MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C96.E50DAEA0" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C96.E50DAEA0 Content-Location: file:///C:/C97712E1/empatkata.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii" Sumber: www

Sumber:= www.oaseonline.org

&n= bsp;

&n= bsp;

Empat Kata tentang Khotbah

oleh John Campbell-Nelson=

 

            Ada banyak buku pedoman yang menawarkan resep untuk menyusun sebuah khotbah lan= gkah demi langkah.  Pada umumnya buku-buku ini baik-baik saja secara teoretis, tapi sia-sialah dalam praktek.  Kebanyakan pengkhotb= ah pada akhirnya menemukan jalannya sendiri secara agak alamiah.  Pada mulanya bisa saja mereka meng= ikuti pedoman yang pernah mereka pelajari, tapi lama-kelamaan mereka bagaikan juru masak yang sudah mengenal hidangannya, dan tidak mengikuti resep lagi.=

&nbs= p;

Dalam catatan-catatan berikut ini, kami tidak menawarkan satu resep baru.  Kami tidak bermaksud untuk menggan= tikan metode yang anda sudah kembangkan sendiri dan yang sudah cukup melayani kebutuhan anda.  Yang kami taw= arkan adalah empat kiasan saja, yang mengandung empat sudut pandang terhadap apa = yang dilakukan oleh sebuah khotbah, khususnya dari sudut pandang para pendengar.  Diharapkan bahwa pokok-pokok pikir= an ini bisa menambah “perkakas” dalam upaya anda untuk melayani jemaat melalui tugas pemberitaan. 

&nbs= p;

Secara kh= usus, empat kata ini dikembangkan melalui pengalaman kami dalam membantu para pen= atua dan diaken menemukan cara menyusun renungan yang pas pada keperluan mereka dalam pelaksanaan tugas pemberitaan setiap minggu.  Oleh karena itu, sedapat mungkin n= ada akademis dan bahasa teknis teologis dibatasi.  Namun demikian, diharapkan bahwa e= mpat kata ini dapat bermanfaat baik bagi kaum awam maupun bagi para pendeta dalam tugas yang sangat muliah ini, tapi yang dalam kenyataan sangat “memer= as otak” juga.

&nbs= p;

&nbs= p;

Jembatan<= o:p>

 

Khotbah adalah j= embatan di antara dunia Alkitab dan dunia jemaat masa kini.

 

Membangun jembatan dan menyeberang di antara kedua dunia ini adalah tugas khotbah yang utama.  Bagaikan seorang musaf= ir yang baru pulang dari perjalanan yang jauh ke dunia Alkitab, dan lagi berce= rita pada teman-teman di kampung halaman tentang semua hal yang ajaib yang ditem= ukan di sana--itulah pekerjaan seorang pengkhotbah.

 

 Kita baru membutuhkan jembatan kalau ada jurang.&nbs= p; Dan memang perlu diakui bahwa ada jurang yang lebar di antara dunia = kita sekarang dan dunia yang nampak dalam Alkitab.  Selain soal waktu yang begitu lama (hampir 2000 tahun sejak penulisan surat-surat Rasul Paulus, misalnya, dan 3,800 tahun sejak peristiwa keluaran dari Mesir), ada juga perbedaan-perbed= aan dalam lingkungan alam (siapa pernah melihat seekor unta di Timor?), bahasa (untung ada terjemahan), budaya, sosial, politik, dan ekonomis.  Pada zaman Yesus, orang boleh beri= steri lebih dari satu, tapi tidak boleh makan daging babi.  Kita makan daging babi pada setiap kesempatan, tapi tidak boleh berpoligami.&= nbsp; Pada zaman Yesus, roti dan anggur adalah makanan dan minuman yang pa= ling sederhana, seperti ubi dan laruh bagi kita--sedangkan kalau kita mau minum anggur, boleh ke Timor Leste untuk beli barang impor dari Portugal dengan h= arga yang lumayan mahal.  Dan roti = belum lama menjangkau masyarakat biasa; sebelumnya, ia adalah makanan khas para e= lit penjajahan Belanda.

 

Hal seper= ti perbedaan makan-minum sebenarnya tidak apa-apa.  Tapi bisa juga kita kehilangan mak= na kalau kita tidak melihatnya dengan jernih.  Kalau misalnya kita anggap roti dan anggur sebagai hal yang sangat istimewa, maka kita bisa salah faham makna perjamuan kudus sebagai suatu ri= tus untuk orang-orang kudus saja, daripada sebuah "pesta pembebasan rakyat= " seperti Yesus rayakan bersama murid-muridnya. 

