MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C9E.C05D76F0" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C9E.C05D76F0 Content-Location: file:///C:/0E8B108E/pedesaan.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"
Sumber:=
www.oaseonline.org
Pendidikan Teologi Y=
ang
Berwawasan Pedesaan
oleh John
Campbell-Nelson
Pertimbangan
awal: "Mungkinkah sesuat=
u yang
baik datang dari Nazaret?"
Pada tahun 1982, ketika kami sedang menunggu i=
zin
tinggal di
Prasangka ini terasa=
agak
aneh kalau ditinjau secara teologis dan dikenakan pada Kepala Gereja kita.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Bahwa Tuhan Yesus berasal dari des=
a yang
"udik" biasanya difahami sebagai salah satu tanda kerendahanNya.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Dia bukan "orang
Mungkin perlu dipertanyakan apakah asal-usul Y=
esus
ini sekedar sebuah lambang yang menunjuk pada pengosongan diri Allah, atauk=
ah
ada juga makna sosial yang perlu dipetik?&=
nbsp;
Kami tidak bermaksud untuk membalik prasangka bahwa "kota itu b=
aik
dan desa jelek" menjadi "kota itu jelek dan desa baik"--meng=
ingat
bahwa orang-orang Nazaret sendirilah adalah orang-orang yang pertama-tama i=
ngin
membunuh Yesus (Lukas 4). Nam=
un
perlu disadari juga bahwa kuasa-kuasa yang diperangi Yesus berpusat di
kota-kota kekaisaran Romawi, dan bahwa nilai-nilai komunal yang diajari Yes=
us
bersuasana pedesaan. Dalam ko=
ndisi
pra-teknologi modern hampir dapat dikatakan bahwa adanya perkotaan hanya
dimungkinkan oleh konsentrasi kuasa dan pemerasan kekayaan dari pedesaan--k=
alau
tidak, dari mana datang tenaga murah yang dibutuhkan oleh perekonomian
Dan apakah kelahir=
an
Yesus di kandang Betlehem itu memang sesuatu yang hina? Ribuan bayi lahir setiap tahun di
pedalaman NTT dalam keadaan yang tidak terlalu berbeda: tikar dibuka di atas
tanah dan ibunya memegang tali yang digantung dari tiang rumah. Hal itu bukan hina, hanya kesederh=
anaan
yang biasa. Mungkin bagi oran=
g yang
sederhana seperti Yesus, kelahiranNya bukan hina.
Paling sedikit, pe=
rlu
dikatakan bahwa tidak ada dasar kristiani untuk meremehkan pedesaan sebagai
wadah kehidupan masyarakat manusia.
Paling sedikit, kita yang tinggal di kota harus ada kerendahan hati
untuk berterima kasih pada pedesaan, sebab kita semua makan dari hasil kerja
para petani. Sampai sejauh ki=
ta
ikut arus yang memegahkan kota, mungkin perlu diwaspadai kalau kita tergoda
oleh Mammon yang bertakhta di situ.
Pedesaan Sebagai
Konteks Pelayanan
Saya
belum lama melayani di lingkungan GMIT ketika seorang rekan mengajukan sebu=
ah
pertanyaan yang agak mengganggu pikiran saya: “Di mana liturgi Kristen
untuk minta hujan?” katanya. <=
/span>“Agama suku pu=
nya
ritus untuk setiap kebutuhan pertanian dan peternakan, tapi kita tidak
punya. Kenapa?” Dengan gamblang saya menjawab,
“Karena tenaga zending yang datang dari Belanda bukan petani.”<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Tapi sebenarnya masalah ini mempun=
yai
akar yang lebih panjang.
Hampir
secara universal, ada dua sumber utama bagi agama suku: siklus hidup manusia
dan siklus pertanian; dan ada dua lokus dari konsepsi tentang yang ilahi: a=
rwah
nenek moyang dan kuasa-kuasa alam. <=
/span>(Ada
kemiripan juga dengan perkembangan iman dari orang-orang Israel: Allah dike=
nal
sebagai Allah dari “Abraham, Isak dan Yakob” sebagai nenek moya=
ng;
dan sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta.) Dalam perkembangan historis kalau
kota-kota mulai berkembang ditengah-tengah masyarakat agraris, maka aspek-a=
spek
dari siklus pertanian cenderung ditinggalkan karena tidak relevan lagi bagi
masyarakat kota, sedangkan yang berkaitan dengan siklus hidup dipertahankan=
.
Nampaknya
gejala ini terdapat juga dalam gereja purba. Kalau Yesus sendiri adalah orang d=
esa,
namun sebagian besar orang Kristen dalam gereja purba adalah orang kota, ka=
rena
di situ iman Kristen paling cepat berkembang. Kenyataan itu berdampak besar terh=
adap
perkembangan iman Kristen selanjutnya, khususnya dalam hal liturgi dan pola
pelayanan. Ada banyak ritus k=
uno
serta bentuk pelayanannya yang berkaitan dengan siklus hidup, seperti
kelahiran, perkawinan, dan kematian.
Hal-hal ini merupakan aspek yang universal dari kehidupan manusia ka=
pan
dan di mana saja. Baik orang kota maupun orang desa lahir, menikah, dan
meninggal, dan gereja membaptis mereka, memberkati nikahnya, dan mengucap
syukur ketika mereka dimakhamkan. &nb=
sp;
Tapi hanya seorang petani bergantung langsung pada curah hujan untuk
pertumbuhan tanamannya, dan hanya seorang peternak memerlukan perlindungan,
makanan, dan kesehatan bagi hewannya.
Agama suku pada zaman Yesus juga memperhatikan kebutuhan-kebutuhan
ini. Namun ritus-ritus sepert=
i ini
tidak dibutuhkan oleh orang kota, sehingga gereja purba tidak melanjutkan a=
tau
mengembangkannya dalam versi Kristen.
Kealpaan
dalam pola pelayanan ini dilanjutkan dalam perkembangan gereja kemudian.
Akhir
ini telah berkembang suatu kesadaran baru bahwa tidak mungkin satu pola
pelayanan dianggap tepat bagi setiap jemaat di mana-mana. Gerakan kontekstualisasi teologi t=
elah
membuktikannya dengan sangat meyakinkan, khususnya berhubungan dengan perbe=
daan
konteks dan kebutuhan di antara gereja-gereja “barat” dan
“timur”. Sangat t=
epat
dengan prinsip kontekstual itu kalau sekarang kita juga meneliti perbedaan
konteks di antara jemaat kota dan jemaat pedesaan. Untuk itu, dalam refleksi ini, kam=
i akan
meninjau kekhasan jemaat pedesaan dari segi sosiologis dan teologis, dan
kemudian menarik sejumlah kesimpulan tentang implikasinya bagi pendidikan
teologia.
Sosiologi Masyarakat Pede=
saan
Kalau
masyarakat pedesaan dipandang dari luar, agak tepat kalau dikenakan istilah
yang dipakai anthropolog Robert Redfield: mereka adalah “masyarakat
bagian” --part-societies.&nbs=
p;
Maksudnya bahwa mereka merupakan sub-bagian yang agak di pinggiran d=
ari
keseluruhan struktur sosial-ekonomis.
