MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C9F.22250CE0" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C9F.22250CE0 Content-Location: file:///C:/4C48908E/perencanaan.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"
Sumber:=
www.oaseonline.org
Suatu Pr=
oses
Perencanaan Pelayanan Diakonia
oleh John
Campbell-Nelson
Pengantar
Sama
seperti jenis-jenis pelayanan yang lain, bentuk-bentuk pelayanan diakonia
tertentu telah membudaya dan mentradisi dalam jemaat-jemaat GMIT.
Sama halnya dengan pekerjaan seorang diaken. Ia dikenal oleh apa yang ia
kerjakan: membantu penatua da=
lam
pelayanan ibadat rumah tangga, mengumpulkan kolekte di kabaktian umum, menc=
uci
sloki setelah perjamuan. Jemaat mengenal para fungsionaris gereja dari
fungsi-fungsi yang mereka lazim jalankan.
&=
nbsp; Apa
yang digambarkan secara deskriptif =
di
atas mungkin tepat tentang ke=
adaan
diaken dan diakonia dalam kalangan GMIT, namun ada juga segi normatif yang cukup menggugah kalau
dibandingkan dengan deskripsi ini. <=
/span>Dalam
HKUP 1991-1995, diakonia diberi definisi sebagai berikut:
Diakonia adalah
pelayanan gereja yang bersama dengan Yesus Kristus menempatkan diri secara
solider dengan orang-orang miskin dan terhina. Diakonia menjurus kepada kesejahte=
raan
manusia seutuhnya, khususnya berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan dasar.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Tercakup dalam tugas ini adalah
pelayanan karitatif terhadap orang sakit, lapar, dan terlantar, kegiatan
pengembangan masyarakat, dan perjuangan untuk keadilan sosial. Dalam melaksanakan tugas ini gereja
mewujudkan misinya untuk menjadi ta=
nda
Kerajaan Allah.
Dalam HK=
UP
juga diakui bahwa pelayanan diakonia yang tradisionil memang agak kerdil ka=
lau
dilihat sebagai suatu "tanda Kerajaan Allah." Diharapkan bahwa pada masa depan
transformasi dalam diakonat akan menjadikan jemaat sebagai pejuang
kesejahteraan rakyat--dalam kata lain, jemaat
yang missioner seperti yang dicitakan dalam Rencana Induk Pelayanan GMI=
T,
yang layak disebut sebagai tanda Kerajaan Allah.
&=
nbsp; Kalau
kita mau merobah pola tradisionil berdasarkan suatu pemahaman teologis yang
lebih dalam dan luas mengenai panggilan gereja untuk mengikuti Yesus Sang
Diakonos, maka kita seolah-olah memperkenalkan suatu budaya baru. Disebut
"budaya" baru karena yang diperlukan jauh lebih luas daripada sek=
edar
penerapan sebuah program yang diturunkan dari Sinode. Ia menuntut suatu
transformasi dalam cara hidup dan cara kerja jemaat sebagai suatu persekutu=
an
yang hidup dalam solidaritas dengan kaum miskin, tertindas dan terhina. Buk=
an
sekedar ide-ide atau ajaran-ajaran yang perlu diterapkan, melainkan sikap, kesadaran, tingkah laku, jaringan
relasi dan pemahaman diri baik para diaken maupun warga jemaat perlu bertumbuh dan membudaya ke arah diakonat yang sejati.
&=
nbsp; Namun
di belakang tantangan ini ada juga kabar baik. Walaupun apa yang dilakukan gereja
secara resmi sebagai pelayanan diakonal sangat terbatas, namun apa yang
dilakukan anggota-anggota jemaat dalam pola hidup sehari-hari seringkali ju=
stru
menunjukkan kesadaran diakonal yang baik.&=
nbsp;
Hal tolong-menolong dalam kampung, saling membantu, membagi makanan
dengan tetangga yang berkekurangan, mengangkat anak yatim piatu sebagai anak
dalam rumah, merawat orang sakit--semuanya ini merupakan bagian yang lazim =
dari
kehidupan di pedesaan, tanpa direncanakan dan tanpa dibaptis dengan nama
"diakonia." Walaupun
kegiatan ini seringkali terbatas pada kaum kerabat, bagaimanapun juga perlu
diakui bahwa sebagian besar dari pelayanan diakonia sebenarnya dilakukan se=
cara
spontan oleh masyarakat pedesaan sebagai bagian dari hidupnya.