 

Ada juga hal-hal yang tampaknya kita bisa langsung mengerti, tapi dalam kenyataan ka= lau kita pakai pengertian kita sekarang, kita akan sesat.  Misalnya, Yesus dikecam oleh para = Farisi karena ia bergaul dengan "orang-orang berdosa."  Kita pikir kita tahu siapa itu, "orang-orang berdosa":  para pencuri, pemabuk, pelacur, pezinah, dsb.  Tapi bagi orang Farisi, yang diseb= ut berdosa bukan hanya itu saja, melainkan semua orang yang tidak memenuhi kewajiban agama, terutama dalam hal melaksanakan ritus-ritus korban, memeli= hara pantangan-pantangan menurut Hukum Taurat, dan membayar pajak Bait Suci.  Justru orang-orang miskin yang tid= ak sanggup membayar pajak, orang-orang yang terpaksa mengerjakan pekerjaan yang "najis", orang yang menyandang cacat dan penyakit---itulah yang dimaksudkan "orang berdosa" oleh para Farisi. Jadi ternyata Yesus dikecam bukan karena dia suka bergaul di Teddy's Bar, tapi karena dia solid= er dengan orang-orang yang paling susah and miskin melarat.  Kalau pakai tolok ukur para Farisi= , maka orang-orang berdosa di lingkungan GMIT adalah mereka yang tidak sanggup unt= uk Nikah Masehi (karena belum bisa bayar belis?), atau jemaat yang tidak bisa bayar gaji pendeta sesuai SK dan kurang rajin menyetor 35%. 

 

 

Tentu unt= uk menangkap semua ciri khas dari dunia Alkitab bukanlah hal yang bisa diharap= kan dari para pengkhotbah kaum awam.  Justru karena itu ada sekolah teologi dan persyaratan pendidikan yang cukup tinggi untuk menjadi seorang pendeta.  Dalam hal ini, pendeta harus menja= di narasumber, semacam "tour guide" (juru wisata?) untuk jemaat di "negri asing" Alkitab.  Bagi para penatua dan diaken yang juga mendapat tugas pemberitaan, c= ukuplah kalau mereka berjalan dengan hati-hati (dan rendah hati) dan jangan "s= ok tahu" tentang dunia Alkitab. 

 

Namun leb= ih dari semua perbedaan historis dan budaya, ada suatu "keanehan" da= lam dunia Alkitab yang lebih utama.  Allah yang diperkenalkan dalam Alkitab adalah Allah yang sungguh asi= ng menurut pola pikir manusia yang mana saja, entah pada zaman Yesus atau pada zaman sekarang.   Allah m= acam apa akan memilih sekelompok budak dan buruh kasar untuk dijadikan umatNya, seperti orang-orang Ibrani di Mesir? Allah macam apa akan melahirkan anakNya dalam sebuah kandang hewan, dan kemudian menyerahkanNya untuk disalibkan ta= npa perlawanan apa-apa?  Seperti k= ata Rasul Paulus, "Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yu= nani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan." (I Kor. 1.23)  Justru jurang di antara "jalan Tuhan" dan jalan manusia ya= ng paling penting dijembatani dalam khotbah-khotbah kita.

 

 Gambaran mengenai jembatan ini tera= mbil dari makna dasar dari kata Yunani yang biasa diterjemahkan dengan "tafsiran":  herm= enuein.   Hermenuein dalam bahasa Yunani berarti "menyeberangkan."  Sebuah batu perbatasan disebut herm, sehingga hermenuein <= /i>berarti membawa sesuatu lewat perbatasan.  Kalau perbatasan tersebut adalah bahasa, maka hermenuein bera= rti "menterjemahkan"--menyeberangkan suatu makna lewat batasan-batasan bahasa.  Demikian juga, dewa Y= unani yang adalah pembawa berita kepada manusia diberi nama "Hermes," d= an ia biasa digambarkan dengan sayap di kaki, supaya dia bisa menyeberang di antara surga dan bumi dengan cepat.  Mungkin ada sedikit kemiripan dengan kiasan yang dipakai dalam bahasa Timor untuk seorang pembawa berita sebagai haif--"kaki."

 

Dengan la= tar belakang ini, kita bisa mengerti peranan hermeneutik dalam pemberitaan Kris= ten, yaitu, menyeberangkan makna asali dari konteks dan bahasa aslinya kedalam konteks dan bahasa para pendengar, sehingga pendengar yang sekarang menangk= ap makna yang sama seperti yang ditangkap oleh para pendengar asli.  "Makna" yang dimaksud di= sini bukan sekadar arti sebuah kalimat, melainkan mencakup dampak dan penghayatan yang mendalam terhadap inti pemberitaan.&n= bsp; Misalnya, kalau kita berkhotbah dari Yoh. 8.2-11 tentang perempuan y= ang berzinah, jemaat akan mendengar perkataan Yesus, "Akupun tidak menghuk= um engkau.  Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi." Dari segi bahasa, tidak ada yang sulit difahami di sini.  Tapi apakah para "= orang yang benar" dalam jemaat turut merasa malu atas semangat mereka untuk menghakimi orang?  Dan apakah = para "orang berdosa" dalam jemaat akan pulang dengan perasaan bahwa me= reka baru luput dari hukuman maut, dan mereka diberi kesempatan hidup yang baru?=   Hanya kalau dampak dan penghayatan= akan perkataan Yesus ini terasa juga oleh jemaat masa kini, maka dapat disebut b= ahwa pesan asli dari Injil "diseberangkan" lewat jembatan yang dibangun oleh khotbah kita.

