MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C9E.E9A42D10" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C9E.E9A42D10 Content-Location: file:///C:/D1396912/power.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii" Sumber: www

Sumber:= www.oaseonline.org

&n= bsp;

 

Power dan Structure dalam Gereja

oleh John Campbell-Nelson

 

 

ATetapi kamu harus tinggal dalam kota<= /st1:City> ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.@&n= bsp; Lukas 24.49

 

Dengan perkataan ini Yesus meninggalkan murid-muridNya sebelum Ia naik ke surga.  Kekuasaan yang dimaksud diceritakan= pada jilid kedua, dalam perkembangan dan perluasan gereja mula-mula menurut Kisah Para Rasul.  Bahwa sekelompok = orang kampung dari udik Palestina bisa mengembangkan sebuah gerakan yang masih hi= dup dua ribu tahun kemudian di hampir setiap pelosot di muka bumi dapat dianggap cukup bukti untuk mengakui @ tersebut. 

 

Namun dari sisih lain, pe= rnah terdengar ayat ini keluar dari mulut seorang pendeta yang menunggu penempat= an di ruangan bawah di Kantor Sinode: kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.@&n= bsp; Cuma dalam hal ini, @ cukup sampai lantai kedua.  Kekuasaa= n yang ditunggu-tunggu juga tidak lain daripada sebuah SK penempatan.  Secara jujur, perlu kita akui bahwa Gereja hidup sampai sekarang di antara kedua realitas ini: yang satu ilahi, yang satu ironis.

 

Dalam refleksi yang singk= at ini, saya akan menelusuri jenis kekuasaan yang kedua.  Biarlah kekuasaan Allah tetap pada Allah: menjadi tugas kita untuk mempertanggung jawabkan kekuasaan yang diberikanNya kepada gereja.  <= /p>

 

Morfologi Misi Gereja

 

Kata @ dalam bahasa Inggris membungkus sejumlah kata bahasa Indonesia: kuasa dan kekuasaan, kewenangan, kekuatan, kewibawaan, bahkan AenergiApoten= si.@&n= bsp; Saya tidak akan terlalu pusing membedakan masing-masing nuansa, kecu= ali dari konteks bahasan yang saya angkat.&nbs= p; AStruktur@ memang mendapat prioritas, oleh ka= rena alasan yang akan dikemukakan di bawah.&nbs= p; Untuk sementara, cukup dicatat bahwa Yesus tidak menyuruh para murid untuk menunggu sampai

Dari kedua contoh yang sederhana di atas, jelaslah bahwa ada hubungan timbal-balik di antara power dan structure.  Yang satu tidak berguna tanpa yang lain.  Tapi yang saya mau teka= nkan di sini adalah bahwa hubungan di antara power dan structure ditentukan oleh= maksud atau fungsi yang hendak dicapai.&nb= sp; Fungsi sebuah fonderen adalah untuk memikul rumah kita tanpa bergera= k; fungsi mesin semata-mata adalah untuk bergerak.  Pemahaman ini diungkapkan s= ecara paling ekonomis oleh arsitek terkenal Frank Lloyd Wright:  Form follows function (bent= uk menuruti fungsi).

 

Kalau dikenakan pada pers= oalan kita mengenai pemberdayaan organisasi gereja, dapat dirumuskan bahwa Form follows mission.  Bentuk pengorganisasian gereja ditentukan oleh misi yang diembannya.  Makanya, ketika Yesus mengutus murid-muridnya, Ia tidak menetapkan sebuah struktur tertentu yang mereka ha= rus turuti.  Ia memberi misi, dan = dalam pelaksanaan misi itu, berbagai bentuk organisasi muncul dari waktu ke waktu.  Diaken diangkat untuk menjaga keadilan dalam pembagian makanan dan harta milik dalam komunitas pertama; orang yang @ dalam persekutuan melembaga sebagai penatua, dan karena gereja berkembang dalam jaringan-jaringan kecil yang berpusat pada rumah tangga, maka jemaat-jemaat yang pertama adalah Agereja rumah tangga.@&n= bsp; Proses ini berjalan sampai pada akhirnya, ketika iman Kristen diangk= at menjadi agama resmi Kekaisaran= Romawi, ia mengambil bentuk sebuah Kekaisaran. 

 

Dengan contoh terakhir in= i, kita berhadapan dengan sebuah tantangan.  Walaupun hubungan yang wajar adalah bahwa form follows function, dapat juga terjadi bahwa fungsi terperangkap dalam sebuah struktur yang tid= ak lagi melayani maksud yang semula.  Kedua sisi dari power dan structure ini nampak dalam dua dalil dari = The Christian Faith karya Schleiermacher:

 

@  Adunia= wi@ dalam konteks lokal atau oleh trad= isi gereja itu sendiri, melainkan oleh panggilan gereja untuk memberitakan Injil dan mengembangkan persekutuan orang percaya setempat.  Dari pemikiran Schleiermacher ini, ada tiga poin yang saya mau angkat di sini:

&n= bsp;

1.  Bahwa gereja bukanlah = suatu lembaga yang suci, yang berada untuk dirinya sendiri@)Bsuatu prinsip yang sejajar dengan = rumusan kita di atas:  form follows mission.

