MIME-Version: 1.0 Content-Type: multipart/related; boundary="----=_NextPart_01C68C9F.6F27DD10" This document is a Single File Web Page, also known as a Web Archive file. If you are seeing this message, your browser or editor doesn't support Web Archive files. Please download a browser that supports Web Archive, such as Microsoft Internet Explorer. ------=_NextPart_01C68C9F.6F27DD10 Content-Location: file:///C:/6E48B08E/rituspertanian.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii" Sumber: www

Sumber:= www.oaseonline.org

&n= bsp;

 

John Campbell-= Nelson

 

 

Laporan Penelitian tentang Ritus-Ritus Siklus Pertanian

dalam Lingkungan Suku Atoni

Tim Peneliti MSH GMIT

 

        &= nbsp;   Laporan ini merupakan gabungan dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada t= ahun 1992-1993 di berbagai lokasi di bagian-bagian Pulau Timor yang didiami masyarakat Timor/Atoni.  Masing-masing tahap dalam siklus pertanian yang ditandai dengan kegi= atan rituil diuraikan satu per satu dengan mangacu pada laporan dari Mollo Utara sebagai hasil penelitian yang dinilai paling lengkap, sedangkan data dari wilayah-wilayah yang lain dicatat sebagai bahan perbandingan.  Disadari bahwa variasi yang terdap= at di berbagai wilayah dapat disebabkan oleh banyak faktor:  perbedaan antar marga, variasi dal= am keterbukaan para informan di m= asing-masing lokasi, dan variasi dalam ketelitian para peneliti sendiri.

 

Tahap-Tahap Utama dalam Siklus Pertanian

 

I. Perizinan.

 

        &= nbsp;   Mollo (F. H. Fobia)

 

        &= nbsp;   Segala sesuatu yang hendak dilaksanakan dalam wilayah, harus dengan restu dari penguasa wilayah (Uis-pah).  T= anpa persetujuan dari Uis-pah atau yang disebut Pah-tuaf, maka kegiatan tidak bo= leh dilaksanakan.

        &= nbsp;   Perizinan itu meliputi hal-hal seperti: pembukaan ladang baru, pemungutan madu, perburuan, pemungutan hasil dari tanaman umur panjang, penangkapan udang dan belut, pengambilan kayu  bangu= nan dan lain sebagainya.

        &= nbsp;   Untuk mendapatkan perizinan harus melalui Atoin-Amaf dengan bantuan fungsionaris = adat dalam pengelolaan alam yang disebut Ana'a Tobe. Ana'a Tobe ditunjuk oleh Pah-Tuaf hutan dari amaf-amaf yang ada. Kadangkala Pah-Tuaf membagikan wila= yah pengelolaan bagi Amaf-amaf, tetapi dapat juga ditunjuk beberapa di antaranya untuk melakukan tugas itu, sedang yang lain dianggap sebagai pengelola dalam istana Pah-Tuaf (Uis-Pah).

        &= nbsp;   Apabila suatu permohonan yang dilakukan oleh Ana'a Tobe sebagai fungsionaris tata-a= lam, telah mendapatkan persetujuan dari Pah-Tuaf, maka urusan selanjutnya menjadi tanggung jawab dari Ana'a Tobe.

 

        &= nbsp;   Amanuban Selatan (Y.Tahun)

 

        &= nbsp;   Segala sesuatu yang hendak dilaksanakan dalam daerah Oni/Kualin harus ada restu da= ri penguasa wilayah, yaitu Leosae. Yang berkaitan dengan perizinan yaitu pembu= kaan ladang baru, berburu binatang liar,  penebangan pohon untuk bahan bangunan, penangkapan udang dan belut. = Jika sudah ada izin barulah kegiatan itu dilaksanakan. Jika tidak ada izin dan kedapatan, misalnya berburu maka akan ditangkap dan diperhadapkan kepada us= if, kemudian dikenakan denda.

 

        &= nbsp;   Amanatun Selatan (Y.Tahun)

 

        &= nbsp;   Sebelum seb= idang tanah diolah, terlebih dahulu diamati kesuburan tanahnya, dan juga apakah a= man dari roh-roh. Pengamatan ini dilakukan oleh Mnane atau Ana'tobe.  Bila dipandang baik, maka kaum ker= abat diundang untuk mengerjakannya bersama-sama.

 

        &= nbsp;   Amanuban Tengah (O. Kause)

 

        &= nbsp;   Pada mulanya semua adalah hutan. Menurut pemahaman mereka bahwa hutan-hutan itu = ada yang menguasainya, yang biasa disebut dengan "Pah Tuaf" =3D tuan = tanah, yang menguasai. Apabila seseorang telah mempunyai rencana untuk membersihkan atau tofa sebidang tanah/hutan, maka terdahulu ia harus pergi minta persetu= juan Pah Tuaf melalui Mnane (dukun, orang pintar). Sebagai pengantara untuk pergi bertanya atau menawarkan keinginannya untuk membersihkan tanah/hutan itu ke= pada Pah Tuaf =3Dyang menguasai atau tuan tanah bahwa apakah hutan atau tanah itu boleh dibersihkan atau tidak.

 

Caranya Mnane harus mend= ekati Pah Tuaf adalah:

Mnane mempersiapkan jagu= ng botok/sain segenggam yang diisi dalam sebuah kalat (tempat kapur yang terbu= at dari bambu) lalu pergi ke tempat atau hutan yang dimaksud. Setibanya di sana, ia mempersia= pakan tempatnya (ia memilih satu tempat yang menurutnya tempat itu adalah tempat kediaman Pah Tuaf) lalu mnane itu mulai berkata:

 

Maneti ooo... (lalu dise= butkan nama      tempat= ) in tuan,

hai em hem tof

mes ho mutau

mes hai hem moe on me". 

 

Kami datang, hai (pemilik tempat),

Kami datang untuk membersihkan  &n= bsp;      rumput (gulma),

Tetapi engkau mempertahankannya.

Apa yang akan kami lakukan nanti?

 

      &nb= sp;     Setelah berkata demikian, sain atau jagung botok yang dibawa disimpan di atas tempat pertemuan itu (tempat mnane berdoa) lau membawa sedikit tanah dari tempat i= tu dan Mnane kembali ke rumah untuk mendengarkan jawaban dari Pah Tuaf. <= /o:p>

      &nb= sp;     Setelah malam, Mnane akan menempatkan tanah  (yang telah dibawanya dari tempat tadi) di bawah bantal lalu ia tidur untuk mendengar berita atau jawaban. Apabila Pah Tuaf setuju tetapi permintaannya terlalu berat (yaitu jikalau Pah Tuaf meminta jiwa manusia) m= aka mnane akan menolak permintaan dari Pah Tuaf.  Pada saat itu pastilah terjadi tawar-menawar dengan Pah Tuaf berupa binatang untuk dikorbankan sebagai gan= ti rugi. Apabila Pah Tuaf menyetujui tawaran dari mnane berupa binatang (sapi,kerbau, kuda, kambing, babi atau ayam) maka bulu binatang itu akan ditentukan oleh Pah Tuaf.

      &nb= sp;     Setelah permintaannya dipenuhi, maka diperbolehkan untuk membersihkan tanah atau hu= tan itu. Tetapi apabila tidak ada kesepakatan, antara mnane dan Pah Tuaf, maka tanah atau hutan dimaksud tidak boleh ditofa, atau dibersihkan. Sebab apabi= la dilanggar maka akan ada bencana terhadap orang yang membersihkan yaitu ia a= kan terkena penyakit Oet Pah atau Oet Neno (semacam penyakit perut yang tidak d= apat disembuhkan dan meminta korban jiwa).

 

II. Peninjauan Lokasi=

 

        &= nbsp;   Mollo (F. H. Fobia)

 

            = Suatu wilayah yang telah mendapatkan restu dari Pah tuaf untuk diolah, sebelum pelaksanaan teknis pembukaan sebagai obyek usaha, maka Ana'a Tobe berkewaji= ban untuk mengadakan peninjauan atas lokasi. Peninjaun  itu dimaksudkan untuk mengetahui k= ondisi hutan belukar, jenis-jenis pohon mana yang akan ditebang atau diambil takis= -takisnya.

            = Untuk memberi tanda pada pohon-pohon maka Ana'a Tobe dengan bantuan beberapa peta= ni menggantungkan dahan kayu mentah pada pohon-pohon yang terlarang untuk ditebang, ditetaknya pohon-pohon yang boleh dipotong dahan-dahannya. Pada umumnya pohon-pohon yang menjadi tempat hinggapnya lebah, kayu cendana dan = kayu bangunan, terlarang untuk ditebang. Di bawah naungan pohon-pohon itu, dibersihkan, agar tidak turut terbakar di saat pembakaran.

            = Pada saat peninjauan, diletakkan pula batas wilayah penebasan secara umum, maupun antar perorangan. Di tengah lokasi perladangan ditetapkan sebidang tanah sebagai pembagian untuk Pah-Tuaf, yang disebut sebagai "Etu". Mer= eka yang lokasinya mengelilingi Etu, disebut a poil-kolo (pelempar burung =3D pekerja/buruh). Ditetapkan pula jalur ilaran api (na siko ma na suep), dan pembuatan baki fua (altar persembahan) di Etu.

            = Batu-batu untuk pembangunan baki fua dipungut dari lokasi yang akan ditebas; tidak diperkenankan untuk dipungut dari luar. Menurut pandangan mereka, antara tanah,  batu dan pohon-pohon, mempunyai hubungan kesatuan. Dalam peristilahan bahasa adat, peninjauan lok= asi ini disebut: An fun ma an non, nono ma hau-ana in masnaun ma maslubun, a li= lo inabuan ma ina tupun, artinya mengelilingi dan mengitari, untuk mengetahui lebih lebat dan rimbunnya semak belukar, tumpukan dan urukan semak-semak.

 

        &= nbsp;   Amanuban Selatan (Y.Tahun)

 

            = Misalkan kita hendak memohon untuk membuka ladang baru maka Leosae (penguasa) akan p= ergi meninjau lokasinya dengan melaksanakan beberapa hal di lokasi yaitu:

- atnon, yaitu berjalan = mengelilingi lokasi yang direncanakan akan ditunjuk bagi pemohon.

- Sapi tsulat hau, yaitu= memberi tanda pada pohon-pohon pada batas lokasi yang ditunjuk .

- U'poni a'sok, yaitu menggantung ranting pohon tertentu pada pohon yang berada pada batas lokasi yang ditunjuk.

- Kembali dan memberi ta= hu kepada pemohon dengan kata-kata: "Sapi 'sulat ain ko hau ma ta'ipu 'be= la ain ko no'" (sudah ada tanda pada pohon dan gantungan daun dibeberapa pohon).

            = Pemohon akan segera pergi dan melihat batas-batas yang telah ditentukan oleh pengua= sa untuk mulai dibersihkan.

 

        &= nbsp;   Amarasi (Mes Dethan)

 

Tae Nasi (meninjau hutan= )

 

            = Jika seorang ingin membuat kebun, maka langkah awal dari kegiatannya adalah memi= nta kepada pemilik tanah "pah tuaf" untuk memberikan kepadanya sebida= ng tanah. Permintaan ini biasa dilakukan oleh sekelompok orang yang akan membu= ka kebun. Jika pah tuaf mengijinkan, maka ia akan pergi bersama-sama dengan me= reka untuk meninjau lokasi yang akan dibagikan kepada mereka. Jika yang meminta berjumlah 40 orang, istilah untuk mereka adalah "benas boha'" (em= pat puluh parang). Dalam peninjauan itu, pah tuaf akan menunjuk lokasi untuk masing-masing orang dan dengan penunjukan itu, maka tempat itu syah menjadi milik mereka.

 

 

        &= nbsp;   TTU (Pdt L. Baun).

 

 

Pemberitahuan (etus ma tonas).

- Afu ma naijan, hai mifek nono ma hau ana. Pah ma nifu, Uisneno amoet = ma apakaet naika' tataunok ma naika' nane'na neu ha ta'fek nono hau ana (tanah= dan bumi, kami hendak memutuskan semak/belukar. Bumi dan danau, Tuhan pencipta janganlah mempertahankan, janganlah keberatan untuk putuskan belukar.<= /o:p>

 

Natonin (berisi permohonan)

 

-Auf Le'u ma naija leu, nati naika na papaputu, naika na'lalam. Faot leu hau leu, nati naika naska'ke'ken ma naika na'pa'pe'pin. <= /p>

Natoni dilakukan dalam keadaan duduk. Sementara natoni dilakukan, kambi= ng putih dibantai dan acara natoni dilanjutkan sebagai berikut:

Hai ena ma hai ama, hai tua ma hai nasi hai amoet apakaet fun fatu ma naijan, Ama Uisneno ho ini. Ama Uisneno nati naika' muta'tau fatu ma haub, = afu ma naijan he' hai moe' neu lele. Natoni ini diucapkan oleh 8 bersaudara den= gan cara menegadah ke atas panggung (para-para). Mone naek (si sulung) mengangk= at bulu kambing yang dibantai sementara 7 bersaudara lainnya mengangkat tangan= ke atas dan si sulung mengucapkan doa:

Apinat ma aklahat, ahoit ma alalat. Hai hem oet le'haub i, nati naika na'ta'taunon ma naika na'nanena. Ma Uisneno naika muska'kek, ma naika mupap= ib. Kalu Uisneno ho mlomi he hai mepu nok malilat, maut he muit le'i in taif ma= in atef naika natna'nia' ma nat op.

Setelah natoni (doa) 2 ekor hewan dibantai. Darah hewan-hewan itu diteteskan di atas batu plat di atas para-para (haklelo). Sesudah itu diada= kan pemeriksaan hati hewan. Jika hati hewan baik (penuh) berarti tanah dan batu setuju untuk diolah.

 

III. Men= gasah Parang

 

   &nb= sp;        Amarasi: (Mes Dethan)

 

Aik benas (mengasah parang)

 

      &nb= sp;     Sebelum mulai menebang hutan, semua alat-alat yang akan dipakai harus diasah. Pada waktu itu pemilik kebun bersama anggota keluarganya mendoakan alat-alat ini agar nanti ketika dipakai dapat membawa hasil yang banyak. Doa ini tidak memakai hewan. Lokasinya di rumah.

 

IV. Pemb= ukaan Ladang

 

   &nb= sp;        Mollo:  (F. Fobia)

 

      &nb= sp;     Setelah selesai peninjauan, maka dilaksanakan acara ritual di baki-fua, di tengah lokasi penebasan. Untuk pembukaan ladang pada hutan yang belum pernah dibuk= a, hewan korban haruslah hewan besar, kecuali untuk bekas kebun, cukuplah deng= an hewan kecil.

      &nb= sp;     Untuk melakukan upacara ritual, maka semua alat persembahan harus dipersiapkan be= rupa tuplili (nyiru), aen fomeni (beras wangi), alat penatang suara berupa muti, gelang perak dan benda berharga lainnya. Benda penatang suara diletakan di = atas batu  persembahan, bersama dau= n siri wangi (maun-mina) pinang perekat (pua lines). Kemudian sejemput bulu kerbau yang dicabut dari bahagian atas lengannya diletakan di tengah muti. Beras w= angi dibagikan kepada semua tetua, masing-masing sejemput.

      &nb= sp;     Ana'a Tobe mengungkap doa, sambil menghidangkan sajiannya dengan cara menaruh di = atas batu altar persembahan, membuang ke atas dan ke samping. Sementara itu, para orang tua ikut membolak balik beras di tangannya, serta ikut menyambung doa yang diungkap, seperti orang melakukan&nbs= p; tonis. Perlu ditambahkan bahwa di atas altar, diletakan semua alat pertanian.

      &nb= sp;     Adapun doa (a'at) untuk penebasan hutan belukar (na fek nono hau-ana) menurut ungk= apan Lazarus Tapatab adalah sebagai berikut:

 

 

Manamnes neit au baba Nai Tafoen

Hom Te Uisneno in human ma in matan

 

ona lelu uisneno es ho, = a hake

Uisneno es ho,

 

Ho es mufinib kum, ho es mokonob kum

 

Neu fufu in manis in, a pe'an ma alikin,  

 

Amo'et a pakaet, Uisneno= -mnanuf,

 

Am mnaifat ma a fafat, Uisneon-pala,

 

Noka naika nen-kai nok benas

ina polon

Naika nen-kai nok fani ina polon &= nbsp;        

 

Benas papan kaisa ma putu ma malal

 

Fani papan kaisa ma putu ma malal

 

ala mainikin ma oetene

He nati nok-noka ma neon-mabe

Ho nino ho tea, ho teko = ho tenno        &= nbsp;

Ho tob ma ho tafa

Na pein mainikin ma oetene, tetus

ma amniit

Terimalah sajian, kakekku Nai Tafoen, Engkau telah berada di hadapan da= n di depan Tuhan

sebagai pesuruh Tuhan adalah Engkau, sebagai pengawal Tuhan adalah Engk= au

 

Engkau yang meneruskan, engkau yang melanjutkan

Kepada leluhur dan tetua, penurun dan

penyebar

Pereka dan pencipta, Tuh= an yang tertinggi

Penatang dan pemangku, bumi yang terdekat,

Besok jangan dengarkan kami  dengan bunyi panan

Jangan dengar kami dengan bunyi kapak,

Bekas tatakan parang takkan hangat dan panas

Bekas tetakan kapak takkan hangat dan panas

Hanya yang dingin dan  sej= uk,

Agar di pagi dan petang

Anak-cucu, cici-cece

Rakyat dan pengiringmu

Menemukan kesejukan dan kesegaran,

kekuatan dan ketahanan

 

 

 

Au baba, kalu mu finib ma mu konob

 

Neu Uisneno-pala Uisneno mnanuf

 

Kalu an sium kau ma na taim kau

Nati na klile kau anbi aet-ana

ate naek.

Kakekku, kalau engkau meneruskan dan melanjutkan

Kepada Tuhan bumi dan Tu= han yang

tertinggi,

Kalau menerima dan menya= mbut saya,

Kiranya menunjukan kepad= aku di dalam hati yang kecil dan  hat= i yang besar.

 

 

            = Sebagai analisa singkat mengenai ungkapan doa (a'at) di atas, bahwa pada saat mengu= tip doa ini, kondisi pengungkap berada dalam keragu-raguan, karena hal yang demikian, sudah dilakukan sekian lama dan ada kekuatiran karena dia sudah berada dalam suasana kehidupan beragama Kristen. Oleh karena itu ungkapan doanya kedengarannya kurang lancar dan masih harus mengingat bagaimana rumu= san kata-katanya karena secara tiba-tiba diminta untuk mengungkapkannya.

            = Di dalam ungkapan doa, selalu didahulukan atau yang disapa terdahulu adalah ar= wah leluhurnya, kemudian barulah Uisneno-mnanuf (Tuhan tertinggi) dan kemudian barulah Uisneon-pala (Tuhan terdekat) yaitu bumi. Arwah para leluhur dipand= ang sebagai penyambung lidah dan penyalur doa kepada yang tertinggi dan terdeka= t.

            = Suatu ungkapan yang kedengaran kontradiktif yakni: Jangan dengarkan kami dengan bunyinya parang, bunyinya kapak, jangan dengarkan kami dengan tetakan parang dan tetakan kapak.  Letak kontradiksinya yaitu bekas tatakan  parang dan kapak tidak akan hangat= dan memanas, hanya dingin dan sejuk. Seharusnya rumusan kata-kata, jangan denga= rkan kami, berbunyi jangan biarkan kami, agar sejalan dengan maksud kalimat di bawah, yakni Bekas tetakan parang dan kapak tidak hangat dan memanas.<= /o:p>

      &nb= sp;     Setelah ungkapan doa di atas, maka hewan dibunuh dan darahnya diteteskan beberapa t= etes ke atas batu persembahan dan hati diperiksa. Pemeriksaan hati hewan besar pada bagian-bagian yang disebut: Hala, kuan snasan, o'of, nete, eno d= an nape. Apabila  terdapat cacat = atau nokta, maka diadakan tenungan dengan menggunakan tombak, oleh dua atau tiga orang. Kalau hasil tenungan mereka sama dalam arti tidak membawa dukungan, = maka mereka membunuh ayam untuk memeriksa hatinya, darahnya diteteskan di atas b= atu. Pembunuhan ayam bermaksud menutupi jalan buntu yang dialami dalam pemeriksa= an hati hewan besar maupun dengan tenungan bertombak.

            = Apabila kerbau yang dibunuh, karena satu dan lain hal, mati dibunuh pada tempat yang jauh dari lokasi, maka kulit dari kaki, lengan sampai punggungnya dipotong = (an pu) bersama kepalanya diputuskan dan dibawa ke altar persembahan. Di atas a= ltar seorang dengan parangnya menikam kerbau itu, seakan-akan baru saja dibunuh = di altar, dengan teriak seperti kerbau berteriak sewaktu dibunuh (eeeeeh).

            = Sesudah itu kepala kerbau dan kulit serta ekornya ditinggalkan di atas altar atau digantung di atas pohon, jadi dagingnya tidak dimakan oleh manusia. Yang di= simpan di atas altar termasuk jantung, paru-paru dan kerongkongan hewan, yang dise= but nonon. Daging selebihnya dimasak, dibakar dan diiris-iris, dicampur dengan = nasi dan disediakan dalam nyiru lalu dimakan bersama. Daging yang tersisa dibagi-bagi di antara mereka, sedang pemilik hanya membawa daging tulang ka= lau masih ada.

            = Setelah makan bersama, maka diumumkan oleh Ana'a Tobe untuk besok harinya pekerjaan dimulai. Pelaksanaan pekerjaan bersifat gotong royong. Tidak diperkenankan untuk masing-masing orang melakukan acara doa sendiri-sendiri dalam hal pembukaan kebun baru.

            = Apabila terjadi bahwa ada pihak yang bertindak membuka ladang baru sendiri tanpa melalui Ana'a Tobe dan Pah-Tuaf, maka pelaku dikenakan denda yang disebut Nasaeb nafani nono hau ana. Artinya memulihkan kembali pertumbuhan tali dan pohon-pohon kecil yang ditebas. Denda pemulihan kembali berupa hewan (kerbau atau babi) yang besar. Pengenaan san= ksi kepada pelaku atau pelanggar, dalam bahasa Meto disebut Na fek nono ma hau = ana, atau dalam bahasa sehari-hari disebut oel fe'u.

      &nb= sp;     Penebasan hutan belukar biasanya dilakukan secara gotong royong. Dalam penebasan mere= ka saling mengingatkan, untuk mengingat pohon-pohon yang diberi tanda pada saat peninjauan, baik yang dipangkas dahannya, maupun yang tidak diperkenankan u= ntuk diapa-apakan. Yang tidak boleh diapa-apakan, hanya dibersihkan bagian bawah= nya dengan cara membuat tumpukan-tumpukan semak yang disebut na'nunu. Pembersihan  semak-semak itu d= alam bahasa Meto dikatakan na siko atau na suep.

            = Apabila dalam pelaksanaan penebasan, ada petani yang sakit secara mendadak, mereka berkumpul dan mencari sebab musabab kesekitarnya, yang disebut naho'e atau = na keti, karena mungkin ada hal-hal yang dibuat oleh penderita yang tidak disenangi oleh leluhur (arwah leluhur).

            = Apabila sudah terungkap masalahnya, maka pasti penderita akan sembuh secara langsun= g. Apabila belum ditemukan sebab-musababnya, maka akan  dilakukan tenungan dengan tombak (= ote nau haub). Ote naus secara h= arafiah berarti memotong laus (kaktus). Duri laus, kalau menikam kaki, sangat sakit. Penderitaan suatu penyakit diibaratkan seperti duri laus menikam diri. Karena itu pohon lausnya harus ditebas (ote).

      &nb= sp;     Apabila ada yang cidera karena parang atau kapak sewaktu memotong/ menebas mereka berkumpul dan mengadakan tenungan pula, untuk mencari tahu mengapa ia cider= a. Pada saat cidera, maka pekerjaan secara keseluruhan untuk sementara waktu dihentikan, untuk mendapatkan petunjuk dari petenung tentang peristiwa itu.= Cidera karena potong parang atau kapak, dalam bahasa Meto disebut: "Benas pap= an anmaputu ma malal, fani papan an mamputu ma malal", artinya bekas tata= kan parang menghangat dan memanas, bekas tetakan kapak menghangat dan memanas. = Kalau tidak dikatakan haub na nehe ma na hapit, artinya kayu menekan dan mengapit= .

      &nb= sp;     Selama penebasan, maka memangkas kayu-kayu yang akan digunakan sebagai pagar dan disisihkan keluar untuk  tidak terbakar, pada saat pembakaran ladang. Disamping itu, dibuatkan pula ilaran= api seluas 10 m, agar dalam pembakaran api tidak akan merambat keluar lokasi dan membakar semak belukar di luarnya, yang disebut na siko ma na suep. Pembuat= an pagar sementara (na lo'i ma na nepo), dimaksudkan agar hewan (kerbau, sapi rusa) tidak akan memakan daun-daun hasil tebasan. Biasanya susudah penebasan mereka secara bergantian menjaganya pada malam hari. Penjemuran hasil tebas= an berlangsung selama sebulan atau lebih, yang disebut "an hoina pait&quo= t;.

 

   &nb= sp;        Amanuban Selatan (Y.Tahun)

 

      &nb= sp;     Ladang itu dibersihkan kemudian dikeringkan untuk nantinya dibakar. Setelah dibakar semua pohon yang telah dibersihkan maka pemohon kembali ke penguasa dengan membawa: muti 1 buah, uang perak 1 tali, hewan 1 ekor dan makanan 1 periuk.= Bawaan ini biasa disebut "nono silin, hau silin". Setelah diserahkan maka penguasa dalam hal ini Ana amnes akan berdoa untuk paha ma nifu (tanah air), nono atfekan (pemutusan tali hutan) ma hau atfekan (penebangan kayu). Tetapi jika kebun sendiri dari Ana amnes maka doa setelah pembersihan dan pembakar= an kebun baru sebagai berikut:

 

Neu au nai ma au bei anbi pah i ma

      &nb= sp;     nifu I,

Neno i au he ufek nono in tunan ma hau =             in tunan

Maut nai he 'poni ma 'hanik

Henati kalu noka' ma nmeu an 'senan &nb= sp;   ma 'bebein nbi afa-balu in nifu

Naiti kaisa' anpunu ma namleu mes nati =             n= amlia ma naspet kun.

 

Teruntuk leluhurku di tanah air ini

 

Hari ini kuputuskan ranting-tunas pohon            dan tali hutan

Biarlah kusiram dan mendinginkannya

Agar besok dan lusa kutanam di  &n= bsp;            = ;         tempatnya

Kiranya tidak membusuk melainkan  =     subur dan mengekar.

 

      &nb= sp;     Setelah berdoa maka 1 buah kelapa muda akan dilubangi kemudian dicampur darah seekor hewan yang  kemudian dipercik = di dalam kebun bahkan mengelilingi kebun.

      &nb= sp;     Kelapa itu kemudian dipajang di tempat yang disebut "bak-bak" (sebatang pohon ditengah kebun yang ditanam terbalik dengan akar di atas dan dipagari keliling bentuk lingkaran kecil, dengan garis tengah + 3 meter).=

 

   &nb= sp;        Amanuban Tengah (Olif Kause)

 

      &nb= sp;     Kerja inti (tafeek nono hau ana)

 

      &nb= sp;     Setelah ada kesepakatan antara Mnane dengan Pah Tuaf, maka mulailah menentukan hari untuk membersihkan tanah atau hutan dimaksud. Apabila orang yang akan membersihkan tanah itu adalah orang yang berada, maka ia akan mengundang sanak saudaranya atau tetangga-tetangganya untuk membantu membersihkannya. Tetapi kalau tidak, maka ia yang sendiri mengerjakannya.

 

Caranya:

Semua yang diundang bertemu atau bersama suami/istri pergi ke tempat itu (lokasi). Setibanya di lokasi, Mnane akan pergi memberitahukan Pah Tuaf bah= wa kegiatan feek nono hau ana' akan segera berlangsung. Untuk itu meminta kesehatan, kemampuan, untuk membersihkan kebun. Setelah itu mulailah bekerj= a. Ibu-ibu sibuk memasak, sedangkan bapak-bapak bekerja. Pohon-pohon yang besar tidak dipotong, tetapi dipangkas. Bagian pucuknya tidak boleh dipangkas, tetapi dibiarkan untuk dikenal dan proses pengembangan pohon-pohon (untuk proses pembibitan) untuk tahun berikutnya atau tanah/hutan dimaksud sudah  tidak diolah lagi, dengan demikian= tidak ada proses pemusnahan secara bertahap. Setelah semua duduk makan bersama-sa= ma selanjutnya bubar dan menunggu proses pengeringan.

 

   &nb= sp;        Amarasi (Mes Dethan)

 

Nabol Nasi

 

            = Sesudah alat-alat pertanian didoakan,maka kebun sudah dapat ditebas.

            = Sebelum ditebas ada doa yang diucapkan oleh kepala keluarga sbb:

 

Nen kau mutnin kau au nitu au neno

Neno ija au ait benas au hane he uknino            uk me'u

Au nasi au pu'at mesem titu mam pao

Amsapal mani mam titel main

Bensa in aikan in afan

Silake in na' amle'ut at= sanan

Henati' a mepum unef ok = em mamfin     nok mamum lek-lekom, aomina.

 

Dengarlah, leluhurku dan langitku

Hari ini aku mengambil parang untuk &nb= sp;   membersihkan

Hutanku, rumput di daerahku

Tetapi jaga dan lindungiku

Tolak dan singkirkan isinya yang tajam

Cara pegangan yang keliru dan salah

Supaya dapat saya kerja dengan sadar <= /span>dan baik.

 

Sesudah doa diucapkan, maka acara penebangan sudah dapat dimulai.<= /o:p>

Pohon-pohon besar ditebang dan dibuat pagar, sedangkan kayu-kayu kecil ditaruh di tengah kebun dan dibakar.

