MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C96.96CB5990" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C96.96CB5990 Content-Location: file:///C:/08E94581/diakonia.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"
Sumber:=
www.oaseonline.org
Diakonia: Sebuah Tanda Gereja yang Luntur<=
span
lang=3DDE style=3D'font-size:13.0pt;mso-bidi-font-size:12.0pt;line-height:9=
2%;
font-family:Arial;mso-bidi-font-family:"Times New Roman";mso-ansi-language:
DE'>
Perspektif Teologis untuk Seminar Diakonia, Komisi PPK/MSH GMIT
oleh John
Campbell-Nelson
&=
nbsp; Dalam
teologia Reform telah berkembang sebuah rumusan baku tentang tanda-tanda
kehadiran gereja yang sejati, kurang lebih sebagai berikut: "Di mana
Firman Tuhan diberitakan dan Sakramen-Sakramen dilayani dengan benar, maka
disitulah gereja." Defin=
isi
seperti ini dimaksudkan untuk membebaskan gereja dari belenggu
institusionalisme supaya perhatian kita diarahkan kepada fungsi-fungsi gere=
ja
yang asali. Kalau kita pakai tolok ukur reformatoris ini, gereja-gereja di
Indonesia mungkin dapat disebut sebagai gereja yang sejati: pemberitaan Fir=
man
berjalan terus dan mengambil tempat yang sentral dalam setiap kegiatan
gerejawi. Pelayanan sakramen ditangani (dan dihayati oleh jemaat) dengan su=
atu
kesungguhan yang jarang terdapat dalam gereja-gereja yang saya kenal di
Amerika.
&=
nbsp; Kalau
demikian, apa yang masih kurang? Masing-masing orang berhak menjawab pertanyaan itu bagi
dirinya sendiri. Tapi b=
agi
saya, salah satu kekurangan ada pada tolok ukur itu sendiri. Memang sebuah rumusan teolog=
is
seringkali bermaksud mengoreksi kesalahan-kesalahan pada masa lampau. Tapi =
pada
gilirannya, koreksi itu sendiri harus dikoreksi kembali. Bagi saya, definisi
ini masih kurang satu unsur yang hakiki, yang harus ada baru gereja layak
disebut gereja Yesus Kristus. Kalau unsur ini dihilangkan atau diabaikan ma=
ka
pemberitaan Firman nyaris menjadi omong kosong, dan pelayanan Sakramen menj=
adi
ajimat. Unsur yang saya maksudkan adalah diakonia. Dalam tulisan ini saya akan mengaj=
ukan
pendapat bahwa diakonia adalah sama penting dengan pemberitaan Firman dan
pelayanan Sakramen sebagai tanda gereja yang sejati, dan bahwa ketiga unsur=
ini
tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Secara sederhana, inti argumentasi=
saya
sebagai berikut: (1) Saya fahami gereja dari dasar
kristologis, sebagai persekutuan para pengikut Yesus Kristus. (2) Dalam pelayananNya dan secara lang=
sung
dalam ajaranNya, Yesus menyatakan diri sebagai Diakonos. (3) Dalam kesetiaan kepada Tuhanny=
a,
gerejapun harus memahami diri sebagai diakonos.
Dalam
pembahasan diakonia sebagai hakekat gereja kita akan melihat dulu dari
latarbelakangnya dalam Perjanjian Lama, baru membahas aspek diakonal dalam
pelayanan Yesus sendiri, serta implikasinya bagi eklesiologi.
Kesetiakawanan dalam Umat
Perjanjian Lama
Untuk
menangkap perspektif tentang diakonia
dalam Perjanjian Lama[1]<=
![endif]>, baiklah kalau kita mulai dari perm=
ulaan,
yaitu dalam kitab Kejadian, ketika Tuhan Allah menciptakan Hawa. "Tidak baik, kalau manusia itu
seorang diri saja," kata Tuhan. "Aku akan menjadikan penolong
baginya, yang sepadan dengan dia."
Di
sini terungkap dua asumsi dasar tentang hakekat manusia. Yang pertama, bahwa manusia pada
dasarnya adalah makhluk sosial, yang tidak baik, malah tidak mungkin, hidup
seorang diri. Secara biologis saja kita dapat membenarkan prinsip ini. Lain
dari hampir semua binatang, anak manusia harus digendong, diasuh, dan
dipelihara sampai bertahun-tahun baru dia bisa hidup mandiri. Untuk anak menjadi manusia sepenuh=
nya
haruslah melalui sebuah proses sosialisasi di mana dia belajar berbahasa,
bekerja untuk memperoleh nafka, dan bergaul dengan sesama dalam suatu konte=
ks
budaya tertentu. Semua ini adalah ciri khas manusia, di mana dia dibedakan =
dari
makhluk-makhluk hidup yang lain. Dan secara implisit dalam ceritera Kejadia=
n,
semuanya ini bukanlah "upah dosa", melainkan keadaan manusia yang
normatif menurut gambar dan citra Allah sendiri. (Hal ini merupakan salah satu aspe=
k dari
ajaran Kristen tentang Trinitas: bahwa Allah dalam dirinya sendiri bersifat
sosial/relasional--bukanlah "Penggerak yang tidak tergerak" seper=
ti
dalam konsepsi Aristoteles.)
