Yuberlian Padele
Dear Christine,
Saya sangat terkesan dengan permintaan untuk menginformasikan tentang kenyataan kekerasan terhadap perempuan in area of conflict. Saya tidak tahu, daya dorong apa yang membuat saya begitu spontan untuk memberi respons terhadap permintaanmu padahal saya membutuhkan waktu banyak untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan saya untuk pergi berlibur Natal ke Poso (GKST). Sesungguhnya di Poso saya sendiri tidak berlibur sebagaimana arti dan praktek kebanyakan orang Eropa berlibur tetapi selama jauh dari tugas-tugas di kampus, saya akan bekerja untuk mengamati keadaan beberapa jemaat korban kekerasan horisontal di Poso. Saya akan menghabiskan banyak waktu dengan mereka di beberapa kampung yang memang menjadi korban selama konflik di Poso. Saya akan menuliskan pengalaman saya nanti sesudah saya kembali dan saya akan mengirimnya juga kepadamu. Sekalipun demikian, saya masih mempunyai beberapa informasi, terutama informasi yang sudah tersedia sekarang ini.
Menarik sekali bahwa anda mulai dengan suatu artikulasi yang sangat tepat untuk menggambarkan kekerasan terhadap perempuan di daearah konflik. Pada kesempatan ini, saya akan lebih memberi penekanan pada kekerasan dalam hubungan dengan ekonomi dalam keluarga para korban konflik. Lebih khusus lagi perhatian yang saya coba uraikan berhubungan dengan perempuan dalam keluarga yang tidak mempunyai penghasilan tetap seperti pegawai negeri maupun swasta. Selanjutnya kelompok ini akan saya sebut sebagai Buruh Kasar.
Ketidaktahuan terhadap kenyataan dalam dua sisi sebagai diakibatkan oleh ketergantungan ekonomi perempuan dalam keluarga yang jatuh sama dengan beban ganda perempuan dalam keluarga merupakan suatu bukti begitu kuatnya pengaruh kekerasan menguasai seluruh dimensi kehidupan perempuan. Barangkali dalam kasus di Poso, beban ganda perempuan dalam tanggungjawab ekonomi perempuan dalam keluarga korban konflik semakin mencuat ke permukaan. Beban ganda yang dimaksudkan, yakni di satu pihak istri dan anak perempuan harus mengurus pekerjaan-pekerjaan dalam rumah sementara di lain pihak iapun terikat dalam upaya mengatasi kebutuhan ekonomi keluarga dengan memainkan peran sebagai pencari nafkah utama. Hal ini terjadi terutama ketika laki-laki dengan ketrampilan buruh kasar (tukang bangunan, besi, peladang, nelayan, sopir dll) kehilangan ruang kerja dan kesempatan yang lebih leluasa. Pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan secara tradisional bagi kelompok keluarga-keluarga buruh kasar ini memang justru menjadi suatu masalah yang sangat memberatkan tempat perempuan. Kemiskinan yang meliputi seluruh dimensi ditambah dengan keterpakasaan untuk mengungsi yang memaksa mereka untuk secara kreaktif memulai mencari jalan bagaimana mengatasi kebutuhan ekonomi keluarga telah membuka semua rahasia yang selama ini terpelihara bahkan tidak dianggap sebagai suatu masalah.
Beban ganda perempuan in area of conlict
Keterlibatan laki-laki secara langsung dalam konflik horisontal serta kehilangan lapangan kerja di tempat pengungsian lebih menambah beban ekonomi bagi perempuan dalam keluarga mereka. 53 % dari 42.000 korban pengungsi adalah perempuan. Tempat penampungan yang tidak layak, kekurangan kebutuhan hidup keseharian, kehilangan lapangan kerja, ketidakpastian masa depan anak-anak, perasaan tidak aman merupakan dunia keseharian yang dihadapi oleh para korban. Dalam kondisi kekejaman seperti inilah perempuan dari kalangan buruh kasar akan masuk dalam lingkaran kekerasan sistimatis yang sudah terbangun dalam budaya kekerasan di Indonesia. Mereka terperangkap bahkan juga menjadi pelaku kekerasan. Dengan demikian mata rantai lingkaran kekerasan seperti ini akan sangat sulit diputuskan kecuali jikalau ada yang berhasil mengembalikan kesadaran-kesadaran dan menyokongnya dalam menciptakan suatu kehidupan yang lebih setara dan adil bagi hubungan laki-laki dan perempuan. Tentunya pemulihan-pemulihan hubungan ke arah yang lebih equal akan membutuhkan waktu yang kemudian menjadi kekuatan penggerak untuk terus bekerja mencapai suatu masyarakat yang lebih equal, mandiri akan membebaskan dari budaya kekerasan bagi masa depan manusia.