 

   &nb= sp;        Amanuban (Eben Nubantimo)

 

Persiapan Lahan/Kebun

 

Orang Timor beranggapan bahwa tempat adalah hutan dan karena itu sebelum membuat kebun mesti buat upacara untuk menentukan lahan/kebun, tempat pertanian. Yang menentukan adalah orang yang hendak mengerjakan kebun dan P= ah Tuaf.  Mulanya orang yang ingin membuat kebun bersama Pah tuaf bertemu dan meninjau lokasi yang diinginkan untuk membuat ritus. Acara peninjauan disebut Non pah. Pada waktu meninjau, mereka membawa parang dan mengelilingi, mereka buat segi empat di tiap sudu= t. Pah tuaf akan memotong akar pohon dan kulit pohon (saib hau' po'an dan ote' nono'/tafek nono'). Sesudah itu mereka pulang dan besoknya mereka kembali d= an pohon itu seolah-olah tidak pernah terpotong, itu pertanda bahwa harus pind= ah karena tidak direstui. Tetapi jika mereka datang dan keadaan seperti kemari= n, maka orang itu sudah bisa mulai mengerjakan kebun. Ia sudah bisa mengundang para tetangga untuk membersihkan kebun. Waktu untuk itu tidak ditentukan (sesuai kehendak pemilik kebun). Di Boti, mulanya mereka harus memot= ong ranting-ranting kemudian, baru pohon-pohon besar. Semua pohon dipotong, kec= uali pohon asam dan beringin. Asam tidak dipotong karena punya nilai ekonomis, sedang beringin memang sudah dilarang sejak dulu sesudah potong, kayu-kayu dibiarkan kering. Kayu-kayu yang besar dibawa ke pinggir kebun untuk dibuat pagar. Ranting-ranting dibakar dan kemudian dibuat ritus Naton Uispah.

 

        &= nbsp;   Mollo (Rut Nokas)

 

 

Persiapan ladang (beluka= r).

Diawali dengan musyawara= h dengan penggarap tanah dan Pah Tuaf (tuan tanah) tentang tanah yang akan digarap. = Jika sudah ada kesepakatan, barulah mereka pergi ke lokasi untuk melihat dan mengerjakan. Jika belukar itu belum pernah digarap sejak nenek moyang, maka diawali dengan satu kegiatan yaitu; nafek molok atau kegiatan pemutusan den= gan dewa-dewa atau berhala.

Bahan-bahan yang dibutuh= kan, yaitu uang perak, sopi, seekor babi atau ayam berwarna merah. Bahan-bahan i= ni disiapkan oleh penggarap tanah dan diserahkan kepada Pah Tuaf untuk melakuk= an upacara. Babi atau ayam yang disiapkan,dibunuh dan darahnya diteteskan pada tanah yang akan dibersihkan. Itu dilakukan oleh tuan tanah dengan ucapan kata-kata tertentu yang dirahasiaka= n.

Setelah tanah dibersihkan dilakukan suatu kegiatan yaitu seleksi bibit.= Bibit diambil secara khusus dari (pena'nakan),kemudian dibawa ke rumah berhala (l= opo ninmese').

Persiapan lain:

-air dalam sebuah buli-b= uli kecil (faen boko)

-sehelai daun botok

Tuan tanah mencelupkan d= aun botok ke dalam buli-buli dan memercikkan pada jagung yang akan ditanam. Kegiatan ini dilakukan dengan ucapan-ucapan tertentu yang juga dirahasiakan oleh Pah Tuaf.

 

V. Pembakaran

 

        &= nbsp;   Mollo: F. Fobia

 

Notu Pait

            = Apabila mereka melihat, bahwa kulit-kulit pohon yang ditebang telah mengelupas, mer= eka memberitahu kepada Ana'a Tobe untuk diadakan pembakaran. Pembakaran dilakuk= an secara gotong royong, pada malam hari, agar bunga api yang berterbangan dap= at dikontrol. Mereka menyediakan air juga, untuk menyiram  apabila terjadi perambatan api kel= uar lokasi penebasan.

            = Pengawasan dan pengamanan terhadap pohon-pohon tertentu seperti cendana, pohon lebah, pohon kayu merah dan lain-lain dilakukan dengan membungkus batang-batangnya dengan pelepah pisang atau pelepah pinang. Pembakaran dekat pohon-pohon itu dilakukan dengan cara membuatkan tumpukan kecil yang disebut 'na' nunu. Dal= am pembakaran bila ada bahagian-bahagian yang tidak terbakar, maka para petani= mencari batang-batang kayu kering, lalu ditumpukkan di tempat itu dan dibakar yang disebut an kon atau na kono.

 

        &= nbsp;   TTU (L.Baun dan G. Mok= a)

 

Ritus bakar kebun baru (Notu pait/lele feu).

 

Acara sebagai berikut:

-Perlengkapan berupa satu ayam putih.

-Ayam tersebut didoakan (natoni) dilakukan oleh si sulung sambil bulu a= yam dicabut. Ayam diangkat ke atas oleh seorang saudara.

Formulasi doa (natoni) sebagai berikut:

Laes nan netjen au ama ma au tuak. Muhake ma mubeta neu Ama Uisneno ampaokai ai kolo ai manu he naika anpaoi neu a'paite in koten ai lele in ko= tin. So anput nabala lele in nanan ma a'paite nanan.

Janji:

kalu teb-tebes ai kolo ai manu of anput anabala lele nana ai a'paite in nanan of maun pani manu kaneos lof in taif ma in atef ka nat op ai kanatnia= .

Ayam tersebut disembelih dan hatinya diperiksa. Jika hati ayam itu penuh berarti Uisneno (Tuhan) menghendakki dan Pah (bumi) pun setuju sehingga api tidak akan merambat keluar. Itu berarti Tuhan dan bumi kabulkan permohonan mereka.

 

Waktu:

Waktu untuk bakar kebun baru (lele ai pait feu) disesuaikan pada bintang fajar yang disebut Nua-Ha' (dua-empat).

 

   &nb= sp;        Amanuban Tengah (Olif Kause)

 

 

Pembakaran (notu)

 

            = Apabila kayu-kayu yang telah dipotong tadi sudah kering, maka ditentukan satu hari untuk pembakaran, yaitu pembersihan kayu-kayu kering dan daun-daun kering y= ang bertebaran di dalam kebun sekaligus dengan proses pemupukan. Alat-alat yang digunakan untuk proses pembakaran ini berupa:

 

-Naun no' :  daun sukun

-Hu meto'    : rumput kering

-Ao mama'    : kapur sirih

-Noa no'   : daun kelapa (tidak harus)<= /p>

 

Caranya:

Ketiga alat di atas, dic= ampur jadi satu dan disimpan di bagian kepala/atas kebun, berlawanan dengan arah angin. Sedangkan sebagiannya dicampur dengan daun kelapa kering (tidak haru= s) yang digunakan sebagai alat umpan untuk membakar dari satu tempat ke tempat lain. Pada saat api sudah menyala, mereka berteriak: "MOLO MEUK MAN&qu= ot; (kuning makan buang). Maksudnya supaya memberi semangat kepada api (yang berwarna kuning) disertai dengan omaku, siulan dengan maksud mengumpan api = agar bertiup dengan kencang sehingga api tidak mati/padam, tetapi terus menyala menghabiskan kayu-kayu dan daun-daun yang bertebaran. Setelah itu semuanya telah siap untuk ditanam.

 

VI. Pendinginan

 

        &= nbsp;   Mollo  (F. Fobia)

 

Hainik Punu Atu

            = Pembakaran cabang dahan kayu menimbulkan panas. Karena itu semua harus didinginkan dari kehangatan dan kepanasan yang ada, termasuk pula parang, kapak, batu pengas= ah parang dan kapak. Sehabis pembakaran, maka masing-massing petani memungut sepuntung kayu, mengambil debu/jelaga sisa pembakaran, bersama-sama dengan parang kapak dan batu-batu asahnya, diletakkan di atas altar persembahan un= tuk didinginkan oleh Ana'a Tobe.

            = Untuk pendinginan dilakukan acara ritual persembahan di atas baki fua (altar persembahan), dengan pengorbanan hewan berupa ayam. Tata cara pelaksanaan d= oa dan persembahan, sama dengan yang telah dikemukakan, yaitu menggunakan bera= s, mencucurkan darah ayam dan memeriksa hati dan usus ayam (an tae lilo ma tak= af).

            = Setelah melakukan persembahan, maka dilakukan pendinginan terhadap puntung kayu dan debu/arangnya, semua peralatan, dengan cara memerciknya dengan air pendingi= n. Pendinginan itu dengan menggunakan dahan kayu trengguli (nikis), dahan kanu= nak (nunba'i), atau dahan pohon kapas (abas). Sebagai bahan untuk pendingin  terdiri dari air, mamahan sirih, p= inang, kapur bersama kulit pohon hainikit dan kulit pohon safe, yang semuanya dica= mpur dan diisi dalam aur (tuke).

 

        &= nbsp;   Amarasi (Mes Dethan)

Hainik Tuklua (mendingin= kan kayu-kayu)

 

            = Sebelum upacara tanam, maka kayu-kayu yang sudah dibakar perlu didinginkan agar tan= aman yang ditanam tumbuh subur. Bahan-bahan yang dipersiapkan untuk acara ini adalah; seekor anak ayam, kelapa muda 1 buah, dan tunas panelo' paneol tuna'.  Pemilik kebun bersama keluarga menuju lokasi dan sesudah tiba di sana, semua bahan-bahan tadi di taruh di tengah kebun, kemudian kepala keluarga menyembelih ayam dan darahnya dicamp= ur dengan air kelapa muda, dan paneol tuna' kemudian dipercik ke seluruh kebun= (di atas tunggul-tunggul kayu).

 

        &= nbsp;   TTU (L. Baun dan G. Mo= ka)

 

 

Acara pendinginan dilakukan untuk batu kayu dan tanah yang panas akibat dibakar kebun baru itu. Acara dilakukan dengan persiapan 1 ekor hewan (babi atau kambing).

Natoni: oleh si sulung:

 

Hai ama hai tua hi es Uisneno In human =             ma in matan.

Ama Uisneno amoet ma apakaet

Au baisenu ma lonane

Henati fatu leu ma hau leu,

Auf leu naija leu an manik nai ma an &n= bsp;    oeten nai.

 

Leluhur kami, yaitu yang berada di depan          Tuhan Langit,

Bapa Tuhan Langit Pencipta

Kami menengada dan menyapa

Agar batu keramat dan pohon keramat

Debu keramat, tanah keramat

Menjadi dingin dan menyejukkan.

 

Acara ini disebut: Hai niki punu ma atu ai siuf punu atu

 

VII. Pem= agaran

&nb= sp;

   &nb= sp;        Mollo (F. Fobia)

 

An Bah/Bahan

 

      &nb= sp;     Menurut keterangan para responden, bahwa pemagaran ladang pada masa dulu tidak dilakukan seperti sekarang, di mana banyak memakan kayu. Ladang yang telah dibakar, apabila hujan tercurah, langsung ditanami.  Mereka hanya mengambil dahan-dahan mentah seperti pohon trengguli (nikis), daun palam (petah), lalu digantungk= an sekeliling batas ladang. Semua binatang perusak (hama) yang disebut "Moa"  tidak akan melintasi gantungan dahan-dahan itu, untuk memakan tanaman di ladang.<= /o:p>

      &nb= sp;     Secara ritual para petani melakukan suatu perjanjian damai dengan semua binatang h= utan untuk tidak merusak tanamannya di ladang. Antara binatang-binatang itupun didamaikan untuk tidak saling menyerang, bahkan mereka harus mencari makana= nnya di hutan dalam suasana aman dan damai. Dalam bahasa Meto, perdamaian antara manusia dengan semua binatang dan antara binatang-binatang itu sendiri dise= but "hal pah, atau an halan lasi ma an hilin lasi, ka na bei an malau es n= ok es, ka na bei an ma beu es nok es".

      &nb= sp;     Bagaimana acara ritual perdamaian itu dilakukan, akan diuraikan dalam bahagian beriku= t, tentang menanam (an sen ma an lue).

 

 

   &nb= sp;        Amanuban Selatan (Y. Tahun)

 

Pemagaran (atbah/bahan)

 

Sebelum pemagaran kebun baru, maka ada ungkapan bagi hewan-hewan liar:<= o:p>

 

      &nb= sp;     Kalu ho m-oban kum bubfua ma    &= nbsp;      boen fua

      &nb= sp;     Amnono nine' ma mnao nine

      &nb= sp;     Kaisa' amtaman an lene ma     =   smea'

      &nb= sp;     Natuin an kifun ulail an fini an    kulu an afa' au balu

      &nb= sp;     Natuin ho ma pah ma nifu ko'

 

class=3DSection2>

Jika engkau mencari buah ara dan  =        gewang

Mengitari dan melewati tepi kebun

Janganlah memasuki kebun dan  &nbs= p;          ladangku

Sebab kutelah menabur dan menanam  = ; semua bibit yang telah kusiapkan

Sebab engkau mempunyai tanah dan air &n= bsp;          juga=

 

class=3DSection3>

 

Setelah mengungkapkan demikian, maka walaupun pagar yang dikerjakan sed= ikit demi sedikit, maka kebun itu tidak akan dirusakkan oleh hewan liar.

Nanti pada saat penanaman di kebun tersebut akan ada pembagian/jatah ba= gi hewan-hewan liar seperti burung gagak, kakatua, nuri, tikus, kera, babu hut= an dengan kata-kata:

 

      &nb= sp;     Kaisa' am tam om

      &nb= sp;     he mpoe au ini

      &nb= sp;     natuin au bait ulail ki

      &nb= sp;     kaisa misik

      &nb= sp;     ma matanhai es nok es

      &nb= sp;     es-esam mait ns'ko ini

 

Jangan engkau memasuki kebun ini

Supaya menyentuh kepunyaanku

Sebab saya telah membagi untuk kalian

Jangan saling merampas

Serta saling melangkahi satu dengan &nb= sp;    yang lain

Karena setiap makluk mempunyai  &n= bsp;      bagiannya

 

Ini adalah janji dan nasihat kepada hewan-hewan liar sehingga sampai saatnya mereka tidak saling merampas.

 

VIII. Seleksi Bibit

 

        &= nbsp;   Mollo (F. Fobia)

 

Nain-fini

 

            = Seleksi (pemilihan) bibit untuk ditanam setelah hujan atau menjelang curahnya hujan, merupakan suatu tahap tersendiri dalam rangkaian kegiatan siklus pertanian.= Kendatipun kegiatan ini kecil arti= nya, namun dari segi adat memiliki arti dan nilai tersendiri.

      &nb= sp;     Dalam acara ritual untuk penanaman, selalu disebut, bahwa bibit yang ditanamkan adalah bibit yang berasal dari Lilai dan Sonbai. Oleh karena itu, para Usif yang disebut sebagai Uis-pah dan Pah-tuaf, mereka adalah wakil-wakil dari L= ilai dan Sonbai, untuk menerima dan membagikan bibit kepada rakyat, yang dikiask= an sebagai kolo-manu, asu-fafi, kusi-pika, tob-tafa.

      &nb= sp;     Atas dasar itu, menjelang saat menanam, maka Ana'a Tobe, harus menerima bibit da= ri Usif atau Pah-Tuaf untuk dibagikan kepada semua petani. Bibit yang dibagikan sifatnya simbolis belaka. Bibit itu terdiri dari beberapa jenis tanaman. Pe= nyerahan bibit itu, disertai dengan suatu pesanan dari Pah-tuaf yang isinya sebagai berikut:

 

Sium fini i ma bo'af I, =

on fini ma bo'af Lilai ma Sonba'i,

pah Mutis-Babnai in afan in balun,

fua neka namfau ma ka na'nae,

poh meki ma na'meki,

bo ma am bati neo kolo-manu asu-fafi,

sen ma an bebin neu in po'an ma in lele;

Mes mum nau ma am panat;

Nok an meo, kalu te intabu in leku,

anfe in nesan ma in fuan,

meiku in fuan ma in nesan neis na'ko le'i.

 

Terimalah bibit dan benih ini,

Sebagai bibit dan benih Lilai dan Sonbai

Dari Mutis dan Babnai

Jumlahnya sangat sedikit dan terbatas

genggam dan peganglah,

bagikanlah kepada rakyat dan pengikut, tanamkan di dalam kintal dan lad= ang; tetapi ingatlah dan waspadalah: 

Besok dan lusa kalau telah tiba saat waktunya,

memberi isi buahnya, bawakanlah bagiku isi dan buahnya lebih dari pada = ini.

 

      &nb= sp;     Bibit yang diterima dari Usif/Pah-tuaf, dibagikan kepada para petani, masing-masi= ng sejemput, disimpan baik dan aman, di dalam suatu kotak tertentu.  Masing-masing petani mempersiapkan= bibit dari bibit yang disisihkan sewaktu panen. Pemilihan bibit jagung misalnya, dipilih dari bahagian tengah bulir jagung, yang tidak dirusak oleh bubuk. B= iasanya bahagian ujung dan pangkalnya tidak dipakai. Bibit yang diterima dari Usif, melalui Ana'a Tobe bertempat di Baki-Fua atau Baki-Tola.<= /p>

 

   &nb= sp;        Amanuban Selatan (Y.Tahun)

 

Seleksi bibit (tain fini= )

 

Jika jagung yang mau ditanam,maka seleksi bibit ini adalah yang dipanen tahun lalu. Padi ladangpun demikian. Ada kebiasaan dalam cara penyimpanan bibit. Kalau padi ladang,maka akan disimpan di Lopo, sedangkan jagung bibit kebanyakan mennyimpannya di luar, yaitu digantung di pohon.

Sampai saatnya, maka jagung/padi ladang akan diturunkan didahului dengan doa, dan dibersihkan, dipilih yang baik untuk dijadikan bibit. <= /span>

Doa pengambilan bibit:

 

 

      &nb= sp;     Unebet usanut au fini au kulu au    = ;         afa au balu

      &nb= sp;     he nati a'sena ma a'bebin neu au   &= nbsp;        lene ma smea

      &nb= sp;     kaisa an utbub pule ma nmanuek

      &nb= sp;     mes namlia ma naspet

      &nb= sp;     he anfe in afan alekot ma nesan   &n= bsp;         alekot

 

 

class=3DSection4>

Kuturunkan bibit yang terbaik hasil jerih            paya= hku

Supaya kutanami di kebun dan ladangku

 

Janganlah terhambat perkembangannya

Melainkan subur dan kekar

Agar memberi hasil terbaik dan buah &nb= sp;   terbaik

 

class=3DSection5>

 

Pemilihan bibit jagung harus dari biji yang berada di tengah-tengah bul= er jagung. Yang rusak akan dibuang (punu' ma fufuk). Sedangkan bagian ujung da= ri buler jagung itu akan disimpan sampai selesai penanaman dan telah tumbuh ti= nggi baru dimasak untuk dimakan. <= /span>

 

Doa Bibit (Letu falo ma kono 'bena')

 

      &nb= sp;     Suatu acara yang juga menarik yaitu jagung atau padi yang sudah diseleksi akan di= bawa (sedikit) bersama hewan 1 ekor menuju ke Faut-Maka' di Batan untuk mengadak= an ritual persiapan bibit. Bibit-bibit ini dibawa ke Fatu-Maka, karena anggapan suku Leosae (usif) bahwa Fatu-Maka sebagai Lopo (simbol tempat penyimpanan bibit).

      &nb= sp;     Anggapan suku Leosae, Toni, Hauteas, bahwa bibit jagung dan padi datang dari Fatu-Ma= ka' di Batan. Anggapan itu sudah menjadi kebiasaan sehingga setiap kali bulan Agustus akan diadakan ritual dengan jalan membawa bibit-bibit ke Fatu-Maka' untuk didoakan. Fatu-Maka sekarang dianggap sebagai simbol tempat/lumbung penyimpanan bibit.

            = Di saat bibit dibawa ke fatu-maka' setiap orang mulai menyimpan bibitnya di de= pan Tolah (batu pelat persembahan) dan semua siap untuk masuk dalam doa.

Doa bibit di Fatu-Maka' = sebagai berikut:

 

Neo....au pah au nifu

Fini in a'poin

Maka' in a'haken in apoi= n

Sain in a'haken in apoin=

Au om he le'tu,

'Falo' ma 'kono 'bena'

He unebet ma usanut

Fini-kulu afa-balu

 

Henati antia neno leku t= on antia neno     leku

Ton antia te 'kifun ma 'lifun

Neu au lene ma au smea'

Nati namlia ma naspet

Antumpuel ma nmanuek.

 

Kepada tanah airku

Tempat keluarnya bibit

Tempat makanan dan asal = makanan

Tempat botok dan asal se= sawi

Saya datang dan bertelut=

Membuka kunci dan mengge= ser papan penutup

Agar menerunkan bibit da= n hasil yang    terbaik

Sehingga tiba waktu dan = saatnya

 

Maka ku tabur dan menana= m

di kebun dan ladangku

kiranya subur dan kekar

berbulir dan berbuah

 

 

   &nb= sp;        Amanatun Utara (Imanuel Snae)

 

 Pohon-pohon ditebas dan dikeringkan, kemudian kebun itu dipagar. Bila semuanya telah dikerjakan, ma= ka mereka mendirikan "Iko/bak-bak/lene usan" atau pusat kebun (berupa batu besar di tengah-tengah kebun). 

Cara mendirikan iko/bak/bak/len usaf, sangat berfariasi bergantung pada kebiasaan dan keyakinan masing-masing marga. Ada marga tertentu yang hanya meletakkan sebuah batu datar, kemudian mendirikan sebuah kayu teras "h= au teas". Yang mendirikan adalah kepala keluarga dan didampingi oleh Ana'tobe/ana mnes. Sedangkan ada marga-marga tertentu yang meletakkan sebuah batu datar, lalu di atasnya ditaruh lagi beberapa batu kecil berbentuk bund= ar atau persegi empat berukuran 50-100 cm. Kemudian di tengah-tengahnya, didir= ikan sebuah kayu teras "hau teas". Mereka mempercayakan pelaksanaan ini pada "Ana'mnes/ana,tobe". Semuanya dikerjakan dengan penuh hati-h= ati, tapi tanpa doa.

      &nb= sp;     Sesudah iko/bak-bak didirikan, maka istri bertugas mempersiapkan bibit (ada juga ya= ng bersama suami). Bibit yang telah dipisahkan sejak panen waktu lalu, dikupas= dan dipilih buah yang yang baik untuk ditanam. Pada saat persiapan tersebut berlangsung, tidak diperkenankan binatang atau manusia melangkahi bibit jag= ung, sebab akibatnya jagung yang ditanam tidak akan memberikan hasil yang baik (dirusakkan oleh hewan). Semuanya dilakukan dalam suasana tenang.

      &nb= sp;     Menjelang saat tanam, maka diambil satu buah kelapa yang masih muda (belum berisi)  dipotong bagian kepalanya dan airn= ya diambil lalu dipercik di seluruh kebun. Cara ini dimaksudkan untuk mendingi= nkan bibit fain hanikit, kemudian buah kelapa tadi diletakkan pada ujung kayu di tengah-tengah kebun (hau teas).

      &nb= sp;     Pada waktu hujan turun, pemilik kebun bersama dengan "ana'tobe, kepala suku/marga berdoa di "Pah Kanan" (tempat pemujaan tiap-tiap suku/marga) sbb:

 

      &nb= sp;     Usi hohuma naek ko,

            = ho mata naek ko

            = ho alumat apakaet

            = am naifat, afafatl

      &nb= sp;     Nain amnelat ma ataekas

      &nb= sp;     Uis Neno ho ini

      &nb= sp;     Namaut kifu au fini ma au muke

      &nb= sp;     Namlia ma naspet

      &nb= sp;     Naleko ma namas

 

 

class=3DSection6>

Tuhan... engkau berwajah besar

engkau bermata besar

engkau pencipta, peletak=

pemangku, pengayom

tanah datar, rata,

Tuhan milikMu

Kiranya kutabur benihku

subur dan segar

baik dan indah

 

 

class=3DSection7>

      &nb= sp;     Setelah doa ini diucapkan, maka seekor sapi / kerbau / kambing disembelih dan darah= nya dipercik pada batu, kayu, pohon yang ada di lokasi tersebut.  Dagingnya dibakar/dimasak untuk di= makan bersama.  Dari "Pah kanan", mereka menuju ke kebun untuk berdoa.

Doanya sbb:

 

Neno i maen ma mutnin no= ...

Au kifun mnes ma klaon...

(menaburkan sedikit beras pada iko/bak-baki, di atas tanah kemudian ber= kata lagi:)

etu ma uton he sena ma kifun

 

Hari ini dengarkanlah....

Aku hendak menabur benih

............

 

melapor dan memberi tahu untuk menanam dan menabur

 

 

 

   &nb= sp;        Amanuban Tengah (Olif Kause)

        &= nbsp;  

Mendoakan bibit-bibit (o= nen Fin Le'u)

 

            = Menjelang hujan akan turun Am Uf, orang tua akan memangil semua anak-anaknya. Masing-masing akan membawa fini huma-huma, macam-macam bibit berupa: jagung, padi, kacang-kacangan, sain penmina dll untuk didoakan. Juga dibawa serta dengan alat-alat pertanian berupa tembilang, parang, suni. Doa ini berlangsung di rumah orang tua Noi = Uim Le`u biasanya setiap marga mempunyai satu rumah doa). Doa ini ditujukan kep= ada nitu mnasi, nenek moyang mereka atau Am Uf (dari mana mereka berasal, fatu kanaf) yang akan dikaitkan dengan PAH, yang menguasai dunia tempat kediaman mereka dan nama bibit -bibit yang biasanya disebut "FIN LE'U atau NA'MUTI" atau yang biasa disebut juga "LI' LAI NENO atau SONBAI A= NA.

      &nb= sp;     Kutipan isi doa itu adalah.........

 

Usi, he nanebton ma na s= aunton nem

he tait na' molo' na' mu= ti' he ta afatam    ta fafat

 

he nati on le ain fauk m= a fuan fauk

Nati' na' pini' na' aku'= na' lene' na' muke'

 

Tuhan, kuasamu  sudah mau dicurahkan      &n= bsp;     dan dilimpahkan

supaya mengambil bibit yang berwarna putih, kuning, ditaburkan di atas kebesaranmu

agar satuan dan jumlahny= a tak pudar dan tak lenyap

supaya bibitnya tetap ut= uh dan tumbuhannya bersinar seperti fajar merekah dan embun keemasanmu tetap tercu= rah.

 

Setelah berdoa di rumah = tua, Ume mnasi' (rumah doa, uim le'u) masing-masing kemb= ali dengan membawa bibit-bibit  ya= ng telah didoakan/dipersiapkan dan siap untuk ditanam apabila hujan sudah turu= n. Masa persiapan ini akan ditentukan= oleh Am Uf berdasarkan tanda-tanda alam (biasanya diketahui lewat guntur atau pered= aran bintang-bintang tertentu).

 

   &nb= sp;        TTU (L. Baun dan G. Moka)

 

 

Ritus keluarkan bibit (N= apoitan fini)

Tempat di rumah si sulun= g

Perlengkapan:   -2 ekor ayam (putih dan hitam= )

           &= nbsp;           &nbs= p;            -Bibit (Ubi, keladi) karena jagung= dan padi belum ada.

Catatan:

Ayam putih untuk Tuhan minta jagung dan padi. Ayam hitam untuk tanam ke= ladi dan ubi (ayam hitam dikhususkan untuk dewa bumi).  Darahnya diteteskan di atas tanah.=

Doa:

 

Ama ma ena, tua ma nasi, baba ma bei.

 

Hi es Uisneno in human ma in matan.

Am toitkai fini faun nai ma neob faun &= nbsp;   nai nako Ama Uisneno,

fun hi es am haumak Ama Uisneno.

 

Haim toit pen fini ma aen fini kana fanu

      &nb= sp;     ma neob fanu

 

Bapak dan Ibu, Ba'i dan Nenek, Oyang &n= bsp;            = ;          dan Moyang,   

Kalian yang berada di depan Tuhan Langit

Mintalah bibit yang banyak dan kesadaran         yang banyak dari Tuhan Langit

Karena kalian yang dekat pada Tuhan &nb= sp;            = Langit

Kami meminta benih jagung dan benih &nb= sp;            = padi, delapan nama delapan    &nbs= p;             = kesadaran..

 

Lalu ayam hitam disembelih untuk Ena, Ama, Nasi ma Tua (para leluhur).<= o:p>

 

Janji:

 

Kalu tebes hi es Uisneno in human ma &n= bsp; in matan,

manu le i in taif ma in atef af leka

 

natneafa ma ka nat opfa.

 

Jika benar-benar kalian di depan Tuhan =             L= angit

Ayam ini, perut dan hatinya akan  =             &nb= sp;        bergemuk baik

Gemuk dan hatinya akan bergemuk baik &n= bsp;         dan tidak tertumpah.

 

Lalu ayam putih disembelih dan diperuntukkan kepada Tuhan Langit. Seora= ng dari 7 orang saudara mengangkat ayam tersebut ke atas sementara si sulung berdiri minta bibit jagung dan padi, dengan berdoa:

 

Au ama au ena, au tua au nasi au baba = ma au bei.

Hi es am haumak Uisneno in human ma &nb= sp;           in matan.

Him toti nai Uisneno

he fekai fini faun ma neob faun.

 

Bapak dan Ibu, Ba'i dan Nenek, Oyang dan Moyang,  

Kalian yang berada dekat Tuhan Langit

 

Mintalah kepada Tuhan Langit

Agar memberi kepada kami delapan bibit dan delapan sesadaran.

 

Sesudah doa, hati ayam-ayam yang disembelih mulai diperiksa dengan seks= ama untuk mengetahui apakah permintaan mereka dikabulkan oleh Allah atau tidak.= Setelah itu mereka pergi ke kebun dengan membawa bibit berupa ubi, keladi, jagung d= an padi karena doa mereka dikabulkan oleh Allah.

 

IX.Penanaman ladang

 

        &= nbsp;   Mollo (F.Fobia)

 

Sen Lale/Lene

 

            = Sebelum penanaman ladang, diadakan upacara ritual penanaman ladang. Untuk itu masing-masing petani wajib membawa korban persembahan berupa ayam, di sampi= ng membawa bibit dalam suatu tempat yang disebut "Taka".

            = Doa untuk menanam dipimpin oleh Ana'a Tobe bertempat di Baki-fua, dengan perala= tan sebagaimana lasimnya.  Pemerik= saan hati ayam, karena begitu banyak ayam yang akan dibunuh dan diperiksa hatiny= a, maka kepada semua orang tua yang bisa mengetahui isyarat dalam pemeriksaan hati, diberi tugas untuk melakukan tugas pemeriksaan.

