Mari Benahi Mentalitas Pelayanan
Renungan Dies Natalis Ke-53 dan Wisuda
STT Intim Makassar, 18 September 2001
Markus 5:25-36
Oleh: Pdt. Lidya K. Tandirerung
Injil Matius 5:25 Adalah
di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita
pendarahan. 26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga
telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada
faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. 27 Dia sudah mendengar
berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia
mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.
28 Sebab katanya: "Asal
kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
29 Seketika itu juga berhentilah
pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.
30 Pada ketika itu juga
Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling
di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?"
31 Murid-murid-Nya menjawab:
"Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan
Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?" 32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya
untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. 33 Perempuan itu, yang
menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas
dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan
segala sesuatu kepada-Nya. 34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai
anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan
sembuhlah dari penyakitmu!"
35 Ketika Yesus masih berbicara
datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu
sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?"
36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan
perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut,
percaya saja!"
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Realitas kekerasan memang telah menjadi guratan dominan pada wajah bangsa kita, bahkan wajah dunia. Gaya-gaya anarkisme dalam ragam ekspresi ketidakpuasan masyarakat kita, dapat dijumpai di Makassar, di Luwu yang dekat-dekat dengan kita, bahkan di Toraja, di kampung halaman saya yang selama ini terkenal dengan ke"adem"-annya. Olehnya, saya percaya bahwa inilah latar belakang pemilihan tema Dies Natalis kita kali ini, "Realitas Kekerasan Sosial di Indonesia. Tantangan bagi Pendidikan Teologi", yang juga terkait langsung dengan pergumulan global gereja-gereja se-dunia: Dekade to overcome violence (Dekade Mengatasi Kekerasan).
Saudara-saudari,
Bukan kebetulan bahwa Dies Natalis tahun ini pelaksanaannya didominasi oleh perempuan mulai dari KSB Panitiannya, orator-nya dan saya sebagai pengkhotbah; sehingga saya memilih perikop ini. Ada dorongan yang lebih mendasar, sebuah gugatan yang diperdengarkan terhadap arogansi sebuah kemapanan sistem; tetapi yang justru sering tenggelam dalam pendekatan hermeneutis kita selama ini. Penekanan tafsir kita pada perikop ini lebih pada identifikasi kuasa Yesus yang dapat menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan dan anak perempuan Yairus, yang bukan berarti salah. Persoalannya adalah, kita kurang memakainya untuk bicara soal realitas kekerasan sosial, diskriminasi sistematis yang sudah sedemikian terstruktur dalam tatanan masyarakat agama Yahudi pada waktu itu. Yah, sebuah kesenjangan antara sosok Yairus dengan perempuan yang sakit pendarahan.
Saudara-saudari,
Mari kita lebih menelaah kesan yang disampaikan dalam ayat 33. Dalam versi bahasa Inggris dikatakan,"...she told him the whole truth." - Meyampaikan kepadaNya semua kebenaran! Sayang dalam terjemahan LAI, hanya dikatakan "...memberitahukan segala sesuatu kepadaNya." Penyampaian kebenaran yang mengabatkan Yairus merasa ketakutan. Ya, perempuan yang sakit pendarahan itu menyampaikan kebenaran... bahwa dia telah menjadi korban ketidakpedulian komunitas di sekitarnya selama ini. Bahwa dia disisihkan karena dianggap najis, dan selama 12 tahun sakit pendarahan, ia dianggap kotor untuk disentuh. Yairus sebagai kepala rumah ibadat, sebagai pemimpin mereka, harus bertanggung jawab atas ketidakpedulian ini. Laporan yang wajar saja membuat Yairus keder nyalinya, kuatir Yesus tidak lagi akan bersimpati untuk menyembuhkan anaknya, tapi Yesus berkata ...jangan takut, percaya saja.
Saudara-saudari,
Sorotan firman hari ini mau mengatakan, percuma, sia-sia kita menjadi bagian, apa lagi menjadi pemimpin dari sebuah institusi yang tidak peduli. Percuma STT INTIM eksis, jika sama sekali tidak dapat memberi kontribusi dalam upaya rehabilitasi/pemulihan kekerasan-kekerasan sistematis, realitas diskriminatif dalam gereja dan masyarakat. Percuma ada sarjana teologi dan lulusan Kursus Teologi Terapan, hari ini, jika akhir-akhirnya hanya akan bermental tidak peduli, bermental Yairus.
