MIME-Version: 1.0 Content-Location: file:///C:/51064593/feminis.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"
Diambil dari Feminist theology/C=
hristian
theology: In search of method [Teologia feminis/teologia Kristen:
Pencarian suatu metode] oleh Pamela Dickey Young (1990),
Sumber teologia dalam tulisan ini berarti unsur-unsur yang terlibat dalam pembentukan teologia seseorang, atau apa saja ya= ng mempengaruhi teologia seseorang. Bisa saja ini termasuk bahan-bahan tertulis atau data lain da= ri suatu tradisi agama tertentu; bahan yang di pinggiran ataupun di luar tradi= si itu tetapi yang masih dianggap relevan; pengalaman dari kelompok-kelompok o= rang tertentu; dan pengalaman manusia secara umum atau jenis pengalaman manusia tertentu.
Norma= berarti syarat tertentu atau sejumlah syarat untuk menilai sumber-sumber atau perumusan teologia – apakah sumber atau perumusan = itu cukup pas atau tidak untuk teologia secara umum atau untuk teologia tertentu yang mau dibangun. Norma itu dipa= kai sebagai prinsip dasar untuk teologia seseorang. Yang pernah dipakai sebagai norma teologia dalam tradisi Kristen sangat bervariasi: termasuk Firman Allah, kewibawaan Paus dan uskup-uskup, Yesus yang historis, pengalaman orang percaya, pengalaman khas perempuan, dan akal budi manusia. (hal. 19-20)
Sebagi=
an
teolog-teolog feminis pada saat ini, apapun sumber-sumber yang dipakainya,
bersandar pada suatu kewibawaan alternatip yang berdasarkan pada pengalaman
perempuan sebagai norma induk atau yang terakhir=
. norma yang diambil dari pengalaman perempuan, juga mem=
akai
sumber dan norma yang secara eksplisit [dengan sengaja] diambil dari tradisi
Kristen.
Tetapi kalau metodologi teologis diangkat tanpa contoh-contoh tertentu yang nyata, maka ada risiko bahwa orang yang berbicara tentang metodologi dianggap terlalu abstrak sampai tidak ada sesuatu yang jelas dan= konkrit yang dibicarakan. Supaya bahaya = ini dapat dicegah dan juga supaya ada titik-titik tolak konkrit untuk komentar-komentar saya sendiri tentang metodologi, maka saya mengemukakan t= iga model/contoh untuk memahami interaksi [hubungan] di antara tradisi Kristen = dan pengalaman perempuan dalam teologia feminis. Contoh-contoh = yang saya pilih (dan yang juga diwakili tiga teolog) mengemukakan titik tekanan = yang berbeda, namun bukan posisi-posisi yang jauh berbeda dan tidak dapat dipisa= hkan secara tajam, sebab seringkali teolog-teolog feminis tidak gampang dimasukk= an ke dalam golongan ini atau itu.&nbs= p;
Tiga teolog yang saya pilih adalah Elisabeth Schüssler
Fiorenza, Rosemary Radford Ruether, dan Letty Russell.
Elisabeth Sch&u= uml;ssler Fiorenza menuju kepada kewibawaan baru, yaitu gereja-perempuan. Dia seorang ahli Alkitab dan feminis Katolik sehingga minat ia te= rutama adalah penafsiran feminis terhadap Alkitab daripada menulis teologia. Walaupun begitu, komentar-komentar= nya tentang teologia feminis cukup penting, antara lain sebab banyak teolog fem= inis telah mengikuti metodologinya, terutama berkaitan apa= span>, sebenarnya, harus merupakan norma penilaian dalam suatu teologia feminis Kristen. Lewat banyak tulisan= nya, khusunya bukunya berjudul In Memory of Her [ ], dia telah menyadark= an orang-orang lain tentang kebutuhan akan penafsir= an feminis terhadap Alkitab dan kebutuhan akan teologia feminis.
&nb= sp; Sch&= uuml;ssler Fiorenza menyadari mungkin ada banyak teologia feminis, dan ia meletakkan teologianya sendiri di garis yang sama dengan teologia-teologia pembebasan yang lain yang mengecam kemapanan (status quo). Sebagai teolog= ia pembebasan, teologia Fiorenza mulai dengan pengalaman perempuan yang berjua= ng agar perempuan bebas dari patriarkhi dan menyeruhkan agar penindasan dihapuskan. Keberpihakan Yesus pada kaum miskin menjadi keberpihakan pada= semua perempuan, khususnya perempuan miskin. Salah satu tuj= uan utama dari teologia feminis yang bercorak pembebasan adalah keutuhan, menga= tasi dualisme seperti perpisahan di antara akal dan tubuh, laki-laki dan perempu= an, teknologi dan alam semesta. <= /span>Fiorenza yakin bahwa keutuhan seperti ini hanya dapat dicapai= kalau masalah hirarkhi dapat diatasi.&nbs= p; Sebagai teologia yang bersifat kritis, teologia feminis mengecam keras agama patriarkhis dan mencari perumusan teologis yang alternatip.
&nb=
sp; Teol=
ogia
feminis Schüssler Fiorenza tidak saja mulai dengan penindasan yang dia=
lami
perempuan, tetapi pengalaman ini berfungsi sebagai fokus utama dan norma penilaian teologinya dan teologia-teologia sejen=
is
yang lain. Oleh
sebab Alkitab pernah digunakan untuk melanjutkan dan memperkokoh penindasan
terhadap perempuan, dan juga ditulis oleh laki-laki dengan orientasi
patriarkhis, maka Alkitab tidak dengan sendirinya membebaskan. Oleh sebab itu, maka Schüssler
Fiorenza berpendapat bahwa kesaksian Alkitab sendiri tidak bisa menjadi
&nb= sp; Dalam bukunya, Bread Not Stone [Roti Bukan Batu], Schüssler Fiorenza menulis tentang hermeneutik [kerangka penafsiran] feminis kritis di mana kanon tentang kebenaran dan pewahyuan “tidak diambil dari tulisan-tulisan alkitabiah, tetapi dari perjuangan perempuan masa kini yang melawan rasisme, seksisme, dan kemiskinan sebagai sistim-sistim patriarkhis yang menindas, dan juga diambil dari penelusuran yang sistematis terhadap t= eori feminis.”
&nb=
sp; Juga
di Bread Not Stone, Schüssler Fiorenza menunjukkan bahwa
“pewahyuan” dan “Kristen” adalah istilah sejajar. “Arti me=
njadi
seorang perempuan Kristen tidak dapat dijelaskan oleh inti kodrat perempuan
atau oleh wahyu alkitabiah, tetapi bertumbuh dari struktur-struktur sosial =
yang
konkrit dan mekanisme budaya-agamawi yang ikut serta dalam penindasan perem=
puan
beserta perjuangan-perjuangan kita akan pembebasan, identitas diri, dan
transendens.” Jadi, untuk Schüssler Fiorenza, ukuran yang dipakai untuk
menilai naskah-naskah alkitabiah adalah apakah naskah tersebut membebaskan
perempuan atau tidak? =
Suatu
naskah Alkitab diterima sebagai pewahyuan, kemudian sebagai naskah Kristen =
yang
standar, kalau ia konsekwen dengan pembebasan
perempuan dari penindasan.
Naskah-naskah Alkitab dengan sendirinya tidak dapat dianggap ukuran;=
sama hal dengan kanon atau norma apapun yang diambil d=
ari
naskah-naskah alkitabiah.
&nb= sp; Schüssler Fiorenza menggunakan naskah-naskah alkitabiah = demi pembebasan, dan dia hanya menerima bagian-bagian Alkitab yang memenuhi syar= at itu. Semua naskah alki= tabiah harus diuji – baik dari segi isi maupun dari segi fungsinya secara historis dan juga saat ini: apakah cukup mendukung pembebasan perempuan atau tidak?
&nb= sp; Gereja-perempuan atau eklesia perempuan, yaitu gerakan perempuan yang mengenal diri sebagai perempuan dan laki-laki yang peka terh= adap perempuan dalam agama alkitabiah yang merupakan kewibawaan untuk teologia feminis, dan yang menilai suatu ajaran teologis berdasarkan pembebasan bagi perempuan – apakah ajaran teologis itu membebaskan atau menindas perempuan? Bukan Alkitab atau tradisi gereja patriarkhis, tetapi ekle= sia perempuan dan kehidupan perempuan adalah lokasi untuk wahyu dari Tuhan dan lokus anugerah. Tujuan dari eklesia perempuan adalah kekuatan/pengakuan diri = dan kuasa iman bagi perempuan serta pembebasan dari semua keterasingan, peminggiran, dan penindasan patriarkhis.
