MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C96.3A683A10" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C96.3A683A10 Content-Location: file:///C:/268292F5/batu.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"
Sumber:=
www.oaseonline.org
Batu akan Berteriak:=
Gereja dan Seni
oleh John Campbell-Nelson
Beberapa penatua senior di sebuah jemaat pedesaan bercerita tentang masa
lalu di jemaat. Mereka
mengingat suasana yang suci dan hening dalam kebaktian. Batuk saja bisa mengundang teguran=
. Kecuali satu ba’i tua, yang =
nota
bene adalah tokoh adat dan – menurut ingatan para penatua –
“masih setengah kafir.”
“U-u-u-i! Bapa tua kalau dengar sesuatu yang=
dia
suka dalam khotbah langsung berkoak.
Dia bisa bangun dan menari di tengah kebaktian.”
Mungkin teman-teman penatua belum begitu terbiasa dengan ide “tar=
ian
liturgis” sebagai salah satu aspek ibadah yang ada dalam berbagai tra=
disi
iman. Bagi mereka, patut disy=
ukuri
bahwa zaman kuno sudah lewat dan kebaktian kita berjalan dalam suasana yang
tertib.
Sebaliknya, saya teringat akan suasana yang mewarnai kedatangan Yesus ke
Yerusalem, di mana para pengikutnya begitu gembira dan terharu melihat kota
suci dalam lembah di bawah Bukit Zaitun, sehingga mereka secara spontan
menyanyikan Mazmur 118: “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja da=
lam
nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang
mahatinggi!” Waktu itu,=
para
“penatua” menyuruh Yesus menertibkan murid-muridNya. Jawab Yesus, “Aku berkata
kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.” (Lukas
19.40) Demikian juga, kalau
ba’i berkoak sebagai sambutan terhadap pemberitaan injil, apakah itu
tidak lebih berkenan pada Tuhan daripada duduk mengantuk?
Adegan yang tergambar dalam Lukas 19 hampir diulangi dalam sejarah gere=
ja
Protestan berhubungan dengan peranan kesenian dalam gereja. Calvin dan sejumlah reformator yan=
g lain
cenderung mencurigai peranan kesenian dalam ibadah. Prinsip mereka adalah supaya jemaat
diperhadapkan dengan Firman Tuhan saja, tanpa tercampur baur dengan hal-hal
yang duniawi. Kalau menyanyi,
boleh, asal Mazmur saja (karena itupun bagian dari Firman Tuhan), asal jang=
an
main orgel atau alat musik lain yang bisa mengalihkan perhatian jemaat dari
Firman kepada keindahan musik itu sendiri.=
Demikian juga dengan patung, lukisan, atau perhiasan gereja yang lai=
n. Kalau Tuhan bertemu kita dalam sua=
ra
hati melalui pemberitaan FirmanNya (demikian ajaran Calvin), jangan ada ses=
uatu
yang mengorek perhatian panca indera pada hal-hal yang lahiriah. Begitu kita
terfokus pada sola sciptura (ha=
nya
oleh Firman Tuhan) sampai anggur dan roti perjamuan pun dicurigai. Ingat sa=
ja
bahasa dari liturgi perjamuan GMIT: “Janganlah hati dan pikiran kita
melekat pada roti dan anggur yang kelihatan ini, melainkan dalam iman, kita
mengarahkan hati dan pikiran kita kepada Yesus Kristus.” Singkatnya,
tutup mata, kancing mulut, tangan dan kaki jangan bergerak, dan buka telinga
saja pada Firman. Itulah sikap
reformasi Calvinis terhadap gereja dan seni.
Perlu diakui bahwa ada juga sedikit unsur kebenaran dalam sikap ini,
khususnya kalau dilihat dalam konteks historis dan sosial. Masyarakat yang Calvin hadapi pada
umumnya belum bisa membaca dan belum mengenal isi Alkitab dengan baik, sehi=
ngga
mereka bergantung pada pemberitaan lewat mimbar untuk pengetahuan iman. Selain itu, tradisi untuk memanfaa=
tkan
patung-patung Yesus, Maria, dan para Santo seringkali tidak membantu jemaat
untuk membedakan oknum yang dilambangkan dari patungnya yang begitu mempeso=
na
– hal yang memang menjurus pada berhala.
