MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C99.15E08B40" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C99.15E08B40 Content-Location: file:///C:/2D79548C/percakapanpastoral.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"
Sumber:=
www.oaseonline.org
Pedoman Praktis untuk
Percakapan Pastoral
oleh John Campbell-Nelson
Pengantar
= Setelah beberapa tahun mengajar di bidang pastoral di Fakultas Theologia UKAW dan melakukan pembinaan tentang percakapan pastoral di kalangan majelis jemaat = dalam wilayah pelayanan GMIT, maka kami telah menyaring sejumlah aspek praktis ya= ng dianggap bermanfaat bagi mereka yang menerima tugas pelayanan pastoral di jemaat-jemaat kita. Sebagai s= eorang teolog, saya sebenarnya lebih mengutamakan dasar-dasar teologis yang menjadi tujuan dan landasan dari pelayanan kita.&n= bsp; Namun sikap kita dan teknik pelaksanaan yang kita pakai untuk mencap= ai tujuan yang mulia itu tidak kalah penting.= Entah apapun tujuan kita, kalau kendaraan yang kita pakai mengalami kemacetan, kita hanya jemur panas di pinggir jalan sementara menunggu montir.
= Oleh karena percakapan adalah "kendaraan" yang paling banyak dipakai d= alam pelayanan pastoral, maka dalam bahan yang sederhana ini kami menawarkan sua= tu pedoman percakapan pastoral sebagai "montir" dalam perjalanan pelayanan kita. Perhatian kit= a di sini ada pada teknik pelaksanaan. Ini bukan teologi pastor= al, melainkan hanya satu alat yang perlu dikendalikan oleh iman kita demi kebai= kan sesama yang hendak dilayani.
Definisi Pelayanan Pastoral
= Dalam ilmu teologi pastoral ada bermacam-macam rumusan tentang inti pelayanan pastoral, tetapi untuk kepentingan kita di sini kami mengangkat satu defini= si yang sudah agak terkenal, yaitu oleh Clebsch & Jaekle (1956):
Pemeliharaan jiwa, atau = pelayanan pastoral, terdiri dari tindakan-tindakan pertolongan yang dilakukan atas na= ma gereja, dan yang menjurus kepada pe= nyembuhan, pendampingan, bimbingan, dan pe= rdamaian orang-orang yang bermasalah, khususnya berhubungan dengan masalah-masalah y= ang paling pokok dan mendasar dalam kehidupan manusia.
=
Beberapa hal perlu dicatat tentang
definisi di atas:
&nb=
sp; Atas nama gereja berarti bahwa tin=
dakan
pastoral tidak selalu jatuh sama dengan apa yang kita buat sebagai orang
pribadi, sebagai anggota masyarakat, anggota keluarga, dan seterusnya. Dalam pastoral kita mewakili gerej=
a dan
menjadi wadah bagi keprihatinan gereja terhadap manusia. Kalau hal ini tidak diperhatikan, =
dari
satu segi kita bisa mencampur-baur kepentingan pribadi dengan pelayanan
gerejawi dan karena itu dicurigai oleh jemaat. Dari segi yang lain jemaat bisa me=
ndapat
kesan bahwa kita melayani oleh karena kebaikan hati kita pribadi dan bukan
karena Kristus. Sedangkan tuj=
uan
yang sebenarnya dari semua penggembalaan ialah supaya Allah dipermuliahkan =
baik
dalam tindakan kita sebagai pelayan maupun dalam kehidupan mereka yang
dilayani.
&nb=
sp; Hal
yang berikut, dalam definisi ini pastoral secara khusus ditujukan kepada me=
reka
yang bermasalah, bukan saja mer=
eka
yang bersalah. Permasalahan yang dimaksud bisa be=
rhubungan
dengan suatu krisis (sakit, duka cita, perkelahian) atau suatu tahap
perkembangan yang membawa perobahan yang mendasar (kebingungan remaja,
pernikahan, rasa kehilangan oleh orang yang baru pensiun, dsb.). Yang penting di sini bahwa pastora=
l bukan
sekedar alat disiplin gerejawi yang dikhususkan bagi orang yang melanggar
peraturan. Pelayan pastoral
bukanlah polisi gerejawi.
&nb=
sp; Tujuan
pastoral secara konkrit akan bergantung pada situasi warga jemaat
masing-masing, tetapi di sini dirumuskan empat tujuan yang umum:
&nb=
sp; Penyembuhan: Kata Yunani yang dipakai dalam
Perjanjian Baru untuk keselamatan juga berarti penyembuhan. Dalam P.B. kesejahteraan jasmani t=
idak
begitu dibedakan dengan kesejahteraan rohani. Dengan demikian perkunjungan pada =
orang
sakit secara fisik ataupun kepada mereka yang sakit hati termasuk sebagai t=
ugas
utama daripada penggembalaan. Tentu
kita berusaha dan berdoa supaya mereka sembuh/selamat, tetapi di sini a=
da
dua hal yang perlu diperhatikan.
&nb=
sp; Yang
pertama, walaupun perhatian kita paling diarahkan kepada iman, namun kita t=
idak
bisa melepaskan diri dari soal perawatan untuk menentukan bahwa semua sarana
dan fasilitas kesehatan yang tersedia sudah dimanfaatkan. Dalam hal ini pastoral tidak mungk=
in
dipisahkan dari diakonia.
