Upaya Merekonstruksi Yesus Sejarah[1]

Suatu Kajian Sejarah

 

Yuberlian Padele[2]

 

Rekan-rekan Dosen, Karyawan dan seluruh mahasiswa,

 

Kesempatan ini akan saya pakai bukan sebagai kesempatan untuk berkhotbah sebagaimana dalam tradisi ibadah dalam gereja-gereja, tetapi kesempatan ini akan saya pakai untuk belajar bersama dengan menggunakan pendekatan historis terhadap Yesus Sejarah. Pendekatan sejarah sangat dekat dengan dua hal, pertama, mencari fakta-fakta yang berhubungan dengan menjawab pertanyaan apa/siapa, kapan dan di mana. Kedua, Bagaimana fakta di ceritrakan dan di jelaskan, maka di sana sangat berhubungan dengan subyektivitas si pemberi penjelasan untuk menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana. Biasanya yang paling banyak berbeda dalam informasi yang di terima sangat dekat dengan hubungan penjelasan fakta, untuk menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana.  Dalam arena menjelaskan faktalah maka kita membutuhkan hermenutik atau seni seseorang untuk menginterpretasi atau menafsir fakta. Dengan demikian kerja yang akan saya lakukan bukanlah suatu kerja interpretasi semata-mata tetapi lebih pada upaya rekonstruksi fakta untuk mencari kejelasan beberapa peristiwa sebagai fakta ungkapan-ungkapan Yesus di suatu tempat pada waktu tertentu dengan konteks sosial, politik dan budaya (agama) tertentu pula. Dalam rekonstruksi sejarah, maka tentunya kita tidak lepas dengan interpretasi sekalipun interpretasi sangat terikat dengan fakta dan bukan penjelasan fakta. Pekerjaan hermeneutik akan saudara kerjakan sendiri dalam bentuk dan pemaknaannya masing-masing mengikuti cara kerja hermeneutik. Jadi kesempatan ini akan saya pakai untuk menguji ulang pengetahuan awal saya tentang Yesus his-story dan bukan “her-story”. Saya ingin juga memakai kesempatan ini sebagai ujian pengetahuan Biblika sehingga saya dapat diterima oleh tiem pengajar Biblika dan menjadi pengajar bidang Biblika juga di kampus ini.

 

Saya sengaja menghindari pemakaian istilah “khotbah” sebab bagi saya istilah ini merupakan salah satu ekspresi dari bungkusan konseptual budaya bahasa religius yang menyebabkan uraian khotbah yang di dasarkan pada kenyataan sejarah Yesus kemudian dirohanikan secara sempurna. Seolah-olah seluruh perjalanan Yesus sebagai fakta sejarah hanya merupakan perjalanan rohani semata-mata yang tidak menyentuh sisi kehidupan nyata dalam wilayah sosial, politik dan budaya agama.

 

Saudara-saudara juga tidak akan pernah menemukan istilah “Kristus” dalam uraian ini. Saya akan konsisten dengan memakai nama Yesus yang menekankan pada Yesus Sejarah, Yesus sebagai manusia.

 

Kesempatan ini saya pakai pula sebagai bagian dari kuliah saya untuk semua mahasiswa peserta tiga mata kuliah yang saya ampuh pada semester ini.  Saya menyambut kalian dengan mengucapkan terima kasih karena saudara2 memenuhi panggilan saya.

 

 