&nb=
sp; Schüssler Fiorenza membedakan=
di
antara Alkitab sebagai archetype dan prototype. Menurut dia, menggunakan Alkitab s=
ebagai
archetype berarti Alkitab dianggap sebagai dokumen sejarah yang sudah seles=
ai,
tidak berubah, dan tidak dapat dirubah.&nb=
sp;
Kalau Alkitab dipakai sebagai archetype, naskahnya dilihat
sebagai wahyu, dan pertanyaan dan keprihatinan yang muncul pada masa kini t=
idak
dapat dipertimbangkan. Memakai
Alkitab sebagai prototype berarti Alkitab dianggap sebagai pintu dari
masa lalu ke masa kini; wahyu tidak harus dibatasi kepada masa lalu, tetapi=
ada
hubungan di antara wahyu pada masa lalu dan pada masa kini. Kalau seorang berusaha mencari nor=
ma
teologia langsung di dalam naskah Alkitab sendiri berarti mereka memakai
Alkitab sebagai archetype.
&=
nbsp; Schüssler
Fiorenza mengeritik Letty Russell dan Rosemary Ruether sebagai teolog
“neo-ortodoks” [ortodoks baru] yang mengabaikan unsur penindasan
dan yang berorientasi laki-laki di dalam Alkitab sebab mereka ingin menemuk=
an
norma dari Alkitab sendiri. B=
agi
Schüssler Fiorenza, hanya bagian-bagian Alkitab yang mengatasi patriar=
khi
dapat dipakai oleh dan demi perempuan Kristen, dan naskah itupun bukan norma
dengan sendirinya, kecuali diangkat sebagai norma oleh gereja-perempuan.
&= nbsp; Walaupun Schüssler Fiorenza berpendapat bahwa norma teologia tidak dapat diambil langsung dari Alkitab, ia tidak mau mengabaikan secara total kesaksian yang berada di Alkitab dan memilih tradisi lain atau membentuk agama baru. Alasan pertama dan utama ia tidak meninggalkan Alkitab adalah ia tidak mau Alkitab dipakai hanya oleh mereka = yang memanfaatkannya untuk memperkuat patriarkhi. Meninggalkan tradisi Alkitab berarti tidak melawan pandangan A= lkitab yang hirarkhis. Naskah-naskah = Alkitab perlu diperiksa secara serius untuk mengecek – jangan sampai ada sejarah-sejarah perempuan di dalamnya yang selama ini tidak diakui.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'> Memang, dalam = In Memory of Her [ ], Schüssler Fiorenza menunjukkan itu. Kalau kita membaca Alkitab dengan pertanyaan tentang sejarah perempuan, kita bisa dikagetkan tentang apa yang dapat ditemukan.
&nb= sp; Juga, oleh sebab Alkitab masih terpengaruhi di dunia Barat da= n oleh sebab banyak perempuan masih menemukan sumber-sumber untuk identitas-diri y= ang positip di dalam naskah-naskah ini, maka tidak dapat diabaikan begitu saja = oleh orang-orang feminis yang masih mengklaim bahwa mereka memiliki solidaritas dengan semua perempuan. Solidaritas menuntut agar seseorang berusaha memahami perempu= an di mana mereka berada dalam pencarian untuk pembebasan, atau dari mana pencari= an itu dapat dimulai.
&nb=
sp; Schüssler Fiorenza menyadari bahwa orang feminis bukan o=
rang
tanpa sejarah yang menimbul begitu saja tanpa latar belakang. Banyak feminis
memiliki akar-akar agamawi, dan bagi banyak feminis, akar tersebut tertanam
dalam di keKristenan. =
Bagi perempuan yang dulu menemukan arti baik dalam keKristenan
tidak selalu sanggup melepaskan tradisinya pada saat mereka menjadi orang
feminis. Maka
ada hasrat bukan untuk melepaskan sejarah, tetapi untuk menjelmakan sejarah=
itu
ketika ada hal-hal baru yang ditemukan dan unsur-unsur di dalamnya dapat
ditafsirkan kembali. <=
span
class=3DGramE>Orang feminis dapat belajar tentang bagaimana Alkitab pernah
dipakai untuk menindas perempuan, tetapi juga dapat belajar bagaiaman Alkit=
ab
pernah dipakai, dan masih dapat dipakai, untuk menolak penindasan.
&nb=
sp; Menu=
rut
Schüssler Fiorenza, walaupun orang feminis tidak menemukan norma penilaian untuk teologia Kristen di dalam
naskah-naskah Kitab Suci, mereka juga tidak bisa meninggalkan naskah terseb=
ut
kalau mau tetap menjadi orang Kristen.&nbs=
p;
Masalah feminis
Kristen tetap harus merujuk kepada Alkitab dan wahyu alkitabiah.
&=
nbsp; Yang
harus dilakukan orang feminis adalah mengajar dan memperkenalkan cara baru
untuk memakai Alkitab supaya Alkitab akan dipakai hanya demi mereka yang
tertindas, termasuk perempuan, dan tidak pernah dipakai lagi demi
penindasan. “Orang femi=
nis
Kristen (dan, dalam hal saya, orang Katolik), tidak meninggalkan akar
alkitabiah dan tradisinya. Se=
bagai eklesia
perempuan, kita harus mengklaim iman Kristen dan komunitas sebagai pusat da=
ri
proses penjelmaan feminis.”
&=
nbsp; Schüssler
Fiorenza menganggap opsinya untuk suatu kanon yang membebaskan sebagai pili=
han
sangat sesuai dengan tradisi Kristen.
Suatu teologia feminis yang kritis dan membebaskan “mengikuti
Agustin, Tomas, dan Dewan Vatikan II dalam perumusan syarat atau kanon yang
membatasi kebenaran yang diilhami dan wahyu kepada hal-hal berkaitan
keselamatan, pembebasan, dan kebebasan untuk semua orang, khususnya untuk p=
erempuan.”
&=
nbsp; Yang
dapat dianggap sebagai Firman Allah adalah apa yang membebaskan perempuan, =
jadi
tidak semua Kitab Suci dapat dianggap Firman Allah. Memang Alkitab memiliki kuasa
membebaskan, tetapi hanya terdapat dalam fasal dan ayat tertentu, atau di d=
alam
tradisi yang melatarbelakangi bagian Alkitab tertentu. Jadi ia bukan norma untuk teologia,
tetapi hanya salah satu sumber yang dapat dimanfaatkan oleh komunitas
Kristen. Salah satu cara sumb=
er ini
dapat dimanfaatkan komunitas adalah meneliti bagaimana caranya naskah-naskah
Kitab Suci pernah berfungsi dalam pelbagai komunitas Kristen pada masa
lalu. Umpamanya, kalau
naskah-naskah tertentu mengangkat pengalaman rakyat terhadap Tuhan Allah da=
lam
perjuangan melawan penindasan patriarkhis, maka naskah tersebut bisa menjadi
paradigma untuk gereja-perempuan. =
span>
&=
nbsp; Schüssler
Fiorenza mengemukakan empat pendekatan hermeneutik terhadap Kitab Suci. Per=
tama,
hermeneutik kecurigaan berasumsi bahwa naskah-naskah Alkitab serta
penafsirannya berorientasi laki-laki.
Suatu hermeneutik proklamasi yang menilai pemanfaatan Alkitab
dalam komunitas iman masa kini. Naskah-naskah
yang menindas perempuan dihilangkan dari liturgi. Suatu hermeneutik peringatan
[remembrance] berusaha memulihkan tradisi alkitabiah melalui perspektif fem=
inis
yang mengemukakan pertanyaan-pertanyaan baru yang bertanya di mana sebenarn=
ya
perempuan terdapat dalam tradisi alkitabiah, dan apa yang mereka lakukan. Melalui hermeneutik aktualisasi=
yang kreatip, perempuan diberdayakan masuk sejarah alkitabiah melalui imaji=
nasi
historis, penciptaan kembali secara artistik, dan lewat ritus. Sisa-sisa dan tema-tema tradisi ya=
ng
bertahan uji atau yang berimplikasi pembebasan kemudian disatukan menjadi s=
atu
keutuhan yang lebih besar yang memungkinkan perempuan mengalami penderitaan=
dan
sukacita perempuan-perempuan yang telah berjuang pada masa lalu.
