“Melalui pandangan orang lain”
Membaca Yohanes 4 lintas budaya: Sebuah inspirasi
untuk memperluas perspektif kita dalam menggali makna teks-teks alkitabiah.
Pendahuluan
Empat tahun yang lalu beberapa
mahasiswa STT INTIM terlibat dalam suatu proyek yang berjudul ‘Through the eyes
of another’: Intercultural reading of the bible. (‘Melalui pandangan orang
lain’: membaca Alkitab lintas budaya).[1]
Dalam bingkai proyek itu masing-masing kelompok PA di seluruh dunia membaca
satu bagian Alkitab yang sama, yaitu Yohanes pasal 4 (pertemuan Yesus bersama
perempuan Samaria). Kemudian setiap kelompok
dikaitkan dengan kelompok yang berasal dari negeri dan benua yang berbeda.
Misalnya satu kelompok STT INTIM dikaitkan dengan kelompok PA dari mantan
jemaatku di Belanda. Kelompok tersebut juga menukar hasil PA mereka dengan
mahasiswa/i teologi dari Evangelical Theological Seminary di Matanzas (Kuba). Dua kelompok STT INTIM lain menukar interpretasi Yohanes
4 mereka dengan kelompok dari Arnhem dan Kruiningen (dua kota di Belanda juga).
Demikian orang Kristen yang berbeda budaya membaca teks yang sama dan kemudian
membagi hasil pembacaan mereka.
Pertanyaan
utama dalam proyek tersebut adalah: apa yang terjadi ketika orang Kristen yang
berbeda budaya membaca bagian Alkitab yang sama dan kemudian merefleksikan
hasil PA kelompok partner mereka? Tentu kita menantikan baik
persamaan-persamaan, maupun perbedaan-perbedaan antara interpretasi kedua
kelompok itu. Karena itu pertanyaan
yang lebih menarik adalah: ‘Apakah kelompok akan dipengaruhi oleh interpretasi
kelompok partner mereka?’ Atau kedua konteks kultural yang berbeda merupakan
hambatan untuk mengerti dan menghargai pembacaan kelompok partner? Mungkin
orang Kristen Belanda terkejut, ya bahkan tersinggung kalau membaca interpretasi
orang Kristen Indonesia atau sebaliknya?
Tentu
bukan itu yang diharapkan! Mudah-mudahan kedua kelompok partner memperkaya satu
dengan yang lain. Bagus kalau mereka berhasil membaca cerita yang terdapat di
Yohanes 4 ‘melalui pandangan orang lain’. Dengan ‘membaca melalui pandangan
orang lain’ tidak hanya dimaksud ‘memperhatikan interpretasi’ kelompok partner
saja, tetapi apalagi ‘membuka diri’
bagi cara orang lain menafsirkan cerita alkitabiah itu. Demikian kita tidak
hanya diberitahukan bagaimana orang lain menginterpretasi Alkitab, tetapi
pendapat kita tentang arti dan makna Yohanes 4 dilengkapi, dikoreksi dan
dipengaruhi oleh interpretasi mereka. Kalau begitu kita mencoba membaca teks
Alkitab tidak hanya dari perspektif kita sendiri, tetapi melalui pandangan
orang lain juga, supaya perspektif kita akan diperluas dan diperkaya.
Sebenarnya itu tujuan proyek membaca Alkitab lintas budaya.
Kesempatan ini saya gunakan untuk
memberitahukan kepada bapak-bapak dan ibu-ibu seberapa jauh kelompok-kelompok
Indonesia yang terlibat dalam proyek itu mengalami suatu perubahan dan
pengluasan perspektif mereka terhadap cerita tentang Yesus dan perempuan
Samaria.
Apa yang dimaksud dengan budaya,
khususnya budaya Indonesia?
Satu
hal perlu dijelaskan dulu. Kalau berbicara tentang membaca Alkitab lintas
budaya, sebenarnya apa yang dimaksud dengan kata ‘budaya’, khususnya ‘budaya
Indonesia’? Kita semua tahu bahwa masyarakat Indonesia terdiri dari
beranekaragam kelompok etnis dan religius. Karena itu Indonesia tidak merupakan
satu budaya saja. Konteks kultural orang Indonesia berbeda satu dengan yang
lain. Budaya Indonesia bukan monolitis dan seragam, tetapi majemuk dan
pluriform. Kita hidup dalam masyarakat yang multikultural. Seharusnya kita
menyadari itu kalau berbicara tentang apa yang disebut ‘budaya Indonesia’.