&nb=
sp; Yang
kedua, tidak semua orang sakit dapat sembuh. Yang penting, kita berusaha supaya kalau sembuh atau sakit, iman jemaat tetap
bertahan dan diperkuat (lihat Roma 8.35-39). Doa yang lebih mengutamakan penyem=
buhan
secara jasmani daripada iman itu sendiri mengundang banyak jemaat kita untuk
melihat doa sebagai semacam perlombaan. Siapa punya doa yang paling unggul
untuk menyembuhkan dapat juara satu.
Sebenarnya kalau orang berdoa, lalu yang sakit sembuh, itu tidak ber=
arti
ada karunia yang khusus bagi mereka yang berdoa. Allah yang menyembuhkan, bukan doa,
entah doa oleh pendeta, penatua, kelompok doa atau dukun.
&nb=
sp; Pendampingan: Orang yang bermasalah seringkali r=
asa
seperti dikucilkan, ditinggalkan oleh orang lain. Ada jemaat yang menganggap bahwa m=
ereka
yang "bersalah" atau dikenakan siasat tidak layak menerima pelaya=
nan
gereja, termasuk pelayanan pastoral.
Justru sebaliknya! Tugas seorang gembala adalah untuk mendampingi dan
menemani mereka yang seolah-olah tidak ada teman lagi (band. Lukas 5.29-32, 15.3-7). Itu tidak berarti bahwa kita mendu=
kung
kesalahan-kesalahan mereka, tetapi kita mencari kebaikan yang masih ada pada
mereka dan mendukung itu.
&nb=
sp; Kata
"pendampingan" dipakai di sini untuk menekankan bahwa kita tidak
tarik dari muka atau mengejar dari belakang, melainkan berjalan di sampingn=
ya
sebagai kawan seperjalanan.
&nb=
sp; Bimbingan: Bukan saja orang yang sesat perlu
dibimbing, tapi juga mereka yang bingung.&=
nbsp;
Dan siapa diantara kita tidak bingung pada saat-saat tertentu? Yang penting di sini kita membimbi=
ng
orang bukan untuk ikut kemauan kita, tetapi bersama-sama mencari jalan yang
tepat bagi mereka. Percuma or=
ang
dibimbing untuk ikut jalan ke tempat di mana mereka tidak mau atau tidak ma=
mpu
pergi! Bimbingan yang dimaksud
paling banyak terwujud dalam memberi
&nb=
sp; Perdamaian: Sebagian besar masalah-masalah pas=
toral
bukan menyangkut diri satu orang saja, tetapi melibatkan beberapa fihak, en=
tah
suami dengan isteri, anak dengan orang tua, keluarga dengan keluarga, atau =
suku
dengan suku. Seringkali
masalah-masalah seperti ini dalam jemaat-jemaat kita diselesaikan secara
adat. Kadangkala juga ada yang
beruntung karena denda yang dikenakan.&nbs=
p;
Mungkin ada kebaikan juga dalam pendekatan adat ini, tetapi perlu
dipertanyakan: Kesaksian maca=
m apa
ini, kalau jemaat harus menyerahkan masalahnya kepada tua-tua adat, apalagi
kepala desa, untuk
diselesaikan? Apakah perdamai=
an
secara adat membangun persekutuan dalam jemaat atau hanya memperkuat
tokoh-tokoh adat? Potong seek=
or
babi dengan sendiri tidak mungkin membangun Tubuh Kristus. (Kalau pendamaian cukup dengan
mengorbankan seekor babi, buat apa Yesus mati di kayu salib?)
&nb=
sp; Tujuan
pastoral di sini ialah untuk mendamaikan satu dengan yang lain supaya kemba=
li
sehati sepikir dalam persekutuan gereja atas
dasar kasih Kristus. Tidak
mungkin kita ambil sikap "asal tenang saja." Nabi Yeremiah sudah menegur mereka=
yang
"mengobati luka umatKu dengan memandangnya ringan, katanya: Damai
sejahtera! Damai sejahtera!, =
tetapi
tidak ada damai sejahtera" (Yer.6.14). Proses perdamaian menuntut suatu
pemahaman bersama yang sampai pada akar permasalahan. Dengan demikian, gembala sebagai
pendamai tidak mungkin menghindari pokok-pokok pertengkaran yang ada dalam
jemaat, melainkan dia harus menghadapinya dengan sabar, teliti, dan bijaksa=
na.
&nb=
sp; Yang
terakhir, kita perlu mencatat bahwa dalam definisi di atas pelayanan pastor=
al
disebut sebagai pemeliharaan jiwa=
i>. Istilah ini sangat kuno dalam gere=
ja dan
mencerminkan suatu pemahaman bahwa seluruh jemaat dipanggil untuk bertumbuh
dalam iman, dan proses pertumbuhan itu menjadi tugas pemeliharaan dari seor=
ang
gembala. Dengan demikian,
penggembalaan atau pastoral sebaiknya dilihat bukan sebagai tindakan-tindak=
an
gembala pada saat-saat yang tertentu, tetapi sebagai satu aspek atau perspe=
ktif
yang mewarnai seluruh pelayanan gereja.&nb=
sp;
Berkhotbah, melayani sakramen, mengajar KA/KR--semuanya ada unsur
penggembalaan.
Beberapa Peringatan =
tentang Tugas
Pastoral
&nb=
sp; Belajar
menjadi pelayan pastoral juga berarti belajar untuk menghindari beberapa sa=
lah
faham terhadap tugas pastoral yang bisa menghalangi keberhasilan kita. Di sini kita mencatat beberapa sik=
ap
yang kadang-kadang mempersulit pelayanan pastoral di kalangan GMIT. Mungkin bisa ditambah beberapa lag=
i dari
pengalaman anda sendiri.