Saya mulai dengan situasi pergantian kekuasaan sepeninggal Herodes Agung, keadaan sosial dan politik semakin memburuk. Herodes Agung yang memiliki konsep bahwa untuk melanggengkan kekuasaan atas seluruh daerah Yudea hanya dapat berlangsung dengan penindasan dan kekejaman -. bukti tersebut tercatat dalam sejarah peristiwa “Pembunuhan anak-anak di Betlehem”. (Mat.2: 16-18) Peristiwa pencatatan penduduk pada masa Kaisar Agustus (Luk 2:1-6) dan diperintahkan semua orang kembali ke daerah asal mereka masing-masing sehingga Maria dan Yusuf juga harus ke Betlehem dalam keadaan hamil tua. Cacah Jiwa itu sekaligus merupakan pencatatan pemilikan tanah-tanah rakyat untuk menentukan atau menetapkan besarnya pajak setiap kepala keluarga. Ini juga bagian dari penindasan Raja Herodes Agung, yang memiliki 3 putra mahkota. Pembagian kekuasaan politis pasca kematian Herodes kepada putra-putra mahkotanya menimbulkan goncangan politik yang semakin mengganggu seluruh sistem kehidupan umat Yahudi yang di bangun di atas dasar aturan-aturan keagaman. Krisis kepercayaan terhadap pemerintah semakin menimbulkan gerakan-gerakan perlawanan dalam berbagai wujud. Salah satu kelompok yang sangat dicurigai  oleh pemerintah sekaligus dianggap sebagai sumber ancaman adalah kelompok Ezeni. Mengenai kelompok Ezeni, merupakan kelompok keagamaan yang hidup mengisolasikan diri di padang gurun, masih di daerah Yudea, wilayah pemerintahan Herodes Antipas. Mereka menerapkan suatu hukum-hukum Yahudi yang ketat secara literer. Konon, kelompok ini  didirikan oleh Imam Zadok yang kecewa terhadap ketergusurannya dari kursi keimaman oleh seorang imam penggantinya yang di dukung oleh pihak pemerintah meskipun penggantinya bukan dari kelompok Lewi. Kelompok Ezeni  ini kemudian menarik minat banyak orang pada waktu itu dan dianggap sebagai kelompok yang mengancam pemerintahan resmi. Banyak orang kemudian meninggalkan keluarganya untuk pergi bergabung dengan kelompok ini di padang gurun terutama karena situasi krisis ekonomi akibat penarikan pajak yang sangat tinggi demi pembangunan dan banyaknya tengkulak-tengkulak yang memeras kaum miskin. Masalah pajak terhadap pemerintah adalah salah satu masalah yang bertentangan dengan aturan agama Yahudi. Karena itu, salah satu pertanyaan yang pernah di lontarkan oleh kelompok Farisi kepada Yesus sangat berhubungan dengan masalah pembayaran pajak. Apakah wajib membayar pajak kepada pemerintah atau tidak? (Mat. 17:22). Dengan mengabaikan kesan para penulis kitab Injil Matius (dan Injil-injil paralel lainnya) bahwa itu adalah cara kelompok Farisi untuk menjebak Yesus,  masalah pajak merupakan masalah yang berbenturan dengan agama Yahudi. Dengan demikian, sudah sejak lama termasuk pada jaman Yesus masalah  keagamaan selalu ada berhubungan dengan politik yang kemudian berakibat pada munculnya masalah-masalah sosial.

 

Mari kita melihat masalah lain lagi yang berhubungan dengan masalah agama, sosial-politik pada jaman Yesus. Ada alasan yang kuat bahwa daerah Galilea yang merupakan wilayah pemerintahan Pontius Pilatus (Seorang penguasa yang di tunjuk oleh Kerajaan Romawi mengganti Filipus saudara Herodes Antipas) yang dianggap tidak mampu menjalankan tugas-tugas pemerintahan, merupakan sumber para teroris dan pemberontak-pemberontak. Dugaan ini dikuatkan oleh beberapa faktor: pertama, wilayah pemerintahan ini lebih banyak desa-desa yang miskin ketimbang kota-kota besar. Kedua, beberapa tokoh-tokoh yang kritis pada jaman itu di antara tokoh-tokoh yang dianggap sebagai  oposisi berasal dari wilayah Galilea, antara lain:  Yohanes Pembatis dan Yesus. Guru dan Murid ini mempunyai tempat bekerja yang terpisah. Yohanes Pembabtis, sebagai nabi yang lebih banyak bernubuat tentang kedatangan Yesus, Sang Messias, yang oleh orang pada jamannya Yesus dianggap sebagai murid Yohanes,   lebih banyak bernubuat di daerah Yudea dan Samaria, wilayah 1/3 pemerintahan Herodes Antipas anak Herodes Agung yang terkenal bengis dan penindas rakyat sementara Yesus di daerah Galilea wilayah pemerintahan Pontius Pilatus.  Peristiwa pembunuhan Yohanes pembabtis sangat berkaitan dengan kritik-kritik tajam Yohanes terhadap pelanggaran aturan agama Yahudi yang menentang poligami dan perceraian. Konon Raja Antipas menceraikan istrinya kemudian menikah dengan  Herodias padahal Herodias pada waktu itu masih berstatus sebagai istri dari saudara kandung raja Antipas. Oleh Gerld Teisen, dalam buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul “Aku di Suruh Pilatus”, memperlihatkan bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil Matius 5 dan ayat-ayat paralelnya tentang perceraian dan perzinahan, merupakan ajaran Yesus  yang di pelajarinya juga dari Yohanes yang membabtiskanNya. Setiap orang yang mengkritik raja dianggap sebagai kelompok opisisi yang dapat membangkitkan pemberontakan. Atas alasan itulah maka Yohanes ditangkap dan dipenjarakan. Herodias, istri kedua raja Antipas kemudian yang meminta penggalan kepala Yohanes ketika sedang berlangsung suatu pesta istana raja menurut kisah Matius 14 dan ayat-ayat paralelnya. Dengan demikian kematian Yohanes juga merupakan konsekuensi politis terhadap seorang nabi yang sangat kritis terhadap keadaan sosial keagamaan yang diakibatkan oleh kebijakan politik.