&=
nbsp; Mempertimbangkan
bahwa Schüssler Fiorenza tidak memperoleh norma-norma teologis dari Ki=
tab
Suci, Yesus juga tidak merupakan norma dalam pemahaman dia terhadap teologi=
a Kristen. Walaupun demikian, Yesus tetap pen=
ting
bagi perempuan oleh sebab kegerakan yang dimulai olehnya dan berkembang di
sekitarnya adalah kegerakan egaliter di mana masa depan Allah, yaitu, ba=
sileia
[Kerajaan Allah], dikomunikasikan dan menjadi janjian bagi semua orang
Israel. Allah Yesus adalah Al=
lah
yang sangat inklusip yang menyambut dan menerima semua orang.
&=
nbsp; Komunitas
Yesus adalah komunitas orang yang sederajat yang dipanggilnya dalam iman ke=
pada
Allah. Dari naskah-naskah Alk=
itab
tentang Yesus, perempuan dapat memperoleh identitas diri yang sangat positip
dan suatu visi masyarakat egaliter yang mungkin terwujud. Perempuan hari ini dapat mengalami
perasaan solidaritas dengan perempuan yang berhimpun di sekitar Yesus.
&=
nbsp; Perempuan
masa kini yang mengalami perasaan solidaritas itu, bersama dengan laki-laki
yang peka terhadap masalah perempuan, merupakan gereja-perempuan, lokasi un=
tuk
anugerah dan wahyu yang ilahi. Bagi
Schüssler Fiorenza, gereja yang benar adalah gereja-perempuan, mereka =
yang
berkumpul bersama untuk berjuang melawan penindasan. Gereja-perempuan berusaha merealis=
asikan
kuasa perempuan dan afirmasi iman, pembebasan perempuan sekaligus pembebasan
semua orang dari keterasingan, peminggiran, dan penindasan.
&=
nbsp; Norma-norma
teologia yang diperoleh dari gereja-perempuan ini yang merupakan komunitas
Kristen yang berlanjut, suatu komunitas yang dapat mendengar naskah-naskah
Alkitab pada masa kini. Melal=
ui
gereja-perempuan, akar-akar dan struktur penindasan perempuan dapat
ditelaah. Eklesia pere=
mpuan
adalah “perkumpulan warga yang bebas dan bertanggungjawab, yang memil=
iki
kuasa untuk mengungkapkan teologinya sendiri, mengklaim kembali spiritualit=
as
sendiri, dan menentukan kehidupan agamawinya sendiri. Sebagai gereja, kita merayakan
kuasa-kuasa agamawi dan visi-visi untuk pembaharuan, perjuangan kita terung=
kap
secara liturgis, dan kita membagi kekuatan kita satu dengan yang lain untuk
saling mengasuh.” Melal=
ui
gereja-perempuan, Allah dapat diberi nama baru, Kristus dapat diklaim kemba=
li,
dan gereja dapat ditafsirkan kembali, semua menurut pengalaman perempuan
terhadap penindasan.
&=
nbsp; Untuk
Schüssler Fiorenza, kata terakhir tentang apa yang dianggap sebagai no=
rma
adalah sbb: “Daripada bertanya apakah pendekatan ini atau itu sesuai
dengan Kitab Suci dan memadai untuk kondisi manusia, lebih penting kita men=
guji
apakah suatu model teologis untuk penafsiran Kitab Suci cukup memadai
untuk metode historis-kritis yang dituntut penafsiran kontemporer serta =
cocok
untuk perjuangan orang-orang tertindas akan pembebasan.” Schüssler Fiorenza ingin
menafsirkan Kitab Suci secara bertanggungjawab, jadi ia menggunakan
metode-metode historis-kritis untuk penafsiran dengan caranya yang secocok
mungkin. Tetapi pada akhirnya,
norma utama untuk menilai Kitab Suci adalah apakah orang-orang tertindas
dibebaskan atau tidak?
Ada fem=
inis yang
mendekati masalah tradisi Kristen dan pengalaman perempuan melalui sumber d=
an
norma teologia sesuai kebutuhan untuk memperjuangkan suatu pendirian. Rosemary Radford Ruether adalah salah satu teolog feminis sepe=
rti
ini.
Metode dia ada=
lah
metode dalam transisi.
&=
nbsp; Ruether
juga seorang teolog feminis yang Katolik.&=
nbsp;
Tulisannya meliputi banyak topik secara luas, dari sejarah agama fem=
inis
dan teologia feminis konstruktip kepada visi-visi feminis yang baru terhadap
masyarakat. Di sini hanya
metodologi teologisnya yang akan diperhatikan dan bukan sumbangannya yang
banyak kepada pelajaran feminis terhadap agama.
&= nbsp; Menurut Ruether, pada saat ini teologia feminis sudah pada tah= ap ketiga. S= etelah mengecam fokus laki-laki dalam teologia Kristen tradisional, kemudian menca= ri cara-cara feminis alternatip untuk merumuskan kembali teologia Kristen, teologia feminis sekarang berada pada titik di mana norma-norma dan metode-metode teologia harus dipertimbangkan dan diperiksa kembali. = Memang, inilah suatu kebutuhan yang saya sendiri rasakan sehi= ngga menghasilkan buku ini.
&nb= sp; Bagi dia, prinsip yang sangat penting untuk teologia feminis = yang memadai adalah kemampuannya memajukan kemanusiaan perempuan yang utuh. Apapun yang me= ngurangi atau merusak keutuhan ini tidak mencerminkan Yang Ilahi dan bukan pesan dari Penyelemat yang benar. Keunikan teologia feminis terletak bukan dalam prinsip penting tentang kemanusiaan yang utuh, tetapi dalam fakta bahwa perempuan yang mengklaim prinsip ini untuk dirinya sendiri. Teologia feminis juga unik sebab <= span class=3DGramE>ia berdasarkan dan mencerminkan pengalaman perempuan &= #8211; pengalamannya terhadap dirinya sendiri, terhadap Yang Ilahi, dan terhadap komunitas dan dunia di mana mereka berada.
&nb= sp; Ruether mengakui dan menyatakan secara eksplisit bahwa kontek= s atau pemandangan untuk berteologia baginya adalah konteks Barat, Kristen.= Dia berpendapa= t bahwa hanya satu teologia, entah feminis atau teologia lain, tidak mampu mewakili= semua konteks. Seperti teolog-teolog feminis yang lain, ia juga menyada= ri bahwa pertanyaannya dan titik pemandangannya timbul dari latar belakang dan pengalamannya sendiri. Tidak ada satu titik pemandangan yang “obyektip” = yang terletak di luar kepentingan, komitmen, atau pengaruh konteks tertentu.
&nb=
sp; Sejak bukunya, Sexism and God-Talk [Seksisme dan
Bahasa-Allah], Ruether telah mengungkapkan sumber-sumber untuk teologia
feminis yang termasuk sumber di luar aliran utama tradisi Kristen. Yang dimaksudkan Ruether dengan su=
mber
di sini adalah bahan (“tradisi yang dapat digunakan”) dari mana=
ia temukan tema-tema dan petunjuk-petunjuk untuk rumus=
an
teologia sendiri. Jadi sumber=
untuk
teologia feminis Ruether termasuk Kitab Suci (baik Ibrani maupun Kristen),
tradisi Kristen yang di pinggiran ataupun dianggap heretis, tradisi Kristen
yang dominan, filsafat dan agama non-Kristen dari Timur Tengah, Yunani, dan
Roma, dan pemandangan dunia pasca-Kristen yang kritis (liberalisme, Marxism=
e,
romantisisme).
&nb=
sp; Ruether sendiri berbicara tentang
kombinasi sumber-sumber dan prinsip utama sebagai “eklektisisme
praktis” atau “oikumenisme feminis.” “Ekleketisisme praktis menun=
jukkan
bahwa…feminis Yahudi dan Kristen berdiri di perbatasan, menghadap dua
arah, dan menolak untuk memilih hanya satu dan meninggalkan yang
lain.” Seorang teolog
feminis, apapun tradisi asalnya, dapat memanfaatkan sumber-sumber dan
norma-norma mana saja yang dibutuhkannya untuk memperjuangkan kemanusiaan
perempuan yang utuh. “J=
adi,
refleksi teologia feminis terjadi dalam konteks ‘oikoumenisme’
feminis di antara tradisi-tradisi agamawi dan tidak harus merasa terikat ol=
eh
batas-batas Kristen tradisional yang mau memisahkan di antara agama yang be=
nar
dan palsu.” Suatu teolo=
gia
feminis bisa atau bisa tidak tetap menganggap diri sebagai teologia Kristen,
bergantung pada sampai sejauh mana wahyu melalui Yesus Kristus dianggap seb=
agai
norma. Jadi, suatu teologia f=
eminis
yang mulai dari akar-akar Kristen dan memakai lambang-lambang Kristen bisa
tetapi juga bisa tidak tetap menganggap diri sebagai teologia Kristen.