 

  

Jembatan yang ba= ik bersifat dua arah

 

Tentu kal= au ada jembatan satu arah, maka semua kendaraan akan tertempuk di seberang, dan ti= dak ada yang bisa kembali.  Untuk memenuhi fungsinya sebagai penghubung, maka sebuah jembatan harus menampung lalu-lintas dua arah.  Namun p= ola pemberitaan kita justru cenderung untuk satu arah saja: dari dunia Alkitab menuju dunia jemaat.  Kita dia= ntar oleh kebiasaan dan diajak oleh daftar pembacaan untuk tahun gerejawi dari Sinode untuk selalu mulai dengan sebuah perikop (teks Alkitab) dan mengenakannya pada jemaat.  Po= la ini tidak salah pada dirinya.  Mem= ang Firman Tuhan yang dikandung dalam Alkitab adalah norma dan sumber bagi pemberitaan kita.  Namun seper= ti dengan jembatan satu arah, kalau kita hanya berangkat dari Alkitab menuju jemaat, justru kita pele jalan dari jemaat menuju Alkitab.

 

Maksud ka= mi begini:  setiap jemaat mengala= mi pergumulan dalam hidupnya sehari-hari, dan setiap masyarakat ada perkembangan-perkembangan yang menimbulkan kebingungan dan frustrasi bagi warganya.  Dan setiap saat bol= eh saja terjadi peristiwa-peristiwa yang menggoncangkan iman.  Wajar saja kalau jemaat hadir di g= ereja dengan harapan bahwa masalah-masalah ini akan tersentuh dalam khotbah. Dan memang mereka berhak untuk mengharapkan hikmat dan bimbingan dari iman Kris= ten untuk pergumulan hidup mereka secara tepat waktu. Namun seringkali harapan = itu dikecewakan. Dulu waktu Porkas masih merajalela, jemaat di sekitar Kupang banyak bertanya kalau orang Kristen boleh main Porkas, ataukah hal ini merupakan sejenis perjudian?  = Waktu itu saya membuat survei sepintas lalu di seputar kota Kupang, dan saya tidak dapat satupun pendeta yang melapor bahwa dia berkhotbah untuk memberi arahan pada jemaat tentang soal Porkas.  Memang Porkas tidak ada dalam Alkitab, jadi kalau hanya berangkat da= ri Alkitab, kita tidak akan sampai pada soal Porkas secara alamiah.  Atau waktu jemaat siap-siap ke TPS= pada tanggal 20 September 2004 untuk memilih Presiden secara langsung untuk pert= ama kali sejak lahirnya Republik Indonesia, apakah pada tanggal 19 (hari minggu) mereka mendapat bimbingan dan hikmat dari mimbar tentang bagaimana memilih sebagai tindakan iman?  Belum tentu.  Dalam kemungkinan yang paling jelek, bisa saja jemaat mendapat pokok pemberitaan yang justru berlawanan dengan kebutuhan mereka, seperti pada sebuah pesta pengucapkan syukur hari ulang tahun yang pernah saya hadiri.  Pendeta berkhotbah dari kitab Rata= pan dengan alasan bahwa lagi musim sengsara menurut tahun gerejawi, dan Ratapan adalah bacaan yang telah dijadwalkan untuk minggu itu!  Siapa tidak marah kalau kelahirann= ya seolah-olah diratapi oleh pendeta?

 

Menentukan pokok pemberitaan semata-mata berdasarkan sebuah daftar pembacaan untuk tah= un gerejawi adalah sama seperti seorang dokter menentukan resep obat berdasark= an kalendar.  Orang datang dengan infeksi di kaki, dan dokter melihat kalendar baru memberi klorokwin--dengan alasan bahwa klorokwin adalah obat untuk minggu ini, dan jadwal untuk antibiotika baru bulan depan!  Dokter seperti itu akan cepat kehilangan pasien, namum pendeta masih terus berani untuk menentukan pokok khotbah berdasarkan kalendar dan bukan berdasarkan pergumulan jemaat.

 

Dengan pertimbangan seperti ini, perlu ditegaskan bahwa jembatan khotbah adalah jembatan dua arah.  Adalah sam= a sah kalau berangkat dari kebutuhan jemaat dan menuju Alkitab untuk mencari hikm= at, atau berangkat dari perikop berdasarkan tahun gerejawi untuk diterapkan pada kehidupan jemaat.  Ada saja sa= at dalam tahun gerejawi di mana mau tidak mau kita akan bertolak dari bacaan-bacaan tertentu--terutama menjelang hari-hari raya gerejawi.  Tetapi pada kesempatan yang lain, = maka jauh lebih menyentuh kebutuhan jemaat kalau kita bertolak dari realitas hid= up mereka, baru mencari pertolongan dalam kesaksian Alkitab.=

 

 

Sebuah jembatan = harus sama kuat pada kedua kakinya

 

Kalau jem= batan hanya kuat di kaki yang satu, tapi lapuk di kaki yang lain, tentu kita bisa jatuh di tengah.  Demikian juga sebuah khotbah harus sama kuat di Alkitab dan di jemaat.  Kalau kita rajin mempelajari dan menafsirkan Alkitab, baiklah.  Tapi kita harus sama rajin mempelajari dan menafsirkan jemaat.  Tafsiran Alkitab dan analisis sosi= al berjalan bersama dalam sebuah khotbah yang baik.  Kalau tidak, kita bisa menafsirkan Alkitab dengan baik sekali, tapi tidak menyambung dengan suatu realitas di jemaat.  Khotbah kita menjadi semacam kuliah yang disampaikan sekadar "supaya tahu."  Atau sebaliknya, kita uraikan permasalahan yang dialami oleh jemaat atau masyarakat secara cerdas, tapi t= idak ada pertolongan iman dari tradisi Kristen.=   Tapi kalau tafsiran Alkitab bertemu dengan tafsiran jemaat secara "pas"--itu baru kita membangun sebuah jembatan yang kokoh.

