MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C9E.E9A42D10" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C9E.E9A42D10 Content-Location: file:///C:/D1396912/power.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"
Sumber:=
www.oaseonline.org
Power dan Structure dalam Gereja
oleh John
Campbell-Nelson
ATetapi
kamu harus tinggal dalam
Dengan perkataan ini Yesus meninggalkan murid-muridNya sebelum Ia naik ke surga. Kekuasaan yang dimaksud diceritakan= pada jilid kedua, dalam perkembangan dan perluasan gereja mula-mula menurut Kisah Para Rasul. Bahwa sekelompok = orang kampung dari udik Palestina bisa mengembangkan sebuah gerakan yang masih hi= dup dua ribu tahun kemudian di hampir setiap pelosot di muka bumi dapat dianggap cukup bukti untuk mengakui @ tersebut.
Namun dari sisih lain, pe=
rnah
terdengar ayat ini keluar dari mulut seorang pendeta yang menunggu penempat=
an
di ruangan bawah di Kantor Sinode:
Dalam refleksi yang singk= at ini, saya akan menelusuri jenis kekuasaan yang kedua. Biarlah kekuasaan Allah tetap pada Allah: menjadi tugas kita untuk mempertanggung jawabkan kekuasaan yang diberikanNya kepada gereja. <= /p>
Morfologi Misi Gereja
Kata @ dalam bahasa Inggris membungkus
sejumlah kata bahasa Dari kedua contoh yang sederhana di atas, jelaslah bahwa ada hubungan
timbal-balik di antara power dan structure. Yang satu tidak berguna tanpa yang
lain. Tapi yang saya mau teka=
nkan
di sini adalah bahwa hubungan di antara power dan structure ditentukan oleh=
maksud
atau fungsi yang hendak dicapai.&nb=
sp;
Fungsi sebuah fonderen adalah untuk memikul rumah kita tanpa bergera=
k;
fungsi mesin semata-mata adalah untuk bergerak. Pemahaman ini diungkapkan s=
ecara
paling ekonomis oleh arsitek terkenal Frank Lloyd Wright: Form follows function (bent=
uk
menuruti fungsi). Kalau dikenakan pada pers=
oalan
kita mengenai pemberdayaan organisasi gereja, dapat dirumuskan bahwa Form
follows mission. Bentuk
pengorganisasian gereja ditentukan oleh misi yang diembannya. Makanya, ketika Yesus mengutus
murid-muridnya, Ia tidak menetapkan sebuah struktur tertentu yang mereka ha=
rus
turuti. Ia memberi misi, dan =
dalam
pelaksanaan misi itu, berbagai bentuk organisasi muncul dari waktu ke
waktu. Diaken diangkat untuk
menjaga keadilan dalam pembagian makanan dan harta milik dalam komunitas
pertama; orang yang @ dalam persekutuan melembaga sebagai
penatua, dan karena gereja berkembang dalam jaringan-jaringan kecil yang
berpusat pada rumah tangga, maka jemaat-jemaat yang pertama adalah Agereja rumah tangga.@&n=
bsp;
Proses ini berjalan sampai pada akhirnya, ketika iman Kristen diangk=
at
menjadi agama resmi Dengan contoh terakhir in=
i, kita
berhadapan dengan sebuah tantangan.
Walaupun hubungan yang wajar adalah bahwa form follows function=
i>,
dapat juga terjadi bahwa fungsi terperangkap dalam sebuah struktur yang tid=
ak
lagi melayani maksud yang semula.
