MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C96.4F2A8ED0" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C96.4F2A8ED0 Content-Location: file:///C:/E4F65D8B/apaitupolitik.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"
Sumber:=
www.oaseonline.org
Apa itu “Politik?R=
21;
oleh John Campbell-Nelson
Kata “politik” berasal dari bahasa Yunani kuno, di mana
“polis” berarti “kota,” dan
dari situ kata “politik” berkembang sebagai “seni
pemerintahan kota.” Di
kemudian hari, politilk dipakai untuk menunjuk pada teori pemerintahan seca=
ra
umum. Hanya dalam pemakaian s=
ehari-hari,
mungkin juga sebagai tanggapan pada kebobrokan praktek pemerintahan, maka
politik mendapat nama yang kurang baik---sebagai upaya untuk memenangkan
kepentingan diri kita atau kelompok kita melalui cara apa saja yang dapat
menipu atau mengalahkan kelompok lain.
Mungkin paham yang negatif ini dapat dipertahankan dalam suatu konteks
seperti pada masa Orde Baru, di mana demokrasi tinggal sebuah impian yang t=
ak
pernah terwujud, dan kata demokrasi itu sendiri hanyalah sebuah topeng yang
dipakai untuk menyembunyikan wajah seorang diktator. Dalam konteks itu, politik t=
idak
lebih dari ajang pertandingan untuk mengambil bagian dalam korupsi dan
penindasan rakyat.
Masa kini, demokrasi masih belum terwujud dengan baik, namun sebuah har=
apan
telah terbangkit bahwa proses reformasi yang telah dimulai, walaupun sangat
tersendat-sendat, dapat mengantar Indonesia pada ambang pintu demokrasi yang
sebenarnya. Kalau proses itu =
bisa
berhasil, maka kata “politik” harus juga direformasi dan
dikembalikan pada artian dan fungsi yang sebenarnya. Kalau tidak, kita hanya akan dapat=
suatu
Orde Baru yang diperbaharui lagi.
Secara sederhana, kita dapat mengartikan politik sebagai suatu upaya un=
tuk
menjawab sebuah pertanyaan yang sangat mendasar bagi suatu masyarakat: Bagaimana
kita harus hidup bersama? Dari
situ muncul beberapa pertanyaan susulan:&n=
bsp;
Siapakah “kita,”=
dan
siapa bukan “kita?”
Dalam hal mana kita benar-benar hidup bersama, dan dalam hal-hal mana kita bisa s=
epakat
untuk hidup berbeda satu dari yang lain?
Untuk kepentingan kehidupan bersama secara demokratis ini, kita perlu
memandang politik secara lebih luas daripada sekadar politik partai atau
politik pemilu. Kita akan mel=
ihat
politik sebagai salah satu aspek kehidupan bermasyarakat yang terjadi sehar=
i-hari
dalam interaksi masyarakat setempat.
Definisi operasionalnya adalah sebagai berikut:
Politik
adalah wahana di mana suatu masyarakat yang terdiri dari berbagai pihak yang
saling berbeda dapat berdialog dan bersepakat terhadap tujuan-tujuan dan
ketentuan-ketentuan bersama yang dengannya mereka saling bergantung. Dengan perkataan lain, politik ada=
lah
pemberdayaan dan pengelolaan kekuasaan secara bersama.
“Politik” semacam ini terjadi bukan hanya di lingkungan pem= erintah, tapi juga di gereja, di antara tetangga, dalam adat pernikahan, ataupun dal= am satu rumah tangga. Beb= erapa unsur utama dapat digarisbawahi:
1.&n= bsp; Politik barulah terjadi kalau ada perbedaan pendapat atau kepentingan antar kelompok
2.&n= bsp; Perbedaan tersebut menyangkut suatu kebutuhan bersa= ma (“saling bergantung”)
3.&n= bsp; Kelompok yang bersangkutan memiliki kebebasan dan kekuasaan untuk mencari sebuah jalan keluar bersama (“pemberdayaan...”)
4.=
Adanya wahana yang memungkinkan ko=
munikasi
dan perundingan bersama.
Kalau salah satu unsur tersebut di atas tidak
tersedia atau terhambat, maka kegiatan yang bersifat politis akan tersendat
dalam masyarakat setempat.