 

Tentu tid= ak ada buku tafsiran jemaat seperti ada buku tafsiran Alkitab.  Tapi itu tidak berarti tidak ada pertolongan.  Bagi para pendet= a, justru sejumlah pelajaran menyangkut psikologi pastoral, sosiologi pedesaan, antropologi budaya, dsb. termasuk dalam kurikulum teologi sebagai "ilmu tafsiran" jemaat.  Dan ba= gi para penatua dan diaken, tentu mereka yang hidup dan besar di tengah-tengah jemaat cukup mengenal lingkungan hidup mereka sendiri--asal dilihat secara sadar dan kritis.  Dan bagi se= mua pelayan, perkunjungan pastoral dan pergaulan sehari-hari dengan jemaat adal= ah bahan baku bagi pemberitaan.

 

Bagi hamp= ir setiap khotbah, membangun jembatan diantara Alkitab dan jemaat adalah langk= ah yang paling menentukan.  Kadang-kadang itu saja cukup: jemaat yang merasakan kehadiran Firman Tuhan bisa langsung menarik kesimpulan tanpa banyak penjelasan dari pengkhotbah: cukup dia mengantarkan mereka lewat jembatan yang dibangun oleh khotbah kedalam suatu relasi dengan Firman yang hidup.  Kalau jemaat dihadirkan pada suatu relasi dengan teks Alkitab, tinggal saja apa yang Yesus dan pa= ra nabi sebelumnya sering katakan: "Yang punya telinga, biarlah mereka mendengar; yang punya mata, biarlah mereka melihat."=

 

 

Kaca Mata=

 

Khotbah itu sepe= rti kaca mata yang membantu kita melihat diri kita dan lingkungan hidup kita dengan lebih terang.

 

Kita butuh kacamata kalau mata kita sendiri kurang terang.  Ini benar secara fisik, tapi benar= juga secara rohani.  Manusia kadang= kala "mata gelap"--menjadi buta oleh dosa, kepentingan, hawa nafsu, permusuhan, dsb.  Kalau kita bermusuhan dengan seseorang, kita hanya melihat kelemahan dan kekurangannya, dan cenderung melihat kebaikan yang ada padanya hanya sebagai sebuah ancama= n.  Kalau kita punya kepentingan terte= ntu, kita hanya melihat hal-hal yang mendukung kepentingan kita, dan tidak mau mengak= ui pandangan yang bertentangan.  = Dan biarpun dalam keadaan yang terbaik, toh, pengetahuan dan pemahaman kita terbatas pada apa yang kita sempat alami dan pelajari dalam perjalanan hidup kita.  Orang yang pintar di ka= mpung jadi bodoh kembali kalau dia pergi ke kota; sebaliknya, orang pintar di kota juga menjadi bodoh di kampung.  Pada akhirnya, kita semua terpaksa mengaku bersama Ayub, "tanpa pengertian = aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui." (Ayub 42.3) 

 

Alkitab adalah k= aca mata yang Allah sediakan bagi kita.

 

Terhadap ketidaktahuan manusia ini, Tuhan Allah menyediakan kaca mata.  Calvin menyebutnya Specula Scri= ptura:"kaca mata Alkitab."  Menurut C= alvin kita harus melihat dunia ini melalui kaca mata Alkitab baru kita melihatnya dengan jelas.  Pandangan kita = yang kabur oleh dosa menjadi terang kalau kita memasang pandangan Alkitab.  Atau Alkitab bisa diumpamakan seba= gai "buku pedoman" dari Sang Pencipta untuk membimbing para penghuni dunia ini.  Dia yang menciptak= an bumi ini yang sanggup menerangkannya pada kita.  Manusia yang melihat "dalam c= ermin suatu gambaran yang samar-samar" (I Kor. 13.12) dapat melihat dengan terang kalau dibantu oleh terang Firman Tuhan.

 

Dengan demikian, khotbah kita dapat mengenakan "Kacamata Alkitab" pada jemaat, supaya bersama-sama kita diajak untuk melihat kehidupan kita sebagaimana Tuhan memandangnya.  Coba:

 

  • Mema= ndang pada orang yang paling terhina dalam kampung anda; mungkin ia cacat fi= sik atau mental, mungkin dia keturunan budak dari zaman dahulu; mungkin dia hanya miskin melarat.  Sekarang, memasang kacamata Mazmur 8:  "Siapakah manusia sehing= ga Engkau mengingatnya?"  Apa yang anda lihat sekarang?

 

  • Atau menghadiri sebuah pesta pernikahan, di mana para tokoh masyarakat dukuk paling depan, dan makin ke belakang makin sederhana orangnya, sampai p= ada pemuda yang hanya berdiri di luar pagar dan ibu-ibu yang ada di dapur.=   Sekarang, memasang kacamata Y= esus ketika Ia menghadiri pesta yang serupa (Lukas 14).  Apa yang anda melihat sekaran= g?