Yang
kedua, relasi manusia dengan sesama pada dasarnya adalah relasi saling
menolong. Gelar "penolong yang sepadan" bukan hanya dikenakan pada
Hawa, tapi terutama mencirikan relasi timbal-balik antar manusia. Relasi saling menolong justru meru=
pakan
konsekwensi langsung dari hakekat manusia sebagai makhluk sosial. Tidaklah
mungkin manusia menjadi manusia tanpa ada yang menolong, mengasuh, dan
memelihara. Perlu digarisbawahi sekali lagi bahwa keadaan saling bergantung=
dan
saling menolong ini bukanlah suatu kelemahan yang patut disesalkan. Justru
Allah menganggap "kelemahan" ini baik.
Atas
dasar "kelemahan" ini berkembanglah segala budaya dengan
struktur-struktur sosial, ekonomis, dan politis. Justru
karena kaki lemah kita menjinakkan kuda, bikin sepatu, sepeda, dan oto. Kar=
ena
tangan lemah, kita bikin besi gali; karena gigi kurang tajam, kita bikin
parang; karena kulit tipis kita bikin pakaian dan rumah, dan karena bayi le=
mah,
kita bikin keluarga.
&=
nbsp; Atas
dasar hakekat manusia ini berkembang pula permasalahan sosialbudaya yang ut=
ama:
entah dipandang dengan kacamata modern secara biologis, sosiologis, atau
ekonomis, ataupun secara teologis, entah kita memandang pada rumah tangga A=
dam
dan Hawa ataupun pada keturunannya dalam masyarakat Indonesia yang sedang
berkembang, maka masalah yang sama muncul terus-menerus: bagaimana kita men=
ata
kehidupan bersama dalam relasi saling bergantung dan saling menolong demi
kelangsungan hidup manusia yang sejati?
&=
nbsp; Untuk
menggumuli permasalahan sosial ini kita harus beranjak dari Adam dan Hawa d=
an
melihat pada masyarakat Israel kuno, khususnya pada masa pra-kerajaan, di m=
ana
Israel hidup dalam suatu konfederasi suku yang agak longgar. Sebelum mereka diikat dalam suatu =
ikatan
politis yang disentralisir, maka mereka diikat lebih dahulu oleh suatu
pengalaman historis, yaitu sebagai orang yang pernah dibebaskan Allah dari
perbudakan di Mesir dan diantar kepada tanah yang pernah dijanjikan Tuhan
kepada nenek moyang mereka. A=
tas
dasar itu mereka telah mengikat sebuah perjanjian dengan Tuhan untuk hidup
bersama menurut peraturanNya. Kalau dalam Kitab Kejadian digambarkan asal-u=
sul
manusia, maka di sini kita mendapat gambaran tentang asal-usul Israel sebag=
ai
suatu masyarakat.[2]<=
![endif]>
&=
nbsp; Masyarakat
macam apa digambarkan di situ? Jelaslah
bahwa masyarakat Israel pada waktu itu adalah masyarakat suku, di mana stru=
ktur
kekerabatan merupakan struktur sosial yang utama. Satuan dasar secara ekono=
mis
dan politis terletak pada bait
(rumah, agak mirip dengan "kuan" dalam masyarakat tradisional
Timor). Untuk menggambarkan
struktur itu lebih jauh agaknya di luar jangkauan tulisan ini. Kami hanya mau mengangkat satu kon=
sep
yang akan menjadi agak sentral dalam perkembangan perspektif teologis tenta=
ng
diakonia, yaitu hesed. Kata hesed sering diberi arti secara te=
knis
dalam teologia PL sebagai "kesetiaan dalam perjanjian", terutama
menyangkut kesetiaan Allah terhadap umat Israel. Meskipun Israel berulangkali memun=
gkiri
perjanjiannya dengan Allah, tapi Allah tetap setia. Selain arti teknis itu, adapun arti
dalam bahasa sehari-hari sebagai "kesetiakawanan". Kesetiakawanan=
ini
nampak dalam bantuan yang diberikan kepada saudara-saudara yang ada dalam
posisi lemah, apalagi kalau di luar suatu kewajiban yang dapat dikenakan ke=
pada
si pemberi secara teknis atau juridis.&nbs=
p;
Kalau saya memelihara seorang janda yang adalah ibu saya, maka saya
memenuhi kewajiban saya. Tapi kalau saya memelihara seorang janda yang bukan
dari keluarga saya, meskipun dia tidak mampu memberikan imbalan jasa, maka =
saya
menunjukkan hesed. (Sama seperti
Allah tetap memelihara Israel walaupun Israel telah melanggar perjanjiannya=
dan
tidak mampu memberikan apa-apa kepada Tuhan.)