&=
nbsp; Dengan
demikian gereja diperhadapkan dengan suatu kesempatan yang sangat baik: untuk mempertemukan visi dan pangg=
ilan
Kristen tentang diakonia dengan solideritas sosial yang masih kuat di
jemaat-jemaat, guna menghasilkan pelayanan yang patut disebut sebagai tanda=
Kerajaan
Allah. Perkawinan teologia dan budaya seperti ini tentu tidak bisa terjadi
tanpa melalui suatu proses yang cukup sadar dan terencana. Merobah "bu=
daya
bergereja" dan "teologia bermasyarakat" bukan pekerjaan seha=
ri
atau setahun. Kalau gereja dikiaskan sebagai "kebun anggur Allah",
maka perobahan yang kita kelola di sini bukanlah tanaman musiman, melainkan
tanaman umur panjang.
Proses Pengembangan Pelayanan Diakonia<= o:p>
Mengelola
suatu proses seperti digambarkan di atas menuntut perencanaan yang luwes. K=
alau
dijadikan "program", apalagi "proyek," maka ia dicabut
keluar dari pola hidup jemaat menjadi milik para fungsionaris saja. Sebaliknya, kalau diakonia tidak
direncanakan dan dikembangkan secara kritis dan sadar, mungkin kita akhirnya
hanya membaptis kebaikan budaya dalam hal saling menolong dan sebutkan itu
sebagai diakonia--gereja punya blek, suku punya susu. Mungkin yang paling bermanfaat dal=
am
proses pengembangan diakonia ini adalah suatu sikap dari para pelayan bahwa
mereka berfungsi sebagai pendamping dan pelancar dalam suatu proses yang ad=
alah
milik dan prakarsa jemaat sendiri.
Dalam
terang itu, maka proses yang digariskan di bawah bukanlah suatu resep,
melainkan suatu alat yang boleh dipakai atau tidak. Paling-paling ia berperan sebagai
orientasi awal terhadap perjalanan yang ada di depan kita.
Kita
boleh mulai dengan sebuah contoh kecil yang dapat memperlihatkan unsur-unsur
yang ada dalam sebuah tindakan diakonal:
Pagi hari Mama Lina berangkat dari rumah menuju kebun. Dia mengikuti jalan setapak melalui
hutan. Di tengah hutan itu, Lina bertemu dengan Nenek Maria, seorang janda,
dengan anak cucunya sementara gali ubi rambat. Ada juga sedikit kacang hutan dalam
bakulnya. Mereka saling menegur, dan Mama Lina meneruskan perjalanan ke keb=
un.
&=
nbsp; Sementara
kerja di kebun, Mama Lina berpikir dalam hati, "Koh' kenapa itu nyong
sonde hadir di sekolah? Ini anak kampung mau jadi apa kalau tidak sekolah?<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Atau barangkali dong susah cari ua=
ng
sekolah....Kasihan itu nenek masak kacang hutan setengah mati....Kalau tidak
salah gereja ada kasi beras pada hari Natal tempo hari. Pasti su' habis...."
&=
nbsp; Sore
hari Mama Lina pulang dari kebun. =
span>Sebelum
mulai masak, dia ambil jagung dua ikat dan suruh anak antar ke rumah Nenek
Maria.
Tidak ada
hal yang terlalu istimewa dalam tindakan Mama Lina; ia merupakan peristiwa
sehari-hari dalam masyarakat pedesaan.&nbs=
p;
Namun di belakang perbuatan itu ada suatu proses pertimbangan yang
terdapat pada semua pelayanan diakonal.&nb=
sp;
Proses itu dapat dirinci dalam tiga tahap:
1. Melihat. Mama Lina melihat keadaan Nenek Ma=
ria
secara kebetulan, tapi dengan "mata tajam" seperti dimiliki seora=
ng
perempuan pedesaan yang juga mengenal perjuangan untuk memberi makan pada
keluarganya. Dia mampu membaca
tanda-tanda kesusahan yang ada di belakang kehadiran Nenek Maria di hutan u=
ntuk
mencari makanan. Tidak ada tindakan diakonal kecuali ki=
ta
juga melihat dengan mata tajam perjuangan hidup sesama kita.
2. Menimbang.
Mama Lina memikirkan implikasi dari apa yang dilihatnya. Dia menyadari konsekwe=
nsi
dari kemiskinan Nenek Maria bagi anak cucunya dan bagi dirinya sendiri. Mama Lina juga mampu menghubungkan
kemiskinan Nenek Maria dengan panggilan iman Kristen--dalam hal ini menging=
at
pelayanan diakonia pada waktu Natal. Dia menarik kesimpulan bahwa dia ada
tanggung jawab terhadap Nenek Maria. Demikian
juga semua tindakan diakonal bertolak dari suatu analisis permasalahan dan
suatu rasa tanggung jawab iman.