 

            = Adapun isi dari doa yang diucapkan oleh Ana'a Tobe adalah sebagai berikut:

 

 

 

        &= nbsp;   DOA UNTUK MENANAM (A'A= T NEU SENAT)

   &nb= sp;        (MENURUT UNGKAPAN M. MELLA).

 

Manamnes neit au baba Nai Nube nai Sala=        

Him te Uisneno ina mau human ma mau matan

On Uisneno ina hake es hi ina lelu es hi

      &nb= sp;    

Hi es am simo ma mi taim, mifinib ma

mikonob,     &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;           &nbs= p;   

 

Nekaf an-ana tenab an-ana, salit an-ana

lomitan-ana,    &nb= sp;            =             &nb= sp;            =             <= span style=3D'mso-spacerun:yes'> 

 

Mifinib ma mikonob neu a finit a konot,=                     &= nbsp;  

Uisneno-mnanuf a pakaet = ma a mo'et      &n= bsp;        

 

Uis-pah on pala ma paumaka, amnaifat ma afafat            =             &nb= sp;            =             &nb= sp;            =             &nb= sp;               &= nbsp;  

Mnasi ma fufu, a likin ma a pe'an,

      &nb= sp;            =       

Bai senu ma lonaen, mi Usi ma mi tua,&n= bsp;            = ;         &= nbsp;  

 

Mi fek nono hau-ana an fini ma an konbe,        

Sifo ma am hainik punu atu an fin ma

an kon,     &n= bsp;            = ;            &n= bsp;            = ;            &n= bsp;    

Fini ma bo'af, minibu ma mi'bua, &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;                &= nbsp;  

Es baki tola ma baki fua tunan ma fafon=             

 

Kana fanu ma bonif faun, huma fanu ma

masaf faun     = ;            &n= bsp;            = ;            &n= bsp;            = ;             <= /span>

On fini Lilai ma Sonba'i, bo'af Lilai ma

Sonba'i     &n= bsp;            = ;            &n= bsp;            = ;            &n= bsp;    

Am poh manu an-ana ma kolo an-ana =             &nb= sp;

 

Mi hoeb in funun ma in nafun, in na' ma

in sain,     &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;     

Aen bonak aen fomeni, mi siteb ma

mi hoeb     &n= bsp;            = ;            &n= bsp;            = ;            &n= bsp;            = ;   

      &nb= sp;    

 

Sambutlah sajian kakekku Nai Nube Nai

Sala;

Kamu telah berada di depan dan

di hadapan Tuhan,

Sebagai pengawal dan pes= uruh Tuhan

adalah kamu

Kamulah yang menyambut dan

menerima, meneruskan dan

melanjutkan

Ungkapan hati dan pikiran yang

sederhana, maksud dan harapan yang

sederhana,

Meneruskan dan melanjutkan kepada

yang tertinggi dan terag= ung,

Tuhan teragung, pereka d= an pencipta,

Tuhan bumi yang terdekat, penatang

dan pemangku,

Tetua dan leluhur, penur= un dan

penyebar,

Memandang dan menatap, m= enyembah

dan memohon,

Menebas hutan belukar telah lampau

dan lewat.

Membasuh dan mendinginkan debu

dan arang telah lewat,

Bibit dan benih telah dihimpun dan

dikumpulkan

di atas altar dan balai persembahan

 

Delapan nama delapan sebutan,

delapan jenis delapan macam,

Sebagai bibit Lilai dan Sonba'i, sebagai

benih Lilai dan sonba'i

Menggenggam ayam yang tak berarti,

burung yang tak berarti,

Menghampar bulu dan rambutnya,

darah dan cairannya,

Beras yang harum dan wangi disebar

dan di hambur

 

 

 

 

 

 

Es baki-tola ma baki fua in tunan in

fafon,     &nb= sp;            =             &nb= sp;            =             &nb= sp;            =        

Ona tnaup-le'u bukae le'u ala ki lali ki            &n= bsp;            = ;            &n= bsp;            = ;            &n= bsp;            = ;        &= nbsp;  

 

Am baisenu ma lonaen mi Usi ma mi tua&n= bsp;          

 

Fini ma Bo'af he ma senan he ma bebin,&= nbsp;          

 

Neu poan ma lele sonim Bijoba, Maelam

ma Nesbat     =             &nb= sp;            =             &nb= sp;            =             

Nati am pofi ma am luma, hen monim ma

natol, na suni ma na pae

An fe fuan a lek-lekot, = nesan alek-lekot     &nb= sp;              &= nbsp;  

 

Miah am peta ma mimsen, miun am peta ma mimsen

Nati moa ma ale'un, atekun ma a seun

Miah am peta ma mimsen, miun am peta ma mimsen            =             &nb= sp;            =             &nb= sp;            =    

Nati moa ma ale'un, atekun ma a seun&nb= sp;            =          &= nbsp;  

An helon ma an teton neu nasi ma lammu&= nbsp;         

Ukbon anbin ma an buabon anbin &nb= sp;            =       

Nah in haot ma in fatis, niun in haot

ma in fatis    &nbs= p;            &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;

 

Habe in fuan ma in nesan, nono in fuan

ma in nesan    &nbs= p;            &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;           &nbs= p;           

Naika beu nem ma anses nem, nisam ma na os            =             &nb= sp;            =             &nb= sp;            =            

Na sue'e ma na sakon, na tekun ma

na sekun     &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;           &nbs= p;  

Am halan lasi ma am hilin lasi, hal pah

ma hal nifu    &nbs= p;            &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;           &nbs= p;             =

Ala nekmina ansaomina, fefmina ma

hanmina     &n= bsp;            = ;            &n= bsp;            = ;            &n= bsp;            = ;   

Nati kalu simom ma mi taim kai &nb= sp;            =           

Ni klile ma mi ton kaiin lilon ina takan            &n= bsp;          &= nbsp;  

Anbi aet-ana ma ate-naek, pauk-ana ma

paku naek     =             &nb= sp;            =             &nb= sp;            =               

 

Di atas altar dan mesbah persembahan,

 

sebagai santapan dan makanan

termulia kamu

Memandang dan menatap, menyembah

dan memohon,

Bibit dan benih hendak ditanam dan

dibenamkan,

Di kintal dan di ladang sonim Bijoba

Maelam dan Nesbat,

Kiranya disiram dan diembuni, untuk

bertumbuh dan bertunas, bercabang

dan beranting

Memberi buah yang terbaik isi yang

terbaik

Makan keyang dan puas, minum

keyang dan puas,

Kiranya hama dan perusak, penyamun

dan penyerang

Mengelak dan menghindar ke hutan

dan belukar

Mengekang diri dan mengurung diri di

sana,

 

Makan makanan dan santapannya,

minum minuman dan santapannya,

 

Buah dan isi pohon, buah dan isinya

temali

Jangan menyerang da mendesak

kemari, beruntung dan berlaba,

Ganas dan mengamuk, menyerang dan

menyerbu,

Berdamai dan bersepakat, damai di

darat damai di laut

Hanya dan sejahtera, se-ia dan se-kata

Andaikata kami disambut dan diterima,

Nyatakan dan tunjukan tanda

isyaratnya

Di dalam hati yang kecil dan hati yang

besar, di dalam panduan yang kecil dan

yang besar.    &nbs= p;            &= nbsp;           &nbs= p;             =         =   

 

 

 

      &nb= sp;     Setelah doa berakhir, maka tiap-tiap tua adat, yang diberi kepercayaan untuk memeri= ksa hati dan usus ayam, melakukan tugas pemeriksaannya. Tiap binatang yang dipandang sebagai hama tanaman mendapatkan persembahan satu ekor ayam, seba= gai tanda berdamai dengannya.

      &nb= sp;     Kenyataannya ialah bahwa hama tanaman tidak akan merusak tanaman di ladang sampai selesai panen. Serangan hama hanya akan terjadi, manakala para petani bertindak mengancam kehidupan binatang-bintang perusak (hama) di dalam ruang hidupnya= . Apabila terjadi demikian, maka akan terjadi serangan hama besar-besaran terhadap tanaman petani. Dan karena itu, para petani harus melakukan na keti untuk pengakuan dosa dan salah, sebagaimana telah diuraikan di muka.

      &nb= sp;     Untuk penanaman bibit, maka di sekitar altar persembahan, ditanam empat pohon jag= ung, arah Utara, Selatan, Timur dan Barat, yang disebut Saen tesan un ma sikon. = Empat pohon jagung tu disebut pena smanaf artinya jiwa dari jagung. Empat pohon j= agung ini, harus dipelihara dengan baik, untuk memberikan buahnya yang baik pula.= Setelah penanaman empat pohon ini barulah seluruh bagian ladang ditanami. Di saat bertanam inipun, ada kanaf-kanaf yang pemali untuk orang lain berbicara den= gan penanam, karena jagungnya akan kehilangan jiwanya (pena smanan nam neku). M= isalnya di kalangan marga yang menganut non-nismetan. Di dalam bertanam ada tabu-ta= bu lain lagi misalnya tidak boleh berganti tugal dengan orang lain, tidak boleh menjatuhkan bibit di atas ladang secara sembarangan, tidak boleh melanggar tugal dan lain sebagainya, yang dalam bahasa Meto disebut sebagai nuni ma l= e'u.

      &nb= sp;     Selesai penanaman, mereka semua kembali ke kampung dan bila ada bibit yang sisa disimpan dengan baik, untuk penyulaman apabila ada yang tidak bertumbuh.

 

   &nb= sp;        Amanuban Selatan (Y.Tahun)

 

Pembuatan bak-bak:

 

            = - Menyiapkan satu pohon besar deng= an akar yang telah dicabut, dan ditanamkan terbalik dengan setinggi 1 meter.  Di atas akar terbalik itu disimpan= satu batu pelat.  Tiang terbalik de= ngan batu diatasnya yang disebut "tolah".  Disampingnya ada batu pelat yang diletakkan di atas beberapa batu.  Batu pelat tersebut dinamakan Bak-Bak, dan berfungsi sebagai tempat persembahan.=

      &nb= sp;     - Hewan yang dikorbankan (misalnya ayam merah) bulunya dicabut dan disimpan di atas tolah.

      &nb= sp;     - Kemudian dibunuh dan darah hewan korban diteteskan sedikit di atas bak-bak = dan batu tolah.

      &nb= sp;     - Sisa darah dituang ke dalam kelapa yang sudah dilubangi dan dicampur dengan= air kelapa muda.

- Keliling untuk memerci= k kebun kemudian kembali ke tempat semula.

            = - Mulai menanam jagung atau padi ladang 4 lubang yaitu Neonsaet (Timur), Neon= tes (barat), Neno Kliban bian-bian (Utara-Selatan).

            = - Setelah penanaman 4 lubang tersebut maka semua peserta mulai ikut menanam sampai selesai.

 

        &= nbsp;   Amanuban Tengah (Olif Kause)

 

Tanam (Tsen)

        =    

            = Setelah upacara pendinginan maka mulailah untuk menanam. Pertama-tama mulai menanam empat pohon (jagung) di sekeliling Naukae,=   bak-bak itu. Empat pohon jagung yang di tanam pertama kali di sekeli= ling naukae atau bak-bak itulah yang akan disebut sebagai PENA NAKAF,  jagung kepala yang nantinya disimp= an di rumah doa, uim le'u.

            = Setelah menanam empat pohon tersebut barulah tanam pada bagian-bagian yang lain/sel= uruh kebun itu. Sementara yang lain menanam potong bagian dada dari binatang yang dipersembahkan tadi dimasak dengan pen sain, jagung botok satu nyiru kemudi= an semua orang  yang telah menanam duduk makan bersama-sama dari satu nyiru yang telah dipersiapkan. Makan den= gan tidak mempergunakan sendok tetapi pakai tangan sendiri.

            = Sesudah makan bersama baru tanam lanjut. Sementara tanam Mnane itu akan memilih seb= uah kayu dari dalam kebun itu untuk didoakan lalu didirikan diatas naukae atau bak-bak tersebut lalu ditaruhlah punuk kelapa dan bagian rahang dari binata= ng yang dipotong ke atas kayu itu. Dengan maksud sebagai penjaga atau yang akan melindungi semua tanaman di kebun tersebut agar tidak terkena hama penyakit atau bencana lainnya samp= ai kepada panen. Oleh karena itu kayu bersama punuh kelapa dan rahang binatang tadi tidak boleh diambil/dibakar sebab apabila dibakar pasti ada bencana. <= st1:place w:st=3D"on">Ada yang akan meru= sak tanaman-tanaman di dalam kebun, yang biasanya disebut dengan MODA'.

            = Setelah pemasangan kayu itu selesai semua sisa daging yang ada dibersihkan untuk dimasak dan makan bersama-sama setelah tanam. Kemudian kembali ke rumah dan hanya datang untuk mengontrol pertumbuhan dan perkembangan dari tanaman-tan= aman di kebun.

 

        &= nbsp;   Amarasi (Mes Dethan)

 

Tsen (tanam).

 

            = Sesudah kebun dipersiapkan, maka bibit jagung atau padi ditaruh dalam sebuah kain l= ipat berwarna hitam dan dibawa ke kebun. Dibawa juga beberapa ekor ayam (disesuaikan dengan jumlah gunung di sek= itar kebun).  Pada waktu tanam, pem= ilik kebun dapat mengundang orang lain untuk membantu mereka, namun selama tanam tidak diperbolehkan bersiul atau berteriak, sebab jagung tidak akan subur. = Bagian pertama dari kebun yang ditanam, adalah bagian tengah (iko) sebuah batu yang ditaruh di tengah kebun sebagai pusat kebun. Jagung yang ditanam di "iko" sebanyak empat pohon. Pada saat menanam, tidak boleh menggunakan alat-alat pertanian, tetapi memakai tangan sambil menutup mata.= Jagung ditanam dari arah matahari terbit dan berakhir di arah matahari terbenam. <= o:p>

 

   &nb= sp;        Amanuban Timur (Yes Talaan dan S Baitanu)

 

            = Pada waktu pergi kebun dalam rangka persiapan penanaman, maka didahului dengan d= oa juga kepada pah tuaf. Caranya: ambil satu batu plat lalu ditaruh lilin dan dibakar kemudian diletakkan diatas Tutnae atau kalau tidak ada diletakan di atas batu besar yang ada di kebun. Setelah itu berdoa dan diberitahukan kep= ada pah tuaf. Misalnya kalau keluarga Solle disebut Kol Tanie, bunyi doa:

 

Kol Tanie....

ontak ai notko' ma bansen toman ko &nbs= p;   tabu I

au he sium afa ai baluf anbi ho paham ho nifu.

Kol Tanie...

Seandainya ku ungkapkan tepat saat ini

 

Saya hendak menerima hasil dari tanah airmu

 

      &nb= sp;     Setelah itu dibuatkan satu bak bak lagi di tengah kebun (lene usan). Lalu meletakan jagung bibit dengan tempatnya di atas bak-bak. Kemudian pergi mencari le'u untuk napoitan maputu.   = Le'u itu seperti: po'no', tob tobe, kae no', yang diukur supaya masing-masing ha= nya 4 batang. Lalau dibawa untuk didoakan di atas bak-bak katanya:

 

i ai not nain ma besi ta= n tom neu nain,

 

au eut neu leu ki keso h= a',

 

tabu le i au he eut neu = he meknom he mupoitan maputu ma meklala.

 

Api telah membakarnya da= n pisau telah       &= nbsp;     tertikam di tanah

Saya memberitahukan kepa= da empat    pemuka (jantan)

Agar kamu sendiri yang mengeluarkan &nb= sp; panas dan hangatnya.   

 

Kemudian berjalan mengelilingi kebun sambil memungut potongan-potongan = kayu yang tidak terbakar.  Sementar= a itu, ditangan leu-leu itu tetap dipegang. Kemudian potongan-potongan kayu itu dikumpulkan bersama leu-leu tadi lalu dimuat di atas pohon (misalnya kanunak atau kabesak) bahagian matahari terbenam (berat) Henati maputu ma maklala n= ane mansen tes antes neki ai anmofut anmof neki.

      &nb= sp;     Setelah hai niki kembali ke bak-bak untuk digali lagi empat lubang lagi lalu menggi= git 4 biji jagung dan mulai menanam 4 lubang itu. Dan hal ini berlangsung hingga penumpukan ma sain lagi di atas batu dipusat bak bak (doa waktu di bak-bak = sama ddengan doa waktu loitan fini di rumah). Dan semua berlangsung sama hingga diakhiri dengan mulai menanam.

 

   &nb= sp;        Mollo (Rut Nokas)

 

Menanam:

 

Setibanya di kebun, bibit diletakkan di atas mezbah. Di tengah- tengah kebun dipersiapkan sebuah bak-bak. Setelah itu baru ditanam.

Cara menanam:

Pemilik kebun menanam dahulu dari bagian kepala kebun. Menanam pada emp= at lubang lebih dahulu dalam keadaan duduk, setelah itu baru bibit yang lain ditanam. Ada perbedaan dalam cara menanam antara rakyat jelata dan kaum fet= or (bangsawan). Rakyat jelata menanam sambil duduk, sedangkan bangsawan menanam serentak (tidak dengan cara duduk) itupun dilakukan oleh para "amaf&qu= ot; dan bukan rakyat biasa.

 

   &nb= sp;        Amanuban Timur/Boti (Frid Ruku)

 

 

            = Suami istri menanam bak-bak atau lene in usan.&n= bsp; Pada awal musim hujan tiba, para petani menyiapkan bibit jagung untuk menanam. Sang istri menurunkan bibit jagung yang disebut fin le'u, dari atas loteng.  Bibit jagung itu dilu= ruh ke dalam sebuah bakul yang disebut kul le'u.&= nbsp; Sang istri membawa ba= kul berisi bibit jagung pergi ke kebun. Sang suami mengiring dari belakang. Di tengah kebun itu yakni di bak-bak atau lene in usan, keduanya berdiri. Bakul berisi bibit jagung itu diletakkan di atas batu ceper, lalu sang suami duduk dan berdoa:

 

Anbi tabu le'i hai maitman fin le'u kul le'u henati

mikesi mani ma mipano' mani neu afu in tunan.

Maut he Uis kenu ma tua kenu es au &nbs= p;   ama' ma au ena

nhaek nokan ma ni nokan he nati nanini nak nafo moa

le ntek nani nak klua, le ntek nani nak nafo loti'

le ntek nani nak fafi, henati kais nsoban ma n'obanat oin naneuk nain f= in le'u ma kul le'u.

 

Saat ini kami mengambil bibit di tempat yang baik

Kami menyimpan dan menatang di atas tanah

Biarlah Tuhannya dan tuannya yaitu bapa dan ibuku

Berdiri tegap dengannya agar melindungi semua bencana=

Yang disebut cacing, hama tikus pengais=

 

Yang disebut babi, jangan merusak dan menghilangkan semua bibit yang baik.

 

Berikut ia berdiri dan m= enggali empat (4) lubang dan menanam jagung, masing-masing menurut arah mata angin.  Keempat lubang itu mengelilingi batu ceper yang di atasnya bakul jagung diletakkan.

            = Setelah menanami bak-bak itu, keduanya kembali ke rumah dan menunggu waktu yang akan ditentukan oleh Pah Tuaf untuk melakukan ritus tahap berikutnya.

 

Petani mengundang Pah Tuaf untuk berdoa di kebunnya.<= /p>

 

Apabila curah hujan dianggap telah cukup untuk menanam, maka petani itu menjemput Pah Tuaf untuk memimpin ritus tahap berikut di kebun. =

Mula-mula petani menyiapkan lima butir muti; sekeping uang perak senilai satu rupiah, kemudian seekor babi betina muda berbulu hitam. Semua persiapan itu dibawa ke kebun baru itu.

      &nb= sp;     Sebelum berangkat ke kebun, Pah Tuaf mengangkat sekeping uang perak dan meletakkann= ya pada sebuah kotak sirih. Kotak sirih itu diletakkan di bawah tiang utama rumahnya dimana pada puncak tiang itu tergantung sehelai cita kain berwarna hitam. Cita hitam yang magis itu diturunkan dengan lebih dahulu mengucapkan kata-kata berikut:

 

 

Neu ho ate sin nsusan maten

bi mnahat ma mninut

es nane te sin neman ma ntotin

he usanut anko ma....uhasu an ko

 

he eki ho nao neu lene i= n usan.

 

Hamba-hambamu dalam kesusahan

Dalam hal makan dan minum

Sehingga mereka datang dan memohon

Agar ku menggerakkan dan menurunkanmu

Agar membawamu ke tengah-tengah kebun.

 

Lalu Pahtuaf tersebut mengulurkan tangannya dan mengambil cita hitam itu dari puncak tiang utama. Kain hitam itu dilipat dan diletakkan di atas kotak sirih di bawah tiang dan mulai berangkat ke kebun.

      &nb= sp;     Disana Pahtuaf itu meletakkan kotak sirih di atas batu ceper yang ada di bak-baki = itu. Ia mengambil pula lima buah muti dan menindih kain hitam dalam kotak sirih = itu. Selanjutnya ia mengambil satu keping uang perak yang disiapkan oleh petani pemilik kebun dan meletakannnya di atas buah-buah muti itu. Kemudian ia ber= doa:

 

Neu au am enu ma au en enu et al fatu bian

maut hem baina om ma kais amkoitsin

 

neu pena ma boko te akis an ek ma antu'

neu hi yen koto kais an ek ma antu'

nes-nes neu fin le'u mal kal le'u le naaifat sin ma nafafat sin

neu pahe in tunan ma noni bna e in nanan,

henati' moa e kaisa nah nan sin

mes maut he nati' monin = nok alekot ma amasat.

 

Bapak dan Ibuku di balik batu

 

Biarlah berpaling dan jangan membelakangi mereka

Agar jagung dan labu jangan tertahan dan berhenti

Arbila pun jangan tertahan dan berhenti

Terutama bibit terbaik yang telah ditanam

Di atas bumi dan ladang berharga

 

Agar hama tidak memakan habis

Melainkan hidup baik dan= indah.

 

            = Selesai mengucapkan doa, Pah tuaf bangkit dan mengambil bibit jagung yang sudah disediakan. Ia menanam delapan (8) lubang dalam posisi melingkari ke empat = (4) pohon jagung yang telah ditanam sebelumnya oleh penggarap kebun.

            = Kemudian babi disembelih. Bagian terbesar dagingnya diolah untuk para peserta di keb= un itu. Sedikit darahnya dipercikkan di sekeliling bak-bak oleh Pah tuaf. Sedangkan fafi in nonon dibakar sebagai hidangan khusus untuk Pah Tuaf. Dag= ing yang sudah dibakar itu dipotong dengan ukuran kecil-kecil dan dihidangkan di atas nyiru. Juga dihidangkan garam dan satu botol minuman (tua) tanpa nasi = atau hidangan apapun.

            = Pah tauf menikmati hidangan itu di= tempat terpisah dari orang lain. Ia makan bersama roh-roh nenek moyang pemilik keb= un. Kepada roh-roh itu Pah Tuaf meminta perlindungan dan pemeliharaan atas tana= man yang akan ditanam oleh pemilik kebun.

Serentak dengan kegiatan makan minum, Pah tuaf dan sanak saudara yang h= adir di kebun itu dilayani makan dan minum. Selesai makan, (bahasa ritusnya:"nahan sisi ma ninun tua'"), sanak keluarga dan pemilik kebun mulai menanam. Sedangkan Pah Tuaf mengambil kotak sirih yang telah di= isi dengan kain/cita hitam dan uang perak serta muti lalu kembali ke rumahnya.<= o:p>

      &nb= sp;     Setiba di rumah, Pah Tuaf meletakkan kotak sirih itu di bawah tiang utama rumah it= u. Kemudian ia berdoa untuk meletakkan kembali kain hitam itu pada tempat semula. Ia berkata-kata demikian:

 

Neu le' ho ate le nsusa nmate ma nuk nmate

Bi mnahat ma mninut

es neman usanut ma ukasu anko oket te manse te nhoi ma ulne te npau o,<= o:p>

nipu te niuk ma n'aumko

na maut te naneo ma nahaof ko yen

es au ek ufani ko neu kuan ma bale

na maut  he ukesi ko lek-leok ma upana' ko lek-leok

neu fai amunit ma neon amunit,

neu noka ma nmeu' neu kalo lomin ma neman tenin

te maut henati' metan amneot ko ma &nbs= p;    inuh amneot ko.

 

Hambamu yang dalam kesusahan dan kesulitan

Dalam hal makanan dan minuman

Datang menurunkanmu sehingga matahari menjemurmu, hujan menyirammu=

Kabut mengelilingi dan menyelimutimu

Sudah melindungi dan menaungimu

Sehingga ku kembalikan ke tempatmu

Ku tempatkan dan ku menyimpanmu baik-baik

Agar pada malam dan siang mendatang

Besok dan lusa jika dikau berkenan lagi

 

Maka biarlah hitam benar dan muti terbaik

 

Sesudah mengucapkan kata-kata di atas, maka Pah tuaf mengangkat dan meletakkan kembali kotak yang berisi kain hitam itu ke puncak tiang utama r= umah itu.

 

Beberapa catatan:

 

-Kegiatan menanam di kebun itu dapat tidak selesai sehari. Bila kegiatan menanam akan diteruskan pada esok hari, maka jagung bibit tidak boleh dibawa kembali ke rumah. Bibit jagung yang sisa baru akan dibawa kembali ke rumah setelah kegiatan menanam di kebun selesai.

-Bibit jagung (pen le'u) yang dibawa pulang ke rumah sesudah kegiatan menanam selesai, tidak boleh dimakan. Sebab bibit jagung itu akan dimanfaat= kan untuk ritus penyuburan.  Untuk= itu sisa bibit jagung harus diletakkan kembali ke tempatnya di loteng.

 

X. Doa Minta Hujan

 

        &= nbsp;   Mollo (F. Fobia)

 

 

            = Menurut para responden di Nuapin, bahwa pada  waktu lalu semasa masih menganut agama suku, apabila hujan belum tur= un pada bulan Oktober, maka pada bulan Nopember, mereka berhimpun di istana Us= if Nai Pitay dan bermusyawarah untuk meminta hujan. Demikian pula kalau bulan = Juli belum tiba musim kemarau, mereka meminta panas pula.

            = Untuk meminta hujan atau panas, mereka melakukan penyembahan di puncak gunung Mut= is, yaitu pada tempat yang disebut 'fua' artinya tempat menyembah. Dalam bahasa Meto dikatakan: Kalu ka na ul, haem sae meo mutis tunan, haim a'am ma amfua= , he fe manekan, es sen-sene fua fanun ulanfua fanun. Artinya, kalau tidak hujan, kami mendaki ke puncak gunung Mutis, kami berdoa dan menyembah, untuk memberikan pengasihannya, yaitu delapan butir es, delapan tetes hujan.

            = Yang dimaksud dengan delapan butir es dan delapan tetes hujan  adalah suatu kiasan (metafora), te= ntang delapan raja yang pada zaman dahulu kala pernah bertemu dan bermusyawarah di gunung Mutis dan kemudian mereka berpisah dan menyebar keseluruh Timor. Tempat mereka bertemu dan bermusyawarah itu disebut "lop ni fanu Mutis Babnai, uem ni fanu Mutis Babnai. Artinya l= opo bertiang delapan Mutis Babnai dan rumah bertiang delapan Mutis Babnai.

            = Untuk meminta hujan di puncak gunung Mutis, mereka mempersembahkan kerbau berbulu hitam, yang melambangkan awan yang gelap. Pemimpin upacara ritual itu, adal= ah fungsionaris penata lingkungan yang disebut 'Ana'a Tobe.  Di atas batu persembahan diletakkan benda berharga seperti muti, gelang perak, plat perak (mane) atau barang tenunan, sebagai penatang dan penopang suara.

            = Sebagai sajian persembahan adalah beras wangi yang disebut aen bonak atau aen fomeni  atau mereka menggunaka= n biji sekoi (botok).  Sebelum Ana'a = Tobe mengucapkan doa atau dalam bahasa Meto dikatakan a'at, maka kepada para ora= ng tua yang hadir dibagikan beras wangi sejemput di telapak tangan. Sedang ia memegang beras wangi lainnya dalam tuplili (nyiru kecil).  Hewan dibunuh dan darahnya ditetes= kan sedikit di atas batu persembahan dan mengungkap doa. Sambil mengungkap doa membuang beras sajian ke atas, sedang hadirin yang lain membolak-balik bera= s di telapak tangannya dan ikut menyambung doa dimana perlu (an ton). Adapun isi= doa yang disebut a'at/onen sbb:

 

DOA MINTA HUJAN

(A'AT/ONEN TOIT ULAN)

Menurut Lazarus Tapatap di Nuapin, Mollo Utara

 

 

Manamnes neit au baba nai Tafoen

Hom te Uisneno in human = in matan,

 

Ona hake Usineno a lelu = Uisneno,

Ho es mufinib neu Uisneno mnanuf,

 

Ho es mukonob neu Uisneno mnanuf,

 

A pakaet a mo'et, a neot= a hafot,

 

Uispah on pala ma paumaka,

      &nb= sp;    

Amnaifat ma afafat, a haot ma afatis,

 

Mnasi ma fuf in alikin ma ape'an,

Baisenu ma lonaen, mi usi ma mi tua,

 

Mi fek nono hau ana mi sopu mi laljen,

 

Siuf ponu atu me sopu mi laljen,

 

Fini ma bo'af haim poho ma hai mna

Kana fanu ma huma faun,  &nbs= p;      

On fini Lilai ma Sonba'i,  &n= bsp;            = ;         =

On Bo'af Lilai ma Sonba'i,  &= nbsp;    

Nati anin nautus fu nekim na ti' neik,

 

Terimalah sajian kakekku Nai Tafoen.