&=
nbsp; Peranan
hesed dalam umat perjanjian san=
gat
sentral. Kesetiakawanan menjadi "lem sosial" yang memungkinkan
masyarakat tetap utuh. Kalau =
orang
tidak setia kepada sesama sebagai perwujudan kesetiaannya kepada Tuhan, maka perbedaan harta milik, kekuat=
an dan
kelemahan kaum kerabat dan status sosial, pada akhirnya akan membuat perpec=
ahan
dalam relasi-relasi sosial. Misalnya, telah difirmankan Tuhan bahwa "t=
idak
boleh ada orang miskin diantara kamu." Hal ini tentu tidak berarti bah=
wa
orang miskin harus diusir atau digusur dari tempatnya! Justru mereka harus
dipelihara dan dibantu supaya keluar dari kemiskinan itu, "supaya
saudaramu dapat hidup di antara kamu." Karena kalau orang dibiarkan tetap
miskin, maka mereka harus
mengembara mencari nafka di tempat yang jauh dari kaum kerabat, ataupun men=
jual
dirinya sebagai budak. Akhiba=
tnya,
orang miskin tidak dapat mengambil tempat dalam persekutuan umat Israel yang
sewajarnya, dan pada akhirnya umat itu terpecah, atau hilang keutuhannya ka=
rena
marginalisasi kaum miskin.
&=
nbsp; Berdasarkan
kesetiakawanan dikembangkan sejumlah peraturan yang hampir dapat dikatakan
melebihi tuntutan keadilan menjadi semacam "hukum anugerah". Misa=
lnya
bahwa orang yang telah menjual diri sebagai budak (untuk apapun alasannya--=
biar
karena kebodohan atau kemalasannya sendiri) harus ditebus; bahwa pada tahun
Yobel (Im. 25; Ul.15) tanah harus dibagikan kembali secara merata,
hutang-hutang harus dihapus, dan para budak harus dibebaskan dan diberi sar=
ana
untuk menghidupi dirinya sendiri (Ul.15.13-15). Semua ketentuan seperti ini
melebihi hukum "do ut des" dan mengarahkan umat Israel untuk
menunjukkan kesetiakawanan terhadap sesama seperti Tuhan Allah telah
menunjukkan kasih setiaNya kepada Israel.
&=
nbsp; Sayangnya
bahwa rupanya Israel tidak pernah menerapkan ketentuan-ketentuan ini secara
konsekwen. Pada zaman kerajaan, justru kita mendengar seruan para nabi bahwa
penguasa-penguasa dan para pedagang kaya telah menginjak-injak orang-orang
miskin, dan tanah yang merupakan sumber hidup masyarakat agraris telah jatu
kedalam tangan segelintir orang. Dalam keadaan seperti itu, ibadah Israel h=
anya
"menjijikkan" Tuhan dan berbau busuk dihadapanNya (Yes.1.10-17).<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Sebuah visi tentang masyarakat kom=
unal
yang adil, ramah, dan penuh belas kasihan telah bera=
khir
dengan korupsi, politik kuasa, dan hukuman Tuhan.
&=
nbsp; Ceritanya tidak berakhir di s=
itu.
Dalam pemberitaan para nabi pasca-pembuangan telah berkembang suatu upaya untuk
mengangkat kembali visi ini yang pudar. Khususnya dalam pemberitaan Nabi
Yesaya diangkat konsepsi ebed Yahweh (hamba Tuhan--lihat
Yes.40-57), yang melalui pemberitaan, perjuangan dan penderitaannya akan
memulihkan kembali umat perjanjian yang semula sampai menjadi terang pada
bangsa-bangsa yang lain. Tema ini yang kemudian dihubungkan dengan Yesus
Kristus (entah secara sadar oleh Yesus sendiri atau dalam penafsiran gereja
kuno masih diperdebatkan para ahli).
Apa yang dapat dipetik dari sejarah kilat masyarakat Israel ini untuk
kepentingan studi kita? Ada
beberapa hal yang menarik.
1. Secara
normatif, manusia Israel tinggal bersama dalam satu relasi kekeluargaan, di
mana hampir sebagian besar anggota masyarakat setempat saling mengenal dan
saling menyapa sebagai saudara. (Yang di luar jaringan persaudaraan merupak=
an
"orang asing", yang dapat digolongkan sebagai musuh, budak, atau
tamu.) Dalam konteks seperti =
ini,
bantuan terhadap sesama pertama-tama merupakan perluasan jaringan kekeluarg=
aan,
di mana tanggung jawab yang utama ada pada keluarga terdekat, kemudian pada
sanak-saudara yang lebih jauh, dan akhirnya pada seluruh suku.