Sekaligus itu tidak berarti bahwa
tanah air kita terdiri dari beberapa kelompok etnis yang terisolir, dicirikan
oleh adat istiadat mereka, tanpa relasi dengan kelompok etnis lain. Apalagi
budaya tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang tidak berubah dan dipengaruhi
oleh perkembangan-perkembangan dalam dunia dan masyarakat kita. Seharusnya kita
tidak memahami identitas kultural setiap kelompok etnis dan religius sebagai
sesuatu yang statis dan tak terubah. Melanie Budianta, seorang sastrawan dan
antropolog budaya, menolak pengertian statis tentang budaya itu dan menganut
definisi yang lebih dinamis.[2] Menurutnya
setiap budaya dicirikan oleh batasan-batasan yang keropos. Itu berarti bahwa terus menerus berlangsung interaksi
lintas budaya, pengaruh timbal balik antara masing-masing budaya. Tidak ada
budaya yang murni dalam arti budaya yang tidak dicampur dengan unsur-unsur dari
budaya lain. Tidak hanya antara budaya asing dan budaya Indonesia, tetapi juga
antara berbagai kelompok kultural di Indonesia sendiri. Apalagi interaksi
tersebut juga berlangsung dalam satu kelompok kultural yang sama, misalnya
antara generasi muda dan tua setiap kelompok. Budaya kita selalu dalam proses dinamis dan tidak merupakan sesuatu yang
statis dan kaku.
Kelompok
masing-masing dari STT INTIM merupakan contoh yang menggarisbawahi hal itu.
Percakapan dalam kelompok STT INTIM sendiri sudah merupakan proses lintas
budaya, karena mahasiswa berasal dari latar belakang kultural yang berbeda. Apalagi
beberapa peserta terbiasa menginternet. Demikian mereka tidak hanya memperoleh
informasi dan pengetahuan tentang budaya asing, tetapi sekaligus dipengaruhi
oleh perkembangan-perkembangan modern.
Sebetulnya proyek membaca Alkitab
lintas budaya merupakan contoh yang baik tentang pengertian dinamis tersebut. Karena proyek ini mengakui pengaruh
dan pentingnya konteks kultural kita kalau membaca Alkitab. Tetapi sekaligus
pengaruh konteks kultural itu tidak dianggap begitu kuat dan kaku, bahwa pembaca tidak terbuka lagi bagi interpretasi
yang berakar dalam budaya yang berbeda. Sebaliknya proses membaca Alkitab
lintas budaya hanya masuk akal kalau kita menduga bahwa pembaca Indonesia bisa terbuka dan sensitif
bagi interpretasi orang Kristen Belanda dan orang Kristen Kuba dan
sebaliknya.
Jadi saya menyadari bahwa kita
harus hati-hati mencirikan dengan terlalu cepat interpretasi tertentu sebagai
khas Indonesia. Meskipun itu, saya berpendapat bahwa beberapa hal dalam
interpretasi kelompok-kelompok STT INTIM memperlihatkan pengaruh konteks
kultural mereka, yaitu konteks Indonesia. Saya menyebut dua hal yang menonjol
bagi saya ketika menganalisis hasil PA beberapa kelompok STT INTIM dan satu
kelompok katolik dari Bandung.
Dua ciri interpretasi kelompok STT
INTIM
1. Pendekatan
Hal pertama yang sangat menonjol
ketika membandingkan pembacaan Yohanes 4 kelompok STT INTIM dan kelompok
partner mereka dari Belanda dan Kuba berhubungan dengan pendekatan terhadap
cerita Alkitab.
Mahasiswa/i teologi STT INTIM
memulai PA mereka dengan mengasosiasikan cerita tentang Yesus dan perempuan
Samaria dengan kehidupan sehari-hari mereka sendiri. Mereka tidak merasa susa
menceritakan pengalaman-pengalaman yang mirip Yohanes 4. Beberapa peserta
mengenal perempuan yang dikucilkan setelah berselingkuh, seperti yang dilakukan
oleh perempuan Samaria. Selain itu beberapa peserta bercerita tentang
ketegangan dan konflik etnis dan religius di Indonesia, yang mirip konflik
antara orang Yahudi dan orang Samaria pada waktu Yesus.
Setelah asosiasi-asosiasi tersebut
diungkapkan kemudian cerita Yohanes 4 diteliti lebih seksama. Apa yang menonjol
adalah bahwa peserta tidak mempertanyakan teks Yohanes 4. Pertanyaan-pertanyaan
seperti: ‘Kapan teks ini ditulis?’ ‘Sebenarnya apa yang dimaksud dengan ‘air
hidup’?’ ‘Konflik antara orang Yahudi dan
Samaria sebenarnya tentang apa?’ tidak diajukan. Rupanya bagi peserta STT INTIM
arti dan makna teks Alkitab cukup jelas. Paling tidak mereka tidak mengalami
ketegangan antara pesan Yohanes 4 dan apa yang mereka percaya sebagai orang
Kristen di Indonesia pada masa kini.
