Catatan-catatan untuk pengantar diskusi tentang tema

"Marxisme - Komunisme"

Markus Hildebrandt Rambe, M.Th. - Dosen STT Intim Makassar

 

 

Pengantar

-         saya bukan ahli komunisme

-         sebagai orang asing: tidak mau ikut campur dengan diskusi politik yang aktual (sejarah dan masalah politik harus direfleksikan oleh orang Indonesia sendiri) - pencabutan / pengaktualisasian Tap MPRS Nomor XXV 1966 (karena disalahgunakan oleh orba...)?

-         yang kita bisa lakukan sama-sama: mengklarifikasi "tentang apa sebenarnya kita bicara?" (banyak yang tidak tahu!) - lihat dengan mata yang lebih jujur (yang bukan hanya terselubung oleh "trauma" dll.) dan kritis terhadap diri sendiri (apa seharusnya kita belajar) untuk melawan ideologi komunisme, kita harus tahu apa yang kita melawan - haraus mengenal komunisme;

 

-         jangan sampai kita hanya mencipta ketakutan terhadap suatu "musuh buatan" yang menghantui dan yang dibesar-besarkan sebagai "momok" untuk menakuti dan membingungkan masyarakat dan menciptakan suasana saling mencurigai sampai saling sembelih lagi.

-         jangan kita menyalahgunakan isu komunisme untuk kepentingan politik tertentu (contoh: Afrika selatan - sumua yang kritis terhadap pemerintah diktatur dan rasis di"cap" sebagai orang komunis - hasilnya: banyak orang yang kritis menaggap diri sebagai komunis tanpa tahu apa artinya, dan lebih mudah untuk dipengaruhi oleh orang komunis yang mengunakan situasi)

-         jangan dengan berteriak-berteriak, kita dengan tidak sengaja membesar-besarkan komunisme!

-         melarang bisa menjadi kontraproduktiv (VCD...)

-         Implikasi demokrasi: ideologi/pemikiran orang secara pribadi tidak boleh dibatasi lagi; yang dapat dibatasi hanya struktur-struktur atau organisasi-organisasi yang bertentangan dengan kebebasan tersebut, dengan prinsip-prinsip demokrasi dan Undang-undang Dasar (yang punya tujuan untuk meniadakan sistem demokrasi). Melindungi negara dari upaya membangun sistem komunis (suatua bahaya yang sebenarnya tidak real, karena "projekt" itu sudah gagal secara global dan saya belum mendengar suatu suara pun yang mau membangun negara komunis di Indonesia sekarang ini) - tidak memberi hak untuk pemerintah demokratis untuk membatas pembebasan berpendapat pribadi dan melarang hak asasi dan hak-hak sipil keturanan pengikut PKI (atau keturanan mereka yang dianggap komunis karena satu dan lain hal). - rehabilitasi korban!

-         jangan kita hanya menutupi kesalahan-kesalahan diri sendiri (refleksi sejarah! introspeksi dulu! pertobatan, mengakui dosa/meminta maaf sebagai hakikat sikap teologis Kristen dan Islam!)

 

Konteks kelahiran Marxisme/Komunisme dan inti ajarannya

 

Marxisme/Komunisme lahir dari konteks masyarakat industri Eropa abad ke-19, dengan semua ketidakadilan, eksploitasi manusia khususnya kelas bahwa / kelas buruh. Menurut analisa Marx, kondisi-kondisi dan kemungkinan-kemungkinan teknis sudah berkembang dan merubah proses produksi industrial, tetapi struktur organisasi proses produksi dan struktur masyarakat masih bertahan pada tingkat lama yang ditentukan oleh kepentingan-kepentingan kelas atas. Jadi, banyak orang yang dibutuhkan untuk bekerja, tetapi hanya sedikit yang mengemudikan proses produksi dan mendapat keuntungan. Karena maksud kerja manusia yang sebenarnya adalah menguasai alam sendiri dan merealisasikan cita-cita dirinya sendiri, sehingga terjadi keterasingan manusia dari harkatnya dan dari buah/hasil kerjanya. Karena keterasingan manusia dari hasi kerjanya terjadi dalam jumlah besar (kerja massa) dan global, pemecahannya harus juga bersifat kolektif dan global.