Percuma ada institusi gereja dengan segala kemewahan penampilannya, jika tidak mampu meneladani teladan keberpihakan Yesus kepada mereka yang tersisih, terpinggirkan; tanpa mengabaikan pelayanan kepada orang kaya untuk mengajar mereka lebih rendah hati dan membuka diri membantu sesamanya.
Saudara-saudari,
nampaknya kita semakin dituntut untuk terus menerus membaharui dan berkreasi di sekitar kekristenan hermeneutis kita, sebagai kontribusi bagi terwujudnya iklim yang lebih kondusif bagi terbangunnya mentalitas anti kekerasan. Mulai dari kekerasan yang vulgar sampai yang terselubung.
Ada illustrasi perkenalan beberapa orang dari latar belakang suku yang berbeda. Si Batak mengatakan, "namaku Batubara". Si Ambon mengatakan, "namaku Bakarbesy". Tak ketinggalan si Makassar mengatakan, "namaku Abubakar", disusul si Toraja, "namaku Kandeapi". Kawan yang satu, anggaplah dari Jawa dengan logat khas yang medok "...perkenalkan, saya dari Jawa" (sambil berpikir bahwa nama-nama kawan yang sudah memperkenalkan diri ini adalah sumber-sumber api), lanjutnya "...nama saya, Pemadam Kebakaran..."
Suatu illustrasi ringan dan kocak namun sarat makna. Minimal, sudahkan kita semua mencoba menjadi pemeran aktif dalam menyejukkan bahkan memadamkan suasana yang berpotensi kekerasan?
Saudara-saudari,
Mari, suarakan jika kekerasan itu ada,
katakan bahwa ada penindasan, ada diskriminasi, dan kita mau ambil bagian
dalam arak-arakan perjuangan untuk mengatasinya. Kita wujudkan rasa syukur
hari ini dengan tekad untuk lebih memberi buah-buah sosiologis kepada teori-teori
yang sedang kita olah dari dapur berteologi ini. Buah-buah keberpihakan
yang jelas, agar mentalitas pelayanan kita lebih terbenahi, dan eksistensi
lembaga ini lebih dicintai lagi. Amin.
Lagu Rohani Anti-Kekerasan dari Afrika Selatan
Siph´ Amandla Nkosi, Wokungesabi. Siph Amandla Nkosi, Siyawadinge
1. Kuatkan kami, lepas belanggu. Kuatkan kami, bangkit berdamai.
2. Berikan harapan, halangi benci. Berikan harapan, agar tak getir
3. Kuatkan kami, agar tak takut. Kekuatanmu,
harapan kami
Ketika warna kulit
berbeda
ketika model mata berbeda
ketika rambut berbeda
ketika nama khasmu berbeda
ketika sukumu mengikuti
atau diikuti oleh penampilan alamimu
ketika namamu mengikuti
ciri khas keyakinanmu
ketika engkau bukan maskulin
maka
engkau sudah bukan "kami"
pola pemisahan ini, adalah
awal keretakan harga kemanusiaan
sebab
engkau bukan "kami"
maka
engkau adalah lawan "kami"
sesama manusia dilihat sebagai
"lawan"
adalah langkah kedua dalam
permainan kekerasan
sebab
engkau bukan "kami"
maka
engkau tidak mempunyai hak
yang sama
Hak-hak kemanusiaan telah
tercabik
oleh hak yang berbeda
sebab
engkau bukan "kami"
maka engkau tak dilindungi
keadilan
Keadilan telah dikhianati
oleh pola "kami" dan "kamu"
maka
manusia sendiri merobek-robek
kemanusiaan
atas nama "kami" lawan "kamu"
reformasi di atas abstraksi
realitas
hanya akan menukar "kamu"
menjadi "kami"
lalu "kami"pun akan berperilaku
sama dengan
ketika "kami" yang "kamu"
gantikan
reformasi di atas realitas
reformasi yang melihat"
kamu" adalah "aku"
ketika aku bergabung menjadi
bukan "kami" bukan "kamu"
tetapi aku yang adalah
manusia
dihargai sebagai "manusia"
sekalipun mata kita berbeda!
sekalipun rambut kita berbeda
!
sekalipun kulit kita berbeda
!
sekalipun keyakinan kita
berbeda !
manusia tidak boleh dikoyakkan
oleh abstraksi realitas
sebab
Manusia adalah Manusia!