 

  • Atau bacalah di surat kabar tentang pergulatan politik di DPRD, dan memasang kacamata Hakim-Hakim 9 (perumpamaan Yotham tentang "pohon-pohon m= au pilih raja").  Apa y= ang anda melihat di situ?

 

 Dalam semua contoh yang di atas, ki= ta dibantu oleh pandangan Alkitab untuk melihat secara lebih luas dan mendalam terhadap hal-hal yang tersembunyi pada pandangan umum dalam masyarakat setempat.  <= /p>

 

Selain ap= a yang kita peroleh dari perikop-perikop tertentu, ada juga konsep Alkitabiah yang membantu penglihatan kita: hal-hal seperti dosa, iman, anugerah, karunia, pengampunan, Kerajaan Allah, Roh Kudus, koinonia, marturia, diakonia, oikonomia.  Konsep-konsep = ini bukan sekadar ajaran untuk diketahui dan diamini, melainkan alat bantu supa= ya orang beriman mendapat wawasan yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri = dan sesama, tentang dunia ciptaan Allah, dan pada akhirnya tentang diri Allah sendiri.  Seperti dikatakan ol= eh Agustinus, "Credo ut intelligam"-- "Aku percaya supaya aku dapat mengerti."  Itu= lah keyakinan kita, bahwa jemaat yang percaya oleh pemberitaan Firman akan juga lebih mengerti kehidupan yang serba kabur ini.  Atau dalam perkataan Paul Ricoeur, "Alkitab merupakan sebuah perbendaharaan yang tidak dapat dihabisi, ya= ng membangkitkan pemikiran kita tentang segala sesuatu, dan yang mengandung su= atu tafsiran yang menyeluruh tentang seisi dunia."

 

Entah dari perikop tertentu atau melalui khotbah tematis tentang konsep-konsep teologi= s-Alkitabiah seperti di atas, sebuah khotbah berperan sebagai kaca mata bagi jemaat.  Kalau kita kenakan definisi teologi sebagai "Iman mencari pemahaman," maka khotbah yang menjernihkan = iman bagi jemaat adalah juga suatu upaya berteologi.

 

 

Kaca mata ada un= tuk melihat, bukan untuk dilihat.  <= /o:p>

 

Gila kala= u kita pegang kaca mata di tangan dan lihat-lihat dia punya gaya saja, tapi tidak = mau pakai untuk melihat.  Seringka= li kita mempelajari Alkitab tanpa berpikir untuk apa; seolah-olah Alkitab send= iri adalah tujuan kita, dan bukan iman pada Allah dalam Yesus Kristus.  Kita sebut "Pelayanan Firman Tuhan" seolah-olah yang dilayani adalah Alkitab sendiri dan bukan jema= at.  Alkitab ada dalam keadaan baik-baik saja; ia tidak membutuhkan pelayanan dari kita.  Yang membutuhkan pelayanan adalah jemaat, dan Tuhan Allah telah mengaruniakan FirmanNya melalui Alkitab untuk melayani kebutuhan manusia.  A= lkitab ada untuk melayani manusia, bukan manusia untuk melayani Alkitab. (band. perkataan Yesus tentang Sabat di Markus 2.27)

 

Mungkin k= arena pada awal masuknya Injil di NTT kebanyakan jemaat tidak memiliki Alkitab, d= an kalaupun dimiliki kebanyakan masih buta huruf, maka tercipat suatu pola pemberitaan yang tefokus pada upaya untuk mengajarkan isi Alkitab pada jema= at.  Hal ini baik dan wajar sebagai peng= ganti sekolah minggu dan katekisasi atau kelompok PA dalam keadaan "darurat." Tapi kalau pemberitaan kita terus-menerus hanya terfok= us pada pengenalan isi Alkitab, maka kita menjadikan iman Kristen sebagai seju= mlah pelajaran saja. Kaca mata Alkitab dilihat baik-baik, tapi tidak dipa= kai untuk melihat. Sebenarnya masa kini jemaat sudah memiliki Alkitab dan sudah bisa membaca sendiri.  O= leh karena itu, khotbah boleh beralih dari pengajaran isi Alkitab pada tugas ya= ng lebih utama, yaitu pengasuhan dan pengembangan iman jemaat kepada Yesus Kri= stus di tengah-tengah kehidupan mereka sehari-hari.

 

 

&nbs= p;

Pedang

 

Sebuah khotbah dapat membantu kita untuk mengambil keputusan-keputusan yang tepat dalam terang kehendak Allah.