Pendekatan
baik kelompok Belanda, maupun mahasiswa/i dari Kuba sangat berbeda dengan
kelompok STT INTIM. Mahasiswa/i teologi Kuba memulai PA mereka dengan analisis
literer yang mendalam tentang teks Yohanes 4. Mereka mendaftar tokoh-tokoh mana
yang berperan dalam cerita ini, kemudian mereka meneliti di tempat mana setiap
adegan terjadi dan tokoh mana yang terlibat, lalu mereka menggambarkan
ketegangan-ketegangan antara tokoh masing-masing dalam ceritanya dst.
Mungkin
itu wajar dan bisa dinantikan dari mahasiswa/i teologi. Tetapi kalau itu benar
hal itu hanya menggarisbawahi bahwa peserta dari Makassar, yang merupakan
mahasiswa/i teologi juga, tidak melakukan analisis eksegetis apapun!
Apalagi
kelompok dari mantan jemaatku di Belanda, meskipun kebanyakan orang awam,
memulai PA mereka dengan analisis tentang
teks Alkitab juga. Mereka mengajukan banyak pertanyaan kritis, seperti:
‘Siapa yang menuliskan cerita ini, karena tidak ada yang hadir ketika Yesus
berbicara dengan perempuan Samaria itu?’ ‘Apakah cerita ini tentang kejadian
historis atau merupakan fiksi saja?’ ‘Apakah benar bahwa jalan melalui kota
Samaria adalah jalan pintas?’ Kelompok dari mantan jemaatku bah-kan mengambil
peta Israel kuno, untuk mengecek apakah Yohanes tidak keliru tentang jalan
pintas itu. Itu bukan sikap kritis, tetapi sikap hiperkritis! Kalau itu akibat
pelayananku sebagai pendeta di sana, mudah-mudahan Allah mengampuniku!
Jadi
kedua kelompok partner terakhir menganalisis dengan mendalam teks Alkitab.
Sedangkan kelompok Indonesia tidak melakukan analisis atau eksegese apapun.[3]
Bagaimana perbedaan pendekatan ini bisa dijelaskan?
Mungkin
perbedaan ini berhubungan dengan pengaruh budaya lisan yang merupakan
latarbelakang kelompok-kelompok STT INTIM. Ini dugaanku saja, terus terang saya
tidak meneliti dengan mendalam hal ini. Tetapi saya menunjuk kepada
pernyataan-pernyataan Walter Ong tentang ciri khas budaya lisan/oral yang
mungkin bisa menjelaskan pendekatan kelompok STT INTIM. Ong
mendefinisikan budaya lisan utama (primary oral culture) sebagai budaya di mana
orang sama sekali tidak terbiasa menulis dan membaca.[4]
Tentu Indonesia bukan budaya lisan dalam arti tersebut. Ada koran-koran,
buku-buku, majalah-majalah dan yang lebih penting: majoritas orang Indonesia
telah melek huruf. Tetapi sekaligus menurut saya pengaruh budaya lisan itu
kadangkala masih jelas dan cukup kuat, khususnya di daerah terpencil, tetapi
tidak hanya di sana. Saya memberikan contoh: ketika saya bertanya kepada
mahasiswa/i STT INTIM apakah mereka pernah membaca buku-buku dari pengarang
seperti Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang dan Ayu Utami, semua penulis
terkenal di tanah air mereka, kebanyakan bilang mereka tidak tahu siapa
pengarang-pengarang itu. Kesan saya bahwa banyak mahasiswa hanya membaca, kalau
disuruh membaca, yaitu kalau harus mempersiapkan TTS dan TAS. Pada umumnya
mahasiswa tidak terbiasa dan tidak berhasrat membaca. Sekaligus saya heran dan
terkesan melihat betapa cepat berita-berita disebarkan kalau disampaikan secara
lisan, yaitu dari mulut ke mulut. Rupayna orang terbiasa mendengar daripada
membaca. Karena itu tidak terlalu mengherankan bahwa beberapa hal yang menjadi
ciri khas bagi suatu budaya lisan sangat sesuai dengan cara kelompok Indonesia
mendekati cerita tentang Yesus dan perempuan Samaria. Ong menyebut antara lain:
1)
Dalam budaya lisan orang belajar banyak dan mempunyai
kebijaksanaan yang besar, tetapi pengetahun dan kebijaksanaan itu tidak
diperoleh melalui studi. Sebenarnya mereka tidak berstudi, tetapi belajar
misalnya melalui kerja sebagai magang. Proses pelajaran terjadi lebih melalui
mendengarkan, memandang dan mengulangi apa yang didengar dan dilihat, daripada
melalui mempelajari sesuatu yang tertulis.[5]
2) Hal yang kedua: dalam budaya lisan tradisi-tradisi
dipelihara dan diserahkan, tetapi tidak dipertanyakan atau dikritisi. Kebenaran
tradisi-tradisi tidak diragukan. Tanpa sebuah sistem tulisan mengkritisi
pikiran dan pendapat tertentu (dengan kata lain: analisis tentang pikiran dan
pendapat itu!) sangat berbahaya, karena tradisi hilang kalau tidak diulangi
secara lisan terus menerus. Karena itu dalam budaya lisan seharusnya kebenaran
tradisi, termasuk tradisi Kristen tidak dipertanyakan, apalagi dikritisi.[6]
Tentu
pendekatan teks Alkitab kelompok STT INTIM tidak bisa dijelaskan secara lengkap
dengan menunjuk kepada pengaruh budaya lisan saja. Apalagi beberapa peserta
suka membaca dan kadangkala tahu bersikap kritis. Meskipun demikian, menu-rut
saya, pendekatan non-analitis dan non-kritis terhadap Alkitab bisa diterangkan
dengan menyadari pengaruh budaya lisan yang dulu sangat berpengaruh di
Indonesia dan sampai sekarang belum hilang sama sekali.