&=
nbsp; Kita
memperoleh wawasan tentang gagasan Ruether terhadap perubahan dalam metode
berteologia ketika kita melihat lebih jauh tentang sumber-sumber
non-tradisional yang ia pilih untuk teologinya. Ia belajar dari gerakan-gerakan ya=
ng
dianggap di pinggiran atau dianggap heretis oleh tradisi Kristen, tetapi
tradisi yang memelihara visi kesetaraan manusia, di mana perempuan mempunyai
peran kepemimpinan yang dihargai. =
span>Ruether
berkesimpulan bahwa salah satu alasan gerakan-gerakan ini dipinggirkan ialah
posisi perempuan di dalamnya yang begitu penting.
&=
nbsp; Kegunaan
dari gerakan-gerakan ini terdapat dalam contoh peran yang historis dan
alternatip yang bisa dimanfaatkan perempuan. Tidak mungkin kita berdiri seolah-=
olah
kita sama sekali tidak memiliki sejarah; kita tidak bisa mulai lagi dari nol
sebab sebagai manusia kita terletak di dalam sejarah, kita pada masa kini
dipengaruhi oleh sejarah kita. Kalau
kesetaraan bagi perempuan ditemukan dalam sebagian dari sejarah itu, bisa s=
aja
itu menjadi pelajaran bagi kita untuk masa kini. Ruether tidak naif tentang
tradisi-tradisi ini. Ia tidak
berpendapat bahwa tradisi sudah tersedia, tinggal kita mengambilalhi begitu
saja, umpamnya, ganti tradisi Kristen dominan dengan tradisi Montanisme.
&=
nbsp; Ruether
memanfaatkan tradisi “pagan” pra-Kristen oleh sebab disitulah
terdapat sebagian dari latar belakang historis agama Yahudi dan Kristen.
&=
nbsp; Ada
tiga gerakan kontemporer yang dimanfaatkan Ruether secara khusus: liberalisme, romantisisme, dan
Marxisme. Sekali lagi, ia tid=
ak
memanfaatkannya secara tidak kritis, tetapi dengan pemahaman bahwa gerakan =
ini
memberi kepada orang-orang feminis semacam wawasan tentang dunia kontempore=
r,
sehingga juga memberi perspektif-persepektif penting tentang jenis kritik y=
ang
disodorkan kepada teologia Kristen oleh orang feminis. Orang-orang feminis dapat memilih =
bagian
terbaik dari aspek kritis dalam tradisi-tradisi ini untuk menciptakan suatu
sintesis teologia feminis yang baru, memperhitungkan pelbagai pengaruh terh=
adap
agama dan budaya yang kontemporer.
&=
nbsp; Menurut
Ruether, teologia feminis tidak boleh dibangun atas landasan Kitab Suci, at=
au
tradisi, atau gereja, tetapi di atas kepercayaan akan suatu landasan ilahi =
yang
mahabaik, di atas “perjumpaan kembali yang mendasar dengan realita
ilahi.” Landasan
“baru” ini tidak 100% terpisah dari masa lalu sebab, sebagaimana
terlihat dari daftar sumber yang dipakai Ruether, landasan ini dibangun di =
atas
fonderen-fonderen lama, sekaligus membawa visi baru tentang kisah-kisah Kri=
sten
yang dirumuskan dan ditafsirkan secara baru. Kita belajar dari Ruether ketika ia
membandingkan usaha ini dengan cara orang Kristen merumuskan dan menafsirkan
kembali kisah-kisah orang Yahudi. =
span>Bagi
Ruether, feminisme itu adalah suatu midrash baru [midrash =3D
komentar tentang Kitab Suci Ibrani], perjanjian ketiga setelah perjanjian l=
ama
dan baru, suatu permulaan baru.
&=
nbsp; Oleh
sebab ia melihat kebutuhan untuk meletakkan diri dalam sejarah dan tidak di
dalam vakum, dan juga oleh sebab keadaan sejarahnya sendiri di dalam tradisi
Kristen, maka Ruether melihat tradisi alkitabiah yang membebaskan sebagai
sesuatu sangat penting, baik untuk dia sebagai orang Kristen maupun untuk
identitas feminisnya. Ruether=
tidak
mau meninggalkan tradisi Kristen; ia menyadari bahwa kita harus menempatkan
diri, entah bagaimana, berhubungan dengan sejarah kita. Kita harus sanggup melihat apa yang
telah terjadi sebelumnya. Tet=
api
dari segi lain, ia juga tidak mau menganggap tradisi itu secara romantis,
seolah-olah itu dapat diterima langsung dengan senang hati tanpa pertanyaan=
.
&=
nbsp; Sikapnya
terhadap tradisi kenabian yang membebaskan dan yang diambil dari Kitab Suci
rupanya berubah sedikit dari sikap yang sebelumnya. Pada awalnya (sampai dengan penerb=
itan Sexism
and God-Talk), Ruether letakkan kesaksian pembebasan yang ditemukannya
dalam Kitab Suci pada posisi pusat dalam karya teologisnya. Tetapi sekarang, walaupun tradisi
Kristen tetap menjadi sumber penting untuk lambang-lambang yang dipakainya =
dan
dianggap penting dalam teologinya, norma-norma penilaian dari lambang terse=
but
tidak diberi perhatian yang sama besar seperti dulu. Kesetiaan terhadap perjuangan femi=
nis
sekarang lebih penting dalam teologinya daripada kesetiaan kepada salah satu
syarat atau standar “keKristenan” tertentu. Walaupun demikian, Ruether masih
menganggap keKristenan sebagai suatu tradisi agamawi yang vital asal pola
pewahyuan dapat diperbaharui untuk setiap angkatan dan asal ia tetap mampu
memberi makna penyelamatan kepada pengalaman para pengikutnya. Bagi Ruether, teologia feminis
mengoreksi orientasi kelaki-lakian (androcentrism) untuk setiap kate=
gori
keKristenan.
&=
nbsp; Menurut
Ruether, teologia tradisional perlu dirubah oleh sebab ia tidak mendukung
kemanusiaan perempuan yang utuh. Naskah-naskah
Kitab Suci dan hampir semua naskah teologis yang dihasilkan oleh tradisi
Kristen adalah naskah patriarkhis. <=
/span>Lambang
dan kisah dari naskah-naskah ini tidak menguatkan perempuan melainkan
menindasnya.
&=
nbsp; Pengalaman
perempuan, kata Ruether, tidak pernah diletakkan pada pusat naskah-naskah
tradisional. Perempuan tidak diperlakukan sebagai subyek yang aktip, berpik=
ir,
dan berpengalaman sehingga naskah-naskah baru perlu dicari dan dipakai agar
pengalaman perempuan dapat dinampakkan.
[Nas=
kah
patriarkhis kanon] tidak lagi memiliki status normatip dan kita membacanya
secara kritis menurut realita yang lebih besar yang disembunyikan dan disan=
gkal
oleh naskah patriarkhis. Dalam
proses ini, suatu norma baru timbul yang dapat dipakai sebagai landasan baru
untuk membangun suatu komunitas baru, teologia baru, dan akhirnya suatu kan=
on
baru. Kanon baru itu menjadik=
an
perempuan sebagai subyek yang terdapat di pusat, bukan di pinggiran. Perempuan diberdayakan untuk menen=
tukan
diri daripada ditentukan oleh orang lain.&=
nbsp;
Pembicaraan perempuan dan kehadirannya dianggap normal, bukan sesuatu
yang abnormal.
&=
nbsp; Pengalaman
perempuan yang perlu diperhitungkan adalah pengalamannya terhadap patriarkhi
dan bagaimana patriarkhi telah membatasi baik perempuan maupun laki-laki
sehingga dua-duanya tidak berkembang sesuai dengan potensinya yang penuh. Ruether juga mencatat bahwa satu-s=
atunya
pengalaman yang selalu dapat diklaim oleh perempuan sebagai pengalamannya
sendiri, yaitu pengalaman biologis dengan haid, melahirkan, menyusui, dsb.,
itupun selalu ditafsirkan menurut mata patriarkhis. Jadi, pengalaman tubuh ini harus
ditafsirkan kembali dan dipakai secara lain agar dapat diakui oleh perempuan
sebagai pengalaman mereka sendiri. <=
/span>Perempuan
perlu mengklaim haknya untuk menulis naskah sendiri dan menciptakan kisahnya
sendiri berdasarkan pengalaman iman mereka daripada diberitahukan oleh orang
lain (laki-laki) apa yang harus dianggap sebagai naskah, lambang, dan kisah
yang “syah.”
