MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C9D.9283C0A0" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C9D.9283C0A0 Content-Location: file:///C:/6088DE52/pedomanmentor.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii" Sumber: www

Sumber: www.oaseonline.org

 

 =

John Campbell-Nelson

 

Pedoman Mentor (1990)

 

        &= nbsp; Sebagai pedoman bagi Pendeta Mentor demi keperluan bimbingan Vikaris,

maka Komisi Pelengkapan Jemaat MSH GMIT telah merumuskan hasil diskusi dari sebu= ah Konsultasi Mentor menyangkut beberapa pokok berikut.  Pedoman ini tidak bersifat peraturan, melainkan dimaksudkan sebagai rangkuman pengalaman dari sejumlah Mentor untuk dimanfaatkan seperlunya oleh Mentor-Mentor baru.

 

 = ;            &n= bsp;            = ;            &n= bsp;            = ;  Pengantar

 

        &= nbsp; Program Vikariat sebagaimana dikelola oleh Komisi PJ telah mengalami banyak perobah= an sejak masa lampau.  Sekarang a= da upaya untuk Vikariat lebih berkesinam-bungan dengan masa pendidikan di Seko= lah Theologia, khususnya dengan Program Pendidikan Lapangan di Fakultas Theolog= ia UKAW Kupang.  Dengan demikian = tujuan utama dari Vikariat adalah sebagai berikut:

 

a. Pendidikan theologia, khusu= snya dalam hal-hal menyangkut dengan kekhasan pelayanan di wilayah GMIT yang sul= it dipelajari di bangku sekolah.

b. Perkembangan profesional, s= upaya Vikaris memiliki keterampilan pelayanan yang dituntut oleh keadaan jemaat-jemaat di wilayah pedesaan GMIT.

        &= nbsp; c. Pembentukan jati diri sebagai Pelayan Firman Tuhan.

 

        &= nbsp; Pada umumnya kita belajar lebih baik kalau belajar bersama.  Dengan pertimbangan itu, Vikariat sekarang diatur sedapat mungkin supaya ada sekelompok (3-5 orang) yang dibimbing bersama dalam satu wilayah Klasis.  Hal ini juga memperluas pemanfaatan tenaga Mentor yang terampil dan sekaligus mempermudah partisipasi Majelis Sinode/Komisi PJ dalam proses bimbingan.

        &= nbsp; Ada dua pola dalam penempatan kelompok ini.  Kala= u ada cukup tenaga Pendeta Mentor dalam satu klasis, maka Vikaris ditempatkan den= gan Mentor masing-masi= ng dan dikoordinir oleh Ketua Klasis.  Kalau jumlah Mentor yang terlatih masih kurang (dan sampai sekarang ini yang lebih banyak terja= di), maka pola Mentor-Pembantu Mentor ditempuh.=   Biasanya Utusan Injil dan Penanggung Jawab setempat yang disebut Pembantu Mentor, sedangkan tanggung jawab utama untuk proses bimbingan tetap dalam tangan Pendeta yang terlatih sebagai Mentor.

 

 = ;            &n= bsp;            = ;            &n= bsp;     Bab I.  Persiapan awal

 

I. Personil 

        &= nbsp; Faktor kunci dalam seluruh program Vikariat adalah manusia yang akan mendampingi, membimbing, dan menemani Vikaris dalam proses pendidikannya.  Relasi yang akrab dan terbuka di a= ntara Mentor dan Vikaris= adalah inti proses bimbingan, yang hanya dapat ditunjang tapi tidak dapat digantik= an oleh peraturan dan perencanaan yang baik.

 

   A. Perlengkapan mentor.=

      1. Para Pe= ndeta Mentor perlu dilengkapi dengan pengetahuan dan ketrampilan

         membimbing Vikaris; untuk itu maka Komisi PJ MSH GMIT berperan.=

      2. Mentor berperan terhadap Vikaris sebagai:

$ = ;            &n= bsp;            = ; Supervisor dalam perencanaan dan pelaksanaan tugas-tugas pelayanan

$ = ;            &n= bsp;            = ; Theolog yang mengembangkan kemampuan Vikaris untuk berefleksi   secara theologis tentang pokok-pokok yang timbul dalam konteks   pelayanan<= /p>

$ = ;            &n= bsp;            = ; Pastor yang mendampingi Vikaris dalam pergumulan bathin sebagai  


calon Pelayan Firman Tuhan

        &= nbsp;          --Kaw= an Sekerja Allah

 

 

 

   B. Perlengkapan pembantu Mentor.=

      1. Pembantu Mentor memahami apa yang diketahui mentor sehubungan dengan tugas-tugasnya,= dan tugas Vikaris. (mengikuti lokakarya, pertemuan, memahami pedoman, aturan dl= l).