3. Bertindak.
Sebagai yang berhak untuk mengatur makanan di gudang, Mama Lina mengambil
keputusan untuk mengirim jagung kepada Nenek Maria. Dia merasa bahwa beras sebenarnya =
lebih
pantas, tapi dia sendiri harus beli beras, sedangkan jagung adalah hasil
kebunnya sendiri. Dan karena =
dia
sendiri kurang ada uang, dia tidak menanggapi masalah uang sekolah untuk an=
ak
cucu itu. Bagi kita juga, tindakan
diakonal berdasarkan suatu "kuasa" untuk bertindak dan suatu
pertimbangan yang realistis terhadap sumber daya yang ada pada kita.
Dengan
demikian kita melihat inti dari pelayanan diakonal dalam tiga tahap: melihat, menimbang, dan bertindak<=
/span>[1]=
. Tentu prosesnya sedikit lebih rumit kalau diperluas untuk menjangkau
pelayanan gereja daripada perbuatan satu orang saja, dan juga kalau
dipertimbangkan kemiskinan dan ketidakadilan struktural daripada kesusahan
hanya seorang nenek dan cucunya. Kalau
prosesnya diperluas begitu, maka dapat dijabarkan sebagai berikut:
Melihat:
1. Kesad=
aran
2.
Solideritas (kesetiakawanan)
3.
Inventaris permasalahan
Menimbang:
4. Anali=
sis
(sosial-budaya, ekonomis, politis)
5. Refle=
ksi
teologis
Bertindak:
6. Tinda=
kan
7. Peman=
tapan
sarana bertindak
&=
nbsp; Masing-masing
tahap memerlukan sedikit penjelasan.
1. Kesadaran
&=
nbsp; Kata
ini hampir sulit dipakai dalam konteks Indonesia pada masa Orde Baru. Ia dicuri oleh penguasa, sehingga
"kesadaran" biasanya dipakai dengan artian "setuju dan taat =
pada
penguasa". Orang yang me=
nuruti
kemauan pimpinan dianggap "sadar", sedangkan mereka yang tidak
menghiraukannya dianggap tidak "sadar diri". Artian yang korup ini
bukanlah apa yang kami maksudkan dengan kesadaran di sini. Dalam artian yang asali, kesadaran
berarti bahwa kita berada dalam keadaan mengamati dan menghayati apa yang a=
da
di depan kita, apa yang terjadi dalam pengalaman kita, dan bahwa kita mampu
berefleksi dan menentukan sikap terhadap apa yang kita hayati.
&=
nbsp; Berhubungan
dengan diakonia, kesadaran yang dimaksud mempunyai dua aspek yang sama pent=
ing:
aspek teologis dan aspek sosial. Dari
segi teologis, kita yang sejak kecil dibiasakan dengan suatu pandangan tent=
ang
diakonia yang sangat sempit perlu memperluas cakrawala teologis kita. Tema-tema seperti shalom dan mishpat =
(keadilan)
dalam umat perjanjian di PL atau "kabar baik kepada orang-orang
miskin" (Lukas 4) dan cara hidup jemaat yang pertama (Kis.2) dalam PB
perlu diangkat ke permukaan untuk refleksi kita. Panggilan gereja untuk
mengangkat suara kenabiannya melawan ketidakadilan adalah konsekwensi nyata
dari Injil Yesus Kristus. Memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat
adalah juga "pelayanan kasih", dan tidak bisa dipertentangkan den=
gan
pelayanan karitatif. Dalam je=
maat
kesadaran seperti ini dapat dikembangkan melalui pemberitaan yang lebih peka
terhadap masalah-masalah sosial, ekonomis dan politis; percakapan-percakapan
nonformal, dan kelompok-kelompok diskusi.
&=
nbsp; Aspek
yang kedua adalah kesadaran sosial, yang sering juga disebut sebagai
"kesadaran kritis". Jemaat
yang hidup sehari-hari bergantungan pada siklus alam, dan dalam warisan bud=
aya
feodal, seringkali menganggap bahwa segala sesuatu yang ada memang haruslah
demikian dan tidak bisa dirobah. Dalam suasana seperti itu mer=
eka
gampang diatur, gampang ditipu, dan cepat pasrah. Mereka jarang bertanya
"Mengapa?" dan sulit membayangkan suatu masa depan yang lain dari
masa lampau. Mereka menjadi o=
byek
dan bukan subyek daripada kehidupan mereka sendiri! Dalam keadaan seperti ini pelayanan
diakonal terbatas pada luapan belas kasihan dari mereka yang berada pada
jenjang atas dalam hierarkhi sosial kepada mereka yang di jenjang bawah.
Diakonia
yang menjurus kepada keadilan dan transformasi sosial barulah mungkin kalau=
jemaat
memiliki kesadaran kritis untuk mempertanyakan keadaan yang ada dan
mengharapkan suatu masa depan yang lain. Proses penyadaran ini yang menjadi
dasar bagi pengembangan diakonia yang sejati. Secara praktis, bisa saja diperluk=
an
seminar atau lokakarya analisis sosial dalam jemaat untuk meletakkan dasar
untuk langkah ini, atau lebih baik lagi, sebuah program pendidikan Kristen
orang dewasa secara berkala dan tetap.