Mereka cenderung dikuasai oleh suatu elite yang terletak di kota ata=
u di
pusat-pusat pemerintahan dan perdagangan, di mana kebijakan-kebijakan polit=
is
dan ekonomis ditentukan dan dikenakan pada mereka. Semua instansi yang terdapat dalam
“masyarakat besar” terdapat juga pada mereka sebagai
“masyarakat kecil”, tapi
dalam bentuk yang sangat sederhana ataupun “inferior”, seperti
terdapat dalam tabel berikut:
“Masyarakat
besar” &n=
bsp;  =
; Masyarakat
Pedesaan
Pertokoan =
; &n=
bsp;  =
; &n=
bsp;  =
; Pasar
mingguan
Pabrik &n=
bsp;  =
; &n=
bsp;  =
; Keranj=
inan
tangan
Sekolah Lanjutan, Universitas &=
nbsp; Sekolah
dasar
Rumah Sakit&nb=
sp; =
&nb=
sp; =
&nb=
sp; Puskesmas,
dukun
Apotek &n=
bsp;  =
; &n=
bsp;  =
; Obat
kampung
Hukum negara&n=
bsp;  =
; &n=
bsp; Hukum
adat
Radio, televisi, surat kabar &=
nbsp; &nbs=
p; Komun=
iskasi
lisan
Pusat Pemerintahan  =
; &n=
bsp; Dewan
adat
Pendeta &=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; Utusan
Injil, penanggung jawab
Tentu daftar ini b=
isa
diperpanjang, tapi maksudnya kiranya cukup jelas. Dari perspektif ini, masyarakat pe=
desaan
jelas ada dalam posisi kurang berdaya dan marginal. Tidak mengherankan kalau siapa saj=
a yang
bisa keluar dari keadaan itu mengambil kesempatan.
Namun
kalau dilihat dari dalam, perspektifnya sangat berbeda. Dalam perkataan seorang teman dari=
Timor
Tengah Selatan, “Kami di sini kurang apa? Paling-paling kami beli sabun dan =
minyak
tanah. Lain-lain kami hasilkan
sendiri, tidak bergantung pada pemerintah untuk bayar gaji atau kasi keluar
beras dari gudang. Kami punya
gudang sendiri. Dan kalau say=
a mau
kerja, saya kerja. Tidak ada =
yang
suruh. Mau istirahat tidak pe=
rlu
minta ijin. Kalau mau omong
berdikari, kami sudah berdikari sejak nenek moyang.” Rupanya cara hidup ini hanya dikat=
akan
“kurang” kalau diukur dari patokan luar, sedangkan mereka yang
adalah bagian dari masyarakat pedesaan mempunyai patokan tersendiri. “Patokan”
yang dimaksud sangat bervariasi, dan memang terlalu rumit untuk dirinci di
sini, tapi ada beberapa faktor yang agak umum yang dapat kami sebutkan seca=
ra
singkat. Yang kami ingin perh=
atikan
di sini adalah aspek-aspek umum dari masyarakat tani, bukan saja di
NTT--melihat bahwa “petani tradisional” masih merupakan profesi
terbesar di dunia.
Dari segi sumber daya, jelas bahwa
masyarakat tani bergantung (dependent) langsung pada lingkungan alam sebagai
sumber hidupnya. Namun dari s=
egi
sosial, petani tradisional sangat mandiri (independent) terhadap manusia ya=
ng
di luar lingkungannya. Lain dari masyarakat perindustrian yang terhisap dal=
am
suatu jaringan ekonomi dan teknologi produksi dengan tingkat saling bergant=
ung
yang sangat tinggi (interdependence).
Satuan produksi secara ekonomis cen=
derung
jatuh sama dengan satuan kekerabatan.
Tanah sebagai modal merupakan warisan yang dimiliki bersama; tenaga
kerja juga dikelola bersama, dan
warga dari satu kaum kerabat cender=
ung
berdomisili secara berdekatan. Dengan
demikian struktur kekerabatan menjadi instansi sosial yang utama.
Sebutan
“tradisional” bukan saja kena pada cara bertani, melainkan pada
keseluruhan orientasi hidup, yang memandang pada masa lampau dan adat-istia=
dat
dari nenek moyang sebagai sumber segala norma dan hikmat. Terdapat pandangan bahwa masa depa=
n akan
sama dengan masa lalu, sehingga segala sesuatu yang perlu diketahui oleh
generasi muda dapat dipelajari dari generasi tua, karena mereka telah lebih
dulu mengalaminya. Hal-hal ya=
ng
“baru” dan “dari luar” cenderung dicurigai, sehingga
tersusun berbagai strategi sosial untuk membatasi pengaruhnya.
Pengetahuan
pribumi (indigenous knowledge) bukan saja menyangkut cara bertani, melainkan
tersusun secara terpadu dan menyeluruh menjadi sebuah filsafat/praksis hidup
maupun kosmologi yang utuh. S=
istem
pengetahuan ini telah melandasi kesejahteraan masyarakat tradisional sejak
berabad-abad. Dibandingkan de=
ngan
sistem tradisional ini, sistem teknologi-perindustrian-perdagangan yang
“dominan” dalam masyarakat luas belum teruji dan terbukti
kemampuannya untuk memangku kehidupan masyarakat pedesaan.
Dari kedua pandangan tersebut di atas agak sulit menentukan mana yang l=
ebih
tepat. Dari satu segi pandang=
an
seperti yang dikemukakan Redfield terasa sangat realistis, dan arus generasi
muda ke kota menunjukkan bahwa banyak di antara mereka cenderung setuju den=
gan
Redfield. Dari segi lain, kal=
au
kita ingin memahami masyarakat pedesaan sebagaimana mereka memahami diri me=
reka
sendiri, maka perlu diakui bahwa mereka bukanlah suatu “masyarakat
bagian” melainkan suatu “dunia” tersendiri. Paling sedikit, ada ketegangan di =
antara
kedua perspektif ini yang sangat mewarnai dinamika kehidupan masyarakat desa
masa kini. Bagi generasi tua,
dihadapi dilema: bagaimana mengendalikan proses perobahan sosial tanpa
kehilangan identitas yang berdasarkan tradisi. Bagi generasi muda, mereka seolah-=
olah
meletakkan satu kaki di dunia modern dan satu kaki di dunia tradisional, dan
sedang bimbang mau berdiri di mana.
Bagi kita juga, sebagai gereja, sebagai teolog-teolog, dan sebagai lemb=
aga
pendidikan yang mempersiapkan calon-calon pelayan di pedesaan, perlu
dipertanyakan: kita berdiri di mana?
Komitmen kita pada pelayanan di pedesaan tidak cukup kalau hanya
berdasarkan fakta demografis bahwa banyak jemaat kita terdapat di situ,
sedangkan mentalitas kita sendiri menetap dalam pola pandang yang dominan
. Kalau itu saja, kita bisa m=
enjadi
wakil dari dominasi “masyarakat besar” terhadap masyarakat
pedesaan--apalagi sebagai satu-satunya Sarjana yang hadir di pedesaan. Tapi kalau kita mau solider dengan
mereka yang kita layani, kita harus masuk (paling sedikit dengan satu khaki=
) ke
dalam pandangan dunia mereka. Untuk
itu ada beberapa persyaratan:
Pola hidup yang berlandas=
an
pada sistem teknologi-perindustrian-perdagangan tidak diberi tempat yang
istimewa dihadapan pola hidup agraris-tradisional. Malahan pola hidup agraris-tradisi=
onal
menjadi titik berangkat bagi sebuah penilaian kritis terhadap sistem yang
dominan. Paling sedikit, kedua
pandangan ini dihadapmukakan dalam sebuah dialog yang sama derajat. Dengan demikian kita sendiri terli=
bat
dalam dialektika yang dihadapi masyarakat pedesaan.