Utuh!
Yuberlian P. Padele
Tidak
akan kedengaran lagi bunyi tangisan...
Puisi Mahasiswa: Yesaya
65:17-25 diaktualisasi dan diterjemahkan untuk konteks Indonesia
Teks-teks berikut ini merupakan hasil kreatifitas mahasiswa kelas Misioligi II pada semester genap 2001, yang mencoba untuk menerjemahkan visi dan misi Alkitab ke dalam konteks Indonesia. Memang sulit untuk memilih kedelapan puisi di bawah ini di antara seratus karya mahasiswa, namun mereka dapat mewakili pendekatan yang subyektif dan beranekaragam dalam memahami kembali Yesaya 65. Semoga puisi ini menjadi suatu inspirasi untuk menemukan aktualitas dalam teks-teks Perjanjian Lama, atau bahkan untuk mencoba sendiri "menerjemahkan" sebuah teks ke dalam situasi kita. Tentu saja penerjemahan ini tidak akan "mengganti" teks yang ada, dan pasti dapat dikritik apakah sesuai dengan visi teks asli atau tidak, namun pendekatan ini dapat membuka pintu pemahaman baru untuk teks-teks yang kadang-kadang terasa terlalu "kuno".
Aku di tenggah-tenggah mereka
Janji mengenai langit yang baru dan bumi yang baru
oleh: Novita Bannu Sarira (Angkatan '97)
Sebab sesungguhnya, Allah telah menciptakan langit yang baru dan bumi Indonesia yang baru. Sesuatu yang lama tidak akan dikenang dan ditumbuhkan dalam hati bangsa Indonesia.
Biarlah bangsa Indonesia senantiasa hidup di dalam suasana yang penuh kebahagiaan, damai sentosa, adil dan makmur sebab Allah menciptakan tanah air Indonesia sebagai tempat yang selalu diliputi oleh suasana kegirangan.
Dan seluruh rakyat Indonesia akan bersukacita, bersorak-sorai karena Indonesia akan selalu menjadi negara yang aman, damai, di mana tidak akan terdengar suara-suara rintihan yang memilukan, tangisan anak-anak karena kelaparan.
Penganiayaan, demo-demo yang senantiasa marak di kota-kota, para pengemis yang menghiasi setiap sudut jalan tidak terdapat lagi serta orang-orang jompo.
Sebab para pengemis, gelandangan akan diberikan kehidupan yang mapan sehingga dapat hidup layak dan dirikan rumah untuk mereka.
Mereka yang bekerja baik itu sebagai buruh-buruh kasar, pembantu-pembantu rumah tangga, akan diberikan gaji yang layak sesuai dengan pekerjaannya. Para petani yang menanam baik itu di sawah, ladang akan memetik hasilnya dengan baik.
Rakyat-rakyat kecil tidak akan lagi menjadi korban ketidakadilan, pelanggaran HAM bagi para kaum penguasa sebab bangsa Indonesia adalah sebagai Israel baru, bangsa yang Kuberkati.
Maka sebelum mereka binasa oleh karena situasi yang terjadi di Indonesia, Aku akan menolong dan mendengarkan setiap doa-doa yang dipanjatkan oleh anak bangsa.
Suasana damai akan tercipta
di mana yang berkati akan hidup bersaudara, penganut kepercayaan yang lain
akan hidup berdampingan bahu-membahu, senasib sepenanggungan sebab Aku
ada di tengah-tengah mereka.
Indonesia Baru
oleh: Julita Tandirerung (Angkatan '94)
Indonesia baru, itulah yang terjadi dengan bangsaku, di mana-mana terjadi perombakan yang dulu sudah tidak berkenan,
Terikan Reformasi berkumandang, menandakan suatu masa telah berlalu, dengan penampilan lain dari pada yang lain.
Ya, konflik di sana sini terjadi tanpa batasan umur, waktu dalam wilayah sendiri, saling memakan, saling mematuk,
Tetapi Tuhan tidak tinggal diam melihat umat-Nya dalam penderitaan,
Ia menghalau semua musuh-musuh-Nya, dan mengangkat umat-Nya.