      2. Kesedia= an mendampingi, menuntun, mengawasi, menolong, membimbing   

         Vikaris sepanjang saat dimana perlu.

      3. Adanya = proses belajar mengajar antara pembantu Mentor dan Vikaris.  

      4. Pembantu Mentor memiliki kesediaan untuk mendengar, mengikuti petunjuk- petunjuk Mentor sejauh tidak bertentangan dengan tugas-tugas Vikaris&nb= sp; dan tujuan akhir Vikariat.

      5. Mem= iliki catatan yang berhubungan dengan seluruh aspek kegiatan Vikaris.<= /span>

      6. Memberi= kan kesempatan kepada Vikaris sebanyak mungkin untuk mengenal        =    Jemaat/Majelis Jemaat dari dekat, sekaligus kesediaan menerima saran= -        =       saran yang membangun.

      7. Hubungan yang saling terbuka antara pembantu Mentor dan Vikaris.

      8. Kes= ediaan mengikuti pertemuan-pertemuan, (pengarahan atau evaluasi) 

         bilamana Mentor dan Kom. PJ MSH GMIT perlukan.

 

   C. Perlengkapan keluarga Men= tor.

      1. Adanya kesediaan keluarga Mentor untuk memahami tugas dan panggilan 

         seorang Vikaris.

      2. Keluarga Mentor sebagai tempat belajar dan mengajar bagi Vikaris

         menyangkut kehidupan seorang pelayan dan kehidupan rumah tangga.

      3. Memilik= i rasa tanggungjawab terhadap pembinaan Vikaris guna menjadi 

         seorang Pendeta.

      4. Bersedia berkorban baik materi, rasa dan lain-lain selama proses    

         Vikariat berlangsung.

      5. Adanya hubungan yang harmonis dan = saling terbuka, diantara keluarga 

         Mentor dan Vikaris.

      6. Dihilan= gkan pikiran untuk menguasai Vikaris dan menyamakannya dengan         &= nbsp; semua anggota keluarga.

      7. Keluarga Mentor menjadi tempat perlindungan dimana rasa perlu.

 

II. Pola penempatan vikaris

 

   A. Proses Penempatan

1. Pola penempatan Vikaris dalam suatu Klasis adalah pola berkelompok agar mereka dapat bekerjasama dan mudah dibimbing oleh seorang Pendeta Mentor.

2. Jika dalam wilayah Klasis yang bersangkutan terdapat beberapa Pendeta Mentor, dapat bekerjasama dalam membimbing para Vikaris sedang Ketua Klasis berfungsi sebagai kordinator.

3. Dalam rangka penempatan Vikaris da= lam satu wilayah Klasis, Kom.PJ. MSH GMIT perlu mengadakan pendekatan dan kesepakatan dengan: Klasis, Pendeta Mentor dan Vikaris dalam kaitan dengan kemungkinan-kemungkinan penempatan dan pelaksanaan tugas Vikariat.

4. Penempatan Vikaris dalam satu Jema= at wilayah perlu mempertimbangkan: faktor strategi Wilayah/Jemaat sehingga mempermudah jangkauan dan komunikasi antara Pendeta Mentor dan Vikaris dalam proses bimbingannya.

        &= nbsp; 5. Penempatan Vikaris dalam suatu wilayah Klasis hendaknya melalui BPK.

6. Penempatan setelah Vikariat adalah wewenang MS GMIT dengan surat<= /st1:City>    keputusan MS GMIT.

 

        &= nbsp; Catatan:

$ = ;       Situasi penempatan sebagai Vikaris sebaiknya tidak berbeda jauh dengan prospektif penempatan kemudian sebagai pendeta.

$ = ;       Vikaris jangan ditempatkan di lokasi di mana ia bisa dianggap menggeser pelayan setempat dari kedudukannya tanpa persiapan yang matang.

$ = ;       Prospektif untuk penempatan sebagai pendeta mesti tetap "longgar".

