MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C95.FA443E70" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C95.FA443E70 Content-Location: file:///C:/0A4D108E/kewibawaan.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"
Sumber:=
www.oaseonline.org
=
“Tidaklah
Demikian di Antara Kamu”:
=
Sebuah
Refleksi Tentang Kewibawaan Pastoral
oleh John =
Campbell-Nelson
Terjadilah=
juga
pertengkaran di antara murid‑murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap
terbesar di antara mereka. Ye=
sus
berkata kepada mereka: "Raja‑raja bangsa‑bangsa memerintah
rakyat mereka dan orang‑orang yang menjalankan kuasa atas mereka dise=
but
pelindung‑pelindung. Te=
tapi
kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah
menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.
(Luke 22.2=
4-26;
band. Mat.20.25-28, Mark 10.42-45, Yoh. 13.4-17)
Adalah sebuah teka-teki yang sering menghera=
nkan
saya: seorang mahasiswa atau vikaris yang saya kenal sehari-hari sebagai or=
ang
yang sangat rendah hati, ramah, dan terbuka pada orang lain dengan tiba-tiba
berobah setelah dia ditahbis menjadi pendeta. Begitu dia mengenakan toga dan
menyandang predikat “Ketua Majelis Jemaat,” dia berobah menjadi
sangat otoriter dalam jemaat. Kita
mulai mendengar keluhan dari jemaat: “Pak Pendeta muda terlalu
angkuh”–padahal semasa kuliah dialah yang paling cepat maju ke
depan untuk menghapus papan tulis bagi dosen. “Ibu Pelayan sonde mau dengar
usulan jemaat” –padahal sebagai mahasiswi ketika dosen menanyak=
an
sesuatu, dia hanya tunduk kepala dan berdiam diri. Begitu cepat ate berobah me=
njadi usif.
Kita semua membaca Alkitab yang sama, dan sa=
ya
yakin bahwa tidak seorangpun yang menjadi pendeta belum membaca perkataan Y=
esus
yang di atas. Seruan yang sama
diulangi dalam ketiga Injil sinoptis, dan dilakonkan lagi dalam Injil Yohan=
es
ketika Yesus membasuh kaki para muridNya.&=
nbsp;
Kalau itu pun belum cukup, Pak Sem Nitti sudah lama mewacanakan kons=
ep
“kepemimpinan abdi” (servant leadership) di seluruh wila=
yah
GMIT: pemimpin yang meneladan=
iYesus
tidak akan “main perintah” tapi merendahkan diri dan memimpin
jemaat melalui contoh pengabdiannya.
“Hamba Tuhan” tidaklah cukup kecuali terwujud dalam pera=
n sebagai
“hamba jemaat.”
Secara teologis, dapat dikatakan bahwa kita =
semua
“tahu sama tahu” tentang model kepemimpinan pastoral ini. Tapi mengapa kita begitu sulit
melakukannya? Mungkin kita me=
ngeluh
bersama Paulus, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik,
yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat,
yang aku perbuat.” (Ro. 7.19)
Menurut Paulus, konflik batin ini adalah bagian dari misteri dosa yang
asali. Nah, kalau Paulus send=
iri
tidak sanggup membongkar misteri ini, akupun tidak sanggup. Sampai sejauh mana kecenderungan
otoriter dalam kepemimpinan kita adalah akibat dosa, biarlah masing-masing
menanggung dosanya sendiri, dan mengerjakan keselamatannya dengan takut dan
gemetar.
Namun, saya curiga bahwa di samping dinamika=
dosa
dalam kepribadian sang pemimpin,
ada juga sebuah masalah konseptual yang membuat orang yang
sebaik-baiknya pun masih sulit meyakini pola kepemimpinan abdi ini. Masalahnya begini: kita tahu bahwa
kepemimpinan adalah tindakan yang mempengaruhi prilaku orang lain ke arah y=
ang
dikehendaki sang pemimpin. Ke=
mampuan
untuk berpengaruh ini disebut kewibawaan.[1]&=
nbsp;
Berhubungan dengan status seorang pemimpin, dianggap bahwa semakin
tinggi statusnya, semakin dia berwibawa.&n=
bsp;
Sebaliknya, semakin rendah statusnya, semakin dia kurang berwibawa.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Itu sebabnya Petrus mau mencegah Y=
esus
dari pembasuhan kaki muridNya: ia mau melindungi kewibawaan Yesus selaku
guru. Dan kita cenderung berp=
ikir
seperti Petrus. Kita tidak sa=
mpai
hati memandangYesus dalam kerendahanNya;&n=
bsp;
dan kita juga takut merendahkan diri karena takut kehilangan
wibawa. Hal ini berlaku bukan=
hanya
pada orang yang “gila kekuasaan,” tapi juga pada mereka yang de=
ngan
hati yang tulus mau memelihara tanggung jawabnya sebagai pemimpin dalam jem=
aat. Seorang pemimpin yang tidak berwib=
awa
merupakan sebuah kontradiksi.