Sehingga ketenangan dan kedamaian tercipta di antara manusia, ini adalah kemurahan dan kebesaran-Nya, hingga kita dapat lepas dan selamat dari bahaya maut,
Menyambut kehidupan yang baru, dan diam dalam nama sejahtera, Allah perlindungan kita.
Peristiwa itu tidak dibiarkan-Nya terulang, mengangakan luka, mencengkeram kedamaian, yang telah kami peroleh, karena Tuhan tidak akan membiarkan umat-Nya walaupun selangkah,
Hidup berlimpah kasih karunia, dari Tuhan yang senantiasa menyertaiku dalam segala hal,
Maka hanya pada Allahlah aku menyerahkan seluruh hidup ini,
Karena Dialah gunung batuku, tempat perlindunganku, perisai hidupku,
Hari ini sampai selama-lamannya.
Damailah Bangsaku!
oleh: Yohanis Metris (Angkatan '96)
dan Yulia S. Malolok (Angkatan '97)
Damai, rukun dan persaudaraan Aku ciptakan,
Kerusuhan, pengganyangan dan pengusiran akan lenyap oleh suasana teduh.
Kelegaan dan sukacita, meronai wajah penduduk Indonesia, ratap tangis dan kepiluan oleh ketidakadilan, lenyap tertelan keceriaan.
Bayi-bayi yang hanya sepenggal hari merasakan hidup, karena terabaikan atau sengaja diabaikan, oleh alasan ekonomi dan ketidakpedulian, dan orang tua yang terpaksa mati, sebelum menikmati hidup lebih baik, Kuganti dengan kehidupan baru, usia yang langgeng mewarnai keadaan ini.
Kebebasan memiliki tempat berteduh siang dan malam, dengan menikmati jerih payah hasil usaha sendiri, menjadi suatu yang mutlak ada.
Eksploitasi, pemerasan dan keculasan terkubur oleh kemerdekaan pemilikan dan pemanfaatan.
Bayi-bayi lahir terurus, dan dalam dekapan kehangatan ibu dan ayah, dan merasakan hidup yang panjang dan damai.
Kebutuhan hidup terpenuhi... permohonan terkabulkan.
Anak-anak bangsa ini hidup berdampingan dengan rukun dan penuh persaudaraan.
Kebaikan, budi bahasa yang baik, saling menghargai, mencirikan negeri dan tanah ini.
Damailah negeriku.
Damailah bangsaku.
Takkan lagi dendam dalam hati
oleh: Zakarias M. Tuarissa (Angkatan '97)
Sebab sesungguhnya, Aku menjadikan Indonesia yang makmur dan aman serta penuh harapan. Segala bentuk kejahatan yang pernah terjadi akan dilupakan, dan tidak ada lagi dendam dalam hati setiap orang.
Tetapi hiduplah dengan aman dan damai dengan penuh kebahagiaan, di negeri ini. Sebab sesungguhnya Tuhan telah menjadikan Indonesia yang penuh dengan kedamaian, sehingga setiap warga negara bisa hidup berdampingan dengan sesamanya.
Tuhan akan senang melihat Indonesia dengan kerukunan agamanya sehingga tidak lagi terdengar kerusuhan antar agama terjadi, bunyi senapan dan gesekan pedangpun tidak ada.
Di situ tidak ada lagi pengungsi dan janda yang ditinggal mati suami karena kerusuhan. Tetapi setiap orang akan tinggal dengan aman di tanah kelahirannya dan setiap isteri akan senang menyambut suami pulang kerja dengan penuh senyuman.
Pemerintah akan membangun rumah-rumah BTN untuk ditinggali oleh rakyat dengan kredit yang murah.
Korupsi dalam pemerintahan tidak lagi terjadi, pemerasan dan penindasan atas kaum lemah dan miskin tidak ada lagi. Kesejahteraan bangsa terjamin sehingga usia harapan hidup semakin meningkat dari waktu ke waktu. Sehingga setiap orang dapat menikmati masa tuanya dengan tenang.
Kesehatan bangsa dan warga negara terjamin, angka kematian bayi dapat ditekan, karena kesehatan ibu terjamin. Setiap cucu akan dapat mengenal siapa kakeknya, dan kakek akan menimang cucunya.
Kebutuhan rakyat terpenuhi karena pemerintah yang jujur bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
Islam, Kristen, Hindu dan Budha akan
hidup berdampingan tanpa ada kecurigaan satu dengan yang lainnya yang dapat
menimbulkan kerusuhan.