=
Perempuan
tidak mempunyai waktu lagi untuk menanti gereja patriarkhis berubah baru me=
reka
dapat terlibat dalam kebaktian yang berarti, jadi mereka juga perlu membang=
un
komunitas berbakti yang alter=
natip
di mana mereka dapat memanfaatkan naskah dan lambang dan kisah yang relevan
bagi mereka. Ruether, seperti
banyak orang lain, pakai istilah “women-church”
[gereja-perempuan] untuk berbicara tentang komunitas alternatip ini.
=
Walaupun
ia menekankan kebutuhan akan perhitungan kemanusiaan perempuan yang utuh,
Ruether selalu hati-hati dalam teologinya agar tekanan tersebut tidak merug=
ikan
kelompok-kelompok manusia lain ataupun merugikan dunia hayati yang
non-manusia. Dia selalu menya=
dari
luasnya jaringan penindasan dan menyadari bahwa berjuang mengatasi penindas=
an
salah satu kelompok selalu harus mempertimbangkan penindasan kelompok/orang
lain. Ia sungguh-sungguh perc=
aya
bahwa tidak ada satu orang yang bebas sampai semua orang bebas. Karyanya sering memperhatikan
penindasan-penindasan lain dan pengakuan tentang bagaimana, umpamanya, rasi=
sme,
seksisme, dan eksploitasi alam berkaitan dengan sikap yang sama, yaitu
kekuasaan di atas yang direndahkan [subordinasi].
=
Walaupun
pembacaan Alkitab yang feminis menentukan apa yang patut menjadi norma untuk
teologia dan untuk memahami dan mengeritik Kitab Suci, ada bahan di Alkitab
yang berguna untuk perempuan yang dinamakan Ruether sebagai tradisi
“nabiah-pembebasan” atau “nabiah-mesianis.” Dia menulis, “Saya mengangga=
p diri
sebagai seorang Kristen menurut patokan yang saya anggap sebagai inti dari =
iman
alkitabiah yang ‘nabiah-mesianis.’ Inilah saya anggap sebagai norma u=
ntuk
menilai baik Kitab Suci maupun tradisi.” Sejauh Alkitab mencerminkan pesan =
ini
yang nabiah dan membebaskan, dapat dianggap sebagai berwibawa untuk teologia
feminis oleh sebab pesan ini dapat dipakai untuk mempromosikan kemanusiaan
perempuan yang utuh.
=
Ketika
feminisme mengklaim tradisi nabiah-pembebasan sebagai norma, bukan suatu trend
atau tradisi yang di pinggiran kesaksian alkitabiah yang dipilih, tetapi ya=
ng
dipilih adalah “suatu tradisi yang dapat diklaim sebagai tradisi pusat
berdasarkan hasil studi Alkitab yang diakui umum, suatu tradisi di mana iman
alkitabiah selalu mengecam dan memperbaharui diri dan visinya sendiri.̶=
1;
= Tradisi nabiah-pembebasan di dalam Alkitab memihak pada mereka yang tertindas. Tradisi inilah, baik di Kitab Suci Ibrani maupun di Perjanjian Baru Kristen, yang menantang kemapanan, mengecam penindasan sosial, mengekspos korupsi agama yang palsu, dan memanggil manus= ia ke pertobatan. Pengeluaran merupakan lambang alkitabiah dasar untuk tradisi nabiah-pembebasan, tetapi tradisi ini dilanjutkan oleh nabi-nabi dan Yesus. Penyelamatan yang dicari dan disumbangkan dalam tradisi inti ini adalah masa depan alternatip, suatu tat= anan sosial baru berdasarkan perdamaian dan keadilan, di mana tidak ada penindas= dan tidak ada yang ditindas atau tertindas.&nb= sp; Dalam tradisi ini, All= ah Yang mencela penindas dan membela yang tertindas/ditindas. Semua keagamaan yang ikut serta membenarkan ketidakadilan dikecam dan dianggap kurang.
=
Tradisi
nabiah-pembebasan dalam Alkitab mempunyai bentuk-bentuk berbeda menurut kea=
daan
di mana ia timbul. Kritik dan reformasi berbeda dicocokkan pada waktu dan tempat yang berb=
eda.
= Prinsip terpenting yang diambil dari Alkitab adalah norma untuk menilai semua kesak= sian alkitabiah yang lain. Tradisi= -tradisi di dalam Kitab Suci yang kelihatannya mengizinkan ataupun meniyakan kemapan= an di mana ada penindas dan ada yang ditindas tidak dapat dianggap berwibawa.<= o:p>
=
Menurut
Rueter, Yesus tetap berada dalam tradisi nabiah-pembebasan ini. Sebagaimana ia catat pada 1981,
“Gambar Yesus yang dipegang seseorang pada akhirnya menunjukkan
pernyataan normatip orang itu tentang pesan Kristen untuk dunia pada masa
kini.” Walaupun pada sa=
at ini
tekanan pada Yesus sebagai norma tidak sama besar dibanding dengan posisinya
pada 1981, suatu gambar Yesus tetap penting untuk Ruether sebagai suatu sum=
ber
teologis. Yesus adalah figur
politik yang membela orang kecil dan menghakimi orang besar. Ia menjadi contoh kepemimpinan yang
berdasar pada pelayanan kepada orang lain, dan ia mengharapkan agar umatnya
bertindak demikian supaya hasilnya adalah saling memberdayakan. Membuat gambar Yesus sebagai figur
a-politik berarti membenarkan dan mempertahankan kemapanan daripada
menantangnya. Dalam aksi
politiknya, dan dalam pembelaannya terhadap mereka yang tertindas, pandangan
Yesus tentang Kerajaan Allah jauh lebih radikal dari pandangan biasa pada s=
aat
itu.
= Kelaki-lakian Yesus tidak perlu diperhitun= gkan untuk memahami pentingnya. Yang penting a= dalah pesannya, penilaiannya terhadap semua yang mengasingkan atau merendahkan orang-orang tertentu dan mengangkat orang-orang lain ke tempat yang terhorm= at. Hubungan Yesus dengan Allah adalah hubungan saling meng= asihi dan saling memperhatikan, bukan hubungan di mana Allah tampil sebagai despot atau Raja lalim. Oleh sebab itu, maka hubungan inipun tidak dapat dimanfaatkan= untuk membenarkan kekuasaan dan subordinasi. Hubungan-hubun= gan Yesus dengan perempuan dan peran mereka sebagai pengikutnya menunjukkan kepentingan mereka untuk menerima dan menyebarkan Injil Yesus. “Setelah mitos tentang Yesus sebagai Mesias atau log= os ilahi, bersama gambar tradisional yang sangat maskulin, telah dihilangkan, Yesus dari Injil synoptis dapat diakui sebagai figur yang sangat cocok deng= an feminisme.”
&= nbsp; Ku= tipan ini menunjuk kepada hal penting lain lagi dalam Kristologi Ruether. Ruether melihat bahwa Yesus selalu menunjuk, bukan pada dirin= ya tetapi kepada “dia yang akan datang.” Oleh sebab itu, Ruether tidak menanggap Yesus sebagai yang terakhir untuk keKristenan. Yesus mengumumkan harapan mesianis dan memberi tanda-tanda terhadap kehadirannya, tetapi titik akhir dari kedatangan mesias bukan pada masa kini Yesus tetapi pada masa depan.
= Dalam teologinya, Ruether membedakan di antara Yesus, figur sejarah yang menunjuk kepada sesuatu yang lebih dari dirinya, dan Kristus “kemanusiaan mesianis” yang dinyatakan kepada kita pada banyak saat dan di banyak tempat, termasuk dalamYesus. = Ia segan memberi status keakhiran kepada figur historis siapapun oleh sebab ia berpikir bahwa dengan demikian aspek kesejarahaan ak= an hilang dan Kristus dijadikan suatu pewahyuan selama-lamanya yang tertutup d= an yang hanya dapat diakses lewat ajaran-ajaran apostolis. Ruether berpendapat bahwa salah sa= tu tempat di mana Kristus dinyatakan kepada kita adalah di dalam Yesus, tetapi= ia juga berpendapat bahwa kemanusiaan ini masih dinyat= akan kepada kita di dalam saudari-saudari dan saudara-saudara kita.