Kedua sisi dari power dan structure ini nampak dalam dua dalil dari =
The
Christian Faith karya Schleiermacher: @ Adunia=
wi@ dalam konteks lokal atau oleh trad=
isi
gereja itu sendiri, melainkan oleh panggilan gereja untuk memberitakan Injil
dan mengembangkan persekutuan orang percaya setempat. Dari pemikiran Schleiermacher ini, ada tiga poin yang saya mau angkat di
sini: 1. Bahwa gereja bukanlah =
suatu lembaga
yang suci, yang berada untuk dirinya sendiri@)Bsuatu prinsip yang sejajar dengan =
rumusan
kita di atas: form follows
mission. 2. Bahwa gereja bisa saja
kehilangan misinya karena @ pelayanan di pedalaman. Di sinilah berkembang jug=
a bentuk
pengorganisasian yang secara formal sesuai dengan gereja Aasli@ secara fungsional adalah Bapak
Zending. Anggota majelis jema=
at
dalam praktek adalah pembantu-pembantunya dalam pemberitaan, pengajaran dan
disiplin warga gereja. Anehnya, setelah para zendeling ke luar dari India pasca Perang Dunia I=
I,
pola yang sama tetap dipelihara. Hanya,
pelayan asing diganti oleh pelayan pribumi. Walaupun demikian, pola pelayanan =
dan
pengorganisasian yang diwarisi dari zaman zending tetap tidak diganti dengan
pola-pola organisasi pribumi. Malah,
menyimpang dari pola yang diwarisi (walaupun pola tersebut sendiri adalah
penyimpangan dari Afundamentalisme bentuk@ ini, terjadi suatu keganjilan dalam
pemerintahan gerejawi, di mana para pendeta pribumi mewarisi kuasa para zen=
deling
tanpa warisan sumber daya untuk mendukung kuasa tersebut. Mereka mewarisi sebuah eklesiologi=
dan
tata gereja yang sifatnya Presbiterial ataupun Kongregasional, walaupun pola
kepemimpinan yang berlaku bersifat episkopal. Tidaklah sulit untuk melihat wajah GMIT dalam kaca cermin dari India
ini. Kita bisa mencatat sejum=
lah
gejalanya, selain yang sudah nampak di atas: 1. Jemaat tunggal yang dilayani seorang pendeta adalah jemaat 3. Walaupun klasis mengambil tempat yang paling sentral dalam sistem
Presbiterial-Sinodal, namun di GMIT klasis justru diobrak-abrik sebagai
penghambat kebijakan sinode, dan nyaris ditiadakan sebagai badan gerejawi.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Tidak ada Majelis Klasis, walaupun
kemajelisan adalah prinsip eklesial kita yang sangat mendasar. KPWK merupakan kehadiran sinode di
wilayah klasis, bukan wakil jemaat-jemaat atau moderator badan pelayanan kl=
asisBsekali lagi, suatu sifat Episkopal.&nb=
sp;
(Memang pernah ada masa kejayaan klasis-klasis dalam sejarah GMIT, t=
api itu
terutama melakat pada klasis-klasis yang berhubungan dengan sebuah
“mission station” pada zaman zending, seperti Soe, Baa, dan Kal=
abahi.) 4. Majelis Sinode tidak
berfungsi secara kemajelisan. Pengambilan
keputusan lebih banyak oleh masing-masing pejabat, yang duduk selaku
uskop/pembantu uskop. Seluruh=
kuasa
untuk pengangkatan, pemberhentian, penempatan dan mutasi pendeta disentrali=
sir
dalam tangan Majelis Sinodeinformasi yang bisa b=
erguna
kalau warga GMIT mau merenungkan dilema @ GMIT selalu menyebut diri sebagai gereja yang menganut sistem Sistem Presbiterial adalah sebuah bentuk pemerintahan gerejawi yang
berdasarkan perwakilan, di mana para warga jemaat memilih sejumlah penatua =
yang
memerintah (ruling elders), yang bersama dengan para pendeta membent=
uk
sebuah konsistori (session) dan bertanggung jawab atas pemeliharaan
pemerintahan rohani (spiritual governance) dalam jemaat. Sebuah Klasis (Presbytery)
terdiri dari semua pendeta dalam wilayah pelayanannya, bersama dengan sejum=
lah
penatua yang mewakili setiap jemaat dalam wilayah Klasis. Klasis adalah fokus kewibawaan ger=
ejawi
(focus of authority), oleh karena ia memiliki hak hukum (jurisdic=
tion)
atas semua pendeta dan jemaat dalam wilayahnya. Penempatan dan pemberhentian seora=
ng
pendeta berdasarkan kesepakatan bersama di antara jemaat, klasis, dan pende=
ta
yang bersangkutan. Sinode adalah sebuah badan perwakilan yang terdiri dari wakil pendeta d=
an
penatua dari paling sedikit tiga Klasis, dan berkuasa atas Klasis-Klasis da=
lam
wilayah pelayanannya. Badan
tertinggi adalah Sidang Am (General Assembly), yang mengemban tugas
supervisi atas semua jemaat dan keseluruhan pelayanan denominasi, seperti m=
isi
dan pendidikan. Setiap Klasis
mengutus wakil-wakilnya (baik pendeta maupun penatua).....Seorang pendeta
adalah anggota Klasis, dan bukan anggota jemaat. APresbyterianism,Agerejawi D. Dalam pelaksanaan pemerintahan ger=
eja,
hak suara hati bersifat mutlak.