Janji Tentang Indonesia Baru
oleh: Silvia Sirupa (Angkatan '98)
Dengarlah hai putra-putri Pertiwi!
aku menjanjikan suatu pesanggrahan baru bagimu.
Akan tiba saatnya engkau menikmati indahnya tanah ini
Dalam nuansa langit yang baru dan bumi
yang baru.
Bangkitlah hai putra-putri Pertiwi, bersatulah!
Bersoraklah, sebab kegelapan akan berlalu
Tak akan ada lagi keluh kesah,
Karena sinar terang akan terbit di belahan
timur negerimu.
Damai...damai...damai
Senandung itulah yang akan menemanimu sepanjang hari
Disertai harum melati
Tanda kasih yang tulus dan suci.
Dengarlah hai putra-putri Pertiwi!
Teguhkan langkahmu menyongsong hari yang baru
Satukan tekadmu untuk menggenggam sang mentari
Dalam hangatnya pelukan Indonesia Baru.
Penuh keberagamaan
oleh: Metusala Pamian (Angkatan '97)
"Sebab sesungguhnya, Allah akan menciptakan langit dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.
Tetapi bergembiralah dan bersorak-soraklah selama-lamanya atas apa yang telah Ia ciptakan, sebab sesungguhnya, Ia telah menciptakan Indonesia penuh dengan keberagamaan, di mana ada bermacam-macam suku, bahasa, etnis dan agama.
Allah akan bersorak-sorak jika umat-Nya penuh dengan kegirangan menerima semua ini dan memperhatikannya sebagai suatu kehendak-Nya. Penderitaan dan tangisan orang yang tertindas akan lenyap, seiring dengan terbukanya pemahaman baru tentang sesama.
Tidak akan ada lagi bayi yang menangis karena air susu ibunya yang tidak bergisi, atau orang tua yang ketakutan melahirkan anaknya karena takut akan kehidupannya kelak. Tidak ada lagi orang yang takut keluar rumah karena peperangan suku dan agama.
Orang-orang tidak lagi menanam untuk orang lain, tetapi untuk mereka dan anak-anaknya. Tidak ada lagi penggusuran-penggusuran untuk kepentingan sekelompok orang.
Tidak ada lagi paksaan untuk memeluk suatu agama karena semuanya telah memahami bahwa mereka adalah satu dalam satu. Dan mereka tidak lagi berbicara masalah ajaran-ajaran yang sebenarnya membawa mereka kepada perbedaan yang membawa pemahaman kepada permusuhan. Sebab Allah telah memberikan pemahaman kepada mereka akan kuasanNya atas seluruh bangsa-bangsa.
Orang-orang tidak akan lagi bersusah-susah dengan bercuma karena apa yang mereka jerih payakan, akan mereka makan dengan girangnya, karena tidak ada lagi orang yang merampas hasil jerih payah itu, sebab mereka adalah keturunan orang-orang yang diberkati Allah, entah itu suku atau agama apa?
Karena Allah adalah Allah yang mendengar dan menjawab semua keluhan yang mereka keluarkan dari penderitaan yang selama ini mereka alami.
Segala suku akan duduk bersama untuk
makan dan minum. Segala agama yang ada di Indonesia akan memberkati apa
yang telah tersedia. Tidak akan ada lagi yang berbuat kejahatan atau yang
berlaku busuk, karena langit dan bumi baru itu akan dikudus oleh Allah
sendiri," firman Tuhan.
Akankah serigala dan anak domba itu terus duduk berdampingan?
- Janji Seorang Presiden -
oleh: Yuliet Adriana (Angkatan '98)
Bumi Indonesia adalah ciptaanku
Kekuasaan terletak di pundakku
Masa lalu hanya isapan jempol
Masa lalu biarlah berlalu.
