MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C6BD73.842DCA80" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C6BD73.842DCA80 Content-Location: file:///C:/1D28CA09/oikonomi.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"
sumber: www.oaseonline.org
Oikonomia
Bahan Baku bagi Pandangan Teologis tentang Ekonomi
oleh John Campbell-Nelson
“Apa kata Alkitab tentang ekonomi?” Kalau dilihat secara harafiah, Alk=
itab
membisu. Kata “ekonomi&=
#8221;
tidak muncul sama sekali dalam keseluruhan Alkitab bahasa Indonesia dari
Kejadian sampai Wahyu. Namun =
muatan
Alkitab tentang berbagai aspek kehidupan manusia yang masa kini disebut eko=
nomi
justru banyak sekali. Kata
“kaya/kekayaan” muncul 168 kali, miskin 156 kali, jual/beli/bay=
ar
177 kali, makanan 186 kali, pakaian 179 kali, harta 138 kali, uang 112 kali,
dan emas 295 kali.
Dalam kitab-kitab Musa, kita boleh pelajari peraturan-pera=
turan
perekonomian yang melandasi pembentukan Israel sebagai sebuah bangsa baru,
termasuk undang-undang agraria, perburuhan, hutang-piutang dan suku bunga,
timbangan, peraturan jual-beli, kebijakan keuangan dan perpajakan, perlindu=
ngan
lingkungan dan sumber daya alam, kesejahteraan sosial, dan masih banyak
lagi. Pada zaman kerajaan, pa=
ra
Nabi memberi perhatian yang besar pada ketimpangan-ketimpangan dan penindas=
an
ekonomis, bahkan sering mereka lebih mengutamakan keadilan ekonomis ketimba=
ng
urusan keagamaan.
Yesus sendiri mulai misi pemberitaanNya dengan menyatakan bahwa Ia telah
diurapi untuk “menyampaikan kabar baik pada orang-orang miskin”=
dan
dalam ajaran dan pelayananNya Ia mengembangkan sebuah ekonomi alternatif
berdasarkan prinsip hidup sederhana dan membagi-bagikan segala harta milik
tanpa batas.[1]<=
span
lang=3DDE style=3D'mso-ansi-language:DE'>&=
nbsp;
Ekonomi ini bukan sebuah impian saja, melainkan terwujud dalam pola
hidup jemaat pertama di Yerusalem: “segala kepunyaan mereka adalah
kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, =
lalu
membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan
masing-masing.” (Kis. 2.45) Kalau meragukan keseriusan gereja mula-mu=
la
mengenai tatanan ekonomi komunal ini, tanya saja pada Ananias dan Safira!
Kita tidak perlu heran kalau Alkitab banyak memperhatikan masalah-masal=
ah
ekonomis. Ekonomi justru
berhubungan dengan salah satu pokok keprihatinan utama dalam tradisi iman
kita: kesejahteraan manusia. &n=
bsp;
“Aku datang supaya manusia peroleh hidup dalam segala
kelimpahan,” kata Yesus (Yoh. 10.10), dan tentu kelimpahan itu tidak
terlepas dari soal makan-minum (termasuk anggur yang enak, kalau kita
perhatikan pesta pernikahan di Kana!).
Pada kesempatan ini, kami akan memberi sebuah definisi singkat tentang
ekonomi dari segi Alkitabiah, kemudian mengangkat beberapa tema teologis yang terkait, dan berkhir
dengan beberapa “perumpamaan” tentang ekonomi masyarakat adat N=
TT.
Oikonomia=
Dalam artian yang paling sederhana, konsep ekonomi merujuk pada segala
upaya untuk mengolah sumber daya alam, dengan segala kreatifitas dan talenta
yang kita miliki, demi produksi, pertukaran, dan konsumsi kebutuhan-kebutuh=
an
pokok manusia. Kata ekonomi b=
erasal
dari bahasa Yunani oikos =3D
“rumah” dan nomos =
=3D
“tatanan”; sehingga oik=
onomia
dapat diartikan sebagai “penataan rumah tangga” atau secara leb=
ih
umum, “penatalayanan.”
Pada zaman Perjanjian Baru, seorang oikonomos
adalah sejenis pelayan yang diberi kepercayaan untuk mengatur rumah tangga =
atau
kebun tuannya. Dalam penafsir=
an
terhadap kitab Kejadian, banyak teolog dari Bapak-Bapak gereja sampai dengan
Calvin melihat peranan oikonomos ini
sebagai peranan yang pertama-tama diberikan Tuhan Allah kepada manusia dalam
penciptaanNya. “Tuhan A=
llah
membuat taman di Eden ...lalu Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon =
dari
bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; [dan] mengambil man=
usia
itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara t=
aman
itu.” (Kej. 2.8-9, 15) =
Dari
sudut pandang Kejadian, dapat dikatakan bahwa homo economicus adalah bagian dari kemanusiaan kita yang paling
asli.