 

Pemahaman diri sendiri Marxisme bukan merupakan suatu filsafat baru (menurut Marx, filsafat hanya sibuk menginterpretasi sejarah dan kenyataan), tetapi bermaksud menganti filsafat (dengan tujuan mengubah sejarah dan kenyataan). Friedrich Engels dan Karl Marx pada Tahun 1847 mendeklarasikan suatu "manifesto Komunis" di mana sistem kapitalisme dilawan tanpa kompromis. Kaum tertindas, terutama proletariat (kaum buruh) harus diperdayakan, dan mereka yang harus menjadi subjek sejarah secara revolutioner untuk mengubah sistem masyarakat menjadi suatu masyarakat yang adil, tanpa kelas (classless society), ya bahkan tanpa negara (stateless society): sosialisme/komunisme. Kekayaan dan sarana-sarana produksi harus dimiliki bukan oleh suatu minoritas / kelas atas secara pribadi, tetapi oleh bangsa secara kolektif. Setiap individu disini memperoleh bagiannya tidak lagi berdasarkan status sosialnya, kapitalnya atau jasanya, tetapi berdasarkan kebutuhannya.

 

Falsafah hidup atau "weltanschauung" marxisme adalah Ateisme. Pertama-tama ateisme itu harus dimengerti dari konteks kelahiran Marxisme, di mana terutama gereja Kristen Protestan gagal untuk merespon tantangan-tantangan sosial yang muncul pada abad ke-19 di Eropa. Kalau Marx berbicara tentang agama sebagai "opium untuk bangsa" - di depan matanya terutama adalah suatu agama seperti gerakan Pietisme Kristen Protestan yang mengutamakan "keselamatan jiwa" seseorang dan tidak peduli terhadap kondisi sosial dan politik. Karl Marx mengalami bentuk agama yang hanya menstabilkan status quo dan yang beraliansi dengan penguasa-penguasa zamannya. Allah diperalat untuk melegitimasi struktur-struktur kuasa dan sistem politik-kapitalis.

Namun, Ateisme komunis bukan hanya hasil konteks sosial-politis abad ke-19, tetapi berkembang menjadi suatu ideologi anti-agama. Dalam dialog antara komunisme dan agama yang dilaksanakan dalam pelbagi bentuk khususnya pada tahun enampuluhan abad ke-20, beberapa orang komunis memang mengakui bahwa agama bisa juga merupakan suatu faktor pembebasan dan keadilan sosial, tetapi pendirian ateis tidak pernah dipertanyakan. Untuk Marxisme, agama adalah projeksi manusia (Feuerbach) dan hanya mencerminkan struktur-struktur kuasa masyarakat. Manusia harus membebaskan diri dari semua ketergantungan dan otoritas, baik manusiawi maupun ilahi.

 

Menurut Etika Marxisme, norma-norma etis yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau kelas tertentu, bukan merupakan nilai-nilai yang bedasarkan pernyataan/wahyu ilahi atau hukum-hukum yang abadi, melainkan mencerminkan dan berakar dari keadaan materiel masyarakat. Oleh karena itu, keadaan dan struktur masyarakat harus diubah (mis. dari masyarakat kelas/golongan ke masyarakat sosialis), supaya bangsa dan manusia (yang direpresentasikan oleh proletariat) dapat mengembangkan semua potensinya dan kemungkinannya - yang selama ini hanya dieksploitasi untuk kepentingan-kepentingan kelas atas - untuk "keselamatan" seluruh bangsa.

Disini nampak antropologi (gambar tentang manusia) dari marxisme yang sangat optimis. Manusia adalah bagian dari alam, yang melalui kerja manusia alam dapat dikuasai, diubah dan dijadikan milik manusia. Manusia melalui kerjanya menguasai materi (materialisme). Ini bukan proses individual, tetapi proses kolektif yang melayani pemenuhan kebutuhan masyarakat. Proses ini terjadi bukan secara evolusioner, melainkan melalui munculnya pertentangan-pertentangan di masyarakat yang dipecahkan secara revolusioner untuk mencapai tingkat baru sejarah (materialisme dialektis). Hakikat manusia dipenuhi melalui proses me-masyarakat-kan, di mana semua pemisahan antara manusia (kelas, negara dll.) ditiadakan.  Karena manusia sendiri adalah subjek perubahan yang hakiki (yang berkembang secara revolutioner), akhirnya manusia adalah pencipta dan penebus dirinya sendiri.