Engkau telah berada di depan dan di hadapan Tuhan

sebagai pengawal dan pes= uruh Tuhan,

Engkau yang meneruskan kepada Tuhan

tertinggi,

Engkau yang melanjutkan kepada Tuhan

tertinggi,

Pereka dan pencipta, pelindung dan

penaung,

Bumi sebagai yang terpendek dan terdekat,

Pemangku dan penatang, p= enyuap dan

pemelihara,

tetua dan leluhur, penurun dan penyebar,

Menatap dan memandang, menyembah dan memohon,

Menebas hutan belukar selesai dan

berakhir,

Membersihkan jelaga dan arang selesai dan berakhir,

bibit dan benih kami genggam dan pegang,

Delapan nama delapan jenis,

sebagai bibit Lilai dan Sonba'i,

sebagai benih Lilai dan Sonba'i,

Kiranya angin meniup dan=

mendorong,

 

 

Nope nipu kabu luma        &= nbsp;      

Nako nine-nine, ta'e-ta'= e,          =

Saen-tesan, un ma sikon,  &nb= sp;      

Neu Tubu Mutis-Babnai, oken Mutis-Babnai,

Naubam ma na puti, obe ma saklubu,

 

Na mofut kai ma na hoeb kai,  = ;

 

Sen-sene fua fanun, ulan fua fanun,

 

 

Awan kabut, kamu-kamu dan embun

Dari tepi-tepi dan samping-samping,

Dari Timur, Barat, Utara dan Selatan,

Ke Bukit Mutis Babnai, ke gunung Mutis Babnai,

Mengerumuni dan meliputi, selimuti dan

selubungi,

Menurunkan bagi kami dan menuangkan bagi kami

Delapan butir es dan delapan  tetes hujan

 

 

Hen pofi ma anluma pah meto ma pah oel,=          <= /p>

 

Hem senam hai fini ma hai bo'af, &= nbsp;           &nbs= p;          =

Hem bebin hai  fini ma hai= bo'af        &= nbsp;   

 

On fini Lilai ma Sonba'i,  &n= bsp;            = ;            &n= bsp;       

Kanaf fanun ma bonif fanun,   = ;            &n= bsp;            = ; 

Huma fanun ma masaf fanun,  &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp;

Hen monin ma na tol, na suni ma na pae&= nbsp;          

 

On haot a min-minat, fat= is a min minat  

 

Kolo-manu tob ma tafa,   = ;            &n= bsp;            = ;            &n= bsp;      

Naham ninut an pet ma namsen   &n= bsp;        

Nono-hauana, nasi-lamu masnau ma maslub,            &n= bsp;            = ;            &n= bsp;            = ;            &n= bsp; 

Mui aem ma mui fuij, kuebubu ma kuepe'as      

Nah hun anpet ma namsen,  &nb= sp;            =             &nb= sp;  

Niun ole an pet ma namsen,  &= nbsp;           &nbs= p;            &= nbsp; 

Manekan kai mu lile an bi lilo ma takaf,

 

Oben kai mulile an bi lilo ma takaf,&nb= sp;      

anbi aet-ana ma ate naek.  &n= bsp;            = ;            &n= bsp;    

 

 

Untuk menyiram dan memba= sahi tanah air

Untuk menanam bibit dan benih kami,

Untuk membenamkan bibit dan benih kami,

Sebagai bibit Lilai dan Sonba'i

Delapan nama delapan sebutan

Delapan rupa delapan jenis

Untuk  bertumbuh dan bertu= nas bercabang beranting

Sebagai makanan yang lezat, santapan

yang lezat.

bagi rakyat dan pengikut

Makan dan minum kenyang dan puas

Semak belukar rimbun dan rindang

 

Binatang jinak dan liar, berkuku satu dan

belah

Makan rumput kenyang dan puas,

Minum air kenyang dan puas

Kasihani kami, tunjukan dalam tanda dan

isyarat

Imbangi kami, tunjukkan dalam tanda dan

isyarat,

di dalam hati yang kecil dan hati yang besar.

 

 

Setelah doa diucapkan, maka hati hewan korban diperiksa oleh Ana'a Tobe atau salah satu orang tua yang biasa  memeriksa tanda dan isyarat dalam hati hewan.

      &nb= sp;     Sebagai analisa singkat mengenai isi dari pada doa di atas dapat  dikemukakan sebagai berikut:<= /o:p>

 

1. Istilah baba, dalam pengertian di Mollo dan pada umumnya di seluruh bekas wilayah Kerajaan Oenam (mulai dari Fatule'u sampai dengan Boboki), di= artikan dengan kakek (bab-atoni) dan nenek (bab bifel). Sedang wilayah lain, kecual= i di Belu, baba diartikan dengan om/paman dan tante.

2. Di dalam doa, ada tiga unsur yang diutamakan yaitu Uisneno, Uispah d= an amnasi, yang telah meninggal, dalam hal&nb= sp; ini arwah para leluhur. Uisneno dipandang sebagai pencipta dan pelindung, bumi dipandang sebagai pemangku=   ddn penatang, ibunya, penyuap dan pemberi makanan dan leluhur sebagai penyambung lidah.

3. Bibit tanaman disebutkan berjumlah delapan jenis, tetapi nama-namanya tidak diungkapkan. Mungkin bibit tanaman yang diterima oleh para leluhur pa= da zaman dahulu kala untuk pertama kali berjumlah delapan jenis. Pemberi bibit disebutkan adalah Lilai (Liurai) dan Sonbai, yang menurut sejarah sebagai penguasa tertinggi di pulau Timor (pah Meto).

4. Di dalam doa, diungkapkan bahwa dia telah menebas hutan belukar dan mendinginkannya dari segala kepanasan dan kehangatan karena dibakar.

5. Memohon agar ketiga unsur penentu di atas, memerintahkan angin dan puting beliung, meniup dan menghembus awan, kabut, kamu-kamu dan embun, menyelimuti gunung Mutis Babnai, meneteskan butiran es daan air hujan yang diseebutkanberjulah delapan butir/tetes. Ini adalah suatu metafora terhadap delapan penguasa zaman dahulu kala sebagai pembantu  Lilai dan sonbai. Tetapi juga dika= itkan dengan kebutuhan untuk menghidupkan delapan jenis bibit dan tanaman di atas= .

6. Mereka tidak memohon hanya untuk kebutuhan manusia sendiri, tetapi j= uga untuk unsur biologi lainnya seperti hewan&= nbsp; dan tumbuh-tumbuhan.

7. Sebagai tanda dan isyarat, untuk menemukan apakah doanya diterima at= au tidak, mereka akan memeriksa di dalam hati dari hewan korban, yang disebut aet-ana ma ate-naek. Apabila di situ terdapat  sedikit nokta atau cacat, maka hal= itu menandakan bahwa permintaannya tidak akan berhasil dan harus melakukan tenungan, untuk menemukan sebab-musababnya (naketi ma na'hoe).

Di dalam hal hewan besar dan sedang (kerbau, sapi, kambing, babi), disebutkan nama dari bahagian hatinya yaitu: Hala, kuan, snasan, Nete, eno, nape. Sedang pada hati ayam hanya ada dua bahagian yang disebut Pauk (paku)= ana dan pauk naek. Dalam pemeriksaan mereka memperhatikan cacat pada hati yang besar, sedang padda hati  ayam mereka memperhatikan pada hati kecil dan ususnya.

8. Nama Gunung Mutis dapat diartikan menetaskan (menetaskan air), sumber segala sungai di Timor Barat, tetapi dapat pula diartikan menggenapi dan meliputi. Babnai artinya asulah atau peliharalah nai-nai, warga dan pendudu= k di Timor. Jadi Mutis Babnai dapat diartikan sebagi tempat/sumber segala air su= ngai yang memelihara warga dan penduduk di Timor Barat (Pah Meto nenotes).<= /o:p>

Pada ketinggian 2000 m dari muka laut, di situ ada sebuah batu bernama Fatumese, besar empat pemeluk dan tingginya 1,5 m, yang menjadi penjaga pin= tu untuk mendaki ke puncak di tempat itu para pendaki ari mana saja harus meletakan sesuatu di atasnya, berupa sirih pinang, makanan atau benda lain, sebagai tanda mohon isin untuk mendaki ke puncaknya, yang berketinggian 427= m dari tempat tersebut.

 

 

   &nb= sp;        Amanuban Selatan (Y.Tahun)

 

      &nb= sp;     Caranya yaitu: mendahului pengorbanan hewan besar (babi, kambing atau sapi), maka seekor ayam merah akan dicabut bulu-bulunya kemudian diletakan di atas kain hitam yang tersedia dan dihamparkan di tanah kemudian beras sejemput disimp= an di atas kain hitam tersebut. Kain hitam itu sudah turun temurun disebut "tais metan" Satu ekor disiapkan pula akan dikorbankan dan darahn= ya akan diteteskan di atas batu persembahan, sedangkan beras yang disipakan ta= di yaitu aen fomeni/aen bonak (beras wangi) juga akan dibagikan kepada semua peserta masing-masing sejumput ditelapak tangan. Selesai pengorbanan hewan, penetesan darah dan pembagian beras maka 'ana amnes' (pemegang beras/penguasa/usif yaitu Leosae) akan mengungkapkan doanya yang dapat diik= uti oleh semua peserta. Doa minta hujan (onen toit ulan) menurut K.M Leo= sae:

 

Doa minta hujan (onen toit ulan) oleh Bapak KM Leosa'E sebagai berikut :

 

Newoo...au nai-am au bei

mok au paha ma au uis neno.

Nok fai i ma neno i

oe an ekon ma antu'on

 puaha tan tun tukon noaha= t an tuntukon.

'Sananen ki  ma anbain ki<= o:p>

neu au nai Tae ma au bei Bano ma au bei Maitimo

he mnek ma mumnau  ho to ho atenkai.

Mit paha 'pinan anhu'on ma na'lenon

man maput'ut na'lenonen.

 

Es a'sananen ki ma 'sakoin ki

he kalu leko

ho pah ho nifu

nati nope te antunkon ma anbuaklon

he nponi ma nhanik hopah ho nifu

natuin ho paha te

an hulu nli' nale'uonen

anboen otu' naleonen

noaha tan tuntuka ma puaha tan tuntuka.

 

Es an bi neon mese' ma fai mese' i

 

'sananen ko ma 'sakoin kowen

mok au nai ma au bei

 

mok ho paha ma au uis neno

He nati' muhakeb tunu-tunu sene-sene

 

tunu neon saet ma tunu neon tes

anbi tunu neonsaet ma tunu neontes

tunu kaliban bianam bian.

 

Muhakeb sinim ma muniaba' sin

he nati' muni'ta ma mu'o= pan

he an poin ho paha ma ho= nifu

he nati ho paha ma ho ni= fu

kaisa' annhulu nli' nale'uon

ma nboen otu' nale'uon.

 

Maut he nati' ho 'mu'im

es le' ale' kanan luat

anbi ho pah ma ho nifu

nati' amponi ma amliut mani

he nati namlia ma naspet kun

he na' ho kanma mateka ma ma'boni

 

mok au paha ma au uis neno.

 

Hi pah hi nifu

kaisa fini-kulu afa'-balu

anbi pah ma nifu i

kaisa namneku ma namsu.

Maut he nati fini-kulu afa'-balu

namlia ma naspet kun.

he nati' au uktuna' ko

ma au tek hi kanmenu

ma au uktuna u'naeb

au uis neno abit neno tunan

au pah ma au nifu esle' :

Tapan Tuikneno, Besi m'Oetbolan.

 

Teruntuk nenek moyang saya

dengan bumiku dan tuhan langitku.

Pada malam dan siang ini

air tertutup dan berhenti

pinang tak bertunas kelapa tak bertunas.

Saya berseru dan memanggil kamu

untuk bai Tae, Nene Bano dan nene Maitimo.

Agar sayang dan mengingat rakyat dan hambamu.

Lihat bumi terkelupas dan menyempit

panas mataharipun sudah membosankan.

Sehingga kami berseru dan memanggil kamu

sehingga jika berkenan

tanah dan danaumu (tanah airmu)

maka awan pun bergeser dan bergumpal

agar menyiram tanah airmu

karena tanahmu

telah terlipat dan rusak

seperti pohon enau yang terbakar dan rusak

kelapa dan pinang sudah tak bertunas (tak berpucuk).<= /p>

Oleh karena itu di siang dan malam ini (hari ini)

kami berseru dan menyapamu

bersama nenek moyang saya (bai dan nenek)

bersama bumimu dan Tuhan langitku.

Semoga mendirikan (memasang) pancuran yang bergemuruh=

pancuran Timur dan Pancu= ran Barat

dipasang dipancuran Timu= r Barat

pancuran langit sebelah menyebelah (Utara Selatan).

Dirikan dan miringkanlah mereka (pancuran)

agar terpasang dan tumpah

demi tanah airmu tersiram

dan agar tanah airmu

jangan terkelupas dan rusak

terbakar rusak seperti pophon enau yang terbakar.

Biaralah kepunyaanmu

yaitu segala tanaman

di tanah airmu

kiranya tersiram dan terbasah

supaya subur dan berkembang.

akhirnya namamu disebut-sebut dan disanjung

bersama bumiku dan Tuhan langitku.

 

Tanah air kamu

jangan bibit tanaman

 di tanah air ini

jangan hilang dan habis.

Biarlah benih dan tanaman

subur dan bertumbuh

Agar saya menghormatimu =

saya menyebut-nyebut nam= a kalian

saya menghormati dan mem= besarkan

Tuhan saya di atas langi= t

bumi dan danauku (tanah = airku) yaitu :

Tapan Tuikneno, Besi Oet= bolan.

 

            = Setelah berdoa maka hewan yang disiapkan akan dibakar untuk makan bersama-sama.  Sedangkan beras wangi dan  bulu ayam tadi akan disimpan di at= as batu persembahan. Hewan yang dibakar akan ditinggalkan bagian-bagian terten= tu bagi yang berdoa (ana' amnes) untuk dibawa pulang. Jika sapi maka 'boko ma ansaon (isi has dan dada), babi maka fafi boben ma 'bokon, ikon (paha kanan= dan leher,  ekor) kambing maka yang dibawa pulang oleh ana'amnes yaitu 'bokon ma ansaon (leher dan dada) sedang= kan dada ayam tadi mendahului pengorbanan hewan besar, sebagian dada dan kaki sebelah kanan akan diserahkan juga kepada ana-amnes (Leosae).

            = Acara ini akan berjalan terus dari sumber mata air ke sumber mata air yang lain sampai ada hujan.

 

        &= nbsp;   Amarasi (Mes Dethan)

 

 Toit uran (minta hujan)

 

            = Jika jagung, padi telah ditanam, tetapi hujan tidak turun,maka perlu diadakan upacara minta hujan. Lokasi upacara untuk Amarasi di Tainiuf". Untuk upacara ini dipakai seekor kerbau betina berwarna merah. Pemimpin upacara bernama Bureni. Sebelum upacara, ia akan meminta kepada raja untuk menyumba= ng hewan (selain kerbau). Ia juga akan mengundang seluruh warga kampung untuk menghadiri acara tersebut dengan membawa makanan dan hewan. Pada waktu upac= ara dimulai, ia akan masuk dalam tempat persembahan untuk membuat persembahan. Sesudah itu kerbau dibunuh dan darahnya dipercik di sekitar tempat persemba= han sambil ia berdoa sbb:

 

Oh... au oe au pah au nitu

tok-tokom ta'ta'at te sakoin ko ma anbai ko

 

onane mesen mui' in no na ma in tau'na esen sakoin ko ma anbai ko ne...=

O...ne nonon aliu' a san= at tau' aleu' nam ne....

asanan es nenggoi na eka' natau ul nima kanasaunta neman ma kana nebton= ne

lonem es baisenu ko ma lonane

ko ko musoitan ko ko mulanab ne

ko koet  eno lanan oe lana= n neno ulan

he nasaunton he nanebton=

lo nem he na hau ko koet= eno' lanan, oe lanan neno ulan

he nasaunton he nanebton=

lo nem he na hau kokoetam hen fati

ko koet ma titem sikoib man baikoit es nasauntom omam mu nebtom omam...=

 

Oh...tanah air dan leluhurku

Di tempat kediamanmu kuberseru dan menyapamu

Berkenaan dengan daun dan batang pohon

Oleh karena itu kuberseru kepadamu..

Oh...ada yang bersalah serta menghalau dan      merusak

Maka perbuatannya menahan hujan lima

Tidak turun merendah dan datang

Sehingga ku menengadah dan menyapamu

Dikau membuka dan memberi jalan

Pintu gerbang dan jalannya air hujan

Supaya turun dan merendah

Benar-benar pintu gerbang jalannya air hujan

 

Turun dan merendah

Benar-benar menaung serta menyegarkan

Inilah seru-sapah kami agar dikau turun serta merendahkan...=

 

   &nb= sp;        Amanuban Timur/Boti (W. Ruku)

 

 

Pah tuaf mengadakan rapa= t dengan para pembantunya dan para penasehat yang disebut atolas ma akibit di tempat itu. Dalam rapat mereka merundingkan waktu dan binatang yang akan dikorbank= an. Biasanya mereka menyiapkan seekor babi jantan muda dengan warna buluh hitam. Seorang dari tua-tua kampung dibebani untuk membawa babi itu.

 

b. Ketika tiba saatnya m= ereka berkumpul pada salah satu mata air yang memang telah dikhususkan untuk ritus minta hujan. Di dekat mata air itu telah ada sebuah batu "mezbah". Dekat batu itulah "imam" (Pah Tuaf) berlutut dan berdoa:

 

Maut he nati ul alekot m= a ul atkuas mutkua nai

henati mponi ma mnae kai bi pah pinan mok      ale kanan amonit sin

he leko neu mnahat ma mninut

he leko neu mu'it ma nes-nes neu mansian bi pah pinan le'i.<= /span>

 

Biarlah hujan terbaik dan runtuhannya tercurah

Agar menyiram dan membasahi bumi ini dan segala yang hidup

Baik makanan dan minuman

Baik untuk segala binatang, terutama untuk manusia di bumi ini.

 

Setelah mengucapkan doanya, Pah tuaf bangkit menghunus pisaunya dan menyembelih babi itu di atas batu "mezbah". Kemudian darah babi i= tu dibiarkan mengalir ibarat aliran air. Sedangkan daging babi seluruhnya diba= kar (bukan direbus) dan dihidangkan kepada orang yang ikut di tempat itu.<= /o:p>

Baru saja menikmati daging bakar itu terjadilah gumpalan-gumpalan awan = di atas kepala mereka. Sebelum selesai makan, turunlah hujan lebat. Mereka kembali, masing-masing ke rumahnya, dengan sukacita dan terburu-buru sambil mengucapkan kata-kata:

 

Hit am e fe ntut it ma hit en e fe ntut it

 

hit ama nai lilai neno

ma hit ena pah pinan I

 

Bapa dan ibu masih mendengar dan menjawab kita

Bapak kita adalah lilai = neno (penguasa langit)

Ibu kita adalah pah pina= n i (bumi ini)

 

 

XI. Pembersihan Gulma (Tof Honet).=

 

 

            = Pembersihan gulma (rumput muda dalam ladang) yang di dalam istilah bahasa Meto di sebut= Tof-Honet, dilaksanakan sesudah beberapa minggu kemudian setelah bertanam. Pelaksanaan= nya secara bergotong-royong, dengan masing-masing membawa bekal sendiri untuk m= akan beramai-ramai pada saat beristirahat.

 

            = Pada saat gotong royong membersihkan ladang, para petani melagukan lagu gotong royong dalam hal pembersihan gulma, yang berjudul: "Bi Koit-Salalei&qu= ot;.

Adapun ragam lagu gotong= royong perbersihkan gulma ini adalah sebagai berikut:

 

On biboki salalei ena ha= o sali bae

Eeeee ho ha ho hao, hoi = helo ate lo heolbai,

 

O an en bi leol ho aneon,

 

O heol es a ka koi, ana ena bai teo

 

 

Luka aka lum te skun.

 

Seperti Bi oti bersenandung, hai jiwaku,

Eeeeeee ho ha ho hao, ha= i budak helo benar adalah jago helo,

Aku telah memenangkan dan membawanya kawanku,

Helo yang satu bersusah hati, anak yang satu telah pergi,

lagunya pilukan hati tak terkatakan.

 

Lagu ini ingin mengungkapkan suatu kisah tentang kesedihan seorang ibu bernama Bi koti di mana pada waktu perang seorang anaknya yang dijagokan, t= elah tertangkap musuh dan dibawa pergi. Lalu seorang yang tertinggal, merasa bersedih hati, mendengar lagu ibunya, yang sangat memilukan hatinya. Agaknya wanita itu berasal daari suku Helong (Helo).

      &nb= sp;     Lagu ini sebenarnya bermaksud  memb= erikan motivasi kepada para petani untuk selalu berjuang, bekerja dengan penuh semangat, untuk memperoleh keberhasilan di dalam usahanya, sebagaimana pahl= awan yang telah  berjuang memenangk= an seorang budak. Apabila para petani bekerja dengan bermalas-malasan, maka kemiskinan yang akan memenangkan mereka dan mereka akan bersedih hati seper= ti Bikoti dan seorang anaknya.

 

XII. Pan= en (Sekit)

 

      &nb= sp;     Menurut ritus pertanian orang Timor, sekit atau panen terdiri dari dua (2) tahap, yaitu:

 

1. Panen muda atau  Makan makanan baru" (Mnah makuke')

2. Panen Umum (Sekit )

 

      &nb= sp;     Pen Sufa' (bunga jagung)

 

Amarasi

 

Sumber: Kefas Reinatti (92),Tesbatan Amarasi

      &nb= sp;       Zakhrias Abineno (82), tesbatan Am= arasi

       <= /span>       Boas Nitti (65),Tubaun Amaras= i

 

      &nb= sp;     Ritus ini dilakukan menjelang tun pen mate' (bakar jagung muda).  Menjelang hendak tun pen mate', si empunya kebun, dengan membawa 10-20 bulir pen mate' (jagung muda), datang memberitahu pada ama' dan aina' (ayah dan ibu), bahwa mereka bermaksud hend= ak tun pen mate'. Menurut penutur, kebiasaan ini dilakukan guna menghormati Ume mnasi' (rumah tua). Maksudnya tempat asal usul hasil. (band. kra'o di iko).

 

Ritus:

 

1.  Ayah mengambil satu himpunan pokok jagung, dicabut lengkap dengan akar-akarnya untuk dipersembahkan.

2.  Pen Sufa' (bunga jagung) dicelupkan dalam air yang telah disiapkan (dalam seruas bambu), lalu dipercik ke empat arah (neon saet=3Dmatahari naik; neon tes=3Dmatahari terbenam; po nain=3Dte= mpat yang luas; ha'nua;=3Dempat dan dua), sambil menyebut nama-nama si alamat, yaitu = semua orang tua dan saudara jauh dan dekat (seun ma tefan=3Dberkunjung dan bertem= u).

3.  Mengikatkan batang-batang jagung m= uda tadi pada pohon-pohon besar, meletakkan pada batu besar tertentu "mengirimkannya" ke alamatnya dengan menyebutkan nama-nama dimaks= ud (seun ma tefan). Misalnya,  "Neu Kopan tuan et nifu Haumoro" =3D kepada tuan Kopan di kolam Haumoro.

4.  Untuk Pen Sufa yang melibatkan banyak orang, dilibatkan meo (imam) dengan membawa daging persembahan ke Nifu (danau) Haumoro. Untuk ini onen (doa) akan dilakukan ol= eh meo. Dengan posisi berdiri, meo akan onen sesuai kra'o pen sufa (terlampir)= .

5.  "Memberi makan&qu= ot; alat-alat pertanian (parang tofa, parang, batu asahan,dll), serta alat-alat tenun, dengan jalan menggosokkan jagung-jagung tadi pada benda-benda terseb= ut.

6.  Air tadi dipercik juga ke kandang = (o'of) ternak-ternak.  Umumnya pada k= erbau, sapi. Secara khusus terhadap bi pure (kira-kira induk kerbau tertua), air dipercik/digosokkan pada fuf (kepala) dan resan/bokon (pantat dekat ekor), = lalu dipercik pada kerbau/sapi, ternak lainnya.

 

Pada waktu pemercikan pa= da "bi pure", diucapkan onen sbb:

 

Au uton ko bi pure, he tah fe'u nai

 

Mese' atoni in kisan in nakrabat

kaisa' mtanhai, kaisa' raksae

 

hem mtam he mureu' atoni in mnahat nok ho anah ho tipu

Nao te non koit, kais moik atoni in kisan in nakrabat.

 

Saya menyapa engkau, bi pure, agar marilah makan baru=

Tapi akan pagar dan perintang orang

Janganlah melanggar masuk, jangan melewati

Sehingga masuk dan merusak makanannya bersama anak-anakmu

Berjalanlah menghindar, jangan mengganggu pagar dan rintangannya.<= /o:p>

 

      &nb= sp;     Maksud kra'o ini, dari kata-katanya jelas, hendak meminta ternak-ternak agar tidak mengganggu atau merusak tanaman  atau pagar.

 

7. Catatan:

 

      &nb= sp;     a. Ritus ini biasanya dibuat sebelum panen, menjelang tun pen mate'.

Kira-kira bermakna syukur. Jelas bahwa syukur di sini bukan saja kepada Tuhan (itu yang biasa); tetapi juga kepada orang tua, saudara-saudara, term= asuk yang hadir; malah kepada ternak, alat pertanian yang dipakai, termasuk alat tenun (yang telah "berjasa") dalam mencapai hasil panen tsb.  Jadi arah syukur bukan saja vertik= al, tetapi juga horisontal.

      &nb= sp;     b. Pelaku upacara, bisa kepala rumah tangga (ayah), bisa meo.

      &nb= sp;     c. Air dalam potongan bambu itu berasal dari air hujan pertama, atau bisa juga= air dari oe re'u/nifu re'u (sungai atau kolam keramat tempat penyembahan).=

      &nb= sp;     d. Hanya bila sesudah ritus ini diadakan, barulah orang bisa tun pen mate' atau sek (panen jagung).

 

   &nb= sp;        Panen Jagung Muda dan Sayur Muda (Pen Makuke, Ut Makuke).

 

Mollo:

Istilah panen dalam bahasa Meto disebut "seki atau seik (=3Dpatah,= untuk jagung) dan honu atau lefi/leif (=3Dpotong, untuk padi). Namun dalam perist= ilahan untuk panen makanan muda, para petani selalu menggunakan istilah seki atau seik, karena pada umumnya orang memiliki ladang jagung dari pada ladang padi atau sawah.

      &nb= sp;     Kalau pada pembukaan ladang, penebasan, pembakaran, penanaman, semuanya dilakukan secara gotong royong dan bersama-sama, maka dalam panen jagung muda dan say= ur muda harus dilakukan secara serempak dan bersama-sama, melalui suatu acara ritual pula. Panen jagung muda dan sayur muda harus dengan restu dari Ana'a Tobe dan Pah tuaf. Jagung muda dan saayur muda dalam bahasa Meto disebut "pen makuke ma Ut (utan) makuke".

      &nb= sp;     Acara ritual dari panen jagung muda dan sayur muda adalah sebagai berikut:

 

      &nb= sp;     Apabila telah tiba saatnya, maka Ana'a Tobe, setelah mendapat restu dari Pah-tuaf, mengumumkan kepada semua petani, untuk membawa panenan baru, berupa: jagung, buah-buahan, ubi-ubian, sayur-mayur  dan juga hewan berupa ayam. Disamping itu mereka diwajibkan membawa lilin batangan, untuk masing-masing jenis tanaman dan hewan satu ba= tang lilin. Dalam bahasa Meto dik= atakan: "Mnahat huma mese, mu'it huma mese an mui kun in ninik ma in paku"= ;. Seluruh panenan baru itu dibawa ke rumah adat (ume mnasi). Untuk itu sebelumnya har= us mencari tahu seluruh keluarga yang berada di tempat yang jauh, yang bersama-sama memiliki Ume-mnasi yang satu, apakah tanaman mereka telah samp= ai saatnya untuk dipanen atau belum. Kalau semua telah memungkinkan, maka upac= ara ritual di Ume-mnasi, dapat dilakukan. Namun kalau belum, maka keluarga-kelu= arga itu, akan mengirimkan sebungkus biji asam, buah palm atau arbila, sebagai t= anda bahwa tanaman mereka belum tiba saatnya untuk dipanen dan karena itu meminta untuk ditangguhkan. apabila kondisi tidak memungkinkan untuk penangguhan, m= aka upacara ritual tu akan dilaksanakan dan tatacaranya adalah sebagai berikut.=

      &nb= sp;     Para petani membawa hasil panen baru berdiri dalam bentuk berbaris di depan rumah adat. Sementara itu Ana'a Tobe, telah bersiap dengan air pembasuh yang dise= but "Miut" di depan rumah adat pula, untuk membasuh panenan dan orang-orangnya. Pembasuhan ini dimaksudkan=   agar, hasil panenan itu tidak akan membawa panas ke dalam rumah adat, yang dapat menimbulkan sesuatu pencobaan apabila dimakan nanti.<= /span>

      &nb= sp;     Adapun air pembasuh itu berupa, mamahan sejenis tumbuhan, yang biasa disebut non-m= iut atau non-hainiki, bersama-sama dengan isi buah kelapa muda bahagian matanya, yang kemudian ditampung dalam tempurung kelapa atau di dalam tempayan buah kundur (fane boko) bersama air kelapanya. Kalau bukan tumbuhan yang disebut non-miut, maka akan dipakai kulit pohon yang disebut hainiki dan safe.=

      &nb= sp;     Hasil panen baru ini, dipercik dengan air pembasuh oleh Ana Tobe dengan tangannya atau dengan menggunakan dahan kayu kusambi atau trengguli. Pembasuhan itu disebut na miu sedang pembasuhannya disebut an pisi. Pembasuhan itu tan= pa disertai ungkapan kata apapun. Namun sementara responden, mengatakan bahwa pemercikan itu disertai ungkapan yang mengatakan: Saef ani maputu ma malala, hainik ani maputu ma malala, he kolo manu-nah, kaisa na pein in maputun in malalan, artinya: membasuh kehangatan dan kepanasan, mendinginkan kehangatan dan kepanasan, agar "burung-ayam" ( anak buah) memakannya jangan tertimpa kehangatan dan kepanasan.

            = Pembasuhan itu tidak dilakukan terhadap semua petani pembawa panen, tetapi hanya secara simbolis kepada orang yang terdepan dan yang lainnya dianggap telah ikut terbasuh. Jagung yang dibawa= h masuk ke rumah adat, dibawa serta dengan batang, bunga akar serta buler-bulernya.= Setelah pembasuhan, para pembawa hasil panen, dengan dituntun oleh Ana'a Tobe, mema= suki rumah adat, dengan berjalan berurutan, mengelilingi tiang-tiang rumah adat.= Setelah selesai mengelilingi, maka hasil panen ditumpukan ditengah rumah. Lilin-lil= in yang dibawah oleh para petani, dinyalakan mengelilingi tumpukan hasil panen sedang para petani duduk bersila mengelilinginya pula.