Dalam dialog tersebut akan
segera nampak bahwa prakondisi teoritis untuk dialog yang sama derajat pada
umumnya belum tersedia. Panda=
ngan
dominan didukung oleh seperangkat teori, penelitian, dan filsafat yang diba=
ngun
sejak berabad-abad di dunia “Barat”, dan diajarkan pada kita se=
mua
sejak SD. Pandangan tradision=
al
hanya terdapat dalam praksis, dalam cerita-cerita rakyat dan tuturan nenek
moyang, dan belum direfleksikan secara teoritis. Menjadi tugas kita bersama masyara=
kat
pedesaan untuk mengolah pengetahuan pribumi sampai mencapai tingkat reflekt=
if
yang bisa dikomunikasikan dalam dialog dengan pandangan yang dominan. Dengan dimikian, “sosiologi
pedesaan” yang dibangun bukanlah memandang dari luar kepada sebuah
“sub-sistem”, melainkan mengungkapkan pemahaman diri masyarakat
tradisional dalam bahasa dan konsepsionalitas yang mereka sendiri akui.
Peranan sarjana atau ahli
teologi dalam proses ini bukanlah sebagai perancang atau yang merekayasa se=
buah
teori pengetahuan pribumi. Ha=
l itu
terlalu cepat menjadi sejenis dominasi baru--seperti antropolog yang
berpretensi untuk menjelaskan suatu masyarakat pada dirinya sendiri. Yang diperlukan adalah seorang pen=
dengar
yang baik, kawan bicara, dan pada akhirnya, mungkin seorang redaktor dan
penterjemah yang dapat menjadi perantara dengan pandangan dominan.
Peranan seperti ini bukanlah sesuatu yang terlalu ideal atau abstrak. Justru ini yang menjadi pekerjaan
sehari-hari bagi pendeta pedesaan yang memperjuangkan kepentingan jemaatnya
berhadapan dengan petugas-petugas pemerintah--yang pada umumnya mewakili si=
stem
dominasi. Dari segi teologis =
juga,
refleksi bersama jemaat seperti yang diminta di sini merupakan prasyarat ba=
gi
teologi pedesaan yang kontekstual. Kontekstualisai mengandalkan sebuah
pemahaman tentang konteksnya, dan kalau dasar pemahaman tersebut belum ters=
edia
(seperti disediakan bagi sistem dominan oleh industri pendidikan dan peneli=
tian
yang dimilikinya), maka harus diupayakan oleh kita sendiri.
Gereja di pedesaan menjadi
titik temu di antara yang modern dan yang tradisional. Dari satu segi Gereja adalah pemba=
wa
faktor-faktor baru--terutama iman Kristen sendiri, tapi juga pendidikan dan
sebuah sistem organisasi dan administrasi yang non-tradisional. Gereja sering mendatangkan orang d=
ari
luar daerah sebagai pendeta, dan menjadi tempat bertemunya penduduk pribumi
dengan para pendatang dalam sejenis persekutuan yang sama sekali baru. Dari segi lain, Gereja sering menj=
adi
benteng pertahanan bagi kepemimpinan tradisional yang tergeser dalam
bidang-bidang yang lain oleh sistem pemerintahan modern. Majelis jemaat, misalnya, biasanya
dikuasai oleh para wakil dari suku-suku pribumi. Dapat dikatakan bahwa jema=
at
pedesaan adalah satu-satunya instansi sosial yang “modern” yang
dipimpin dan dimiliki oleh masyarakat tradisional.
Dalam posisi seperti ini, secara sosiologis saja Gereja adalah instansi
yang memainkan peranan kunci dalam dialog dan dialektika di antara yang mod=
ern
dan yang tradisional. Justru =
karena
itu Gereja sering dibujuk oleh para “pembaharu” dari pemerintah=
dan
LSM-LSM demi mencapai kepentingannya.
Terlepas dari fungsi teologisnya (yang kita akan bicarakan pada bagi=
an
berikut), Gereja akan menjadi forum dan agen perobahan di pedesaan. Yang menjadi tantangan bagi kita i=
alah,
perobahan yang dikuasai oleh siapa, dan bagi kepentingan siapa? Dan apakah para pendeta pedesaan a=
kan
mampu menjadi perantara dalam proses ini yang bijak dan adil?
Implikasi nyata dari pertimbangan-pertimbangan yang di atas bagi pendid=
ikan
teologi akan dibicarakan dalam bagian terakhir. Pada bagian berikut, kami mau meng=
angkat
beberapa aspek dari dinamika ini yang memunculkan permasalahan teologis yang
khas pada jemaat pedesaan.
=
Agenda Teologi Pedesaan
Dalam pertemuan di antara konteks pedesaan dan tradisi Kristen sejumlah
pokok pergumulan teologis muncul yang pada umumnya kurang mendapat tempat d=
alam
agenda teologi masa kini di pusat-pusat urban. Sebagian dapat dikatakan perbedaan
kepentingan, seperti dalam hal petani berdoa minta hujan, sedangkan pegawai
minta kiranya hujan ditunda supaya dia jangan basah di perjalanan ke
kantor. Namun untuk sebagian =
besar
pedesaan Indonesia perbedaannya lebih dalam dari itu, sebab dalam masyarakat
pedesaan di sini kita bertemu dengan orang-orang yang lebih dekat pada
asal-usul primordial kita. Sa=
ya
pakai istilah primordial secara sadar di sini: sebagai orde hidup yang prim=
er
dan tertua. Mereka masih inga=
t dan
(kurang lebih) memelihara sebuah pola hidup dan seperangkat ilmu dan
pengetahuan yang pra-modern dan pra-zaman perindustrian. Selama ini pengetahuan mereka dian=
ggap
kolot dan tak berguna lagi--demikian pandangan “modernisme,” sebuah
ideologi yang mengandalkan IPTEK sebagai sumber segala hikmat dan pengetahu=
an.
Akhir ini telah muncul gerakan “paska modern” yang memperta=
nyakan
kembali asumsi itu. Disederha=
nakan,
argumentasi mereka sebagai berikut: ilmu pengetahuan gaya modernisme
berlandasan metode ilmu pasti, khususnya matematika. Hal ini barulah memadai kalau selu=
ruh
realitas dapat difahami sebagai serangkaian sebab-akhibat secara
mekanistis. Ternyata tidak
demikian. Sejarah dan jiwa ma=
nusia
masih jauh sekali dari penjelasan seperti ini, dan dapat dipertanyakan kalau
ada kemajuan sama sekali dalam pemahaman kita tentang diri kita sendiri
berdasarkan metode modernisme. Hal
ini nampak sekali dalam soal kesenian.&nbs=
p;
Misalnya, apakah puisi Rendra lebih “maju” dari puisi
pemazmur? Apakah gedung-gedung
bertingkat di Jakarta lebih indah dari Borobudur? Secara teknik bangunan (yang secara
mekanistis dapat ditanggulangi oleh metode ilmu pasti) memang ada kemajuan,
tapi dari segi makna dan daya kreasi, ternyata tidak mungkin mengatakan yang
baru lebih baik dari yang kuno. Hal
yang serupa nampak dalam dunia medis.
Bermacam-macam obat yang kita pakai untuk malaria, kanker, ataupun s=
akit
kepala saja ditemukan bukan oleh metode IPTEK, melainkan oleh suku-suku pri=
bumi
dalam apotek tradisional mereka. Ilmu
modern hanya membenarkan kegunaannya dan memungkinkan produksi secara
massal. Kesimpulan yang ditar=
ik
dari semua ini oleh gerakan paska modern adalah bahwa kita harus terbuka pa=
da
banyak cara pengetahuan, dan tidak berprasangka bahwa yang modern/mekanistis
yang lebih baik.