 

   B. Pendeta Mentor mengadakan persiapan lapangan bagi kehadiran Vikaris.

 

         Persiapan lapangan meliputi:

         - Kesiapan mental para pelayan untuk siap menerima Vikaris, agar par= a

        =    Vikaris belajar dari kegiatan-kegiatan mereka untuk dipedomaninya.

         - Kesiapan mental para pelayan untuk mengetahui dan memahami sistim<= span style=3D'mso-spacerun:yes'> 

        =    penempatan Vikaris sekarang.

         - Kesiapan mental Jemaat/Majelis Jemaat untuk menerima penempatan   

        =    Vikaris, dan "= bersedia" menuntun/membimbing para Vikaris sesuai

        =    kebutuhan.

 

III. Sarana pendukung Vikaris<= o:p>

 

     1. Biaya<= o:p>

        a. Biaya perjalanan Vikaris dari Kupang ke Jemaat tempat bervikariat

        =    ditanggung oleh MSH GMIT.

        b. Honor minimal bagi Vikaris ditanggung oleh MSH GMIT.

        c. Biaya kesehatan dan kebutuhan lain-lain Vikaris ditanggung oleh Jemaat=

        =    penerima Vikaris.

        d. Biaya perjalanan untuk mengikuti persidangan gereja tingkat Klasis

        =    ditanggung oleh Jemaat, sedangkan ke Sinode ditanggung bersama oleh<= o:p>

        =    Jemaat setempat dan MSH GMIT.

        e. Biaya untuk menyusun karangan-karangan dan laporan-laporan ditanggung<= /o:p>

        =    oleh Jemaat setempat.

        f. Biaya penahbisan termasuk toga ditanggung oleh MSH GMIT.<= /p>

 

     2. Perlengkap= an

        a. Penginapan dan konsumsi ditanggung oleh jemaat. Pengaturannya

        =    oleh Mentor; mengamati perkembangan hidupnya/keberadaan Vikaris=

        =    yang bersangkutan, maka dapat diatur bertempat tinggal sendiri supay= a          =      Vikaris dap= at berusaha untuk hidup mandiri.

        b. Peta wilayah pelayanan disiapkan o= leh Mentor.=

        c. Fas= ilitas pengangkutan dalam pelayanan disiapkan oleh jemaat.

        d. Penyusunan Program Vikariat di lap= angan diatur bersama Mentor,    

        =    Vikaris, Pembantu Mentor.

        e. Pengaturan waktu rapat evaluasi diatur oleh Mentor; sesewaktu

        =    menghadirkan Kom.PJ MSH GMIT.

 

IV. Koordinasi

    Upaya menciptakan hubu= ngan kerjasama yang akrab dan baik dalam rangka

    mensukseskan tujuan be= rsama dengan jalan mengadakan pertemuan-     pertemuan antara= :

    - Vikaris - Pembantu M= entor minimal seminggu sekali.

    - Vikaris - Mentor/Pem= bantu Mentor/Majelis Jemaat sekali dalam setiap tiga

        =         bulan.

    - Kelompok Vikaris/Men= tor sekali dalam setiap bulan.

    - Vikaris - Mentor/KPJ= tiga kali selama masa Vikariat dan sesuai kebutuhan.

 

 = ;         Catatan:

 = ;         Pola koordinasi akan beraneka ragam sesuai situasi setempat.  Pada umumnya frekwensi pertemuan p= erlu lebih tinggi pada masa awal Vikariat.

 

 

        &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;       Bab II.  Proses Bimbingan=

 

I. Kurikulum dan proses pentahapan Vikariat

 

   1. Pengenalan awal.

      Pengenalan= awal ini dibagi dalam dua bentuk yaitu:

      a. Pengena= lan lapangan/wilayah pelayanan Jemaat.  <= /span>Hal ini terwujud melalui    &nbs= p;        kegiatan-kegiatan sbb.:=

 = ;            &n= bsp;     --perkunjungan rumah tangga

 = ;            &n= bsp;     --percakapan dengan tokoh-tokoh jemaat

 = ;            &n= bsp;     --perkenalan dengan aparat pemerintah setempat

 = ;            &n= bsp;     --mendampingi Mentor dalam perjalanan pelayanannya

      b. Pengena= lan awal menyangkut GMIT sebagai lembaga yang mempunyai

         peraturan-peraturan.  Kegiatan-kegiatan:

 = ;            &n= bsp;     --mempelajari arsip, statistik, dan program jemaat dan klasis

