Ibadah di Kapel STT Intim Makassar 19 Agustus 2002

Yes 40: 29-31

 

 

Sa' tahu ji, Jerman kalah di final…

'tapi itu tidak mengurangi semangatku…

Menurut saya semua menang:

-         Jerman senang karena tidak pernah bermimpi bisa sampai di final (karena sebelumnya prestasinya begitu jelek)

-         Brasil menjadi juara I yang layak

-         Korea senang juga mendapat pesta bola yang luar biasa

-         ya, semua, termasuk penonton di Indonesia senang

 

Tetapi ada hal lain yang menarik:

Sepertinya sepak bolah itu menjadi semacam agama tersendiri:

-         ada tempat ibadahnya – stadion

-         ada liturginya yang dihafal semua fansnya

-         ya ada spiritualitasnya dan ritus-ritus

-         ritus itu diprioritaskan dan dapar perhatian utama di masyarakat: di mana lagi ada agama lain yang dapat mengatur semua acara, menjadi berita utama di semua media masa, dan dapat menggerakkan emosi ratusan juta manusia lewat televisi, dan dapat mengarahkan pandangan dari semua ujung dunia kepada Yang Satu: satu bola kecil yang lompat-lompat di sebuah Stadion di Korea atau Jepang.

-         Ya, seperti agama ada simbol-simbolnya, dan banyak pemeluk agama itu memakai simbol identitas itu (seperti sekarang saya…)

-         dan saya lihat di televisi, bahkan ada semacam doa-doa, baik ucapan syukur maupun ratapan

-         bahkan ada eskatologinza, harapan penebusan akhir melalui golden goal untuk memperoleh keselamatan dalam bentuk piala emas.

 

Sepak Bola - Suatu agama moderen yang luar biasa hidup, yang dapat mempersatukan manusia dari segala bangsa, suku, bahasa, status sosial, agama dari seluruh dunia di depan televisi pada waktu yang sama.

 

Mungkin saja Gereja bisa dan harus belajar dari fenomena moderen seperti ini, misalnya bagaimana mengembalikan semangat dan kebersamaan dalam gereja…

 

Pagi ini saya mau mengambil permainan sepak bola sebagai contoh atau simbol untuk kehidupan kita bersama di kampus ini.

 

Terus terang, waktu saya pertama kali datang ke kampus ini dan mulai mengajar, saya sedikit bingung:

-         loh, banyak sekali orang yang berkumpul, di bawah satu tujuan dan keyakinan – tetapi: stadion utamanya (yang disebut kapel)…kebanyakan kosong-kosong: sementara di luar stadion orang lewat-lewat mengurusi dirinya

-         dan sulit dicari team-spiritnya – sepertinya semua melawan semua di lapangan permainan itu; bukan bola yang diinjak tetapi sering kali saling meninjak-injak, khususnya lewat belakang…

-         baju bolanya juga bermacam-macam: angkatan, sukunya, simpati pribadinya, progresifnya atau konservatifnya dsb. … kayaknya kebanyakan terutama main untuk dirinya sendiri saja.

-         dan yang membuat saya bingung: tidak kelihatan tujuannya satu lari ke sini, satu lari ke sana, kiri-kanan, maju-mundur. Banyak teorinya, tetapi di mana prakteknya? Di mana golnya? Di mana tempatku disini?

-         pokoknya: Kacau. Ditambah lagi bahwa pemainnya (yang namanya mahasiswa)  setiap tahun semakin banyak dan pelatihnya (namanya dosen) semakin sedikit.