Belajar dari perdebatan ini, teologi juga masuk zaman paska modern dan
terbuka lagi untuk belajar dari hikmat dan penghayatan masyarakat
tradisional. Pada abad yang l=
alu,
seorang ahli biologi dari Jerman mengadakan perjalanan di Rote, dan mencatat
sambil lalu bahwa “Jalan-jalan di sini kita dapat menemukan sebagian
besar dari Perjanjian Lama” (dalam adat-istiadat orang Rote). Sekarang kesadaran seperti itu mul=
ai
dimanfaatkan. Pakar-pakar bib=
lika
mulai mempelajari tradisi lisan, ritus-ritus, dan struktur kekerabatan dari
suku-suku tradisional untuk memahami berbagai aspek dari dunia Alkitab deng=
an
lebih baik. Berhadapan dengan
krisis ekologi, teolog-teolog sistematika mempelajari agama suku mencari
wawasan religius yang lebih rama terhadap lingkungan. Dalam bidang etika sosial, kita me=
ncari
senjata untuk melawan konsumerisme dalam kesederhanaan petani tradisional; =
dan
untuk merawat kesepian masyarakat kota dan keluarga modern yang berantakan =
kita
cari obat dalam masyarakat komunal.
Yang kami anjurkan di sini sekali lagi bukan semacam nostalgi untuk masa
lalu. Kami hanya mau menunjuk=
kan
bahwa tantangan pelayanan pedesaan bukan hanya soal bagaimana membantu orang
yang terasing dan terkebelakang menjadi maju seperti kita. Justru kita dapat belajar banyak d=
ari
mereka. Daripada dipandang se=
bagai
tempat yang gersang dan serba miskin, justru pedesaan adalah lapangan refle=
ksi
teologis yang sangat subur. S=
ecara
garis besar dan sebagai contoh saja, kami mau mencatat sejumlah pokok yang
masuk dalam agenda teologi pedesaan.
Banyak di antaranya sudah dihadapi oleh mahasiswa kita dalam masa
pendidikan lapangan dan diangkat dalam diskusi di perkuliahan. Untuk kemudahan, kami mengikuti
pembagian pokok yang tradisional dalam sistematika, yaitu: Allah Sang Penci=
pta,
Jesus Kristus Sang Penebus, Roh Kudus, dan Gereja.
=
=
Allah Sang Pencipta:
=
Masyarakat yang hidup langsung bergantung pada alam menyadari diri seba=
gai
bagian dari alam semesta. Ia =
sadar
juga akan kekayaan alam semesta, dan bahwa alam bisa ramah atau kejam. Pada umumnya ia yakin bahwa alam i=
tu
bukan hanya “terjadi” tapi dijadikan oleh suatu kuasa yang ia h=
arus
hadapi dalam setiap aspek kehidupannya.&nb=
sp;
Untuk membuka hutan, memilih bibit, menanam, minta hujan, dan untuk
panen ia harus minta ijin, minta berkat, dan mungucap syukur. Dalam banyak hal keagamaannya berk=
isar
pada siklus pertanian. Secara=
lebih
luas, dapat dikatakan bahwa kalau teologi yang dominan banyak menggumuli
kedaulatan Allah atas sejarah, maka teologi pedesaan terfokus pada kedaulat=
an
Allah atas alam semesta.
Kenyataan yang sederhana ini mempunyai implikasi yang rumit. Dari satu segi ada kritikan yang p=
erlu
dilontarkan kepada perspektif pedesaan ini yang karena begitu terikat pada
silkus alam kurang memperhatikan perkembangan historis. Dunia sedang berobah, dan siapa ya=
ng
tidak turut terlibat dalam proses perobahan itu bisa saja digiling oleh roda
sejarah. Dari segi lain, arus
perobahan tersebut belum tentu mencerminkan kehendak Allah. Salah satu kelemahan dari orientasi
historis dalam teologia adalah bahwa ia terlalu gampang dipakai untuk
membenarkan para “pemenang”.&n=
bsp;
Logikanya terlalu sederhana: karena Allah berdaulat atas sejarah, ma=
ka
siapa yang berhasil memperoleh kuasa otomatis memperolehnya dari tangan
Tuhan. Para penjajah di masa =
lampau
memakai pemikiran ini, dan para penindas masa kini adalah ahli warisnya.
Versi yang lain dari dinamika ini terdapat dalam dilema pembangunan.
Dalam pandangan kita tentang Allah sebagai Pencipta terdapat juga dinam=
ika
desa/kota yang menarik diteliti. Sejak
zaman yang disebut “pencerahan”, Sang Pencipta cenderung
digambarkan secara mekanistis sebagai Mahatukang yang merancang dunia seper=
ti
manusia merancang sebuah mesin. Teologi
pedesaan lebih cenderung melihat Allah menurut metafora biologis: Tuan Langit yang kawin dengan Ibu =
Bumi
atau Mahapetani yang menanam bibit dari segala makhluk hidup. Walaupun perspektif ini menjurus p=
ada
kultus kesuburan seperti yang ditolak oleh tradisi Alkitab, namun ada juga =
hal
yang patut digumuli. Bagi ora=
ng
Timor, misalnya, ajaran tentang Allah sebagai Bapak langsung membawa
pertanyaan: di mana Ibu? Dalam
kategori simbolis orang Timor, dinamika maskulin/feminin memainkan peranan
utama, sehingga tidaklah masuk akal kalau ada bapak tanpa ibu; tanpa maskul=
in
dan feminin, tidak ada hidup. Selama
Allah dilihat sebagai tukang dan kita sebagai mesin yang dibuatNya, hal ini
tidak menjadi masalah, tapi kalau kita mau dianggap anak Allah, maka
bukan hanya kebapakan Allah melainkan keibuan Allah perlu diungkapkan. Perspektif ini mengajak kita sebag=
ai
teolog untuk membayar sebuah hutang teologis yang sudah berabad-abad dalam
tradisi Kristen belum dilunasi--bukan hanya untuk memuaskan para feminis, t=
api
sebagai konsekwensi logis kalau kita beralih dari metafora mekanistis pada
metafora organis tentang Allah Pencipta.
Salah satu masalah teologis yang lain yang belum tuntas terjawab dalam
pemberitaan kita menyangkut dengan aspek moral dari kedaulatan Allah. Paling sedikit sejak Max Weber tel=
ah
dicatat bahwa masyarakat pedesaan cenderung mencari penjelasan moral atas k=
ejadian-kejadian
yang menurut pandangan modern bersifat “alamiah”: kalau orang
berbuat baik, pasti hujan akan turun, tapi kalau ada kesalahan, Allah pasti
akan menutup hujan; kalau berbuat baik, pasti kita sehat, tapi kalau kita
membuat pelanggaran, pasti kita sakit.&nbs=
p;
Mengenai hal ini, pemberitaan kita mendua, seringkali secara
oportunistis. Kalau menguntun=
gkan
sebagai alat kuasa, kita pertalikan segala bencana pada murka Allah dan
menyuruh orang bertobat supaya bisa sembuh dari sakit atau dapat hujan. Pada kesempatan lain kita suruh or=
ang
berobat ke dokter atau tanam pohon untuk menarik hujan. Dalam keadaan seperti ini, jemaat =
turut
mendua. Mereka ulang-aling di
antara dokter dan dukun, dan berdoa minta hujan baik di gereja maupun dengan
pemotongan babi di tempat keramat. <=
/span>Sebagai
agenda teologia, kita diminta untuk mengupayakan suatu pernyataan yang jelas
tentang Providentia dan Anugerah Allah dalam ciptaanNya yang juga memberi
tempat pada pengetahuan modern di bidang medis dan ilmu alam.