 = ;            &n= bsp;     --mempelajari Tata Gereja GMIT dan pelaksanaannya

 

   2. Tahapan kedua: keterlibat= an dalam kegiatan nyata.

      Kegiatan-k= egiatan nyata yang dimaksudkan adalah semua jenis kegiatan yang

      telah diat= ur dalam peraturan Vikariat GMIT (III.A.1-4) meliputi:

      a. Kebaktian-kebaktian (memimpin kebaktian umum; menyaksikan pelayanan Sakramen dan Nikah dan pelayanan khusus lainnya).

      b. Kegiatan Penggembalaan/Pastoral

      c. Pendidi= kan Agama Kristen (KA/KR dan Katekisasi)

      d. Pembina= an jemaat:

         - Pembinaan guru-guru KA/KR

         - Pembinaan Pemuda GMIT

         - Pembinaan Wanita GMIT

         - Pembinaan Majelis Jemaat (Mentor dan Vikaris).

      e. Pembina= an kegiatan ketrampilan:

         - Pembinaan kegiatan ketrampilan itu meliputi: ketrampilan berorgani= sasi

        =    dan administrasi (butir-butir kegiatan lihat Pert.Vik.III.A.5)

         - Kegiatan bidang Diakonia dan Pengembangan masyarakat:

        =    * memberikan penyuluhan kepada anggota jemaat mengenai sejumlah=

        =      ketrampilan khusus yang dimiliki oleh Vikaris yang bersangkutan.

        =    * Kegiatan itu dikerjakan bersama Mentor atau atas persetujuan Mentor.<= o:p>

 

   3. Tahapan ketiga: menjelang semester kedua dalam Vikariat, telah diamati    sejumlah kebutuhan khusus bagi perkembangan Vikaris yang mungkin tidak terjawab oleh keterlibatan dalam pelayanan rutin.  Pengalaman belajar diatur secara khusus untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan ini (lih. III. di bawah). Dapat juga diharapkan bahwa p= ada tahapan ini telah nampak sejumlah kelebihan Vikaris yang dapat disumbangkan kepada jemaat melalui kegiatan-kegiatan khusus atas prakarsa dan sesuai daya kreasi Vikaris sendiri.

         -- Mentor perlu memberikan peluang bagi Vikaris untuk berinisiatif d= alam

        =     tugas-tugas vikariat demi pengembangan karier.

         -- Vikaris sewaktu-waktu perlu diingatkan oleh Mentor agar memanfaat= kan

        =     peluang yang diberikan dalam hal berinisiatif.

   4. Tahapan keempat: menjelang akhir masa Vikariat, sesuai permintaan dari    Komisi PJ dan atas rekomendasi Mentor, maka Vikaris diberi kesempatan untuk menulis Laporan Vikariat (lih. Kerangka Laporan Vikariat dari Komisi PJ). Evaluasi akhir dilaksanakan di lapangan bersama Mentor dan Vikaris-Vikaris yang lain, dan kemudian di Kantor Sinode GMIT bersama Komisi PJ dan Sekretaris Komisi Personil.

 

II. Pola Bimbingan Mentor - Vikari= s

    Bimbingan seorang Pend= eta Mentor kepada Vikaris yang dimentorinya dilaksanakan secara: terbuka, terencana, terpadu, terarah dan terorganisir dalam suasana sebagai Kawan Sekerja Allah. (Proses bimbingan itu berjalan sesuai kondisi dan pola penempatan).  Beberapa faktor = kunci perlu diperhatikan di sini:

 = ;         a. adanya waktu khusus yang terjadwal untuk percakapan Mentor/Vikaris, =        serta pokok-pokok pembicaraan yang disepakati bersama

b. bim= bingan berjalan baik secara perorangan dengan masing-masing Vikaris, maupun secara kelompok.

 = ;         c. adanya program kerja/belajar bagi setiap Vikaris sesuai kebutuhannya            (selain dari program pelayanan jemaat) (lih. III. di bawah.)

