MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C96.42C53000" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C96.42C53000 Content-Location: file:///C:/A5194181/oikonomia.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"
Sumber: www.oaseonline.org
Dari Oikonomia Allah sampai ke Eko=
nomi
Manusia:
Sebuah Catatan Historis=
oleh John Campbell-Nelson
Pada tahun 1991, HKUP GMIT menambah dua bidang pelayan= an yang “baru” pada tritunggal pelayanan yang terkenal: Koinonia, Marturia, dan Diakonia diperluas dengan Liturgia dan Oikonomia menjadi “panca pelayanan̶= 1; yang dipakai sampai sekarang. Pada waktu itu, tidak ada yang mempertanyakan liturgia. Kita beribadah kepada Tuhan sejak = dahulu kala. Hanya, ada yang merasa = ganjil dengan soal oikonomia. Begitu mereka tahu bahwa kata “ekonomi” berasal dari bahasa Yunani oikonomia mereka berkeberatan: “Ekonomi itu soal duniawi. Gereja jangan urus bisnis.”
Memang kita tidak mau kalau gereja menjadi semacam perusahaan. Hal ini sudah dig= umuli ketika kekayaan gereja menjadi salah satu pokok persoalan pada masa Reformasi. Pada abad-abad pertengahan, gereja telah berkembang sampai menjadi lembaga yang paling kay= a di Eropa. Para Reformator mengec= am korupsi dalam tubuh Kristus kalau gereja menjadi pemilik perkebunan yang lu= as, penjual jasa rohani, atau malah memungut pajak dan mengelola bank sendiri.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'> Dalam keadaan demikian, terlalu gampang persembahan “demi kemuliaan Tuhan” bergeser pada “kemegaan GerejaNya” dan pada akhirnya menjadi kekayaan para “Hamba Tuhan.”
Justru karena bahaya seperti itu, oikonomia perlu dipahami dalam arti yang asli=
dalam
tradisi kita, sebab jauh sebelum oi=
konomia
bergeser pada ekonomi dalam bah=
asa
sehari-hari, ia adalah sebuah konsep teologis yang cukup sentral.
Kata oikonomia= berasal dari bahasa Yunani: oikos =3D “rumah” dan nomos = =3D “penataan.” Dengan demikian oikonomia berarti pena= taan rumah tangga. Dalam bahasa sehari-hari, seorang oikonomos = adalah juru kunci, kepala dapur, dan penilik perkebunan pada sebuah rumah besar; s= edangkan oikonomia adalah tata aturan da= lam sebuah rumah tangga.
Berdasarkan arti yang sehari-hari ini, berkembang dalam pemikiran Rasul Paulus sebuah kiasan tentang dunia ini sebagai “rumah tangga Allah” (Ef. 2.19= ) dan oikonomia sebagai tatanan Allah te= rhadap ciptaanNya, dan lebih jauh lagi sebagai rencana penyelamatan Allah: “sebagai persiapan [oikonomia= n] kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.” (Ef. 1.10). Paulus juga menyebut diri sebagai “oikonomos rahasia Tuhan&= #8221; (Ef. 3.9; I Kor. 4.1; Kol. 1.25).
Selanjutnya, dalam pemikiran para Bapak Gerejawi konse= p oikonomia sudah menjadi sebuah ist= ilah yang khas teologis yang mencakup:
(1) Tatanan internal dari Trinitas, se= macam “pembagian tugas” di antara Bapak, Anak, dan Roh Kudus;
(2) Konsep providentia, yaitu pemeliharaan Allah dalam pemberian alam seme= sta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keberlangsungan hidup manusia;
(3) Inkarnasi Allah dalam diri Yesus K= ristus sebagai penggenapan rencana keselamatan.
(4) Merangkum semua arti di atas, pada akhirnya disebut “Sang Oikono= mia” untuk mencakup keseluruhan Rencana= Tuhan dalam penciptaan, keselamatan, dan penggenapan pada akhir zaman.
Dari evolusi makna oikonomia sejak Rasul Paulus lewat Krysostomus, Athanasius, Agustinus, bahkan sampai Luther dan Calvin nampak suatu keyakinan bahwa dunia ciptaan Allah dan keseluruhan perkembangan sejarah manusia adalah bagian dari suatu rencana a= gung yang ditata secara rapih demi kebaikan manusia dan kemuliaan Allah. Bagian manusia dalam rencana ini a= dalah sebagai oikonomos Allah yang dipercayakan dengan tugas untuk hidup sebagai penata rumah tangga Allah dan penjaga kebun Allah yang setia.