=
=
Yesus Kristus Sang Penebus
=
Dalam sejarah pekabaran Injil ada dua aspek dari Yesus Kristus yang sel=
alu
diberitakan: Yesus sebagai Anak Allah yang turun ke bumi, dan Yesus sebagai
korban yang sempurna atas dosa kita.
Dua-dua membawa permasalahan yang khas dalam konteks masyarakat
tradisional, khususnya di NTT.
Dalam masyarakat feodal, soal Anak Allah bukan hal yang baru. Dikenal dulu di Eropa dan kemudian
dimodifikasi menjadi hak ilahi yang diberikan pada sang raja untuk memerint=
ah. Di Timor juga raja dikenal sebagai=
neno
anan, anak langit, dan nama ini kemudian dikenakan pada Yesus Kristus.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Sebagai hermeneutika misiologis mu=
ngkin
strategi ini ada baiknya, tapi akhibatnya jangka panjang ialah bahwa Yesus =
yang
diberitakan dalam Injil justru sulit difahami. Mana ada raja yang merendahkan diri
sebagai hamba, yang mencuci kaki pengikutnya--apalagi yang rela mati? Yesus membalik semuanya. Memang kalau mau dikatakan bahwa Y=
esus
tidak cocok dengan kategori budaya Timor bagi raja, sebenarnya Yesus tidak
“klop” dengan kategori budaya manapun, entah di Eropa, Amerika =
atau
di Indonesia. Tidak ada patok=
an
untuk mengukur Yesus karena Yesus sendiri adalah patokannya.
Mungkin dapat dikatakan bahwa tantangan bagi pemberitaan Yesus Kristus =
di
NTT sekarang bukan lagi untuk mencari “pintu masuknya” ke dalam
kebudayaan setempat, tapi bagimana Yesus yang sudah masuk ini dapat
mentransformasikan hierarkhi feodal yang masih dominan? Mungkin untuk itu perhatian pada Y=
esus
yang historis, yang memihak pada kaum miskin harus diutamakan atau paling
sedikit menjiwai pemberitaan kita yang selama ini terlalu triumfalistis
menekankan Kristus yang terbangkit.
Hal ini mengantar kita pada masalah yang kedua. Aspek yang dominan dalam pemberita=
an
kita tentang Yesus yang historis adalah kematiannya di kayu salib. Bahwa Yesus mati sebagai korban
penebusan dosa manusia memang mendapat tempat yang kuat dalam keagamaan pop=
uler
di mana-mana. Dan Yesus sebag=
ai
korban cukup bersambung dengan prafaham masyarakat tradisional tentang prak=
tek
korban hewan untuk meluruskan segala hubungan dengan para dewa. Kalau di kalangan Yehudi Yesus dis=
ebut
“Anak Domba Allah”, mungkin di NTT Ia menjadi “Anak Babi
Allah”. Namun sambungan ini membawa masalah tersendiri. Sistem korban berlandasan suatu as=
umsi
tentang Allah/dewa bahwa Ia memang menuntut korban dari manusia baru Ia pua=
s.
Tapi apakah Allah yang haus darah seperti ini cocok dengan gambaran ten=
tang
Allah seperti ditunjukkan oleh Yesus:
Allah yang Yesus kenal sebagai Bapak yang mahakasih? Atau apakah memang Allah yang menu=
ntut
korban atau justru manusia? B=
ukankah
Kekaisaran Roma dan para pemuka agama yang menuntut korban dari Yesus untuk
mengamankan kuasa mereka? Apa=
kah
bukan para penguasa sepanjang sejarah yang menuntut korban dari rakyat seba=
gai
alat dan bukti kuasa mereka? =
Apakah
Allah seperti mereka juga, malah lebih kejam sampai Ia minta darah dari ana=
kNya
sendiri? Sebenarnya ideologi =
korban
seperti ini kalau diberitakan di masyarakat tradisional tidak merobah apa-a=
pa
dari perspektif dasar agama suku. =
span>Hewan
hanya diganti dengan Yesus (tentu hal yang lebih hemat bagi masyarakat tani=
),
tapi konsepsi tentang Allah tetap sama.&nb=
sp;
Dan konsekwensi politis adalah bahwa dianggap wajar kalau rakyat juga
dijadikan “korban pembangunan” oleh para penguasa.
Kalau analisis seperti di atas ini ada benarnya, maka perlu diupayakan
suatu Kristologi baru yang lebih berpedoman pada Yesus sendiri, dan pada Al=
lah
seperti yang Yesus memperkenalkan kepada kita. Hal ini menjadi tantangan teologis=
yang
sangat urgen di tengah-tenah masyarakat pedesaan yang masih ditindas oleh
ideologi korban.
Salah satu calon yang pernah dikemukakan adalah perspektif Gustaf Aulen
dalam bukunya Christus Victor, yang menekankan Yesus sebagai pemenang
atas kuasa-kuasa kejahatan, baik yang adikodrati maupun yang di bumi
manusia. Aulen menggambarkan
mujizat-mujizat dan pengusiran setan-setan oleh Yesus dalam kesinambungan
dengan kematian dan kebangkitanNya, sebagai langkah-langkah dalam sebuah pe=
rang
melawan kuasa-kuasa kejahatan. Perspektif
ini memang ada dalam gereja purba, namun kemudian dipadamkan karena kristol=
ogi
korban lebih menguntungkan hierarkhi gereja. Mungkin pendekatan Aulen ini dapat
menyumbang pada suatu upaya untuk menemukan sebuah kristologi yang dapat bi=
cara
pada konteks masyarakat tradisional dan sekaligus setia pada tradisi Kriste=
n.
=
=
Roh Kudus
=
Dunia pra modern didiami oleh banyak roh. Di pohon, di batu, di mata air ada
roh. Roh-roh jahat dapat memb=
awa
bermacam-macam penyakit dan malapetaka.&nb=
sp;
Arwah nenek moyang juga berkunjung sama seperti kaum kerabat yang
lain--kadang-kadang ramah, kadang-kadang jahat. Hanya sampai pada zaman modern, ro=
h-roh
nampaknya musnah seperti dinosaurus.
Dalam pandangan dunia yang dikuasai ilmu modern, tidak ada tempat la=
gi
bagi mereka, kecuali dalam bentuk dongeng, cerita-cerita hantu, dan sebagai=
nya
dalam budaya populer. Tinggal=
Roh
Kudus yang masih berkeliaran di kalangan gereja.
Sebagian besar dari masyarakat kota masih melayang-layang di antara ked=
ua
pandangan ini. Mereka tidak p=
ercaya
adanya setan-setan, tapi masih takut kegelapan. Apa yang disangkal oleh akal budi =
masih
hidup dalam hati. Namun bagi
masyarakat pedesaan pada umumnya dunia roh merupakan kenyataan, sebuah
“fakta” yang bukan soal percaya atau tidak. Dan bagi mereka sebuah teologi ten=
tang
Roh Kudus harus mengambil tempat ditengah-tengah keyakinan akan dunia roh i=
tu.