Sesuai logika ini, suatu kepemimpinan abdi adalah hal yang
mustahil.
Kalau begitu, apakah Yesus keliru? Atau justru konsep kita tentang
kewibawaan yang keliru? Itula=
h yang
saya mau coba jernihkan dalam tulisan ini.=
Fokus saya di sini ada pada masalah mengapa kewibawaan seseorang
diakui oleh mereka yang dipimpin/dipengaruhinya. Itu berarti bahwa uraian berikut l=
ebih
bersifat sosiologis (atau eklesiologis) daripada teologis. Saya tidak berani bicara banyak te=
ntang
kewibawaan yang berasal dari Tuhan, dengan alasan yang akan saya jelaskan p=
ada
bagian berikut.
=
Kedaulatan Allah dan Kewibawaan
Kharismatis
“Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia t=
elah
mengurapi aku untuk menyampaikan kabar baik pada orang-orang
miskin...” Mungkin gamb=
aran
Yesus di sinagoge Nazaret ada dalam benak pikiran kita kalau kita memikirkan
sosok seorang pemberita Injil yang sejati.=
Penuh dengan cahaya Roh yang diterima langsung dari Tuhan, Ia menyam=
paikan
pesanNya dengan tegas dan meyakinkan.
Demikian pun seorang pendeta yang diurapi oleh Allah melalui gerejaN=
ya
untuk melanjutkan misi yang mulia ini. Kewibawaan seorang pendeta terletak
semata-mata pada panggilannya dari Tuhan, dari FirmanNya yang ia
beritakan. Sungguh memukau ga=
mbaran
yang indah ini.
Namun ada sejumlah masalah yang tidak bisa
dilampaui begitu saja. Pertam=
a,
apakah di antara kalangan pendeta kita ada yang dengan jujur berani mengata=
kan
bahwa “Roh Tuhan ada padaku” setiap hari minggu tepat jam 9:00
pagi, setiap minggu? Kalau me=
mang
demikian, mengapa ada begitu banyak khotbah yang “begitu-begitu
saja”? Apakah Roh Kudus
kurang pandai berkhotbah? Bia=
rpun
kita berkunjung ke gereja dari aliran Pentakosta, kita akan menemukan hal y=
ang
sama, hanya dengan nada emosi yang lebih tinggi. Ternyata ada jarak yang terlalu ja=
uh di
antara impian dan kenyataan sehari-hari.&n=
bsp;
Pengurapan Roh pada pribadi pendeta tidak bisa dijadikan norma
untuk setiap pemberitaan injil atau untuk perilaku kepemimpinan sehari-hari
dalam jemaat.
Yang kedua, kalau kita membaca kitab Lukas d=
engan
seksama, kita akan mencatat bahwa Yesus sendiri tidak langsung mengklaim
kewibawaan dari Roh Tuhan. Pe=
rkataanNya
itu adalah bagian dari bacaan untuk minggu itu, dari kitab Yesaya 61. Dan ketika Ia mulai menguraikan na=
ts
yang dibacakan, jemaat menjadi marah.
Dia diusir dari mimbar dan dikejar-kejar sampai ke batas kampung.
Saya tidak menyangkal bahwa Roh Tuhan ada pa=
da
Yesus, atau bahwa Roh Kudus dapat bekerja melalui kita ketika kita
berkhotbah. Saya hanya mau
menekankan dua hal: pertama, bahwa Roh Kudus adalah Roh Allah yang bebas dan
merdeka, yang tidak bisa diperintah, diikat, atau “dimiliki” ol=
eh
siapapun. Roh Tuhan seperti a=
ngin
yang “bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi
engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi.” (Yoh.