Berangkat dari gambaran tentang peranan manusia sebagai oikonomos di kebun Allah, maka Ras=
ul
Paulus dan beberapa teolog gereja mula-mula mengembangkan artian yang utama
dari oikonomia dalam tradisi Kr=
isten:
Allah telah menciptakan bumi ini se=
demikian
rupa sehingga segala kebutuhan manusia dapat dipenuhi secara baik dan lesta=
ri,
asal manusia mengolanya secara setia dan bertanggung jawab. Tatanan alam ini dan peranan manusi=
a di
dalamnya disebut Oikonomia Allah. Bahwa manusia akan jatuh ke da=
lam
dosa sudah diperhitungkan Allah, =
i>sehingga
karya keselamatan Yesus juga dilihat sebagai bagian dari Oikonomia yang Agu=
ng
ini. Dengan demikian, secara
sederhana, dapat dikatakan bahwa oikonomia pada asal mula tradisi Kristen
berarti rencana Tuhan demi pemeliha=
raan
dan keselamatan seisi bumi ini.<=
![if !supportFootnotes]>[2]
Landasan-landasan
Teologis
1. “Tuhanlah yang e=
mpunya
bumi serta segala isinya.” (Maz. 24.1) Prinsip ini membawa beberapa
konsekwensi:
$&n= bsp; Menetapk= an hak milik Allah yang tidak boleh dialihkan pada pihak lain (“Tanah ja= ngan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu.” Imamat 25.23). Negarapun tidak berdaulat secara m= utlak atas tanah air dalam daerah kekuasaannya.
$ &= nbsp; Bumi, flora, dan fauna ciptaan Tuhan harus dihormati sesuai kemuliaan pemiliknya.
$ &= nbsp; Segala kepunyaan manusia adalah pe= mberian dari Allah, dan harus disyukuri dan diterima dengan kerendahan hati. (Yak. 1.17)
$ &= nbsp; Hutang-piutang antara manusia direlativisir oleh hutang kita semua kepada Tuhan. “Ka= mu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Mt. 10.8)<= /p>
2. “Janganlah kamu = kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apak= ah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak menge= nal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semu= anya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mt. 6.32-34) Implikasinya:
$ &=
nbsp; Percayalah
kepada kebaikan Allah untuk “Berikanlah kami pada hari ini makanan ka=
mi
yang secukupnya”–jangan mencobai Allah seperti orang
$ &= nbsp; Percayalah juga kepada sesamamu. Ketika = Yesus mengutus murid-muridnya, Ia menyuruh mereka tidak membawa bekal apa-apa di perjalanan, supaya mereka harus bergantung pada keramah-tamahan rakyat yang mereka layani. (Mt. 10.9-10) Pendeta-Pendeta GMIT pun berbuat demikian.
$ &= nbsp; Kesejahteraan diperoleh sebagai efek sampingan dari kebenaran; sebaliknya, kebenaran tidak perlu dan tidak boleh dikorbankan demi kesejahteraan. Hal ini kalau dipatuhi bisa member= antas KKN.
$ &= nbsp; “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mt. 6.24) Yesus dengan tegas meny= atakan bahwa upaya untuk mencari kekayaan pribadi bukan hanya menjadi halangan bagi iman, melainkan merupakan sejenis berhala.= Mamon adalah semacam personifikasi dari kecenderungan manusia untuk mendewakan harta. Mengabdi kepada Mamon berarti meny= angkal atau meragukan kebaikan (providentia) Allah, and lebih dari itu menjadikan manusia sebagai pelaku kejahatan ekonomis.= Masalah ini ada di belakang kecaman Yesus terhadap orang kaya: “celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu tel= ah memperoleh penghiburanmu.” (Lukas 6.24)
3. “Berbahagialah, hai kamu yang
miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” (Lukas 6.20) Inilah kabar baik yang Yesus sebut=
kan
pada khotbahnya di Nazaret (Lukas 4.18).&n=
bsp;
Orang miskin diberi perhatian khusus oleh Allah bukan karena mereka
lebih baik dari orang lain; kebobrokan moral bukan monopoli orang kaya. Justru orang miskin diistimewakan karena mereka susah dan menderita, dan
Allah menaruh belas kasihan pada mereka.&n=
bsp;
&nb= sp; Selain itu, orang miskinlah yang lebih banyak menyambut pemberitaan Yesus dengan g= embira dan rela menjadi pengikutnya. Kalau membagi-bagikan harta milik sesuai kebutuhan sesama menjadi persyaratan mengikut Yesus, maka orang yang “berpunya” justru paling merasa berat untuk melepaskan hartanya. Bagi mereka yang tidak punya apa-apa, merekapun tidak merasa kehilangan. Implikasi:=
$ &= nbsp; Sebuah ekonomi yang berkembang dalam kesetiaan pada Yesus akan diukur dari bawah, bukan dari atas. Kebijakan dan praktek ekonomi dapat dikatakan baik kalau membawa kesejahteraan bagi orang miskin; dan tidak baik kalau membuat orang kaya tambah kaya.