&nb=
sp; Siapakah ingin didombakan? Dalam bahasa gerejawi, kata domba lazim dipakai untuk seluruh
jemaat, dengan Yesus (diwakili oleh pendeta) sebagai gembalanya. Itu memang benar, tetapi kita jang=
an
lari terlalu jauh dengan khiasan itu.
Dalam kenyataan, seekor domba termasuk binatang yang paling bodoh dan
rawan. Dan memang dipandang d=
ari
segi dosanya dan kelemahannya, manusia begitu juga--suka berkelahi, suka
"makan rumput" yang tidak sehat, gampang tersesat.
&nb=
sp; Tetapi
dari segi yang lain, manusia itu justru bukan binatang, melainkan diciptakan
menurut citra Allah, menurut "gambar dan rupaNya" (lihat Kej.1.26;
band. Maz.8). Dalam gereja, m=
anusia
justru hendak dimuliahkan dengan menjadi "anggota-anggota keluarga
Allah" (Efesus 2.19). Dalam terang Firman itu, kalau kita menganggap d=
iri
gembala, lalu mendombakan jemaat, itu bukan saja suatu kesombongan yang
meremehkan jemaat, tetapi juga bertentangan dengan kehendak Tuhan bagi
gerejaNya.
&nb=
sp; Mungkin
jalan keluar kira-kira begini:
dalam penggembalaan kita cukup realistis tentang kelemahan dan
kekurangan yang ada pada kita semua, tetapi pada saat yang sama kita selalu
mencari citra Allah yang ada pada setiap manusia, betapapun dicemarkan oleh
dosanya. Dan walaupun kita te=
tap
berpegang pada khiasan domba/
gembala, kita ingat bahwa hanya ada satu Gembala yang Baik, yaitu Ye=
sus
Kristus. Kita yang lain sesama
domba. Dan kalau ada satu dom=
ba
yang bisa membantu domba yang lain menghindari serigala dan mencari rumput =
yang
baik, syukurlah!
&nb=
sp; Pengembalaan bukan semacam upacara. <=
/b> Seringkali yang dianggap penggembal=
aan di
kalangan GMIT adalah suatu ibadah menjelang Baptisan, Pemberkatan Nikah, at=
au
Peneguhan Sidi yang memuat sedikit nasihat dan petunjuk-petunjuk berhubungan
dengan acara yang akan dilaksanakan.
Sebenarnya itu sebagian yang kecil sekali dari tugas penggembalaan.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Kalau seandainya seorang gembala
mengumpulkan dombanya pada pagi hari, mendoakan mereka, menasihati mereka s=
upaya
"Awas serigala!", lalu melepaskan mereka begitu saja untuk cari
rumput sendiri, apakah itu bisa disebut "penggembalaan"? Tentu tidak. Sama hal dengan kita. Memberkati pasangan nikah, lalu
mengabaikan mereka sampai ada berita bahwa mereka ingin cerai baru kita mun=
cul
lagi, itu juga bukan penggemb=
alaan.
&nb=
sp; Ada
dua hal yang perlu diperhatikan di sini.&n=
bsp;
Yang pertama, pastoral bukan saja soal kutip ayat dan memberi
nasihat. Ia lebih mengutamakan
percakapan, komunikasi timbal-balik, keprihatinan kita terhadap jemaat satu=
per
satu--pendeknya, pastoral adalah sejenis hubungan
atau relasi diantara kita dan
jemaat. Relasi itu bukan
berdasarkan jabatan atau tugas, melainkan atas dasar kasih dalam persekutuan
tubuh Kristus.
&nb=
sp; Yang
kedua, pastoral tidak bersifat sementara, berhubungan dengan acara-acara ya=
ng
khusus. Sebagai suatu relasi, pastoral berjalan hari=
demi
hari sepanjang kita bersama-sama dalam jemaat. Justru hubungan yang diciptakan me=
lalui
pergaulan sehari-hari yang paling memungkinkan efektifitas dari pastoral ki=
ta
pada saat timbulnya krisis atau kasus dalam jemaat. Menunggu sampai ada masalah baru k=
ita
masuk berarti kita sudah terlambat.
Pastoral seharusnya dilihat sebagai satu aspek yang tetap dalam
kehidupan berjemaat.
&nb= sp; Pastoral tidak sama dengan pemecahan masalah. Banyak pelayan k= alau berhadapan dengan jemaat yang bermasalah merasa seperti harus memberikan ja= lan keluar, kalau tidak dianggap penggembalaan itu gagal. Tetapi bukan semua masalah ada jalan keluar, dan bukan semua jalan kelu= ar sesuai dengan iman Kristen. N= ona sudah jadi hamil di luar pernikahan dan tidak ada laki-laki yang mau bertanggung jawab: jalan kelu= arnya bagaimana? Menggugurkan kandungannya? Memaksa d= ia untuk nikah dengan orang yang tidak dicintainya? Masalah seperti ini sebenarnya tid= ak ada jalan keluar, hanya ada jalan melalui pengalaman yang pahit itu kepada suatu kedewasaan iman yang lebih baik. Dan peranan kita adalah men= jadi pembimbing dan pendamping di perjalanan itu.