3.8) Oleh karena itu, kepemim=
pinan
kharismatis bukanlah sebuah pilihan yang tersedia bagi kita untuk
diterapkan. Kharisma dalam ar=
tian
yang teologis adalah anugerah Allah, yang Allah boleh berikan, atau menahan,
atau menarik kembali. Kita bo=
leh
memelihara hati yang terbuka kepada Tuhan dalam iman, tapi kita tidak boleh=
dan
tidak bisa menjadikan Roh Tuhan sebagai dasar kewibawaan kita dalam pelayan=
an,
apalagi menjadikannya sebuah metode kepemimpinan.
Selanjutnya, kalau saja “Roh Tuhan ada
padaku,” hal itu tidak menjamin bahwa kita akan berwibawa dalam panda=
ngan
semua orang. Kalau Yesus send=
iri
diusir dari kampung halamanNya, kita tidak boleh menuntut nasib yang lebih
baik. Allah dalam rahmatNya m=
emberi
kebebasan pada manusia untuk menerima atau menolak, percaya atau menyangkal,
tanpa memaksakan. Oleh karena=
itu, sebuah
pemahaman tentang kewibawaan dalam gereja tidak mungkin mengikuti perjalanan
yang lurus dari kedaulatan Allah melalui Karunia Roh dan tiba pada kewibawa=
an
pastoral. Kewibawaan bukanlah=
suatu
“zat” atau vitamin rohani; melainkan suatu corak relasi =
di
antara seorang pemimpin dan mereka yang dipimpin. Karena itu, kita harus
melihat konteks sosial yang di dalamnya relasi itu terjalin.
Setiap budaya dan setiap masyarakat memiliki
berbagai lembaga, nilai, dan peran sosial yang mempengaruhi tafsiran para
warganya terhadap sesama warga. Kewibawaan
seseorang sangat ditentukan oleh peran sosialnya. Misalnya, kalau seorang polisi ber=
diri
di tengah jalan dan suruh kita berhenti, maka kita berhenti. Kalau orang gila melakukan hal yan=
g sama,
paling-paling kita lewat pelan-pelan dan menjaga supaya tidak menabrak
dia. Demikian juga, bagi orang
Nazaret, Yesus adalah Yeshua bin Yusuf, anak tukang kayu itu yang lahir
“tidak pas bulan”–bukan Kristus, Anak Allah. Ada alasan sosiologis mengapa R=
20;tidak
ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”: sang nabi dikenal lebih du=
lu
sebagai “Om Usu pung anak yang suka menghayal dan bertanya aneh-aneh =
di
sekolah bikin pusing dia pung guru. Su’ besar, dia pung pergaulan
sembarang sa’, duduk di pinggir jalan omong deng’ WTS dan tukang
pajak. Sonde ada pekerjaan
tetap.” Siapa mau membe=
ri
kewibawaan untuk menafsirkan Firman Tuhan pada orang seperti itu?
Dinamika yang serupa mempengaruhi kewibawaan
seorang pelayan di mana pun. =
Supaya
analisis kita lebih mendarat pada konteks pelayanan di NTT, kita boleh
mengangkat sebuah contoh konkrit. =
span>Kisah
berikut ini pernah terjadi berulang kali dalam berbagai variasi di lingkung=
an
GMIT:
Yonas, =
Eli, dan
Maria: Sebuah Kisah Pertarungan Wibawa
Yonas baru ditahbis tahun lalu sebagai pendeta, dan ditempatkan di Jema=
at
Wilayah Fatumuti di pedesaan Timor.
Dia mengangkat tugas sebagai pendeta wilayah di enam mata jemaat den=
gan
semangat yang tinggi. Setelah
bertahun-tahun di sekolah teologi, tambah satu setengah tahun lagi sebagai
vikaris, dia akhirnya bisa memimpin jemaat sendiri. Dia bisa menerapkan sejumlah
“reformasi” yang sudah lama dicita-citakannya, termasuk
memfungsikan para diaken dalam tugas diakonia yang sebenarnya, pembinaan
berkala bagi para Majelis Jemaat, dan pengembangan suatu sistem pengelolaan
keuangan yang transparan dan bebas KKN.