Kalau memang demikian, sejak kapan oikonomia bergeser dari arti teologis ini menjadi “ekonomi,” dalam arti kegiatan produksi, pemasaran dan konsumsi barang, jasa, dan uang?
Perobahan ini terjadi mulai pada zaman yang disebut “Pencerahan” di Eropa, pada abad ke15-18. Pertama, terjadi sejumlah te= robosan dalam bidang ilmu alam, di mana para ilmuan seperti Galileo dan Kopernikus menemukan bahwa bumi ini bulat dan mengelilingi mata hari—ternyata bu= kan seperti dalam Alkitab, di mana bumi ini dianggap plat seperti sebuah piring= dan mata hari mengelilingi bumi. Menyusul keberhasilan dalam ilmu alam, sejumlah pemikir mulai menera= pkan metode observasi dan analisis yang serupa pada kehidupan dan kegiatan manusia. Tidak lagi terpaku p= ada “apa kata Alkitab,” mereka mencari pengetahuan tentang manusia = dengan mata dan kepalanya sendiri.
Salah satu pemikir yang menerapkan metode observasi-an=
alisis
ini pada kegiatan produksi dan perdagangan adalah Adam Smith, dalam bukunya=
Menelusuri Kekayaan Bangsa-Bangsa =
(An Inquiry into the Wealth of Nations,=
1776). Smith meletakkan dasar bagi teori
kapitalisme dan “pasar bebas” yang sempat berdaulat dalam pemik=
iran
dan penetapan kebijakan-kebijakan perdagangan sampai abad ke 20. Pada saat yang sama, dia mempopule=
rkan
sebuah istilah untuk bidang studinya yang melekat sampai sekarang: ekonomi politik (“political
economy”).
Smith, seperti kaum “pencerahan” lain, ber=
upaya
untuk memahami dunia ini semata-mata dalam kerangka berpikir ratio manusia,
tanpa mengandalkan intervensi Allah.
Lebih d=
ari itu,
hampir dapat dikatakan bahwa “Sang Ekonomi” dalam versi kapital=
isme
global telah menjadi pengganti Tuhan kalau orang mau menjelaskan apa yang
paling berkuasa dalam kehidupan manusia masa kini. Mengapa kita susah? “Karena ekonomi
memburuk.” Mengapa kita
senang? “Karena ekonomi
membaik.” Para bank bes=
ar dan
kantor perusahaan global menjadi “Bait Suci” moderen, dengan ba=
nkir
dan peramal ekonomis sebagai kaum imam.&nb=
sp;
Salah-benar sebuah kebijakan publik dinilai dari “reaksi
pasar.” Dalam pertarung=
an di
antara Allah dan Mamon, kelihatannya seperti Mamon telah menang.
Sementara itu, apa nasibnya oikonomia Allah?
Usaha-usaha ini bukan tidak baik. Namun perlu dikatakan bahwa pelaya= nan gereja dalam bidang oikonomia cukup kerdil kalau dibandingkan dengan kemuli= aan dari panggilannya sebagai Oikonomos Allah.= Kalau dunia ini adalah kebun Allah, bagaimana kita membagi hasilnya secara adil? Bagaimana kita merawatnya supaya tidak dicemarkan oleh polusi atau dimakan erosi? Kalau kita berdiam bersama dalam r= umah tangga Allah, mengapa ada yang makan dua piring dan ada yang mati kelaparan= ?
Kalau kita mau setia pada amanat yang Tuhan berikan, k= ita harus mulai dengan upaya untuk mengembalikan oikonomia pada agenda teologia; para teolog harus belajar ilmu ekonomi seperti dulu kita belajar untuk berdialog dengan psikologi, sosiologi, dan antropologi. Dan yang utama, kita harus mengupa= yakan sebuah visi yang baru tentang Oikonomia Allah, Rencana Tuhan yang agung, ya= ng dapat mengekspos ekonomi kapitalis global sebagai berhala kepada Mamon, dan dapat mengembalikan penataan rumah tangga Allah kepada tuan rumah yang sebenarnya.