$ &= nbsp; Pemerintah memihak pada rakyat berhadapan dengan investor, bukan bersekongkol dengan investor untuk merampas sumber daya alam dari tangan rakyat.
4. Berpuasa yang Kukehend= aki,
ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman,
dan melepaskan tali-tali kuk...
supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar
dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah,
dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian <= /p>
dan tidak menyembunyikan diri terh=
adap
saudaramu sendiri!
&n=
bsp;  =
; &n=
bsp;  =
; &n=
bsp;  =
; &n=
bsp; (Yes.
58.6-11; band. Amos 5.21-24)
Yesaya mengecam puasa dan Amos men= gecam perayaan-perayaan dan pesta korban kepada Allah, tapi dua-dua karena alasan yang sama. Ternyata Tu= han lebih mementingkan keadilan ekonomis terhadap orang-orang miskin dan tertin= das daripada atribut agama. Impli= kasi:
$&n=
bsp; Anggaran
diakonia lebih besar dari anggaran untuk pembangunan gedung gereja.
5.
“Janganlah mengambil kilangan atau batu kilangan atas sebagai
gadai, karena yang demikian itu mengambil nyawa orang sebagai
gadai.” (Ul.
24.6) Mungkin aturan ini terd=
engar
agak aneh, tapi di belakangnya ada sesuatu yang penting: batu kilangan
dibutuhkan untuk orang
$ Sarana produksi u= ntuk kebutuhan pokok tidak boleh diambil dengan alasan apapun.
$ Daripada membubar=
kan
masyarakat kita sendiri melalui imigrasi ke
6. “Haruslah kauingat, ba=
hwa
engkau pun dahulu budak di Mesir dan engkau ditebus Tuhan, Allahmu, dari
$ Keberhasilan ekon= omis membawa kewajiban yang mutlak untuk menolong orang yang lebih susah dari ki= ta.
$ Dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan kita, kita tidak boleh memperbudak orang lain.
7. "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi= dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. = Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Ma= nusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mt. 20.26-28)
Yesus
sedang berbicara tentang kepemimpinan dalam persekutuan para pengikutNya,
sehingga mungkin tidak nampak kalau perkataan ini ada makna ekonomis. Namun ada implikasi yang langsung =
dan
prinsipil.
$ Dalam terang anthropologis itu, kita bisa membaca perkataan Yesus di atas dengan artian ekonomis: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah = dia banyak memberi.” Atau l= ebih baik kutip langsung dari Yesus sendiri: “Berilah kepada setiap orang = yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.” (Lukas 6.= 30)
Dari
sejumlah kutipan Alkitab yang di atas, tentu kita tidak memperoleh sebuah t=
eori
ekonomi. Pada zaman Alkitab m=
emang
tidak ada usaha-usaha teoritis seperti yang ditemukan dalam universitas-uni=
versitas,
lembaga-lembaga pemerintahan, atau perusahaan-perusahaan besar masa kini. Yang kita peroleh adalah sejumlah
patokan moral yang memiliki relevansi bagi sistem ekonomi yang manapun, dari
ekonomi tradisional masyarakat adat sampai pada konglomerat global. Tidak dapat disangkali bahwa dalam
komunitas yang Yesus bangunkan terjadi semacam ekonomi komunal pada skala y=
ang
sangat kecil. Saya tidak bera=
ni
untuk meramalkan jenis ekonomi macam apakah yang Yesus akan kembangkan kala=
u Ia
berhadapan dengan zaman McDonald’s dan Coca Cola.
Kemandirian, Pemberian=
dan
Persekutuan dalam Ekonomi NTT: Perumpamaan-Perumpamaan dari Om Ma’u=
span>
Karena
saya tidak berkompeten untuk berteori tentang ekonomi, saya akan bercerita
saja. Pada poin 7 di atas saya
telah menyinggung tentang konsep gi=
ft
economy yang menurut saya sangat mirip dengan apa yang Yesus kembangkan=
di
antara murid-muridNya. Hal ya=
ng
sama juga nampak dalam sejumlah nilai ekonomi (walaupun sering dilanggar da=
lam
praktek) yang hidup di antara masyarakat tradisional di NTT. Mengapa masyarakat tradisional?