2. Perempuan Samaria sebagai orang yang berdosa
Hal lain yang menonjol dalam
interpretasi beberapa kelompok Indonesia adalah fokus mereka pada apa yang
mereka lihat sebagai perlakuan tak bermoral perempuan Samaria itu. Dia
mempunyai lima suami dan sekarang hidup bersama laki-laki tanpa menikahinya.
Beberapa peserta menganggapnya sebagai perempuan yang berselingkuh. Dalam satu
kelompok perempuan Samaria bahkan dilihat sebagai seorang PSK[7]
yang berusaha menggoda Yesus, sehingga Dia menjadi suaminya yang ke-enam!
(namun peserta lain menolak interpretasi itu). Paling tidak dapat dimengerti
bahwa masyarakat Samaria mengucilkan
perempuan seperti itu. Barangkali reaksi masyarakat Indonesia seperti itu. Satu
peserta bilang: ‘ Apabila seorang perempuan sudah berselingkuh atau ‘main gila’ dengan laki-laki lain, otomatis dia akan
dikucilkan dan banyak orang tidak akan menyukainya.’
Dalam kelompok partner Belanda
perilaku perempuan Samaria tidak didiskusikan sama sekali. Kelompok Kuba juga
tidak mencirikannya sebagai orang yang berdosa. Mereka menganggap perempuan itu
sebagai seorang yang terhina, seperti orang PSK dan para homoseksual dikucilkan
dan dihina dalam masyarakat Kuba pada masa kini. Kelompok Kuba menekankan bahwa
orang seperti itu sering dianggap sebagai orang yang berdosa, tetapi seharusnya
perlu solidaritas kami!
Tekanan pada perilaku seksual
perempuan Samaria yang begitu menonjol dalam interpretasi beberapa kelompok
Indonesia mungkin dilatarbelakangi oleh apa yang para sosiolog menyebut budaya
rasa malu di Asia. Tentu orang Barat juga tahu rasa malu, tetapi bagi mereka rasa
malu terkait erat dengan rasa bersalah. Dalam budaya Asia (Jepang,
Indonesia/Jawa) rasa malu sering terkait bukan dengan kesalahan tertentu,
tetapi dengan hilang kehormatan. Menurut E.G. Singgih “rasa malu lebih dari
sekadar perasaan subyektif yang ditimbulkan oleh suatu situasi budaya yang
relatif. Rasa malu harus didefinisikan berkenaan
dengan otoritas utama yang menentukan sifat kebera-daan dan hubungan manusia
yang sesungguhnya.”[8] Rasa malu
itu dikaitkan dengan pemutusan hubungan interpersonal dalam keluarga manusia,
baik antarmanusia sendiri maupun antara umat manusia dan Allah yang di dalam
gambarNya manusia diciptakan.[9]
Sebagai contoh Singgih menceritakan kasus perempuan yang hamil di luar nikah
tanpa jelas siapakah ayah bayinya yang dia kandung. Solusi
Barat adalah mendukung secara moril dan finansial perempuan tersebut. Dalam budaya rasa malu itu tidak cukup,
karena demikian pengucilan dari masyarakat belum diatasi. Yang diperlukan,
menurut Singgih, adalah menyelamatkan muka dengan melakukan pernikahan.
Pernikahan itu memulihkan baik harga diri perempuan itu, baik keselarasan dalam
masyarakat. Singgih mengutip Norman Kraus yang menulis: “Rasa malu hilang
apabila komunikasi yang terbuka melalui pengenalan yang penuh kasih dan harga
diri masing-masing dapat saling dipulihkan.”[10]
Apa yang menarik: menurut beberapa
peserta itu justru sikap Yesus terhadap perempuan Samaria itu! Yesus
mengembalikan kehormatan yang telah hilang dari perempuan Samaria. Dalam budaya
rasa malu kehormatan merupakan istilah imbangan dan lawan dari kata ‘malu’.