2. Solideritas
Solideritas
berarti kesetiakawanan, tapi dengan tambahan makna bahwa kita bersetiakawan
atas dasar suatu keyakinan dan dengan mereka yang belum tentu menjadi
"kawan" kita secara alamia.
Yesus Kristus bergaul dengan orang-orang berdosa, para pelacur dan pemungut cukai, bukan =
karena
Ia sama seperti mereka, atau karena kebetulan suka berkelakar. Ia bersama dengan mereka oleh kare=
na Ia
diutus untuk menghimpun kembali domba-domba yang sesat dari umat
Keadaan
kita dalam masyarakat NTT yang sangat hierarkhis menuntut suatu upaya yang
sadar dan terencana dari para pelayan supaya tidak terkurung dalam hierarkhi
itu melainkan menempatkan diri pada sisih golongan yang terendah -- sebagai
kawan, bukan sebagai dermawan.
3. Inventarisasi
masalah
Kegiatan
inventarisasi masalah dalam pemahaman banyak orang sampai saat ini masih
merupakan tugas dari sekelompok orang tertentu, baik mereka yang di pemerin=
tah,
di LSM-LSM, maupun dalam persidangan-persidangan dan komisi-komisi gerejawi=
.
Masalah-masalah
kemasyarakatan yang ditemukan oleh mereka kemudian disodorkan kepada masyar=
akat
dengan berbagai alternatif dengan maksud menyelesaikannya melalui pendekatan
program dan proyek. Konsekwen=
si
dari pendekatan ini ialah, masyarakat sendiri tidak memahami secara sadar a=
kan
permasalahannya dan juga masyarakat dijadikan obyek dari suatu kegiatan
pembangunan.
Dalam
kepentingan pelayanan diakonia yang berkwalitas dan bertanggung-jawab, kegi=
atan
inventarisasi masalah mesti dipahami sebagai suatu proses perencanaan dari
dalam kelompok layanan itu sendiri dan yang dilakukan oleh jemaat/masyarakat
sendiri dengan bimbingan yang bersifat ramah dan terbuka dari pimpinan jema=
at.
Untuk
melaksanakan proses ini secara baik, ada dua hal yang perlu diperhatikan:
$ =
&nb=
sp; =
Adanya
kesediaan untuk mendengar apa yang disampaikan atau dikeluhkan oleh
masyarakat/jemaat dalam realita kehidupannya (metode ini dapat menggunakan
pendekatan "tangga kebutuhan dasar" menurut Maslow). Pada tahap ini tidak ada yang
"salah" atau "bodoh" asal merupakan ungkapan hati jemaat
yang tulus.
$
$ =
&nb=
sp; =
Proses
ini juga dapat memanfaatkan sebuah team yang terdiri dari orang-orang yang
mempunyai keahlian tertentu (mis., guru, petani terampil, kader kesehatan) =
dan
yang berasal dari komunitas itu sendiri.&n=
bsp;
Fungsi mereka bukanlah untuk "membina", melainkan untuk
mendampingi jemaat dalam refleksinya guna memperdalam dan mempertajam apa y=
ang
merupakan pergumulannya.
4. Analisis (sosial budaya, ekonomi, politis)
Biasanya
orang yang hidup setiap hari dengan sebuah masalah juga mempunyai pandangan
tentang sebab-musebabnya, dan itulah yang patut dipertimbangkan lebih
dahulu. Untuk kepentingan dia=
konia
sebuah analisis merupakan jembatan di antara masalah dan tindakan, dan jemb=
atan
itu bisa dibangun dari besi baton atau bambu -- asal orang bisa melanggar.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Ketelitian dan kerumitan yang dibu=
tuhkan
dalam sebuah analisis bergantung pada banyak faktor: apakah masalah perorangan atau mas=
alah
umum dalam masyarakat, apakah masalah itu mau ditangani secara mendadak kar=
ena
urgensinya atau secara struktural; apakah kita mampu menghadapi akar
permasalahan atau kita hanya bisa mengurangi penderitaan dari sebuah masalah
yang di luar tangan kita untuk menyelesaikannya. Dan seringkali lebih baik kita mas=
uk
dengan analisis sementara daripada menunggu pengetahuan yang sempurna, yang
bisa saja tidak kunjung datang.
(Pasti kalau para murid Yesus tahu sejak awal bahwa ia akan disalibk=
an
mereka tetap sebagai nelayan saja!)
Orang jangan dibebani dengan analisis yang lebih berat
dari apa yang dapat dipikulnya.