Petunjuk-petunjuk Praktis= i>
= Dari semua tindakan dan kegiatan pastoral, bentuk yang paling utama dan yang pada umumnya paling berhasil ialah perca= kapan. Entah di gedung gereja, dalam rang= ka perkunjungan rumah tangga, atau di pinggir jalan, hanya melalui suatu percakapan yang terbuka dan terarah dapat kita memahami keadaan jemaat deng= an cukup baik untuk membantu mereka. Dan sebaliknya, melalui percakapan juga jemaat dapat mengenal kita dengan cukup baik untuk percaya bahwa kita mampu membantu mereka.
= Yang menjadi soal, apakah kita cukup terampil untuk melakukan percakapan yang terbuka dan terarah itu? Petunjuk-petunjuk yang berikut ini tidak memberikan resep yang serba guna, namun mungkin bisa membantu kita untuk meningkatkan efektifitas dari percakapan pastoral kita.
1. Persiapan:
= Sebelum kita bertemu dengan anggota jemaat untuk mengadakan percakapan pastoral, pe= rlu kita tahu beberapa hal lebih dahulu:
=
--Situasi orang yang dikunjungi
&nb=
sp; --Suasana
apa yang sedang dialaminya
&nb=
sp; --Hubungannya
dengan gereja selama ini.
&nb=
sp; Ada
baiknya juga kalau kita mempersiapkan diri dengan berdoa dan membaca
bagian-bagian Alkitab yang ada hubungan dengan permasalahan yang dihadapi,
kalau sudah diketahui (bukan untuk cari nats yang bisa dilemparkan kepada
jemaat nanti, tetapi untuk persiapan diri kita sendiri).
&nb=
sp; Yang
terakhir, kita perlu memeriksa diri untuk membetulkan sikap yang akan kita =
bawa
ke dalam perjumpaan dengan jemaat, dan berusaha untuk menghilangkan segala
prasangka dan kecenderungan untuk menghakimi.
2. Penampilan seorang pelayan:=
&=
nbsp;
&nb=
sp; Seringkali
berhasil atau tidaknya sebuah percakapan pastoral ditentukan bukan oleh apa
yang diungkapkan gembala itu, tetapi oleh sikap yang ditampilkan. Di sini ada tiga hal yang kunci:
&nb=
sp; a.
Mendengarkan secara aktif dan empat=
is. Pada umumnya manusia mau didengark=
an
sebelum dia mau mendengar. Be=
rabad-abad
yang lalu ada seorang raja yang mengatakan bahwa "Pendengaran yang baik
mendamaikan hati manusia." Sang
raja berpengalaman bahwa banyak orang datang ke istana dengan permohonan se=
gala
macam. Tidak mungkin semua pe=
rmohonan
ini dikabulkan, namun raja itu melihat bahwa kalau ia mendengarkan mereka
dengan baik, walaupun permintaannya tidak diterima, mereka akan pulang deng=
an
puas karena "raja sudah dengar saya." Demikian juga dalam pastoral, seri=
ngkali
jemaat rasa tertolong hanya kalau pendeta atau penatua mendengarkan keluhan
mereka dengan baik.
&nb=
sp; Secara aktif berarti bahwa kita ti=
dak
hanya duduk santai-santai dan membiarkan mereka omong, tetapi kita secara a=
ktif
membantu mereka untuk mengungkapkan perasaan mereka melalui
pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan tanggapan-tanggapan yang menunjukkan
apakah ungkapan mereka sudah kita fahami atau belum.
&nb=
sp; Secara empatis berarti bahwa kita =
turut
merasakan apa yang dirasakan oleh jemaat.&=
nbsp;
Kita hadir sepenuhnya sebagai pendamping mereka, dan kita
"bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang =
yang
menangis" (Roma 12.15).
&nb=
sp; b. Menghargai
dengan tak terbatas. Pada
umumnya orang akan lebih terbuka dengan seorang sahabat daripada kalau
dihadapan polisi atau hakim, dan orang juga lebih gampang menerima teguran
seorang teman daripada serangan seorang musuh. Dalam rangka pastoral, kalau jemaa=
t rasa
dihakimi oleh kita dia akan langsung tertutup. Walaupun dia tetap tunduk dan menj=
awab
"Ya, Bapak... Ya, Ibu", sebenarnya dia hanya menjawab begitu supa=
ya
kita lebih cepat pulang.
&nb=
sp; Kalau
dalam Alkitab kita disuruh untuk membenci dosa, kita juga diperintahkan unt=
uk
mengasihi orang yang berdosa. Justru
bagi merekalah Kristus rela disalibkan.&nb=
sp;
Mungkin dalam seluruh Perjanjian Baru tidak ada seorangpun yang bert=
obat
karena dimarahi oleh Kristus, tetapi banyak bertobat karena dikasihi
Kristus. Hal ini berarti bahwa
segala usaha untuk mencegah dan mengoreksi dosa-dosa jemaat harus bertolak =
dari
kasih Kristus itu.