Menurut Singgih kabar baik di konteks Indonesia, khususnya di Jawa “berarti
menyingkirkan situasi yang menjebak seseorang atau sekelompok orang dalam
perasaan malu.”[11] Satu
peserta kelompok dari Bandung (Jawa!) bilang: “Dalam perjumpaan dengan Yesus,
wanita Samaria dibebaskan. Dia dibebaskan dari tabu untuk berbicara kepada
laki-laki asing, dari tabu untuk mempertanyakan agama-nya, dari tabu untuk
bicara tentang kehidupan pribadinya dengan enam lelaki. Ia dibe-baskan dari rasa
takut dan malu untuk bertemu dengan orang-orang sebangsanya, guna memberi
kesaksian kepada mereka. Bagi saya”,
dia melanjutkan, “kisah ini adalah kisah pembebasan. Pembebasan dari
prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain, dari rasa malu dan takut.”
Menurut
saya perhatian pada perilaku seksual perempuan Samaria yang begitu menonjol
dalam interpretasi beberapa kelompok Indonesia berhubungan dengan budaya rasa
malu seperti tadi digambarkan. Itu bisa menjelaskan perbedaan antara
interpretasi kelompok-kelompok Indonesia dan kelompok dari Belanda dan
Kuba.
Membaca Yohanes 4 lintas budaya
Bagaimana reaksi mahasiswa/i STT
INTIM setelah membaca laporan kelompok partner mereka? Seberapa jauh
interpretasi yang berakar budaya yang berbeda mempengaruhi pandangan mereka
terhadap cerita tentang pertemuan Yesus sama perempuan Samaria?
1. Pendekatan
Contoh pembacaan lintas budaya
yang sangat menarik adalah bagaimana pendekatan kelompok STT INTIM dan mantan
jemaatku di Belanda saling mempengaruhi. Kita
sudah lihat bahwa pendekatan kelompok Belanda lebih analitis, sedangkan
pendekatan kelompok STT INTIM lebih berdasarkan pengalaman sehari-hari mereka.
Pada awalnya peserta Belanda heran dan bahkan merasa sedikit jengkel ketika
menemukan bahwa kelompok Makassar tidak menganalisis teks Alkitab atau
melakukan sesuatu seperti ‘close reading.’ Reaksi mereka: ‘Kami sebagai orang
awam menggali teks ini, sedangkan sebenarnya itu yang diharapkan dari mereka
sebagai mahasiswa/i teologi!’ Namun kelompok Belanda menyimpulkan juga bahwa
rupanya bagi peserta Indonesia cerita Yohanes 4 sesuai dengan masing-masing
pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang bilang: ‘Peserta-peserta
Indonesia merasa banyak emosi ketika membaca cerita ini, sedangkan kami membaca
tanpa komitmen besar. Kelompok Belanda mengakui bahwa melalui metode analitis
yang mereka pakai, cerita alkitabiah tetap cerita ‘jauh’, yaitu cerita tentang
orang lain yang hidup pada waktu kuno, jauh dari Belanda. Demikian Alkitab
tidak diberikan kesempatan menyentuh dan mempengaruhi kehidupan pribadi mereka.
Sebenarnya peserta Belanda ingin sekali disentuh dan terharu oleh cerita
Yohanes 4, seperti peserta kelompok Indonesia mengalami. Sekaligus mereka sadar
bahwa kesenjangan historis dan kultural antara masyarakat Yahudi pada waktu
Yesus dan masyarakat Belanda pada zaman modern tidak dapat dijembatani begitu
mudah.
Pada
awalnya kelompok STT INTIM menganggap pendekatan kelompok Belanda terlalu
kritis. Bagi mereka orang Kristen Belanda mempertanyakan kebenaran Alkitab.
Menurut mereka sikap kritis seperti itu pasti tidak akan dihargai dalam jemaat
Indonesia. Tetapi kemudian kelompok itu mengakui bahwa pendekatan kelompok
Belanda memperlihat-kan sikap ingin tahu dan keinginan untuk menemukan arti dan
maksud sejati cerita Yohanes 4. Satu peserta bilang: ‘Risiko memasukan pikiran
dan pendapat kami sendiri ke dalam teks jauh lebih sedikit kalau memakai
pendekatan analitis mereka daripada pendekatan kami.’ Reaksi
kelompok Makassar terhadap analisis yang mendalam mahasiswa/i dari Kuba hampir
sama. Peserta STT INTIM menarik kesimpulan:
‘Seha-rusnya kami lebih memperhatikan latar belakang historis dan literer
cerita Alkitab dan jangan langsung menerapkan teks pada konteks kami.’
Jelas
bahwa kelompok-kelompok partner saling memperkaya dan setelah membaca Yohanes 4
melalui pandangan orang lain menyadari baik kelebihan, maupun kelemahan
pendekatan mereka sendiri.
2. Perempuan
Samaria sebagai orang yang berdosa
Kalau
apa yang dianggap sebagai dosa perempuan Samaria diperhatikan, maka pengaruh
lintas budaya jauh lebih kurang. Kelompok Belanda terkejut perempuan Samaria
dilihat sebagai orang yang berselingkuh dan berdosa oleh kelompok Indonesia.