&=
nbsp; Agar
masalah yang dihadapi masyarakat dapat dipahami secara baik oleh masyarakat
sendiri, maka diperlukan analisis yang mendalam terhadap masalah-masalah
tersebut. Jumlah teknik anali=
sis
sosial jauh terlalu banyak untuk dibahas di sini -- kami hanya melihat seca=
ra
ringkas tempatnya dalam pengembangan diakonia jemaat. Maksud dari analisis tersebut adal=
ah:
&nb=
sp; =
1. =
Untuk
mengetahui dan menemukan akar penyebab dari masalah-masalah yang ada sekali=
gus
menemukan alternatif pemecahan yang akurat. Proses ini membutuhkan suatu metode
sederhana yang dapat dipakai oleh masyarakat sendiri. Metode yang dimaksud adalah: Metode "Kenapa Begitu?"<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Terhadap setiap masalah dan jalan
pemecahan yang dimunculkan harus selalu diperhadapkan dengan pertanyaan
"kenapa begitu?" De=
ngan
metode ini, diharapkan kelompok yang membuat analisis, pada tahap tertentu,
dapat menemukan akar masalah atau penyebab utama dari masalah yang ada.
&nb=
sp; =
2. =
Untuk
melihat keterkaitan masalah dalam berbagai aspek yang memainkan peranan dal=
am
kehidupan suatu komunitas. Se=
tiap
masalah yang ada dalam suatu masyarakat mesti dilihat dalam tiga aspek yang
berbeda tapi saling mempengaruhi, yaitu: aspek ekonomi, aspek sosial budaya,
dan aspek politik.
&nb=
sp; =
&nb=
sp; =
a. =
Aspek
ekonomi:
&nb=
sp; =
Agar
masalah yang dihadapi dapat dipahami maka kita memerlukan Sebagai alternatif dapat dibentukk=
an tim
yang mempunyai keterampilan tertentu dan yang berasal dari komunitas itu
sendiri untuk melaksanakan penelitian (biarpun sederhana dan tidak formil)
tentang faktor-faktor produksi yang tersedia. Misalnya, dalam lingkungan pertanian perlu diketahui, an=
tara
lain:
&=
nbsp; &nbs=
p; -Bagaimana
pola pemilikan tanah, modal, sumber daya manusia, dan
&=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; -Berapa
luas areal perkebunan yang ada di daerah itu?
&=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; -Seorang
petani perlu menggarap tanah yang berapa luas untuk kehidupan yang layak?
&=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; -Jenis tanaman apa yang ditanam, baik untuk konsumsi maupun untuk dijua=
l?
&nb=
sp; =
&nb=
sp; -Hambatan
apa yang dihadapi sehingga produksi kebun tidak lebih banyak?
&nb=
sp; =
&nb=
sp; -Apakah
ada pelayanan pertanian seperti nasehat, kredit, pupuk, bibit, dsb. yang
diharapkan dari pemerintah?
&nb=
sp; =
&nb=
sp; -Bagaimana
dengan masalah pemasaran hasil produksi?
&nb=
sp; =
&nb=
sp; -Apakah
ada kemungkinan lain untuk menghasilkan uang di daerah itu?
Dalam analisis ekonomis yang dicari
adalah sumber-sumber kebutuhan hidup setempat serta pola pemilikan atau kua=
sa
atas sarana produksi maupun distribusi.
&nb=
sp; =
&nb=
sp; =
b. =
Aspek
politis:
&nb=
sp; Masalah
ekonomis biasanya berkaitan bukan hanya dengan sumber daya dan sarana produ=
ksi
melainkan dengan proses pengambilan keputusan pada tingkat lokal dan juga
dengan kebijakan umum dalam pembangunan suatu negara. Jadi yang menyangkut peningkatan produksi juga dapat
terlihat pada tingkat pengambilan keputusan. Dalam contoh tentang pertanian yan=
g di
atas, maka dapat dipertanyakan:
&=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; -Siapa
yang menguasai pembagian dan pemilikan tanah?
&=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; -Siapa
yang memutuskan tentang sarana pendukung macam apa yang akan masuk pada dae=
rah
itu seperti bendungan, sumur, dll.?
&=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; -Siapa
yang memutuskan tentang petan=
i mana
yang akan menerima bantuan dari pemerintah berupa pelatihan, modal, pupuk,
bibit, dsb.?
&=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; -Siapa
yang mengontrol pemasaran barang-barang di daerah itu?
Dalam analisis politik kita mencari tahu struktur kuasa
setempat, kepentingan-kepentingan yang turut mempengaruhinya, dan sumber-su=
mber
pengaruh atau daya tahan yang dapat dimanfaatkan masyarakat setempat.
