MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C98.4019FB40" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C98.4019FB40 Content-Location: file:///C:/D0F54194/modelgmit.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii" Sumber: www

Sumber:= www.oaseonline.org

&n= bsp;

 

John Campbell-Nelson

 

Model-Model GMIT?

Sebuah Provokasi

 

Latar Belakang:

 

  =           Dalam HKUP 1991-1995 diterapkan suatu perspektif terhadap perencanaan, penyusunan= dan pelaksanaan program pelayanan GMIT yang bersifat "bottom-up". Dib= awa moto “jemaat sebagai basis pelayanan”, pelayanan GMIT diharapkan disusun menurut kebutuhan dan aspirasi jemaat sendiri; Klasis dan Sinode dilihat sebagai nara sumber dan wadah kerja sama  yang akan melengkapi jemaat-jemaat setempat dalam pelaksanaan  pelayanannya. Secara khusus, fokus daripada HKUP terarah pada  pengembangan pola dasar pelayanan = di setiap jemaat; yaitu supaya jenis-jenis pelayanan yang merupakan dasar yang normatif pada misi gereja lokal terlaksana secara terandal dan mandiri.  Sejak waktu itu, lima bidang pelay= anan (koinonia, marturia, diakonia, liturgia, dan oikonomia) menjadi “baha= sa baku” dalam perencanaan program pelayanan.  Fokus ini dimaksudkan sebagai land= asan untuk terwujudnya "jemaat yang misioner" sebagaimana dicita-citak= an dalam Rencana Induk Pelayanan.

 

  =           Namun dalam pelaksanaannya, pengembangan "jemaat sebagai basis" mengala= mi hambatan-hambatan yang menunjuk kepada suatu kekaburan konseptual tentang hakekat gereja.  Memang jemaat= telah lama menjadi basis pelayanan secara de fakto.   Akibat isolasi geografis dan kekurangan tenaga pelayan yang  kronis, banyak jemaat pedesaan telah dibiarkan mengatur diri dengan campur tangan yang minimal dari fihak "luar" --paling-paling dalam hal pelayanan sakramen dan penempatan pelayan. Setelah diterapkan sistem penyetoran 35%, jemaat-jemaat semakin menyadari diri sebagai "basis keuangan", namun perkembangan itu belum tentu disertai dengan suatu ra= sa "memiliki" akan pelayanan yang mereka biayai.  Jangkah panjang, sebuah keterikatan finansial dan administratif tidaklah cukup untuk memelihara keutuhan GMIT.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'>  Yang diperlukan adalah sebuah iden= titas (jati diri) sebagai gereja yang dimiliki dan diakui bersama. 

 

  =           Avery Dulles menulis sebuah buku yang menggambarkan Model-Model Gereja yang telah berkembang dalam tradisi Kristen = Eropa, dengan maksud supaya gereja-gereja bisa bercermin pada sejarah dan mencari “wajahnya” dalam model-model tersebut.  GMIT juga bisa bercermin pada model-model Dulles, tapi tidak salah kalau kita mencari lebih dekat, dalam perkembangan sejarah GMIT sendiri.  <= /span>Berikut adalah tiga “model gereja” yang pernah hidup dan berkembang di tengah-tengah kita.

 

1. Model Zending

 

  =           Orang GMIT pertama-tama mengenal apa itu gereja dari para zendeling Belanda.  Hanya, para zendeling tidak membawa sebuah jemaat dari Belanda untuk ditunjukkan kepada kita.  Mereka hanya membawa sejumlah norm= a yang hendak diajarkan dan diterapkan.  Norma-norma tersebut tidak terbatas pada teologia, tapi juga mencakup norma-norma moral= dan budaya.  Untuk menerapkan norma-norma tersebut, mereka membuka sekolah-sekolah dan melatih “guru jemaat” sebagai tenaga pengajar dan penginjil.  Tidaklah mengherankan kalau jemaat-jemaat pribumi yang pertama mirip sebuah sekolah, dan beribadah dalam gedung sekolah juga.  Dalam su= asana seperti ini, “Ajaran Gereja” sunggu-sunggu diajarkan, dan jemaat dalam posisi murid.

 

  =           Para zendeling juga membawa uang sendiri.  Entah dalam bentuk gaji dari badan zending, atau kemudian sebagai pegawai Hindia Belanda, mereka mendatangkan sumber biaya pelayanan dari lua= r.  Para guru jemaat juga kurang lebih bergantung pada zending.  Basis ekonomi seperti ini menanamkan sebuah pandangan bahwa “sumber” Injil adalah juga sumber uang, dan pelayanan gerejawi adalah sebuah mata pe= ncarian.

 

  =           Perlu dicatat juga bahwa mereka membawa misi kolonial.  Dengan “backing” pemer= intah kolonial, mereka mengajarkan ketaatan pada Tuhan dan ketaatan pada pemerint= ah dengan satu nafas.  Walaupun p= erlu dikatakan juga bahwa kadang-kadang para zendeling berbeda pendapat dengan pimpinan kolonial, namun pada dasarnya, mereka adalah bagian dari suatu struktur kuasa yang sama.   =   

&nb= sp;

        &= nbsp;   Dengan latar belakang seperti ini,= kita bisa menggambarkan “model zending” sebagai berikut:<= /span>

 

 

$  =         Gereja lokal adalah “tiruan” dari sebuah gereja yang “asli” yang ada di tempat lain, dan jemaat adalah murid-murid yang sedang belajar meniru kekristenan yang asli tersebut.