= Selain dari itu, Ruether takut kalau Yesus diberi status sebagai yang terakhir, hal itu dapat melahirkan perasaan anti-Yahudi sebab kebenaran agama Yahudi tida= k akan dihitung sama sekali. Ia juga berpikir bahwa penekanan pada kemutlakan Kristus di dalam Yesus berarti tid= ak ada peran lagi untuk inspirasi dari Roh Kudus, tidak ada kesempatan untuk k= ita mendengar suara Allah pada masa kini.
= Bagi dia, gereja yang benar adalah komunitas mereka yang dibe= baskan dari penindasan, suatu komunitas di mana Roh menguasai dan di mana tidak ada patriarkhi. “Ger= eja berada di mana berita baik tentang pembebasan dari seksisme masuk dalam khotbah, di mana Roh hadir untuk memberdayakan kita untuk menolak patriarkh= i, di mana komunitas yang setia kepada kehidupan baru yang saling mengasihi berhimpun bersama dan dipelihara, dan di mana komunitas menyebarkan visi dan perjuangan ini kepada orang-orang lain.”
= Saat ini Ruether melihat kebutuhan akan gereja-peremp= uan, suatu tahap dalam eklesia di mana perempuan mengklaim hak untuk dian= ggap sebagai gereja, di mana mereka mengklaim tradisi pengeluaran sebagai tradisi pembebasan dari patriarkhi dan di mana mereka menolak ide bahwa patriarkhi = itu adalah kehendak Allah. Gereja-perempuan membiarkan perempuan menjadi gereja diberday= akan oleh Roh tanpa menanti lama sekali untuk lembaga gerejawi seluruhnya mengak= ui hak perempuan untuk status yang setara.
Letty Russell adalah contoh baik dari seor= ang teolog feminis yang memakai norma-norma untuk teologia Kristen, baik secara eksplisit dari tradisi Kristen maupun dari pengalaman perempuan. Lain dari Schüssler Fiorenza dan Ruethe= r, Letty Russell seorang Protestan. Banyak tulisannya terfokus pada isyu teologia sebagai usaha bersama daripada usaha individu yang terisolir. Ia meliha= t teologia feminis di garis sama dengan teologia pembebasan yang lain. Bagi dia, teologia bukan saja apa yang dipikirkan, sebab ia mengalir ke luar-masuk d= ari aksi. Ia<= /span> berbicara tentang teologia Kristen sebagai penggunaan logos (akal) “dalam perspektip Allah sesuai dengan bagaimana Allah diketahui di da= lam dan melalui Firmannya di dalam dunia.” Kadang-kadang = ia menyamakan teologia dan praksis. Seseorang berusaha mengenal dan memahami Allah, supaya dapat mengeta= hui dan memahami diri dan orang lain. Sebagai tugas teologis Kristen, ini bukan saja pemahaman terhadap pengalaman sendiri pada masa kini atau pengalaman orang lain masa kini, tet= api dengan hati-hati dan secara sadar harus dihubungkan dengan tradisi Kristen, “akumulasi aksi-refleksi dari ‘persekutuan orang-orang suci’.” Tujuan teologia yang terutama bukan pemahaman yang lebih baik, tetapi aksi, perubahan. Pemahaman terhadap Firman Allah di dalam dunia mendorong orang untuk bertindak dan beraski sesuai dengan Firman itu.
= Kita adalah insan historis yang tidak bisa meniru apa= yang dikatakan nenek moyang kita tentang hal-hal iman tanpa bertanya dan tanpa berpikir. Walaupun sangat enak untuk membayangkan bahwa seorang teolog dapat menghasilkan suatu teologia Kristen yang cocok sepanjang masa dan untuk segala tempat, namun realitasnya lain. Sel= ama keadaan berubah, pertanyaan (dan jawabannya) juga berubah. Menoleh ke bel= akang, kita dapat melihat dalam sejarah teologia Kristen bahwa konteks yang berbeda menghasilkan penekanan yang juga berbeda. Tugas kita adalah memahami apa artinya menjadi anak-anak Allah pada waktu dan tem= pat ini. Menurut Russell, “Komunitas Kristen mempunyai suatu pola persyaratan untuk menentukan = apa yang merupakan kesaksian yang berwibawa terhadap Allah dalam Yesus Kristus. = Biasanya itu termasuk wawasan-wawasan dari pengetahuan ilmu dan pengalaman manusia beserta Kitab Suci dan tradisi gereja.”
= Bagi Russell (dan orang teolog feminis yang lain), kebutuhan untuk memikirkan kembali tentang teologia dirangsang oleh penyadaran bahwa perempuan adalah kelompok tertindas. Oleh sebab secara tradisional teologia dilakukan oleh laki-la= ki, maka sejarah perempuan tidak termasuk ketika sejarah keKristenan dikisahkan= . Kalau perempua= n yang bertanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan teologis, bagaimana dengan perubahan dalam teologia?
=
Russell
mengatakan, “Kepentingan akan perempuan yang melakukan teologia sama
dengan kelompok lain yang mana saja di seluruh
dunia. Me=
reka
menyumbang kepada ‘dimensi yang tak selesai’ dalam teologia.=
221; Dia juga tidak
mengklaim bahwa teologia feminis adalah yang terakhir dan statis.
= Tetapi yang jelas untuk Russell, pengalaman, dan secara khusus pengalaman perempuan, berdampak pada teologia Kristen. Memang, pengalaman menjadi salah s= atu norma untuk menilai sampai sejauh mana suatu tradisi a= gamawi memadai atau benar. Tidak ada teologia yang memadai kalau teologia tersebut tidak mempertimbangkan atau tidak relevan bagi pengalaman pesertanya, orang yang melakukan dan mendengar teologia tersebut. “Pengala= man perempuan” termasuk pengalaman biologis dan budaya seorang perempuan serta pengalaman feminis, pengalaman politik mereka yang beradvokasi untuk suatu “perubahan dalam masyarakat di mana baik perempuan maupun laki-= laki termasuk sebagai orang manusia.” Semua ini seha= rusnya mempengaruhi teologia Kristen yang memadai, di mana kepelbagaian pengalaman diakui dan disambut dengan baik.
= Kepentingan pengalaman perempuan sebagai norma membawa banyak implikasi untuk caranya Russell berteologia sebab, seperti ia melihat dengan jelas, teologia feminis merupakan suatu “pergeseran paradigma” dalam teologia yang mempertanyakan tentang “apa yang difahami sebagai kewibawaan dalam se= tiap aspek agama alkitabiah.” Kalau begitu, yang perlu ditantang adalah segala sesuatu dari= masa lalu Kristen dan juga pada masa kini yang berusaha membatasi kemanusiaan perempuan yang utuh, yang membatasi penerimaan perempuan sebagai yang setar= a. “Penafsi= ran kewibawaan apapun yang memperkuat struktur-struktur patriarkhis yang dominan tidak dapat diterima dalam penafsiran perempuan.”
=
Salah
satu tantangan yang dikemukakan oleh pergeseran paradigma ini adalah tantan=
gan
terhadap apa yang dikatakan Russell sebagai seja=
rah
yang “tidak dapat dipakai.”&nb=
sp;
Sejarah yang tidak dapat dipakai adalah sejarah =
yang
pernah dipakai dan masih saat ini dipakai untuk membangun argumentasi atau
bertindak melawan kemanusiaan perempuan yang utuh. Sebaliknya, ya=
ng
dicari adalah suatu “sejarah yang dapat dipakai,” bagian-bagian
dari sejarah kita di mana perempuan pernah diakui sebagai manusia yang utuh=
dan
setara. Dalam pencaria=
n akan suatu sejarah yang dapat dipakai, tidak perlu
peristiwa-peristiwa yang lalu disangkal tetapi harus didekati dengan
pertanyaan-pertanyaan baru agar kelanjutannya sebagai alat-alat penindasan
dapat dicegah. Kalau
masa lalu tidak diperiksa secara kritis, maka itu bisa berfungsi (bisa saja
berfungsi di bawah kesadaran) sebagai suatu kekuatan yang menentukan masa k=
ini. Harus ditanyakan siapa dan alasannya apa sehingga sejarah seperti ini
direkam. Sejarah perempuan ha=
rus
dicari, suatu sejarah yang tersembunyi dan dulu dianggap tidak penting.
=
Suatu
tantangan lain yang diangkat dalam rangka pengakuan akan pengalaman perempu=
an
adalah pencarian akan suatu “bahasa yang dapat dipakai.” Sama dengan banyak orang feminis y=
ang
lain, Russell juga sudah lama menyadari bahwa seringkali perempuan dijadikan
tidak tampak/siluman, bukan saja lewat riwayat peristiwa-peristiwa sejarah,
tetapi juga lewat cara tradisional istilah-istilah laki-laki dianggap sebag=
ai
istilah umum untuk semua manusia.