&nb=
sp; Secara
praktis hal ini perlu diwujudkan dalam pastoral dengan membuktikan pada jem=
aat
melalui sikap dan penampilan kita bahwa kita ada maksud yang baik bagi mere=
ka,
dan mereka tidak akan ditolak atau dibenci oleh kita betapapun berat kesala=
han
mereka. Hanya kalau jemaat su=
dah
yakin akan penghargaan kita terhadap mereka dapat mereka menerima peneguran
dari kita dengan baik (band. Amsal 27.6: "Seorang kawan memukul dengan
maksud baik"). Memang Ye=
sus
pernah mengatakan kepada seorang wanita yang berzinah, "Pergilah, dan
jangan berbuat dosa lagi", tapi sebelumnya Ia mengatakan, "Akupun
tidak menghukum engkau" (Yoh. 8.11).&=
nbsp;
&nb=
sp; c. Keaslian. Yang dimaksudkan dengan
"keaslian" di sini ialah bahwa kita hadir dengan jemaat sebagai
sesama manusia yang juga ada kekurangan dan kelemahan. Kita hadir "apa adanya" =
dan
memberi diri untuk dikenal oleh jemaat.&nb=
sp;
Bagaimana mungkin kita mengharapkan jemaat terbuka dengan kita kalau
kita tidak terbuka dengan mereka? =
span>Ada
kecenderungan untuk seorang pelayan menyembunyikan diri di belakang toga at=
au
jabatannya dan tampil sesuai dengan suatu impian tentang pelayan "yang
seharusnya". Hal ini tid=
ak
membantu, karena segala unsur "ketidakaslian" dalam penampilan ki=
ta
cepat sekali dirasakan oleh jemaat sebagai semacam kemunafikan. Jemaat membutuhkan kehadiran dan
pendampingan seorang manusia yang sejati, dan bukan semacam malaikat
tiruan. Kita harus berani mem=
buka
topeng, justru supaya pribadi kita yang "asli" dapat dikenal dan =
daya
layan yang ada pada diri kita dapat dimanfaatkan dalam pastoral.
3. Menanggapi dengan bijaksana.&=
nbsp;
&nb=
sp; Ada
seorang ahli pastoral yang pernah menggolongkan jenis-jenis tanggapan pasto=
ral
yang paling banyak diberikan oleh pelayan-pelayan kepada jemaat sebagai
berikut:
&nb= sp; --nasihat atau penilaian ("Itu tid= ak boleh....Sebaiknya begini....")
=
--tafsiran (bersifat mengajar:
"Sebenarnya keadaan anda begini...")
&nb= sp; --penghiburan ("Tuhan akan tolong....")
= --dorongan ("Saya yakin anda bisa....")
= --pemahaman ("Sekarang saya mengerti...")
= Jenis tanggapan yang paling banyak diberikan adalah nasihat (termasuk anjuran ber= upa "jalan keluar"). Wa= laupun semuanya disampaikan dengan maksud yang baik, seringkali nasihat tidak berh= asil untuk menjawab kebutuhan jemaat. Hal ini mungkin ada tiga penyebab.
= Yang pertama, kalau orang minta nasihat, seringkali itu bukan karena mereka tidak tahu mau buat apa, tetapi justru karena mereka sudah ada keinginan yang tertentu, dan mereka mau supaya keinginan itu direstui oleh pelayan. Kalau kita terlalu cepat memberikan nasihat (yang mungkin berbeda dengan harapan mereka), maksud mereka yang sebenarnya disimpan saja supaya jangan kelihatan apa bertentangan dengan pendapat pelayan. Akibatnya, pikiran jemaat tidak sempat diketahui oleh pelayan dan dibicarakan secara terbuka, dan dengan tambahan nasihat dari pelayan jemaat tambah bingung saja. Sebaiknya kalau jemaat = minta pendapat kita, kita lebih dulu melemparkan kembali permintaan itu dengan bertanya, "Menurut saudara bagaimana?"
=
Yang
kedua, ada semboyan yang mengatakan, "Nasihat itu murah." Maksudnya bahwa siapa saja bisa
memberikan nasihat dan nasihat itu tidak menjadi beban bagi si penasihat,
karena bukan dia yang harus mengerjakannya. Kita bisa suruh seorang pemabuk su=
paya
jangan minum lagi, tetapi itu tidak membantu dia untuk menahan diri dari
minuman keras. Nasihat hanya bisa diberikan dengan
memperhitungkan kemampuan penerima untuk melakukannya.
&nb=
sp; Yang
ketiga, dan yang paling prinsipil, adalah bahwa seringkali nasihat diberikan
sebelum kita sungguh-sungguh memahami persoalannya, atau juga karena jemaat
belum yakin bahwa kita sungguh-sungguh mengerti. Semua nasihat yang tidak berdasark=
an
pemahaman yang dalam bisa meleset. <=
/span>Dan
kalau jemaat tidak meyakini pemahaman kita, kemungkinan besar mereka tidak =
akan
mengikuti nasihat yang diberikan.
&nb=
sp; Karena
alasan-alasan yang dikemukakan di atas, dari semua jenis-jenis tanggapan
pastoral yang kita berikan, yang paling utama adalah pemahaman. Secara
praktis, kita harus rajin mendengar dan rajin bertanya sampai kita yakin ba=
hwa
kita memang mengerti seluruh seluk-beluk permasalahan jemaat sebelum kita b=
isa
maju dengan usul-saran apapun. Yang
kedua, kita harus meyakinkan jemaat=
bahwa
kita mengerti. Itu bisa d=
ibuat
secara tidak langsung dengan sikap mendengar seperti dikatakan di atas, mau=
pun
secara langsung dengan cara pelayan mengulangi apa yang diceritakan kepadan=
ya
oleh jemaat. Sesudah kita
menceritakannya kembali, kita mengecek kebenarannya dengan mereka dengan
bertanya, "Begitu, ya Bapak?" atau "Apa itu yang dimaksudkan
oleh Ibu?" Mungkin merek=
a akan
memperbaiki tafsiran kita, tetapi sesudah itu kita sama-sama bisa yakin bah=
wa
percakapan berjalan atas pemahaman yang tepat.