Pada umumnya pelayanan Yonas disambut baik oleh jemaat, khususnya di pu=
sat
wilayah dan di kalangan para guru dan pegawai. Namun di beberapa mata jemaat yang=
lebih
jauh dari tempat kediamannya, rasanya “Orde Baru” yang masih
berlaku. Khususnya di mata je=
maat
Haumetan, Yonas ditantang keras oleh Pak Eli, penanggung jawab setempat yang
sudah bertahun-tahun terbiasa mengatur jemaat Haumetan tanpa campur tangan =
dari
pendeta. “Cukup adik Yo=
nas
layani sakramen,” katanya.
“Lain-lain kami bisa tangani sendiri.” Pak Eli cukup berpengaruh di Haume=
tan
sebagai “tuan tanah,” termasuk tanah gereja yang dulu dihibakan
oleh bapaknya. Keuangan jemaat
sejak dahulu kala menjadi suatu misteri yang terbungkam dalam lemari Pak El=
i.
Setelah tarik-menarik selama beberapa bulan di antara Pak Eli dan Pdt. =
Yonas
di sekitar soal pembukuan keuangan, terjadilah konflik terbuka. Yonas kebetulan sakit malaria, dan
mengirim pesan supaya perjamuan yang direncanakan di Haumetan ditunda satu
minggu sampai dia sembuh. Pak=
Eli
berinisiatif untuk menghubungi pendeta di wilayah tetangga supaya perjamuan
jangan ditunda–dan kebetulan pusat wilayah tersebut lebih dekat pada
Haumetan daripada tempat kediaman Pdt. Yonas. Pendeta tersebut menyetujui permin=
taan
jemaat Haumetan karena, menurut Pak Eli, hal ini atas persetujuan Pdt. Yona=
s. Minggu berikutnya, Yonas datang un=
tuk
melayani perjamuan, tapi gereja kosong.&nb=
sp;
Koster menjelaskan bahwa perjamuan dilayani oleh pendeta tetangga se=
suai
jadwal minggu lalu. Yonas lan=
gsung
ke rumah Pak Eli, dan terjadi pertengkaran mulut yang cukup sengit.
Pada hari minggu berikut, Pdt. Yonas melayani di pusat wilayah, sementa=
ra
Pak Eli memimpin kebaktian sebagaimana biasa di Haumetan. Setelah kebaktian, dia kumpulkan m=
ajelis
jemaat dengan maksud untuk mengusulkan bahwa mereka bergabung dengan wilaya=
h di
sebelah, dengan alasan bahwa Pdt. Yonas tidak sanggup melayani mereka secara
teratur–buktinya bahwa perjamuan minggu lalu harus dilayani oleh pend=
eta
yang mereka “pinjam” dari wilayah tersebut. Para penatua diam-d=
iam,
tapi pada akhirnya mereka setuju supaya ide Pak Eli diteruskan pada
klasis.
Namun sebelum rapat bisa diakhiri dengan doa, salah seorang “tua
jemaat” bangun dan keluar tanpa komentar. Nenek Maria bukan anggota Majelis
Jemaat, tapi dia selalu menghadiri pertemuan-pertemuan Majelis, karena dia
termasuk orang Kristen yang pertama di wilayah Haumetan. Selain itu, Nenek Maria dianggap
memiliki karunia sebagai seorang bidan kampung. Sebagian besar anak dalam kampung
dilahirkan dengan bantuan Maria, dan mala dikatakan bahwa dia pernah
menghidupkan kembali bayi yang “lahir mati.” Dia tidak pernah mau menerima imba=
lan
untuk pelayanannya, dan kalaupun dipaksakan, dia akan langsung antar imbala=
nnya
ke gereja sebagai persembahan. Nenek Maria jarang sekali bicara dalam rapat
Majelis, tapi pendapatnya sering cukup menentukan. Dalam hal usulan Pak Eli, rupanya
“aksi tutup mulut” dari Maria justru lebih berbicara, sebab pada
akhirnya Pak Eli tidak meneruskan usulannya kepada klasis.
Biarlah kita meninggalkan percaturan ini seb=
elum
“sekak,” sebab tujuan kita bukan untuk menyelesaikan perkara,
melainkan untuk belajar tentang sumber-sumber wibawa. Jelaslah bahwa ketiga orang dalam =
kisah
ini masing-masing memiliki kewibawaan tertentu, tapi jelas juga bahwa sifat=
nya
berbeda-beda. Sebaiknya diura=
ikan
satu per satu.