Interpretasi itu tidak meyakinkan mereka. Mereka menduga pendapat kelompok STT
INTIM barangkali terpengaruh oleh nilai-nilai dan norma-norma kultural daripada
mengeluarkan makna teks dari cerita Yohanes 4. Mereka menganggap interpretasi
kelompok STT INTIM konservatif dan terlalu moralis. Namun
kelompok Makassar tetap yakin bahwa Yohanes menggambarkan perempuan Samaria
sebagai perempuan sundal. Menurut
mereka kelihatannya relasi di luar nikah tidak (lagi) dipersoalkan dalam
masyarakat Belanda.
Perbedaan pendapat antara kedua
kelompok ini tidak dapat dijembatani selama proses membaca Yohanes 4 lintas
budaya. Meskipun peserta kedua kelompok tidak sependa-pat, mahasiswa/i teologi
STT INTIM menghargai sikap toleran orang Belanda terhadap orang yang mempunyai
gaya hidup yang berbeda. Beberapa peserta berpikir bahwa tekanan kelompok
Belanda pada kebebasan dan tanggung jawab individual memper-lihatkan bahwa
orang Belanda menerima pluralisme etis dan religius lebih mudah daripada mereka
sendiri sebagai orang Indonesia.
Omong-omong persamaan yang paling
menonjol antara kelompok-kelompok STT INTIM dan kelompok lain, seperti yang
dari Belanda dan Kuba adalah tekanan pada sikap Yesus, yang melampaui dan
mengatasi batasan-batasan etnis, religius dan etis. Meskipun peserta kelompok
masing-masing berbeda pendapat tentang
apakah sebenarnya kesaksian Kristiani dalam masyarakat yang pluriform dan
multikultural, paling tidak semua sependapat bahwa kesaksian tersebut
seharusnya inklusif, terbuka dan bersifat kasih, daripada penolakan dan
penghakiman.
Kesimpulan
Dari contoh-contoh yang saya
berikan jelas bahwa membaca Alkitab lintas budaya bisa merupakan pengalaman
yang sangat memperkaya. Selalu ada risiko bahwa kelompok-kelompok hanya menukar
hasil PA mereka tanpa terbuka bagi interpretasi orang yang berbeda budaya.
Tetapi contoh-contoh yang saya tadi berikan membuktikan bahwa kelompok-kelompok
STT INTIM berhasil membaca Yohanes 4 melalui pandangan orang lain dan
dipengharui oleh perspektif dan interpretasi orang lain itu. Khususnya kalau
pendekatan terhadap teks Alkitab diperhatikan koreksi, pengaruh dan penyuburan
timbal balik nyata sekali.
Kalau
memperhatikan karakterisasi perempuan Samaria, perbedaan-perbedaan tidak
dijembatani. Meskipun dalam hal itu membaca melalui pandangan orang lain tidak
menghasilkan perubahan interpretasi, paling tidak penukaran interpretasi
membuat peserta sadar bahwa teks Alkitab selalu dibaca melalui pandangan
tertentu, yaitu pandangan yang ditentukan oleh konteks kultural dan budaya kita
sendiri. Dengan kata lain peserta tidak diperkaya dalam arti pengluasan dan
koreksi perspektif mereka, tetapi melalui kesadaraan tentang keterbatasan
perspektif itu.
Penutup
Proyek
membaca Alkitab lintas budaya memperhatikan peran si pembaca dalam proses
mengartikan dan memaknai teks Alkitab. Dengan demikian proyek ini sesuai dengan
pergeseran dalam ilmu penafsiran selama beberapa dasawarsa yang terakhir.[12]
Pada awalnya penafsiran ilmiah perhatian utama selalu pada penulis dan
konteksnya. Tujuan penafsiran dilihat sebagai menemukan maksud asli teks
tertentu. Para penafsir percaya bahwa maksud asli itu bisa ditemukan melalui
penelitian historis terhadap konteks penulis teks itu. Siapa
penulis itu, kapan dia hidup, bagaimana situasi pada waktu itu? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mencirikan pendekatan
kritis-historis. Kemudian pendekatan-pendekatan literer dikembangkan seperti
pendekatan strukturalis dan naratif. Pendekatan-pendekatan itu lebih
memperhatikan ciri-ciri teks, seperti: bagaimana penyusunan teks ini, bagaimana
sosok masing-masing digambarkan, teknik literer mana yang dipakai narator dll?
Teks dilihat sebagai komposisi yang bisa diteliti tanpa banyak pengetahuan
tentang penulis dan konteksnya. Perhatian utama lebih pada konteks literer
daripada konteks historis.