Sebenarnya adanya atau tidak roh-roh lain selain Roh Kudus bukan pasal =
pengakuan
iman yang mempunyai status teologis yang penting. Bahwa masyarakat pada zaman Yesus
memiliki pandangan dunia yang meyakini adanya berbagai macam roh halus bukan
hal yang sentral dalam ajaran atau tradisi Kristen. Pengakuan Iman Rasuli menegaskan &=
#8220;Aku
percaya pada Roh Kudus”, dan tidak disambung dengan “...dan roh=
-roh
yang lain.” Dalam hal i=
ni
jelaslah bahwa teologi Kristen melintasi pandangan-pandangan dunia
tertentu. Tidak ada perbedaan=
mutu
iman di antara manusia modern dan manusia kuno, manusia yang rasionalistis
dalam pola pikir atau yang mitis. =
span>Yang
berbeda adalah cara mengungkapkan iman itu, dan permasalahan yang muncul da=
lam
interaksi di antara pandangan tertentu dan Injil Yesus Kristus.
Bagi kita yang berteologi dalam konteks masyarakat tradisional, mau tid=
ak
mau ada beberapa pokok yang perlu dihadapi berhubungan dengan Roh Kudus dan
roh-roh “yang lain”. Mungkin
kita harus lebih melatih diri untuk mengikuti nasehat surat Yohanes supaya
“ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah.” Sebab, kalau masyarakat sekuler
cenderung terlalu skeptis, justru masyarakat pedesaan cenderung terlalu gam=
pang
percaya. Sejarah kebangkitan =
rohani
di Timor menunjukkan betapa lugu, betapa cepat orang ditipu kalau penipuan =
itu
memakai nama Roh Kudus.
Mungkin hal-hal yang perlu dijernihkan termasuk antara lain:
=
Bagaimana kehadiran roh-r=
oh
jahat disesuaikan dengan kedaulatan Allah, supaya jemaat (dan kita) tidak
terjerumus dalam dualisme? Ke=
percayaan
akan dunia roh cenderung membuat jemaat memandang Roh Kudus sebagai salah s=
atu
roh di antara roh-roh yang lain, dan secara terpisah juga dari Allah sebagai
Pencipta dan Yesus Kristus. M=
ungkin
pemahaman Allah Tritunggal perlu diangkat secara khusus dalam konteks ini
supaya menjadi jelas bahwa Roh Kudus adalah Roh Pencipta adalah Roh Yesus
Kristus.
=
Bagaimana tempat-tempat
keramat? Apakah perlu
dibongkar? Dalam pandangan ag=
ama
suku kesucian alam ditandai oleh kehadiran roh-roh setempat, dan kalau seka=
rang
tempat-tempat itu “disekulerkan” apakah kita tidak kehilangan s=
uatu
wawasan teologis yang penting dari segi pemeliharaan Allah terhadap dunia
ciptaanNya? Ataukah roh-roh
setempat dibaptis menjadi tanda kehadiran Roh Kudus di tengah alam semesta?=
Bagaimana status dari arwah orang mati? Dulu ada orang tua yang tidak mau =
masuk
Kristen karena mereka takut akan terpisah dari nenek moyang. Mereka lebih suka di
“neraka” asal bersama-sama.&nb=
sp;
Apakah iman Kristen memang harus menghancurkan solideritas antar
generasi ataukah ada kabar baik di sini juga?
=
Daftar ini bisa diperpanjang, tapi cukuplah sebagai contoh dari tugas
teologi yang masih ada di depan kita.
Dalam perpustakaan teologi saya hampir tidak ada buku yang membicara=
kan
soal-soal ini, namun semuanya merupakan masalah yang aktual di jemaat
pedesaan.
=
=
Gereja
=
Kalau pokok-pokok pikiran di atas diangkat secara acak dari pengalaman =
di
lapangan, maka dalam bagian ini kami akan berbuat lain sedikit. Kami mau angkat beberapa pokok dari
Haluan Kebijaksanaan Umum Pelayanan GMIT 1991-1995, sebab di sini terdapat
secara terang permasalahan jemaat pedesaan sebagaimana dihayati oleh Sinode
GMIT. Pokok-pokok ini diatur
menurut bidang pelayanan:
=
=
Koinon=
ia
=
Pada umumnya, solideritas sosial di antara warga GMIT masih cukup tinggi
dalam jemaat-jemaat pedesaan. Ikatan
suku dan marga masih sangat berperan baik dalam struktur masyarakat maupun
dalam tubuh gereja, sehingga persekutuan sosial agak sulit dibedakan dengan
persekutuan gerejawi. Tema pe=
riode
yang lalu tentang gereja sebagai "Keluarga Allah" justru mengambil
hati jemaat karena cocok dengan pengalaman mereka bahwa keluarga adalah
institusi sosial yang paling kuat dalam kehidupan masyarakat NTT. Hal ini menjadi titik kuat dan sek=
aligus
tantangan bagi GMIT. Bagaimana
Keluarga Allah dapat dibedakan dengan keluarga kita? Bagaimana Injil bisa mentransforma=
sikan
masyarakat kalau ia telah melebur dalam kebudayaan setempat?
Pola hidup berjemaat harus menjangkau seluruh aspek kehidupan dalam
masyarakat -- bukan saja secara rohani, tapi juga secara sosial, ekonomis, =
dan
politis; bukan saja dalam ruangan kebaktian, tapi juga dalam kebun, kantor,=
dan
rumah tangga. Dari sisi lain,
ikatan dalam Keluarga Allah perlu diperluas melampaui batas jemaat lokal. Perlu dikembangkan jaringan relasi=
di
antara mata jemaat dalam satu wilayah, antara wilayah dengan wilayah dalam =
satu
klasis, dan klasis dengan klasis dalam satu sinode.
Sistem komunikasi dalam j=
emaat
juga perlu dipelajari dan dikembangkan dalam setiap aspek. Jemaat hidup dalam suasana komunik=
asi
lisan secara tatap muka. Jenis
komunikasi ini adalah komunikasi yang primer bagi keseluruhan jaringan
komunikasi GMIT, dan kalau ia tersendat, maka seluruh jaringan komunikasi t=
idak
akan mengalir seperti semestinya.
=
=
Martur=
ia
=
Dari perspektif jemaat sebagai basis pelayanan, jelaslah bahwa jemaat j=
uga
adalah basis pemberitaan Firman Tuhan, pekabaran injil, dan pengajaran. Lebih konkrit, dapat dikatakan bah=
wa
secara kwantitatif sebagian besar marturia dalam tubuh GMIT dilaksan=
akan
oleh kaum awam. Para penatua =
dan
penanggung jawab di jemaat pedesaan membawa kurang lebih 80% dari pemberita=
an
Firman dalam kebaktian umum dan kebaktian rumah tangga. Yang paling giat dalam pekabaran i=
njil
adalah kelompok-kelompok doa, dan yang memikul tugas pengajaran dalam
katekisasi dan KA/KR adalah penatua dan pemuda.
Jemaat juga dapat dikatakan sebagai basis berteologi, dari dua segi:
=
=
=
Liturg=
ia
=
Walaupun sering dikeluhkan, namun masih dapat dikatakan bahwa kesadaran
berbakti dari warga GMIT untuk sementara masih cukup tinggi. Hanya perlu dicatat bahwa kesadara=
n itu
tidak selalu jatuh sama dengan apa yang dianggap penting oleh gereja. Bisa saja jemaat tidak merasa rugi=
kalau
tidak hadir di kebaktian umum atau ibadat rumah tangga/kumpulan kampung.