      &nb= sp;     Sesudah semua lilin dinyalakan, maka petani-petani yang mengalami serangan hama dim= inta untuk mengungkap hati, tentang sebab-musabab terserang hama (na keti). Sele= sai na keti, maka Ana'a Tobe, memberikan petuah dan nasehat, agar pada kesempat= an yang berikutnya jangan melakukan hal yang sama, agar tidak terkena laknat l= agi.

      &nb= sp;     Selanjutnya Ana'a Tobe, memberikan petuah dan nasehat, agar pada kesempatan berikutnya jangan melakukan hall yang sama, agar tidak terkena laknat lagi.

      &nb= sp;     Selanjutnya Ana'a Tobe menyisihkan hasil panen untuk nanti diantarkan ke Sonaf dari Pah-Tuah, berupa jagung, buah-buahan, sayur mayur dan lain-lain. Kemudian ia mengambil lagi satu buler jagung, dikeluarkan kelobotnya, lalu dibuatkan bu= bur bercampur beras, tomat, sipa dan kaemma'u (bayam berduri). Bubur itu disebut maka-sala. Setelah buburnya masak, didinginkan sebentar, lalu kepada semua petani dibagikan sesendok bubur ditelapak tangannya. Sambil menatang bubur = itu ditelapaktangannya, masing-masing merenung dan mengenang, biasanya terjadi keharuan dan cucuran air mata, karena dia segera akan menikmati berkat, sed= ang saudara-saudara belum belum bisa menikmatinya. Dalam bahasa Meto dikatakan:=

 

An poh makmakuke utmakuke,

Uisneno in manekan ma athoen,

Uispah in afan ma in balun,

nekan na unu, an kae ma namnau

in bia ma in benu leka noka,

natuin fe kan poh nan ma na'an,

Uisneno ma Uispah in manekan ma amnaun.

 

Peganglah anakan dan sayur muda

Berkat dan kelimpahan Tuhan Langit

Kegemukan dan kelimpahan Tuhan Bumi

Hatinya tergores, menangis dan mengingat

Kawan karibnya pada hari esok

Karena belum menggenggam dan memegang

Berkat yang dalam dari Tuhan Langit dan Tuhan Bumi.

 

      &nb= sp;     Bubur jagung itu kemudian dimakannya dalam suasan penuh keharuan dan isak tangis.= Kemudian Ana'a Tobe mengambil lagi satu buler jagung, dikeluarkan kelobotnya, lalu dibakar/dipanggang dan sesudah matang, jagung itu diedarkan kepada semua peserta, untuk  masing-masing memipil dua atau tiga biji jagung dari padanya lalu dimakan, sebagai tanda perjamuan makan bersama dengan semua petani, istri dan anak-anaknya.

      &nb= sp;     Bagi mereka yang tidak hadir pada saat itu, dikirimi dua atau tiga biji jagung bakar, yang dibungkus dengan kelobotnya, sebagai tanda pemberitahuan kepada mereka, bahwa di rumah adat (Ume mnasi), telah dilakukan upacara panen makanan  jagung dan sayur muda=   (penmakuke utmakuke). Keluarga-kel= uarga yang menerima kiriman itu, memberitahukan istri dan anak-anaknya, bahwa di rumah adat mereka, telah dilakukan upacara panen dan makan makanan muda sec= ara ritual. Pemberitahuan itu menimbulkan keharuan pula dan mencucurkan air matanya, karena dalam musim panen itu, mereka tidak daapat hadir bersama-sa= ma keluarganya yang lain, pada upacara di Ume-mnasi,  berhubung panen jagungnya belum ti= ba. Kiriman jagung bakar yang diterima, dibagikan kepada istri dan anak dan dimakan sec= ara simbolis, sebagai tanda persekutuan dengan keluarga di Ume-mnasi. Hal ini berlaku juga bagi istri dan anak-anak dari para petani yang hadir pada saat itu, tetapi mereka tidak sempat hadir.

      &nb= sp;     Untuk alat-alat pertanian seperti parang, kapak, linggis, pacul, periuk belanga, senduk, irus, nyiru tungku, piring puntung kayu api, kipas lampu, dan lain sebagainya dipergunakan pada saat upacara ritual panen makanan muda, diberitahukan pula dengan cara mengoleskan bubur jagung muda (maka sala) at= au mengucak sebuah biji jagung bakar pada peralatan itu, sebagai tanda bahwa a= lat itupun ikut menikmati penmakuke utmakuke. Hal ini dilakukan pula oelh para petani setelah kembali ke rumahnya pada seluruh sarana yang tidak dibawa se= rta saat upacara. Dalam bahasa Meto dikatakan: "An etun ma natonan fani-be= nas, na'i-pika, tunfa-pesee, nutpapaf ma aipapaf tuek-oek ma nai-oel, neu on nah= am niun makmakuke utmakuke".

      &nb= sp;     Jagung tersisa yang masih bertumpukkan di Ume-mnasi biasanya direbus (na'punef) dibakar/dipanggang (an tunu), dibuatkan bubur (na sala), lalu dimakan beramai-ramai di dalam rumah adat. Mereka yang jatahnya harus dibawah diser= tai dengan pesanan dari Ana'a Tobe yang berbunyi:

      &nb= sp;     "Poh-meki ma anpin nalali, ninik anpin nalali anbi ume-mnasi lopo mnasi, simom na taim puin-mese ma fua mese i, fain on atu ma muti, eut sam-tonas nah ma niun nai, Uisneno ma uispah in manekan ma amnaun. Rtun ma na tonan, na'i-fane, fani-benas, tunfa pese, nutpapaf ma aipapaf, nai-oel ma bian-bian hen nenat nahin natninat nahin, nok an meu, kaisan basan kais na seon kit". Makna ungkapan ini sbb:

      &nb= sp;     Genggam dan pegang, bawalah sebiji dan sebuler ini, beritahukan dan umumkan kepada = anak istri di rumah-rumah dan di tempat-tempat, tentang lampu telah menyala, lil= in telah menyala di rumah adat, terimalah dan sambutlah sebuler dan sebiji ini, sebagai coretan hitam di atas putih (pengumuman), makan dan minumlah berkat= dan pahala, Tuhan dan bumi. Beritahukan pula periuk belanga, parang kapak, tung= ku dan kipas, puntung kayu dan bekas api, periuk/kumbang air dan iar-air dan lain-lain, untuk mendengar dan mengetahui, besok dan lusa janganlah persoal= kan dan janganlah permasalahkan.

      &nb= sp;     Maksud pemberitahuan kepada semua sarana di atas adalah, supaya di dalam penggunaa= nnya di saat bekerja dia tidak akan cidera atau peralatannya tidak akan rusak. B= egitulah para petani di masa lalu, dengan segala budaya dan tatacaranya, menjalin su= atu persekutuan dengan Tuhan, alam sekitar, sarananya dan kebersamaan di antara mereka dalam dan melalui siklus dan ritus pertanian.

 

 

   &nb= sp;        Pemasukan Pal-Makuke, kepada Usif (Pah-Tuaf):

 

            = Setelah acara ritual di Ume-mnasi, maka jatah dari usif (Pah-Tuaf) disiapkan oleh A= na'a Tobe dan semua petani untuk diantarkan ke istana (sonaf). Mendahului pengantaran itu, maka diadakan suatu acara ritual bagi para petani yang dis= ebut "Anseif (sefi) ana-ana". Arti harafiahnya membuka anak buah, namu= n makna sebenarnya, mendorong dan memotivasi anak buah secara sakral untuk memiliki suatu sifat rajin bekerja. Untuk melakukan sefit, Ana'a Tobe memamah bebera= pa bahan berupa tumbuh-tumbuhan, bersama siri pinang, kemudian ditaruh di tela= pak tangan, lalu dipukulkan pada pangkal lengan (bahagian belakang) yang disebut nui-benan dengan ungkapan: "aef ko ma seif ko ho mepu mupnai ma makoe" artinya aku mengusap dan mendorong engkau untuk bekerja, selalu tangkas dan rajin.

            = Selesai pengusapan dan memotifasi oleh Ana'a Tobe, mereka membawa bal-makuke, bukae-makuke untuk  Pah-tuaf.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'>  Jagung yang dibawa dikat pada baha= gian tunggul dan puncaknya yang disebut "na ais haen ma pupun". Sebena= rnya ini adalah suatu ungkapan metafora (kiasan belaka), karena bukan diikat den= gan tali, melainkan digantungkan kain tenunan asli, atau uang perak seringgit. Antaran itu diserahkan  pada Pah-tuaf dengan ungkapan metafora (kiasan belaka), karena bukan diikat denn= gan tali, melainkan digantungkan kain tenunan asli, atau uang perak seringgit. Antaran itu diserahkan kepada Pah-Tuaf, dengan ungkapan:

            = "Afi bo' ma ambait ho fini ho bo'af, sium anam u taim an, u finib ma ukonob neu kolo-manu, tob ma tafa, an senan ma an bebin neu ho pah ma ho nifu, naifnan= ma fafnan namonib ma na tolob, kan haek-sona, panat lek-leko ma paloli lek-leok anfe infuan ma in nesaan, fuane lek-lekom a mas-masat, nesan lek-lekom a mas-masat, utnat eik in fuan, ut tnanab neu au sonaf au pano, ona bal-le'u bukae le'u, sium manam mu taiman, fo ma fainek ho kolo ho manu ho tob ho ta= fa". Maknanya adalah:

            = Dahulu engkau telah menyebar dan membagi bibit dan benihmu, aku telah menyambut dan menerimanya, meneruskan dan melanjutkannya kepada rakyat dan pengikutmu, te= lah menanamkan dan membenamkannya ke tanah air mu, ditatang dan dipangkunya, di= tumbuhkan dan dihidupkannya, tidak berdiri sendirian, tidak hidup  sendirian, kami telah menjaga dan<= span style=3D'mso-spacerun:yes'>  memeliharanya, telah memberi buah = dan isinya, buahnya sehat dan segar, isinya sehat dan segar, aku telah menatang= dan membawa isi dan buahnya, menghidangkannya ke istana dan kediamanmu, sebagai hidangan dan santapan, terimalah daan sambutlah, nasehatilah kami rakyat dan pendukungmu.

            = Di dalam pemasukan Bal-mauke bukae-makuke untuk Pah-tuaf, tidak hanya hasil pertanian, teteapi juga dengan hewan berupa babi, susu, madu dan kain tenun sebagai pelindung dan penaung, penatang dan pengalas.

            = Nasehat dan petuah dari Pah-tuaf, berintikan kepada pengelolaan alam lingkungan sec= ara bertangunggung jawab, dalam artinya jangan merusak alam lingkungan sesuka h= ati, menjaga kelestarian dan kelanggengannya.

 

 

        &= nbsp;   Pendinginan ternak (Hainik Muit/Busaan Mu'it):

 

            = Pengorbanan hewan dalam segala kegiatan ritual, menurut falsafah petani di Timor (Pah Meto), adalah bahagian keikutsertaan ternak/hewan di dalam usaha pertanian. Oleh karena itu, pada saat panenan baru, semua ternak harus ikut menikmati hasil usaha pertanian itu. Dalam bahasa adat Meto, hal itu dikatakan an hai= nik atau an busan mu'it, artinya pendinginan ternak. Kalau semua sarana pertani= an dan rumah tangga diberi makan, maka kepada ternakpun harus diberi makan.

            = Untuk pelaksanaannya pada Ana'a Tobe mengumumkan kepada semua pemilik ternak untuk mengumpulkan dan memasukan ternaknya (biasanya hanya ternak besar) ke dalam sebuah kandang, untuk didinginkan. Setiap pemilik hewan diwajibkan menimba = air sedikit dalam air dari lokasi di mana ternaknya merumput dan meminum air.

            = Selain air mereka membawa  juga hewan misalnya babi, jagung muda dan buah-buahan seperti semangka, ketimun, kelapa muda dan  lain-lain, dan alat-= alat pelaksanaannya persembahan berupa beras wangi, gelang perak, sirih pinang d= an ramuan  hainikit (pendinginan)= .

            = Acara ritual pendinginan, dilakukan dimuka pintu kandang yang biasanya disebut, "Mahine", pada sebuah batu yang tersedia sebagai altar persembaha= n.

            = Untuk pelaksanaannya, Ana'a Tobe meletakan gelang perak (nit bu'uf) di atas batu persembahan, membagikan beras  kepada para pemilik ternak, mencabut bulu ayam dari bahagian lehernya dan meletakan  di tengah gelan= g dan mengungkapkan doa (an a'/an onen). Sambil mengungkap doa, para pemegang ber= as membolak-balik beraas di telapak tangannya, sedang Ana'a Tobe membuang bera= s ke atas, samping kiri dan kanan dan juga di atas batu persembahan. Doa yang diungkapkan itu diarahkan kepada leluhur sebagai penyambung saura, kepada T= uhan dan kepada bumi. Ungkapan doa itu berbunyi:

 

 

        &= nbsp;   PENDINGINAN TERNAK (HAINIK MU'IT/ BUSAN MU'IT)

 

        &= nbsp;   (Menurut ungkapan dari Salmun Tunmuni di Nuapin).

 

Manamnes niet in au baba Tusala-Laome

      &nb= sp;     Tsun-Tunmuni,

Him te Uisneno in human in matan,

 

Hi es mifinib ma mikonob

Neu fufu ma mnasi a likin ma a pe'an

 

Neu a pakaet ma a moet, = aneot a hafot

 

Uisneno-mnanuf, a ne sit= ma afinit

Neu a aifat ma a fafat,a= haot ma a fatis

 

Uispah on pala ma paumaka, 

Bo-am ma am bati, mu pohot ma mu pala

 

Mu'it haemanu ma hae-kole,        =    

kue-kubu ma kue-pe'as, amnah hun ma amnah maka,     

Oelam hun, tilun ma hafo, 

 

Nati mi aib ma mi'lo'an maputu ma malala

Ala mainikin ma oetene  

Nah hun an pet ma namsen, niun oel ampet

ma namsen    

 

Loulbon ma an satbon, an pok ma na lul

Nati an meu ma an sine, hi sufam hi

ka'um     

Na pein be'it ma ma'tani  =

 

Sajian kakek-kakekku Tusala-Laome,Tsun-Tunmuni

Kamu telah berada di  depa= n dan di hadapan Tuhan

Kamulah yang meneruskan dan melanjutkan Kepada tetua dan leluhur, penur= un dan       p= enyebar

kepada pereka dan pencipta,pelindung dan penaung

Tuhan tertinggi teragung dan termulia

Kepada penatang dan  peman= gku, penyuapdan pemelihara

bumi sebagai yang terdekat dan terdepan

Memisah dan membagi menyerahkan dan menyampaikan

ternak berkaki tinggi dan berkaki pendek

berkuku tunggal dan berkuku genap, pemamah biak dan pemakan makanan

Sumber air dan padang rumput, tempat bernaung dan berlindung,

Kiranya singkirkan dan jauhkan, kehangatan dan kepanasan,

Hanya kesegaran dan kesejukkan,

Merumput kenyang dan puas meminum air dan puas,

Berkembang dan berbiak, gemuk dan tambun Agar besok dan lusa turunan dan buah bunga,

 

Mendapatkan kekuatan dan ketahanan.

 

      &nb= sp;     Setelah ungkapan doa Ana'a Tobe, maka hewan persembahan dibunuh, darahnya dicucurkan sedikit ke atas batu persembahan, hatinya dikeluarkan dan diperiksa oleh An= a'a Tobe, apakah membawa keberuntungan atau kemalangan. Kalau terdapat cacat at= au noktah, mereka melakukan na keti dan membunuh ayam ayam lagi untuk diperiksa hatinya. Pembunuhan ayam sebagai penutup jalan kemalangan. Kalau membawa keberuntungan, maka dipersiapkan air pendingin (oe hainikit) yang bahan-bahannya terdiri dari: Air dari berbagai sumber, air kelapa muda, dag= ing kelapa muda yang dimamah bersama safe hainikit, sail,petah (palm), akar pep= aya dan mentimun hutan (okleti/timobanef) daan dicampurkan di dalam tempayyan b= uah kundur (fane-boko). Kemudian semua hewan dipercik oleh Ana'a Tobe, dengan ungkapan kata-kata: saef ki ma hainik ki loulbom ma am saotbom, am pok ma mibaul, artinya air menyejukan dan mendinginkan kamu, meningkat dan bertamb= ah, gemuk dan tambun.

      &nb= sp;     Selesai pemercikan, maka seluruh pemilik ternak membagikan jagung muda, semangka, mentimun, pepaya, sirih dan pinang dihambur di tengah-tengah seluruh ternak untuk ikut memakannya. Sementara hewan-hewan itu makan, maka nafiri, seruli= ng (feku), siulan dibunyijan oleh para pemiliknya. Mendengar semua bunyi-bunyi= an itu, passti semua ternak akan berteriak, kerbau-kerbau akan menguak, sapi-s= api melangau, kuda meringkik, kambing mengembik.

      &nb= sp;     Upacara ini dihadiri oleh kaum lelaki dan wanita, sebagai tanda sukacita mereka den= gan ternak/hewannya, yang juga ikut menikmati makanan baru. Suasana yang mengharukan disertai cucuran air mata, adalah ketika semua alat pengumpul ternak (afiri seruling) dibunyikan, semua ternak menyambutnya dengan teriak= an menurut caranya dan nalurinya sendiri.

      &nb= sp;     Sehabis pendinginan, maka semua peserta upacara ritual  hainik Muit/Busaan Mu'it santap be= rsama di depan kandang dan selanjutnya membubarkan diri, membawwa ternaknya kemba= li ke padang penggembalaannya.

 

XIII. Pa= nen umum/Raya (Seik Honet)

 

   &nb= sp;        Seik Pena' (Panen jagung)

Mollo (F. Fobia)

 

      &nb= sp;     Setelah jagung umur panjang kering, maka akan diadakan kegiatan panen umum, yang da= lam istilah bahasa Meto disebut "Seik Honet". Untuk melakukan panen u= mum, tidak dilakukan lagi persembahan pada altar. Yang pertama kali dipanen, ada= lah empat pohon  jagung, yang pada= saat penanam ladang ditanam pada empat penjuru mata angin.

      &nb= sp;     Keempat pohon jagung itu dua buler diantaranya dipatah (an saki), lalu diikat bersama-sama dengan dahan turis, daun palam dan dahan sail dan disimmpan di tengah pondok di ladang, dimana hasil panen akan ditumpuk.

      &nb= sp;     Tali pengikatnya diambil dari hutan, yaitu satu jenis tali yang dalam bahasa Meto disebut "mausak", dengan maksud jagungnya akan menjadi jinak (an = maus ma anmanat). Jagung yang disimpan itu disebut sebagai pena-smanaf, sebagaim= ana telah disebutkan di muka.

      &nb= sp;     Selanjutnya dilakukan panen umum secara gotong royong, jagung ditumpuk bersama-sama ke = dua buler tadi dan tumpukan itu membukit. Panen dilakukan sampai sore hari. Pada malam hari mereka mengikat jagung itu menjadi berkas-berkas (aisat). Untuk mengikat tidak  tidak dilakukan secara sembarangan. Seorang yang dipandang tertua, naik ke atas tumpukan jagung, ia mengambil dan memberi kepada rekan-rekannya yang duduk berkelili= ng tumpukan jagung, untuk membersihkan dan mengikatnya menjadi berkas (aisat).= Satu aisat 12 buler, tetapi ada yang menggunakan istilah suku (36 buler). Mereka= juga memisahkan delapan buler jagung dari tiap petani, untuk nanti diikat dan dimasukan kepada Pah-Tuaf, sebagai pena-pupun, penguasa dan pembagi bibit. = Mereka memisahkan juga buler-buler yang besar dan bijinya gemuk, untuk nantinya di= kat berkasnya bercabang empat yang disebut nim-ha, sebagai bibit.

      &nb= sp;     Apabila di dalam mengikat, mereka melihat bahwa&nb= sp; jagungnya tidak bertambah, sesuai dengan perkiraan semula, maka mere= ka akan berhenti daan naketi untuk mencari tahu sebab musababnya. Apabila ditemukkan sebabnya, maka mereka melanjutkan pengikatan lagi.

      &nb= sp;     Setelah selesai panen jagung, maka kedua buler jagung yang disebut pena-smanaf, dii= kat dan sewaktu diangkut ke rumah masing-masing untuk menyimpan, maka kedua bul= er itu dinaikan terdahulu dan digantung dibubungan rumah.

 

Boti, Amanuban Timur

 

1. Mula-mula keduanya, s= uami istri menyiapkan seekor ayam betina muda dengan warna bulu kuning gading. L= agi pula mereka mengundang beberapa orang yang bersedia membantu mereka pada pekerjaan memanen hasil jagung itu. Mereka juga menyiapkan bakul kramat (kol le'u) untuk dibawa serta.

2. Pada waktu tiba di ke= bun, sang suami pergi ke bak-bak untuk melakukan ritus. Ayam tidak segera disembelih, tetapi sang suami datang ke bak-bak dan memegang salah satu bul= ir jagung di situ. Bila bulir jagung yang dipegang pertama ternyata tidak beri= si, atau berbiji sangat jarang, maka ia duduk dan berdoa. Dalam doa atau nyanyiannya, ia meminta melalui ayah tersebut supaya hasil kebun pada orang lain dapat berpindah masuk ke kebunnya dan mengisi bulir-bulir jagung yang tidak berisi. Setelah mengucapkan doanya barulah ayam tersebut disembelih di atas batu ceper di bak-bak itu.

            = Akan tetapi apabila bulir jagung y= ang dipegang pertama oleh sang suami itu berisi lebat,

 

 maka cara penyembe= lihan ayam itu dibatalkan. Sang suami akan mengikat satukan delapan rumpun jagung yang melingkupi bak-bak dengan tali yang disebut "nusan ma none" kemudian bunga ke delapan rumpun jagung itu diikat dengan tali yang disebut "ten" dan di atas bunga jagung yang diikat satukan itu ditancapkan satu tangkai duri pohon yang disebut "no tenu'". Setelah ke delap= an rumpun jagung itu diikat, maka sang suami mengambil bakul keramat (kol le'u) dan meletakkannya tepat di tengah lingkaran tanaman jagung itu. Baru kemudi= an mereka mulai memanen. Mereka berdiri dalam posisi berbanjar dengan jarak seorang kepada yang lain kurang lebih 3 m. Masing-masing memetik bulir yang= ada di hadapan dan di samping kiri kanannya. Bulir jagung yang telah dipetik itu dilemparkan ke belakang. Mereka maju selangkah demi selangkah dari salah sa= tu tepi ke tepi lainnya. Mereka berhenti memetik bila hari sudah petang.

Kemudian mereka mengangk= ut bulir-bulir jagung itu menuju bak-bak. Di sana mereka berdiri mengelilingi bak-bak itu. Empat orang diantara mereka mengambil empat bulir jagung terba= ik dari hasil panen tadi. Bulir-bulir jagung itu dilempar ke belakang secara serempak. Bagian yang disisihkan ke belakang itu diperuntukkan sebagai persembahan bagi roh-roh pada ke empat penjuru bumi. Mereka mulai memisahka= n bagian untuk pemilik kebun dan membersihkannya. Ada pula bulir jagung yang perlu dikuliti, sebab terlalu kecil atau tidak bisa dilihat karena besarnya. Bagi= an yang sudah dibersihkan dari bagian yang belum. Demikian seterusnya sampai semuanya habis dibersihkan.

Selanjutnya mereka berke= mas untuk mengangkut jagung itu ke pondok kebun yang telah dibuat untuk menampu= ng jagung yang belum diikat. Tetapi sebelum mengisi bakul- bakulnya, mereka kembali mengambil posisi melingkari bak-bak. Kemudian empat orang memegang = empat bulir jagung lagi masing-masing satu. Mereka melempar ke belakang untuk mem= ohon ijin untuk mulai mengangkut jagung-jagung itu ke pondok kebun itu.

Berikut mereka mengisi b= akul mereka sampai penuh. Kemudian menjinjing bakul-bakul itu menuju pondok di kebun. Mereka pergi pulang hingga tak satu bulir jagungpun yang tertinggal = dari bulir jagung yang sudah dipetik. "Pena' tulu'" (jagung yang telah dipersembahkan) juga dibawa ke rumah/pondok, tapi disimpan terpisah. Pena t= ulu itu akan diberikan kepada Pah tuaf saat sesudah jagung itu diangkut ke kamp= ung.

Mereka boleh kembali ke rumah, karena hari sudah malam. Dan esok hari b= oleh kembali untuk melanjutkan kegiatan memanen sampai selesai.

3. Setelah semua jagung di sekeliling kebun itu dipetik barulah diperbo= lehkan mengambil jagung dua belas rumpun di sekeliling bak-bak itu. Bulir-bulir ja= gung pada 12 rumpun jagung itu tidak boleh dilepaskan dari batangnya. Tapi bagian batang di dekat pangkal bulir jagung itu dibiarkan melekat dengan bulirnya = dan dibawa bersama ke pondok kebun. Di sana jagung bak-bak itu diikat menjadi s= atu, lalu dinaikkan ke atas loteng di rumah/pondok kebun, lebih tinggi tempatnya dari jagung pemilik petani itu.

 

Catatan:

 

- jagung belum diikat sampai semuanya dipetik. Setelah semua jagung ter= kumpul, barulah keluarga datang untuk membantu mengikat dan mengangkut ke rumah/kampung.

- Bakul keramat di tengah kebun baru dibawa pulang ke rumah setelah pan= en berakhir.

 

 

 

   &nb= sp;        Panen Padi (Hon Ane)

 

 

Mollo

 

      &nb= sp;     Khusus untuk panen padi ladang tata caranya agak berbeda sedikit  yang dapat diuraikan sebagai berik= ut:

      &nb= sp;     Dipungut lebih dahulu serumpun padi di tengah ladang oleh dua atau tiga wanita, lalu dibawa menuju pondok penampungan di ladang. Setelah  tiba di depan pondok, maka ada ibu= lain (yang tertua umurnya), bertanya dari dalam pondok:

 

Hi mi ko me?

Hai mi ko lilai.

Hi mekit sa?

Hai meik kanaf faun ma huma faun

 

Tam aim,au nahe kau, au olo kau.

 

 Kamu dari mana?                       &= nbsp;          

 Kami dari Lilai.        &= nbsp;     &n= bsp;            = ;           

 Kamu membawa apa?<= /p>

 Kami membawa delapan nama, delapan<= /p>

  jenis.

 Masuklah, akulah tikarnya= dan

  lumbungnya.  

 

      &nb= sp;     Padi yang dipungut dibawa masuk ke pondok, lalu diikat bersama-sama dengan seran= gkai pinang, seberkas daun sirih wangi (maun-mina). Jika perlu pinangnya adalah pinang wangi (pua-bonak). Padi bersama pinang dan sirih digantungkan di ten= gah ruang penumpukkan dan penampihan, yang disebut "slepe". Padi yang digantung di tengah slepe disebut "ane smanaf". Makna penggantung= an bersama sirih pinang adalah, bahwa antara pemungut dan padi mamah sirih pin= ang bersama, untuk terjalin suatu keakraban, yang dalam bahasa daerah disebut an mam ma na sbo. Tali pengikat padi dan pinang adalah mausak untuk menjadikan padi jinak (an maus ma an manat).

      &nb= sp;     Yang dimaksud dengan slepe, adalah suatu ruangan yang disediakan secara khusus di dalam pondok ladang, yang diberi pembatasan dengan daun-daun pohon trengguli (nikis), palam petno) dan daun sail.

      &nb= sp;     Setelah penggantunganbuler-buler padi (kalau ada beberapa jenis padi tiap-tiap satu buler), maka kegiatan pemanenan sudah dimulai. Tiap ibu pemanen, mengikatkan bakul kecilnya dipinggang, yang disebut "kun-apuf", lalu memanen = yang disebut an houn ane. Kalau kun-apuf seorang telah penuh, barulah secara bersama-sama mereka membawa dan menuang (na Lo'ap) ke dalam slepe. Di dalam slepe ada seorang ibu menerima untuk menuangkannya.

      &nb= sp;     Selama panen dilakukan, para pemanen tidak boleh diganggu karena itu merupakan sua= tu tabu, yaitu agar  arwah/jika p= adi tidak menghilang/melenyap. Mereka memanen sehari penuh, tanpa makan. Sesudah istrahat, barulah mereka makan bersama.

      &nb= sp;     Pada malam harinya,para ibu membersihkan padinya di dalam slepe. Untuk itu seora= ng ibu yang dipandang tertua, naik ke atas tumpukkan padi dan duduk di atas, sambil yang lain duduk mengelilingi tumpukan padi, memegang nyiru penampihn= ya. Ibu yang duduk di atas tumpukan padi, memamah sirih-pinang, kapur, bersama kulit buah palm, kulit sail, tunggul rumput ladang, untuk nantinya disumbur= kan kepada padi. Dengan kedua belah tangannya ia mencedok butiran padi, lalu dihempaskan kembali ketumpukkannya, diikuti semburan bahan-bahan yang dimamahnya. Cara itu dilakuk= an sebagai menyadarkan padi, memberi semangat untuk berisi penuh (an pul ma na helan ane hen sae).

      &nb= sp;     Apabila di dalam melakukan penampihan, lalu mereka melihat bahwa padinya sedikit di= banding dengan apa yang diperkirakan oleh mereka semula, maka mereka berhenti sejen= ak dan naketi untuk menemukan sebab musababnya.

      &nb= sp;     Para ibu yang menampih menyodorkan nyirunya kepadda ibu yang duduk di atas tumpu= kan utnuk mencedok dan membagikan padi untuk ditampih. Di dalam nyirunya selalu diisi dengan buah palam, dan sewaktu hendak menampih baru dikeluarkan.=

      &nb= sp;     Pada saat menampih mereka menyisihkan sedikit dalam suatu kotak yang disebut Taka untuk kemudian dihimpun dari semua petani, untuk dimasukan kepada pah-tuaf, sebagai anenakan, ane pupun. Demikianlah panen dan pembersihan dilakukan si= ang malam sampai selesai. Setelah selesai panen dilakukan hainikit atau pending= inan oleh Ana'a Tobe.

      &nb= sp;     Bahan-bahan untuk hainikit terdiri dari mamahan sirih-pinang, kulit safe dan kulit hainikit, ditaruh dalam tempurung kelapa atau tempayan buah kundur (fane bo= ko) diberi air pendingin, lalu dipercikan kepada padi dan jagung, denngan ungka= pan singkat: "hainiki-aen in maputu ma malala, saef aeen in maputu ma mala= la" (Kudinginkan panas dan teriknya, kubilas panas dan teriknya).