&=
nbsp; "Diakonia"
di sini berarti pemeliharaan sebuah relasi, dan bantuan yang diberikan terj=
adi
dalam konteks relasi persaudaraan itu.&nbs=
p;
Peringatan "Jangan kamu pura-pura tidak tahu" kebutuhan se=
sama
(Ul. 22.1-4) mencerminkan ikatan sosial yang tidak memungkinkan diakonia ya=
ng
"anonim".
2. Diakonia berhubungan langsung
dengan sistem ekonomis dalam suatu masyarakat. Kebijakan-kebijakan menyangkut str=
uktur
ekonomis Israel kuno diarahkan kepada pencegahan kemiskinan yang
berlarut-larut, dan bukan untuk
mempromosikan kekayaan. S=
oal
"cari kaya" agaknya kurang mendapat tempat dalam cakrawala berpik=
ir
tradisi Israel kuno. Tuhan Al=
lah
telah menjamin kemakmuran, asal orang Israel tetap utuh memelihara
perjanjiannya.
3. Oleh karena itu, pengaturan kehidu=
pan
ekonomis lebih mengutamakan keutuhan masyarakat dan pemeliharaan lingkungan
alam sebagai dasar hidup daripada kemajuan ekonomis secara kwantitatif. Timbulnya jarak di antara kaya dan
miskin dilihat sebagai ancaman terhadap seluruh umat Israel yang harus dice=
gah.
4. Kesetiakawanan terhadap sesama yang
miskin mempunyai dampak politis juga.
Israel mengenal diri sebagai bekas budak yang telah dimerdekakan
Tuhan. Kalau orang terpaksa m=
enjual
diri ke dalam perbudakan (biasanya karena kemiskinan), maka visi tentang Is=
rael
sebagai masyarakat yang merdeka semakin pudar dan kembali kepada keadaan
Mesir. Dengan demikian karya
penyelamatan Allah disia-siakan.
Secara politis, hanya orang merdeka dapat mengikat perjanjian, dan k=
alau
orang Israel diperbudak oleh kemiskinan, berarti umat perjanjian sendiri
semakin terkikis. Dalam panda=
ngan
tradisi ini, orang Israel tidak boleh menjadi hamba pada pihak lain, karena
mereka semua diasingkan sebagai hamba-hamba Tuhan. (Hal yang juga mendasari alergi
masyarakat Israel kuno terhadap institusi kerajaan.)
5. Motifasi untuk kesetiakawanan ini
bukanlah belas kasihan, ataup=
un
karena orang-orang tertentu bersifat baik hati. Berulang-ulang ditekankan bahwa se=
gala
tindakan saling menolong, segala peraturan untuk memelihara sesama berdasar=
kan
respons terhadap karya keselamatan Tuhan.&=
nbsp;
Dalam kata lain, hesed m=
anusia
mengalir dari rasa syukur terhadap <=
/span>hesed Allah.
&=
nbsp; Sebagaimana
dikatakan seorang sosiolog (Georg Simmel), "Hidup bermasyarakat tidakl=
ah
mungkin tanpa rasa syukur." Pemandangan
seperti ini, yang agak sejajar dengan pemahaman Israel kuno, sangat berlawa=
nan
dengan pandangan dasar kapitalisme, yang mengasumsikan individu-individu ya=
ng
saling terikat hanya berdasarkan kesamaan kepentingan.
&=
nbsp; Secara
lebih umum, kita dapat menarik kesimpulan dari pembahasan yang singkat ini
bahwa diakonia seharusnya difahami dalam konteks sosial-budaya di mana ia b=
erkembang.
Ini disebabkan karena diakonia pertama-tama merupakan sebuah respons terhad=
ap
kegagalan struktur masyarakat untuk memelihara mereka yang miskin dan terla=
ntar
dalam masyarakat itu. Dari se=
gi
itu, wujud diakonia sangat bergantung pada suatu struktur sosial, ekonomis,=
dan
politis tertentu yang menghasilkan dan mewarnai kemiskinan masyarakatnya.
&=
nbsp; Lebih
lanjut, diakonia mengungkapkan sebuah visi tentang
cita-cita yang hendak terwujud dalam masyarakat yang bersangkutan. Justru dalam pelaksanaan diakonat
maka pemahaman diri suatu
masyarakat dipertaruhkan. &qu=
ot;Diakonia"
Israel kuno melekat pada pemahaman diri mereka sebagai umat perjanjian. Untuk alasan itulah maka kita meng=
angkat
masyarakat Israel kuno daripada mulai saja dengan tokoh Yesus Kristus
sebagaimana digambarkan dalam Perjanjian Baru. Karena Yesus orang Nasaret itu ada=
lah
orang Israel yang sejati.