Kini "Ibu Pertiwi" itu telah kupercantik
Dengan hiasan yang bertahtakan intan dan permata
Rakyat Indonesiapun bertepuk tangan, silau melihat kegemerlapan
Kini aku berada dalam suasana euforia
Larut dalam kesemarakan duniawi
Sejenak tak kudengar lagi letupan senjata, tank-tank tentara yang terseret tak beraturan
Erangan para mahasiswa terkena double stick, gas air mata, bahkan sepakan sepatu laras
Tak kulihat lagi bocah kurus tak bersandal meminta-minta di jalanan
Tak kurasakan lagi isak tangis para isteri yang kehilangan tautan jiwanya
Tak kugenggam lagi amarah yang berkecamuk untuk membalaskan sakit hati
Tak kupikirkan lagi apa saja kerja bapak-bapak berdasi itu
Bahkan tak terlintas lagi bagaimanakah tangan seakan tak terusik
Para tua merangkul kedamaian dan meninabobokannya dalam pelukannya
Gadis cilik menenteng sebuah keranjang berisi bunga Lili sambil berkata, "Hidup Pak Presiden! Hidup Bangsaku! dan Hidup pula Kehidupanku!"
Akankah suasana ini akan terus mengisi hari-hariku?
Akankah janji Sang Presiden akan terus terwujudkan?
Ataukah janji itu tak lama lagi terbang, tersapu bahkan hilang tanpa bekas?
Terlalu banyak kata untuk merefleksikan kegalauan dan pertarungan jiwa
Akankah serigala dan anak domba itu terus duduk berdampingan?
Akankah singa-singa ganas itu terus makan rumput layaknya seekor lembu?
Akankah ular terus hidup dari debu ataukah ia kembali merayap pelan dan menghisap setiap mangsanya
Tetapi............... kembali kubuka koran pagi ini,
Janji Sang Presiden tetap
sama !!! Semoga........
Agar pedang ditempa menjadi bajak
oleh: Tirza Madona (Angkatan '98)
Dunia kami ini indah dan berlimpah
Karena inilah duniaMu, ciptaanMu.
Negeri ini telah menerima pengasihan dan karuniaMu.
Engkau telah menunjuk dan memberi kami kekuatan
untuk bersamaMu menjadi pencipta dan pemelihara dari bumi yang indah ini.
Kami mencintai negeri kami
walaupun seringkali kami tidak menjadi seperti Engkau harapkan atau inginkan dari kami.
Ketika kami berbalik dari pada-Mu
kami berbalik melawan satu sama lain.
Kami menghadapi banyak kemiskinan dan penindasan,
pelanggaran hukum dan korupsi.
Namun kami percaya bahwa Engkau hadir di dunia kami
kendatipun tampaknya Engkau begitu jauh
Karena ketika kami meminta kekuatan dari Allah,
yang mungkin kami peroleh
kami dibuatnya lemah, supaya boleh tunduk dengan rendah hati.
Ketika kami minta kesehatan supaya boleh melakukan pekerjaan yang lebih besar
Kami diberikan kelemahan supaya kami dapat melakukan hal yang lebih besar
Ketika kami meminta kekayaan, supaya hidup bahagia
Kami diberikan kemiskinan supaya kami menjadi bijak
Ketika kami minta kekuasaan supaya kami peroleh pujian dari orang-orang
Kami diberi kelemahan agar kami jatuh dan memerlukan Tuhan.
Ketika kami minta semua barang, supaya kami hidup senang,
Kami diberikan kehidupan supaya kami boleh menikmati semua benda.
Kami tidak memperoleh apa yang kami minta, tetapi kami memiliki segala-galanya yang kami harapkan
Semua yang kami minta dalam doa kami dipenuhi dan kami merasa orang benar diberkati di antara semua orang.
Karena itu, di tengah-tengah keputusasaan dalam dunia yang akan binasa, kami meminta kepada-Mu
Agar pedang ditempa menjadi Bajak
Agar manusia dari segala ras boleh berkumpul
dan berbagi serta saling memperhatikan,
Agar setiap orang boleh belajar tentang damai yang di luar pengertian manusia.
Tolong kami untuk menjaga negeri kami
dan menjadikannya tempat perlindungan yang aman dan bahagia bagi semua
yang tinggal di dalamnya.
|
World Prayer for Peace (WCC Assembly Vancouver) For peace in your country
Lead me from death to life,
Lead me from despair to hope, from fear to trust.
from war to peace.
our world and our universe.
|
Doa Perdamaian Sedunia (Sidang Umum DGD Vancouver) Untuk perdamaian di negerimu
Bimbing aku dari kematian ke kehidupan,
Bimbing aku dari keputusasaan ke pengharapan, dari ketakutan ke kepercayaan.
dari perang ke kedamaian.
dunia kami dan jagat raya kami.
|
|