 

"Ped= ang" yang dimaksud di sini bukan sebagai alat perang, melainkan sebagai alat unt= uk memotong/memutuskan, di antara ini dan itu, di antara "Ya" dan "Tidak," di antara "Boleh" dan "Tidak boleh."=  

 

Yesus mengatakan, "Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.&q= uot; (Mt 10.34)  Kita bisa melihat = dari ayat-ayat yang menyusul bahwa yang dimaksud dengan "pedang" bukan= lah kekerasan atau peperangan, melainkan sebuah krisis yang menuntut keputusan = kita (dalam hal ini, orang harus memutuskan di antara kesetiaan pada Injil Yesus Kristus dan norma-norma yang berlaku dalam keluarga patriarkhal pada zaman itu).  Berulangkali kehadiran = dan ajaran Yesus menantang para pendengarnya untuk mengambil keputusan. Mau pan= cing ikan atau pancing manusia?  Mau masak di dapur atau mau dengar ajaran Yesus?  Mau kaya atau mau selamat? Mau ikut orang tua atau ikut Yesus? Mau aman atau mau pikul salib?=

 

Begitu be= sar peranan pengambilan keputusan dalam pelayanan Yesus, sampai pernah digambar= kan sebagai Teologi Krisis, yang terfokus pada keputusan yang "diforsir" oleh kehadiran Yesus, bukan hanya pada manusia yang diperhadapkan denganNya pada zaman dulu, tapi termasuk dan terutama kita juga.  (Dalam bahsa Yunani, krisis berarti saat yang mendesak untuk mengambil keputusan.)

 

Pemberita= an gaya KPI hampir semata-mata terfokus pada aspek ini, yaitu, pengambilan keputusan untuk percaya pada Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi.  Orang diminta untuk berdiri atau m= aju ke depan sebagai tanda keputusan mereka--seolah-olah mereka baru saja bertobat dari kekafiran.  "Betapa = indah harinya, saat kupilih Penebus," kita menyanyi. Tetapi setelah hari yang indah itu, besok bikin apa? Apakah kita terus-menurus mengulangi keputusan = yang sama?  Atau, "Saya mau ir= ing Yesus, sampai s'lama lamanya."  Baik.  Tapi apakah kita pernah bertanya, Yesus mau ke mana?  Tentu kalau mau iring Yesus, kita harus tahu kemana Yesus hendak per= gi. Apakah Yesus hanya mau ke gereja, atau Yesus juga ke kebun, ke pasar, ke kantor, ke sekolah, ke DPR?  <= i>Konsekwensi dari keputusan untuk ikut Yesus mengantar kita pada banyak keputusan susula= n, dan ini yang harus diangkat dalam khotbah-khotbah kita.

 

 

Perlu diperhatikan bahwa Yesus tidak biasa "main perintah," biarpun terhadap hal-hal yang sangat prinsipil.&nb= sp; Waktu Yesus diminta untuk "putus perkara" di antara dua or= ang bersaudara, Yesus balik bertanya, "Siapa yang mengangkat saya sebagai hakim atas kamu?" (Lukas 12.15) Ketika sebuah kerumunan laki-laki minta pendapat Yesus kalau seorang perempuan yang ditangkap dalam perzinahan haru= s dihukum mati, Yesus tidak mengatakan "Jangan!"  Justru Ia mengembalikan pada merek= a: "Biarlah dia yang bebas dosa melemparkan batu yang pertama." (Yoh= . 8) Dan ketika orang bertanya mengenai kewajiban kita terhadap sesama, Yesus menjawab dengan sebuah cerita (orang Samaria yang murah hati, Lukas 10.25-3= 7), dan bertanya kembali, "Siapa yang menjadi sesama?"  Berulangkali, daripada memberi per= intah atau pengajaran saja, Yesus mengembalikan keputusan pada para pendengar. 

 

Jemaat ki= ta juga diperhadapkan dengan sejumlah keputusan dalam kehidupan pribadi maupun sosial.  Mau bayar sogok untuk= anak masuk PNS?  Bagaimana menentuk= an pilihan dalam Pemilu?  Partai = yang mana?  Pilih "orang kita&= quot; saja, ko?  Orang Kristen boleh= main Kupon Putih atau tidak?  Anak-= anak yang lahir di luar pernikahan yang sah boleh dibaptis atau tidak?  Bangun gedung gereja yang mewah "demi kemuliaan Tuhan" atau bangun yang sederhana demi kesejahter= aan ekonomi jemaat?  Selayaknya khotbah-khotbah kita akan menolong jemaat untuk mengambil keputusan-keputus= an sehari-hari secara tepat, tanpa memaksakan kehendak sang pengkhotbah saja.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'>  Peranan khotbah di sini adalah unt= uk menjernihkan apa yang dipertaruhkan dalam sebuah keputusan dan mengangkat nilai-nilai yang selayaknya tewujud dalam keputusan-keputusan kita.

 

Dalam hal= ini, ada sebuah patokan yang telah dipakai berabad-abad dalam tradisi Kristen, y= ang masih berlaku sampai sekarang: sekiranya Yesus diperhadapkan dengan kead= aan seperti yang kita hadapi sekarang ini, Yesus akan buat apa?  Kalau sudah ada bayangan tentang bagaimana Yesus akan bertindak, maka kitapun terpanggil untuk buatlah demikian.  Walaupun kita masih= bisa salah terapkan pendekatan ini, paling sedikit Yesus telah meninggalkan seju= mlah patokan yang sama sekali tidak sulit difahami oleh siapapun:

 

 

Hal-hal i= ni tidak sulit difahami--hanya saja kadang-kadang sulit sekali untuk kita laksanakan!