Yesus Sang Diakonos
&=
nbsp; Dalam
Injil menurut Lukas, ki=
ta
mendengar suara Yesus untuk p=
ertama
kali di muka umum ketika Ia membaca dari kitab Nabi Yesaya:
Roh Tuhan
ada padaKu,
oleh seb=
ab
Ia telah mengurapi Aku,
untuk
menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;
dan Ia t=
elah
mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan=
kepada orang-orang tawanan,
dan
penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk
membebaskan orang-orang yang tertindas,
untuk
memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. (Lukas 4.18-19)
Dan Yesus
melanjutkan, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu
mendengarnya." Secara
terang-terangan Yesus menyatakan bahwa Ia telah datang untuk mewujudkan apa
yang diberitakan Nabi Yesaya mengenai pemulihan kembali umat Israel. Kalau demikian, mengapa para pendengar marah sampa=
i mau
melemparkan Dia dari tebing gunung?
&=
nbsp; Kelihatannya
mereka marah karena Yesus menyatakan bahwa sebenarnya mereka tidak mau mene=
rima
pemberitaan ini, walaupun pura-pura senang. Malahan orang-orang asing lebih
&=
nbsp; Jawaban
singkat adalah bahwa pesan Yesus itu terlalu berbahaya, terlalu mengancam
keamanan mereka. Nubuat Yesay=
a yang
Yesus angkat menyatakan kemerdekaan kepada orang-orang tawanan--hal yang da=
lam
konteks kontemporer berarti melawan pemerintahan Romawi serta anak buahnya =
Raja
Herodes. Selain bahaya politi=
s,
adapun ancaman terhadap kepentingan ekonomis. Ungkapan "tahun rahmat Tuhan&=
quot;
merupakan khiasan untuk Tahun Yobel.
Para tokoh masyarakat yang telah merampas tanah suku menjadi miliknya
pribadi tidak mungkin gembira kalau disuruh membagi-bagikan tanah itu kepada
rakyat. Para pedagang yang pe=
gang
"bon" dari rakyat tidak mungkin setuju untuk hutang-hutang itu
dihapus. Dan rakyat sendiri t=
akut
kalau bahasa yang terlalu radikal (walaupun mengandung pengharapan bagi mer=
eka)
justru mengundang represi dari pihak keamanan. Pantas kalau mereka mau melemparkan
Yesus dari tebing. Justru mereka melakukan sebuah upa=
cara
tradisional untuk menolak bala dengan memakai Yesus sebagai pengganti kambi=
ng
berbulu hitam. (Andaikata per=
istiwa
ini benar-benar historis, maka perbuatan mereka merupakan tindakan yang agak
"pintar" secara politis: kalau terjadi apa-apa, mereka bisa
mengatakan kepada fihak yang berwajib, "Memang dia orang Nazaret, tapi
kami sudah tolak.")
&=
nbsp; Kelanjutan
dari Injil Lukas merupakan perwujudan dari apa yang difirmankan Yesus di
Nazaret. Banyak orang sakit
disembuhkan, orang-orang buta diberi penglihatan, lima ribu orang lapar dib=
eri
makan, orang miskin mendengar kabar baik (dan orang-orang kaya mendengar ka=
bar yang
mengecewakan). Ketika murid-m=
urid
Yohanes mendatangi Yesus untuk menanyakan identitasNya, mereka mendapat jaw=
aban
yang sama seperti dengan orang-orang Nazaret (ditambah dengan, "Dan
berbahagialah orang yang tidak tersinggung dengan Aku."--rupanya Yesus
sudah belajar dari pengalaman). Dalam
pergaulanNya Yesus lebih akrab dengan orang-orang yang dikesampingkan dalam
masyarakat. Dalam pengajaranN=
ya
Yesus memberitakan Allah yang mengutamakan orang-orang miskin dan tertindas,
Allah yang menunjukkan hesedNya
kepada orang-orang yang berdosa dan merangkul mereka kembali dalam persekut=
uan
denganNya. Kalau semuanya ini
dibaca dengan kacamata tradisi Israel kuno, maka sulit menghindari kesimpul=
an
bahwa dalam pelayanan Yesus k=
ita
menemukan suatu upaya pembaharuan dan transformasi seluruh Umat Perjanjian
berdasarkan suatu sejarah, visi, dan panggilan yang diwarisi bersama.
&=
nbsp; Tapi
apakah praxis pelayanan Yesus ini dapat dikatakan "diakonia"?