$&n=
bsp; Seorang
tamu datang dari Kupang, dan terkesan dengan kesuburan tanah, hutan rimba d=
an
air yang melimpah. Namun dari=
segi
lain dia terganggu dengan keadaan rumah bulat, pakaian yang masih berselimu=
t,
dan tidak adanya listrik atau televisi.&nb=
sp;
“Sebenarnya kalau anda berupaya, anda bisa cukup makmur,”
katanya. Ma’u tersenyum=
. “Pak, kami kurang apa? Paling-paling kami beli sabun dan
baterai di toko. Lain-lain ka=
mi
hasilkan sendiri: pakaian, makanan, bumbu-bumbu, kopi...Api pun kami bisa b=
ikin
sendiri dengan batu api. Siap=
a mau
bergantung pada toko untuk api?
Tidak perlu televisi. =
Lebih
baik tuturkan kami pung cerita sendiri daripada duduk bodoh-bodoh nonton or=
ang
Jakarta pung cerita.”
$&n= bsp; Adiknya Ma’u sudah menjadi pegawai negeri di Kupang. Kalau ada kumpulan keluarga di kam= pung, orang nikah atau orang mati, maka semua membawa beras, babi, atau paling sedikit ayam. Kecuali = si adik PNS, yang tidak membawa apa-apa (walaupun dia sering membawa pulang ba= nyak natura). Mungkin dia rasa malu sedikit, sehingga dia bilang, “Maaf, saya datang dengan tangan kosong. Tapi kami tidak ada tempat untuk pelihara ternak atau berkebun. Maklumlah, kami hanya hidup dari gaji.” Ma’u bersambung, “Mema= ng, saya mengerti. Uang ti= dak berkeluarga.”
$&n= bsp; Pada musim jeruk, seorang papalele datang untuk beli jeruk cina dari kebunnya Ma’u. Setelah tawar har= ga untuk sejumlah pohon, papalele menunjuk pada dua pohon di depan rumah yang paling sarat dengan buah. Dia menawarkan harga yang cukup tinggi. Tapi Ma’u tidak mau jual.&nbs= p; “Setiap tamu ya= ng datang harus lewat dua pohon ini, dan mereka petik dan makan. Kalau saya jual, nanti kala= u tamu datang saya mau kasi apa?”
$ Rumah bulat sudah=
perlu
diatap kembali. Ma’u pa=
da
mulanya mau sewa orang untuk mengerjakannya, tapi kemudian dia berobah
pendekatan. “Ini rumah =
adat,
jadi saya harus buat secara adat,” katanya. Dia mengundang semua sanak saudara,
kunyadu, dsb. untuk datang. <=
span
lang=3DDE style=3D'mso-ansi-language:DE'>Sekitar 200 orang berkumpul selama=
tiga
hari untuk mengganti atap alang-alang.&nbs=
p;
Dan sepanjang waktu itu, semua makan pesta. Setelah pekerjaannya selesai, Ma=
8217;u
mulai hitung ongkosnya: dua ekor sapi dan tiga ekor babi, dan beberapa karu=
ng
beras–sedangkan jagung tak terhitung. Padahal kalau sewa orang untuk pek=
erjaan
itu, harganya tidak lebih dari Rp. 150,000. “Kamu rugi besar!” saya
bilang. “Ya,”
Ma’u menjawab sambil goyang kepala.&=
nbsp;
“Tapi kalau saya tidak bikin begini, bagaimana kami akan tahu
bahwa kami bersaudara?”
$&n=
bsp; Siang
hari terdengar orang berteriak, “Rumah terbakar!” Mengikuti kolom asap, seluruh kamp=
ung
berkumpul di rumah bulat milik sebuah keluarga yang terhitung lebih miskin =
di
antara orang-orang miskin. Ay=
ahnya
adalah keturunan dari seorang budak yang dibeli dari Belu pada zaman Beland=
a. Ada isteri dan tiga anak, dan selu=
ruh
harta milik mereka terbakar habis bersama rumah bulat itu. Tinggal pakaian di badan. Melihat orang berdiri
“tanganga,” Ma’u bergerak. Dia tarik naik isterinya punya
sarung. “Kamu ada roh d=
alam
di bawa? Neu, baik. Buka itu sarung sudah dan kasi pada
keluarga ini.” Ma’=
;u pun
membuka baju kaosnya dan berikan pada ayah yang rumahnya terbakar. Kemudian dia balik pada para
penonton yang lain: “Pulang cepat!&n=
bsp;
Kamu bawa piring dan
sendok. Kamu, kuali. Kamu, bawa jagung dua ikat..... Sa=
ya
tunggu di sini. Dan besok, ki=
ta
kembali untuk bangun rumah baru.”&nb=
sp;
&n=
bsp; Kami
kebetulan ke kampung itu lima hari setelah peristiwa kebakaran, dan keluarga
yang malang itu sudah tinggal dalam sebuah pondok yang sederhana, namun pen=
uh
dengan segala kebutuhan hidup.
&n=
bsp; Sebagaimana
Yesus biasanya mengakhiri sebuah perumpamaan, “Barangsiapa mempunyai
telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|