 

Disini muncul jurang yang sangat besar antara teori dan praktek marxisme, antara ideologi komunisme dan sosialisme real". Negeri yang pertama kali menerapkan sistem komunisme adalah Uni Soviet, 1917 di bawah pimpinan Lenin (...Stalin, Krushev...Brezhnev, Gorbachev), dan banyak negara lain yang ikut, sampai sesudah perang dunia II, dunia dibagi menjadi dua: dunia "kapitalis" dan "dunia komunis" yang saling memusuhi dalam "perang dingin". Bahkan ada negara yang dibagikan, seperti Korea Selatan dan Korea Utara atau Jerman Barat dan Jerman Timur. Kita memang bisa lihat beberapa contoh, di mana nilai-nilai sosial komunisme diwujudkan dengan cara yang menyakinkan, namun secara garis besar kita dapat bilang bahwa nilai-nilai itu akhirnya membuktikan diri bahwa tidak dapat diwujudkan dalam sistem politik dengan cara yang menguntungkan masyarakat. Melainkan, nilai-nilai sosial sering dikurbankan untuk kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan dalam konteks nasional dan internasional.

 

Bagaiman sikap kita terhadap Marxisme/Komunisme, khususnya dari perspektif agama?

 

Disini kita harus jelas, apakah kita mengkritik ideologi atau praktek real komunisme? Sebenarnya, sistem-sistem komunis-real dapat dikalahkan dengan "senjatanya sendiri" - dan kebanyakan sistem komunis gagal terutama karena perubahan dari dalamnya dan ketidakpuasan bangsanya sendiri. Yang mau ditinggalkan oleh marxisme: penindasan, ketidakadilan, ketidakbebasan masyarakat justru dikembangkan lebih keras dalam kenyataan negara-negara komunis: milik kolektif bangsa menjadi milik minoritas yang berkuasa (namanya seharusnya bukan komunisme, tetapi "kapitalisme negara") yang penuh dengan KKN; Upaya untuk membebaskan manusia dari perwalian / paksaan / tekanan religius berkembang menjadi suatu "agama pengganti" yang bahkan lebih intoleran dan totaliter, dan hanya mengizinkan aktivitas gereja Kristen atau agama lain kalau mereka tidak kritis dan dapat diperalat untuk kepentingan-kepentingan sistem komunis. Konformitas yang dipaksakan dari atas dengan sistem-sitem kontrol dan mata-mata (dinas rahasia dalam negeri) yang luar biasa; kekerasan dan pelanggaran HAM yang terselubung di belakang tujuan-tujuan pembebasan revolusioner. Individu mendapat status sosialnya bukan sesuai dengan prestasinya atau kebutuhannya, tetapi sesuai dengan tingkat konformitasnya dengan sistem politik. Motivasi komitmen untuk bekerja dan untuk inisiatif ekonomis tidak ada lagi, sehingga ekonomi menjadi hancur. Toleransi terhadap minoritas-minoritas dan solidaritas internasional menjadi lapangan permainan kuasa.

 

Yang saya maksud adalah bahwa dalam ideologi dan motivasi Marxisme ada juga inti yang benar, yang telah dikhianati oleh sejarah komunisme sendiri. Kalau kita jujur, hal semacam ini tidak hanya dialami oleh Marxisme, tetapi oleh kita sendiri. Nilai-nilai Pancasila diperalat dan dikhianati oleh orba, sehingga beberapa bentuk orba sebenarnya tidak jauh berbeda dengan beberapa sistem komunis. Nilai-nilai Kristen yang intinya kasih, toleransi dan perdamaian, sering dan sampai sekarang ini dikhianati oleh sikap-sikap intoleran atau aliansi-aliansi dengan penjajah atau penguasa bagi kepentingan sendiri. Dan pasti saudara-saudari Islam akan menemukan hal yang serupa juga kalau menguraikan sejarahnya sendiri.

Jadi, mari kita membandingkan praktek dengan praktek, dan teori dengan teori! Sebenarnya dalam "teori" Marxisme ada banyak nilai etika sosial yang dapat kita temukan dalam Al-Quraan dan dalam Alkitab pula.