 

Kembali ke daerah-daerah miskin dan diduga menjadi sumber teroris yakni Galilea itu, menurut penjelasan Gerald Teisen, muncul banyak sekali kejahatan yang sangat mengacaukan ketentraman kehidupan sosial penduduknya. Perumpamaan-perumpaan yang dipakai oleh Yesus sangat berdasarkan pada kenyataan-kenyataan sosial yang aktual pada waktu itu. Misalnya tentang Penyamun dan orang Samaria yang baik hati. Sekalipun perumpamaan itu mengambil lokasi di daerah Yerusalem dan Samaria, tetapi kasus yang dipakai untuk menjelaskan maksud Yesus merupakan kenyataan banyaknya terorisme, perampokan yang mengakibatkan ketidakamanan di sana. Demikian pula tentang perilaku para pemilik modal yang diceritrakan oleh Yesus dalam Injil matius 18: 21 dst, bahwa raja yang hendak mengadakan penagihan hutang-hutang karena pembayaran  jatuh tempo sementara pembayaran belum dapat  di lunaskan maka ia membenarkan untuk menyita seluruh harta milik penghutang termasuk anak dan istri yang akan dijadikan sebagai pekerja tanpa upah di kebunya demi untuk melunasi hutang-hutang mereka. Tidak heran, ada banyak rakyat yang menjadi miskin dan mereka kehilangan tanah garapan. Bahkan jikalau kita mendengar ceritra orang yang kerasukan setan di Gerasa dalam Mrk 5 dan ayat paralelnya, merupakan kenyataan bahwa banyak orang yang menjadi gila kerena tidak sanggup lagi membayar hutang-hutang mereka; jikalau seluruh kepunyaan mereka termasuk anak istri mereka menjadi jaminan pelunasan hutang. Bahkan banyak anak-anak muda yang tidak ingin terlilit hutang lalu ke luar pergi meninggalkan orang tua dani kampung halaman pergi merantau bahkan banyak yang bergabung dengan kelompok-kelompok Zelotis (kaum pemberontak) yang kemudian menjadi penjahat. Kalaupun ada anak muda yang masih bertahan di kampung mereka, maka untuk mendapatkan pekerjaan, mereka harus pergi berkumpul di pusat pasar, tempat pemilik-pemilik kebun datang mencari tenaga kerja. Tidak jarang seharian mereka menunggu belum tentu ada yang datang menawarkan pekerjaan kepada mereka. Demikianlah perumpamaan yang dipakai oleh Yesus tentang penggarap-penggarap yang berbeda jam masuknya sampai yang masuk jam lima sore tetapi mereka mendapat upah yang sama dengan yang masuk jam tujuh pagi. Perumpamaan ini merupakan kenyataan bahwa sulit sekali mencari pekerjaan pada jaman itu, sementara semua orang membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tidak heran, Khotbah Yesus di Bukit dalam kitab Injil Matius 5, merupakan panggilan mendasar bagi pembaharuan seluruh bidang kehidupan, di mana orang-orang miskin benar-benar di kuatkan oleh sesuatu yang masih memberi harapan masa depan mereka. Bagaimana konflik-konflik dalam keluarga dan dalam masyarakat diselesaikan dengan cara-cara yang bertentangan dengan kekerasan yang biasanya paling mudah di pakai untuk menyelesaikan konflik. Bagaimana hubungan-hubungan manusia dapat menciptakan kesetaraan di atas dasar prinsip kemanusiaan. Oleh karena itu, kritik-kritik Yesus terhadap kenyataan sosial politik yang menindas dan tidak adil merupakan sisi lain dari interpretasi yang sangat merohanikan semua panggilan Yesus bagi perubahan sosial sebagai wujud tanggungjawab iman. Dari contoh-contoh kasus ini, maka saya coba meyakinkan kita bahwa realitas sosial politik merupakan dasar untuk memahami seluruh sisi kehadiran Yesus. Hanya dengan mengembalikan seluruh kisah-kisah Yesus dan kawan seperjuangan lainnya pada “piring” realitas sosial - politik bahkan kebudayaan akan membawa kita untuk menghayati lebih dalam tugas panggilan gereja bagi tanggungjawab spiritual, etis dan moral masyarakat. Jikalau gereja tidak lagi menyadari tugas yang maha dasyat ini, maka seyogyanya kita melihat kembali refleksi tentang mesias-mesias palsu.

 

Saya kira apa yang saya kuliahkan hanyalah merupakan upaya awal untuk merekontruksi kembali Yesus Sejarah. Dengan kemampuan kita merekonstruksikannya dengan lebih berdasarkan pada fakta, maka saya yakin keterlibatan gereja dalam masyarakat kita di sini akan diperhitungkan dan bukannya hanya menjadi cabang yang kering atau pohon yang tidak berbuah kemudian dipotong,  di campakan dan diinjak-injak bahkan tidak diindahkan orang. Dengan demikian kita perlu merefleksikan kembali tugas-tugas gereja dalam realitas yang memihak kepada kaum  miskin.

 

Demikian kuliah singkat saya pada kesempatan ini dan saya menantang kita untuk memikirkan kembali cara kita memahami Yesus Sejarah dan oleh karena itu refleksi teologi kita di kampus ini.



[1] Disampaikan pada Ibadah Pagi, 3 Pebruari 2003 di Kapel  STT INTIM.  

[2] Staff Pengajar STT Intim bidang study  Sejarah Gereja dan Etika