 

 

III. Metode belajar mengajar:<= o:p>

     Metode belajar mengajar yang digunakan bersamaan dengan pola bimbingan di

     atas adalah:

 

      a. diskusi=

      b. partisipasi-observasi/aksi-refleksi

      c. pembagi= an tugas-tugas khusus (baik tugas pelayanan maupun tugas belajar)       

      d. bacaan bersama (buku-buku teologi, Berita GMIT, P.A.)

      e. studi k= asus, verbatim, laporan peristiwa

 

 = ;         Pada dasarnya metode belajar-mengajar akan bertolak dari kebutuhan masing-masing Vikaris untuk lebih mendalami pokok-pokok tertentu.  Proses yang ditempuh adalah sebagai berikut:

 

 = ;         a. Pengidentifikasian pokok-pokok yang ingin dikembangkan (melalui hasil            pengamatan Mentor atau = atas prakarsa Vikaris sendiri).

 = ;         b. Penetapan pengalaman belajar serta kegiatan yang dapat menanggapi       kebutuhan Vikaris= .  Alat pengamatan juga ditetapkan.

 = ;         c. Pelaksanaan/pengamatan.=

        &= nbsp; d. Evaluasi bersama dan tindak lanjut.

 

Contoh:

      1. Vikaris melaporkan perasaan enggan untuk melaksanakan pelayanan                      pastoral.

      2. Mentor bersama Vikaris menyusun program pastoral untuk dilaksanakan

         bersama-sama.

      3. Mentor = mengikut sertakan Vikaris dalam pelayanan pastoral yang dilakukan oleh Mentor sendiri.

      4. Mentor memberi kesempatan kepada Vikaris untuk melaksanakan pelayanan pastoral ses= uai rencana dan diamati oleh Mento= r dalam rangka penilaian.

      5. Refleksi bersama terhadap pelayanan pastoral yang telah dilaksanakan.

 

 

V. Pemantauan/Alat-alat Pengamatan

        &= nbsp; Mentor hanya dapat membimbing secara tepat apabila ia memiliki kesempatan dan sara= na untuk memantau pelayanan Vikaris.  Oleh karena sebagian besar tugas pelayanan akan dilaksanakan Vikaris= di luar pengamatan langsung oleh = Mentor, maka perlu ditetapkan sejumlah alat pengamatan yang dapat menjadi indikator tentang perkembangan Vikaris, antara lain:

   a. Program dan Kalender kerja

   b. Daftar kegiatan harian

   c. Pengamatan langsung oleh Mentor, anggota Jemaat, Majelis Jemaat,        dan/atau Pembantu mentor

   d. Tugas-tugas tertulis (kho= tbah, bahan pembinaan, dsb.)

   e. Verbatim (rekaman percaka= pan pastoral)

   f. Studi kasus (lisan atau tertulis)

   g. Refleksi pribadi oleh Vik= aris dari Buku Harian (secara sukarela)

 

 

        &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;    Bab III.  Pastoral dan Disiplin

 

I. Pastoral:

        &= nbsp; 1. Pada tahap awal, Vikaris masih merasa asing dan sepi di tempat yang    baru.  Mentor menolong Vikaris dalam pros= es sosialisasi dan adaptasi pada pola hidup jemaat setempat.  Khususnya perlu diperhatikan proses peralihan dari suasana dan tata krama perkotaan ke pedesaan, dan peralihan = dari status mahasiswa kepada status sebagai calon pelayan. 

 

        &= nbsp; 2. Dalam proses pengenalan awal, Mentor memberi diri dikenal oleh Vikaris      supaya Vikaris ju= ga berani memberi diri dikenal oleh Mentor.

 

3. Dal= am pembagian tugas dan pengevaluasian pelaksanaannya, Mentor sedapat mungkin melindungi Vikaris dari ancaman-ancaman terhadap harga diri, khususnya dihadapan jemaat.

 

 = ;         4. Mentor menanggapi tanda-tanda kemunduran dalam Vikaris secara dini.

 

        &= nbsp; 5. Kebutuhan pribadi Vikaris dihargai oleh Mentor;  pada saat yang sama,         kebutuhan pribadi dilihat dalam terang perkembangan Vikaris secara profesional/spirit= ual sebagai calon pelayan:

      -- Mentor = harus peka terhadap gejala-gejala psikologis yang sedang    dialami oleh Vikaris.<= o:p>

      -- Mentor = yang mengarahkan Vikaris agar peka juga terhadap gejala-         gejala psikologis yang sedang dialami, sehingga gejala-gejala                  tersebut tidak mengorba= nkan panggilannya sebagai pelayan nanti.

      -- Pengara= han seperti yang dimaksud di atas hendaknya dilaksanakan    secara bertahap dan berkesinambungan.