<=
span
style=3D'mso-tab-count:2'> &=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; &nbs=
p; c. =
Aspek
Sosial Budaya:
&=
nbsp; Kebanyakan
masalah ekonomi dipengaruhi oleh nilai-nilai, baik yang tradisional maupun =
yang
modern, yang dipegang oleh suatu komunitas. Seringkali rakyat menerangkan kead=
aannya
dengan asumsi nilai-nilai ini, dan seringkali nilai-nilai ini juga yang
membatasi mereka untuk melakukan terobosan-terobosan baru.
&=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; -Bagaimana
masyarakat sendiri menerangkan tentang kemiskinan?
&=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; -Apakah
ada kepercayaan tradisional bahwa hasil kebun yang tidak baik disebabkan ol=
eh
dosa masyarakat, “orang bikin,” atau roh jahat?
&=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; -Bagaimana
struktur kekerabatan mempengaruhi pembagian dan pemanfaatan hasil pertanian=
?
&=
nbsp; &nbs=
p; &=
nbsp; -Bagaimana
nilai-nialai modern (termasuk teologi Kristen) memperkuat keadaan yang ada,
atau berusaha merobahnya?
Dalam analisis sosial-budaya kita mencari nilai-nilai ya=
ng
mengikat masyarakat setempat dan berfungsi, baik untuk mendorong maupun unt=
uk
menghambat tindakan-tindakan yang bersifat merobah; kita mencari
struktur-struktur yang dapat memangku dan mengayomi atau sebaliknya menindas
atau mengesampingkan kaum miskin.
<=
span
style=3D'mso-tab-count:1'> &=
nbsp; &nbs=
p; 3. =
Untuk
mencari sumber-sumber pertolongan, titik-titik kuat dalam daya layan jemaat
yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi atau meringankan masalah yang
dihadapi. Sumber daya jemaat
dilihat pertama, baru dicari juga sumber-sumber yang lain yang dapat
dilibatkan, entah di pemerintah, dalam masyarakat umum, LSM-LSM atau dalam
klasis dan sinode.
Dari
analisis di atas, terlihat bahwa struktur-struktur (ekonomi, politis, dan
sosial budaya) masyarakat yang mengontrol dan menguasai kehidupan bersama.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Terhadap masalah-masalah ekonomis,
sosial budaya, dan politis yang telah terstruktur dalam suatu masyarakat dan
sekaligus menguasainya, diperlukan pergumulan yang melibatkan masyarakat/je=
maat
untuk merobahnya. Tapi meroba=
hnya
ke arah yang mana? Sehubungan
dengan tugas diakonia, maka hal utama yang mesti dibuat adalah melihat
masalah-masalah tersebut dalam terang kehendak dan kasih Allah.
5. Refleksi Teologis
&=
nbsp; Motivasi
dan landasan teologis bagi diakonia telah kami bicarakan dalam makalah yang
lain<=
span
style=3D'mso-special-character:footnote'>[2]<=
![endif]>. Di sini kami hanya mau menekankan bahwa pemandangan teologis secara
ilmiah seringkali tidak jatuh sama dengan pemahaman iman yang operatif dalam
jemaat. Betapapun jemaat
mempelajari teologia dari pendeta sampai "penuh kepala," namun ia
digerakkan oleh teologia yang tertanam dalam hatinya. Refleksi
teologis yang akan melahirkan tindakan diakonal haruslah dijalankan bersama jemaat, bukanlah diajarkan=
kepada jemaat.
&=
nbsp; Kalau
proses pengembangan program diakonia dilihat sebagai suatu gerakan yang utu=
h,
maka perlu diperhatikan bahwa refleksi teologis ada sejak awal, mulai dari
langkah "kesadaran". Tugas
refleksi pada tahap kelima ini bersifat lebih terfokus pada masalah yang
dihadapi. Tujuannya adalah un=
tuk
mencari kehendak Allah dalam keadaan yang konkrit ini, dan untuk menilai
alternatif-alternatif pemecahan dalam terang kehendak Allah itu. Bisa saja ada banyak jalan ke luar=
dari
sebuah masalah, tapi bukan semuanya adalah jalan Tuhan. &=
nbsp; Mengingat
definisi diakonia yang dikutip diatas dari HKUP GMIT, jelaslah bahwa tujuan
dari pelayanan diakonia dari segi teologis adalah supaya menampakkan
“tanda Kerajaan Allah.”
Memang tujuan langsung a=
dalah
untuk menolong orang yang susah.