Selama dasawarsa yang terakhir
perhatian bergeser lagi, yaitu pada peran dan penga-ruh pembaca dalam proses
penafsiran. Setiap pembaca atau kelompok pembaca mendekati teks Alkitab dari
perspektif tertentu. Perspektif kita dibangun dari beberapa faktor. Salah satu faktor merupakan budaya kita. Konvensi-konvensi
kultural, kode-kode kebudayaan dalam masyarakat kita membuat kita sensitif bagi
hal-hal tertentu dalam teks Alkitab, tetapi juga menghindari kita melihat hal
lain yang terdapat dalam teks itu. Jadi perspektif itu membuat kita
menemukan aspek-aspek tertentu dari teks Alkitab, tetapi sekaligus menutup mata
kita bagi aspek-aspek lain. Tidak ada satu perspektif yang meliputi semua aspek
teks Alkitab. Setiap perspektif terhadap teks terbatas. Karena itu kita
perlu perspektif-perspektif (orang) lain untuk melihat apa yang tidak dapat
ditemukan kalau kita memandang dari perspektif budaya kita sendiri saja.
Salah satu artikel Gerrit Singgih pernah membuka mataku bagi fakta bahwa budaya
rasa malu nyata dalam beberapa teks PL. Saya belum pernah melihat itu
karena saya tidak dibesarkan dalam budaya rasa malu. Hanya melalui pandangan
penafsir Indonesia, yaitu Gerrit Singgih tiba-tiba terlihat aspek-aspek baru
dalam teks PL. Demikian juga pandangan kelompok Belanda membuka mata peserta
Indonesia bagi aspek dalam cerita Yohanes 4 yang mereka belum pernah
perhatikan.
Sebenarnya setiap metode eksegetis
bisa dilihat sebagai salah satu perspektif terhadap teks Alkitab. Dulu perspektif historis diutamakan, kemudian perspektif
literer dikemukakan, sekarang perspektif konteks pembaca diperhatikan. Semua perspektif
itu berlaku dan diperlukan, justru karena semua perspektif itu terbatas dan
hanya kalau dianggap sebagai perspektif-perspektif yang melengkapi, mengoreksi dan mempengaruhi satu dengan yang
lain sebanyak mungkin aspek teks Alkitab ditemukan.
Hal terakhir
yang ingin saya sentuh berhubungan dengan dua kata yang biasanya dipakai di STT
INTIM, yaitu kata eksegese dan eisegese. Eksegese berarti membawa keluar
arti dan maksud teks Alkitab. Pada umumnya eisegese ditolak sama sekali karena
berarti membawa pikiran-pikiran dan pendapat-pendapat kami ke dalam teks
Alkitab. Membedakan antara eksegese dan eisegese berguna, karena demikan
digarisbawahi bahwa pembaca harus terbuka pada dunia dan konteks historis teks
Allkitab yang berbeda dengan konteks kita. Tetapi manfaat istilah eisegese
terbatas juga. Penolakan ‘eisegese’ bisa memberikan kesan bahwa seharusnya
latar belakang kita sendiri tidak boleh mempengaruhi penafsiran kita. Tetapi
pengaruh itu tidak bisa dihilangkan. Karena eksegese tidak pernah merupakan sesuatu yang
obyektif dan netral. Kita sebagai pembaca Alkitab selalu terpengaruh latar
belakang dan budaya kita.
Apalagi
yang lebih penting: pengaruh konteks kita sendiri tidak usah dihilangkan. Karena perspektif kultural itu tidak hanya
menutup, tetapi sekaligus membuka pandangan kita terhadap aspek-aspek tertentu
teks Alkitab.[13] Eksegese
tidak berarti membawa keluar sebuah obyek, yaitu maksud asli penulis PL dan PB.
Mustahil kita pernah akan mengetahui dengan persis maksud penulis teks Alkitab.
Tidak ada eksegese yang bisa disebut eksegese obyektif. Tetapi itu tidak
berarti bahwa eksegese selalu subyektif saja!
Kedua
kata ‘obyektif’ dan ‘subyektif’ kurang tepat untuk mencirikan apakah
sesungguh-nya penafsiran. Eksegese selalu merupakan interaksi antara konteks
teks Alkitab dan konteks kita sendiri.[14]
Kita hanya bisa melihat dunia teks Alkitab itu melalui kaca mata tertentu. Kaca
mata kita dibuat di Indonesia. Tidak dapat dan tidak perlu mengabaikan pengaruh
kaca mata itu, apalagi membuang kaca mata itu. Tanpa kaca maca dan
perspektif Indonesia itu kita buta dan tidak menemukan apapun dalam teks
Alkitab. Itu satu sisi. Pada sisi lain kita harus sadar bahwa kaca mata itu
hanya salah satu kaca mata. Ada kaca mata lain, yang dibuat pada waktu dan di
tempat lain. Ada kaca mata dari Belanda dan dari Kuba juga. Kaca mata itu memberikan perspektif yang berbeda terhadap
teks Alkitab. Dan melalui kaca mata itu kita menemukan aspek-aspek teks Alkitab
yang tidak bisa ditemukan kalau hanya memakai kaca mata Indonesia. Jadi jangan
membuang kaca mata Indonesia itu, tetapi sadarilah bahwa ada kaca mata lain
juga. Apa yang kita perlu dalam proses penafsiran bukan obyektifitas yang
tak terjangkau, tetapi keterbukaan. Keterbukaan terhadap dunia teks Alkitab
(itu perspektif yang ditekanan dalam metode kritis-historis), keterbukaan
terhadap pengaruh latar belakang dan budaya kita kalau membaca (itu tekanan
dalam metode yang berfokus pada peran pembaca), dan keterbukaan terhadap
interpretasi dari penafsir yang berbeda budaya dengan kita (itu sumbangan
proyek membaca alkitab lintas budaya). Hanya melalui keterbukaan seperti itu
kita akan menemukan kekayaan Alkitab yang memberitakan Firman Allah kepada
kita.