 

II. Disiplin:

      1. Mentor = perlu menanamkan/menumbuhkan rasa kedisiplinan kepada Vikaris

         sebagai karyawan GMIT.

      2. Mentor = perlu mengadakan percakapan dengan Vikaris tentang peraturan

         disiplin GMIT. Isi percakapan meliputi:

         a. apa itu disiplin GMIT

         b. untuk apa disiplin itu

         c. untuk siapa disiplin itu

         d. bagaimana disi= plin itu dilaksanakan:

        =     1. Pastoral.

        =     2. Tindakan disiplin berpedoman pada peraturan disiplin GMIT.

        =     3. Segala tindakan disiplin yang hendak dikenakan kepada Vikaris

        =        harus dikonsulta= sikan lebih dahulu dengan MSH, cq. Komisi PJ.

        =     4. Pelaksanaan oleh Men= tor adalah pastoral

        =     5. Oleh MSH GMIT cq. Kom. PJ disesuaikan dengan peraturan disiplin.

 

 

        &= nbsp;           &nbs= p;        Bab IV.  Evaluasi dan Persiapan Penahbisan<= /span>

 

I. Evaluasi:

       1. Men= tor mengadakan penilaian secara langsung dan tak langsung kepada

        =   Vikaris.  Penilaian dim= aksud meliputi faktor-faktor seperti:

        =   a. Kepribadian: - pemahaman/pengenalan diri selaku calon Pelayan

        =             &nb= sp;       Firman Allah.

        =             &nb= sp;     - loyalitas (kesetiaan)

        =             &nb= sp;     - keterbukaan

        =             &nb= sp;     - kepekaan

        =             &nb= sp;     - kejujuran

        =             &nb= sp;     - dll.

        =   b. Profesionalisme: - disiplin

            =             &nb= sp;     - kepemimpinan

        =             &nb= sp;         - inisiatif

        =             &nb= sp;         - pastoral

        =             &nb= sp;         - pemahaman terhadap tata gereja dan peraturan-            =             &nb= sp;            =        peraturan.

        =   c. Hubungan sosial: - jemaat dalam arti keseluruhan

        =             &nb= sp;         - jemaat dalam arti khusus yaitu dengan muda/mudi         &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;     dan kelompok kategorial yang lain

        =             &nb= sp;         - hubungan dengan Mentor dan keluarga Mentor

        =             &nb= sp;         - kerjasama dengan Jemaat/Majelis Jemaat, para

        =             &nb= sp;           Pelayan dan dengan Mentor sendiri

        =             &nb= sp;         - partisipasi dalam kegiatan-kegiatan

        =             &nb= sp;           kemasyarakatan

        =   d. Refleksi theologis: - Kemampuanya untuk mengangkat masalah-masala= h

        =             &nb= sp;            =   theologis dari konteks pelayanan.

        =             &nb= sp;            - kemampuan menanggapi masalah-masalah theologis

        =             &nb= sp;            =   dalam hubungan dengan aspek-aspek sosial

        =             &nb= sp;            =   kemasyarakatan.

 = ;             e. Kepekaan terhadap m= asalah etis:

 = ;            &n= bsp;            = ;   - solidaritas

 = ;            &n= bsp;            = ;   - tindakan-tindakan penyuluhan

 = ;            &n= bsp;            = ;   - tindakan nyata/pengambilan sikap serta terbuka             = ;            &n= bsp;            = ;       menerima resiko.

 

II. Persiapan-persiapan menjelang penahbisan:

       1. Penulisan laporan kepada MSH GMIT tentang pekerjaan Vikariat oleh

        =   Vikaris atas permintaan Mentor dan persetujuan Komisi PJ .

       2. Laporan penilaian Mentor kepada MSH GMIT

       3. Kon= sultasi Mentor dengan MSH GMIT tentang:

        =   a. pertimbangan/penempatan untuk penahbisan Vikaris menjadi pendeta.=

        =   b. waktu dan tempat penahbisan.

        =   c. pembiayaan dll.

       4. Pembinaan rohani oleh Mentor dalam menjawab panggilan sebagai pelayan<= /o:p>

          dilaksanakan dalam bebe= rapa tahap:

        =   - percakapan awal Mentor dengan Vikaris

        =   - penugasan (meditasi)

        =   - percakapan akhir.