Kalau orang yang susah tidak tertolong, atau kalau mereka tertolong
dengan cara yang sekaligus memperalat atau menghina mereka, maka
“tanda” yang diberikan kurang terang dan kurang layak untuk
Kerajaan Allah. &=
nbsp; Justru
di sini terdapat bahaya bahwa orang salah memahami aspek “tanda”
ini, sehingga diakonia dijadikan alat marturia
(kesaksian) secara tidak tepat. Misalnya,
kita melayani orang miskin supaya mereka menjadi Kristen, atau supaya mereka
masuk gereja kita. Tindakan s=
eperti
ini justru bertolak belakang dengan pelayanan Yesus. Yesus melayani orang karena mereka
susah, dan Ia mengasihi mereka. Tidak perlu ada motifasi lain=
; Ia
tidak menuntut mereka harus m=
enjadi
pengikut baru Ia mau menolong.
Malahan dalam hal memberi, Yesus menganjurkan supaya tangan kanan ti=
dak
perlu tahu apa yang dikerjakan tangan kiri: jangan ada motifasi ganda atau
motifasi tercampur. Hanya
dengan demikian, pelayanan Yesus menjadi tanda kasih Allah yang tak bersyar=
at,
sebuah pemberitaan Kerajaan Allah yang nyaring dan terang, di mana ada
pengayoman dan kerahiman ilahi bagi seluruh umat manusia tanpa kecuali. Sebaliknya, diakonia yang dilakukan
sebagai sejenis iklan untuk memamerkan kebaikan gereja atau umpan untuk
menangkap anggota merupakan sejenis “ajaran yang sesat” dari se=
gi
marturia. Adapun
aspek koinonia dalam pelayanan diakonia yang cukup nampak dalam rumusan yang
sering ditemukan dalam petunjuk-petunjuk Perjanjian Lama tentang kewajiban
untuk melayani sesama: “supaya saudaramu dapat hidup di antara
kamu.” Kalau orang kehilangan sarana produksi atau sumber daya untuk
menghidupi dirinya sendiri, bisa saja dia terpaksa mengembara untuk
“mencari hidup,” atau menghambakan diri kepada orang lain. Dalam keadaan seperti ini, perseku=
tuan
yang seharusnya dipelihara, justru terkikis oleh kemiskinan. Di kampung-kampung kita, tidak jarang terjadi ada orang yang
terpaksa menjual rumahnya untuk melunasi hutang, dan kemudian pergi, entah =
ke
mana; malahan ada keluarga yang dibubarkan oleh kemiskinan; anak-anak dibag=
ikan
pada sanak saudara atau menjadi “anak piara” di orang yang lebih
makmur, sedangkan suami dan isteri cerai, masing-masing untuk mencari jalan
sendiri. Keadaan seperti ini
menghancurkan persekutuan kita, sedangkan diakonia dapat menyediakan sarana
supaya Koinonia kita tetap
terpelihara, “supaya sa=
udara
kita tetap dapat hidup di antara kita.” 6. Tindakan Hasil
analisis dan refleksi bersama jemaat dapat dipakai untuk melahirkan
tindakan-tindakan yang tepat dan strategis dalam penyelesaian masalah yang
dihadapi jemaat. Tindakan ata=
u aksi
yang direncanakan harus jelas dan dapat dilaksanakan oleh jemaat sesuai den=
gan
kemampuan yang ada dalam komunitas tersebut. Agar tindakan atau aksi yang
dilaksanakan dengan baik perlu diatur pelaksanaannya secara teknis. (Siapa melakukan apa? Kapan? Di mana? Bagaimana caranya?) Perlu
juga dipikirkan tindakan pada beberapa aras. Dalam hal Mama Lina dengan Nenek M=
aria
tadi, kebutuhan untuk makanan sudah langsung dilayani oleh Lina. Untuk beberapa hari, Nenek Maria b=
oleh
lega. Tapi bagaimana
selanjutnya? Tentu akan memer=
lukan
sebuah solusi yang lebih mantap.
Dan masalah sekolah bagi anak cucu belum diraba sama sekali. Ternyata setelah bercakap dengan M=
aria,
Lina menemukan bahwa anak cucunya tidak ikut sekolah karena tidak memiliki
sepatu. Ia pernah ditegur ole=
h guru
karena ke sekolah pakai sandal jepit, dan setelah itu dia malu untuk
kembali. Terhadap
masalah ini, Lina memilih jalan advokasi.&=
nbsp;
Kalau dia ada uang, dia bisa beli sepatu, tapi dia merasa jengkel de=
ngan
sikap Pak Guru yang tidak mengerti keadaan anak. Lina bercerita pada suaminya, dan =
suami
pergi menghadap kepala sekolah. “Pak
Guru, mau ajar anak ini pung otak,” kata suaminya, “atau hanya =
mau
ajar dia pung khaki?”
Akhirnya guru setuju untuk tidak mempersoalkan alas kaki lagi. 7. Pemantapan
Sarana Bertindak Tindakan
spontan dari Mama Lina untuk membantu Nenek Maria dimungkinkan karena ada
persediaan jagung secukupnya.