Sebagai te=
mpat
di mana manusia bertemu dengan Tuhan, suara hati masing-masing orang adalah
suci seperti meja perjamuan. 5. Tentang prinsip kemajelisan : A. @&n=
bsp;
Demikian perkataan Calvin ketika dia mau menjelaskan mengapa
keputusan-keputusan dalam gereja perlu diambil secara bersama, dan bukan ol=
eh
satu-dua orang. Berdasarkan
kecenderungan semua manusia pada dosa, kita harus bersama-sama untuk sal=
ing
mengoreksi. Calvin secara
khusus menekankan bahwa seorang pendeta tidak boleh memerintah dalam gereja
terlepas dari perundingan dengan majelis jemaat. Nampaknya dia mau menjaga supaya k=
aum
klerus jangan menjadi suatu kelompok kepentingan tersendiri. B. Alasan kedua untuk kemajelisan ada=
lah
supaya kita saling melengkapi. Tidak ada seorang pun yang tahu segala
sesuatu tentang gereja dan pelayanannya.&n=
bsp;
Masing-masing dengan pengetahuan dan pemahaman yang terbatas bisa
berunding bersama untuk mencari hikmat yang lebih lengkap. Calvin bukanlah seorang demokrat
sebenarnya; dia tidak mencari suara terbanyak melainkan suara ter=
baik. Dan ini dimungkinkan kalau sekelom=
pok
orang yang dipilih karena hikmat dan kedewasaan iman memegang pemerintahan
gerejawi secara bersama. C. Ketiga, kemajelisan diperlukan kar=
ena
itulah cara pemerintahan yang gerejawi. Gereja adalah sebuah persekutuan, =
dan
aspek persekutuan ini perlu dipelihara dalam setiap aspek kehidupan gerejaw=
i,
termasuk kepemimpinan dan pemerintahan.&nb=
sp;
Calvin yakin bahwa prinsip ini yang sesuai dengan kebiasaan gereja
mula-mula, di mana orang Kristen waktu itu mengambil yang terbaik dari dua
sumber utama. Dari tradisi demokrasi Yunani, mereka mengambil kebiasaan unt=
uk
memungut suara secara merata dari masing-masing anggota secara setara. Dari tradisi Yahudi, mereka mengam=
bil
kepenatuaan, di mana sejumlah orang terpercaya diberi tugas untuk berunding=
bersama
mencari hikmat bagi seluruh komunitas.&nbs=
p;
Dari kedua sumber itu, (demikian Calvin) lahir prinsip kemajelisan.<=
span
style=3D'mso-spacerun:yes'> Calvin sendiri mengembangkan pikir=
an ini
menjadi suatu sistem pemerintahan gerejawi yang sangat mirip dengan demokra=
si
perwakilan. Malah, tata gereja Presbiterian menjadi sala=
h satu
model untuk merancang Konstitusi Amerika Serikat. Prinsip-Prinsip yang dipaparkan di atas tidak dimaksudkan sebagai mal y=
ang
harus diikuti GMIT
Adewasa,@ sedangkan jemaat-jemaat pedesaan =
(yang
bisa saja lebih tua dari sejumlah jemaat kota yang Adewasa@) dikatakan @ semata-mata karena faktor ekonomi pedesaan yang mengakibatkan mereka s=
ulit
membiayai seorang pendeta sesuai SK tanpa bergabung dengan jemaat yang
lain. Sesuai prinsip Episkopa=
l, ADi mana Uskop ada, di situ gereja ada,ADi mana pendeta ada, di situ ada jemaat.@
APresbiterial-Sinodal.@ (biasa hanya disebut