Bukankah suatu keterlaluan kalau seluruh pelayanan Yesus disebut "diak=
onia"? Secara harafiah memang
diakonia berarti "pelayanan", khususnya pelayanan di meja makan, =
dan
secara lebih luas, pelayanan pada kebutuhan dasar manusia. Kita hanya merasa suatu kega=
njilan
karena kata "pelayanan" sudah dicabut giginya. Masa kini apa saja yang dibuat oleh
seorang pendeta, penatua, tim doa, atau siapa saja yang membawa nama Yesus
disebut "pelayanan."
Menjual jasa saja disebut "pelayanan", entah di bank, di t=
oko,
atau di gereja. Jelas kita ti=
dak
akan menangkap makna diakonia kalau kita hanya main kamus.
&=
nbsp; Lebih
baik kita dengar dari Yesus sendiri, menurut apa yang diturunkan Lukas. Di sini kita masuk ke dalam suatu
masalah dalam bidang Biblika yang cukup rumit, yang biasa disebut masalah
"kesadaran Mesianis." Memang
Yesus disebut Kristus, Messias, Juruselamat oleh gereja kuno (dan pertama-t=
ama
oleh Petrus, menurut tradisi).
&=
nbsp; Tapi
Yesus sendiri mengatakan apa? Siapakah
Yesus menurut Yesus? Nampakny=
a Ia
tidak pernah mengenakan gelar Mesias itu pada dirinya, betapun orang lain m=
au
mengenakannya. Menurut Lukas,
ketika Petrus mengaku Yesus sebagai "Mesias dari Allah", dia tidak
dipuji, tapi justru ditegur supaya jangan sekali-kali bicara begitu di muka
umum. Yesus dalam Injil Lukas
jarang memakai gelar apapun, kecuali "anak manusia", dan itupun
secara tidak langsung. "=
Anak
manusia" pun agak kabur artinya:
dapat bersifat mesianis, tapi juga banyak dipakai dalam arti
"manusia yang sejati", ataupun "rakyat jelata". Dari segi itu memang gelar anak ma=
nusia
sangat cocok dengan kesetiakawanan yang Yesus tunjukkan kepada orang-orang =
yang
terhina.
&=
nbsp; Selain
anak manusia ada satu gelar dalam Injil Lukas yang Yesus secara langsung
mengenakan pada dirinya, walaupun hanya satu kali. Tetapi peristiwa di mana gelar itu
diungkapkan sangat penting. P=
ada
malam terakhir Yesus berkumpul dengan para muridnya untuk merayakan Paskah
(yang nota bene adalah pesta yang merayakan pembebasan orang Israel dari
perbudakan di Mesir). Setelah=
Ia
memberkati roti dan anggur dan membagi-bagikannya, Ia mengejutkan para murid
dengan berita bahwa Ia akan diserahkan oleh salah satu di antara mereka.
Raja-raja
bangsa-bangsa memerintah mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas
merka disebut pelindung-pelindung. <=
/span>Tetapi
kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar diantara kamu hendaklah men=
jadi
sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Sebab siapakah yang lebih besar: y=
ang
duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? tetapi Aku ada di tengah-tengah ka=
mu
sebagai pelayan. (22.25-27)
Supaya r=
asa
bahasa lebih tepat, ijinkan kami memakai bahasa Yunaninya: "Aku ada di tengah-tengah kamu
sebagai diakonos." Memang Yesus sendiri tidak memakai
bahasa Yunani, dan kita tidak tahu kata apa dalam bahasa Aram yang
dipakainya. Tetapi referensin=
ya
kepada tradisi Israel cukup jelas dari apa yang menyusul. Yesus berjanji bahwa mereka yang t=
ahan
uji bersama denganNya akan "duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua
belas suku Israel"--yang menggambarkan (sekarang secara eskatologis ya=
ng
mengharukan juga) suatu pemulihan kembali daripada konfederasi suku pada za=
man
hakim-hakim--lain dari "raja-raja" tersebut di atas. Selanjutnya, berhubungan dengan
penderitaan yang akan dihadapiNya, Yesus mengutip sekali lagi dari Nabi Yes=
aya
(dari salah satu "Nyanian Hamba Tuhan", Yes. 53.12):
Sebab Aku
berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci harus digenapi padaKu: Ia akan terhitung di antara
pemberontak-pemberontak. (22.37)
Rupanya =
apa
yang dicurigai oleh masyarakat sekampungNya di Nazaret pada waktu dulu itu
memang tepat.