&nb= sp; Tentu semua jenis tanggapan atau respons adalah penting pada gilirannya. Tetapi semuanya hanya dapat berman= faat bagi jemaat apabila mereka sudah yakin bahwa kita memang mengerti keadaan mereka.
4. Tahap-Tahap dalam perkembangan hubungan pastoral.
= Percakapan pastoral tidak seperti percakapan-percakapan yang biasa di mana kita omong-omong tentang apa saja, bercerita sedikit, berbisik-bisik sedikit, la= lu minta pamet sesudah habis minum teh atau makan sirih pinang. Semuanya ini bisa juga terjadi, te= tapi suatu percakapan pastoral akan dibimbing dan diarahkan oleh suatu maksud ya= ng Kristiani, yaitu untuk melayani jemaat ditengah-tengah pergumulan iman mere= ka sehari-hari.
=
Dalam
rangka mencapai maksud itu kita tidak perlu meraba-raba saja.
=
a. Keterlibatan: Pada tahap yang pertama diletakkan=
dasar
untuk hubungan kita dengan jemaat selanjutnya. Dari fihak jemaat, mereka dapat me=
ngenal
kita cukup baik untuk menerima pelayanan dari kita, bukan karena jabatan ki=
ta
saja, tetapi karena mereka yakin bahwa kita ada maksud dan sikap yang bisa
membantu mereka. Dari fihak
pelayan, kita mulai mengenal mereka dan mendapat gambaran awal tentang situ=
asi
yang mereka hadapi dan tentang apa yang mereka harapkan dari kita.
=
--Perkenalan
awal, yang akan lebih didalami kemudian.&n=
bsp;
Di sini kita memperoleh
=
--"Pemanasan": Percakapan pastoral tidak bisa lan=
gsung
kepada hal-hal yang sangat peka. Sama
seperti mesin sepeda motor biasanya perlu pemanasan sebelum dia berjalan de=
ngan
lancar, demikian juga dengan sebuah percakapan. Tidak jarang kita sudah makan kue =
satu
piring dan mau bangun untuk minta diri baru jemaat rasa berani untuk membuka
hati. Mereka perlu waktu yang=
cukup
lama untuk menguji kita, apakah kita orang yang bisa mendengarkan mereka de=
ngan
baik dan mau menghargai mereka.
&nb=
sp; --Keterbukaan:
Kalau jemaat sudah cukup mengenal kita (dan kita sudah memberi diri untuk
dikenal), dan kita "lulus ujian" pendengaran, baru mereka berani
untuk berbicara secara terbuka. Proses
ini bisa terjadi relatif cepat, kalau kita sudah saling mengenal dengan bai=
k,
atau kalau jemaat sementara menghadapi krisis dan sangat mengharapkan
pertolongan. Tetapi bisa juga
dengan orang tertentu keterbukaan mebutuhkan waktu beberapa tahun di mana k=
ita
bergaul dengan mereka dalam jemaat baru mereka akan terbuka. Tidak ada resep, tapi pastoral yang
sebenarnya hanya bisa berjalan kalau keterbukaan itu sudah tercapai.
&nb=
sp; b. Eksplorasi (penjelajahan): Kalau
keterbukaan sudah tercapai, kita mulai memperdalam pemahaman kita tentang
situasi jemaat dari berbagai segi. <=
/span>Bersama
dengan jemaat kita berusaha untuk melihat faktor-faktor dalam situasi mereka
seperti ekonomi, kebudayaan, kekeluargaan, peranan fihak ketiga, dll. Proses eksplorasi ini bukan soal
tanya-jawab saja, tetapi ada usaha untuk membantu jemaat sendiri menyelediki
situasinya dengan lebih dalam. Pada
tahap ini kita juga mendengarkan untuk mengenal perasaan-perasaan mereka terhadap situasi itu dan untuk mengerti
mengapa mereka merasa begitu.
&nb=
sp; Pada
tahap ini paling tepat kalau kita melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang
membantu jemaat mengeluarkan isi hatinya serta memberi tanggapan yang bersi=
fat
pemahaman. (Ada baiknya kalau pertanyaan kita dirumuskan supaya tidak bisa
dijawab hanya dengan "ya" atau "tidak", supaya inisiatip
dalam pembicaraan tidak diambil alih oleh kita--jangan terjadi semacam
interogasi!) Pada tahap ekspl=
orasi
belum saatnya untuk nasihat.
&nb=
sp; c. Pemahaman
diri: Kalau dalam percaka=
pan
pastoral kita sudah dapat gambaran yang menyeluruh tentang situasi jemaat d=
an
tentang sikap dan perasaannya terhadap situasi itu, sebenarnya kita baru
berhadapan dengan bahan mentah yang masih perlu digarap. Tujuan daripada penggarapan atau
pengajian itu ialah supaya jemaat dapat memahami dirinya ditengah-tengah
situasi dan perasaan-perasaan itu dalam terang iman Kristen. Ada empat aspek:
&nb=
sp; --Makna "bagi saya" ("=
;saya"=3D
orang yang digembalakan, bukan diri pelayan) dalam permasalahan yang
dikemukakan. Apa konsekwensin=
ya
dalam kehidupan saya, apa artinya dari segi iman saya?