&n= bsp;


2.  Bahwa gereja bisa saja kehilangan misinya karena @ pelayanan di pedalaman.  Mission<= /i> station tersebut sering terletak di pusat pemerintahan kolonial.  Sang zendeling kemudian mengangkat= dan mendidik sejumlah pembantu pribumi sebagai @  Guru-guru injillah yang melayani di pos-pos, sedangkan sang zendeling melayani di pusat dan sewaktu-waktu memba= wa pelayanan sakramen ke pedalaman.  Uang, ajaran, dan kuasa dipegang di pusat.  Jemaat yang dianggap AmandiriAdewas= a@ adalah jemaat di pusat, karena dia= lah yang dilayani tetap oleh seorang pendeta yang memiliki kuasa untuk melayani sakramen dan menetapkan ajaran dan aturan.=   Jemaat di pedalaman dikatakan belum dewasa karena belum memiliki seo= rang pendeta tetap, dan berada dalam keadaan ketergantungan untuk pelayanan sakr= amen dan ajaran.

 


Di sinilah berkembang jug= a bentuk pengorganisasian yang secara formal sesuai dengan gereja Aasli@ secara fungsional adalah Bapak Zending.  Anggota majelis jema= at dalam praktek adalah pembantu-pembantunya dalam pemberitaan, pengajaran dan disiplin warga gereja.

 

Anehnya, setelah para zendeling ke luar dari India pasca Perang Dunia I= I, pola yang sama tetap dipelihara.  Hanya, pelayan asing diganti oleh pelayan pribumi.  Walaupun demikian, pola pelayanan = dan pengorganisasian yang diwarisi dari zaman zending tetap tidak diganti dengan pola-pola organisasi pribumi.  Malah, menyimpang dari pola yang diwarisi (walaupun pola tersebut sendiri adalah penyimpangan dari Afundamentalisme bentuk@ ini, terjadi suatu keganjilan dalam pemerintahan gerejawi, di mana para pendeta pribumi mewarisi kuasa para zen= deling tanpa warisan sumber daya untuk mendukung kuasa tersebut.  Mereka mewarisi sebuah eklesiologi= dan tata gereja yang sifatnya Presbiterial ataupun Kongregasional, walaupun pola kepemimpinan yang berlaku bersifat episkopal.  Para penatua secara Aresmi= @ mewarisi peranan sebagai pengemban amanat pemerintahan gerejawi, sedangkan dalam praktek mereka diperlakukan sebagai pembantu atau pesuruh pendeta.&nbs= p; Dan para diaken justru tidak mewarisi pelayanan diakonia yang dirint= is oleh para zendeling (sekolah-sekolah, rumah sakit, dsb.), karena dana yang mendukung tetaplah dalam tangan gereja induk.  Tanpa fungsi yang sebenarnya, para diaken diberi tempat pada anak tangga terendah dalam susunan tangga kekuasa= an, sebagai pembantu penatua.

 

Tidaklah sulit untuk melihat wajah GMIT dalam kaca cermin dari India ini.  Kita bisa mencatat sejum= lah gejalanya, selain yang sudah nampak di atas:

&n= bsp;

1. Jemaat tunggal yang dilayani seorang pendeta adalah jemaat Adewasa,@ sedangkan jemaat-jemaat pedesaan = (yang bisa saja lebih tua dari sejumlah jemaat kota yang Adewasa@) dikatakan @ semata-mata karena faktor ekonomi pedesaan yang mengakibatkan mereka s= ulit membiayai seorang pendeta sesuai SK tanpa bergabung dengan jemaat yang lain.  Sesuai prinsip Episkopa= l, ADi mana Uskop ada, di situ gereja ada,ADi mana pendeta ada, di situ ada jemaat.@

&n= bsp;

3. Walaupun klasis mengambil tempat yang paling sentral dalam sistem Presbiterial-Sinodal, namun di GMIT klasis justru diobrak-abrik sebagai penghambat kebijakan sinode, dan nyaris ditiadakan sebagai badan gerejawi.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'>  Tidak ada Majelis Klasis, walaupun kemajelisan adalah prinsip eklesial kita yang sangat mendasar.  KPWK merupakan kehadiran sinode di wilayah klasis, bukan wakil jemaat-jemaat atau moderator badan pelayanan kl= asisBsekali lagi, suatu sifat Episkopal.&nb= sp; (Memang pernah ada masa kejayaan klasis-klasis dalam sejarah GMIT, t= api itu terutama melakat pada klasis-klasis yang berhubungan dengan sebuah “mission station” pada zaman zending, seperti Soe, Baa, dan Kal= abahi.)