       5. Penggembalaan/kelengkapan untuk penahbisan oleh MSH GMIT.=

       6. Proses Penahbisan sesuai Tatacara Pentahbisan.

 

 

 = ;            &n= bsp;            = ;            &n= bsp;            = ;    Penutup

 

     Setelah Vikaris mengakhiri masa Vikariatnya ia akan memahami dirinya:

 

        &= nbsp; Entah:

 

     - Ia adalah orang Kristen yang tidak atau belum dipanggil untuk melayani     Tuhan dalam jabatan sebagai Pendeta= .

 

        &= nbsp; Atau:

 

     - Ia siap dan be= rsedia untuk ditahbiskan ke dalam jabatan sebagai Pendeta  dalam Gereja Masehi Injili di Timor.

     - Ia akan bekerja sebagai seorang Hamba (pelayan) bersama rekan pelayan

       lain= nya.

     - Ia akan sadar = bahwa sebagai Hamba (pelayan), maka ia terpanggil untuk melaksanakan kegiatan pelayanan sebagai konsekwensi panggilan itu.

     - Ia akan sadar = bahwa untuk melaksanakan kegiatan pelayanan itu ada aturan

       main= yang perlu ditaati.

     - Ia akan sadar = bahwa dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan itu akan muncul

       permas= alahan, karena itu ia mampu untuk menanganinya.

 


Lampiran:  

 

Sarana Bimbingan--Rangkuman :

 

 = ;         * Personil yang turut membimbing vikaris sudah menyadari peranan yang         &= nbsp; diharapkan, serta batas-batas wewenang.

 

 = ;         * Lokasi penempatan telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya.

 

 = ;         * Lokasi penempatan cukup dekat untuk memungkinkan komunikasi yang         &= nbsp;  lancar.

 

 = ;         * Vikaris ada tempat tinggal yang tetap dan aman; makan minum terjamin.<= /o:p>

 

 = ;         * Adanya Program Pelayanan Jemaat yang dapat dipedomani.

 

 = ;         * Program Vikariat tersusun dan disepakati bersama, serta direvisi secara        berka= la.

 

 = ;         * Jaringan komunikasi dan pola bimbingan melalui pertemuan berkala telah       ditetapkan = dan disepakati.

 

 = ;         * Mentor memiliki sejumlah alat penga= matan untuk memantau perkembangan   &nb= sp;  Vikaris.

 

Suara Pengalaman= :<= /o:p>

 

 = ;         Faktor-faktor yang menolong dalam Vikariat:

 

Cukup kebebasan untuk membangkitkan r= asa tanggung jawab.

Adanya tempat bertanya (entah mentor = atau rekan pelayan yang lain).

Vikaris diterima dalam sebuah keluarga sebagai tempat bernaung.

Vikaris berprakarsa sendiri: banyak bertanya, banyak mendengar, omong sedikit.

Vikaris belajar dari diri sendiri, melalui refleksi pribadi.

Mentor menerima vikaris sebagai kawan sekerja Allah.

Mentor yang mau menyumbangkan "kelebihannya" pada Vikaris, bukan hanya mengoreksi kekurangan-kekurangan;  Mentor= juga berani mengakui kelebihan Vikaris.

Bimbingan Mentor yang memelihara harga diri Vikaris sementara membangkitkan rasa perc= aya diri.

Jemaat yang dipersiapkan untuk menerima Vikaris sebagai tanggung jawab untuk dibimbing.

 

        &= nbsp; Faktor= -faktor yang kurang menolong:

 

Vikaris menjadi pesuruh pendeta/majel= is jemaat.

Vikaris dibiarkan "berenang atau tenggelam."

Vikaris jadi bola ping pong dalam kon= flik pendeta/jemaat.

Mentor atau pelayan setempat rasa terancam dengan kehadiran Vikaris.

Vikaris dijadikan "anak" da= lam rumah tangga.

Jemaat menganggap Vikaris sebagai Pendeta, ataupun sebagai kesempatan untuk memperoleh Pendeta.

= Lokasi penempatan terlalu jauh dari Mentor.

&n= bsp;

------=_NextPart_01C68C9D.9283C0A0 Content-Location: file:///C:/6088DE52/pedomanmentor_files/header.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"





 

 

 

 

 

 

&= nbsp;

 

&= nbsp;

 

------=_NextPart_01C68C9D.9283C0A0 Content-Location: file:///C:/6088DE52/pedomanmentor_files/filelist.xml Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/xml; charset="utf-8" ------=_NextPart_01C68C9D.9283C0A0--