=
Pencarian
Russell untuk bahasa yang dapat dipakai adalah juga pencarian untuk
“nama-nama Allah yang terlupa” dan cara-cara baru untuk berbica=
ra
tentang Allah untuk melengkapi bahasa laki-laki yang lazim tentang Tuhan. “Metafora-metafora yang kita
memakai untuk Tuhan sangat kuat oleh sebab itulah yang membentuk pemikiran =
kita
tentang Tuhan dan juga tentang kita sendiri sebagai laki-laki dan perempuan,
yang diciptakan menurut gambar Allah.”
=
Bahasa
bukan saja suatu alat. Sepert=
i masa
lalu, bahasa kita juga dapat menguasai kita, atau dapat dikuasai kita. “Kekuasaan menentukan caranya
bahasa dipakai, sebab mereka yang berkuasa juga menguasai komunikasi antar
manusia, sebagaimana mereka menguasai aspek-aspek kehidupan yang lain.̶=
1;
=
Tantangan
ketiga yang diangkat oleh pengalaman perempuan kepada cara berteologia yang
tradisional adalah tantangan yang membuat Russell terkenal, yaitu tantangan
kepada individualisme di dalam teologia.&n=
bsp;
Ia lebih suka suatu metode yang menekankan aspek kebersamaan dalam
kemanusiaan dan mendorong apa yang disebutkan Russell sabagai
“kemitraan.”
&n=
bsp;  =
; Paradi=
gma
feminis yang sedang timbul yang berusaha memahami klaim-klaim kebenaran dari
Alkitab dan teologia [tradisional] adalah kewibawaan sebagai kemitraan=
i>. Dalam pandangan ini, realita ditaf=
sirkan
sebagai suatu lingkaran saling bergantung.=
Tatanan sosial ditelusuri lewat suatu penghargaan akan keanekaragama=
n,
di mana masing-masing unsur dilihat sebagai lapisan-lapisan warna dalam seb=
uah
pelangi; di mana orang tidak =
harus
tunduk kepada “atasan,” melainkan mereka ikut serta dalam tugas
bersama untuk menciptakan suatu komunitas manusia dan alam semesta yang sal=
ing
bergantung satu pada yang lain. Kewibawaan
diberlakukan dalam komunitas dan cenderung memperkuat ide-ide kerja =
sama
dengan sumbangan dari pelbagai orang yang memperkaya keutuhan.
=
Di
sini kewibawaan difahami sebagai sesuatu yang dibagi, bukan yang hirarkhis,
yang berusaha menemukan “konsensus yang lebih inklusip terhadap isyu-=
isyu
teologis” dan menghargai pelbagai opini dan titik pandang. Kalau berbagai titik pandang diwak=
ili,
masing-masing dapat ditantang dan ditanyakan daripada hanya menerima satu t=
itik
pandang oleh sebab itu berasal dari suatu wibawa tertentu. Kemitraan mengakui semua orang seb=
agai
subyek, bukan obyek, dan memuji keadaan saling bergantung, bukan kebebasan
individu.
=
Dari
perspektif sebagai seorang feminis, Russell berpendapat bahwa Firman Allah =
yang
terdengar di dalam Kitab Suci harus dibebaskan dari sifatnya kelaki-lakian
(sifat androsentris) dan dari penafsiran yang privat dan hanya berorientasi
kepada spiritualitas pribadi. Tetapi
di sini harus kita belajar tentang pemahaman Russell terhadap bagaimana car=
anya
tradisi Kristen berfungsi dalam teologia, oleh sebab walaupun ia bertanya
tentang aspek andro-sentrisme dalam tradisi Kristen berdasarkan pengalamann=
ya
sebagai perempuan, ia juga bertanya tentang itu berdasarkan komitmennya seb=
agai
seorang Kristen.
=
Russell
mengambil norma teologia utama dari tradisi Kristen sendiri. “Dalam iman Kristen ada suatu
pusat (komitmen kepada Yesus Kristus) dan ada lingkaran (lingkaran
hermeneutik). Penafsiran-pena=
fsiran
teologis saling mempengaruhi sehingga kita tetap berputar di lingkaran ters=
ebut
dalam usaha menciptakan model-model dan gambar-gambar yang setia kepada pus=
at
komitmen.” Seorang teol=
og
Kristen “tidak bisa meninggalkan cerita Yesus dari Nazaret.”
=
Berdasarkan
pemahamannya tentang sentralitas Yesus dan caranya sentralitas itu diungkap=
kan
dalam Kitab Suci, Russell juga dapat memahami apa yang menjadi Kristen=
i>
dalam tradisi Kristen. Ia ber=
bicara
tentang “penyataan diri Tuhan di dalam Yesus Kristus dan melalui
Roh” bukan sebagai wibawa sendiri, tetapi sebagai sumber kewib=
awaan
dalam kehidupan kita sebagai orang-orang Kristen. Kita mencatat bahwa penyataan diri=
Allah
dalam Yesus menjadi pusat dalam pemahaman ini terhadap kewibawaan, tetapi b=
ukan
satu-satunya unsur; penyataan diri Allah dalam Roh juga penting.
&=
nbsp; Russell melihat pentingnya Yesus sebagai t=
eladan. “Ia
datang kepada manusia di mana saja mereka berada, duduk di mana mereka dudu=
k,
dan dari situ ia mampu berbicara kepada hati nurani yang terdalam.”=
span> Yesus adalah p=
elaksana
kerajaan Allah. Ia menyembuhkan orang sakit dan mengajar. Russell berbic=
ara
tentang Yesus sebagai wakil kemanusiaan yang benar dan wakil Allah; sebagai
kedatangan Allah ke dalam sejarah agar berdiam bersama manusia. Kita juga dipa=
nggil
Yesus untuk menjadi manusia yang sejati dan hidup dari kemanusiaan sejati i=
tu
melalui karya untuk pembebasan.&nbs=
p;
“Dalam Yesus Kristus, kita berhadapan dengan Allah yang memberi
suatu hubungan yang hidup untuk membantu kita membentuk kehidupan kita pada
masa kini dan masa depan.” Melalui aksi-aksi Yesus, kita bela=
jar
tentang apa yang dituntut dari kita.
= Dalam aksi Yesus, Russell melihat kesempatan untuk mempertanyakan banyak struktur= dan sistem yang dicurigainya berdasarkan pengalamannya sendiri; mis., ia melihat bahwa aksi Yesus menunjukkan bahwa suatu hirarki yang “abadi” bukanlah suatu keharusan bagi kehidupan manusia. Tidak bo= leh ada satu orang atau sekelompok orang yang selalu dominan atau selalu subordinat kepada orang atau kelompok lain.
= Berita baik tentang Yesus Kristus disampaikan kepada gereja m= elalui Kitab Suci. Russell tetap mengingatkan kita bahwa kita selalu harus hati-= hati kalau menerima Alkitab secara antero sebagai Firman Allah. Dalam injil-in= jil kita memperoleh kisah tentang kasih Allah yang aktip di dunia dalam Yesus Kristu= s, tetapi bagaimana kita mendengar pesan injil tersebut bergantung pada siapa = kita dan di mana kita.
= Untuk Russell, “Firman Allah” bukan sesuatu yang tertulis tetapi sesu= atu yang dialami ketika yang tertulis itu kena-mengena pada seseorang yang mendengarnya, sehingga didengar sebagai berita baik. Agar hal ini lebih jelas, Russell membedakan di antara Kitab Suci dan Firman: kitab adalah naskah yang dituru= nkan dari masa lalu; sedangkan Firman adalah suara yang hidup dalam pendengaran = kita masa kini. [Dalam bahasa aslinya, Russell membuat suatu permainan kata di antara Scripture= dan Script yang agak sulit diterjemahkan.]
= Russell mengungkapkan kunci yang dipakainya untuk membuka Firman Allah dari Kitab S= uci melalui beberapa cara. Kadang-kadang = komentar dia terfokus pada Yesus.
&= nbsp; Bagi saya, makna tradisi terdapat…dalam artian…Tradisi sebagai hubungan Allah dengan kita yang dinamis, ketika [kisah]Yesus Kristus diturunkan dari tangan ke tangan, kepada setiap angkatan dan semua bangsa.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'> Hubungan ini d= engan Kristus yang memberi kunci pada saya untuk [memahami] kewibawaan baik Kitab Suci maupun tradisi Gereja. Mempertimbangkan kunci tersebut, maka saya bertanya tentang bagaimana caranya membangun hubungan dengan Allah dan orang lain dalam kepercayaan dan kesetiaan ketika kita berusaha mengambil keputusan tentang apa yang harus dibuat sebagai orang percaya dalam Yesus Kristus dan sebagai anggota komuni= tas yang merindukan dan hidup dari janjian Allah tentang keutuhan baru dan komunitas manusia yang diharapkan.