Oleh karena itu, tantangan pertama dari Komunisme untuk orang Kristen dan Islam: Apakah kita betul-betul memperjuangkan hak asasi orang kecil dan keadilan sosial, atau hanya menstabilkan status quo dan beraliansi dengan penguasa? Mari kita mengambil kegagalan Komunisme untuk mewujudkan ideal-ideal mereka secara baik, terutama sebagai alasan untuk retrospeksi dan introspeksi diri secara kritis, di mana kita telah mengkhianati nilai-nilai agama kita masing-masing!

 

Kalau kita bersedia untuk itu, kita juga punya hak untuk mengkritik ideologi-ideologi Marxisme. Dan memang, dari perspektif agama Kristen dan agama Islam, kita punya banyak alasan dan dasar untuk mempertanyakan tesis-tesis marxisme secara fundamental.

 

-         Misi/dakwah kita terhadap komunisme: Tidak ada harkat manusia tanpa ketergantungan kepada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Esa; ini merupakan dasar seluruh kehidupan individual dan sosial. Tidak ada keadilan duniawi kalau tidak berdasarkan keadilan Allah. Manusia tidak pernah dapat menciptakan atau menebus diri sendiri.

 

-         Misi kemanusiaan tidak bisa diwujudkan dengan cara kekerasan, pemaksaan, pelarangan, tetapi hanya dengan cara praktek yang menyakinkan! Suatu maksud dan tujuan yang baik tidak dapat membenarkan metode-metode yang totaliter seperti digunakan oleh komunisme.

 

-         Perubahan sosial dan keadilan tidak bisa diciptakan hanya dari "atas", karena dengan mengubah sistem masyarakat kenyataan manusia belum membaik secara otomatis. Harus juga ada perubahan dari "bawah", di mana manusia, yang cenderung berdosa, bertobat; di mana relasi manusia dengan Allah dibaharui dalam iman, dan di mana relasi manusia dengan sesamanya dibangun kembali dengan mengikuti perintah-perintah Allah.

 

 

Kesimpulan: Ancaman yang dapat mengakibatkan Ateisme datang bukan terutama dari "luar" (Komunisme dll.), melainkan dari dalam kita sendiri; dari ketidakmampuan kita untuk mewujudkan nilai-nilai agama kita masing-masing; dan kalau agama-agama terus-menerus saling memusuhi dan bahkan saling menbunuh, kita bersama-sama bertanggungjawab jika orang melarikan diri ke Marxisme atau Ateisme dan yakin bahwa "lebih baik tidak punya agama".

 

Jangan kita membangung masa depan kita atas trauma-trauma historis dan atas gambar-gambar musuh yang dibesar-besarkan, pikiran "hitam-putih" / "kiri-kanan" dll. yang sebenarnya tidak berlaku lagi, tetapi pertama-tama mencari kesalahan sejarah dan "musuh" dalam diri kita sendiri supaya suatu proses rekonsiliasi dan dialog yang santai, jujur dan realistis bisa terjadi.

 

Demikian kontribusi saya untuk diskusi kita. Saya mohon maaf atas semua kekurangan yang ada, baik dalam Bahasa Indonesia maupun dalam memikirkan tema yang diberi kepada saya. Namun, kekurangan-kekurangan bisa menjadi dasar yang sangat bagus untuk saling mengisi, memperkaya dan berkembang dalam dialog!

                                              

Pdt. Markus Hildebrandt Rambe

Dosen STT INTIM Makassar

 

 

Catatan untuk diskusi terbuka

"Adakah Titik Temu Ajaran Karl Marx dengan Agama-agama yang ada di Bumi?