Yonas
Dari ketiga tokoh dalam cerita di atas, Yona=
slah
yang paling memiliki atribut-atribut kehormatan: Dia saja yang pakai toga.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Dia bisa melayani sakramen dan
pemberkatan nikah, dan orang lain tidak boleh. Dia adalah Yonas, S.Th. Dia mengantongi SK Majelis Sinode =
GMIT
sebagai Ketua Majelis Jemaat Fatumuti.&nbs=
p;
Berdasarkan SK tersebut, dia diterima sebagai pendeta di wilayah
Fatumuti, walaupun jemaat belum pernah melihat wajahnya sebelum dia melapor
diri di sana..
Kalau kita melihat dasar dari kewibawaan yang
dimiliki Yonas pada saat dia mulai pelayanannya di Fatumuti, ada dua hal ya=
ng
menonjol. Gelar S.Th. =
menunjukkan
bahwa dia berpendidikan tinggi.
Barangkali dia adalah satu-satunya sarjana di Fatumuti. Namun bukan gelar saja yang menent=
ukan,
tapi bahwa gelar itu diperoleh (seyogianya) berdasarkan suatu keahlian=
i>
yang teruji dan terbukti melalui proses pendidikan. Jemaat boleh mengharapkan bahwa Yo=
nas
sebagai Sarjana Teologi memiliki sejumlah keahlian dalam hal menafsirkan
Alkitab, berkhotbah, menerangkan ajaran gereja, menggembalakan orang-orang =
yang
susah dan bingung, dsb. Oleh =
karena
“dia lebih tahu,” maka dia memperoleh kewibawaan sesuai bidang
keahliannya. Demikian juga ka=
lau
ada dokter atau perawat di Puskesmas, guru di sekolah, penyuluh
pertanian– masing-masing memiliki kewibawaan sesuai ilmu yang mereka
kuasai. Kewibawaan berdasarkan
keahlian dapat dipertahankan selama yang bersangkutan tidak melakukan
kesalahan-kesalahan yang menyebabkan masyarakat meragukan keahliannya.
Tapi barangkali lebih penting dalam penghitu= ngan kewibawaan Yonas adalah statusnya sebagai pendeta. Kewibawaan institusional diperoleh melalui penahbisannya dan pemberian SK oleh lembaga gereja yang berwewenang. Sampai sejauh ma= na jemaat patuh pada gereja yang mengangkat dan mengutus Yonas, maka kewibawaan lembaga gereja juga melekat pada dirinya.&= nbsp; (Sebenarnya kewibawaan seperti itu yang ditandai oleh pemakaian toga: para pelayan masa lalu mulai memakai toga ketika iman Kristen menjadi agama resmi kekaisaran Romawi. Toga adalah pakaian jabatan bagi seorang pegawai Roma, dan barangsiapa memakai t= oga dianggap mewakili kewibawaan Kaisar.) Kekuatan dari kewibawaan institusional ini nampak dalam sikap yang sering ditunjukkan jemaat terhadap pendeta yang membuat kesalahan-kesalahan= yang berat. Sebenarnya jemaat sudah kehilangan respek terhadap pribadi pendeta tersebut–namun mereka masih menerima pelayanannya karena mereka menghormati jabatannya. <= o:p>
Kedua sumber wibawa ini sudah dimiliki oleh =
hampir
semua pendeta pada saat mereka tiba di jemaat. Namun teryata kewibawaan ini tidak=
cukup
untuk meluputkan Yonas dari tantangan.&nbs=
p;
Ada apa lagi?
Eli
Pak Eli berpendidikan Sekolah Rakyat, dan dia
tidak memiliki SK Sinode–dalam kewibawaan institusional dan keahlian =
dia
kalah besar dengan Yonas. Eli=
naik
mimbar mengenakan baju putih, atau kalau pada hari besar, jas hitam yang su=
dah
menguning. Waktu dia mengucapkan berkat, dia tidak boleh angkat tangan. Namun dia boleh angkat tangan untuk
melawan Yonas. Mengapa?