&= nbsp; Kutipan ini terfokus pada salah satu aspek dari masa lalu sebagai kunci untuk masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kita melihat kepada Yesus Kristus untuk tahu bagaimana kita harus berlaku sebagai orang percaya; ia yang memberi f= okus normatip. Tetapi juga di dalam kutipan ini, kita melihat tekanan kepada masa depan, suatu tekanan yang men= jadi lebih jelas dalam pernyataan Russell yang lain tentang kunci penafsirannya.= “Kunci penafsiran utama yang membantu saya melanjutkan pengakuanku [kepada tradisi= ?] adalah kesaksian Kitab Suci terhadap perjanjian = Allah (untuk memulihkan penciptaan) menuju kegenapan. Penafsiran apa= saja yang menyangkal maksud Tuhan untuk pembebasan seluruh penciptaan yang ‘sama-sama mengeluh dan sama-sama sakit bersalin’ [Roma 8.22] t= idak meraih persetujuaanku.” Penjelasan ini tentang kunci penafsiran Russell juga merujuk kembali kepada Kitab Suci. Walaupun ia tidak merujuk secara eksplisit kepada Yesus Kristus di dalam pernyataan ini, masih jelas bahwa ia mengangg= ap pesannya sebagai proklamasi tentang pemulihan penciptaan pada masa depan se= suai dengan tujuan Tuhan dan perjanjian Tuhan.&= nbsp; Di sini, rujukannya terarah kepada masa depan yang merupakan satu patokan teologis yang penting bagi Russell.
&= nbsp; Minat Russell tentang masa depan pertama-tama dibangkitkan, menurut saya, oleh kerinduan akan suatu keadaan hidup yang lebih ba= ik daripada yang sekarang ini. J= adi bisa saja dikatakan bahwa minatnya berasal dari pengalamannya sebagai perem= puan dan sebagai yang menyaksikan penindasan orang-orang lai= n, merindukan suatu dunia di mana itu tidak ada lagi. Tetapi pemahamannya tentang masa d= epan sebagai sesuatu yang penting secara teologis berasal dari pemahamannya terh= adap Firman Allah dalam Kitab Suci.
&= nbsp; Dalam Yesus Kristus, Russell melihat diumumkanNya suatu masa depan yang mungkin terwujud dan pernah dijanjikan, suatu masa yang penuh keadilan, pembebasan,= dan keutuhan. Dalam Yesus Kristus, penciptaan Allah yang baru telah dimulai.&= nbsp; Dan perjanjian tentang pencipataan baru adalah kunci untuk kita menafsirkan naskah alkitab dan tradisi-tradisi yang lain.
&= nbsp; Menafsirkan Alkitab dari perspektif kritis tentang masa depan yang dijanjikan Allah mem= bawa kita untuk mulai dari ujung lain dan untuk terlibat dalam apa yang dapat disebut hermeneutik eskatalogis, suatu proses mempertanyakan aksi kita dan masyarakat kita dengan mempertimbangkan pesan alkitabiah tentang Penciptaan Baru. Kita mulai dengan sejumlah pertanyaan yang muncul dari kehidupan kita dan dari pengalaman mereka yang berteriak minta pembebasan; bukan saja bersama mereka yang “bukan orang percaya,” tetapi juga dengan mereka ya= ng “bukan orang.” = span>Pertanyaan-pertanyaan ini disampaikan secara kritis kepada tr= adisi iman Kristen dan kepada Alkitab sebagai saksi utama terhadap janjian Allah = di dalam Yesus Kristus. <= i>Pesan alkitabiah, kemudian, membantu kita menafsirkannya sebab salah satu mot= if utama di dalam Alkitab adalah…suatu “janjian yang menuju kegenapan.”
&= nbsp; Orang Kristen dipanggil untuk bekerja menuju ciptaan baru, mengikuti teladan Yesus dan menangkap pandangan sekilas tentang Ciptaan Baru tersebut dari Yesus dan dari cerita-cerita alkitabiah lain tentang pembebasan. Menurut Russell, tidak ada patokan mutlak untuk membentuk penilaian teologis kita, hanya petunjuk-petunjuk di = tengah jalan, sebab walaupun kita dapat melihat keutamaan Yesus, orang Kristen dipanggil untuk “menghidupkan cerita Yesus Kristus dalam keadaan-kead= aan yang selalu baru. Kalau suatu pribadi dan bukan suatu prinsip atau ajaran berada di pusat kehidupan kita, hubungan kita dengannya tidak pernah statis= . Ini berarti ba= hwa makna dari maksud Allah untuk penciptaan, dan gambar Allah tidak dapat digambarkan dengan istilah-istilah statis.”
&= nbsp; Orang Kristen mengingat masa lalu dan menuju kepada masa depan dalam harapan, den= gan pengetahuan bahwa mereka menuju penciptaan baru Tuhan. Penciptaan baru ini adalah pencipt= aan yang utuh di mana setiap orang dihargai oleh semua orang lain, di mana kelas dan gender tidak lagi merupakan golongan dominasi dan subordinasi. Di bawah sinar tema penciptaan baru Russell melihat pembebasan dan keterbukaan kepada keseluruhan dunia penciptaan Allah sebagai dua motif alkitabiah utam= a, sehingga kisah-kisah alkitabiah di mana motif-motif ini terdapat menjadi pa= ling penting untuk memahami hubungan Allah dengan dunia.
&= nbsp; Oleh sebab perempuan tidak dapat merujuk pada suatu masa lalu di mana mereka per= nah menikmati kesetaraan dan dihormati, maka mereka dibantu kalau bisa membayan= gkan suatu masa depan yang lain, yang tidak patriarkhis, dan menganggap perjanjian/pengharapan itu sebagai suatu kewibawaan tersendiri. “Teologia alkitabiah sendiri ‘penuh harapan’ dan memberi gambar-gambar tentang yubileum dan pembebasan, gambar-gambar harapan menuju kegenapan. Maka ingatan kita tentang masa dep= an menjadi suatu permohonan terhadap masa depan bagi mereka yang tertindas, dipinggirkan, masyarakat “kecil” dalam oikos (rumah tang= ga) Tuhan. Ki= tab Suci menyampaikan visi akan suatu masyarakat baru bagi mereka.”
&= nbsp; Russell mengakui bahwa banyak di d= alam Alkitab tersifat patriarkhis sehingga ia tidak menyamakan Firman Allah dengan Alkitab.&nb= sp; Tetapi ia juga tidak mau meninggalkan kesaksian alkitabiah oleh sebab “itulah yang menjelaskan pengalaman[ku kep= adaku] dan bisa berbicara [bersamaku] tentang makna dan tujuan kemanusiaan[ku] di dalam Yesus Kristus.” S= elama kesaksian alkitabiah masih berbicara kepadanya tentang pertanyaan-pertanyaan dasar tentang kehidupan, ia tetap akan mendengarkannya.
&= nbsp; Russell menganggap bahwa cara ia menggunakan Kitab Suci = adalah sebagai kelanjutan dari syarat yang dikemukakan oleh David Kelsey tentang batas-batas kewibawaan dalam penafsiran Kristen terhadap Kitab Suci. “Yang perlu masuk di dalam s= uatu klaim [akan penafsiran yang syah] adalah wacana yang masuk akal, yang mampu menghasilkan formulasi yang konsekwen, elaborasi rasional, dan dapat dibenarkan; harus mencerminkan struktur tradisi sebagaimana Kitab Suci dipa= kai untuk memelihara dan memulihkan identitas dari suatu komunitas iman tertent= u; dan juga harus dapat dibayangkan secara serius dalam konteks budaya tertent= u di mana penafsiran itu terjadi.” Walaupun demikian, Russell sangat jelas bahwa ti= dak mungkin Kitab Suci dipakai sebagai satu-satunya kewibawaan untuk komunitas Kristen atau teologia Kristen. “Dalam perspektif akan kewibawaan dalam komunitas, kunci penafsiran tidak lagi dilihat sebagai satu kunci eksternal= dan satu kunci internal, melainkan sebagai suatu konfigurasi sumber iman yang berusaha memperkaya caranya Tuhan Allah dapat hadir bersama dengan kita.= 221;
&=
nbsp;