(Human and Religious Club Hn'Rc – Kampus STIE – Ampok Makassar)

 

 

  1. Yang harus dilakukan lebih dahulu sebelum membahas tema ini: menghilangkan tabu, citra Marxisme-Komunisme sebagai "hantu" yang menakutkan (atau alat untuk menakuti), melihat masalh secara obyektif:

-          memahami M-K sebagai produk sejarah tertentu, khususnya industrialisasi Eropa abad ke-19, masalah-masalah sosial-politis pada waktu itu, serta kegagalan lembaga-lembaga keagamaan untuk menjawab tantangan zaman itu (khususnya rakyat bawah)

-          memahaminya sebagai salah satu kosep filsafat dan sosial-politis dengan kekuatannya dan kelemahannya (yang harus distudi untuk memahami sejarah dan realitas kita dewasa ini)

-          memahami perbedaan antara teori (idealisme yang baik, yang menjadi titik tolak) di satu sisi dan di sisi lain bentuk-bentuk historis (ideologi yang menjadi alat kekuasaan di negara-negara atau gerakan-gerakan komunisme-leninisme) yang sering mengkhianati ideal-ideal marxisme sendiri (disini tidak jauh berbeda dengan agama-agama!)

-          memahami realitas bahwa K-M tidak lagi "ancaman" secara global maupun nasional => Konsep Marxisme-Komunisme telah gagal sebagai sebuah "ideologi dan sistem absolutisme untuk menyelamatkan dunia" ("Hantu" komunisme hanya dibesar-besarkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingan mereka sendiri dan untuk menarik perhatian dari masalah-masalah yang sebenarnya!)

-          sehingga kita dapat menilai secara obyektif, baik jejak-jejak positif maupun negatif dalam sejarah, termasuk unsur-unsur yang telah menjadi bagian integral dari sistem-sistem demokrasi sosial maupun dalam teologi-teologi agama (M-K tidak bisa dihapus lagi dari sejarah, meskipun kegagalannya ada banyak kontribusi yang positif dan bayak kemajuan karenanya – misalnya teologi-teologi pembebasan – Islam, Kristen dll – yang banyak terinspirasi meskipun tidak merupakan "komunisme"; mereka banyak belajar dari nilai-nilai, metode-metode analisa sosial dsb dan mentransformasikannya ke dalam pikiran dan praktek agama; belajar juga dari kegagalan-kegagalan dan sisi problematis M-K)

-          jadi disini kita lebih berbicara tentang "ajaran" Karl Marx dan dengan demikian akan juga mencari nilai-nilai positif yang tergandung di dalamnya.

 

  1. Di mana titik temu antara Ajaran Karl Marx dengan Agama-agama ("… yang ada di bumi…" – perspektif saya: seorang Kristen yang selalu dalam dialog dengan saudara-saudara Islam).

a)       Kritik sosial

-          terhadap sistem kapitalisme, eksploitasi kaum prolitariat (kaum buru)

-          pendekatan analisa sosial yang melihat penyebab-penyebab penderitaan kaum/kelas bawah (bukan hanya "memperbaiki" nasibnya dan kondisinya sedikit dengan "membantu" mereka secara karikatif), namun dengan merubah struktur-struktur ketidakadilan

-          disini memang M-K selalu dianggap berbahaya oelh semua orang atau instansi yang ingin mempertahankan status quo.

-          disini agama-agama ditantang untuk melihat kembali keterlibatan sosialnya: hanya karitatif atau transformatif? (dan apa motivasinya…?)

-          ingat kembali motivasi Karl Marx dan para pengikutnya yang sangat positif: humanisme (kemanusiaan),; ada optimisme sejarah: perubahan terjadi melalui revolusi proletariat (tidak dimaksud sebagai pertumpahan darah dan kekerasan!); ideal sosialisme: damai dan keadilan untuk semua (perkembangan sistem-sistem M-K-Leninis mengkhianati nilai-nilai tersebut dengan memutlakan ideologi mereka, humanisasi dikorbankan lagi untuk kepentingan sistem dan penguasa)

-          menilai krisis, kritik & konflik secara konstruktif: dialektika sejarah: ada status quo yang menindas – ada oposisi/tantangan dari mereka yang tertindas – terjadi konflik dan perbaharuan sejarah, situasi yang lebih maju dan adil. => tantangan untuk budaya kita yang cenderung menghindari dan menutupi konflik, dan kalau tidak bisa dihindari, mengarahkan konflik  menjadi destruktif (agama – "harmoni" dalam umat – budaya konflik dan rekonsiliasi yang kurang dikembangan)

a)       Kritik agama

-          terkenal kritik Karl Marx: Agama sebagai "candu untuk rakyat" – harus dipahami dari konteks sejarah: Protestantisme Pietis yang bergandengan tangan dengan penguasa, mengstabilkan status quo, gagal untuk menjawab tantangan-tantangan sosial