 

Bagaimana= pun juga, salah satu fungsi khotbah adalah untuk memberi bimbingan etis dan ara= han misiologis pada jemaat.  Sebuah khotbah yang benar-benar mendarat pada kehidupan jemaat akan menjurus pada sejumlah tindakan yang bisa diambil oleh para pendengar, entah secara bersama-sama sebagai jemaat atau satu per satu sebagai orang beriman. 

 

 

 

Roti=

 

Khotbah adalah sumber kekuatan bagi jemaat; kalau nam= anya adalah pekabaran Injil, maka ada Kabar Baik (euanggelion =3D injil =3D kaba= r baik) untuk jemaat membawa pulang sebagai bekal dalam perjalanan hidupnya.

 

Bagi Tuhan Yesus, Firman Tuhan justru lebih bergizi dari roti (Lukas 4); bahkan Ia mengatakan, ”Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi." (Yoh. 6.35)  Rasul Paulus sering mengkiaskan pemberitaan sebagai makanan yang disajikan pada jemaat. Sebuah khotbah adalah "roti" (atau nasi atau jagung) roha= ni yang menguatkan iman jemaat.  = Tidak perlu hidangan ini terlalu istimewa, dan bukan soal "enak"nya yang diperlukan, asal bergizi secara teologis dan pastoral. 

 

 

Siapa, ka= lau anaknya minta roti akan memberikan batu kepadanya? (Mat. 7.9) Namun justru = itu yang sering terjadi pada jemaat kita.  Mereka datang ke gereja dengan harapan akan mendapat sesuatu untuk menguatkan iman mereka di hadapan berbagai pergumulan hidup yang mereka ras= akan.  Tapi sebaliknya mereka mendapat ca= ci maki dari mimbar tentang dosa-dosa mereka yang begitu banyak--terutama "dosa" terhadap gereja dalam hal "tidak ada kesadaran memberi," "malas mengikuti kebaktian," dsb.  (Padahal justru merekalah yang had= ir untuk dengar teguran tentang ketidakhadiran!)  Jemaat yang pada mulanya duduk teg= ak di bangku gereja makin lama makin soak; semangat mereka turun perlahan-lahan seperti ban kempes.

 

Kalau kho= tbah adalah sejenis pelayanan, maka ia akan melayani suatu kebutuhan yang terasa oleh jemaat.  Mereka akan mene= rima pelayanan itu seperti orang yang lapar menerima makanan--dengan rasa syukur= dan dengan memperoleh kekuatan dan semangat baru.  Seharusnya jemaat pulang dari ibad= at dengan perasaan seperti itu:  = syukur bahwa mereka menghadiri ibadat, dan bersemangat untuk pulang membawa berkat yang mereka terima dari pemberitaan Firman Tuhan.

 

Memang su= dah lama dalam tradisi gereja khotbah dilihat sebagai sejenis pelayanan pastora= l: Agustinus mengutamakan kasih (caritas) sebagai motifasi utama dalam penyamp= aian khotbah:  baik bahwa pengkhotb= ah memberitakan kasih Allah kepada manusia, maupun bahwa pengkhotbah sendiri berbicara atas dasar kasihnya terhadap jemaat. Gregorius Agung pada tahun 5= 91 menulis sebuah buku pedoman pastoral yang mengandung nasehat tentang bagaim= ana pemberitaan harus disesuaikan dengan keadaan jemaat yang sangat beraneka ra= gam: tua/mudah, kaya/miskin, nikah/belum nikah, berdukacita/bersukacita, pintar/bodoh, berani/takut, sehat/sakit, rendah hati/tinggi hati…dsb., dsb.  Pada zaman moderen, Harr= y E. Fosdick menajukan pendirian bahwa khotbah tidak lain daripada bimbingan pastoral secara kelompok. 

 

Semua pan= dangan ini memiliki satu benang merah: mereka melihat khotbah bukan hanya dari segi pokok pemberitaan, tapi juga dari segi sasarannya--yaitu, manusia ya= ng mendengar.  Fosdick mengatakan= bahwa sebelum berkhotbah, dia biasa berdoa, "Ya Tuhan, saya yakin ada orang dalam jemaat ini yang sangat membutuhkan khotbah ini.  Tolonglah supaya saya dapat menjan= gkau dia."  Maksud Fosdick buk= an bahwa dia sudah menyimpan pesan khusus untuk pribadi tertentu--hal seperti = itu ditangani melalui percakapan pastoral secara pribadi.  Tapi sebuah khotbah bukan disampai= kan pada ruang ibadah, melainkan pada masing-masing warga jemaat. Ingat bahwa k= ita bicara pada orang banyak, tapi mereka mendengar secara perorangan.  Maksud Fosdick yang kedua adalah b= ahwa dia mengharapkan suatu dampak yang positif dari khotbah bagi kehidupan pendengar: orang yang putus asa mendapat harapan kembali, orang yang tengge= lam dalam dosa berani mengambil tindakan pertobatan, orang yang hatinya terluka mendapat penghiburan.

 

Dampak da= ri perhatian pada masalah pastoral dalam sebuah khotbah tidak sulit difahami.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'>  Kalau orang menyimpan masalah dalam hati, dan masalah itu tidak pernah disinggung dari mimbar, ia cenderung menganggap, "Saya saja yang aneh-aneh dan tidak waras."  Tapi kalau masalahnya diangkat dal= am khotbah sebagai sesuatu yang wajar saja digumuli oleh manusia, maka dengan = itu saja orang sudah terhibur: "Ternyata saya tidak gila.  Orang lain juga punya pergumulan s= eperti saya."  Apalagi kalau dia memperoleh hikmat dari Firman Tuhan untuk menghadapi pergumulan tersebut.