Kemampuan gereja untuk melayani diakonia juga bergantung pada
kesiapannya, bukan hanya secara materil, tapi juga dari segi tenaga, keahli=
an,
dan pengorganisasian. Kalau w=
arga
jemaat sering sakit malaria, tapi Puskesmas jauh, mengapa para diaken tidak
dilengkapi dengan klorokwin bersama Alkitabnya? Mungkin juga ada yang diutus untuk
dilatih sebagai kader kesehatan. &=
nbsp; Masalah-masalah
sosial dan ekonomis yang kronis menuntut bahwa setelah sebuah cara penangan=
an
ditemui, maka jemaat melengkapi diri dengan persediaan untuk melanjutkan
pelayanannnya secara terandal: ada tenaga yang terlatih, ada struktur tangg=
ung
jawab yang jelas, dan jenis pelayanan tersebut telah “melembaga”
sebagai sebuah program pelayanan tetap.&nb=
sp;
Dalam hal Nenek Maria, Mama Lina mengusulkan pada Penatua rayon bahwa
perlu ada lumbung rayon, bukan hanya lumbung jemaat (yang biasa dipakai unt=
uk
konsumsi pada pertemuan-pertemuan). Namun Maria mengaku masih kuat untuk
memelihara kebun asal saja ada yang membantu balik tanah pada awal musim hu=
jan,
dan ada yang bisa membantu memikul pulang hasil kebun pada musim panen. Akhirnya, disepakati bahwa para pe=
muda
akan mengadakan program tetap untuk balik tanah pada setiap musim tanam bagi
para ibu janda dan duda dalam jemaat. &=
nbsp; Mungkin
dengan perencanaan yang demikian kita dapat memberi makna yang lebih luas p=
ada
ungkapan pelayan di meja Perjamuan:
"Marilah, karena segala sesuatu telah tersedia." Kesimpulan: Implikasi-imp=
likasi
bagi cara kerja kita &=
nbsp; Pelayanan
diakonia seperti yang digambarkan di atas membawa konsekwensi bagi pekerjaa=
n kita
semua: Ú Ú Jaringan relasi dalam jemaat diperluas untuk lebih
merangkul mereka yang ada di luar kaum kerabat atau mereka yang ada di lapi=
san
terendah dalam hierarki sosial. Bisa saja ada yang tersinggung dengan
perkembangan itu. Ú Lokus pelayanan gereja dapat beralih dari gedung keb=
aktian
ke rumah tangga, dan dari rumah tangga ke kebun dan tempat kerja--ataupun ke
pinggir jalan dengan para penganggur..&nbs=
p;
Pelayanan kita menjadi lebih "kristo-sentris" dan kurang
"ibadah-sentris". Ú Pelayanan yang baru menuntut juga keterampilan yang =
baru,
misalnya dalam bidang pertukangan, kesehatan, pertanian dan peternakan. Dan juga pengetahuan yang baru: hu=
kum
pertanahan, struktur dinas-dinas pemerintahan, dsb. Bisa saja ada pelayan (baik diaken,
penatua, maupun pendeta) yang rasa kurang mampu melakukannya -- dan bisa ju=
ga
ada tenaga baru dalam jemaat yang justru memiliki keterampilan yang dibutuh=
kan,
tapi selama ini kurang dilibatkan dalam pelayanan gereja. &=
nbsp; Yang
penting di sini adalah kerelaan untuk meninggalkan kebiasaan di mana diaken
adalah calon penatua, dan mengakui diakonia sebagai sebuah tugas tersendiri,
yang memerlukan keterampilan yang tepat.&n=
bsp;
Sama seperti gereja tidak akan mengangkat seorang penatua yang tidak
bisa berdoa, seharusnya gereja tidak mengangkat seorang diaken yang tidak a=
da keterampilan
dan kerelaan untuk melayani kebutuhan hidup jemaat, entah dalam bidang
kesehatan, pendidikan, pertanian, atau ekonomi. &=
nbsp; Sudah
lebih dari sepuluh tahun yang lalu, GMIT mencantumkan dalam HKUP-nya sebuah
program yang sederhana sekali, namun jemaat masih menunggu pelaksanaannya: =
biarlah para diaken melayani diakonia.=
&nb=
sp;
[1]<=
![endif]>
Proses ini dirumu=
skan
oleh Fr.Cardijn, seorang pastor yang melayani ditengah-tengah kaum buruh di
Eropa, kemudian diterapkan di Afrika Selatan dan Amerika Latin sebagai alat
untuk menggerakkan jemaat demi perjuangan pembangunan dan keadilan. =
Proses yang serupa lebih dikenal di kalangan GMIT dengan nama "Met=
ode
Studi Kasus".
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|