Transformasi Agama dan
Budaya ditengah-tengah Kekerasan Sosial
2 Maret 2001 di STT Intim.
Moderator: Abidin Wakano,
M.Ag
Transformasi
Agama dan Budaya ditengah-tengah Kekerasan Sosial dalam Perspektif Agama.
(Suatu Refleksi atas Kehidupan Umat).
Oleh
; Dr. Zakaria J. Ngelow.
Apakah benar agama berperan dalam transformasi sosial, sementara kita sering menyaksikan bahwa agama sering menjadi penghalang dalam pelaksanaan transformasi sosial. Makanya jangan kita terima jadi bahwa agama itu melakukan sesuatu yang baik terhadap proses-proses pembaharuan masyarakat. Jangan-janagn yang menjadi penyebab terjadinya persolan bagnsa ini justeru datangnya dari agama itu sendiri. Kalau benar adanya maka itu adalah tanggung jawab tokoh agama, pemuka agama, fakar agama dan umat beragama.
Kalau kita melihat munculnya agama (Kristen dan Islam) misalnya, itu terhubung dengan pembaharuan masyarakat zamannya. Islam misalnya muncul di Jazirah Arab abad VII M mengakhiri suatu zaman yang bernama zaman jahiliyah. Begitupun halnya dengan agama Kristen datang melakukan pembaharuan kepada umat manusia sesuai dengan zaman ketika itu.
Peran transformasi bisa dijalankan oleh agama kalau agama itu melakukan pembaharuan terhadap dirinya. Dan berbicara tentang pembaharuan agama maka pembaharuan itu harus selalu terhubung dengan peran yang diharapkan padanya. Artinya berhubungan dengan persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat pada zamannya dimana agama itu berperan.
Peran mana yang seharusnya dilakukan agama dan pembaruan macam apa yang dibutuhkan agama agar ia mampu melaksanakan transformasi kebudayaan ?
Ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan dalam melaksanakan pembaharuan pada masyarakat dalam kaitannya dengan pembaruan agama;
1.Pelurusan agenda reformasi seperti penegakandemokrasi, supremasi keadilan melalui hukum dan pentingnya membersihkan kekuasaan dari KKN. Satu catatan penting dalam pelaksanaan reformasi ini adalah tidak adanya etika dalam berpolitik. Terus ketika hal seperti ini terjadi lalu dimana peran agama ? Jangan-jangan agama sendiri yang tidak beretika.
Dalam artian bahwa agama tidak mampu memberi pegangan-pegangan moral etik yang baik dalam untuk berpolitik dengan sehat. Soalnya pernah agama lebih banyak berurusan dengan Tuhan ketimbang berurusan dengan manusia. Jadi pendekatan yang dibutuhkan adalah menghidupkan kembali wacana-wacana etika didalam agama-agama dan mengurangi berdoa, kebaktian dan lain-lain.
Dalam sejarah umat, pada abad VII SM umat yang demikian rajin beribadah, rajin memuji-muji tetapi yang terjadi dalam masyarakat adalah yang kuat memeras yang lemah, yang miskin dengan yang miskin saling makan. Jadi agama yang terlalu menonjolkan ritus-ritus biasanya lupa dengan etika-etika dan kepedulian sosial.
2.Kerusuhan dan kekacauan yang terjadi dimana-mana ditengah-tengah manusia yang beragama dandimasyarakat terjadi homo homini lupus, lalu dimana peran agama sesungguhnya. Celakanya adalah agama-agama malah memprakarsai penajaman pedang dan peruncingan tombak untuk saling menghabisi antara para pemeluk agama. Olehnya itu marilah kita menyerukan kepada semua pighak bahwa agama manapun tidak pernah melegitimasi kekerasan macam apapun. Kekerasan harus diharamkan dalam agama.
3. Konflik terkait dengan kesenjangan ekonomi, lalu peran apa yang seharusnya diambil agama dalam menyikapi hal ini. Agama perlu menolong masyarakat untuk tidak membiarkan ketimpangan sosial, penindasan, ketidakadilan dsb. Olehnya itu harus ada upaya yang dilakukan agama dalam melakukan pemberdayaan. Penguatan-penguatan untuk pendampingan supaya dalam masyarakat ekonomi berjalan seimbang.
Sampai saat ini agama gagal oleh karena didalam dirinya ia tidak mempunyai dan tidak menghidupkan daya yang sebenarnya ada dalam dirinya untuk berperan dalam pembaharuan-pembaharuan sosial. Olehnya itu kalau ada politisi yang tidak karu-karuan, ada masyarakat yang saling bunuh-bunuhan, jangan mempersalahkan orang lain tetapi mari kita menyatakan bahwa agama ternyata tidak berperan dan itu kesalahan kita semua.