-          untuk Marx: agama sebagai "superstruktur" hasil sebuah proyeksi manusia (penguasa dunia => Allah mahakuasa; atribut-atribut penguasa manusia digunakan untuk menciptakan gambaran tentang Allah) – bdk Ludwig Feuerbach (namun perbedaan: untuk Feuerbach, agama harus dihilangkan, masalah manusia selesai karena manusia menemukan dirinya kembali; untuk Marx struktur sosial-ekonomis-politis harus diubah untuk membebaskan manusia, agama akan hilang dengan sendirian)

-          Kita bisa menolak pendekatan itu sebagai ateis dan kafir dan membela agama melawan serangan kritik agama tersebut. Namun dapat juga dijadikan bahan pertimbangan untuk mengintrospeksi diri, kereksi untuk keagamaan kita masing-masing, dalam dua aspek:

-          kelembagaan agama: hanya cari lindungan di bawah pemerintah dan penguasa, cari keuntungan untuk umatnya, lembaga keagamaannya, untuk misinya atau dakwahnya (apakah di bawah seorang Sultan, di bawah penjajah kolonial atau di bawah pemerintahan orde baru… - agama yang rela untuk disalahgunakan untuk kepentingan politik dan menyalagunakan politik untuk kepentingannya); apakah agama hanya mengstabilkan status quo, berpihak kepada mereka yang kuat dan berkuasa dari pada kepada mereka yang lemah dan tertindas? – kalau begitu, memang agama cenderung menjadi "candu rakyat" yang bahkan bisa berbahaya (kalau digunakan untuk memanas konflik, menfanatisir orang untuk berperang….)

-          koreksi untuk teologi: kita harus sadar bahwa agama kita masing-masing memang mengandung unsur-unsur proyeksi manusia, yang tidak baoleh dimutlakan dan harus dibedakan dari wahyu Allah sendiri. Ada banyak aturan dan dogma dalam agama kita masing-masing yang bukan langsung berasal dari firman Allah, namun merupakan produk bahasa, budaya dan sejara manusia – dan dapat menjadi bahaya kalau dimutlakkan dan diklaim sebagai kebenaran absolut. Aturan-aturan dan dogma-dogma hasil perbuatan manusia tersebut bisa dan bahkan harus berubah sesuai dengan konteks kita, untuk mewujudkan kehendak Allah secara kontekstual. Kritik agama Marx dapat membantu kita untuk terus-menerus membebaskan agama kita dari unsur-unsur proyeksi atau aturan dan dogma manusia yang tidak cocok lagi dengan konteks dan dengan inti wahyu Allah.

a)       Nilai-nilai kemanusiaan

-          kesimpulan: ada banyak hal dalam ajaran Karl Marx yang tidak dapat diharmonisasikan dengan ajaran agama (dlm hal ini agama Kristen, atau juga agama Islam). Namun memang ada titik temu atau dengan lebih tepat: bidang interaksi di mana agama juga dapat belajar dari tantangan M-K.

-          M-K mengingat kita untuk menjadikan kembali kemanusiaan sebagai titik tolak.

-          Kemanusiaan menjadi ukuran untuk mengkritik semua ideologi sosial-politis-ekonomis (kapitalisme, komunisme, pancasila, demokrasi atau negara agama)

-          Agama-agama sendiri harus membuka diri untuk dikritik dari ukuran kemanusiaan tersebut – bukan karena komunismae, namun kita teringat lagi pada nilai-nilai kita sendiri yang diwahyukan oleh Allah kepada umat lita masing-masing.

-          dengan demikian, tema yang sebenarnya paling relevan untuk reinterpretasi agama kita masing-masing dan kehidupan bersama agama-agama di Indonesia dan di Makassar bukan Marxisme-Komunisme (ini hanya suatu katalisator dalam menemukan kembali hakikat agama seperti dihendaki Allah), namun kemanusiaan, atau "sipakatauki" – memanusiakan manusia.

Demikian dan terima kasih,

Pdt. Markus Hildebrandt Rambe M.Th.

Makassar, 21 Juli 2001