&nb=
sp; --Masalah "dengan saya". Dalam suatu permasalahan biasanya =
ada
banyak fihak yang terlibat. <=
st1:place
w:st=3D"on">
=
--Perasaan "dalam hati saya".<=
/i> Dalam tahap eksplorasi di atas kita
sudah memperhatikan perasaan jemaat terhadap situasi yang dihadapinya. Namun belum tentu jemaat sendiri menyadari dan mengakui perasaan itu. Seringkali wanita susah mengaku ba=
hwa
dia sebenarnya marah, dan laki-laki susah mengaku bahwa dia rasa takut,
umpamannya. Tujuan gembala di=
sini
adalah untuk membantu mereka menyadari dan "memiliki" perasaan me=
reka
yang sebenarnya--betapapun jelek atau tidak enak--justru supaya perasaan itu
bisa ditangani secara sadar dan jujur.
&nb=
sp; --Tujuan "bagi saya". Ada pendapat yang agak umum dipegang
bahwa tujuan dari pastoral adalah untuk menemukan "jalan
keluar". Hal ini memang =
baik
dan praktis, tapi perlu difahami sedikit lebih dalam. Ada banyak "jalan keluar"=
; dari
kota Kupang, umpamanya, tapi kita ikut yang mana bergantung kalau kita mau =
ke
Baun, ke Soe, atau ke Tenau. =
Sama
hal dalam pastoral, bisa saja kita menganjurkan jalan keluar bagi jemaat,
tetapi kita harus tahu lebih dahulu mereka mau ke mana.
&nb=
sp; Dalam
rangka pemahaman diri, jemaat diajak untuk mencapai kejelasan mengenai apa =
yang
mereka harapkan dan inginkan secara realistis dalam situasi yang dihadapi.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Dan bagi orang Kristen tujuan itu =
juga
perlu dibimbing oleh Firman Tuhan.
Orang yang menyadari kehendak diri sendiri lebih mampu untuk dengan =
jujur
membuka diri kepada kehendak Tuhan, supaya pada akhirnya mereka bisa dengan
tulus berdoa dalam hati, "Jadilah kehendakMu."
&nb= sp; d. Tindakan-tindakan. Berbicara itu hanya persiapan untuk bertindak. Kalau suatu percak= apan pastoral tidak menghasilkan kemungkinan untuk tindakan yang konkrit, walaup= un kecil, bisa saja keadaan jemaat lebih buruk daripada kalau tidak pernah dikunjungi. Bisa saja = mereka ambil sikap, "Ya, pelayan coba membantu tapi kami tidak tertolong. Apa boleh buat."
=
Karena
itu perencanaan untuk tindakan-tindakan nyata adalah aspek yang sangat pent=
ing
dalam suatu percakapan pastoral.
= --Melihat kesempatan, kemampuan, dan sumber-sumber daya yang ada pada diri orang itu sendiri, serta faktor-faktor pendukung yang ada dalam lingkungannya (termas= uk keluarga, teman-teman, gereja, dan pemerintah).
=
--Merencanakan
dan menyepakati tindakan-tindakan yang konkrit, sederhana, dan realistis ya=
ng
akan diambil oleh orang yang digembalakan itu, serta tindak lanjut dari fih=
ak
pelayan sendiri. (Contoh yang sederhana:
= --Bertindak.
=
Tahap-tahap
perkembangan pastoral ini tentu lebih gampang diikuti atas kertas daripada
ditengah-tengah jemaat. Tentu=
juga
setiap hubungan antar manusia ada keunikan, dan ada juga maju-mundurnya.
Penutup
= Walaupun di atas sudah diberikan tanda awas supaya kita jangan terlalu banyak menasi= hati jemaat, ternyata tulisan yang singkat ini sudah memberikan banyak sekali nasihat. Adapun nasihat sepot= ong lagi.
= Dalam kehidupan sehari-hari, kalau orang mengalami kesulitan atau kebingungan, ap= akah dia langsung melapor diri kepada pendeta?&= nbsp; Apakah dia terus mencari penatua dari rayonnya? Pada umumnya tidak. Kalau orang ada masalah, biasanya = dia akan mencari pertolongan lebih dulu dari keluarganya sendiri atau dari seor= ang teman. Dengan mereka dia mera= sa aman untuk membuka hatinya. <= /p>
= Dalam kenyataan itu ada kabar baik bagi kita yang belajar untuk menjadi gembala d= alam jemaat. Mungkin saja kita bel= um begitu ahli dalam ilmu pastoral itu, dan masih banyak hal dalam pedoman ini yang membingungkan. Tetapi ki= ta semua pernah menjadi seorang ayah, seorang ibu, atau seorang teman. Kebapakan, keibuan, atau kesekawan= an yang ada pada diri kita sebenarnya menjadi satu dasar yang sangat bermakna dalam pelayanan kita. Sebagai gembala, kita hadir dalam jemaat terutama bukan sebagai pejabat, tetapi seb= agai seorang sahabat dalam Kristus. Kalau kita berpegang kepada kebenaran itu, prinsip-prinsip pastoral = yang di atas akan menjadi pelengkap saja pada suatu kekuatan yang sudah ada pada diri kita.
Lampiran 1:
Percakapan pastoral yang berikut ini dapat dikatakan
"macet". Mengapa? Coba menerapkan prinsip-prinsip da=
ri
pedoman ini.
&n=
bsp; =
BAPAK
PENDETA YANG "SALEH" DAN BAPAK PENDETA YANG "MARAH"=
&nb=
sp; Pendeta
Ayub sudah bekerja sepuluh tahun lebih di Jemaat Bethesda. Ia seorang yang sangat rajin dan t=
idak
kenal lelah. Oleh ketekunanny=
a maka
jemaat Bethesda pada akirnya dapat mengatasi beberapa masalah yang khronis
dalam jemaat, antara lain kekurangan dana yang terus menerus dalam anggaran
biayanya setiap tahun.