Eli adalah seorang bangsawan, keturunan dari “tuan tanah” di Haumetan. Selama warga Haumetan masih merasa terikat sebagai masyarakat adat, = Pak Eli tidak bisa diganggu gugat dalam posisi sebagai primus inter pares. Sebagai tokoh adat, kalau dia berb= icara orang harus dengar, dan dalam peran itu dia naik mimbar setiap minggu. Dia berkhotbah sampai dia puas, ta= npa menghiraukan bayi-bayi yang menangis atau orang tua yang mengantuk di bangku. Dan betapapun jemaat = merasa bosan dengan kepemimpinannya dan kecewa dengan keadaan keuangan yang tidak transparan, namun mereka masih memilih dia sebagai penanggung jawab Jemaat Haumetan pada setiap periode (sementara Yonas tentu ditempatkan oleh Sinode, bukan dipilih oleh jemaat). <= o:p>
Eli memiliki kewibawaan sosial berdas=
arkan
posisi yang diwarisinya dalam struktur sosial setempat. Untuk menguraikan ikatan-ikatan ya=
ng
menyerupai struktur masyarakat adat agak di luar jangkauan artikel ini, tapi
mungkin cukup kalau dikatakan bahwa wibawa Eli berakar dalam suatu identitas
komunal. Kewibawaan itu hanya=
akan
pudar kalau identitas sosial itu sendiri mulai luntur. Dalam bahasa jemaat, “Baik t=
idak
baik, dia adalah bapak kita.”
Seperti pendeta yang “rusak” masih dihargai karena
jabatannya, seorang tokoh adat, betapa buruk, masih dihargai demi nenek
moyangnya–apalagi kalau nenek moyang dianggap masih berpengaruh terha=
dap
kesejahteraan masyarakat masa kini.
Masih ada sumber wibawa yang lain pada Eli y=
ang
belum dimiliki Yonas. Pak Eli=
sudah
mengenal seluruh jemaat menurut namanya.&n=
bsp;
Dia tahu siapa pemabuk, siapa pemalas, siapa berselingkuh dengan
siapa. Dia pernah menguburkan=
orang
tua mereka, dan dia sudah berulangkali turut “putus perkara” di
antara mereka. Setelah tinggal
bersama jemaat seumur hidup, dia mempunyai kewibawaan relasional yang
sulit ditandingi oleh seorang Yonas yang “baru datang kemarin.”=
Tapi meskipun Pak Eli dipersenjatai dengan s=
uatu
kewibawaan sosial dan relasional yang sangat kuat, nampaknya dia masih engg=
an
melawan pendirian seorang Maria. Ada
apa?
Maria
Jelaslah bahwa Maria tidak memiliki gelar at=
au
jabatan apapun, kecuali secara
Jadi mengapa Eli bisa membatalkan niatnya un=
tuk
menarik Jemaat Haumetan dari wilayah Fatumuti, rupanya hanya berdasarkan si=
kap walk-out
dari Maria? Pertama, boleh
dikatakan bahwa Maria tidak kalah dengan Eli dalam hal wibawa relasional=
. Dia telah membantu banyak keluarga=
pada
waktu bersalin, dan–lain dari Eli yang menarik keuntungan dari fungsi=
nya
sebagai “hakim” adat–Maria tidak memungut apa-apa, malah =
dia
memberi persembahan pada gereja kalau ada hasil dari pelayanannya. Selebihnya, walaupun ayahnya Eli y=
ang
memberi tanah untuk gereja pertama-tama dibangun, namun Marialah yang adalah
perintis iman di sana dan telah lama menjadi teladan bagi warga jemaat. Dapat dikatakan bahwa berdasarkan
pengabdian dan kesalehannya, Maria memiliki kewibawaan moral dan spiritu=
al
yang tidak dimiliki Eli dan belum dimiliki Yonas. Maria adalah suara hati jemaat, dan
dalam perkara ini, Eli tidak berani melawannya. Dan di kemudian hari, kalau keadaa=
n sudah
pulih di jemaat Haumetan, kemungkinan besar Yonas tidak pernah akan menyada=
ri
bahwa dia telah dibantu oleh “kepemimpinan” Nenek Maria.