Pdt. Jilles
de Klerk, M.Th, adalah dosen biblika STT Intim Makassar. Artikel di atas ini
merupakan revisi orasi ilmiah pada perayaan Wisuda dan Dies Natalis STT Intim
pada tgl. 18 September 2004
"Konvensi-konvensi
kultural, kode-kode kebudayaan dalam masyarakat kita membuat kita sensitif
terhadap hal-hal tertentu dalam teks Alkitab, tetapi juga menghalangi kita
untuk melihat hal lain yang terdapat dalam teks itu ... Oleh karena itu kita
butuhkan perspektif-perspektif (orang) lain untuk melihat apa yang tidak dapat
ditemukan kalau kita memandang dari perspektif budaya kita sendiri saja."
[1] Untuk
informasi lengkap tentang proyek ini lihat: H. de Wit, L. Jonker, M.Kool dan D.
Schipani (ed.), Through the Eyes of
Another: Intercultural Reading of the Bible, Indiana 2004, khususnya 3-53.
Pada halaman 69-70 terdapat suatu ‘tableau vivant’ dari Indonesia, ditulis oleh
Lady Paulina Reveny Mandalika, salah satu peserta kelompok STT INTIM yang
terlibat dalam proyek ini. Pada halaman 161-175 terdapat artikel saya yang
berjudul ‘Through different eyes: Indonesian experiences with an intercultural
reading of John 4’. Artikel tersebut merupakan dasar bagi teks orasi ini.
[2] M.
Budianta, ‘Multiculturalism: In Search of a Framework for Managing Diversity in
Indonesia’, ceramah bagi lokakarya tentang ‘Multicultural Education in Asian
Nations: Sharing Experiences’, Jakarta 2003, 6.
[3] Itu tidak
berarti bahwa kelompok STT INTIM kurang mengerti arti dan maksud Yohanes 4,
sedangkan kelompok yang pakai metode analitis membawa keluar maksud asli. Apa
yang menonjol dan menarik: tema-tema yang kelompok STT INTIM diskusikan sangat
dekat teks Yohanes 4, sedangkan pertanyaan-pertanyaan kritis kelompok Belanda
tidak selalu mempunyai hubungan erat dengan teks Yohanes 4. Jadi seharusnya
kedua kata analitis dan asosiatif tidak disamakan dengan ‘tepat’ dan ‘kurang tepat’!
[4] W.J. Ong: Orality and Literacy: The Technologizing of
the Word, Londen/New York 1982, 9.
[5] Ibid, 39.
[6] Ibid, 41.
[7] PSK =
Pekerja Seks Komersial
[8] E.G.
Singgih: Let Me Not Be Put to Shame:
Towards an Indonesian Hermeneutics, in Asian
Journal of Theology 9 (1995), 77. Versi Indonesia artikel ini diterbitkan
dalam E.G. Singgih: Berteologi dalam
Konteks: Pemikiran-pemikiran mengenai Kontekstualisasi Teologi di Indonesia,
Yogyakarta/Jakarta 2000, 177-197. Kutipan-kutipan terambil dari versi Indonesia
tersebut.
[9] Ibid, 187.
[10] Ibid, 187.
[11] Ibid, 177.
[12] Prof. dr.
M. Harun menggambarakan pergeseran tersebut dalam sambutan Sidang pembaca dan buku Alkitab pada Simposium Nasional Biblika
2004 di Malang, lihat khususnya h. 5-7.
[13] Ini ditekankan oleh H.G. Gadamer, Wahrheit und Methode: Grundzüge
einer philosophischen Hermeneutik, Tübingen 1960, 270-345. Gadamer menggarisbawahi bahwa
penafsiran selalu merupakan interaksi antara dua cakarawala: baik cakrawala
masa kuno, maupun cakrawala masa kini berperan dan mempengaruhi pengertian kita
terhadap teks tertentu.
[14] Lihat juga E.G. Singgih, Menuju Hermeneutika Kontekstual Indonesia: Menafsir Alkitab dengan
Mengakui Peranan Sudut Pandang Si Penafsir, dalam Forum Biblika, 16 (2004), h. 24-44.