Bagaimana perempuan di Poso mengatasi atau menyesuaikan dengan kekejaman dunia yang dihadapinya? Kemiskinan merupakan suatu kenyataan yang semakin parah di daerah konflik Poso. Beban kemiskinan akan semakin berdampak buruk bagi perempuan di sana.
“Seorang ibu yang mengalami trauma akibat penangkapan anak mantu lelakinya di depan matanya oleh aparat kemananan sejak tahun yang lalu tanpa jelas hukum yang diberlakukan kepadanya sampai hari ini, tidak lagi merasa tenang hidup di satu tempat. Ia selalu curiga dan merasa tidak aman terhadap orang-orang asing yang tidak dikenal sebelumnya atau ketika mendengar bunyi dentuman yang keras. Ia berpindah-pindah dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Anak perempuan nya kemudian menjadi sangat terbeban oleh ibu yang sudah menjadi janda sama seperti dirinya sendiri ayng suaminya tak tahu dimana rimbanya sampai sekarang. Untuk mengatasi kebutuhan ekonomi keluarganya, ia kemudian berjalan dari rumah ke rumah menjajakan jasa mencuci dan menyetrika pakaean keluarga dengan sedikit imbalan. Seorang ibu rumah tangga yang terpaksa membeli jasanya mengatakan: “Kami sadar bahwa kami memberikan nilai yang tidak seimbang dengan dengan apa yang dikerjakannya. Tetapi kamipun sadar bahwa sesungguhnya kami tidak membutuhkan tenaga kerja tambahan di rumah sebab saya pun biasa mengerjakan pekerjaan itu”. Ketika di tanya apakah banyak tenaga kerja perempuan yang mencari pekerjaan sebagai tukang cuci pakaen di rumah-rumah tangga, ia katakan “ya, banyak”. Ada banyak sekali perempuan-perempuan korban yang menawarkan jasa seperti itu.
Pengalaman perempuan korban yang lebih kreaktif dan sanggup mengatasi kekejaman yang mereka hadapi merupakan sisi yang lain pula. Para penduduk lokal di tempat mereka mengungsi, meminjamkan lahan-lahan tanah pertanian yang belum diolah. Perempuan-perempuan keluarga buruh kasar yang kreaktif merubah tantangan sebagai kesempatan. Dengan tidak tenggelam oleh luka-luka bathin mereka meluapkan seluruh kegelisahan mereka dengan bekerja, mengolah tanah. Tidak dapat dibayangkan sebelumnya, jikalau masyarakat Poso pada umumnya dan kelompok buruh-buruh kasar khususnya yang mulai terbiasa dengan cara berdagang langsung ke Pasar. Biasanya terjadi bahwa para pekebun menjual hasil kebun mereka kepada para pedagang di pasar dengan harga yang sangat murah. Pedagang di pasar, yang sebelum konflik pecah dikuasai oleh para pendatang, yang akan lebih menikmati hasil perkebunan mereka. Tetapi semenjak kekerasan horisontal terjadi keseluruhan pasar lokal dikuasai oleh penduduk asli, yang sebagian besar pedagang yang di temukan di sana adalah para korban perempuan. Pedagang di pasar lokal kota kecil di Tentena, kota kecil yang menjadi tempat pusat perkantoran Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah misalnya, kemudian merupakan pusat pertukaran uang yang sangat cepat sekali. Konflik di satu sisi menghancurkan sarana-sarana ekonomi yang selama ini mereka sudah bangun tetapi di pihak lain membuka kreaktivitas baru bagi ketrampilan untuk merebut kesempatan atau peluang pasar lokal yang menjanjikan bagi penduduk lokal khususnya perempuan. Mendagangkan hasil perkebunan sendiri merupakan ketrampilan baru bagi perempuan dari keluarga buruh-buruh kasar ini.
Bukan hanya itu, kecenderungan membuka warung-warung yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari atau menjual makanan khas daerah dengan modal yang sangat kecil merupakan kecenderungan pilihan para perempuan korban konflik. Bahkan sangat mengagumkan, jikalau suatu usaha membuka warung makan dengan modal kecil sejak awal konflik 3 tahun lalu telah membawa beberapa keluarga korban dapat membeli lahan dengan perumahan parmanen dari hasil usaha yang mereka tekuni sebagai penjual makanan selama 3 tahun ini. Keberhasilan mengatasi masa krisis dinikmati oleh beberapa keluarga korban merupakan sisi positif dari peristiwa pecahnya konflik di sana.