Melihat dasar kewibawaan dari ketiga tokoh d= alam peristiwa ini, sekarang kita boleh memberi “skor” pada posisi m= asing-masing dalam pertarungan wibawa. Berikut kartu juri:
|
Sumber Kewibawaan |
Insti= tusional |
Keahl= ian |
Sosia= l |
Relas= ional |
Moral= dan Spiritual |
|
Yonas= |
&n= bsp; tinggi |
&n= bsp; tinggi |
&n= bsp; rendah |
belum = ada |
belum = ada |
|
Eli= p> |
&n= bsp; sedang |
&n= bsp; rendah |
&n= bsp; tinggi |
&n= bsp; tinggi |
&n= bsp; rendah |
|
Maria= |
&n= bsp; rendah |
&n= bsp; rendah |
&n= bsp; rendah |
&n= bsp; tinggi |
&n= bsp; tinggi |
Dari dinamika kewibawaan dalam kasus Haumeta=
n di
atas, kita bisa mengerti mengapa Yonas mengalami kesulitan. Sebagai pendeta baru yang berasal =
dari
luar Haumetan, dia hanya bisa mengandalkan kewibawaan institusional dan
keahlian–dan keahliannya pun masih harus dibuktikan pada jemaat. Khusus untuk jemaat pedesaan, kedua
sumber wibawa ini termasuk agak lemah.&nbs=
p;
Pelembagaan gereja, sama dengan birokrasi pemerintah, lebih banyak
difahami sebagai kuasa yang asing, yang berasal dari luar lingkungan
mereka. Dalam hal tertentu, l=
embaga
gereja dan pemerintah bisa memaksakan kehendak pada masyarakat pedesaan, ta=
pi
mereka juga akan mencari akal untuk meluputkan diri dari intervensi kedua
lembaga tersebut. Di sini sif=
at
kekuasaan lebih nampak daripada kewibawaan. Sedangkan mengenai wibawa keahlian=
,
karena jemaat kurang mengetahui apa yang bisa diharapkan dari sebuah pendid=
ikan
teologi, mereka sulit memberi bobot yang jelas pada sumber wibawa ini, dan
lebih banyak bersikap “tunggu lihat.”
Kewibawa= an sosial seperti yang dimiliki Eli tidak tersedia bagi Yonas–dia tidak mungkin dilahirkan kembali sebagai tokoh adat. Jalan yang sering ditempuh adalah mendekatkan diri pada tokoh-tokoh adat setempat, tapi strategi ini agak ris= kan: bisa terjadi bukan penambahan wibawa pada pendeta, melainkan penyerahan wib= awa pada tokoh adat. Sedangkan kewibawaan relasional, moral, dan spiritual hanya bisa dikembangkan kalau Y= onas sudah lebih lama bergaul dengan jemaat, masuk-keluar rumah-rumah mereka, mendoakan mereka pada waktu sakit atau pengucapan syukur; singkatnya, kalau= dia sudah mengabdi dan berkorban demi kesejahteraan mereka.
Pada tin= gkat strategis saja, kita sekarang boleh menasehati para Yonas demikian: Jangan terlalu mengandalkan SK dan S.Th. Berusaha untuk menjalin relasi dengan jemaat, rajin berkunjung, mela= yani mereka dengan sebaik-baiknya, jangan dulu menuntut hak. Kalau berhasil, anda akan peroleh pengakuan yang tidak berasal dari = luar, melainkan dari hati jemaat sendiri, dalam bentuk kewibawaan moral dan spiritual.
Kesimpulan Swadaya
Setelah mengamati berbagai sumber wibawa yang nyata dalam kehidupan jemaat, serta interaksinya satu dengan yang lain, tinggal kita mengangkat kembali pertany= aan normatif. Terlepas dari soal kalah/menang dan pertimba= ngan strategi pelayanan, sumber kewibawaan yang mana yang seharusnya diandalkan dalam gereja Kristen? Sumber wibawa yang mana dimiliki Yesus? Adakah sumber wibawa yang melandasi “kepemimpinan abdi” seperti dipersoalkan pada pendahuluan artikel ini? Biarlah pembaca y= ang budiman menarik kesimpulan sendiri.
[1]Perlu dibedakan d=
i sini
di antara kewibawaan dan kekuasaan.
Untuk kepentingan tulisan ini, kekuasaan adalah kemampuan untuk
mempengaruhi terlepas dari soal pelegitimasian, misalnya dengan pemaksaan a=
tau
kekerasan. Sedangkan kewibawa=
an
adalah kemampuan berpengaruh yang diakui syah oleh mereka yang dipengaruhi.=
Oleh
karena unsur pengakuan ini, kewibawaan biasanya tidak memiliki sifat
pemaksaan. Contoh: Yesus memi=
liki kuasa
untuk mengusir roh-roh jahat, tapi Dia mengajar dengan berwibawa.
|
11 |