Selama ini gereja cenderung mencurigai ritus-ritus seperti ini sebagai
peninggalan agama suku, dan memang ada kebenaran dalam sikap ini. Tetapi dari segi lain, pelayanan g=
ereja
dalam bidang liturgia justru untuk mempersembahkan keseluruhan hidup manusi=
a kepada
Tuhan, dan kalau liturgia gereja belum menjangkau aspek-aspek kehidupan yang
paling penting bagi jemaat, maka tugas panggilannya belum digenapi.
=
=
Diakon=
ia
=
Perihal bantu membantu sebagai suatu perwujudan rasa kesetiakawanan ant=
ara
seorang terhadap yang lain dalam kehidupan warga GMIT merupakan sesuatu yang
lazim. Dalam kehidupan bersam=
a hal
memberi dan menerima kembali dipandang sebagai suatu kewajiban kultural.
Namun jemaat-jemaat GMIT melaksanakan diakonia tidak hanya sebagai suatu
kewajiban kultural tetapi sebagi suatu kewajiban iman. Bahwa Yesus Kristus sebagai sasara=
n iman
telah mengorbankan hidupnya demi keselamatan manusia, lalu beriman kepada
Kristus yang demikian melahirkan misi pelayanan diakonia kepada sesama seba=
gai
tanda keselamatan itu.
Dengan demikian diakonia memperoleh tempatnya sendiri baik secara imani=
ah
maupun kultural. Bahwa diakon=
ia
merupakan suatu ciri yang tak dapat diabaikan dalam suatu persekutuan kelua=
rga,
termasuk dan terutama dalam Keluarga Allah.... Kebudayaan saling
membantu/memberi atau gotong-royong perlu dikembangkan dan diberi landasan
Alkitabiah sehingga dengan demikian Injil dapat memainkan peranan transform=
atif
dalam masyarakat.... Upaya tersebut akan berjalan dengan baik apabila jemaat
benar-benar menjadi "basis diakonia". Jemaatlah yang sehari-hari berada
ditengah-tengah orang sakit, lapar, miskin dan tertindas, dan menyatu dengan
mereka, baik secara sosial-budaya maupun secara iman.
=
=
Oikono=
mia
=
Di luar struktur pelayanan formal, seluruh warga GMIT juga menjalankan
tugas penatalayanan ini paling sedikit dalam dua bentuk utama. Yang pertama adalah pengelolaan ek=
onomi
rumah tangga sebagai alat penunjang pelayanan, baik demi kesejahteraan
keluarganya sendiri maupun sebagai persembahan demi pelayanan gereja. Meskipun sering terdengar keluhan
tentang jemaat yang "tidak ada kesadaran memberi", secara jujur p=
erlu
dikatakan bahwa jemaat-jemaat GMIT sebenarnya cukup mandiri dalam hal dana =
dan
daya. Persoalannya bahwa
kemandirian ini masih pada taraf "subsistensi" (hanya cukup untuk
kebutuhan sehari-hari). Penat=
alayanan
jemaat masih perlu ditingkatkan kalau jemaat-jemaat akan berkembang menjadi
jemaat-jemaat yang missioner.
Aspek oikonomia yang kedua menyangkut dengan lingkungan hidup: tugas penatalayanan di sini adalah untuk menjaga keseimbangan di antara pemanfaat= an sumber daya alam demi kesejahteraan manusia, dengan kelestarian lingkungan = alam sebagai "kebun Allah". Tugas ini paling nampak dalam bidang pertanian, di mana para petani diajak meninggalkan pola tebas-bakar yang telah mengganggu keseimbangan alam.... M= ereka yang paling dekat pada lingkungan alam dan yang paling bergantung kepadanya patutlah dipersiapkan dan dipercayakan untuk mengemban tugas gereja sebagai pelindung alam, yaitu petani-petani GMIT di jemaat-jemaat pedesaan.... <= o:p>
=
Mendaftarkan sekian banyak tugas pelayanan dan tugas teologis, mungkin =
kita
sudah rasa capai memikirkannya saja, apalagi kalau mau dilaksanakan. Tapi mungkin juga kita terhibur de=
ngan
kesadaran bahwa ini merupakan panggilan bersama pada segenap Gereja Tuhan, =
baik
sekolah maupun jemaat, baik pendeta maupun awam. Kita tidak kerja sendiri-sendiri.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Paling sedikit, saya harap bahwa d=
ari
catatan-catatan di atas sudah mulai nampak bahwa pedesaan merupakan sebuah
konteks berteologia tersendiri yang sangat kaya. Tinggal kita mencatat dalam =
bagian
terakhir beberapa implikasi bagi pendidikan teologi.
=
Pendidikan Teologi yang Berwawasan Pedesaan
=
Memulai sebuah diskusi tentang pendidikan teologi bagi pelayanan di
pedesaan saya tergoda untuk mengajukan sebuah usulan yang sangat kolot: sup=
aya
kita kembali pada sistem magang. Beberapa
calon pelayan ditempatkan dengan seorang pendeta pedesaan yang terandal, dan
mereka bekerja dan belajar dengan beliau sampai dianggap sudah matang. Para dosen berperan sebagai
“peripatetik” yang keliling menjalankan studi bersama mahasiswa=
dan
jemaat di tempat masing-masing. Untuk
menjamin mutu persiapan yang merata, bisa diadakan sebuah ujian komprehensif
oleh fihak Sinode baru ditahbis. Sistem
ini dipakai pada masa awal gereja reformasi dan sampai pertengahan abad yang
lalu di Amerika, dan hasilnya cukup memadai.
Tapi ini hanya mimpi belaka.
Jelaslah bahwa Kopertis tidak akan setuju, ataupun Persetia, ataupun
para dosen dan mahasiswa sendiri. =
span>Kalau
begitu, lebih baik kita mencari alternatif yang realistis. Ada beberapa patokan yang kita bisa
petik dari diskusi kita di atas yang masih ada peluang untuk terwujud dalam
konteks pendidikan di Universitas. <=
/span>Saya
mendaftarkan empat:
=
Pendidikan teologi jangan
mengasingkan mahasiswa dari pedesaan.
Dari segi itu, lokasi lembaga-lembaga pendidikan (paling sedikit mul=
ai dari
SMA) di sekitar kota kurang menguntungkan.=
Perlu ada proses sosialisasi atau resosialisasi sampai mahasiswa mer=
asa
“at home” di pedesaan dan solider dengan masyarakat desa. Hal ini menjadi beban utama dari
pendidikan lapangan, dan menuntut sebuah program studi kerja lapangan yang
terintegrasi dengan kurikulum mulai dari tahun pertama. Dalam program Fakultas Theologia U=
KAW
yang sementara berlaku ada masa studi lapangan setelah Semester 4 dan 6 sel=
ama
enam minggu, dan kemudian seluruh Semester 8 di Kampus Desa, sekitar 150 km
dari Kupang di pedalaman Timor. Mungkin
juga perlu dipikirkan kemampuan bahasa daerah sebagai salah satu persyaratan
disamping bahasa Inggris dan bahasa-bahasa Alkitab.
=
Penelitian dan analisis s=
osial
di konteks pedesaan perlu menjadi disiplin pembantu yang diutamakan dalam
kurikulum. Untuk memimpin jem=
aat di
tengah pergulatan tradisi dan modernisasi pendeta pedesaan perlu dibantu ol=
eh
wawasan-wawasan yang dipetik dari antropologi budaya, ekonomi agraris, dan
sosiologi pedesaan. Dan karena
studi-studi sosial tentang konteks jemaat pedesaan masih sangat langkah, ma=
ka
kita sendiri yang harus melakukannya.