Namun ada sisi lain yang yang menantang masa depan kualitas kehidupan spiritualitas dan intelektualitas masa depan Warga Gereja Kristen Sulawesi Tengah di Poso. Pertama, tentang sejumlah besar anak-anak usia sekolah ( dari tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah menengah Atas) yang tidak dapat melanjutkan studi mereka. Mereka pada akhirnya menjadi panjaja jasa tenaga kerja, atau membantu keluarganya bekerja di perkebunan. Jikalau hampir setengah dari jumlah anak-anak usia sekolah tidak menikmat pendidikan, maka Gereja Sulawesi tengah akan memetik hasilnya, bahwa sebagaian besar gereja dalam satud ekade ke depan terdiri warga gereja ayng tidak berpendikan, bodoh dan mereka akan semakin menambah jumlah kemiskinan.
Sisi negatif kedua, yang sangat dipengaruhi oleh faktor kekerasan dalam hal ekonomi bagi perempuan adalah munculnya Penjaja Seks Komersial (PSK) yang tersembunyi di kalangan anak-anak perempuan usia 14 s/d 17 tahun. Perilaku baru di kalangan perempuan warga Poso merupakan isu yang sangat menggelisahkan banyak ibu-ibu yang memiliki anak gadis putus sekolah. Seseorang menuturkan siklus menuju ke arah PSK, putus sekolah mengakibatkan kebosanan dan rasa sepi hidup di lingkungan pengungsian yang tidak lagi nyaman dan melindungi hak-hak pribadi, menawarkan diri menjadi pramuniaga, mengenal para pelanggan lebih banyak kemudian berakhir dengan janji pertemuan dan tawaran bayaran. Tidak ada di antara para pelanggan laki-laki yang berani mengatakan berapa bayaran kepada PSK, sebab mereka takut di tuduh sebagai yang pernah menjadi pemakai jasa PSK.
Ketiga, saat ini (pasca konflik) adalah saat yang sangat tepat untuk melihat peluang bagi peningkatan ketrampilan dalam menguasai persekonomian pasar, pengembangan mutu pengolahan bahan-bahan lokal yang memang tersedia dan siap di pasarkan: seperti mengolah buah cokelat, ketrampilan kerajinan bahan-bahan dari rotan, kayu dan jenis rumput-rumputan lainnya. Ketrampilan mutu pakaian jahitan menjahit, mengolah bahan-bahan makanan lokal baik yang bisa bertahan lama seperti dari bahan ubi-ubian, biji-bijian, pisang, beras maupun makanan siap saji.
Apa yang sudah di buat?
Pada prinsipnya para korban harus menemukan sendiri cara-cara bagaimana mengatasi atau menyesuaikan diri dengan keadaan sebagai korban. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak perempuan, selain bertekun dalam pekerjaan-pekerjaan yang mereka pilih mereka lebih cenderung membentuk persekutuan-persekutan dalam doa. Meluapkan seluruh luka-luka bathin dan membentuk suatu harapan-harapan baru dalam hidup mendatang dapat mereka ungkapkan secara lebih spontan dan bebas dalam persekutuan-persekutuan doa. Kekuatan yang di timbulkan oleh harapan-harapan baru kemudian tidak di lanjutkan dengan penambahan ketrampilan, pengetahun dalam peningkatan kecemasan ekonomi keluarga. Kebutuhan real yang tidak terpenuhi merupakan suatu peluang yang hilang yang seharusnya sangat mendukung penyembuhan-penyembuhan trauma melalui kelompok-kelompok doa para perempuan korban. Pihak Komisi Wanita GKST masih sangat terbatas dalam ketergantungan biaya bagi pendidikan ketrampilan putri. Apa yang dilakukan oleh Komisi Wanita pun masih sangat jauh dari upaya pembebasan keluar dari lingkaran kekerasan eknomi. Memang masih sangat panjang waktu yang dibutuhkan dan masalah ini merupakan tantangan khusus bagi saya secara pribadi sebagai penulis informasi ini.
Dear Christine, saya kira untuk kebutuhan awal, hanya ini dahulu yang dapat saya beritakan kepada anda. Masih banyak informasi terutama ketika saya kembali dari sana yang akan saya ceritrakan kepada anda. Sayapun dapat menceritrakan apa yang saya sedang lakukan khususnya bagi kelompok-kelompok perempuan di Makassar yang mempunyai masalah khusus dalam hubungan Kristen-Islam. Selamat merayakan hari Raya Natal dan Tahun Baru 2003. Sampaikan salam saya kepada Family Rev. David Tulaar.
Salam
Yuberlian Padele