Sebenarnya sifat ini agak umum ditemukan dalam masyarakat pra-aksara:
pembauran lambang dengan realitas.[1]&=
nbsp;
Dituturkan mengenai sekelompok nelayan yang pertama kali melihat
tayangan filem. Kebetulan dal=
am
filem tersebut ada seorang nelayan yang menangkap ikan yang besar, tetapi ia
kesulitan mengangkat ikan ke dalam prahu.&=
nbsp;
Para penonton langsung lari ke layar untuk menolong. Demikian juga “orang dulu=
221;
membawa pulang roti perjamuan untuk dipakai sebagai ajimat, sebab mereka
terlanjur percaya bahwa roti itu memang adalah tubuh Kristus “yang te=
lah
dipecahkan untuk keampunan yang sempurna atas segala dosa kita.” Ini sebenarnya bukan pemikir=
an
magis semata, melainkan suatu salah faham tentang hakekat sebuah lambang. Sayangnya bahwa berhadapan dengan =
salah
faham seperti itu, gereja Protestan terlalu cepat menyingkirkan lambang-lam=
bang
kesenian yang begitu kaya.
Dalam perkembangan sejarah, tradisi reform semakin terbuka pada unsur-u=
nsur
kesenian dalam ibadah, tetapi selalu dengan persyaratan: “sebagai alat
pemberitaan Injil.” Ala=
t-alat
musik sudah boleh mengiringi nyanyian rohani, dan kita sudah boleh menghiasi
mimbar dan meja perjamuan dengan kain yang indah — walaupun seringkali
motif tenunan disingkirkan untuk referensi ayat Alkitab yang disulam atau
diikat: “Yoh. 3.16,” misalnya.
Hal-hal seperti ini patut disambut dengan gembira. Namun bagi saya, kita masih dihala=
ngi
oleh sebuah salah faham tentang kesenian itu sendiri. Sebuah karya seni bukan pengganti =
atau perhiasan
pada khotbah. Justru kesenian
sering muncul pada saat bahasa sehari-hari terasa tidak cukup, tidak mampu
untuk mengungkapkan apa yang hendak dinyatakan. Kita gembira, dan tidak puas kalau=
hanya
bilang, “Ya, saya gembira” – maka kita menyanyi atau mena=
ri. Malaikatpun menyanyi waktu Yesus
lahir. Atau kita sedih, dan k=
ata
“Aduh” terlalu miskin untuk menyampaikan perasaan itu – m=
aka
kita mengangkat nyanyian ratapan. =
span>
Di sini jelas bahwa salah satu fungsi kesenian adalah sebagai ekspresi =
atau
pengungkapan perasaan hati. D=
ari
segi itu, mungkin lebih tepat kalau kita menempatkan kesenian dalam gereja
bukan hanya sebagai wadah pemberitaan injil, tetapi sebagai wadah pengungka=
pan
hati jemaat. Melalui berbagai
bentuk kesenian, jemaat diberi kesempatan untuk memuji, memohon, bersyafaat=
dan
bersyukur kepada Tuhan dengan cara yang memuaskan hatinya.[2]
Berhubungan dengan itu, kita dapat melihat fungsi kesenian dalam ibadah secara tepat kalau kita mengingat kembali makna leiturgeia (liturgi) itu sendiri. Dalam HKUP GMIT 1991-1995 ditekank= an bahwa salah satu fungsi liturgi adalah untuk membantu jemaat membawa dan mempersembahkan keseluruhan hidupnya kepada Tuhan. Itu berarti bahwa segala karya seni dalam kebudayaan kita, dan segala daya krea= si yang kita miliki patut diberi tempat juga dalam ibadah. Melalui tenunan dan ukiran, drama = dan lukisan, tarian dan nyanyian, disertai bukan hanya orgel dan gitar, tapi ju= ga gong dan juk, biarlah kita mengungkapkan isi hati kita kepada Tuhan. Berkoak ju’ bae.
&= nbsp; [2]Lebih dari aspek ekspresif, kesenian memiliki sifat menghadirkan. Seorang filsuf seni bernama Susanne Langer pernah membagi kegiatan komunikasi manusia dalam dua bagian: yang bersifat diskursus dan yang ber= sifat presensia (“presentational”). Kesenian tergolong pada jenis komunikasi yang kedua. Diskursus berbicara tentang sesuatu, sedangkan kesenian menghadirkan sesuatu, walaupun secara simbolis. Band. Langer, Feeling and Form, Scribner’s, 1953.