&=
nbsp; Menurut
kami, perikop ini barulah masuk akal secara redaksional kalau (1) Lukas den=
gan
sadar mau mengangkat konsep "diakonos" sebagai suatu gelar yang
mengungkapkan inti identitas Yesus, sehingga pernyataanNya ditempatkan pada
puncak riwayat pelayananNya; (2) Diakonos yang dimaksud dihubungkan dengan
tokoh ebed Yahweh dalam tradisi=
Nabi
Yesaya yang telah mewarnai gambaran Lukas tentang Yesus sejak awal; dan (3)
karya keselamatan daripada hamba Tuhan itu merupakan suatu transformasi sos=
ial,
ekonomis, politis dan religius secara menyeluruh. Transformasi dimaksud memandang ke=
mbali
pada cita-cita Israel kuno seperti digambarkan pada bagian pertama di atas,=
dan
ke muka secara eskatologis, pada Kerajaan Allah yang mendatang.
&=
nbsp; Kalau
analisis ini dapat dipertahankan, maka "Yesus Sang Diakonos"
sebenarnya patut ditambahkan pada leksikon teologis kita sebagai salah satu
gelar kristologis--dengan segala konsekwensi terhadap eklesiologi kita juga
(band. Avery Dulles, Model-Model Ge=
reja).
Konsekwe=
nsi-konsekwensi
yang dimaksud dapat kami gambarkan secara singkat sebagai berikut:
1. Dalam pelayanan Yesus mereka yang
dikesampingkan, yang terhina dalam masyarakat dipulihkan kembali. Orang sakit, orang gila/kerasukan,=
orang yang dianggap najis disembuh=
kan
dan dikembalikan pada persekutuan dalam masyarakat. Kesetiakawanan Yesus dengan para
"sampah masyarakat" menjadi tanda khas dalam pelayananNya. Dengan demikian diakonia dan koino=
nia
merupakan dua sisi dari satu relasi.
Gereja yang mengikut Yesus dalam hal ini akan diukur bukan dari
"pusat" persekutuannya, melainkan dari pinggir, dari jangkauannya
untuk merangkul mereka yang dimarginalisasi.
2. Berulangkali Yesus membalik urutan
pangkat sosial. Ia membasuh kaki muridNya sep=
erti
seorang budak atau pembantu rumah tangga.&=
nbsp;
Ia mengatakan bahwa yang terbelakang akan menjadi yang terkemuka, dan
dalam berbagai perumpamaan Ia menggambarkan bagaimana orang "berdosa&q=
uot;
dibenarkan dan orang "benar" dihukum. Dalam masyarakat yang menganggap
kemiskinan sebagai hukuman Tuhan dan kekayaan sebagai berkat, Ia mengucapkan
berkat atas orang-orang miskin dan "celaka" pada orang-orang
kaya. Mengingat tradisi Israel
kuno, dapat dikatakan bahwa perbedaan kaya dan miskin seperti terdapat pada
zaman Yesus merupakan tanda ketidakadilan sosial, di mana orang-orang kaya
bukan hanya gagal menunjukkan hesed=
kepada sesamanya yang miskin, melainkan membangun struktur-struktur
sosial-ekonomis yang ditopang oleh struktur kuasa yang menyebabkan
kemiskinan. Struktur-struktur=
itu
dirombak dalam pemberitaan dan pelayanan Yesus.
Dalam gereja yang mengikut Yesus, semua perbedaan sosial dan ekonomis akan direlativisir, dan tolok ukur bagi semua warganya adalah kesetiakawanan den= gan sesama yang miskin. Selain it= u, misi gereja yang diakonal termasuk perlawanan terhadap segala ketidakadilan struktural, entah dalam bidang sosial, ekonomis, politis, maupun religius.<= o:p>
3. Sulit disangkali bahwa dalam pembe=
ritaan
Yesus Allah memihak pada orang-orang miskin dan terhina. Hal ini tidak berarti bahwa orang-=
orang
miskinlah yang lebih "baik" daripada orang-orang kaya: "Semua
orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." Allah memihak pada orang miskin ka=
rena
kasihNya, hesedNya; karena mere=
ka
menderita dan Allah tidak suka kalau anak-anakNya menderita. Pelayanan diakonal yang menunjukkan
kasih Tuhan seperti itu tidak akan memandang baik-buruknya orang yang
dilayani. Mereka patut dilaya=
ni
karena mereka menderita. Titi=
k.
Sebaliknya,
walaupun diakonia bisa saja memperbaiki keadaan hidup dari mereka yang
dilayani, belum tentu bahwa dengan demikian mereka sendiri menjadi
"baik." Bisa saja m=
ereka
mengambil kesempatan untuk bertambah jahat. Pengemis bisa mengambil bantuan ya=
ng
diberikan dan beli "A.O." untuk minum mabuk. Nona manis bisa menyerahkan anak
haramnya kepada panti asuhan supaya dia bisa bermain bebas lagi.