      &nb= sp;     Sebelum padi dan jagung diangkut ke rumah masing-masing, maka semua sampah berupa k= ulit jagung/kelobot, tangkai padi, ditertipkan dengan cara dihimpun dan dibungku= s, dengan daun keladi lalu digantung di atas pohon kanunak (nunbai) di kebun. = Mereka tidak membuang sembarangan untuk tidak disentuh oleh kuasa-kuasa gaib. Dalam bahasa adat dikatakan: Pena-klaof ane klaof, ma hika ma mapana, henati naika beol-fui an bet ma an kono met-fui naika bet ma an kono".

      &nb= sp;     Beol-fui dan met-fui, secara harafiah diartikan kera-hutan dan musang-hutan. Namun i= ni adalah suatu metafora bagi orang suanggi, iblis, para pencuri danpenjahat lainnya.

      &nb= sp;     Setelah penertiban segala sampah dan ladang, mereka ramah tamah makan bersama. Maka= nan mereka adalah semua jenis makanan yang ada di dalam ladang. Mereka makan  sambil bersenda gurau satu sama la= in, melumuri diri satu sama lain, dengan ubi rebus, labu rebus, nasi dan jagung, keladi dll, sebagai tanda sukacita atas keberhasilan yang dicapainya.<= /o:p>

      &nb= sp;     Selesai ramah  tamah makan bersama, se= mua hasil diangkut dengan kuda, dipikul dijunjung ke  rumah masing-masing.

 

XIV. Ritus-Ritus Pasca Panen=

 

        &= nbsp;   Mollo

 

            = Hasil panen yang diangkut ke rumah dimasukan ke lumbung (uem-bubu). Penyimpanan di lumbung inii disebut "habnini" atau "na hik ma na pan". Untuk penyimpanan di atas loteng rumah, adalah kaum ibu dibantu oleh anak wanita. Untuk penggantungan diasap api adalah kaum  bapak, dibantu oelh anak laki-laki. Pena-smanaf dan ane-smanaf, digantungkan dibubungan rumah sedang ane smanaf di taruh di atas bakul induk penyimpanan padi. Pena smanaf dan ane smanaf, tidak diperkenankan untuk  dimakan, walaupun ditimpa kekurang= an pangan, termasuk pula bibitnya.

      &nb= sp;     Pengawetan padi dan jagung di rumah, dengan cara pemanasan dengan asap api. Untuk itu selama beberapa bulan api di dalam rumah bulat tidak boleh mati. Kayu penga= sap dipakai kusambi, kesuari, kayu putih, dengan beberapa dedaunan yang dapat menghalau bubuk dan perusak lainnya.

      &nb= sp;     Yang berhak untuk mendistribusi makanan adalah ibu rumah tangga sendiri. Apabila= ibu hendak bepergian beberapa hari, maka ia menurunkan makanan bagi mereka yang tinggal di rumah. Tangga untuk naik ke loteng ditidurkan  di lantai dan tidak diperkenankan = bapak, anak, untuk boleh naik mengambil makanan di loteng atau di pengasapan. Apab= ila ibu pulang terlambat, maka yang tinggal harus meminjam dari tetangganya unt= uk makan atau mengambil makanan berupa ubi, pisang, kelapa di ladang.

      &nb= sp;     Sudah menjadi kebiasaan di antara mereka yang bertetangga untuk saling membantu apabila terjadi hal yang demikian. Namun untuk meminta dari tetangga harus dengan sepengetahuan suami dan istri.

      &nb= sp;     Dalam hal konsumsi, selalu ditekankan agar mereka selalu berhemat. Oleh karena it= u, sesudah panen, maka yang dimakan dahulu, adalah buler-buler yang kecil yang tidak bisa diikat untuk diasapi yang disebut "pena-knutu" dan "ane taom". Waktu makanpun harus dijaga agar makanan tidak boleh berjatuhan ke tanah. Waktu makan jangan dihabiskan yang ada di piring tetapi ditinggalkan sedikit untuk hewan piaraan seperti babai, ayam, itik, dll. Da= sar pikiran adalah untuk membagi rejeki bagi mereka, karena dengan kehadiran mereka, maka hidup mmanusia memiliki artii.

      &nb= sp;     Suatu tradisi yang berlaku di dalam masyarakat, ialah periuk, senduk, irus, yang selalu dipakai untuk kebutuhan memasak dan makan dari anggota keluarga, tid= ak boleh dipinjamkan kepada orang lain, harus periuk dan piring yang lain. Keb= iasaan lain lagi ialah, bapak diberi makan dahulu, barulah ibu bersama anak-anak. = Kalau bapak bepergian selama beberapa jam, maka makanan yang telah ditanak dalam periuk, tidak boleh disenduk untuk dimakan oleh ibu atau anak, mendahului bapak. Mereka harus mencari makanan kecil lainnya untuk dimakan sambil menanti  kembalinya bapak.

      &nb= sp;     Untuk makan sehidangan dengan bapak di rumah, jarang terjadi, atau dapat dikatakan tidak ada. Mungkin hal ini dipandang kurang sesuai dengan perkembangan-perkembangan pada masa sekarang.  Namun itulah latar belakang pemiki= ran masyarakat dahulu, di mana harus ada  penghargaan terhadap bapak sebagai pencari nafkah bagi semua.

      &nb= sp;     Dalam hal masak memasak, kebiasaan masyarakat pedesaan/pedalaman, rasanya kurang etis, kalau mencicipi masakan dengan irus atau senduk. Menurut mereka cukup dilihat kemudian dimasukan kembali keperiuk atau kuali.

      &nb= sp;     Sesudah makan, semua peralatan harus dicuci dan ditelungkupkan di atas para-para ya= ng disebut "tetu" atau "haklelo" dan tidak boleh dibiarkan= di atas tungku atau berserakan. Pandangan mereka bahwa merekapun akan cemburu karena dibiarkan dalam keadaan yang kotor. Bayangkan saja, pada saat makanan muda (pen makuke ut makuke), kepada semua peralatan kerja maupun dapur diberitahu untuk menerima makanan baru.

 

   &nb= sp;        Boti, Amanuban Timur.

 

 

I. Takbu' Pena' (mengikat jagung):

 

1. Pemilik jagung itulah yang harus pertama kali mengikat jagungnya. Ia mengikat delapan bulir lebih dahulu. Kedelapan bulir jagung itu diletakkan = pada tempat yang sudah disiapkan untuk menumpuk jagung yang sudah disiapkan untuk menumpuk jagung yang nanti diikat. Delapan bulir berikut ia iakt dan digant= ung pada langit-langit rumah tepat di atas tempat yang bakal menjadi tempat menumpuk jagung yang nanti diikat.

Perlakuan itu dimaksudkan untuk "mengikat jiwa" jagung milikn= ya agar tidak lari meninggalkan rumah pemiliknya.

 

2. Menjelang malam orang berbondong-bondong datang ke tempat itu untuk membantu mengikat jagung. Pemilik jagung menyambut mereka dengan menyuguhi "mamat" (pinang, sirih dan kapur). Sementara mereka makan sirih pinang, pemilik jagung mulai mengadakan pembagian tempat dan tugas. Ada masing-masing tempat untuk orang yang bertugas mengikat jagung, memangkas, = dan merangkai jagung yang sudah diikat. Masing-masing orang mengenal tempat dan tugasnya. Mereka mendapat peringatan agar tidak bertukar tempat dan tugas. Sebab hal itu akan membawa akibat buruk. Misalnya yang bersangkutan akan bu= ang air tanpa sadar di tempat duduknya.

Selama pekerjaan mengikat jagung itu berlangsung, dapat sampai pagi, me= reka menyanyikan lagu: Lesu Koa. Maksudnya supaya "jiwa" jagung itu ti= dak lari meninggal rumah pemiliknya. Dan pula dimaksudkan agar jiwa jagung dari tempat dan orang lain dapat berpindah masuk ke rumah di situ.

 

3. Sebelum jagung itu diangkut ke rumah , pemilik jagung itu mengambil beras dan menaburkan ke atas bak- bak sambil berbicara:

 

Neu au aina ma au be' sin et fatu bian ma           hau bian,

nati mpanat ma mpao au mnahat ma au mninut bi au lene i

henati kan saso ma anmo'a

Neu on tak namnin ma namtesen

 

Neu maut he mek mifani

hai fin le'u ma hai mak le'u

Hai mnao mleuk lanan te

kais anin in anfu ma kais atoni mfaun kiso maut

henati bi lanan ini mnanun

kolo ma manu kais an el ma tanhai

 

Maut munin ma muneoman

mna ma tuntaku lek-leko

 henati hai meki mani neu = in ume ma in lopo.

Bagi ba'i dan nenek sekalian di balik batu dan di balik kayu!

Kiranya kalian mengawasi dan menjaga makanan dan minumanku di kebunku i= ni

Agar tidak terkena bencana dan hama.

Dan dapat dikatakan telah mengering dan matang.

Sebab itu biarlah kami bawa kembali

Bibit terbaik dan padi terbaik

[Ketika] kami berjalan menyusuri perjalan

Janganlah angin meniup dan janganlah orang kebanyakan melihat

Biarlah supaya disepanjang perjalanan

Burung dan ayam tidak melompat melangakahi.

 

Kiranya engkau melindungi dan menaungi Pegang dan bimbinglah baik-baik =

Ketika kami bawa ke rumah dan loponya).

 

      &nb= sp;     Selesai berbicara demikian maka mereka berangkat pulang ke rumah. Kul le'u (bakul keramat) dan "Pena' nakaf" (bulir dari delapan rumpun jagung dari bak-bak) dijunjung. Mereka yang menjunjung kul le'u dan pena' nakaf berjala= n di depan.  Kemudian diikuti oleh = mereka yang memikul  jagung kebanyaka= n. Sedangkan jagung tanpa kulit (pen monas) diangkut kemudian. Setelah tiba di rumah "pena' nakaf" ditambah pada tempat yang lebih tinggi, tetapi tidak langsung ke loteng. Jagung lainnya disimpan, untuk sementara, di tanah/lantai.

 

II. Naikab pena (menyimpan jagung)

 

1. Pena' Nakaf dibawah dan dikumpulkan di lop nonoh.<= /p>

      &nb= sp;     Pena nakaf (pen nop ha') yang dipatah kemudian setelah dibawa sampai di rumah diikatsatukan lalu digantungkan dengan pen aisat yang telah dipotong dan di= ikat serta digantunng di rumah. Setelah semua jagung sudah diikat maka setiap or= ang atau rumah tangga, membawa pena' nakaf dan pena aisat pergi mengumpulkannya= di lop nonoh. Boleh juga membawa tambah jagung satu atau dua kuda dari yang te= lah diikat. Jika tidak membawa tambahan tidak diwajibkan.

      &nb= sp;     Pena' nakaf yang dikumpulkan  tidak diperbolehkan untuk dimakan oleh setiap orang yang mengumpulkan kecuali "apao nonoh". Pada waktu sudah berkumpul semua maka diadakan upac= ara. Dalam upacara tersebut doa ditujukan kepada bi kot natun (untuk  marga Solle). Apao lop nonoh berdo= a:

      &nb= sp;     Au eut ko natuin hom pao mam panat mani anbi po'an ma lene, (aku memaklumkan kepadamu sebab engkau telah menjaga di kebun dan diladang) fun amkifun mula= lien (engkau telah menaburkan), au ek bena ini nakan ane ini' nakan (saya membaw= akan hulu jagung dan hulu padi) ma ale mnahat mnahat ini nakan (dan segala hulu makanan), au om he nibun ubuaba ufani (saya datang menghimpannya kembali) a= nbi nonoh in un ai leu in un (dibawa nonoh dan di bawah le'u), ma meknom hempan= tam mam pao le hai mani anbi hai ume (yang menjaga dan melindungi yang ditingga= lkan di rumah) henati hai miaham minut kaisa nek ketu ma kasat (agar pada saat k= ami makan dan minum tidak membawa kutuk dan hukuman). Nati neki tetus ma aomina (tetapi membawa berkat dan kesembuhan), okat amsato maamlonu anbi nai' ma a= nbi fane'(kemudian menambahkan segalanya di dalam periuk dan di dalam kuali). N= ati hai miahat mimsenan ma ampet (agar kami puas dan kiyang dikala makan).=

      &nb= sp;     Setelah berdoa demikian apao leun membuang beras 7=   kali. Kemudian mulailah makan bersama-sama.

 

2. Naikab Pena (menyusun=   jagung)

 

            = Naikab Pena merupakan upacara keluarga untuk menyusun kembali hasil panen jagung ke atas loteng Ume Bubu' (rumah bulat). Upacara ini dilaksanakan sesudah pena nakaf untuk lop nonoh dikumpulkan.

 

Persiapan:

 

            = Pemilik jagung wajib menyiapkan seekor babi jantan atau betina dengan warna buluh h= itam dan kombinasi warna putih pada testanya "fun muti' pol in ilan koen&qu= ot;. Dan pula beras dan jagung. Sesudah persiapan ini rampung, maka pemilik kebun mendatangi Ana'mnes/Pah tuaf untuk menyampaikan undangan. Ana'mnes itu mengambil pula keping uang perak bergambar pria dan wanita yang biasa dipergunakan dalam upacara minta hujan untuk dibawa ke rumah pesta. Di rumah tempat upacara itu akan berlangsung, para wanita telah sibuk- sibuknya untuk memasak. Mereka menyembelih babi tersebut, tetapi mereka tidak memasak selu= ruh daging itu. Bagian lemak dan kulit dasri dagu sampai perut disisihkan dan d= imasak untuk keperluan lain.

 

Pelaksanaannya.

 

            = Ana'mnes menaruh keping uang perak tadi pada oko slo'i (sebuah kotak sirih). Kemudian ia mengambil satu jemputa= n beras dan menaburkan ke atas kotak sirih itu serta jagung. Lalu ia berkata-kata demikian:

 

Msium man mnesenu yo,

hai ena ma hai ama, hai be ma hai nai etun Uis Neno in human ma matan

Neu munin ma muneo ma muhaof hai bi lanan

 

Nahunun he miikab mani ma miloitan mani hai fin le'u ma hai kun le'u le= hao ma fait kai bi noka ma neon mabe;

 

le nhao ma fait kai bi tol buat he leko neu susal ai malinat maut =

te meki amfani tia in kuan ma bale na maut

 

he nati kais am polin ai= mlaken mes na maut

 

he nati mikesi lek-leok = ma mileoba lek-leok

 

Sambutlah beras kami yoo= oo..

Mama dan bapa kami nenek= dan ba'i kami di hadapan Tuhan langit dan mata-Nya

Sebab engkau melindungi dan menaungi kami dijalan

Sebelum kami menyusun dan mengatur bibit termulia dan bakul teragung ya= ng memberi kami makan dan memberi kami kenyang pada waktu pagi dan petang=

Pada segala pertemuan baik yang dukacita ataupun yang sukacita

Alhasil kami telah membawa pulang di kampung dan tempatnya

 janganlah kiranya membuan= g dan membiarkan

Tetapi biarlah kiranya kami menyimpan dan mengatur sebaik-baiknya<= /o:p>

 

      &nb= sp;     Berikut, pemilik jagung itu mengambil sebagian daging yang disebut "tain nonon", lalu mengiris- irisnya. Irisan daging itu disajikan di atas batu-batu ceper yang ada di sekitar rumahnya. Ketika semua batu telah mener= ima sajian itu, ia kemudian berdoa:

Neo yo....au ama au ena nok Uis Apinat,

 

Amnaifat, Afafat neu pah= pinan et ki fatu bian

ma hau bian.

Koenom em nai he tah tabua

ma tiun tabua natim hi nek mani kantalan

tia pena in punen te naleok

 

ma ukase te moni nok fua

ma boko mutis mani kan sin nok alekot.

 

Teruntuk...Bapa dan Ibuku dengan Tuhan Maha terang

Penaungku, penopang untuk bumi di balik kayu dan batu=

Datanglah supaya makan dan minum bersama

Supaya pengasihanmu sampai jagung berbulir baik

Dan papaya dapat berbunga dan berbuah

Dan labu terkumpul dan merambat dengan baik.

 

Setelah pemilik jagung memberi sajian kepada roh-roh nenek moyang barul= ah Ana'mnes dan para undangan/kleuarga dijemput untuk makan.

      &nb= sp;     Selanjutnya pemilik jagung itu menaikkan jagungnya ke loteng, dibantu oleh beberapa ora= ng dari antara yang hadir. Pertama-tama mereka menaikkan dan menyusun jagung y= ang disebut "pena' nakaf". Pena' nakaf dimuat di atas "pauf"= ;, yaitu tiang "karpus" yang menjulang ke bubungan rumah bulat.=

Kemudian ia mulai menyusun empat tumpukan jagung lagi tepat di atas masing-masing puncak ke empat tiang pada rumah bulat. Itu dimaksudkan untuk "menutup pintu" ke empat penjuru bumi sehingga tidak bakal ada ha= ma yang dapat merusak jagung di atas loteng itu. Berikut,jagung lainnya yang disebut "pen aof" dinaikkan dan disusun secara biasa. =

 

      &nb= sp;     Setelah semua jagung dinaikkan dan disusun pada tempatnya, maka sang istri naik ke loteng menyusul suaminya. Lalu sang suami menerima hidangan untuk istrinya = dari para pelayan di dalam rumah itu. Sang suami akan menyuapi si istri dengan hidangan itu. Tetapi sebelumnya sang suami berkata:

 

Au hao o ma au fait o yen mok hiti mnahat ma mninut feot nai le'u.

 

He nati ho mpet nai ma in te mes anpet ma namsen nai =

ma ha' fen ani he nati kaul he taiti ma tah nok te tiun nok,

kais in fain onle naem bi hit nopak.

Mes so mak nati "bi= Olo ma bi Ami" na loel    &nbs= p;  na'ko hit

ala na petas en an pau mak kit.

 

Saya telah memberi makan dan melayanimu       dengan makanan dan minuman wanita pujaanku

Kiranya dikau kenyang dan sampai saatnya ada kekenyangan

Dan saya memberatkannya agar saatnya makan dan minum,=

Maka perut tidak berisi anai-anai.

Oleh karena itu "Bi Olo dan Bi Ami" *menjauhkan diri dari kit= a

Dan hanya kekenyangan yang mendekat.

 

(*Olo ma Ami adalah nama dua bintang yang selalu bersisian pada peredarannya. Olo dipandang sebagai anak dari Ami sebagai ibu. Olo selalu mengikuti Ami sambil merengek minta makan. Bila anak-anak selalu menangis u= ntuk mendapatkan makanan, maka yang demikian dianggap mendapatkan pengaruh dari binantang Olo. Anak-anak yang demikian dapat mempermiskin orangtuanya.)

 

Selanjutnya ia menyuapi istrinya di atas loteng. Hidangan bagi istrinya berupa daging yang disebut "tain nonon" dan nasi yang dihidangkan= di atas sebuah nyiru. Memberi makan pada istri dipahami sama dengan memberi ma= kan pada jagung. Sehingga sebagaimana sang istri kenyang dan gemuk, demikian pu= la jagungnya tetap awet.

 

      &nb= sp;     Sebelum turun dari loteng, sang suami berkata-kata kepada jagung itu, sbb:

 

Neu miikab milail ko yen neu pah le'u ma lop le'u in tunan. =

Mantut hi Uis me ma hi tuame es le nuaki mamiah mibua ma mntok mibua. <= o:p>

Maut he nati kais misaitan eno neon saet, ma neon tes ai li ma ne'u

mes mpao ma mpanat man es le nahun un nafo, ai fufu ma bian-bian anten =

le he nah ma niun o

mes maut he nati eno mese es le fenai

le nah ma niun nabua nok o anbi pana in tunan i.


Ayolah menyimpan di atas= loteng dan lopo yang baik.

Menyapalah Tuhan dan tuanmu, yaitu duduk dan makan bersama

Kiranya pintu timur barat tidak ditinggalkan, atau kiri kanan

Supaya menunggu dan menjaga yang datang, berupa tikus dan fufuk dan lain-lain

Yang mau memakan dan meminummu

Tetapi biar satu pintu yaitu perempuan

Yang makan dan minum bersamamu diatas loteng ini.

 

Kemudian sang suami menu= runkan tangga loteng dan iapun turun. Lalu ia mempersilahkan istrinya untuk turun = dari loteng. Ia berkata: "om he hit tabua, te maut he in mes kun bi pana in tunan" (marilah kita bersama dan biarlah ia sendiri ada di atas loteng= itu . Kemudian sang suami mengangkat selempeng dinding bebak dan menutup pintu loteng sambil berkata:

 

Au u ek ko lek-leko.

Nati mutaunom lek-leko

meski ai ye nlal o

nait kais am el ma mu' lo

kalu pana napo kais am el ma mu'lo.

 

Kalu ho tuane kum te

musona lanan he nati naiti

ma mi'baina'ko fani mnahat ma mninut

neu he lasi leko ka ai lasi susat.

 

Saya menutupmu baik-baik.

Bertahanlah baik-baik.

Walaupun api memanggangmu

Jangan melompat dan menjauh

Jika loteng berbunyi jangan melompat dam        menjauh

Jika pemilikmu yang datang

Bukalah jalan agar dikau diambil

Di saat senang maupun di saat susah.

 

      &nb= sp;     Nasaeba' pena nakaf neu lop nonoh (mengemasi hulu jagung pada rumah marga).

 

 Amanuban Timur Utara.

 

      &nb= sp;     Jagung yang telah disimpan (nasaeba nalalien neu pana) tidak boleh diambil sebelum upacara nasaeba' pena nakaf neu lop nonoh. Untuk menunggu waktu upacara di = lop nonoh, maka pada waktu jagung dinaikkan ke atas loteng disisihkan beberapa = ikat bersama 'pena knutu (jagung kecil yang tidak diikat) agar makan sementara sambil menunggu upacara nasaeba' pena nakaf

 

      &nb= sp;     Setiap marga mempunyai lop nonoh tesendiri, karena itu jika jagung yang disisihkan untuk makan sebelum upacara nasaeba pena' nakaf sudah habis dimakan maka disampaikan kepada apao lop nonoh. Apao lop nonoh akan menyampaikan kepada setiap orang tentang  h= ari upacara nasaeba pena' nakaf.

            = Bila tiba waktu yang ditentukan maka setiap orang pergi dengan membawa satu ekor ayam dan makanan untuk upacara nasaeba pena' nakaf di lop nonoh. Sejumlah a= yam yang dibawa dipersembahkan kepada sejumlah arwah nenek moyang mereka (napal= a ai natokob neu ale sin be am ma sin nai ma neu Uisneno) ayam dibagi sesuai arw= ah-arwah yang dipercayai. Setelah pembagian ayam-ayam tersebut maka ayam dinaikan pa= da batu-batu sekeliling lop nonoh sesuai jumolah ayam. Lalu pemimpin (apao lop nonoh) mulai berdoa: ampoim amkumom anbi lenem asmio', ma intabun antiaen m= a in nenon antiean es hai mait in fufun ma ini' nakan ma mibuaba neu laeam onkolo hen tunon ma nahake neu hai pena' nakaf in belan, hai ane nakaf in balan.

            = Setelah itu pemimpin buanng beras (an okal mnes) dan ayam-ayam dipotong dan darahnya diteteskan ke atas batu-batu dimana ayam tadi ditujukan. SElanjutnya mulai masak dan makan bersama-sama. Dengan selesainya upacara di lop nonoh sudah selesai maka masing-masing boleh kembali ke rumah dan mengambil jagung yang disimpan di atas loteng untuk masak dan makan.

Sekembalinya sampai di r= umah bagi siapa yang mau berdoa lagi boleh berdoa tetapi dengan ketentuan setelah selesai berdoa okal amnes man lol manu. Tetapi jika tidak berdoa pun tidak mengapa karena sudah habis berdoa di lop nonoh.

            = Setelah orang boleh mengatur makan= annya sampai panen lagi. Jika belum sampai panen berikut tetapi jagung sudah tidak memungkinkan lagi, maka harus beli dari orang yang berada di mana saja untuk dimakan. Tetapi jagung tidak boleh diambil sampai habis dari pana. Harus ditinggalkan beberapa sampai panen tiba lagi. Lalu digeserkan dengan doa un= tuk menyimpan jagung yang baru itu.

 

 

   &nb= sp;        Hulu Hasil kepada Pah-Tuaf (Pena-pupun, Ane-Pupun).

 

        &= nbsp;   Mollo

 

            = Setelah semua panenan dan penyimpanan selesai, maka Ana'a Tobe mengumpulkan semua petani, untuk memasukan semua hulu hasil ke Pah-Tuaf yang disebut Pena-pupun ane pupun. Tiap petani hanya mengumpulkan jagung delapan buler  dan padi satu taka, yang disebut pen-puin fanu ane tak-ana. Jagung d= an padi ini sudah disisihkan sejak panen di kebun/ladang.

      &nb= sp;     Semua hulu hasil dihimpun di rumah Ana'a Tobe, untuk pengaturan pemasukannya. Buk= an hanya hulu hasil yang berasal dari koleksi para petani, tetapi juga hasil ladang dari Pah-Tuaf, yang lazimnya disebut etu. Hasil yang berasal dari etu biasa disebut ma= u-pena atau mau-ane.

      &nb= sp;     Untuk pemasukan hulu hasil, maka atoin ama mnasi atau Am-uf, harus masuk dahulu ke istana dan mempersiapkan segala  sesuatu untuk menerima hulu hasil. Sebagai contoh di Mutis untuk pemasukkan hulu hasil, Am-Uf, Tsun-Tunmuni harus masuk dahulu, kemudian bar= ulah Noel-Tapatab masuk membawa hasilnya.

      &nb= sp;     Hulu-hasil itu harus diberi aisan artinya tali pengikat. Namun ini adalah suatu kiasan/metafora, di mana yang disebut aisat bukanlah tali melainkan uang, sedang penatang dan penaungnya (neot hafot), berupa kain selimut. Disamping uang perak seketib, juga muti sebiji, ya= ng disebut lule-ani'te'i. Uang perak, muti dan uang perak. Selain hulu hasil, dibawa serta hewan dan kayu api, susu, madu, ubi, kacang, keladi dll.

            = Untuk memasukkannya, para wanita, menjunjung padi dengan bakul lebih dahulu, disu= sul kaum lelaki, memikul jagung dan hasilnya, bersama hewan, kayu api, madu dll. Setelah berada di depan istana, maka ada pemberitahuan dari pihak  pembawa kepada Usif (Pah-Tuaf) ber= sama Am-Uf, tentang maksud kedatangan mereka utnuk memasukan hulu-hasil. Selesai pemberitahuann dalam ungkapan Tonis/Takanab, maka Am-Uf akan membalasnya de= ngan pemberitahuan penerimaan. Untuk saling memberitahu selalu disertai dengan pengajuan oko-mama bersisi uang perak.

            = Setelah diterima, maka seluruh hulu hasil dimasukan ke dalam lumbung oleh para peta= ni, sedang Atoin Am-Uf, bersama Ana'a Tobe mengatur untuk mengadakan persembaha= n di batu berhala/persembahan dari Usif. Adapun isi doa yang dibawakan oleh Am-Uf Atau Ana'a Tobe, pada dasarnya hampir bersamaan dengan doa lainnya. Hanya ditekankan bahwa memasukan kembali bibit yang dahulu di terima dari Pah-Tua= f, agar pada musim tanam berikutnya mereka dapat menerima bibit dan benih lagi. Selesai doa diadakan pemeriksaan hati hewan persembahan.

            = Selesai melakukan persembahan, maka semua hulu-hasil ditertibkan oleh Am-Uf bersama rakyat di dalam Son-Bubu untuk pengawetan. Sehabis penyimpanan diadakan mak= an makan bersama atau dapat dikatakan pesta panen selama dua tiga hari, diserta tari-tarian gong dan giring-giring.

            = Sebelum mereka meninggalkan istana Pah-tuaf, maka kepada semua petani diberi petuah= dan nasehat oleh Pah-tuaf, tentang ketertiban hidup, pemeliharaan alam lingkung= an hidup agar memberi kehidupan kepada mereka dan anak cucu.

            = Selesai pemberian nasehat, para petani bersama Ana'a Tobe, pamit untuk pulang ke rumah-tangga masing-masing. Kendatipun demikian seringkali para petani diwajibkan untuk secara bergiliran, datang ke Sonaf untuk memasukan kayu api bagi pengawetan hulu hasil itu agar tidak menjadi rusak.

 

 

XV.&nb= sp; Ritus-Ritus Perlindungan=

 

        &= nbsp;   Penolakan Hama

 

        &= nbsp;   Mollo

 

            = Lazimnya pada bulan Pebruari atau permulaan Maret dapat terjadi serangan hama. Oleh karena itu para petani pada masa  lalau mengadakan acara ritual untuk mengeyahkan hama tanaman. Tataca= ranya sederhana dan tidak melakukan  penyembahan, tetapi hanya mengungkapkan masalah (naketi atau na'ho'e= ). Tatacaranya adalah sebagai berikut:

 

            = Para petani berkumpul di rumah tua adat atau Ana'a Tobe, dan berbicara mengungka= pkan masalah-masalah (naketi) yang dipandang menjadi sebab musabab timbulnya hama tanaman. Setiap masalah yang dipandang berbobot, dipilihnya sesuatu kotoran sebagai kiasan bagi kesalahan itu, dan dipilihnya kotoran itu dari dalam ru= mah. Kotoran itu diisi dalam ketupat-ketupat kecil, yang sudah dipersiapkan.  Tiap kotoran satu ketupat.  Ketupat-ketupat itu, kemudian diba= wa dan digantungkan pada suatu carang bambu duri dan ditancap di atas sebuah bukit. Carang bambu hutan/duri itu disebut kaka-sikif.  Penancapan bambu duri itu diikuti = dengan ungkapan mantera yang di dalam bahasa Meto disebut an ani-fu atau an noe-sa= in atau manahoi. An ani-fu artinya menerbangkan melalui angin, noe-sain artinya menghanyutkannya melalui sungai/kali dan manahoi artinya menguapkannya mela= lui panas matahari.

 

            = Adapun ungkapan mantera sebagai be= rikut:

 

 

Uisneno a neot ma a hafo= t, a pakaet ma a mo'et

Tuhan pelindung dan pena= ung, pereka dan pencipta.