Banyak mahasiswa mengambil kesempatan skripsi untuk melatih diri dal=
am
penelitian seperti ini, dan sudah mulai berkembang sebuah literatur studi
daerah dari hasil karya mereka. Literatur
ini kembali menjadi bahan bacaan baik di perkuliahan maupun di lapangan.
=
Kalau ada kekurangan studi
daerah untuk menunjang pelayanan, maka hal yang serupa nampak dalam bidang
teologi sendiri. Sebagian bes=
ar
literatur teologi tidak langsung menyentuh keadaan jemaat tradisional di
pedesaan. Daripada belajar
dogmatika secara umum baru memikirkan aplikasinya dari belakang, sedapat
mungkin mahasiswa berangkat dari
problematika lokal baru mencari sumber daya layan dalam tradisi Kris=
ten
yang luas. Dalam bidang prakt=
ika
juga, kita berangkat dari tuntutan operasional pada seorang pendeta pedesaa=
n,
baru memikirkan apa yang diperlukan dari pendidikan teologi untuk
melengkapinya. Singkatnya,
kurikulum diatur bukan oleh ensiklopedi theologia (yang lebih banyak
mencerminkan kepentingan dosen), tapi secara induktif dan operasional
berdasarkan konteks pelayanan yang dihadapi. Hal ini mengasumsikan suatu hubung=
an
yang sangat erat di antara sekolah dan jemaat-jemaat.
=
Salah satu hal yang sering
diminta oleh mahasiswa setelah kembali dari lapangan adalah studi keterampi=
lan,
khususnya dalam pertanian, peternakan dan kesehatan. Ternyata jemaat pedesaan tidak
menghiraukan pembidangan studi dalam sebuah universitas; mereka mengharapkan
segala macam pengetahuan dari seorang sarjana. Walaupun tidak mungkin mahasiswa m=
enjadi
ahli dalam setiap bidang, paling sedikit mereka bisa memperoleh pemahaman d=
asar
dan (mungkin lebih penting) berkenalan dengan sumber daya dan sumber keahli=
an
yang tersedia dalam lingkungannya, misalnya dari LSM-LSM, universitas, dan
pemerintah. Selain itu, pende=
ta
pedesaan banyak berhubungan dengan instansi-instansi pemerintah di tingkat
desa, kecamatan, maupun kabupaten. <=
/span>Menyadari
itu, mahasiswa minta studi tentang struktur dan cara kerja pemerintah, supa=
ya
mereka nanti lebih efektif dalam peran advokasi dan kerja sama.
=
Patokan-patokan ini sudah sedikit banyak mewarnai cita-cita pendidikan =
di
Fakultas Theologia UKAW, walaupun dapat dikatakan belum banyak yang
terwujud. Sebab hal-hal yang =
begitu
dasariah tidak mungkin diterapkan hanya dengan merobah sejumlah mata
kuliah. Ia merupakan suatu pr=
oses
transformasi dan pertobatan yang hampir menuntut supaya kita mengalami
“kelahiran baru.”
Mungkin kami baru pada tahap hamil tua. Sebagai tanda kehidupan baru itu, =
saya
menutup refleksi ini dengan mengangkat salah satu eksperimen pendidikan yang
baru dimulai, yaitu yang disebut “Kampus Desa”.
Pada bulan Oktober 1993 telah diselenggarakan sebuah Seminar Eklesiologi
GMIT yang melibatkan unsur-unsur staf Sinode, Fakultas Theologia, dan
pengamat-pengamat gereja yang lain.
=
Termasuk
dalam diskusi seminar adalah permasalahan persiapan calon-calon pelayan dan
proses pendidikan teologi yang tepat bagi kebutuhan GMIT pada masa
mendatang. Salah satu kesimpu=
lan
dari diskusi tersebut adalah bahwa para calon pelayan dan pendeta muda sema=
kin
berorientasi perkotaan, sedangkan sebagian besar jemaat GMIT pada masa
mendatang tetaplah di pedesaan. Bagaimana
mengatasi proses sosialisasi urban yang terjadi akibat konsentrasi semua
fasilitas pendidikan di lingkungan
Berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan seperti ini, maka muncul gagasan untuk meningkatk=
an
masa pendidikan lapangan dan memperdalam bobotnya dengan cara menyelenggarakan perku=
liahan
di pedesaan selama paling sedikit satu semester. Untuk itu dibuka semacam
"kampus pedesaan" di mana mahasiswa teologi dapat hidup, belajar =
dan
berpraktek di tengah-tengah jemaat pedesaan. Lokasinya di Loli, sebuah desa di
pedalaman
Mahasiswa berkumpul =
di
Loli selama satu semester (Semester 8), dan membagi waktu setiap minggu di
antara studi formal di kampus dan praktek pelayanan di jemaat-jemaat
sekitarnya. Pergumulan yang
ditemukan di jemaat dibawa langsung ke dalam perkuliahan, dan sebaliknya
pelajaran di perkuliahan langsung dipraktekkan di lapangan, sehingga pendid=
ikan
berjalan dalam suasana sebuah dialog yang kontinyu dengan konteks
pelayanan. Misalnya dalam hal
pernikahan: makna teologis dan
liturgi pemberkatan nikah, konseling perkawinan dan keluarga, dipelajari
bersama dengan struktur kekerabatan dan adat perkawinan dalam masyarakat
setempat. Perkunjungan rumah =
tanga
dan pesta nikah menjadi kesempatan penelitian dan sekaligus menyediakan bah=
an
refleksi di perkuliahan. Seda=
pat
mungkin bahan perkuliahan disajikan secara sinoptis dan lintas disiplin.
Dengan demikian pola
aksi-refleksi mulai diterapkan: setiap hari Kamis sebelum ke jemaat ada
kesempatan untuk persiapan bersama-sama, dan pada hari Senin ada refleksi
tentang apa yang dialami. Sel=
ama
satu semester, mahasiswa semakin mampu merencanakan pelayanan berdasarkan
kebutuhan jemaat yang ril, dan sebagaimana diharapkan, mahasiswa mulai meme=
san
jenis pelajaran dan bimbingan mana yang mereka butuhkan dari dosen.
Eksperimen ini baru sekali berjalan, dan belum dapat dikatakan
berhasil. Ada banyak faktor
penghambat: fasilitas yang belum memadai, kekurangan tenaga dosen untuk
mendampingi keseluruhan proses, kerinduan mahasiswa akan suasana universita=
s,
dan kesulitan baik mahasiswa maupun dosen untuk melepaskan diri dari
pengkotakan mata kuliah untuk belajar secara lintas disiplin. Namun pada akhirnya semua setuju s=
upaya
eksperimen ini diteruskan. Mu=
ngkin
pengalaman dari Loli akan membawa manfaat bagi proses belajar mengajar di
lingkungan Universitas juga.
=
"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kita telah mulai dengan pertanyaan
itu. Bisa dipertanyakan juga,
Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Loli? Dari Kabir? Dari Raijua? Mudah-mudahan dalam refleksi yang
sederhana ini sudah jelas jawabannya.
Di mana ada manusia, di situ Allah bekerja dalam suatu proses kreasi
yang tidak pernah berakhir. T=
inggal
kita membuka diri untuk menyambutnya.
Memang Allah bekerja di kota juga, dan mungkin sudah waktunya untuk =
kita
memikirkan “pendidikan teologi yang berwawasan perkotaan.” Tapi itu pada lain kesempatan. &=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; &nbs=
p; =
=
=
|
12 |
|
|
|
|