 


4.  Majelis Sinode tidak berfungsi secara kemajelisan.  Pengambilan keputusan lebih banyak oleh masing-masing pejabat, yang duduk selaku uskop/pembantu uskop.  Seluruh= kuasa untuk pengangkatan, pemberhentian, penempatan dan mutasi pendeta disentrali= sir dalam tangan Majelis Sinodeinformasi yang bisa b= erguna kalau warga GMIT mau merenungkan dilema @

&n= bsp;

GMIT selalu menyebut diri sebagai gereja yang menganut sistem APresbiterial-Sinodal.@ (biasa hanya disebut

Sistem Presbiterial adalah sebuah bentuk pemerintahan gerejawi yang berdasarkan perwakilan, di mana para warga jemaat memilih sejumlah penatua = yang memerintah (ruling elders), yang bersama dengan para pendeta membent= uk sebuah konsistori (session) dan bertanggung jawab atas pemeliharaan pemerintahan rohani (spiritual governance) dalam jemaat.  Sebuah Klasis (Presbytery) terdiri dari semua pendeta dalam wilayah pelayanannya, bersama dengan sejum= lah penatua yang mewakili setiap jemaat dalam wilayah Klasis.  Klasis adalah fokus kewibawaan ger= ejawi (focus of authority), oleh karena ia memiliki hak hukum (jurisdic= tion) atas semua pendeta dan jemaat dalam wilayahnya.  Penempatan dan pemberhentian seora= ng pendeta berdasarkan kesepakatan bersama di antara jemaat, klasis, dan pende= ta yang bersangkutan.

 

Sinode adalah sebuah badan perwakilan yang terdiri dari wakil pendeta d= an penatua dari paling sedikit tiga Klasis, dan berkuasa atas Klasis-Klasis da= lam wilayah pelayanannya.  Badan tertinggi adalah Sidang Am (General Assembly), yang mengemban tugas supervisi atas semua jemaat dan keseluruhan pelayanan denominasi, seperti m= isi dan pendidikan.  Setiap Klasis mengutus wakil-wakilnya (baik pendeta maupun penatua).....Seorang pendeta adalah anggota Klasis, dan bukan anggota jemaat.

&n= bsp;

APresbyterianism,Agerejawi

D.  Dalam pelaksanaan pemerintahan ger= eja, hak suara hati bersifat mutlak.  Sebagai     te= mpat di mana manusia bertemu dengan Tuhan, suara hati masing-masing orang adalah suci seperti meja perjamuan.

 

5. Tentang prinsip kemajelisan :

A.  @&n= bsp; Demikian perkataan Calvin ketika dia mau menjelaskan mengapa keputusan-keputusan dalam gereja perlu diambil secara bersama, dan bukan ol= eh satu-dua orang.  Berdasarkan kecenderungan semua manusia pada dosa, kita harus bersama-sama untuk sal= ing mengoreksi.  Calvin secara khusus menekankan bahwa seorang pendeta tidak boleh memerintah dalam gereja terlepas dari perundingan dengan majelis jemaat.  Nampaknya dia mau menjaga supaya k= aum klerus jangan menjadi suatu kelompok kepentingan tersendiri.

 

B.  Alasan kedua untuk kemajelisan ada= lah supaya kita saling melengkapi. Tidak ada seorang pun yang tahu segala sesuatu tentang gereja dan pelayanannya.&n= bsp; Masing-masing dengan pengetahuan dan pemahaman yang terbatas bisa berunding bersama untuk mencari hikmat yang lebih lengkap.  Calvin bukanlah seorang demokrat sebenarnya; dia tidak mencari suara terbanyak melainkan suara ter= baik.  Dan ini dimungkinkan kalau sekelom= pok orang yang dipilih karena hikmat dan kedewasaan iman memegang pemerintahan gerejawi secara bersama. 

 

C.  Ketiga, kemajelisan diperlukan kar= ena itulah cara pemerintahan yang gerejawi.  Gereja adalah sebuah persekutuan, = dan aspek persekutuan ini perlu dipelihara dalam setiap aspek kehidupan gerejaw= i, termasuk kepemimpinan dan pemerintahan.&nb= sp; Calvin yakin bahwa prinsip ini yang sesuai dengan kebiasaan gereja mula-mula, di mana orang Kristen waktu itu mengambil yang terbaik dari dua sumber utama. Dari tradisi demokrasi Yunani, mereka mengambil kebiasaan unt= uk memungut suara secara merata dari masing-masing anggota secara setara.  Dari tradisi Yahudi, mereka mengam= bil kepenatuaan, di mana sejumlah orang terpercaya diberi tugas untuk berunding= bersama mencari hikmat bagi seluruh komunitas.&nbs= p; Dari kedua sumber itu, (demikian Calvin) lahir prinsip kemajelisan.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'>  Calvin sendiri mengembangkan pikir= an ini menjadi suatu sistem pemerintahan gerejawi yang sangat mirip dengan demokra= si perwakilan.  Malah, tata gereja Presbiterian menjadi sala= h satu model untuk merancang Konstitusi Amerika Serikat.

&n= bsp;

Prinsip-Prinsip yang dipaparkan di atas tidak dimaksudkan sebagai mal y= ang harus diikuti GMIT





 

 

&= nbsp;

 

&= nbsp;

 

------=_NextPart_01C68C9E.E9A42D10 Content-Location: file:///C:/D1396912/power_files/filelist.xml Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/xml; charset="utf-8" ------=_NextPart_01C68C9E.E9A42D10--