-         Jadi, saya coba pendekatan sistematis dan saya pikir: kalau begitu rumit permainanya, pasti ada aturanan mainnya; dan benar, saya dikasik peraturan akademik --- dan saya tambah bingun, karena apa yang terjadi di lapangan, berbeda dengan apa yang tertulis disitu…

-         dan saya cari wasit yang mengatur sedikit, yang misalnya kasih kartu kuning atau merah kalau larangan terlalu sirius; dan memang banyak yang frit-frit (mebunyikan sempritan) – tetapi maksudnya tidak terlalu jelas - seperti tukang parkir saja

-         akhirnya ada yang bilang: bukan peraturan akademik itu aturan mainnya, tetapi Alkitab sendiri… jadi kasih menjadi prinsip utama… tetapi kasih apa?… kasih biar…? kalau begitu semakin kacau dan orang tidak tahu masukkan bola di mana…?

Tetapi ok., kalau Alkitab menjadi aturan main utama kita di lapangan main kampus STT Intim ini, coba kita temukan sedikit orientasi dari Alkitab

 

Yesaya 40: 29-31

29  Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

30  Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,

31  tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

 

"Mereka berlari dan tidak menjadi lesu" – tidak menjadi bingung, tidak saling melelahkan, tidak membuang kekuatan tetapi membangun semangat dan kreatifitas. Seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya… seumpa Ronaldo yang main samba dengan bola sampai memasukkannya di gol dengan kekuatan kaki kanannya… begitulah saya bayangkan proses main dan berkerja bersama di kampus ini.

 

Yang memberi kekuatan adalah DIA, Tuhan yang hampir tidak ada tempatnya lagi di tengah-tengah kesibukan kita. Menjadi orang yang menanti-nantikan Tuhan. Yaitu orang, yang mempunyai visi bersama; mampu melampaui masalah, konflik dan batas-batas lama; menjadi satu tim.

 

Dan disitu ada beberapa hal yang bisa kita belajar dari sepak bola:

-         kita harus main bersama à mengembankan rasa "team": saling mendukung, senang dan bukan cemburu kalau ada yang berhasil, karena itu menjadi keberhasilan bersama; dan kalau kita kurang berhasil, kita tidak saling mempersalahkan, tetapi saling memberi motivasi

-         hal lain: …. persaingan itu penting untuk meningkatkan prestasi à tetapi persaingan yang sehat, yang diwarnai oleh "fair play" dari semua pihak.

-         perlu ada aturan main à yang berlaku untuk semua orang; ada toleransinya, tetapi harus juga ada batas toleransinya (kalau tidak, permainan itu tidak lagi fair, adil dan jujur)

-         dan kalau begitu harus juga ada sanksi. pemain yang malas atau tidak tahu main masih diberi kesempatan sedikit, tetapi kalau tiak berubah harus diganti… dan orang yang berulang kali melanggar peraturan harus medapat kartu kuning atau merah (d.o…)

-         dan baik pemain maupun pelatih perlu komitmen yang maksimal, perlu kreativitas dan disiplin, dan perlu pelatihan yang sirius dan konsekwen.

 

Dan akhirnya ada juga beberapa hal yang berbeda dengan dunia sepak bola:

-         yang harus kita utamakan di Kampus ini bukan soal kalah-menang, tetapi keberhasilan bersama semua tim

-         disitu juga ada tempat untuk yang lelah, yang merasa tidak berdaya, yang "lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung".  Banyak di antara kita yang berada dalam kondisi seperti ini, apa lagi orang di luar kampus yang kita kenal. Di sini tidak ada tempat untuk mentalitas "we are the champions – and no time for loosers" (kitalah pemenang dan tiada waktu untuk pengalah). Di kampus ini, solidaritas dan keadilan untuk yang lemah harus lebih penting dari pada apa yang diinginkan masa atau mayoritas

-         dan perbedaaan terakhir yaitulah DIA, Tuhan yang memberi kekuatan untuk berlari dan tidak menjadi lesu. Marilah kita menanti-nantikan Tuhan dan menjadikan Yesus dan teladannya sebagi pelatih kita bersama.

Sa' tahu ji, STT Intim kalah dalam banyak hal…

'tapi itu tidak mengurangi semanatku…                   Amin