&nb=
sp; Pada
tahun-tahun akhir ini nampak kesehatan Pendeta Ayub semakin menurun. Pada suatu hari Pendeta Ayub terse=
rang
penyakit jantung dan tekanan darah tinggi yang cukup parah. Ia harus berbaring di rumah sakit =
dan
tidak lagi dapat meneruskan pekerjaannya di jemaat Bethesda.
&nb=
sp; Pendeta
Bildad dari jemaat Gloria mengunjunginya di rumah sakit. Terjadilah percakapan sebagai beri=
kut:
Bildad 1.: Bagaimana
saudara? Apakah sudah baik?
Ayub 1.: (Diam
saja.)
Bildad 2.: Apakah dokter sudah datang di sini=
? Dan apa katanya? Apakah ia sudah memberikan obat? Memang orang sakit seperti saudara harus banyak
sabar.
Ayub 2.: Saya sekarang sudah me=
njadi
orang cacat yang tidak
berguna. Mengapa Tuhan=
tidak
memanggil saya saja?
Bildad 3.: Lho, jangan bicara begitu! Itu dosa! Hidup mati itu kan ditentukan oleh
Tuhan. Kita tidak boleh minta=
mati
sebelum waktunya. Bagaimana s=
audara
sekarang bisa mengatakan begitu?
Apakah saudara tidak ingat akan khotbah-khotbah saudara sendiri? Apakah saudara tidak ingat akan
penghiburan-penghiburan yang saudara sendiri berikan pada orang-orang yang
sedang sakit? Saudara bisa mengatakan hal-hal yang indah kepada orang lain,
tetapi bagaimana sekarang dengan saudara sendiri? Apakah sikap saudara itu tidak
bertentangan dengan kata-kata saudara sendiri?
Ayub 3.: (Diam
saja.)
Bildad 4.: Saudara sekarang harus berjanji un= tuk tidak omong begitu lagi. Orang yang percaya, apalagi seorang pendeta, tidak boleh putus asa dan ingin mati. Sekarang, mari kita ber= doa saja kepada Tuhan.
(Pdt. Bildad kemudian be= rdoa.)
Ayub 4.: (Memalingkan wajahnya ke dinding s= ambil mengatakan perlahan, "Pendeta gila.")
Percakapan ini telah dir= ekam oleh penatua yang melakukannya. Dia kurang puas dengan hasilnya. Bagaimana analisis dan usul saran anda?
&=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; &nbs=
p; Penatua
dan Suami Isteri B
Pen.1. : Selamat sore.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'> Kami dengar Bapak baru-baru sakit, sampai dibawa ke Rumah Sakit?
Suami 1.: Ya, saya sakit.
Ist. 1. : Ya, suami saya tiba-tiba jatuh sakit, bikin kaget memang, s=
ebab
pagi hari dia masih bekerja, meskipun sudah bilang badan kurang enak. Pulang sore mau mandi dan pergi ke dokter. Tapi sekarang ongkos dokter mahal =
dan
obat juga mahal.
Pen.2. : Oh, sore hari = dia sakit?
Ist. 2. : Ya, di depan= meja ini dia jatuh. Badanny= a kena kaca lemari ini sampai pecah. Dan langsung pingsan. Saya panggil-panggil tapi dia terus tidak sadar. Kami berdua, anak putri saya dan s= aya menangis kebingungan sebab di rumah hanya kami berdua.
Pen.3. : Apa terus diba= wa ke rumah sakit?
Ist. 3. : Ya, hari itu juga tetangga yang dipanggil anak saya
menganjurkan untuk membawa Bapak ke rumah sakit. Sampai dua jam lebih dia pingsan.
Pen. 4. : Kata dokter =
kenapa
dia?
Suami 4.: Tekanan darah tinggi.
Ist. 4. : Dia terlalu =
cape,
dan saya sudah kasi ingat berkali-kali supaya banyak istirahat tapi tidak m=
au. Dia
bandel. Coba dia mau ikut nas=
ihat
saya barangkali kami tidak sampai susah begini.
Pen. 5. : Ya, semua orang juga punya susah.
Ist. 5. : Eeh, saya susah betul.&nbs=
p;
Dirumah sakit saya hanya memikirkan ongkosnya terus. Berapa kami harus bayar, padahal kami tidak punya uang sama sekali. Untung tetangga baik dan mau kasi =
pinjam
Rp.100,000, dan Rp.100,000 lagi dari suami punya majikan. Kalau tidak tentu suami saya belum=
boleh
pulang dari rumah sakit.
Pen. 6. : Ya, saya bisa
membayangkan bagaimana kesusahan yang Bapak-Ibu rasakan, tapi untung bahwa
Tuhan memberi jalan keluar.
Ist. 6. : Ya, saya terus berdoa kepada Tuhan, tapi mengapa kita diberi
kesusahan ini?
Pen. 7. : Kita tidak t=
ahu
mengapa Tuhan memberi kesusahan, tapi sebagai orang percaya kita tahu Tuhan=
ada
maksud yang baik. Jangan lupa=
terus
berdoa kepadaNya.
Suami 7.: Ya, saya berdoa terus.
= Ist. 7. : Ya, saya terus minta-minta kepada Tuhan, tapi aduh, masih susah terus. = p>
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|