 

 

Uispah amnaifat-afafat, = a haot ma a fais

Bumi penatang dan pemangku, penyuap dan pemelihara.

 

 

Mi ho hai nekam ma hai tenab

Mengungkap perasaan dan pikiran kami

 

 

Mi ho  hai fefam ma hai ha= nam

Mengungkap bicara dan bahasa kami

 

 

Neu moa ma a le'un, a tekun ma a sekun

Tentang hama dan perusak, penyamun dan penyerang

 

 

Na leu hai luat hai sanat

Merusak usaha dan tanaman kami

 

 

Mi hoe hai sanat ma hai penu  = ; 

Mengungkap salah kami dan dosa kami

 

 

Mi keti hai  sanat ma hai = penu

Mengakui salah kami dan dosa kami

 

 

Main sin ma mi'bua sin 

Memilihnya dan mengumpulkannya

 

 

Mi flol man sin ma mi'tu' man sin,

Mengurungnya dan menutupinya

 

 

Am bau meik sin ma am loi meik sin

Memikulnya dan membawanya

 

Mi' tuna sin ma mi' latan sin, &nb= sp;            =    

Meninggikannya dan melayangkannya,

 

 

Am ani-fu' sin ma am mana' hoi sin

Menerbangkannya dan menguapkannya

 

 

Anin an fu neki, ma manas na sun neki

Angin menerbankannya dan panas menguapkannya,

 

 

An kakam ma an seek  <= /o:p>

Pikun dan sesat,

 

 

Nam neku ma nam sab

Menghilang dan melenyap.

 

 

      &nb= sp;     Biasanya dalam perjalanan menuju ke bukit penggantungan ketupat, dibawa serta sehelai daun lidah buaya (casava), yang disebut ek-tani. Setelah ungkapan mantera, melangkahinya, kemudian berbalik dan memotong daun itu hanya sekali dan har= us putus, sebagai tanda menghalangi datangnya hama tanaman.<= /p>

 

Boti, Amanuban Timur.

 

PEN NO MOLO' (Jagung berdaun kuning)

 

Ritus pen no molo dilaks= anakan pada waktu daun jagung menguning karena hama. Ritus ini ditentukan dan dilaksanakan sendiri oleh keluarga pemilik kebun (suami istri).

Perlengkapan yang dibutu= hkan antara lain:

-sisa bibit jagung yang = disebut 'pen kuluf' yaitu bibit yang tidak habis ditanam.

-'Tuke yaitu tempat air = yang dibuat daru satu ruas bambu.

-Empat potong kayu yang sama ukurannya dengan jari tangan. Potongan-pot= ongan kayu itu diambil dari jenis pohon yang mereka sebut 'fni nao'.

 

Pelaksanaan:

 

- Sang istri menurunkan kembali sisa bibit jagung yang pernah ditaruh di loteng. Bibit jagung itu ditumbuk untuk melepaskan kulit bijinya (bose). Ja= gung tumbuk ("bose") itu dimasak tanpa dicampuri dengan sayur dan kacangan-kacangan. Lalu ia menuangkan airnya ke dalam tuke (satu ruas bambu).  Selanjutnya sang istri bersama suaminua berangkat ke ladang jagung.

- Setiba disana mereka m= enuju bak-bak', berdiri menghadap neon-saet (Timur). Berikut keempat potong kayu dimasukkan ke dlam tuke. Sambil memegang tuke ditangannya, petani itu mulai berbicara tumbuhan yang disebut "fni nao'". Keempat potongan kayu= itu dimasukkan ke dalam tuke. Kemudian ia berdiri di bak-bak dengan posisi menghadap ke Timur, lalu berbicara:

 

Koi mnahat ma mninut,

maut he antek ko nak nal le'u ko ma tol

      &nb= sp;     le'u ko.

Hai mait man ko ma mipoitan man ko

neu lene in usan

maniknet te nae le'uf le he nkubat ko,

manas te nae le'uf le he nhoi ko.

Namaut te mumenen ai maninien ma mu'nak      menen

Es nane te an ek ufani fenu pis es ai

      &nb= sp;     noah pis es

le nahum on mnahat ma mninut

es le' oe ne te au eki bi tuke I

le nteket nak pen kuluf in oen

 

Ya makanan dan minuman

Kami mengambilmu dan mengeluarkanmu

 

Dan membawa ke tengah kebun.

 

Biarlah kesejukan menutupimu,

Panas yang besar akan menghangatimu.

Biarlah sakit penyakit d= an kepala sakit

 

Dengan demikian saya membawa sepotong kemiri dan kelapa

Yang berupa makanan dan minuman

Yaitu air yang telah dib= awa dan tuke'

Dan disebut pen kuluf in= oen.

            = Setelah berkata-kata demikian, ia memasukkan tangannya ke dalam tuke, mengeluarkan = dan melemparkan potongan-potongan kayu tadi berturut-turut ke Timur, ke Barat, = ke Utara dan Selatan. Selesai melemparkan potongan-potongan kayu itu maka tuke= dan air bose diletakkan di bak-bak.  Kemudian mereka memalingkan muka dan menendang salah satu kakinya ke= belakang lalu kembali ke rumah tanpa menoleh ke belakang (ke kebunnya).

- Empat malam kemudian m= ereka kembali ke ladang untuk  meman= tau keadaan jagungnya di kebunnya. Ternyata jagung yang nyaris mati itu berubah menjadi sangat subur. Lalu mereka melua= pkan sukacitanya dengan menyanyikan lagu leso koa. Dalam sajak lagu itu mereka menyanjung kemekaran jagungnya. Kemudian mereka kembali ke rumah.

 

            = LESO KOA

 

_________    ^  @    _________    ^   _ _ @_ _

i   i   i . 3 6   6  5   6   5 . 3 1  3  3  3=   2  1 .

Le so koa   hoi  lo mo- lo  o -  ni   o-ni le su ko= a

        =          lo na  mu ti    su   susu le su koa

        =          na mu ti  tu -  na   tuna le su koa

 

    _________     ^   _  _=   _ _

3 . 5   6   5 .  3 1  3  3  3=   2  1.. 0

Koa no  ni lak   su   te le le su koa

 

 

 

   &nb= sp;        Ain Le'u (Angin Taufan)

 

Desa Oele'u, Kecamatan Amanuban Tenagah.

 

      &nb= sp;     Yang memutuskan untuk ritus ini dilakukan adalah 'len tuaf' (tuan kebun), yaitu apabila jagung atau tanaman dalam kebunnya terganggu oleh ain le'u.

      &nb= sp;     Dalam ritus pertanian orang Timor, mereka memahami adanya suat atau moa yang akan merusak atau mengganggu tanaman-tanaman di dalam kebun. Untuk mencegah kestabilan pertumbuhan tanaman biasanya mereka telah mengadakan upacara diw= aktu tanaman yaitu dengan mendirikan sebuah kayu di atas bak-bak dengan menaruh punuk dan rahang binatang. Tetapi upacara ini khusus hanya berlaku untuk je= nis gangguan berupa Moa (menyangkut subus, bebas hama, dan bebas dari gangguan binatang). Sedangkan gangguan alam tidak termasuk (upacaranya disesuaikan d= engan gejla alam). Tetapi terkadang angin juga digolongkan sebagai moa'. Karena i= tu upacara pemulihannya ada dua yaitu yang tidak membutuhkan korban binatang (untuk moa') dan  yang membutu= hkan korban binatang untuk 'suat, kecuali doanya sama.

      &nb= sp;     Apabila tanaman-tanaman dilanda ain le'u (angin taufan) maka ada usaha dari len tuaf melalui mnane untuk menolaknya dengan mengadakan upacara pemulihannya.=

      &nb= sp;     Caranya: mnane akan pergi ke kebun setibanya di ke kebun berdirilah di atas bak-bak = yang ada, lalu berusaha untuk menangkap selembar daun yang di tiup angin yang kebetulan berpapasan dengan tangannya. Setelah menangkapnya mengambil sebuah batu lalu menempatkan daun tadi di tanah kemudian menindisnya dengan batu t= adi di atas bak-bak di dalam kebun. Dengan maksud agar angin tidak lagi meniup = ke arah kebun atau mengganggu tanaman-tanaman lagi. Sebab angin sudah di tangk= ap dan dimasukkan kembali ke tempatnya yaitu di lobang batu.=

      &nb= sp;     Dengan cara demikian ternyata angin tidak berhenti juga maka perlu naketi dari len tuaf. Apabila len tuaf telah mendapatkan akar penyebabnya-'suat atau moa', yaitu suatu pelanggaran atau kelalaian yang dilakukannnya (misalnya bersina= h) maka cara penolkanan ain le'u tersebut membutuhkan korban binatang (yang ditentukan oleh mnane sesuai dengan permintaan pah tuaf (oleh karena sudah termasuk kategori 'suat) yang disertai dengan onen atau doa yang sama:=

 

Au pah au nifu au hau au fatu

Es le Mutis am Bab nain, Sanam Kua muke

 

Buit ek afu Mutis am Bab= nain, Sanam

            =  Kua muke

ona tia ta sanam ma bebien

U balba ma u loitan

on lo ma mamaun ta pani = ma mpaukmak

he ona toit nenu'lefa

es le lene maka tua a oe= n nok sufa' hauf

 

feto'li'mone, bie-bikase=

inuh noni nok niti ma bu= ku

pena punen ma boko fuan alekot.

 

Tanah airku, pohon dan batuku

Yaitu Mutis dan Bab nain, Sanam dan Kua muke

Menjemput tanah Mutis dan Bab nain, Sanam dan Kua muke

Dikala tiba maka menabur dan memanam

Menata dan membenahi

Sepertinya menjauh dan mendekat

Sepertinya memohon halangan dan rintangan

Yaitu kebun makanan, nira dan bunga tanaman

Perempuan-lelaki, sapi-kuda

muti-emas, gelang serta gelang besar

Bulir jagung dan buah labu yang baik.

 

      &nb= sp;     Di dalam ungkapan doa di atas di dahului atau yang disapa terdahulu adalah tem= pat dari mana ia berasal (faut kanaf) atau tempat asal aewah nenek moyangnya, y= ang dari padanya ia mendapatkan segala berkat. Untuk itu biasanya menyapa dengan Uis neon pala' sebab ia dipandang sebagai penyambung lidah atau penyalur doa kepada yang tertinggi yang tidak mampu mereka ungkapkan. Uis neon pala' juga dipandang sebagai am naiftam afafat (penatang dan pemangku) yang terdekat. Sebagai inti doa diatas adalah pena' funan ma boko fuan alekot (buler jagung dan buah jagung terbaik) maksudnya adalah hasil panen yang terbaik-jangan a= da gangguan terhadap tanaman-tanaman.

 

   &nb= sp;        Perlindungan Tanaman Umur Panjang (Banu Hau Mana):

 

      &nb= sp;     Selain dari pada masyarakat tani mengusahakan tanaman umur pendek, maka juga menan= am tanaman umur panjang misalnya: kelapa, pinang, nangka, mangga, jeruk, kopi = dan lain-lain. Tanaman umur panjang ini, lasimnya disebut "hau-mana". Agar tanaman umur panjang ini dapat dikecap hasilnya dengan baik, maka sesu= ai aturan adat, masuk kepada Pah Tuaf, untuk meyepati harinya, untuk bertemu dengan seluruh masyarakat di tempat di mana banu akan dinaikan.<= /span>

      &nb= sp;     Lalu Ana'a Tobe kembali dan menyampaikan pengumuman kepada seluruh masyarakat petani, untuk tepat pada waktuya semuanya berhimpun di tempat yang telah disepakati yaitu biasanya di tengah obyek tanaman umur panjang itu. Untuk i= tu Ana'a Tobe menetap/menunjuk salah seorang petani pemilik tanaman umur panja= ng, untuk membawa hewan berupa babi atau kambing untuk dipersembahkan. Bagi masyarakat lainnya diwajibkan mengumpulkan beras untuk setelah selesai upac= ara penaikan Banu, mereka boleh makan bersama.

      &nb= sp;     Tetapi pada waktu yang ditetapkan, maka dengan bunyi nafiri dan teriakan (koa) mer= eka semuanya (lelaki dan wanita), berkumpul di lokasi yang ditentukan. Pah-Tuaf dijemput oleh Ana'a Tobe bersama-sama menuju lokasi. Di tengah lokasi dibua= tkan altar persembahan untuk dilakukan acara ritualnya. Batu-batu untuk peyusunan altar dipilih dari dalam lokasi Banu. Kalau lokasi itu kebayakan adalah pin= ang dan kelapa, maka kadang-kadang disebut mama'.

   &nb= sp;        Ditempat itu dilakukan acara ritual persembahan yang dijalankan oleh Ana'a Tobe. Sebagaimana acara ritual lain, maka diletakan sebuah gelang atau muti, bulu hewan dicabut dan diletakan di tengah muti, b= eras wangi dibagikan kepada semua tetua, lalu doa diucapkan sebagai berikut:

 

 

        &= nbsp;   DOA PERLINDUNGAN TANAM= AN UMUR PANJANG (A'AT NEU HAU MANA):

 

 

Manamnes neit au baba Nai Nube Nai Sala

Him te Uisneno ina mau h= uman matan 

 

Fani hake Uisneno, lelu = Uisneno

Hi es mifinib ma mi konob 

Neu Uisneno-mnanuf afinit ma akonkot

On a pakaet a mo'et, a n= eot a hafot

 

Neu Uispah on pala ma paumaka 

Am mnaifat ma a fafat,a = haot ma a fatis

 

Neu fufu ma mnasi, alikin ma a pe'an

 

Bahan-Banobe, Mnanu-Tasekeb, Ufi-Neken

Nati an meu ma an sine, manas ma

faitnanas     

An mamun ma tainin, an molok ma namnais

Am pesbia ma pespanit, mu aib ma mu

klo'an      <= /span>

Ale moa ma a le'un a tekun ma a sekun

Nati ala kai ma lali kai,bifel ma atoni

Mi poeh au minan??? in a lekon  <= /span>

Sufa ka'uf an tamis in minan in a lekon

 

Mi klile in lilon ina takan 

Anbi aet-ana ate-naek,

pauk-ana paku naek    <= /span>

 

Terimalah sajian kakekku Nai Nube Nai Sala

Kamu telah tiba di depan dan di hadapan Tuhan,

Sebagai pengawal dan pesuruh Tuhan

Kamu yang meneruskan dan melanjutkan

Kepada Tuhan tertinggi dan termulia

Sebagai pereka, pencipta, pelindung dan pengayom

kepada bumi yang terdekat dan terdepan

Penatang dan pemangku, penyuap dan pemelihara

Kepada tetua dan leluhur, penurun dan penyebar

Bahan-Banobe, Mnanu-Tasekeb, Ufi-Neken

Jaga dan lindungi tanaman dan mamar kami

 

Aman dan tenang, menguning dan menua Sisihkan dan singkirkan jauhkan dan lontarkan

 

Segala hama dan perusak, penyamun dan penyerang

kiranya semua pria dan w= anita

Mendapatkan kelesatan da= n  kebaikannya Anak cucu merasakan ke= enakan dan       &nb= sp;            =     kebaikan

Tunjukan tanda dan isyaratnya,

Di dalam yang kecil dan besar,

panduan yang kecil dan yang besar.

 

      &nb= sp;     Selesai berdoa, maka hati hewan diperiksa untuk mengetahui apakah ada keberuntungan= dan kemalangannya.

      &nb= sp;     Selanjutnya diambil serangkai mayang kelapa dan mayang pinang, kayu  pentung, lalu diikat dan digantung= kan pada tempat yang strategis, dimana orang sering lalu lalang untuk melihatny= a. Hal yang sama  akan dilakukan pula= pada persimpangan jalan.

      &nb= sp;     Kemudian atas permintaan Ana'a Tobe, Pah-Tuaf menasehati seluruh warga, agar memperhatikan dan mentaati larangan yang telah ditetapkan agar jangan ada y= ang melakukan pelanggaran, karena akan ditimpa oleh kemalangan. Di dalam kesemp= atan itu, diumumkan pula sanksi apabila yang melanggar ketetapan itu, dikenakan sanksi berupa: menggantikan hewan yang dibantai dan menyiapkan hewan dan be= ras lagi untuk menegakan kembali tanda larangan itu. Biasanya kepala kerbau atau sapi atau babi yang dikorbankan dalam acara persembahan dipancangkan pula di lokasi Banu. Apabila hasil tanaman telah tua, maka Ana'a Tobe, akan memberitahukan Pah-Tuaf, untuk bersama-sama memetik buahnya. Acara ritual dilakukan lagi, dengan mendinginkan semua buah yang dipetik. Air pendingin dibuatkan dengan bahan-bahan yang sama seperti dikemukakan di atas.

 

   &nb= sp;        Perlindungan Hutan dan Margasatwa (Talas Nono Hau-ana ma Mui'fuij):

 

      &nb= sp;     Dari tutur bahasa para responden, dikemukakan bahwa dahulu kala, masyarakat hidup secara berpindah-pindah (nomaden) dari satu tempat ke tempat lain, dengan  berburu, dan meramu hasil hutan se= perti ubi-ubian (alukfuij, mael, bose), buah-buahan seperti sirikaya, buah dilak, kiti-kata, arbila, buah petai hitam, biji asam, buah palm dan lain-lain. Bi= natang buruan seperti rusa, babi hutan, kuskus, kera, musang, burung-burung, bebek, dan lain-lain.

      &nb= sp;     Di dalam berburu mereka memakai api sebagai alat penghalau binatang liar; seba= gai alat pembunuh, kayu pentung, batu, ali-ali, sumpit, jerat.

      &nb= sp;     Pada suatu ketika, wilayah perburuan dan peramuan hasil hutan semakin sempit dan terpaksa mereka tinggal menetap di suatu tempat. Mereka tidak hanya meremu = dan berburu tetapi juga memelihara lokasi perburuan yang ada termasuk hutan dan segala binatangnya. Pada saat itulah timbul aturan adat yang disebut= Tal Nono-hau-ana ma mui fuij.

            = Upacara ritual untuk penetapan sua= tu hutan perlindungan binatang seperti rusa dan babi  hutan, agak berbeda dengan perlind= ungan lebah-madu. Demikian pula untuk hasil hutan seperti cendana, kayu kuning, a= sam, lontar, gewang.

      &nb= sp;     Di bawah ini akan diberikan contoh tentang perlindungan lebah dan rusa.

 

Perlindungan lebah

 

      &nb= sp;     Suatu hutan bisa menjadi obyek kehidupan lebah, apabila di dalam hutan itu terdap= at pohon-pohon yang memungkinkan lebah dan menetap. Di samping itu harus ada kembang-kembang yang beraneka ragam, dimana lebah dapat mengisap madu untuk hidup.

      &nb= sp;     Namun demikian, apabila manusia melihat bahwa sesuatu lokasi dapat menjadi obyek kehidupan lebah, tetapi lebah tidak datang, maka secara sakral dan menurut budaya kehidupan lebah dapat diundang dari tempat lain, untuk dapat datang menetap pada lokasi itu. Hal ini  bisa terjadi, karena menurut kepercayaan, bahwa segala sesuatu yang hidup di alam ini saling berhubungan dan saling membutuhkan. Oleh karena itu dengan kepercayaan dan keyakinan itu, maka yang tidak ada bisa ada, asal de= ngan penuh kepercayaan kepada Tuhan Pencipta alam semesta, bumi dimana manusia di tatang dan dihidupkan. Perlu ada suatu hubungan dalam ruang hidup, dengan Tuhan, dengan alam, dengan sesama manusia, secara kasihi mengasihi. Tanpa i= tu maka apapun yang diinginkan pasti tidak&nb= sp; berhasil.

      &nb= sp;     Sebagai contoh dikemukakan tentang obyek perlindungan lebah yang dikelola oleh kelu= arga Fobia di Fabinesi. Tempat ini, dahulunya tidak ada lebah dan keluarga Fobia, memungut madu di wilayah Amfoang yaitu di tempat bernama: Ninjem Ni Penta'u, Kelbim-Oehab, Timom Bi Laenoni, yaitu dekat dengan Binafun. Sewaktu penetap= an batas Amfoang dan Mollo, terpaksa pemungutan disitu dihentikan dan ditukark= an dengan wilayah Febinesi yang menjorok masuk ke wilayah Mollo. Nama lokasinya disebut Fabem Binesi, Helim Tamainna, koelim ma Builulat. Pada mulanya lebah tidak hinggap di Fabinesi. Namun secara sakral, lebah dipanggil dari Amfoang untuk menetap di sana oleh para leluhur keluarga Fobia.

      &nb= sp;     Apabila keluarga Fobia, melihat bahwa kembang kayu putih telah ada, maka Ana'a Tobe yakni Neno Fobia alias Neon Koe, meninjau lokasi dan melakukan upacara penjemputana lebah untuk datang ke Fabinesi. di tempat yang bernama Fua-tun= an, dilakukan upacara ritual, dengan pengorbanan ayam berbulu kuning. Upacara i= ni untuk menghalau tabuhan sebagai  musuh dari lebah atau pemangsa (predator) lebah. Tabuhan dihalau per= gi dari lokasi Fabinesi dan tidak diperkenankan hidup di situ.

 

   &nb= sp;        DOA MENGHALAU KUMBANG DAN TABUHAN

   &nb= sp;        (Menurut keluarga Fobia)

 

Manamnes neit, au baba Nai Lelan Nai

Lelan Nai Ollin  

Nai lelan Nai Oba   <= o:p>

Him  te Uisneno ina mau hu= man ma

mau matan   

Ona hake Uisneno, ma lelu Uisneno

Hi es mifinib ma mikonob am talu

ma mi tutan    <= o:p>

Neu uisneno afinit a konot,

moenfam atonif  

keso ma luli

Neu uisneno, on pala ma paumaka,

amnaifat ma afafat

a haot ma a fatis  

Fabem Binesi, Helim Tamaina, Ko'e ma

Builulat   

Neu fufu ma mnasi, a tao= s ma a honit

a likin ma a pe'an 

Neki an meu ma an sine am nena ma

mutninkai   

Mu tetu ma ha'tain kai 

He nati mabun ma atfuan, a tekun ma

asekun    <= /o:p>

Pesbia on ma pes-paenton an helon ma

na aibon   

Ukbon ma an buabon anbi in kuna in

balan     <= o:p>

Nati Bi feot-obe koenon nem ma natel

nem

Na hake ma an ki, nauba ma na'puit

 

Nono ma hau-ana toenam ma tlaen

He nati Sufa-kauf, ta'o-= honi

Se' nanmau muti ma nak-muti

 

Oni ma min-minat, sisi a min-minat

Kalu in au baba nena ma mitnin kai

simom ma mi taim kai 

Mi ton in lilon ina takan anbi

pauk-ana paku naek.  =

 

Terimalah sajian kakekku Nai Lelan nai Ollin

 

Nai Lelan Nai Oba

Kamu telah berada di depan dan dihadapan Tuhan

sebagai pengawal dan pesuruh Tuhan

Kamulah yang  meneruskan d= an melanjutkan, menyambung dan menghubung.

Kepada Tuhan tertinggi d= an teragung, putera dan lelaki,

pahlawan dan perkasa

Kepada bumi yang terdeka= t dan terpandang, penatang dan pemangku

penyuap dan pemelihara

Fabem-Binesi, Helim-tamaina, Ko'e dan Bilulat

Kepada tetua dan leluhur, pencipta dan pelahir, penurun dan penyebar

Kiranya besok dan lusa dengarkan kami

 

Kuatkan dan kokohkanlah kami

Agar kumbang dan tabuhan penyamun dan penyerang

Meminggir dan menyamping, menarik diri dan menjauhkan diri,<= /span>

Mengurung diri dan mengekang diri di dalam sarang dan tempatnya

Agar Bi Feot-Obe terbang dan datang kemari

 

Betah  dan menetap, melipu= ti dan membungkus

Semak belukar sarang dan rantingnya

Agar anak-cucu, cici-cec= e

Merasakan sarang memutih dan kepala memutih

Madu yang lesat, daging yang lesat

Andaikata kakek-kakekku mendengarkan kami, menyambut dan menerima kami Tunjukan  tanda dan isyaratnya= di dalam panduan yang kecil dan  = besar.

 

      &nb= sp;     Setelah doa berakhir, maka hati ayam diperiksa dan bila membawa keuntungan, maka ku= mbang dan tabuhan disuruh pergi, meminggir dan menjauh, dengan suatu ungkapan man= tera tersendiri dan  bahan  tersendiri.

      &nb= sp;     Selanjutnya dilakukan lagi persembahan  de= ngan pengorbanan ayam hitam untuk masuknya lebah ke lokasi. Di dalam doanya dimi= nta untuk lebah dari Utara, Selatan, Timur dan Barat, beralih tempat ke  lokasi, menetap dan mencari hidup = di situ. Untuk penjemputannya dipanggil dengan mengebaskan kain hitam pekat (tai-metan), agar lebah yang hinggap menghitamm legam, menutupi semua pohon yang ada. Untuk betahnya lebah di lokasi digunakan lagi peralatan lain, dim= ana pintu masuknya kumbang dan tabuhan di sumbat, sedang pintu masuknya lebah dibuka. Di dalam alat tersebut dimasukan bahan-bahan pemikat lebah. Sebelum meninggalkan lokasi persembahan pasti lebah mulai mengerumuni pohon dan ada pula yang hinggap di lengan/tangan. Jika disuruh beralih maka mereka akan beralih.

      &nb= sp;     Kalau pada dulu persembahan untuk penjemputan lebah, hewan yang dikorbankan adalah kuda berwarna bulu hitam pekat, sedang beras digunakan untuk sajian adalah beras hitam.

      &nb= sp;     Apabila lebah mulai berdatangan, maka dipasang tanda larangan berupa puntung kayu a= pi, dan seberkas alat penghalau, digantungkan dekat To-oni (fua-tunan). Kemudian hewan korban kepalanya dipancang dekat Fua-oni.

      &nb= sp;     Apabila telah tiba masa panen,  maka dilakukan upacara ritual lagi, dimana diadakan pengorbanan hewan, para pemu= ngut madu didinginkan bersama peralatannya. Selesai pungut diadakan lagi upacara pengukuhan lebah pada lokasi (na saeb oni nisin).

 

 

Perlindungan binatang liar

 

      &nb= sp;     Untuk perlindungan binatang liar, tidak selamanya binatang itu berada di tempat dimana hendak dilindungi. Oleh karena itu, harus dijemput dari tempat lain.= Di tempat itu, dilakukan acara ritual secara perorangan oleh sipemikat. Ia harus meminta kepada penguasa wilayah dan itupun hanya disebutkan nama peng= uasa wilayah. Jadi tidak secara langsung berhadapan.

            = Biasanya yang diambil oleh pemikat adalah debu bekas kaki, kotorannya dan dibungkus dalam  suatu daun tertentu, dimasukkan dalam sarung dan dibawa pergi. Beberapa ekor yang diminta untuk beralih tempat, mereka akan menggiring dari belakang, anak-cucunya akan menyusul. Sebagai contoh bapa S.W. Sonba'i almarhum sewaktu menjemput rusa Fatumnutu dari Konbaki hanya berjumlah satu jantan dan dua betina dan menempatkannya di Puinjam. rusa tersebut telah berkembang sampai ratusan dan mungkin ribuan, yang telah membawa beliau pada kedudukan penerima Kalpataru dari Menteri Klh pertamakali di Nusa Tenggara Timur.

 

        &= nbsp;  

Lamp. 1. Catatan-Catatan tentang Iklim<= /span>

 

 

        &= nbsp;   1.  Hujan (Ulan)

  <= /o:p>

      &nb= sp;     Di dalam istilah bahasa Meto, hujan disebut ulan.  Ketika ditanyakan pada responden t= entang mengapa ada hujan, mereka menjelaskan bahwa, kalau di bumi ada sungai, maka= di langitpun ada sungai. Sungai yang terdapat di bumi disebut 'noel', tetapi n= ama selengkapnya adalah 'noepah'. Sedang sungai yang berada di langit itu sering disebut 'noeneno'.

      &nb= sp;     Ketika ditanyakan bagaimana utnuk mengetahui bahwa di langit ada sungai, dijelaskan bahwa, perhatikanlah dan dengarkan sendiri gemuruh sungai langit, pada saat hujan hendak turun. Di langit terjadi banjir yang meluap, dan luapannya ke = bumi itulah yang disebut hujan (na ul atau na kaul).

      &nb= sp;     Dijelaskan lagi bahwa antara noeneno dan noepah ada suatu hubungan saling memberi.  Dalam bahasa Meto  dikatakan: "Maputu an toman n= oepah in nafum ma anfae onan fe neu noeneno, manikin an toman noeneno in an mouf = on an fe neu noepah"  (Panas matahari memanasi noepah (termasuk juga laut), menguap dan memberi kepada noeneno, dingin menimpa noeneno, menetes dan memberi kepada noepah.) <= /o:p>

 

Mollo (F. Fobia)

 

Ul-Kekpe'as.

Ul-Kekpe'as atau ada yang menyebutnya ul-sab pe'as adalah hujan yang turun pada saat akan berakhirnya musim kemarau, yaitu pada sekitar pertengahan bulan Oktober.  Hujan ini dinamakan demikian karen= a dari curahnya hujan ini, terjadi pengikisan permukaan tanah, serta menutupi peca= han tanah, yang terjadi akibat panas terik pada musim kemarau. Ul-Kekpe'as, han= ya curah selama sehari-dua dan kemudian berhenti lagi. Oleh karena itu para pe= tani kurang memanfaatkannya untuk menanam ladang.

 

Ul-Sanu (Ul-Ton).

Ul-Sanu atau Ul-Ton, ada= lah hujan yang tercurah di sekitar bulan Oktober sampai dengan permulaan Nopemb= er. Hujan ini tercurah beruntun selama seminggu atau lebih. Kalau hujan ini tidak  tercurah, maka saat ini= lah mereka mengadakan acara ritual meminta hujan di atas gunung Mutis. Curahnya Ul-Sanu dimanfaatkan dengan baik untuk menanam ladang dengan bibit tanaman, seperti jagung, padi ladang, kacang, ubi-ubian, labu, papaya, semangka, mentimun dan lain-lain. Untuk mengetahui tentang saat turunnya Ul-Sanu, para petani memperhatikan tanda-tanda alam baik yang berada di langit maupun yang berada di bumi misalnya: bulan, bintang, matahari. Yang berada di bumi dari tumbuhan misalnya: kayu putih dan ampupu, yang daunnya telah berganti dan s= udah menghijau, bunga lidah buaya (casava) atau yang disebut ek-tani, di mana cabang-cabangnya telah menyruk seakan-akan meminta sesuatu dari langit. Dari binatang misalnya, mereka memperhatikan siulnya burung atau kicaunya burung= yang disebut kol-oel, teriaknya katak-katak dirumpun pisang dan lain-lain. Ada y= ang memperhatikan titik-titik air yang melekat di pinggiran botol yang terisi a= ir (air diisi setengah botol).  B= otol ditempatkan di depan rumah, sehingga dengan memperhatikan titik air itu mer= eka dapat menentukan akan hujan dan perlu membawa payung atau tidak.