 

$  =         Pimpinan gereja di “pusat” (sebagai ahli waris para zendeling) adalah su= mber ajaran, keuangan, dan kuasa.  = Semakin dekat pada pusat, semakin dekat pada gereja yang sebenarnya.

 

$&n= bsp;         Iman adalah ketaatan; tidak taat berarti murtad.

&nb= sp;

&nb= sp;

2. Model Feodal

&nb= sp;

“Model Zending” jelas-jelas berorientasi pada sebuah “pusat” imajiner.  Namun dalam kenyataan, banyak jema= at GMIT di pedesaan berkembang sesuai dengan hikmat lokal, dengan hanya menunj= ukkan ketaatan pada Sinode kalau ada perkunjungan dari luar.  Sedangkan dalam pengembangan dirin= ya, jemaat-jemaat pedesaan telah berasimilasi pada pola kultus yang ada pada ag= ama suku sebelumnya, serta pola pimpinan adat setempat.  Mereka memanfaatkan perangkat pela= yanan yang disediakan oleh gereja untuk maksud-maksud yang terlebih dulu dilayani oleh agama suku: meminta hujan, menolak bencana, mencari kesembuhan dan perlindungan dari kuasa-kuasa jahat, dan meluruskan hubungan dengan sesama = dan dengan nenek moyang.  Di luar = itu, dari tahun ke tahun jemaat menjalankan "pola pelayanan tradisionil&quo= t; yang diwariskan pada mereka oleh model zending --hampir terbatas pada serangkaian ibadat--dalam suatu kemapanan yang amat kental.

 

  =           Berhubungan dengan klasis dan sinode, jemaat-jemaat juga memahami struktur gereja melal= ui gambaran-gambaran tentang  str= uktur dan kuasa yang sudah tersedia dalam masyarakat adat mereka.  Dalam kerangka berpikir Atoin Meto, misalnya, Sinode dilihat bukan sebagai suatu forum yang demokratis untuk pengambilan keputusan dan pelaksanaan pelayanan secara bersama, melainkan sebagai pusat kekuasaan eklesial, dengan kantor sinode sebagai sonaf.  Kepadanya diberi hormat, ketaatan,= dan upeti dan daripadanya diharapkan perlindungan pada masa-masa krisis dan hik= mat dalam “putus perkara”.  <= /span>Para pendeta di lapangan berfungsi sebagai mafefa, sedangkan para ketua klasis adalah = amaf-amaf, dengan Ketua Sinode sendiri sebagai usif. 

 

 

3.  Model Orba<= /span>

 

  =           Sejajar dengan model feodal adalah model birokratis yang terambil dari pemerintah.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'>  Nafsu keseragaman demi “kesa= tuan dan persatuan bangsa”, pemahaman tentang agama sebagai subsistem nega= ra, kultus kepemimpinan, serta keterlibatan tokoh-tokoh pemerintah dalam badan-badan pertimbangan dalam lingkungan Klasis dan Sinode, semuanya menar= ik gereja ke arah yang semakin mirip dengan pemerintah.  Sinode difahami sebagai pusat  pemerintahan gerejawi yang mengelu= arkan peraturan dan instruksi dan menerunkan program-program dan proyek-proyek un= tuk dilaksanakan (sesuai petunjuk Ketua Sinode) oleh para aparat  gereja di “lapangan.”<= span style=3D'mso-spacerun:yes'>  Dari “lapangan” dikirim pajak dan laporan pelaksanaan.  Organisasi dan administrasi semakin ditekankan, dan identitas Gereja merujuk pada RIP, RP, HKUP, dan PP, yang disusun dengan bercermin pada GBHN= .

 

  =           Ketiga model ini mengandung sebuah ideologi kuasa yang sangat hirarkis, di mana ku= asa mengalir dari atas ke bawah sedangkan hormat, ketaatan, dan segala sumber d= aya mengalir dari bawah ke atas.  Semuanya berakar dalam pengalaman jemaat-jemaat kita. Namun ketiga-tiganya sangat berlawanan dengan arus besar eklesiologi yang kita wa= risi dari tradisi Reformatoris--ataupun dari Perjanjian Baru.  &n= bsp;    

        &= nbsp;   Sangat wajar kalau jemaat mengambi= l alih gambarannya  tentang struktur = gereja dari sumber-sumber yang tersedia dalam&nbs= p; lingkungannya.  Hal yang serupa telah terjadi sejak awal, ketika jemaat dalam lingkungan Yahudi membentuk dirinya menurut model sinagoge, atau ketika gereja Katholik kuno mengambil alih struktur pemerintahan kekaiseran Romawi. Meskipun demikian, =  pertanyaan besar bagi kita adalah, = Sampai sejauh mana gereja mampu menyed= iakan suatu visi alternatif tentang komunitas&nb= sp; gerejawi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teologis yang setia kepada Injil Yesus Kristus, dan mengatur diri menurut dasar itu?  Sebab tanpa sebuah visi dan pemaham= an diri yang baru, maka betapapun besar kebebasan yang diberikan kepada jemaat, dia tidak akan mampu mengangkatnya, karena tidak merasa diri bebas. 

 

------=_NextPart_01C68C98.4019FB40 Content-Location: file:///C:/D0F54194/modelgmit_files/header.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"





 

 

&= nbsp;

 

&= nbsp;

 

------=_NextPart_01C68C98.4019FB40 Content-Location: file:///C:/D0F54194/modelgmit_files/filelist.xml Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/xml; charset="utf-8" ------=_NextPart_01C68C98.4019FB40--