seorang Kristen? Dan jika gereja kadang-kadang merasa dibuang dan diinjak dalam
masyarakat kita, mungkin kita terutama harus bertanya pada diri kita sendiri:
apakah kita sudah menjadi garam yang tawar, yang tidak ada lagi gunanya selain
dibuang dan diinjak orang? Jangan kita hanya berkumpul dan memuji Tuhan bahwa
Ia telah menjadikan kita menjadi garam dunia, tetapi melupakan mewujudkan
fungsi dan misi itu di tengah-tengah tantangan dunia ini. Gereja harus berguna
untuk dunia, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tentu saja untuk misi ini
dibutuhkan sensitifitas yang tinggi, seperti seorang juru masak juga
menggunakan garam dengan hati-hati. Dalam misi kita untuk menjadi garam dunia,
kita selalu harus mewujudkan kontribusi kita sesuai dengan konteks di mana kita
berada!
Fungsi dan misi apa yang dimaksud oleh Yesus? Tentu saja, bukan
menjadikan seluruh dunia menjadi garam, namun terutama menggarami dunia ini!
Dan ada tiga fungsi garam dalam kehidupan sehari-hari yang dapat membantu kita
untuk memahami apa yang dimaksud Yesus, dan saya minta ketiga mahasiswa yang
telah siap untuk menjelaskan ketiga fngsi garam itu:
-
Mahasiswa dengan simbol
bungkus garam dapur menjelaskan fungsi memberi rasa yang enak atau
menghilangkan rasa amis
-
Mahasiswa lain dengan simbol
ikan asin menjelaskan fungsi membersihkan dan mengawetkan makanan dan
menghindarinya dari pembusukan, misalnya ikan atau daging
-
Mahasiswa lain dengan simbol
sebungkus "Oralit" menjelaskan fungsi kesehatan, di mana garam dapat
menjadi obat, mendesinfeksi atau memulihkan penyakit (misalnya diare: diobati
dengan kombinasi air, garam dan gula)
Dari tiga fungsi garam dalam kehidupan sehari-hari itu kita dapat juga
melihat tiga fungsi kita sebagai orang Kristen dan gereja sebagai garam dunia:
-
fungsi untuk memberi rasa yang lebih baik kepada dunia ini. Kita tidak
akan mampu untuk menciptakan kerajaan Allah di dunia ini. Namun kita dipanggil
untuk menyaksikan dan mewujudkan cinta kasih, keadilan dan solidaritas
kemanusiaan serta perdamaian dengan semua ciptaan Allah, supaya dunia dapat
merasakan bagaimana rasanya kerajaan Allah yang dekat itu. Dengan menjadi alat
misi dan saluran kasih Allah, kita dapat memberi rasa yang berbeda kepada
dunia. Dengan tidak mengikuti logika balas dendam, tatapi mencari jalan keluar
yang mengasihi dan menghormati kemanusiaan juga musuh kita, dengan tidak
khawatir tentang diri sendiri, tetapi melayani dan melampaui batas-batas
struktur masyarakat yang hirarkis dan primordial.
-
fungsi untuk membersihkan, mengawetkan dan menghindari dara pembusukan,
ini juga sangat dibutuhkan: kita
dipanggil dan diutus untuk memelihara ciptaan Allah yang semakin terancam dan
rusak
-
fungsi untuk menjadi obat memulihkan penyakit-penyakit, dan disini saya
melihat terutama fungsi kita untuk memulihkan kembali hubungan-hubungan yang
rusak baik antara sesama manusia maupun keterasingan manusia dari dirinya sendiri
dan dari Allah Penciptanya. (misi rekonsiliasi)
3. Untuk memahami aspek ketiga saya persiapkan sebuah eksperimen kemia
yang singkat:
-
gelas air putih, garam larut
dalam air (garam hilang? - merasa: hilang betul atau?)
Kadang-kadang, sebagai orang Kristen, kita takut untuk bergaul dengan
lingkungan kita, untuk berinteraksi dengan budaya setempat, dengan agam-agama
lain, untuk terlibat dalam masalah-masalah duniawi, karena kita takut untuk
kehilangan indentitas kita.
Dan memang dari garam ini kita belajar bahwa yang dituntut dari kita
adalah mengorbankan sesuatu. Kita harus berani untuk mengorbankan diri kita
sendiri, harus berani ditransformasikan dalam konteks di mana kita berada.
Hanya kalau kita siap untuk ditransformasikan, kita akan juga mampu untuk
mentransformasikan konteks kita dan dunia ini. Gereja harus berani untuk
melayani tanpa mengutamakan kepentingannya sendiri. Yang penting pada akhirnya
bukan garamnya, namun apakah dunia ini sudah mendapat rasa yang enak oleh garam
yang sudah lalut di dalamnya!
Apakah dalam proses ini kita akan kehilangan identitas kita? Apakah
berdialog dan bekerja sama dengan orang beragama lain, terlibat dalam
pergumulan-pergumulan duniawi dan berinteraksi dengan budaya-budaya berarti
kita akan kehilangan kekristenan kita? Sebaliknya! Seperti garam yang larut,
namun tetap eksis meskipun dalam bentuk yang ditransformasikan, dan tetap
menjadi asin, demikian juga kita sebagai orang Kristen. Bahkan, saya yakin,
bahwa dalam proses transformasi ini kita baru akan menemukan identitas kita
yang sebenarnya. Inilah kontradiksi eksistensi kekristenan: jika kita hanya
ingin mempertahankan diri kita sendiri, kita akan kehilangan identitas kita.
Jika kita berani untuk mengambil risiko pengorbanan dan perubahan, kita akan
menemukan identitas kita yang sebenarnya dan kehidupan yang kekal. (bdk Yoh 12:24 jikalau biji gandung tidak
jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia
akan menghasilkan banyak buah)
Amin.