 

Ul-Tofas.

Hujan ini tercurah pada = waktu orang membersihkan gulma yang tumbuh dalam ladang. Curahnya hujan ini sesek= ali dalam seminggu, sehingga memberi kemungkinan untuk bertumbuhnya tanaman yang telah dibersihkan.

 

Ul-Napu.

Hujan ini tercurah sesud= ah membersihkan ladang, yaitu sekitar akhir bulan Januari dan permulaan bulan Pebruari. Ul-Napu tercurah terus-menerus diselingi angin topan, yang dapat merusak tanaman petani. Pada saat curahnya hujan tersebut, maka jagung beru= mur pendek telah tua dan dapat dipungut. Karena curahnya hujan ini secara terus-menerus, maka ada tabu yang berlaku di masyarakat untuk tidak boleh bersiul, berteriak, memotong pohon, mencakul tanah dll. Buah-buahan yang gu= gur akibat angin topan, tidak diperkenankan untuk dipungut dan dimakan atau dij= ual, karena angin topan dapat merusak lebih bayak tanaman, hewan dan juga bangun= an rumah.

 

Ul-penasmala.

Hujan ini tercurah pada = saat jagung umur panjang telah berbunga.  Hujan ini kadangkala bervariasi, yakni datang rintik-rintik atau den= gan angin topan.  Apabila curahnya dengan angin topan, maka biasanya para&nbs= p; petani akan berasumsi bahwa panennya pasti akan berkurang, karena jagungnya banyak yang tumbang.  Kalau kondisinya demikian, maka mereka bersiap untuk mencakul tanah untuk menanam ubi-ubian, kacang-kacangan.

 

Ul-pena naes.

Hujan ini tercurah pada = saat jagung umur panjang mulai matang atau disebut na'bikmol.  Di saat itu mereka mulai menjaga ladangnya dari serangan kera, burung, tikus dll. Hujan ini turun sekitar pertengahan bulan Pebruari dan permulaan Maret. Lazimnya pada saat itu terj= adi serangan hama. Oleh karena itu para petani pada masa  lalau mengadakan acara ritual untuk mengeyahkan hama tanaman. Tatacaranya sederhana dan tidak melakukan  penyembahan, tetapi hanya mengungk= apkan masalah (naketi atau na'ho'e). Tatacaranya adalah sebagai berikut:

            = Para petani berkumpul di rumah tua adat atau Ana'a Tobe, dan berbicara mengungka= pkan masalah-masalah (naketi) yang dipandang menjadi sebab musabab timbulnya hama tanaman. Setiap masalah yang dipandang berbobot, dipilihnya sesuatu kotoran sebagai kiasan bagi kesalahan itu, dan dipilihnya kotoran itu dari dalam ru= mah. Kotoran itu diisi dalam ketupat-ketupat kecil, yang sudah dipersiapkan.  Tiap kotoran satu ketupat.  Ketupat-ketupat itu, kemudian diba= wa dan digantungkan pada suatu carang bambu duri dan ditancap di atas sebuah bukit. Carang bambu hutan/duri itu disebut kaka-sikif.  Penancapan bambu duri itu diikuti = dengan ungkapan mantera yang di dalam bahasa Meto disebut an ani-fu atau an noe-sa= in atau manahoi. An ani-fu artinya menerbangkan melalui angin, noe-sain artinya menghanyutkannya melalui sungai/kali dan manahoi artinya menguapkannya mela= lui panas matahari.

 

            = Adapun ungkapan mantera sebagai be= rikut:

 

 

Uisneno a neot ma a hafo= t, a pakaet ma a mo'et

Tuhan pelindung dan pena= ung, pereka dan pencipta.

 

 

Uispah amnaifat-afafat, = a haot ma a fais

Bumi penatang dan pemangku, penyuap dan pemelihara.

 

 

Mi ho hai nekam ma hai tenab

Mengungkap perasaan dan pikiran kami

 

 

Mi ho  hai fefam ma hai ha= nam

Mengungkap bicara dan bahasa kami

 

 

Neu moa ma a le'un, a tekun ma a sekun

Tentang hama dan perusak, penyamun dan penyerang

 

 

Na leu hai luat hai sanat

Merusak usaha dan tanaman kami

 

 

Mi hoe hai sanat ma hai penu  = ; 

Mengungkap salah kami dan dosa kami

 

 

Mi keti hai  sanat ma hai = penu

Mengakui salah kami dan dosa kami

 

 

Main sin ma mi'bua sin 

Memilihnya dan mengumpulkannya

 

 

Mi flol man sin ma mi'tu' man sin,

Mengurungnya dan menutupinya

 

 

Am bau meik sin ma am loi meik sin

Memikulnya dan membawanya

 

 

Mi' tuna sin ma mi' latan sin, &nb= sp;            =    

Meninggikannya dan melayangkannya,

 

 

Am ani-fu' sin ma am mana' hoi sin

Menerbangkannya dan menguapkannya

 

 

Anin an fu neki, ma manas na sun neki

Angin menerbankannya dan panas menguapkannya,

 

 

An kakam ma an seek  <= /o:p>

Pikun dan sesat,

 

 

Nam neku ma nam sab

Menghilang dan melenyap.

 

 

      &nb= sp;     Biasanya dalam perjalanan menuju ke bukit penggantungan ketupat, dibawa serta sehelai daun lidah buaya (casava), yang disebut ek-tani. Setelah ungkapan mantera, melangkahinya, kemudian berbalik dan memotong daun itu hanya sekali dan har= us putus, sebagai tanda menghalangi datangnya hama tanaman.<= /p>

 

Ul-Penpunu.

Hujan ini tercurah pada saat jagung umur panjang sudah kering, yang dap= at menyebabkan jagung menjadi berjamur apabila terlambat dipungut oleh petani.  Hujan ini tercurah pa= da sekitar akhir bulan Maret.

 

Ul-Kaba.

Ul-Kaba adalah yang disebut dengan ul-neonsaet, yaitu hujan yang berasal dari Timur. Menjelang tercurahnya hujan ini, maka para petani biasanya membersihkan ladang untuk menanaminya dengan bawang, kentang, ketumbar, kac= ang dll. Curah hujan ini kadangkala dibedakan lagi atas Ul-Kaba fua naek, yang datangnya pada bulan Mei dan Ul-Kaba fua mnutu yang datangnya pada bulan Ju= ni dan Juli. Suhu udara pada musim curahnya Ul-Kaba, biasanya menurun pada tempat-tempat yang tinggi yaitu antara 10-14 (derajat celsius).<= /span>

 

Ul-upsufa/kaen sufa/nen sufa.

Hujan ini tercurah pada pertengahan bulan Juli, di mana pada saat itu p= ohon mangga, turi, dedap dan kapuk, mulai berbunga.

 

Ul-taikleti.

Ul-Taikleti atau ada yang menyebutnya ul-po'at, adalah hujan yang curah= nya sebentar-sebentar berhenti dan berpindah-pindah tempat, di mana tempat-temp= at itu jaraknya tidak seberapa jauh.

 

Ul-Aobiaf.

 

      &nb= sp;     Hujan ini tercurah  tetapi panas mat= ahari pun tetap ada. Menurut para responden, kalau ada hujan yang tercurah dengan cahaya matahari, maka akan ada orang yang menduda atau menjanda, karena kepulangan kekasihnya. Di pihak  lain, seorang pembesar akan mangkat, di tempat dimana hujan dan panas berada.

 

Ul-Kako.

 

      &nb= sp;     Bersamaan dengan tercurahnya hujan, nampak pula adanya pelangi di angkasa. Menurut pa= ra orang tua, tercurahnya hujan dengan munculnya pelangi, akan menyebabkan ban= yak ternak yang akan mati ditimpa penyakit.

 

Amanuban Selatan (Y.Tahun)

 

        =     Atoni meto (orang Timor) di Timor Tengah Selatan (TTS)-bagian Amanub= an mengenal musim hujan ada 2 macam yaitu :

 

Ul ton / ul neon tes. 

            = Hujan akan datang dari arah Barat, dimana dengan datngnya hujan tersebut berarti sudah mendekat saatnya untuk kita menanam jagung.

 

Ul tasi / ul neonsaet

        =     Saat ini hujan akan datang dari arah Timur atau dari laut (pantai Ti= mur) dan datangnya pada saat jagung sudah mulai berbunga. Jika hujan itu datang = pada saat jagung berbunga berarti ada kepastian untuk panen yang cukup.

 

Untuk menandai datang Ul= -ton/ul neon tes (hujan Barat) maka ada beberapa ekor burung yang akan berteriak dan memberi tanda akan kehadiran hujan tersebut yaitu :

 

            =         &= nbsp;  Kolo Totiu. Jika burung ini berteriak menandakan bahwa semua petani harus segera menyiapkan kebun karena musim hujan sudah mulai mendekat (beno 'teme 'taon)= .

            =

            =         &= nbsp;  Kolo Ton.  Kicauan burung ini merup= akan pembawa berita tentang hujan yang sudah pasti akan datang dan petani siap u= ntuk menanam (haef natfek).

 

            =         &= nbsp;  Kolo lenfafi.  Burung ini memberi t= anda bahwa saatnya sudah tiba untuk semua petani menanam jagung di semua lahan y= ang sudah disiapkan.

 

            =         &= nbsp;  Kolo Ponofleo.  Dengan kicauan buru= ng ini berarti hujan datang tak henti-hentinya untuk menyirami tanaman yang sudah = ada dan  pada saat yang demikian p= etani tidak bisa menanam jagung lagi/waktu tanam telah berakhir.  Hujan ini pun memberi tanda bahwa = hujan sudah harus kembali ke tempat asalnya (ulan he nfain kotien). Jika burung  Ponofleo ini berteriak dan datang = hujan lebat kemudian mereda, maka setelah beberapa hari kemudian para orang tua a= kan berkumpul dan mengungkapkan kata-kata sebagai berikut :

 

 

 

Ton anfain kotien et in un

mes antia in tabu in leku

in mes nema nao

kolo totiu, kol ton, lenfafi

ma ponofleo in hanan in hunun.

 

Tahun (waktu/musim/hujan) telah kembali ke pohon asalnya

namun pada saatnya nanti

ia akan datang kembali lewat suara

burung totiu, kol ton, lenfafi

dan suara burung ponofleo.

 

 

 

Dari dua macam hujan (ulan/ul) di atas , masyarakat/penduduk masih membedakan curah hujan sesuai dengan kondisi saat curah hujan (ulan/ul)  dalam beberapa macam sebagai berik= ut :

 

Ul  Boto Skuku'

Hujan yang datangnya dari arah Barat&n= bsp; sekitar pertengahan bulan Oktober. Datangnya hujan ini cukup deras, tetapi hanya untuk memadatkan debu-debu tanah, dan menutupi tanah yang pecah-pecah akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Hujan ini tidak dimanfaatkan untuk menanam, karena datangnya deras namun hanya sebentar sehingga  disebut sebagai &quo= t;ul boto skuku'" (hujan pemadat debu).

 

Ul Ton

Hujan inipun datangnya dari arah Barat pada akhir bulan Oktober sampai = awal bulan Nopember. Biasanya Ul Ton bisa seminggu behkan lebih (terus menerus).= Ul Ton yang selalu dinanti-nantikan oleh para petani untuk menanam jagung, padi ladang, umbi-umbian, kacang-kacangan, pisang, labu, tebu. Jika Ul Ton tidak turun maka inilah yang tepat untuk masyarakat melakukan acara ritual : Onen Toit Ulan (doa minta hujan).

 

Ulan Tasi

Hujan ini disebut sebagai ultasi (hujan laut) karena arah datangnya huj= an ini dari laut (daerah bagian Timur). Disaat terjadinya Ul Tasi maka ombak di laut akan sangat besar dan menakutkan. Datangnya hujan ini mulai dari bulan Pebruari sampai bulan April. Juga datangnya bertepatan dengan saat jagung s= edang berbunga. Hujan ini akan disertai dengan kilat-guruh yang silih bergantian = dari arah laut (Timur).

 

Ul Manikin

Hujan ini tidak lebat, t= etapi hampir-hampir tidak mau berhenti. Saat datangnya hujan ini akan penuh dengan kabut dan hawanya sangat dingin. Musim seperti ini akan terjadi pada bulan April, Mei dan Juni.

 

Ulan Kapel Aobiaf

Hujan ini datangnya tidak menentu waktu. Namun hujan ini datangnya  akan terbawa oleh angin dari satu = arah. Hujan ini turunnya tidak lurus melainkan akan condong karena dibawah oleh angin y= ang cukup deras, sehingga pohon-pohon yang ada itu kelihatannya hanya basah sebelah. Jadi Ul Kapel Aobiaf berarti : hujan pembasah sebagian.=

 

Ulan 'Nisa'

Hujan ini akan datang pada saat daun pohon 'nisa (pohon nitas) akan berguguran dan langsung dibusukkan oleh hujan tersebut. Hujan ini akan terj= adi pada bulan Mei.

 

Ulan Afik Natlol

Hujan ini terjadi pada bulan Juni-Juli. Dengan turunnya hujan ini maka = bisa terjadi bencana yaitu tanah longsor, kali/sungai (noe) akan penuh dengan air karena banjir besar dari selokan-selokan/parit (nono'). Saat itu buah damar pasti sudah menguning (tua) sehingga masyarakat dapat memetiknya untuk diol= ah menjadi lampu lidi. Saat-saat yang demikian biasanya ada ungkapan :

 

ul afik natlol

lolok noe naheun

kefan ma 'hoe natlol

paku mnatu ma sonaf

an ek in toi ma 'se'at.

 

hujan melimpah keluar

selokan parit sungai pad= a penuh

longsor dan banjir melim= pah

buah damar matang

untuk menutup pintu ista= na.

 

Ulan Pensufa / Ulan Pena Smala

Hujan ini dapat disamaka= n dengan Ulan Tasi (hujan Laut) karena terjadinya hujan ini bersamaan pada saat jagu= ng berbunga dan jagung mengeluarkan rambut pada bulirnya. Hujan ini bertujuan untuk menggugurkan bunga jagung  pada ketiak daun jagung yang  sedang  mengeluarkan ra= mbunya dan pada akhirnya jagung akan berbulir dengan baik dan ada hasilnya. Arti d= ari hujan ini "ulan pensufa/ulan pena smala" yaitu : hujan bunga jagu= ng atau hujan jagung berambut.

 

Ulan Penpunu'

Hujan ini datang pada sa= at jagung sudah mendekat dipanen karena sudah ada hasil. Jika tidak cepat dipa= nen maka dengan datangnya hujan ini maka jagung akan rusak/membusuk. Ulan Pen Punu' berarti : Hujan jagung busuk.=

 

Ulan Nek Sufa / Ulan Neonsae Sufa

Hujan ini akan datang pada saat Pohon randu (kapok) dan pohon dedap mul= ai berbunga. Datangnya hujan ini untuk membusukkan bunga randu dan dedap yang telah gugur di tanah.

 

Ulan Bikase

Hujan ini akan datang cukup lebat tetapi sebentar saja dan langsung per= gi . Hujan ini disebut dengan nama Ul Bikase yang berarti hujan kuda, karena sep= erti kuda lepas / liar yang datang sebentar dan terkejut kemudian lari dan pergi dengan sekejab. Biasa diungkapkan dengan kata-kata : ul bikase kan tiafa ta= bu tnaen namneuk (hujab kuda tidak sampai sejam langsung  pergi menghilang).

 

Ulan Pua' Po'at

Buah pohon pinang akan tua dan menguning pada sekitar bulan Juli/Agustu= s. Hujan ini biasanya datang untuk membusukkan  kulit pinang yang terbuang setelah panen (pengupasan kulit pinang). = Setiap bulan Juli Agustus banyak  ora= ng yang memetik buah pinang, yang kemudian disimpat didalam lubang yang diairi= . Buah pinang itu akan awat jika ada air hujan (puah oe / pinang air). Dengan adan= ya hujan tersebut  pada saat masy= arakat memanen pinang maka hujan ini disebut dengan Ulan Pua 'Poat (hujan kulit pinang).

 

Ul Kapi

Hujan ini disebut Ul Kap= i karena hujan ini curahnya tidak lebat, melainkan hanya rintik-rintik saja. Hujan rintik ini bisa sebentar atau bisa cukup lama. Ul Kapi berarti hujan rintik-rintik.

 

Ulan Pol Pah

Curah hujan ini disebut = dengan nama Ul Pol Pah karena curahnya tidak menyeluruh tetapi turunnya lebat. Huj= an ini hanya akan turun disebagian tempat saja. Hujan ini kadangkala disebut dengan sebutan "hujan lokal" (hujan pilih-pilih tempat).

 

Ulan Manas / Ulan Enus

Hujan ini akan terjadi t= anpa awan atau kabut yang banyak. Dan terjadinya hujan ini, ternyata sinar matah= ari akan kelihatan sinarnya, namun ada hujan rintik-rintik dan kadang lebat sebentar. Karena disaat hujan ternyata sinar matahari masih kelihatan sehin= gga hujan ini disebut "Ulan Manas" (hujan sinar matahari). Biasanya h= ujan yang demikian (Ulan Manas) akan kelihatan pelangi / bianglala sehingga hujan ini pun sering disebut sebagai "Ulan Enus" (hujan pelangi).  Ulan Enus adalah hujan yang sangat ditakuti oleh masyarakat Timor, karena dapat membawa bencana / kecelakaan j= ika curah hujan ini kena pada tubuh manusia. Apalagi dengan kelihatan pelangi, = maka ada pemahaman bahwa jika kaki pelangi tersebut menumpuh pada hewan atau man= usia maka hewan bahkan manusia tersebut pasti akan mati . Sedangkan dipihak yang lain bahwa tempat dimana pelangi tersebut menumpuh, maka pasti ditempat tersebut akan diperoleh rejeki berupa batu berharga atau emas (fatu ma'upa'= ma mnatu').

 

 

        &= nbsp;   2.  Angin (Anin)

 

 

 Masyarakat mengatakan bahwa terjadi= nya angin disebabkan oleh  beberapa faktor antara lain :

 

 &nb= sp;          Pintu angin telah terbuka lebar (eon anin natfe') maka akan terjadi angin kencang yang biasanya disebut dengan ain le'u (ain le'u yaitu angin kencang yang menumbangkan pohon-pohon besar).

 

 &nb= sp;          Angin ini mempunyai tempat asal ya= ng disebut dengan sebutan kon anin (lubang angin) di beberapa tempat.  Pemahaman masyarakat pedesaan Timor bahwa di Timor ada beberapa lubang angin,&= nbsp; yang mana sampai saatnya angin akan keluar dari tempat asalnya itu.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'>  Ada beberapa tempat yang dianggap sebagai lubang angin dari mana datangnya angin yaitu : Nifu Le'u, Nua' Sene, 'Lium, Maunain dan Menifo.

 

            Angin pun diyakini datangnya dari Ton Un yaitu di  Batu Kau'niki (Fatu Le'u).

 

            Angin adalah nafas dari  bumi yang k= ita diami ini (anin le' i paha 'pinan ini snasan).

 

            Ada pemahaman yang lain lagi bahwa angin terjadi karena Moa Hitu  bersiul bahkan lagi kentut.  Moa Hitu adalah dongeng orang Timor tentang seorang raksasa atau orang tertinggi di pulau Timor yang menopang langit sehingga langit tidak jatuh menimpah manusia dan sekaligus langit menjauh dari manusia bahkan menjauh dari bumi yang kita diami ini.

 

NAMA-NAMA ANGIN

 

Ada bermacam-macam angin sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Ma= cam-macam angin ini diberi nama sesuai dengan munculnya dan akibat dari munculnya ang= in tersebut, serta  dari mana arah datangnya angin tersebut.

 

Mollo (F. Fobia)

 

Aen/ain Neontes.

Angin ini berhembus pada= bulan Oktober dan membawa uap air yang cukup banyak, sehingga apabila melintasi deretan gunung Mutis, akan tercurah hujan yang banyak.

 

Aen/ain Neonsaet.

Angin ini berhembus dari= sebelah timur dan membawa uap air yang sangat sedikit. Hujan akan tercurah disebelah timur Gunung Mutis, sedang disebelah barat merupakan daerah bayangan hujan.=

Aen/ain Tenteun.

Angin ini berhembus tak menentu arahnya, sebentar dari utara, sebentar = dari selatan, sebenar dari timur, sebentar dari tenggara dan sebentar lagi dari barat. Tanteun artinya angin yang menabrak sini, menabrak sana tak menentu arahnya.  Angin ini di= sebut angin pancaroba.

 

Aen/ain Nautus.

Aen Nautus atau disingkat Nautus, adalah angin puting beliung yang dapat merusak bangunan, tanaman dan lain-lain. Apabila terjadi angin puting beliung maka mereka mencari tahu de= ngan mengadakan tenungan, apabila angin puting beliung itu membawa bencana.

 

Amanuban Selatan (Y.Tahun)

 

Anin Neonsaet/Anin Neon = Tes

(Sama dengan yang di atas dari Mollo.)

 

Anin Tasi

Angin ini adalah angin laut karena bertiup dari arah laut menuju ke pan= tai dan daratan.

 

Anin Feto

Angin ini disebut dengan= anin feto atau "angin perempuan" dan terjadi biasanya pada bulan Desem= ber. Datangnya angin ini pada saat tanaman jagung sudah umur sebulan dan dapat r= usak akibat angin tersebut, namun tidak banyak yang rusak (anin i fe' maneka' / angin ini masih punya perasaan).

 

Anin Hitu' / Anin Ses La= nan / Anin Hau Klibu

Angin ini disebut angin = tujuh (anin hitu') karena datang dari semua arah dan terjadinya pada bulan Juli.<= span style=3D'mso-spacerun:yes'>  Disebut juga dengan angin penutup/penghalang jalanan (anin ses lanan) karena sering menghalangi renca= na perjalanan manusia bahkan menumbangkan banyak pohon sehingga jalan-jalan banyak yang tertutup. Angin ini pun sering mematahkan banyak ranting pohon sehingga jalan-jalan setapak tertutup sehingga disebut dengan nama anin hau klibu (a= ngin ranting kayu).

 

Anin Uf / Anin Le'u / An= in Subani

Angin ini disebut demikian karena merupakan angin utama, angin keramat = atau angin pembanting. Angin ini akan bergerak dari arah Timur ke Barat sekitar = satu jam lebih dan sangat deras. Angin ini akan menumbangkan banyak pohon besar,= menerbangkan banyak benda, menjatuhkan bahkan menerbangkan banyak  binatang di atas pohon (kus-kus, k= era, musang, burung-burung).

 

Anin Nautus

Anin Nautus atau angin puting-biliung&= nbsp; yaitu angin yang datang secara tiba-tiba dan berputar-putar disuatu tempat, baik itu bangunan atau pun tanaman-tanaman, sehingga bisa terjadi kerusakan yang banyak.  Angin = ini akan terjadi pada saat-saat mendekat turunnya hujan lebat (Ul Ton).  Angin ini pun kadang kala disebut = dengan sebutan  ain Sako (angin pembe= rsih / angin penyapu).

 

Anin Sanat / Anin Kae

Angin ini datangnya kacau balau. Tidak diketahui dari mana asalnya, arah tujuannnya bahkan bertiup tidak menentu. Terjadinya angin ini dipahami seba= gai akibat dari adanya kesalahan manusia atau masyarakat di tempat tersebut, karena  adanya kesalahan atau pelanggaran atas larangan-larangan / pantangan-pantangan yang ada dalam masyarakat. Anin sanat  yaitu angin  kesalahan/pelanggaran  sedangkan  anin kae yaitu angin pantangan.

 

Anin Lanan / Anin Opa'

Angin ini biasanya terjadi pada saat jagung atau padi ladang sudah cukup tinggi. Angin ini akan bertiup dan menidurkan bahkan menumbangkan pohon-poh= on jagung atau padi. Jagung atau pun padi yang ditidurkan atau ditumbangkan ak= an terbentuk seperti  suatu baris= an jagung atau padi yang rebah/tiarap di tanah.  Anin Lanan atau Opat  yaitu angin jalanan atau angin str= at.

 

 

Lamp. 2.  Mitos tentang Jagung

 

            = Dari seluruh rangkaian ritus, mulai dari ritus menanam sampai dengan ritus untuk meletakkan jagung ke atas loteng ada satu unsur yang menonjol, yakni, perla= kuan sangat hormat pada jagung. Hal itu dipandang wajar oleh orang Timor, sebab = bagi mereka jagung (mungkin juga tanaman-tanaman lain) lahir menyatu dengan seja= rah generasi manusia Timor.

Supaya lebih jelas maksu= d saya, baiklah saya memaparkan ceritera mengenai asal-usul jagung, seperti yang dituturkan oleh Bapak Yulius Finsae di Boti.

 

"Alkisah, ada seora= ng bapak dan seorang ibu. Keduanya adalah suami istri dan memiliki seorang putri. Me= reka hidup pada suatu generasi manusia dimana makanan dimakan mentah dan air dim= inum tanpa dimasak. Mereka mulai berkebun, tapi berulang-ulang mereka kecewa kar= ena tidak ada bibit tanaman yang hasilnya dapat dimakan. Mereka mencoba menanam buah beringin, tetapi ketika memanen hasilnya, ternyata hasilnya beringin j= uga dan tidak dapat dimakan. Mereka juga menanam bunga tahi ayam, tetapi tanaman itu berduri dan buahnya tidak bisa dimakan.

Pada suatu pagi sang ayah mengajak anak gadisnya ke kebun. Waktu itu kebun mereka sudah dibersihkan, tetapi belum ada bibit. Kemudian sang ayah menuntun anak gadisnya ke tengah-tengah kebun. Di sana sang ayah menyuruh anaknya untuk memalingkan wajahnya ke arah Timur, ke Barat, ke Utara dan ke Selatan. Ayahnya bertanya kepadanya:"kebun sudah bersih dan sekarang tiba musim tanam, tetapi bi= bit apakah yang bisa kita tanam? Mendengar pertanyaan itu sang gadis terduduk, tunduk dan menangis terisak-isak. Lalu ayahnya mengasah pisaunya dan menyembelih anak gadisnya. Dagingnya diiris kecil-kecil kemudian ditanam di seluruh kebun itu,lalu ia kembali ke rumah.= Setibanya di rumah, sang ibu bertanya dimana anak gadisnya, lalu sang suami menjawab bahwa anak gadis mereka sedang menjaga kebun. Tiga malam kemudian ketika sa= ng gadis tak kunjung datang, maka sang istri menangis tersedu-sedu. Keduanya l= alu memutuskan untuk pergi mengunjungi anak gadisnya. Pada saat tiba di pintu p= agar kebun, sang istri bertanya kepada suaminya; "dimanakah anak kita?"= ; Sang suami menjawab; "Itulah anak gadis kita. Ia telah bertumbuh dan memenu= hi kebun".Tanpa berpikir panjang, sang ibu berlari mendapati jagung yang sudah tumbuh itu dan menciumnya satu demi satu dengan isak tangis. Kemudian sang suami menuntun istrinya pulang ke rumah.

Tiga puluh tiga hari kemudian (sejak waktu tanam), kedua orang suami is= tri kembali ke kebun. Ternyata "anak gadis" mereka telah bertumbuh be= sar dan berdaun lebat. Mereka bersukacita karenanya. Kemudian mereka kembali la= gi ke rumah.

Sembilan puluh hari sejak waktu tanam, mereka kembali lagi ke kebun. Te= rnyata jagung itu telah berbunga dan bulirnya telah kuning-menua. Sang istri memel= uk bulir- bulir jagung itu, mencium dan membelai rambut anak gadisnya.

Sebelum kembali ke rumah, sang istri berkata kepada suaminya: "Bia= rlah kita memeliharanya secara baik-baik, karena ialah yang akan memberikan kekenyanngan untuk sepanjang masa bagi seluruh generasi manusia".=

      &nb= sp;     Ketika berita Injil sampai ke Timor (TTS), maka generasi tua orang Timor mulai berpikir : "anak gadis kedua orang suami istri itu telah disembelih dan ditanam. Hasilnya adalah jagung yang merupakan makanan (pokok) orang Timor. Tetapi Yesus adalah Anak Allah yang telah mati. Ia dikuburkan dan bangkit p= ada hari ke tiga. Kemudian ia menjadi makanan rohani bagi jiwa kami".=

Entah apa dan bagaimana tanggapan theologis Alkitabiah, yang jelas adal= ah bahwa sikap hormat dan sanjungan pada ritus-ritus pertanian di Timor berakar pada Etiologi ini.

 

      &nb= sp;     Hal lain yang patut dicatat bahwa orang Atoni, seperti orang Timur umumnya, mas= ih mempunyai corak pandang ontologis. Sebab itu jagung dianggap mempunyai jiwa atau roh, dapat marah atau tertawa. Selanjutnya jagung dan padi serta hewan-hewan piaraan merupakan bagian dari lingkup keluarga. Mereka adalah anggota- anggota keluarga.

=         &= nbsp;   Jagung dan padi dapat saja marah bila ia terus terkurung di loteng dan tidak diperkenankan oleh tuannya  un= tuk menemui tamu yang datang di kamar tamu (alias kikir). Dan bila jagung dan p= adi menjadi marah maka jiwa/roh jagung itu akan meninggalkan loteng dan orang i= tu segera miskin.

&nb= sp;

------=_NextPart_01C68C9F.6F27DD10 Content-Location: file:///C:/6E48B08E/rituspertanian_files/header.htm Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/html; charset="us-ascii"





 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

&= nbsp;

 

&= nbsp;

 

------=_NextPart_01C68C9F.6F27DD10 Content-Location: file:///C:/6E48B08E/rituspertanian_files/filelist.xml Content-Transfer-Encoding: quoted-printable Content-Type: text/xml; charset="utf-8" ------=_NextPart_01C68C9F.6F27DD10--