Walaupun
demikian, mengurangi penderitaan manusia adalah baik, entah orang yang diba=
ntu
adalah baik atau tidak. Diako=
nia
dibenarkan semata-mata oleh
pengurangan penderitaan dan peningkatan kesejahteraan manusia, tanpa menuntut apa-apa sebagai imb=
alan
(misalnya harus masuk Kristen, lebih rajin ke gereja, dsb.). Hanya dengan demikian maka diakonia
menjadi tanda kasih karunia Allah yang ada dalam Yesus Kristus.
4. Kasih Allah yang kita kenal dalam =
Yesus
Kristus adalah kasih yang mengorbankan diri. Justru kasih itu bersifat pengorba=
nan
karena tidak mungkin dibalas atau diberi imbalan dalam kehidupan ini. Seperti dikatakan R. Niebuhr, kasih
yang berkorban tidak masuk akal dalam kerangka berpikir historis--karena
cakrawala historis berakhir dengan maut.&n=
bsp;
Kasih yang berkorban bukanlah suatu risiko yang pada satu ketika dap=
at
saja menguntungkan.
Sebagaim=
ana
dengan Yesus, demikian juga bagi gerejaNya, cakrawala diakonia bukanlah dal=
am
keberhasilan atau kegagalan suatu proyek atau gerakan sosial, melainkan dal=
am
kehendak Tuhan. Hanya dengan
demikian maka diakonia menjadi tanda Kerajaan Allah--Kerajaan yang tetap da=
lam
tangan Tuhan.
&=
nbsp; Dalam
kata lain, diakonia tidak berlandasan analisis sosial dan strategi-strategi,
melainkan iman. Justru perspe=
ktif
iman yang memungkinkan suatu keberanian etis untuk memperjuangkan suatu visi
keadilan yang tidak akan tercapai dalam kehidupan kita. Khususnya dalam masyarakat yang mendewakan
"pembangunan" dan tidak capai-capai menyembelih korban-korban man=
usia
pada altarnya, baiklah kalau gereja mengingat bahwa kita selamat oleh iman,
bukan oleh pembangunan. Dibawah
salib Yesus Kristus, pembangu=
nan
tampil sebagai suatu dialektika:
dibalik setiap langkah maju, setiap target yang tercapai, muncullah
suatu kesempatan yang baru untuk dosa dan penindasan. Kalau memang ada "pemban=
gunan
dalam bidang agama", maka ia terdiri dari pengembangan suatu kesadaran
moral yang mampu menanggapi kenyataan-kenyataan baru yang semakin
kompleks. Pemikiran ini tidak
sinis--hanya rendah hati. Ora=
ng
Kristen jangan mengharapkan sebuah pemenangan yang melebihi pemenangan Kris=
tus.
&=
nbsp; Pembahasan
ini sangat singkat, dan tanpa catatan-catatan kaki secukupnya untuk lolos
sebagai pembahasan yang ilmiah--hal yang harus menanti kesempatan yang
lain. Harapan kami ialah supa=
ya
kita semua ditantang oleh pemikiran yang dikemukakan ini untuk meninjau kem=
bali
konsepsi kita tentang diakonia, oleh sebab apa yang diwarisi GMIT selama ini
memang terlalu kerdil kalau dibandingkan dengan pelayanan Yesus sendiri. Ka=
mi
dibawa pada satu kesimpulan yang sederhana--yang gampang difahami tapi amat
sulit dilakukan: Diakonia sebagai relasi saling menolong dalam
kesetiakawanan bukanlah suatu "pelayanan khusus", melainkan merup=
akan
inti dari kehidupan bermasyarakat bagi orang Kristen.
=
&nb=
sp; =
&nb=
sp; =
&nb=
sp; =
&nb=
sp; =
&nb=
sp;
&=
nbsp; Okelah, kita semua mengaku dosa.
[1]<=
![endif]>Tentu tidak ada konsepsi tentang diakonia dalam PL yang persis sama den=
gan
apa yang difahami gereja dengan kata itu. Selain perbedaan bahasa, perlu
disadari bahwa diakonia adalah hasil perkembangan historis yang sangat
rumit. Yang kita cari dalam PL
adalah latarbelakang sosial-religius dalam kalangan ibrani yang mewarnai
pengungkapan diri Yesus sebagai diakonos.
[2]<=
![endif]>Gambaran tentang Israel kuno yang terdapat dalam Alkitab tentu tidak sa=
ma
persis dengan kenyataan historis.
Khususnya Israel kuno dilukiskan menurut kacamata reformasi
Deuteronomis, sehingga hal menyaring aspek yang "asli" dari aspek
yang merupakan tambahan redaktor merupakan sumber perdebatan akademis yang
cukup berkepanjangan. Kami ti=
dak
masuk perdebatan itu di sini, karena yang lebih berperan dalam pembentukan visi diakonal orang Kr=
isten
adalah versi Israel kuno yang diwarisi sampai dengan zaman Yesus, yaitu yang
sudah dipengaruhi reformasi Deuteronomis. =
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
11 |