 

Pada dasa= rnya ada hubungan timbal balik di antara pelayanan/percakapan pastoral secara perorangan dan pemberitaan dari mimbar.&nb= sp; Pastoral memberi wawasan dan "kedalaman" pada pelayan tent= ang pergumulan jemaat; pemberitaan yang berciri pastoral mengajak jemaat untuk membuka hatinya pada pelayan dalam percakapan pribadi.

 

Ada juga = satu aspek lagi dari "roti" yang kita sajikan dalam khotbah yang tidak kalah penting.  Roti ini "dimakan" bersama-sama dalam suatu persekutuan.  Malah sejak dahulu kala makan bers= ama dalam pesta dan berbagai macam perayaan adalah salah satu wujud persekutuan yang utama.  Demikian juga den= gan khotbah: sebagai suatu pengalaman bersama dalam jemaat, khotbah menciptakan= dan memelihara persekutuan.  Bahas= a, nilai-nilai, gagasan-gagasan yang disampaikan dalam khotbah menjadi milik jemaat bersama yang semakin mengikat mereka satu pada yang lain. 

 

Dan juga seperti sebuah pesta, sebuah khotbah merupakan wadah perayaan atas perbuatan Allah terhadap kita; wadah untuk memuji dan mensyukuri kasih Allah secara bersama-sama.  Kalau anugerah = Allah dan Kabar Baik dalam Yesus Kristus adalah sesuatu yang menggembirakan, waja= r saja kalau kegembiraan itu dicerminkan juga dalam khotbah yang kita sampaikan.  Senyumlah sewaktu-waktu, kalau anda membagi-bagikan Roti yang Hidup pada jemaat!

 

 

Penutup

&nbs= p;

Jembatan, Kaca Mata, Pedang, dan Roti.  Empat kata yang sederhana untuk menggambarkan sebuah tugas yang sangat menuntut seluruh jiwa dan raga kita kalau mau dilaksanakan dengan baik.  Tinggal kita melihat apa hubungannya di antara keempat kata ini.  Apakah ternyata empat kata ini ada= lah juga empat langkah yang bisa ditempuh secara berurutan:  Kita melanggar jembatan, pasang ka= ca mata untuk melihat-lihat, baru angkat pedang untuk iris roti dan makan.

 

Sebenarnya maksud kami bukan begitu, walaupun ada sed= ikit urutan prioritas.  Jelaslah ba= hwa aspek Jembatan ini diberi prioritas.  Kalau tidak ada titik sambung di antara jemaat masa kini dan Alkitab, maka tidak mungkin khotbah kita akan menghasilkan apa-apa bagi jemaat.  Tapi bisa terjadi bahwa pada saat tertentu aspek Roti yang diutamakan, misalnya pada kebaktian penghiburan keluarga yang berduka.  Tentu = aspek “pedang” ada—karena banyak keputusan harus diambil juga setelah orang mati dan meninggalkan banyak urusan yang harus diselesaikan—tapi jelas bahwa pelayanan pastoral adalah tugas utama d= ari khotbah kita pada saat seperti itu.  Pada saat yang lain, justru Pedang yang diangkat, kalau jemaat berhadapan dengan sebuah keputusan yang penting: mau mekar, mau membangun gedung yang baru, mau memberi sumbangan kepada korban bencana, dsb.  Dan kalau ada isu teologis yang menghebohkan jemaat, seperti baptisan ulang misalnya, tentu kita akan pasang Kaca Mata sebagai langkah utama.

 

Dapat dikatakan bahwa hubungan di antara Jembatan dan Kaca Mata agak mirip dengan hubungan di antara tafsiran (hermeneutik) dan ajaran.  Demikian juga, Pedang= dan Roti berhubungan seperti Hukum dan Injil dalam pemikiran Luther dan Calvin.  Pada umumnya, setiap khotbah akan ada sentuhan dari keempat unsur ini, walaupun dalam campuran y= ang berbeda-beda bergantung pada situasi. 

 

Usul kami yang praktis adalah supaya anda terus menyu= sun khotbah datu renungan sebagaimana biasa (asal ingat untuk memperhatikan kebutuhan jemaat dan bukan hanya jadwal pembacaan), dan kemudian bertanya p= ada khotbahmu sendiri:

 

 

 

 

 

Yang terakhir: Biarlah Tuhan melengkapi perkataan kita yang terpatah-patah menjadi berkat bagi jemaat!

 

 

--Pdt. Jo= hn Campbell-Nelson

Komisi Te= ologi dan PWG

Majelis S= inode GMIT

 

------=_NextPart_01C68C96.E50DAEA0 Content-Location: file:///C:/C97712E1/empatkata_files/header.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"





 

11


 

------=_NextPart_01C68C96.E50DAEA0 Content-Location: file:///C:/C97712E1/empatkata_files/filelist.xml Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/xml; charset="utf-8" ------=_NextPart_01C68C96.E50DAEA0--